- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Ki Bagus Hadikusumo: Memimpin adalah Menderita!
TS
beppe.adelmar
Ki Bagus Hadikusumo: Memimpin adalah Menderita!
Quote:
REPUBLIKA.CO.ID,‘Keikhlasan’. Begitulah kalimat yang tepat ketika melihat reaksi cucu Ki Bagus Hadikusumo, Gunawan Budianto, yang kini menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Muhamamdiyah Yogyakarta (UMY).
Bahkan, ketika ditanya mengenai adanya kemungkinan bila menjelang 10 November ini, ‘eyangnya’ akan ditetapkan sebagai pahlawan nasional, dia malah terlihat sungkan.
‘’Pemikiran seluruh keluarga kami, bila ada jasa dari Ki Bagus Hadikusumo biarlah sang pelakunya saja yang menerima imbalannya. Kalau ada balas jasa hendaknya cukup berasal dari Allah Swt saja,’’ kata Gunawan.
Dia pun kemudian menceritakan bila para anggota keluarga Ki Bagus malah merasa dititipi amanat bahwa tak perlu membesar-besarkan jasa. Bahkan, nasihat Ki Bagus bahwa ‘menjadi pemimpin itu menderita’ selalu terngiang dalam pikiran.
Seperti diketahui, Kamis (5/11), Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada pada lima tokoh. Penganugerahan gelar tersebut dilakukan di Istana Negara, Kamis (5/11). Salah satu diantaranya tokoh itu adalah Mantan Ketua PP Muhammadiyah 1942-1945, Anggota PPKI dan BPUPKI Ki Bagus Hadikusumo.
Empat tokoh lain yang juga diberi gelar pahlawan nasional yakni Bernard Wilhem Lapian (alm), Mas Iman (alm), Komjen Pol Moehammad Jasin (alm), dan I Gusti Ngurah Made Agung (alm). Mereka dikukuhkan sebagai pahlawan nasional lewat keputusan presiden (Keppres) 116/TK Tahun 2015.
Pilihan hidup dengan falsasah ‘Memimpin itu menderita’ benar-benar di praktikkan oleh Ki bagus Hadikusumo yang lahir di Yogyakarta 23 November 1890.
Bahkan, seperti dituturkan sang cucu, Gunawan Budianto, kehidupan sehari-hari keluarga kakeknya tak ada yang biasa saja. Tak ada fasilitas negara yang dipakai dan keluarganya pun hidup tak berbeda dengan kehidupan sebagian besar rakyat yang sederhana.
‘’Semuanya serba ‘biasa-biasa’ saja. Jadi wajar sekali bila dikemudian hari banyak orang yang lupa pada peran Ki Bagus. Karena memang dari dulu beliau tak mau perannya dalam pendirian bangsa ditonjolkan,’’ kata Gunawan kembali.
Bila mengkaji peran ketiga tokoh itu memang luar biasa. Bahkan, bisa dikatakan Ki Bagus adalah salah satu dari sekian orang yang bisa disebut sebagai ‘pemegang saham’ dari negara yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
Peran dia dalam pembahasan konstitusi UUD 1945 jelas tak bisa dibantah. Mereka adalah figur penentu dari eksistensi bangsa ini. Tak cukup dengan itu mereka juga berani bersikap lapang dada dan berani berkorban ketika bangsa ini terancm dalam perpecahan yang serius.‘’Ki Bagus adalah orang yang berlapang dada atas pencoretan tujuh kata dalam Piagam Jakarta ketika testamen itu hendak dijakaikan pembukaan UUD Selain itu beliaulah yang menjadikan Ketuhanan menjadi sila pertama Pancasila serta menambahkan rumusannya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa seperti yang kita kenal sekarang,’’ kata Gunawan.
Keterlibatan Ki Bagus Kusumo dalam pergerakan kebangsaan sudah berlangsung semenjak ia berusia sangat muda. Sebagai aktivis politik, visinya terhadap nilai-nilai keislaman tampak pada berbagai tindakannya. Bagi Ki Bagus, pelembagaan Islam menjadi sangat penting untuk alas an idiologi, politik,dan inteletual.
Suatu ketika,Ki Bagus pernah terlibat pada kepanitian yang bertugas memperbaik peradilan agama (Priesterraden Comissie, Komisi Dewan Imam). Namun dia kemudian merasa kecewa karena rekomendasi komisi ini tak ditanggapi oleh pemerintah Kolonial Belanda serta memilih mencoret atau tidak memberlakukan hukum Islam sebagai bagian integral hokum adat. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1931.
Kiprahnya dalam organisasi kemudian mengantarkannya menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah periode 1942-1945. Sedangkan sebagai akibat aktivitasnya dalam organisasi politik sepertiPartai Islam Indonesia (PII), Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), dan Masyumi kemudian mengantarkannya menjadi tokoh Muhammadiyah yang ikut dalam penyusunan Pembukaan UUD 1945. Ki Bagus dalam hal ini adalah salah seroang dari 15 anggota BPUPKI/PPKI yang menuntut diterapkannya Islam sebagai dasar negara.
Ki Bagus bersikap seperti itu dengan argumentasi brilian bahwa berdasar alas an sosio-hstoris Islam sudah lebih dari enam abad menjadi agama bangsa Indonesia. Ini dimplementasikan dalam adat-istiadat masyarakatnya.
Menanggapi pemikiran tersebut, maka segera muncul berbagai perdebatan sengit. Bahkann sidang BPUPKI sempat terancam deadlock. Untungnya situasi buntu ini dapat teratasi setelah Ki Bagus dan bersama para tokoh umat Islam yang saat itu ikut dalam berlapang dada mau melakukan kompromi.
‘’Sebagai hasilnya, Ketuhanan yang tadinya diletakan pada urutan ke lima sila Pancasila, kemudian ditempatan di sila yang pertama. Rumusan Ketuhanan yang di Piagam Jakarta ada tujuh kata mengenai pelaksanaan syariat bagi para pemeluknya, atas prakarsa Ki Bagus dirumuskan menjadi ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’,’’ kata mantan anggota DPR yang menjadi ‘murid’ M Natsir, Lukan Hakiem.
‘Mantan anggota DPR RI yang sempat menjadi ‘murid’ M Natsir, Lukman Hakiem, mengatakan bila membaca lagi risalah sidang BPUPKI, suasana perdebatan sengit antara kubu Islam dan kubu nasionalis sengit sekali. Saking tegangnya pertemuan itu, sampai –sampai Sukarno terkesan menghindar dan canggung dengan kegigihan Ki Bagus Hadikusumo. Beberapa orang pun sudah gebrak meja, bahkan Ki Bagus ketika memulai bicara sudah meminta perlindungan terhadap bahaya setan yang terlutut.
‘’Untunglah anggota BPUPKI lainnya, Ahmad Sanusi meminta //break//. Nah begitu sidang diskors, Bung Karno memanfaatkan untuk melobi mereka. Itu dilakukansampai sampai Subuh. Dan ketika keesokan paginya sidang di buka maka rumusan soal pembukaan konstitusi disetuju dan kemudian di namakan Piagam Jakarta. Dan nantinya, ketika sidang PPKI yakni pada 18 Agustus 1945, juga dengan melobi Ki Bagus, maka rumusan tujuh kata disepakati untuk dihilangkan. Jadi peran Ki Bagus sangat besar,’’ katanya.
http://nasional.republika.co.id/beri...enderita-part2
Bahkan, ketika ditanya mengenai adanya kemungkinan bila menjelang 10 November ini, ‘eyangnya’ akan ditetapkan sebagai pahlawan nasional, dia malah terlihat sungkan.
‘’Pemikiran seluruh keluarga kami, bila ada jasa dari Ki Bagus Hadikusumo biarlah sang pelakunya saja yang menerima imbalannya. Kalau ada balas jasa hendaknya cukup berasal dari Allah Swt saja,’’ kata Gunawan.
Dia pun kemudian menceritakan bila para anggota keluarga Ki Bagus malah merasa dititipi amanat bahwa tak perlu membesar-besarkan jasa. Bahkan, nasihat Ki Bagus bahwa ‘menjadi pemimpin itu menderita’ selalu terngiang dalam pikiran.
Seperti diketahui, Kamis (5/11), Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada pada lima tokoh. Penganugerahan gelar tersebut dilakukan di Istana Negara, Kamis (5/11). Salah satu diantaranya tokoh itu adalah Mantan Ketua PP Muhammadiyah 1942-1945, Anggota PPKI dan BPUPKI Ki Bagus Hadikusumo.
Empat tokoh lain yang juga diberi gelar pahlawan nasional yakni Bernard Wilhem Lapian (alm), Mas Iman (alm), Komjen Pol Moehammad Jasin (alm), dan I Gusti Ngurah Made Agung (alm). Mereka dikukuhkan sebagai pahlawan nasional lewat keputusan presiden (Keppres) 116/TK Tahun 2015.
Pilihan hidup dengan falsasah ‘Memimpin itu menderita’ benar-benar di praktikkan oleh Ki bagus Hadikusumo yang lahir di Yogyakarta 23 November 1890.
Bahkan, seperti dituturkan sang cucu, Gunawan Budianto, kehidupan sehari-hari keluarga kakeknya tak ada yang biasa saja. Tak ada fasilitas negara yang dipakai dan keluarganya pun hidup tak berbeda dengan kehidupan sebagian besar rakyat yang sederhana.
‘’Semuanya serba ‘biasa-biasa’ saja. Jadi wajar sekali bila dikemudian hari banyak orang yang lupa pada peran Ki Bagus. Karena memang dari dulu beliau tak mau perannya dalam pendirian bangsa ditonjolkan,’’ kata Gunawan kembali.
Bila mengkaji peran ketiga tokoh itu memang luar biasa. Bahkan, bisa dikatakan Ki Bagus adalah salah satu dari sekian orang yang bisa disebut sebagai ‘pemegang saham’ dari negara yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
Peran dia dalam pembahasan konstitusi UUD 1945 jelas tak bisa dibantah. Mereka adalah figur penentu dari eksistensi bangsa ini. Tak cukup dengan itu mereka juga berani bersikap lapang dada dan berani berkorban ketika bangsa ini terancm dalam perpecahan yang serius.‘’Ki Bagus adalah orang yang berlapang dada atas pencoretan tujuh kata dalam Piagam Jakarta ketika testamen itu hendak dijakaikan pembukaan UUD Selain itu beliaulah yang menjadikan Ketuhanan menjadi sila pertama Pancasila serta menambahkan rumusannya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa seperti yang kita kenal sekarang,’’ kata Gunawan.
Keterlibatan Ki Bagus Kusumo dalam pergerakan kebangsaan sudah berlangsung semenjak ia berusia sangat muda. Sebagai aktivis politik, visinya terhadap nilai-nilai keislaman tampak pada berbagai tindakannya. Bagi Ki Bagus, pelembagaan Islam menjadi sangat penting untuk alas an idiologi, politik,dan inteletual.
Suatu ketika,Ki Bagus pernah terlibat pada kepanitian yang bertugas memperbaik peradilan agama (Priesterraden Comissie, Komisi Dewan Imam). Namun dia kemudian merasa kecewa karena rekomendasi komisi ini tak ditanggapi oleh pemerintah Kolonial Belanda serta memilih mencoret atau tidak memberlakukan hukum Islam sebagai bagian integral hokum adat. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1931.
Kiprahnya dalam organisasi kemudian mengantarkannya menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah periode 1942-1945. Sedangkan sebagai akibat aktivitasnya dalam organisasi politik sepertiPartai Islam Indonesia (PII), Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), dan Masyumi kemudian mengantarkannya menjadi tokoh Muhammadiyah yang ikut dalam penyusunan Pembukaan UUD 1945. Ki Bagus dalam hal ini adalah salah seroang dari 15 anggota BPUPKI/PPKI yang menuntut diterapkannya Islam sebagai dasar negara.
Ki Bagus bersikap seperti itu dengan argumentasi brilian bahwa berdasar alas an sosio-hstoris Islam sudah lebih dari enam abad menjadi agama bangsa Indonesia. Ini dimplementasikan dalam adat-istiadat masyarakatnya.
Menanggapi pemikiran tersebut, maka segera muncul berbagai perdebatan sengit. Bahkann sidang BPUPKI sempat terancam deadlock. Untungnya situasi buntu ini dapat teratasi setelah Ki Bagus dan bersama para tokoh umat Islam yang saat itu ikut dalam berlapang dada mau melakukan kompromi.
‘’Sebagai hasilnya, Ketuhanan yang tadinya diletakan pada urutan ke lima sila Pancasila, kemudian ditempatan di sila yang pertama. Rumusan Ketuhanan yang di Piagam Jakarta ada tujuh kata mengenai pelaksanaan syariat bagi para pemeluknya, atas prakarsa Ki Bagus dirumuskan menjadi ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’,’’ kata mantan anggota DPR yang menjadi ‘murid’ M Natsir, Lukan Hakiem.
‘Mantan anggota DPR RI yang sempat menjadi ‘murid’ M Natsir, Lukman Hakiem, mengatakan bila membaca lagi risalah sidang BPUPKI, suasana perdebatan sengit antara kubu Islam dan kubu nasionalis sengit sekali. Saking tegangnya pertemuan itu, sampai –sampai Sukarno terkesan menghindar dan canggung dengan kegigihan Ki Bagus Hadikusumo. Beberapa orang pun sudah gebrak meja, bahkan Ki Bagus ketika memulai bicara sudah meminta perlindungan terhadap bahaya setan yang terlutut.
‘’Untunglah anggota BPUPKI lainnya, Ahmad Sanusi meminta //break//. Nah begitu sidang diskors, Bung Karno memanfaatkan untuk melobi mereka. Itu dilakukansampai sampai Subuh. Dan ketika keesokan paginya sidang di buka maka rumusan soal pembukaan konstitusi disetuju dan kemudian di namakan Piagam Jakarta. Dan nantinya, ketika sidang PPKI yakni pada 18 Agustus 1945, juga dengan melobi Ki Bagus, maka rumusan tujuh kata disepakati untuk dihilangkan. Jadi peran Ki Bagus sangat besar,’’ katanya.
http://nasional.republika.co.id/beri...enderita-part2
sepenggal sejarah yang mungkin banyak orang gak tau, termasuk ane..

0
1.3K
Kutip
0
Balasan
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan