KOMUNITAS
Informasi! Kaskus Update Fitur Baru! Intip di Sini!
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5688dafdd89b09e11b8b456d/angga

Angga

Part 1

"Hah! Dipecat lagi! Sial!" ucap Angga seraya menyeruput secangkir kopi yang baru saja ia pesan di sebuah warung kopi pinggir jalan. Untuk kesekian kalinya, Angga harus menerima pil pahit ini lagi—pemecatan yang entah sudah berapa kali—dan harus memulai semua lagi dari awal.

Alasan Angga dipecat selalu sama, terlalu idealis. Membuatnya sering bertengkar dengan atasannya yang selalu berbeda pemikiran dengannya. Awalnya mereka semua menerima setiap saran dan masukan dari Angga, melihat Angga yang selalu percaya diri dan yakin akan setiap gagasannya. Dan mereka pun tak ragu untuk mengaplikasikan setiap gagasan Angga dalam rancangan mereka. Namun, sayang semua gagasannya tak memberikan efek apapun. Dan ketika mereka menyampaikan hal itu kepada Angga, ia tidak percaya. Selalu meyakinkan atasannya agar lebih sabar—yang nyatanya sulit dilakukan.

Ketika diminta untuk gagasan baru pun sama saja. Angga selalu keukeuh dengan gagasan pertamanya, terlalu yakin bahwa gagasannya pasti akan berhasil dan entah kapan, Angga sendiri pun tidak tahu. Akibatnya, ia harus menerima kenyataan, di kemudian hari ia dipecat.

Sayangnya, Angga tak pernah mau berubah--terlalu keras kepala. Sehingga setiap ia mendapatkan pekerjaan yang baru, hanya dalam waktu kurang dari 5 bulan saja ia langsung dipecat. Dan bukannya mencoba mengintropeksi dirinya sendiri, ia lebih memilih menyalahkan atasannya yang tak mau sabar menunggu gagasannya berhasil.

"Apa lu liat-liat?" hardik Angga kepada seekor anjing yang menatapnya dengan manja. Sambil menjulurkan lidah, terlihat air liurnya yang menetes. Tentu, anjing itu tak bergeming dan tetap memandang Angga seperti itu—ia tak tahu apa yang dikatakan Angga dan tak tahu bagaimana kondisi Angga saat itu.

Angga tidak terima dengan perlakuan anjing itu. Ia melihat ke kanan dan ke kiri. Di lihatnya sebuah tong sampah di samping tiang jalan yang tak jauh dari tempatnya sekarang. Segera ia melangkah ke sana. Mencari sesuatu yang entah apa itu. "Aha!" seru Angga kegirangan. Ternyata sebuah botol plastik yang ia cari. Kemudian ia kembali ke tempatnya semula dan masih mendapati anjing itu dalam kondisi yang sama seperti sebelumnya. Angga sedikit keheranan melihatnya. Dan berpikir sejenak, sebenarnya apa yang diperhatikan anjing itu? Dia masih saja seperti itu dari tadi—menatap manja sambil menjulurkan lidahnya dan membiarkan air liurnya menetes--apakah anjing ini benar-benar anjing? Atau bukan?

"Argh! Bodo amat lah!" Angga segera menepis pikirannya. Kemudian segera melemparkan botol plastik itu tepat ke arah si anjing. Anjing itu kini tak lagi menggemaskan untuk dilihat--meski dari awal bagi Angga tak menggemaskan sama sekali—anjing itu mulai menggeram, lalu menggonggong dengan kencangnya dan kemudian berlari mengejar Angga.

Angga tentu tak diam saja. Ia kemudian berlari sekencang-kencangnya agar terhindar dari amukan si anjing. Terus maju kedepan, tak peduli kemana, yang terpenting ia selamat. Sampai kemudian ia teringat, barang-barangnya masih tertinggal di warung kopi tersebut. Mau tak mau ia harus berbalik dan mendapati anjing tersebut semakin dekat dengannya, bersiap menggigitnya. Angga yang tak mau menjadi mainan bagi si anjing, mulai mengumpulkan keberaniannya, mengambil ancang-ancang untuk menyerang anjing tersebut. Semakin dekat anjing itu, semakin banyak juga keringat yang bercucuran dari tubuh Angga. Sebenarnya Angga sangat takut dengan anjing, namun entah kenapa dia bertingkah konyol seperti itu—mungkin lebih tepatnya bodoh.

Angga kemudian berlari ke arah si anjing. Semakin dekat, semakin adrenalinnya terpacu. Dan tepat saat anjing sudah berada didepannya, Angga berteriak dengan kencangnya "Demi Sparta! Hiyaaaaaaa!" ditendanggnya kepala anjing itu yang langsung membuat anjing itu terjungkal. Angga tak peduli dengan hal itu. Ia terus berlari kedepan, berusa menghindar sejauh mungkin dari anjing itu dan mengambil kembali barangnya yang tertinggal.

Sesampainya di warung kopi tersebut, ia begitu bersyukur karena barang-barangnya masih ada dan masih dalam keadaan seperti sebelumnya. Tak lupa ia berterima kasih kepada pemilik warung atas secangkir kopinya, lalu segera menuju ke rumah sewaannya. Angga tidak melewati jalan yang biasanya, karena ia takut bertemu dengan anjing itu lagi. Sehingga ia lebih memilih jalan memutar, lagipula ia juga sudah kehabisan tenaga akibat berlari terus tanpa henti.

Dalam perjalanan pulang, Angga tak bisa tenang sama sekali. Ia begitu gelisah, sambil sesekali memperhatikan sekililingnya, barangkali ada yang mengikutinya selama perjalanan pulang ini. "Cuman perasaan aja kali ya..." gumam Angga. Karena ia tak menemukan apapun. Hanya ada dirinya di jalan ini.

Sesampainya di depan pagar rumahnya, ia langsung mengambil kunci di sakunya--memasukkan kunci tersebut, memutarnya hingga pagar itu dapat dibuka olehnya. Kemudian ia masuk ke dalam tanpa lupa mengunci pagarnya lagi. Di depan pintu rumahnya, ia melakukan hal yang sama dengan pagar rumahnya. Setelahnya, ia menekan tombol lampu yang ada di tembok samping dimana ada engsel-engsel pintu yang terpasang rapi. Lampu pun menyala dan kini ia dapat menyaksikan rumahnya begitu berantakan. "Dih... Suram amat..." Angga mengeluh. Tentu saja ia mengeluh, siapa yang tahan melihat rumah yang begitu berantakan seperti ini. Orang-orang akan kesulitan untuk tidur nyenyak dalam keadaan rumah seperti ini.

Tapi, Angga tetaplah Angga, bukannya merapikan rumahnya, ia langsung menuju kamarnya. Segera ia merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya. Ia terlalu malas untuk merapikan rumahnya. Dan memang seperti itulah dia. Setiap ditanya oleh teman-temannya yang berkunjung, kenapa dia begitu malas merapikan rumahnya? Dia akan menjawab "Nanti susah nyari barang-barang yang gua butuhin. Pasti lupa, trus berantakan lagi dah. Buang-buang tenaga doang..." alasan yang aneh. Tanpa perlu waktu yang lama, Angga sudah terlelap dalam tidurnya.

Angga bermimpi dalam tidurnya. Di mimpinya, Angga berlari-lari menghindari sesuatu, kali ini bukan seekor anjing lagi—melainkan dua orang berseragam hitam dan berbadan tegap. Satu dari mereka memegang sebuah senjata api, dan yang lainnya memegang sebuah tongkat pemukul yang bentuknya seperti tongkat baseball, yang berwarna hitam sepenuhnya dan terdapat duri-duri diujungnya. Mereka terus mengejar Angga yang terus berlari tanpa henti. Sedangkan Angga terus berlari menghindari mereka, mencari jalan keluar dari sebuah tempat yang ia tak ketahui sama sekali. Angga terus berlari, sambil mengingat-ingat rute yang telah ia dapatkan. Entah bagaimana caranya ia mendapatkannya, rute itu sudah ada dalam pikirannya di dalam mimpi ini.

Sampai disebuah pertigaan lorong, dimana masing-masing lorong memiliki sketsa yang berbeda pada dinding-dindingnya. Lorong yang ada di kanan, penuh sketsa tumbuhan yang didominasi warna hijau, dan tentu saja sangat menyejukkan sekali. Sedangkan lorong yang ada di kiri, dipenuhi sketsa hewan-hewan yang didominasi warna merah, dan entah mengapa lorong itu begitu mencekam, jangankan untuk masuk, menatap lorong itu untuk sejenak saja enggan.

Angga langsung memasuki lorong bagian kiri, meskipun begitu mencekam ia tetap terus melaju menelusuri lorong itu tanpa henti. Baginya, kedua orang itu lebih mengerikan dibandingkan dengan lorong ini. Tiba di penghujung lorong, ia bertemu seorang anak laki-laki berjaket hitam. Anak itu melambaikan tangannya, mengajak Angga untuk mengikutinya. Angga yang melihat isyarat itu, langsung menarik anak itu, menyeretnya agar segera berlari bersamanya. "Ada apaan?" tanya anak itu. Angga tidak menjawab, ia terus berlari tanpa henti. Anak itu pun mau tak mau harus menahan rasa penasarannya dan ikut berlari bersama Angga.

"Kanan!" anak itu memberitahu. Angga yang mendengarnya langsung menuju ke kanan "Terus lurus, enggak lama lagi kok..." Angga tidak melawan, bertanya, ataupun mengajak anak itu berdebat apakah yang dikatakannya itu benar. Ia terus mengikuti apa yang disarankan anak itu. Sampai pada akhirnya, tibalah di penghujung lorong.

"Kuncinya ada?" Angga yang mendapat pertanyaan itu langsung merogoh sakunya, diperlihatkan kuncinya kepada anak itu. Anak itu pun mengangguk, Angga langsung memasukkan kunci itu ke lubang pintu, memutarnya, dan membuka pintunya. Begitu terang, cahaya itu begitu menyilaukannya, dan saat itu pula mimpi Angga berakhir. Ia pun terbangun dari tidurnya.
profile-picture
anasabila memberi reputasi
Diubah oleh sabna.tamara
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 3

INDEX

Diubah oleh sabna.tamara
Tau ini buat apa, lupa...
Diubah oleh sabna.tamara

Judulnya,, cuma Angga. .
emoticon-Belo
Post ini telah dihapus
Quote:


Weh jan ngepost dulu woi... emoticon-Mad

Bah, yaudahlah... emoticon-Ngacir
ane numpang ngepost sist emoticon-Shakehand2
Quote:



Huuuuuuuuuuuuuuuuuuum,, mungkin qm butuh mesin yg lbih gede biar ngacir. .
emoticon-Maluemoticon-Ngacir

Part 2

"Gelap" kata itu yang terucap pertama kali dari mulut Angga. Ruangan ini begitu gelap, tak ada cahaya sama sekali dan begitu pengap. Angga tidak tahu ia ada dimana, yang dia ingat sebelumnya ia tertidur di kamarnya lalu memimpikan suatu peristiwa yang aneh. Dan saat ia terbangun, ia sudah ada di tempat ini.

Angga mencoba bangkit, berjalan lurus kedepan sambil meraba-raba. Terlalu gelap, tak ada yang bisa ia lihat. Kemudian tak lama tangannya menyentuh sesuatu, dirabanya, diusap-usapnya. "Tembok..." ucapnya, kemudian ia mulai meraba-raba tembok itu ke arah kiri. Terus diusap-usap sampai ia mendapatkan sebuah gagang pintu. Bentuk gagang itu bulat dan sangat pas dalam genggamannya. Diputar-putar gagang pintu itu oleh Angga, namun hal itu sia-sia. Pintu itu tak mau terbuka sama sekali, pintu itu terkunci.

Kemudian Angga melanjutkan lagi apa yang ia lakukan sebelumnya, sampai tiba di salah satu sudut ruangan ini. Angga langsung duduk begitu saja di sudut ruangan ini, ia mulai menyerah. Pasrah akan nasib apa yang akan menimpanya nanti. Apakah dia akan tetap hidup atau dia akan mati di tempat ini. Jika dia harus mati di tempat ini, dia berharap mendapatkan kematian yang tidak menyiksa, langsung mati begitu saja. Tak perlu merasakan sakit yang luar biasa.

Ditengah keputus asaannya, Angga mulai mengingat-ngingat lagi kehidupannya jauh kebelakang. Apa saja yang telah ia perbuat selama ini, apakah ada sedikit saja perbuatan baik yang dapat membantunya masuk ke dalam surga. Namun, semakin ia mengingat, semakin sedih pula ia kini. Air matanya pun bercucuran. Ia sadar, ternyata selama hidupnya, bukan hal baik yang banyak ia lakukan. Terlalu banyak keburukan yang ia buat, tentu saja, ia sadar surga pasti tak akan mau menerimanya. Mencium baunya saja mungkin enggan.

Angga menangis, ia menangis tersedu-sedu dengan tatapan yang begitu kosong ke sembarang arah. Lagipula, tak ada yang bisa ia tatap atau perhatikan di dalam ruangan ini, hanya ada gelap. Lalu Angga tertawa, ia tertawa pelan, terbahak-bahak. Tiba-tiba Angga menangis lagi, menangis sejadi-jadinya sembari menarik-narik rambutnya. Terjebak dalam ruangan ini tanpa bisa apa-apa mulai membuatnya hampir gila. Ditambah tak ada perbuatan baik yang pernah ia buat semasa hidupnya. Mengingat itu membuatnya semakin tambah tertekan.

Angga berhenti menangis dan beranjak dari tempatnya. Angga mulai meraba-raba tembok--lagi--sampai ia menemukan gagang pintu itu lagi. Diputar-putarnya sekuat tenaga, meski ia tahu itu sia-sia. Kemudian ia memukul pintu itu sekencang-kencangnya sekuat tenaga. Beberapa saat kemudian ia berhenti, mulai menangis lagi sambil mencakar-cakar pintu itu. Kemudian memukul lagi pintu itu dengan tangannya, tak lama berselang kini Angga membenturkan kepalanya ke pintu itu. Berkali-kali, sampai darah mengalir keluar dari kepalanya. Ia dapat merasakanya, namun anehnya ia tak merasa kesakitan sama sekali. Angga justru ketagihan, dan terus membenturkan kepalanya berkali-kali.

Hanya letih yang membuat Angga berhenti membenturkan kepalanya. Angga pun mundur perlahan ke belakang, lalu duduk. Meraba-raba lantai, mengusap-ngusapnya lalu berbaring dilantai itu dan ia baru tersadar ternyata ruangan itu tergenang oleh air yang tingginya kira-kira semata kaki. Namun, ia tak peduli dan tetap berbaring—mencoba menatap langit-langit yang tentu saja hanya gelap yang bisa ia lihat. Air matanya bercucuran lagi dan ia menangis lagi.

Terdengar suara langkah kaki mendekat. Dari suaranya bisa diperkirakan ada dua orang yang menuju kemari, entah ke ruangan dimana Angga berada atau sekedar melewati saja. Suara langkah kaki itu begitu mudah terdengar dan dapat diperkirakan apakah mereka masih jauh atau sudah dekat--mengingat begitu sunyinya ruangan ini. Angga yang mendengar suara itu langsung bangkit dan segera menuju ke sudut ruangan dengan susah payah. Lalu ia duduk meringkuk ketakutan, memeluk kedua lututnya dengan erat.

Semakin dekat suara itu, semakin takut pula Angga. Ia tak bisa menangis lagi, kini ia begitu cemas, jantungnya berdebar-debar dan udara tiba-tiba menjadi begitu dingin, seperti menusuk-nusuk kulitnya. Suara langkah kaki itu semakin dekat, semakin dekat dan kemudian suara itu berhenti. Suara itu tepat berhenti di depan pintu ruangan ini.

Samar-samar terdengar suara percakapan bersamaan dengan suara gemerincing logam yang beradu. Tak lama terdengar suara pintu yang terbuka, diikuti dengan cahaya lampu yang langsung menerangi sebagian ruangan. Cahaya itu bergerak kesana-kemari, mencari-cari, kemudian cahaya itu berhenti. Dengan tepat menyorot langsung ke arah Angga yang sedang meringkuk ketakutan di sudut ruangan.

Angga semakin ketakutan, ditandai dengan menenggelamkan kepalanya ke dalam kedua lututnya. "Haaaa!" "Jangan!" "Enggak..." "Jangan!" kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Angga. Angga berpikir bahwa mereka yang datang adalah malaikat mautnya. Malaikat yang sudah diutus untuk mencabut nyawanya.

Cahaya itu semakin mendekat, suara langkah kaki mereka juga semakin dekat. Tepat di depan Angga, suara itu berhenti bergerak dan cahaya itu juga ikut berhenti bergerak. Namun, masih tetap menyorot ke arah Angga. "Bangun!" bentak salah satu dari mereka. Suaranya berat dan kasar. "Ayolah! Jangan buang-buang waktu, banyak pekerjaan kita nih..." tambah yang lainnya. Berbeda dari sebelumnya, suara orang ini terdengar lebih lembut, halus dan tak menyeramkan. Rasanya dia orang yang ramah.

Namun Angga tetap seperti sebelumnya, ia tak mau bergerak. Ia hanya mengintip sedikit, mencoba melihat bagaimana wujud kedua orang itu. Namun, cahaya lampu yang begitu menyilaukan membuat Angga tak dapat melihat apa-apa. Kedua orang tersebut tentu kesal, tanpa berpikir panjang salah satu dari mereka langsung menarik kerah baju Angga, menyeretnya begitu saja. Angga tak melawan, dia hanya bisa pasrah diseret oleh salah satu dari mereka.

"Berat juga." orang yang bersuara lebih berat berbicara.

"Kau gimana sih? Jelas berat lah!" sahut temannya yang bersuara lebih lembut.

"Diri!" bentak orang itu. Namun Angga masih belum berdiri atau lebih tepatnya tidak bisa. Melihat Angga yang seperti itu tentu membuat orang itu semakin kesal. Ia langsung menegakkan Angga dengan paksa. Namun, Angga yang memang sudah tak bertenaga tak bisa menahan dirinya untuk berdiri tegak sebentar saja dan langsung jatuh perlahan. Baru saja lutut yang menyentuh lantai lorong itu, orang itu langsung melayangkan tendangannya tepat ke dada Angga--saking kesalnya.

Angga terlempar beberapa centi ke belakang dan langsung terbaring lemas. Mereka yang melihat Angga seperti itu semakin kesal, namun juga mereka pasrah. Mereka segera mendekati Angga, mengangkatnya, menaruh Angga dipunggungnya, menggendongnya dan mulai berjalan terus ke depan.

"Kita harus ngusulin ke bos. Beliin gerobak, kereta atau apalah namanya. Males amat gua ngurusin orang-orang kayak gini..." keluhnya sambil membuang nafas.

"Aku sependapat. Tapi, apa kau yakin bos akan setuju? Kau tau sendiri lah bos kita itu bagaimana."
"Iya juga sih. Untung gaji disini gede..."

"Kalau kecil kau ngak bakal kerja disini. Hahaha!"

"Malah... Huft..."

Tak ada percakapan lagi yang terlontar. Mereka terus berjalan, melewati lorong-lorong yang gelap dengan sebuah senter. Melewati banyak persimpangan. Begitu banyak, yang tentu akan sulit sekali diingat bagi mereka yang baru pertama kali masuk kesini—Angga contohnya.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, akhirnya mereka berhenti tepat disebuah pintu. Dibukalah pintu itu, seketika cahaya langsung menerangi sebagian lorong. Angga membuka matanya, sedikit senang, karena itu pertanda baginya. Kalau dia masih hidup dan punya kesempatan untuk terus hidup. Senyum kecil terbit di wajahnya, namun tak lama, karena ia sudah memejamkan matanya lagi.

"Gantian dong. Gua mulu..." temannya yang mendengarnya langsung mendekatinya, merendahkan badannya dan membiarkan orang itu menaruh Angga di punggungnya.

"Duh. Emang berat ya. Hah..." gumamnya. "Pantes aja kau cerewet tadi. Padahal dia lumayan kurus lho."

"Tau ah. Ngak peduli gua. Jalan lagi ajalah..."

Mereka mulai melanjutkan perjalanan mereka lagi. Kini tidak lagi di dalam lorong-lorong, tapi kini mereka berjalan di dalam hutan. Mereka berjalan perlahan, sesekali berhenti untuk memperhatikan sekitar, melihat tanda-tanda yang sudah dibuat—yang dijadikan sebagai penunjuk arah tentunya. Tanpa penunjuk arah tentunya mereka akan tersesat dalam hutan ini. Hutan ini terlalu luas bagi mereka berdua. Ketika hari sudah gelap mereka tiba di sebuah pondok, mereka menghentikan perjalanan mereka. Beristirahat dari letih karena perjalanan yang begitu melelahkan. Memakan bekal yang sudah mereka bawa sejak awal. Lalu mereka semua tertidur.

Angga terbangun, diperhatikannya sekitar yang sudah terselimuti oleh gelap. Terlihat samar-samar dedaunan bergoyang-goyang ditiup angin malam. "Dingin." hanya itu yang terucap dari mulut Angga. Dilihat oleh Angga kedua orang itu tertidur dengan lelapnya. Terbesit dalam pikirannya untuk melarikan diri, namun hal itu sama saja dengan bunuh diri. Berlarian di tengah hutan tanpa tujuan, dengan sisa tenaga yang ada? Apa yang didapat? Hanya kematian pikir Angga saat itu.

Angga mengais-ngais, mencari-cari di balik barang-barang yang dibawa oleh kedua orang itu. Ditemukannya sisa-sisa makanan yang tak dihabiskan oleh kedua orang itu. Jijik, Angga tetap memakannya. Ia terlalu lapar untuk menunggu makanan yang biasa ia makan hadir di hadapannya. Lagipula, mana mungkin hal itu bisa terjadi. Makanan alakadarnya saja tak ia dapatkan, apalagi lebih. Walau tak sepenuhnya menutupi rasa laparnya, Angga begitu bersyukur kali ini, tak pernah ia merasakan hal seperti ini. Kali ini, rasanya begitu indah.
Quote:


Ya baca dulu dong threadnya, jelas2 dah kukasih tau itu di post pertama. Nejunk yg eleganlah...

emoticon-Cape d...

Lupakanlah... emoticon-Ngacir
Wah ini ya cerita barunya.
Ini udah jadi semua part terus tinggal dipost atau gimana, Sab?
Quote:


Belom selesai semua, ngak tinggal post. Masih ada bbrp part lagi. Ngak setiap hari yang pasti...
fiksi yah?
padahal gw sedikit mau tau apa itu cinta dari sudut pandang wanita. wkwk
yasudahlah.
gara2 angga masih laper perutnya jadi bunyi2 terus.
bunyinya menggelegar sampe mereka jadi bangun.
marahlah mereka sama si angga karena ngebangunin tidurnya.
akhirnya angga di sembelih, dimutilasi, trus dikubur. tamat emoticon-shakehand



emoticon-Ngacir
Judul yang simple.
Izin kasih tanda sis di pejwan
Diubah oleh kenlap13
Weleh.... bang sab bikin trit ya.... leyeh2 dulu bang,

Judulnya..... irit emoticon-Matabelo
Quote:


Oh gitu.
Btw, ini genre ceritanya apa ya? Apa gue harus mencari tau sendiri? emoticon-Stick Out Tongue
om sab bikin trit. emoticon-Belo


jgn kentang2 yah. ntar enthu yg bikin trit kek si joko noh ampe 4taun kentang ga kelar2. finish-in ya om emoticon-Big Grin
irit bgt nih judul emoticon-Big Grin
fiksi atau real ya om ceritanya?
Diubah oleh boren.bebe


bangsab!
ciyus ni bangsab???
sekalinya iseng buka sfth langsung nyasar di trit enthu behabehabehahahaha

ijin gelar tiker yak emoticon-Kiss (S)

btw angga live alone nih? jomblo nih? gapunya temen nih? hmmmm


Diubah oleh Reynatto

Part 3.1

"Tidak ada yang menggunakan nama disini. Semua menggunakan nomor sebagai pengenal diri, dan nomormu adalah 21." seorang petugas menjelaskan kepada Angga.

"21?" Angga bertanya-tanya.

"Enggak ada alasan kok dari setiap nomor yang dikasih. Semacam, suka-suka lah." jelas petugas itu seperti membaca pikiran Angga.

"Yap, langsung masuk ke sana. Jadi anak yang baik ya." tambah petugas itu.

Angga berjalan lurus ke depan dimana terlihat cahaya yang terang. Dia tak melawan, atau mencoba kabur, sia-sia juga jika dilakukan. Terlalu banyak penjaga disini ditambah Angga orang baru yang buta akan tempat ini.

Angga telah tiba, tepat diujung lorong. Kini ia dapat menghirup udara yang berbeda dibanding dengan di lorong. Meski tidak segar, namun jauh lebih baik dibanding di dalam lorong yang begitu pengap.

"Nomor?" tanya petugas yang ada di dalam pos.

"21 pak. 21." jawab Angga.

"Kamu lihat barang-barang yang disana kan? Angkut itu ke, ya ikuti saja orang-orang yang sedang mengangkut barang itu juga. Jangan bertanya apa isinya, angkut saja sampai waktunya selesai." jelas orang itu.

Angga mengikuti apa yang dikatakan orang itu, ia berjalan menuju ke tempat yang di tunjuk dan kemudian mengangkat sebuah kotak yang berisi entah apa di dalamnya. Angga bertanya-tanya, namun tentu Angga tak menanyakannya karena memang sudah diberi tahu untuk tidak bertanya. Angga juga takut jika ia tetap mencoba menanyakan isi dari kotak ini pada petugas yang lain, akan membuat nasibnya menjadi lebih buruk.

"Berat..." ucap Angga pelan. Diturunkannya kotak itu dan kembali mengangkatnya dengan punggungnya seperti yang lainnya.

Angga mulai berjalan lagi, mengikuti orang-orang yang juga melakukan hal yang sama. Tidak begitu banyak orang seperti yang dipikirkannya, tak lebih dari 50 orang menurutnya.

Angga mencoba melihat kesamping, ia melihat seorang lelaki tua juga melakukan hal yang sama. Kejam sekali pikirnya saat itu, namun ia juga memikirkan ada sesuatu yang aneh. Kenapa hanya dia sendiri, sedangkan yang lain ia perkirakan memiliki umur yang sama dengan dirinya.

Orang tua itu menoleh, kemudian melemparkan senyuman kepada Angga, tentu Angga membalas senyumannya meski pikirannya masih dipenuhi rasa heran.

"Baru kali ini ada yang memperhatikanku nak. Siapa namamu?" orang tua itu mencoba memulai pembicaraan.

"Hmmm, kan kita enggak pakai nama pak..." jawab Angga mengingat apa yang disampaikan petugas pertama--petugas yang ada di dalam lorong--tadi.

"Oh iya. Aku lupa nak. Berapa nomormu? Nomor bapak 1."

"21 pak. Eh? 1? Apa bapak orang yang pertama kesini?"

"Oh. Tentu saja bukan nak, bukankah kamu sudah mendengarnya dari petugas? Tak ada alasan yang jelas kenapa kita mendapatkan nomor ini. Lihat saja, kamu diberikan nomor 21, apakah itu berarti kamu orang yang ke-21 yang dimasukkan kesini? Tentu bukan kan nak?" jelas orang tua itu yang kemudian mengalihkan pandangannya kedepan.

"Berapa umurmu nak?" tanyanya namun pandangannya tetap ke arah depan.

"25 pak. Kenapa memangnya?" jawab Angga.

"Masih muda ya rupanya. Keluar lah nak, ada hal besar yang akan menantimu. Jangan berdiam diri dan mengikuti apa yang mereka inginkan. Memberontaklah." ucap orang tua itu yang membuat Angga kebingungan.

"Hal besar? Hal besar apa pak?" Angga mengajukan pertanyaan.

"Tak usah kau tanyakan itu nak. Jika hari itu tiba, mainkan saja peranmu dengan sebaik mungkin." ucap orang tua itu. Tentu saja membuat Angga semakin kebingungan.

"Ohiya nak. Bapak memiliki beberapa pertanyaan penting untukmu. Tidak perlu kamu jawab sekarang. Jawablah saat kamu bisa menjawabnya, karena suatu hari pertanyaan ini akan hadir dalam hidupmu nak." tambah orang tua itu.

"Pertanyaan? Oh, silahkan pak." jawab Angga penasaran.

"Ingat nak, jawablah saat kamu sudah menemukan jawabannya. Oke, ini pertanyaannya nak. Apa yang akan kamu lakukan jika kamu tahu apa yang akan kamu lakukan tapi, kamu tak bisa melakukan hal yang kamu tahu itu sedangkan hal yang akan kamu lakukan itu begitu penting untuk dilakukan."

Pertanyaan apa itu? Itu yang terpikir oleh Angga. Butuh beberapa detik untuk mengerti dan memahami pertanyaan itu.

"Aku tahu kau pasti memikirkan pertanyaan ini sangat aneh atau membingungkan. Tapi, pikirkanlah nak! Karena pertanyaan ini penting untukmu." jelas orang tua itu.

Angga terkejut, bagaimana mungkin orang tua itu tahu apa yang dipikirkannya? Apakah ia bisa membaca pikiran?

"Tak usah dipikirkan bagaimana aku bisa tau apa yang ada di pikiranmu nak. Pikirkan saja pertanyaan itu, karena akan ada beberapa pertanyaan lagi. Tidak semuanya hari ini. Cukup satu pertanyaan untuk hari ini nak." tambah orang tua itu.

Angga tentu semakin terkejut mendengarnya, orang tua ini sangat tahu apa yang ada dipikirannya. Seperti, dia sendiri yang memikirkan apa yang dipikirkan Angga. Namun, Angga mencoba melupakan hal itu sesuai permintaan orang tua itu. Karena, toh banyak orang di luar sana yang bisa membaca pikiran orang lain. Dan kemudian memikirkan pertanyaan yang diajukan orang tua itu.
lah, nama laki gue ini sab emoticon-Ngakak (S)

mantau dulu aaahh emoticon-Malu
Halaman 1 dari 3
×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di