- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Sepenggal Malam di Tepian Kalijodo
TS
everesthome
Sepenggal Malam di Tepian Kalijodo
Quote:
Sepenggal Malam di Tepian Kalijodo

Deretan bangunan kafe dan tempat hiburan di wilayah Kalijodo,
Penjaringan, Jakarta Utara, Senin 15/2. Pemprov DKI berencana merelokasi
hunian tersebut untuk dikembalikan ke fungsinya sebagai zona terbuka hijau.

Deretan bangunan kafe dan tempat hiburan di wilayah Kalijodo,
Penjaringan, Jakarta Utara, Senin 15/2. Pemprov DKI berencana merelokasi
hunian tersebut untuk dikembalikan ke fungsinya sebagai zona terbuka hijau.
16 Februari 2016
WIndoro Adi
Praang...! Seorang perempuan belia bersetelan tank top dan hot pant warna merah, beralas kaki wedges, menjatuhkan gelas birnya. Ia berteriak sambil menunjuk seorang remaja di antara 10 remaja lainnya. Suara musik terhenti.
Lampu besar menyala, memudarkan kerlap-kerlip lampu warna-warni yang bergerak dari lantai ke plafon. Entah apa yang memicu pertengkaran antara pekerja seks komersial (PSK) itu dan tamunya. Namun, kegaduhan di ruang diskotek seluas 7 meter x 10 meter itu hanya berlangsung beberapa menit.
Seorang pria pengelola tempat itu dengan tenang datang melerai. Disjoki kembali menghidupkan musik. Lampu besar dipadamkan. Lampu warna-warni kembali "menari" di antara pengunjung yang juga kembali berjoget. Seorang pengasong masuk ke lantai dansa menawarkan kerupuk kulit. Pengasong lainnya datang menawarkan bermacam camilan goreng.
Sabtu berganti Minggu (14/2). Waktu menunjukkan pukul 02.00, tetapi semua tempat hiburan malam di kawasan Kalijodo masih ramai oleh suara musik dan pengunjung. Papan- papan iklan dua merek bir membuat Jalan Pendahuluan II sepanjang 500 meter di tepian Kanal Barat itu terang semarak.
Mendulang rupiah
"Di Jakarta, kawasan Kalijodo menjadi pasar bir terbesar, diikuti kawasan Mangga Besar. Maklum, minuman beralkohol di sini cuma bir. Tak ada jenis minuman beralkohol lain," kata seorang pemasok bir, Sugeng (43), malam itu.
Tak kurang dari 4.000 peti yang masing-masing berisi 24 botol bir habis terjual setiap bulan. Itu artinya, jika harga sebotol bir seperti malam itu dijual Rp 60.000, omzet bisnis ini per bulan Rp 5,76 miliar.
Tahun 2010-2011, ia pernah memasok bir dari satu merek di Kalijodo. Untuk itu, perusahaan bir tersebut harus membayar "uang kontrak" setahun senilai Rp 800 juta kepada "otoritas" Kalijodo. Tahun berikutnya, uang kontrak naik menjadi Rp 950 juta.
Namun, ketika uang kontrak naik lagi Rp 1,3 miliar, perusahaan bir yang Sugeng pasok tak sanggup lagi membayar. "Kalau perusahaan bir yang papan-papan iklannya kini ramai menghiasi kawasan Kalijodo ini tahun depan tak sanggup membayar uang kontrak, sudah ada sejumlah perusahaan bir lain yang siap menggusur perusahaan bir yang sekarang mendapat hak monopoli," ujar Sugeng. Ia menambahkan, harga bir yang dijual umumnya dua kali lipat dari harga pabrik.
Sepengamatan Sugeng, tiga tahun terakhir, tempat hiburan malam di Kalijodo tumbuh pesat. Beberapa pemilik diskotek, kafe, ruang karaoke, dan rumah bordil pun mengakui hal itu.
Salah seorang pemilik ruang karaoke dan diskotek di sana menjelaskan, hanya dalam lima bulan investasi senilai Rp 1,2 miliar untuk membangun gedung tiga lantai berikut belasan kamar ber-AC bisa kembali.
"Kalau dibangun di atas tanah milik warga, saya bagi hasil dengan mereka. Titik impas investasi baru kembali dalam setahun," ujarnya.
Kalijodo terhampar di perbatasan Jakarta Utara di Kecamatan Penjaringan, dan Jakarta Barat di Kecamatan Tambora. Data Pemerintah Kota Jakarta Utara menyebutkan, di atas lahan seluas 1,4 hektar di bagian Jakarta Utara terdapat 58 kafe yang terletak di lima RT. Data dari Kelurahan Penjaringan, ada 1.356 keluarga atau 3.032 jiwa di kelima RT ini dengan jumlah PSK sekitar 450 orang.
Setiap malam, seorang PSK melayani rata-rata lima pelanggan. Namun, saat ramai, seorang PSK bisa melayani 10-15 pelanggan. Tarif mereka rata-rata Rp 200.000.
Sebagian di antara mereka, kata Koordinator Layanan HIV/AIDS Puskesmas Penjaringan, dokter Intan Novita, mengidap HIV dan tetap bekerja sebagai PSK di sana.
Hindari benturan
Apa yang disampaikan para pemilik tempat hiburan malam tadi menunjukkan bahwa di Kalijodo perolehan keuntungan industri prostitusi tak kalah kencang dibandingkan perputaran keuntungan dari industri bir.
Karena itu, kriminolog UI, Mustofa, mengingatkan, sebaiknya rencana menghapuskan Kalijodo sebagai kawasan tempat hiburan malam dipikirkan masak-masak.
"Kasusnya bakal lebih rumit daripada kasus penertiban di Waduk Pluit, Jakarta Utara, ataupun kasus penertiban di Kampung Pulo, Jakarta Timur. Jika tidak matang, benturan yang terjadi pada kasus penggusuran di Jakarta Utara bisa terulang," kata Mustofa.
Ia berpendapat, para pengelola dan penghuni Kalijodo yang sebagian besar berawal dari kelas bawah dan berkembang menjadi kelas menengah akan mempertahankan mati-matian Kalijodo sebagai kawasan tempat hiburan malam.
"Butuh proses lebih panjang. Butuh rencana matang yang melibatkan banyak instansi terkait, para pakar dari bermacam disiplin ilmu terkait, serta yang paling penting melibatkan para penghuni dan pengelola Kalijodo," kata Mustofa.
Biduk "kio seng"
Penulis novel Ca-bau-kan yang berlatar Kalijodo, Yapi Tambayong alias Remy Sylado, menjelaskan, Kalijodo awalnya tempat rekreasi para kio seng (perempuan peranakan Tionghoa) mencari jodoh dengan bernyanyi Mandarin di atas biduk yang dihiasi pelita lampion. "Suasananya masih jauh dari hiruk pikuk Kalijodo kini," ujar Remy saat dihubungi pada Jumat lalu.
"Para kio seng ini memakai pakaian terusan cheongsam. Rambutnya digelung cepol ditutup batok kepala dengan tusuk konde. Ini kesaksian saya di tahun 1955," ucap Reginal alias Ceceng (67), yang ditemui di rumahnya tak jauh dari Kalijodo.
Rumah-rumah bordil, kata anak tunggal seorang bandar opium di era pemerintahan Hindia Belanda ini, baru dikenal di Jembatan Dua yang letaknya tak jauh dari Kalijodo.
Praktik prostitusi di Jembatan Dua itu, lanjutnya, meluas ke Kalijodo seiring datangnya para pendatang dari luar Pulau Jawa.
Kini, banyak kalangan memiliki usaha dan menggantungkan hidupnya dari Kalijodo, mulai dari pramusaji hingga petugas keamanan. Masalah sosial pun kait-mengait dan butuh perhatian serius untuk menguraikannya. (Saiful Rijal Yunus)
Kompas
Setiap malam, seorang PSK melayani rata-rata lima pelanggan. Namun, saat ramai, seorang PSK bisa melayani 10-15 pelanggan. Tarif mereka rata-rata Rp 200.000.
Sepintas hanya nampak sebagai tempat hiburan kelas bawah, tapi ternyata omsetnya lumayan kenceng.

Diubah oleh everesthome 16-02-2016 15:56
0
1.6K
Kutip
3
Balasan
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan