alexa-tracking

Siluet Sebuah Nama

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/568bcc7b1a99755d518b4568/siluet-sebuah-nama
Siluet Sebuah Nama
Terjaga, tak menutup lagi mataku
ratapi dinding-dinding kosong ruang ini.
Sayup terdengar kau sebut namaku di kejauhan
memanggilku untuk berlari padamu.

Aku masih terpaku saat nelayan menebarkan jala dilautan dan perlahan senyummu semakin jelas mengusik kenyataan.
Tak ku dengar sekawan jangkrik senandungkan malam hingga kusadari sesaat telingaku tuli,
hanya ku dengar dengan hati ini.

Wahai langit.. aku ingin pergi jauh,
Ingin ku tempuh langkah seribu hari yang lalu
dengan kebahagiaan yang tenggelam bersama kasih tulusnya dan ingin kutuliskan apa yang belum terucapkan kata serta kupersembahkan semua keindahan tentang syurga.
Namun kusadari, aku hanyalah dihari ini.

Selamat Tinggal Valentine-ku,
rinduku melukiskan nama-mu.
Ku Cintai Dirimu di Malam Hari

Di atas malam ku sembunyikan cerita kemarin
hingga tangan-tangan bumi tak dapat meraihnya
menutup semua pintu dan gorden-gorden yang terbuka
Dan tak ku izinkan mereka bicara kepada cahaya
biarkan jangkrik yang bercerita hingga pagi pun melupakannya

Segaris awan malam itu tak tegas membelah langit
Aku terdiam dalam tenang mencintaimu di sudut sebelah barat mata angin
dan tak ku ucapkan sepatah kata yang dapat menggoyahkanmu
hanya berbahasa sepi sesunyi malam

Ku kunci semua ruang hingga hanya malam yang mengerti semua
dan mereka tak dapat mendengar apa yang aku katakan padanya
mereka tak mengerti seolah tak ada yang terjadi
dan ku matikan lampu minyak saat cahaya datang mengetuk di balik pintu rumahku
karena aku mencintaimu di saat hitam mulai menghapus biru
Karenamu Aku Masih Disini

Tahukah kamu ku telah lewati ribuan mil padang gersang setelah kau tak ada,
melawan debu bercampur angin hanya untuk pastikan kau telah benar pergi.

Aku tetap di sini, di tempat pertama ku menemukanmu terlelap dalam fajar.

Tahukah kamu ku telah selami palung samudera terdalam saat kau berhenti bicara,
melebihi batas bias cahaya hanya untuk pastikan samuderanya tak pernah mengering.

Dan aku telah menemukanmu di ujung batas cakrawala antara tempatku berdiri dan atas sana,
entah warnanya berubah-ubah, bukan pelangi ataupun matahari,
namun jauh di Timur dari semuanya bermula.

Pernahkah kau tahu bahwa aku tak pernah berhenti menatap,
walaupun senja membusungkan dadanya dan telah melipat sebagian dari hari,
sekedar untuk pastikan masihkah ada merah jambu di atas kanvas lukisku
Jika Saat Itu Telah Tiba

Cinta telah berlari jauh didepanku,
namun ku hentikan langkah ketika ragu mulai menyusupi sela-sela jari kaki
dan sebuah saputangan kau jatuhkan dalam alurku di jalanmu.

Tabuhan genderang dalam jiwa semakin kuat membumi
dan bersiap merobek pintu-pintu kertas yang kau buat untuk rumahku dimalam itu
namun entah apa yang membuat semuanya terhenti sesaat dan mulai berpikir

Sakura berguguran..

Butir salju mulai memadati langkahku,
mungkin akan membeku di akhir dari semua pertanyaan
dan saat itu bukanlah hari ini
Pedang yang Membatu dalam Jantung

Bukan hanya pagi yang memiliki kebutaan tapi langkahku juga dipenuhi kabut hingga menjadi kelam tak berarah.
Entah kapan semua membias, hingga hembusan-hembusan kuat menyergap bentuknya dan berkilau.

Semua lampu dimatikan, semua arah disilangkan dan semua mimpi terhempaskan!
Hanya tersisa langkah kaki yang tanpa bayangan, tanpa permadani megah dan indah, hanya telapak kaki yang patah.

Coba meniti tongkat yang terbaring lapuk, tak ada tempat tangan bersandar.
Terombang-ambing tubuh bukan karena angin yang menggoda.
Ribuan senyum pucat pasi terbentuk di wajahku hingga airnya mengering.
Jangan Panggil Aku Penyair

Layak pandai besi tua yang mampu mengukir setiap jenisnya
dengan mengurat peluh menjadi sebilah cerita
mengikis setiap sisi kokoh hingga mampu menggores dunia
namun aku bukanlah sang petua

Ribuan malam ku lintasi bersama gerakan angin yang memburu waktu
mengejar nada-nada kosong dibalik jeruji
hanya sekedar mencari jawab atas pertanyaan yang belum terucapkan kata
dan menjatuhkan diri kedalam tungku perapian di sebuah rumah tua

Aku tak mengerti apa yang kutulis
hanya melihat apa kutuliskan
Aku tak membaca apa yang tertulis
hanya coba mendengar apa yang mereka ucapkan

Jangan sebut aku penyair
karena aku hanyalah penikmat jiwa-jiwa sebuah kehidupan
Kisah itu Berhenti di Satu Nafas

Betina kecilku berlari di dalam taman yang lara
ia tak mengerti dunia langkahnya
ia hanya tahu luasnya samudra tanpa mengerti seberapa jauh cahaya menembus dasarnya
ayunkan tangan seakan tanpa keranjang batu digenggamnya
dan aku berkelahi dengan pelukan api dunia

Betina kecilku bernyanyi di atas awan yang pekat
ia tak mendengar dawai biola perak mengiringi
ia tak bergeming saat petir membelah langit siang
menari bagai dinamika angin kelu kutub utara
dan aku bergumul dengan gletser tanpa helai benang

Betina kecilku,
sesungguhnya peluh ini bukan mutiara putih laut Atlantik
yang terbentuk dari pasir-pasir samudra bawah dengan balutan liur-liur kerang
ini hanya sebentuk genggaman dari jiwa yang sederhana

Betina kecilku,
tak selamanya tangan ini mampu mengepal dan bertarung tanpa kawan
dan belulang buku-buku jariku terkulai tanpa rasa

Sadarilah aku telah mati hari ini saat kau menguntai sutera dengan namaku terukir
Maafkan aku tak pernah mampu berdiri denganmu.
Hujan Ditepian Senja

Beranjak hening tanpa menunggu kering
tanpa suara atau gradasi telapak kaki
tanpa wajah dan lekuk bibir
semua menepi..

Lembar usang kembali mencibir hari
memaut kata demi kata, kalimat hingga menjadi kini
tumpukan batu berkaca melempar diri
tak mampu menangkap mimpi

Duduk hingga berdiri aku memaki dahi
sebelum hujan menghapus diri dan menghujam kiri

Tak ku ungkap semua mereka datang berlari
tak sempat menatap mentari saat sendiri
dan aku terkurung sepi hingga senja tak sempat menjadi api
Kosong

Ketika semuanya kosong tak ada satupun suara-suara yang memanggilku,
semua menutup bicara dengan diam
Menggigil tubuhku hingga belulang remuk redam di kaki langit, lebur!
dengan luka kaki menganga hingga tak ku temui lagi darah yang mengalir hangat.
Mereka melihatku jelas dengan seribu rintih kematian bersama pedangnya,
apa yang ku dapati hanyalah mereka sedang terlelap di atas sanggah berbulu merak.
Aku tersenyum..

Biarkanlah aku yang menutup senja untuk mereka saat malam mulai membangun istananya
dan menyelimuti dengan selipat pakaian yang ku miliki dari runcingnya kelompok angin yang memburu hingga ke sela-sela telinga.
Aku berjalan dan tersenyum..

Ribuan debu dan selembar kertas usang dengan jejak telapak kaki menampar wajahku,
aku duduk di tepian pematang dengan sebatang rumput di antara bibir.
Aku memandangi dengan kosong langit yang tak terlalu biru dari kaki langit ini,
dan aku pun tersenyum.
whoooa.. emoticon-Matabelo ini ya rumahmu... ijin mampir yaa...

----

tanpa perlu menjadi cahaya
bayangmu saja sungguh mempesona
tanpa perlu mewujud diri
siluet namamu saja sudah abadi

berkelakarlah dengan sang senja
renungkan dunia bersama sang malam
mereka hanya akan mentertawai
begitu tau betapa bisa sesosok siluet kau jatuhi hati
bergegaslah berlari dengan sang pagi
sebarkan sinar riang bersama sang siang
mereka hanya akan prihatin tak percaya
begitu tau betapa bisa sesosok siluet kau jatuhi cinta

emoticon-Berduka (S)
Diriku selalu memimpikanmu
Telur suci yang akan mengubah hidupku
Meski diriku harus terbuang
Dalam selembar tisu atau kamar mandi
Walau aku harus mati
Memperjuangkan tekat suci
Untuk mencari dan memiliki
Duhai telur suci
Selalu ku mimpikan
Selalu ku nantikan