alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55d5e487c2cb1751058b4569/soekarno-dalang-besar-g30s-pki
Soekarno, Dalang Besar G30S/PKI
Topik tulisan ini adalah apakah benar Soekarno dalang G30S/PKI dan bukan sekedar bertanggung jawab dalam kedudukannya sebagai Presiden dan Panglima Tertinggi ABRI? Dalam hal ini, bukti-bukti yang ditemukan setelah peristiwa G30S/PKI pada dasarnya memang membuktikan bahwa Soekarno mendalangi G30S/PKI, dan bukti-bukti tersebut antara lain:

Pertama, berdasarkan kesaksian salah satu korban G30S/PKI, yaitu Jenderal AH Nasution dalam buku berjudul: “Peristiwa 1 Oktober 1965, Kesaksian Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution,” terbitan Narasi, halaman 29, ditemukan fakta bahwa Panglima Angkatan Udara Omar Dhani telah memberikan laporan kepada Soekarno pada tanggal 28 dan 29 September 1965 bahwa ada gerakan dari unsur-unsur perwira muda angkatan darat untuk menindak Dewan Jenderal. Namun Soekarno tidak melakukan apa-apa. Pengetahuan Omar Dhani mengenai akan berlangsungnya gerakan G30S/PKI ini diperkuat dengan wawancara Omar Dhani dengan tim penyusun buku putih TNI AU atau AURI berjudul Menyingkap Kabut Halim 1965, bahwa Omar Dhani sesungguhnya telah menerima informasi dari Letkol Udara Heroe Atmodjo akan ada gerakan menculik Dewan Jenderal dan membawa mereka menemui Soekarno (halaman 225-227). Hal ini juga diperkuat oleh buku pledoi Omar Dhani, berjudul Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku, halaman 58:

“Secara serius dilaporkan bahwa akan ada gerakan di lingkungan Angkatan Darat. Gerakan itu akan menjemput para jenderal Angkatan Darat, termasuk anggota Dewan Jenderal, untuk dihadapkan langsung kepada Bung Karno…Gerakan ini akan dilakukan oleh para perwira muda yang mendapat dukungan dari bawahan serta para pegawai sipil…”

Informasi ada gerakan G30S/PKI yang diperoleh dari Heru Atmodjo, salah satu anggota gerakan‎ sengaja tidak dilaporkan Omar Dhani kepada Ahmad Yani, selaku panglima angkatan darat dan target G30S/PKI. Hal ini diakui Omar Dhani sendiri: "...oleh karena Heroe unsur pimpinan intel AURI, sebagai Panglima AURI sudah pasti saya harus percaya penuh kepadanya. Info tersebut tidak saya sampaikan kepada angkatan lain sebab ini merupakan urusan internal Angkatan Darat."

(Julius Pour, Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang halaman 96).‎

Kedua, setelah peristiwa G30S/PKI, Soekarno terus menerus menolak menindak orang-orang yang nyata-nyata terlibat dalam G30S/PKI seperti Brigjend Soepardjo, DN Aidit, Omar Dhani dan lain-lain dengan alasan terbunuhnya enam jenderal, Ade Irma Suryani yang masih kecil dan korban lain adalah  sekedar “Een rimpel in de oceaan van de revolusi," atau ‎sekedar persoalan kecil seperti buih ombak di lautan luas. Sebaliknya Soekarno justru bertahan di Halim, yang menjadi markas G30S/PKI dan mengumpulkan pemimpin ABRI ke Halim. Bukan itu saja, tapi Soekarno ternyata memiliki informasi dengan jelas mengenai apa yang terjadi ketika para jenderal dibawa ke Lubang Buaya, seperti diutarakan oleh Brigjend Sucipto:

“Berkatalah Soekarno antara lain kepada Pak Cipto: ‘Cip, kekejaman-kekejaman PKI yang termuat dalam surat-surat kabar itu semuanya tidak benar. Tahukah kamu bahwa penembakan terhadap Jenderal Suprapto, cs adalah atas putusan dari semacam pengadilan rakyat di Lubang Buaya dan dilaksanakan dengan baik dan sopan. Para Jenderal sebelum ditembak matanya ditutup dahulu dengan kain, dan sebelum menembak para penembaknya minta maaf lebih dahulu karena terpaksa melakukan itu demi revolusi…

Mendengar cerita Bung Karno itu, dan mungkin karena terdorong emosinya, maka bagaikan seorang hakim bertanya kepada seorang tertuduh, segera Pak Cip menanya kepada Presiden, dari siapa beliau mendengar atau mengetahui, hal ini. Presiden mencoba mengelakan pertanyaan Mayjend Sucipto itu dengan mengatakan agar Pak Cip jangan begitu emosional…”

(Peristiwa 1 Oktober 1965, Kesaksian Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution,” terbitan Narasi, halaman 67 – 69.)

Bukti lain bahwa anggota G30S/PKI melaporkan semua hal mengenai gerakan kepada Soekarno juga didapat dari pernyataan Kolonel Abdul Latief, pemimpin pasukan yang membunuh anak bungsu Jenderal AH Nasution: 

"Saya selalu mentaati dan melaporkan segala sesuatu mengenai peristiwa tanggal 1 Oktober 1965 kepada Presiden."

(Julius Pour, G30S, Fakta atau Rekayasa, penerbit Gramedia, halaman 261).‎

Pada faktanya, Soekarno sama sekali tidak sedih dengan peristiwa G30S/PKI dan hal ini semakin ditunjukan ketika dia tidak menghadiri permakaman korban G30S/PKI dan tingkahnya dalam tayangan TVRI pada hari meninggalnya Ade Irma Suryani tanggal 6 Oktober 1965 di mana Soekarno malah bergurau dengan wartawan, merokok, bersikap tenang dan tertawa terbahak-bahak seolah tidak terjadi apa-apa di Indonesia melukai hati rakyat (‎Surat Ratna Dewi Soekarno tanggal 6 Oktober 1965).

Ketiga, dari bahan-bahan pemeriksaan Tim Pemeriksa Pusat ditemukan kesaksian ajudan Soekarno bernama, Brigjend Sugandhi mengenai pembicaraannya dengan Sudisman, DN Aidit dan Soekarno pada tanggal 27 Oktober 1965 dan 30 September 1965. Pembicaraan tersebut mengenai temuan Sugandhi mengenai gerakan di beberapa kampung yang membuat sumur dan bagaimana Sudisman mengajak Sugandhi bergabung dengan PKI. Selanjutnya DN Aidit berusaha menenangkan Sugandhi dengan mengatakan bahwa PKI tidak bermaksud coup melainkan sekedar memperbaiki kerusakan yang disebabkan Dewan Jenderal dan mengenai gerakan ini sudah diketahui semuanya oleh Soekarno. Ketika Sugandhi memberitahu Soekarno tentang PKI mau coup, Soekarno malah menjawab:

“Kamu (Sugandhi) jangan PKI-phobi (dengan nada marah)..kamu tahu Dewan Jenderal? Kamu hati-hati kalau ngomong…Wis, kowe ora campur, diam saja kamu. Kowe wis dicecoki Nasution ya?”
 
(Dokumen No. 5, Pernyataan Brigadir Jenderal H. Sugandhi dari Victor M. Fic, Kudeta 1 Oktober 1965, Sebuah Studi Tentang Konspirasi, Penerbit Buku Obor)

Pada dasarnya pihak angkatan darat dari awal sudah menyimpulkan bahwa tidak mungkin Soekarno tidak tahu rencana gerakan G30S/PKI. Ini seperti isakan tangis Mayjend Mursid ketika bertemu dan memeluk AH Nasution tanggal 3 Oktober 1965 dan mengatakan: "Bapak [Soekarno] mesti tahu..."

(‎AH Nasution, Jenderal Tanpa Pasukan, hal173).

Keempat, setelah D.N. Aidit dalam pelarian dan menjadi buronan, Soekarno justru berkomunikasi secara rahasia dengan D.N. Aidit melalui surat. Dengan melacak jalur surat tersebutlah akhirnya Angkatan Darat berhasil menemukan lokasi persembunyian D.N. Aidit. Salah satu surat DN Aidit kepada Soekarno tertanggal 6 Oktober 1965 mengkoroborasi pernyataan Brigjend Soegandhi bahwa Soekarno sudah tahu dan merestui G30S/PKI sekaligus membuktikan D.N. Aidit dan PKI adalah pemain pasif dalam G30S/PKI:

“Tanggal 30 September tengah malam saya diambil oleh orang yang berpakaian Tjakrabirawa…Di situ saya diberi tahu bahwa akan diadakan penangkapan terhadap anggota-anggota Dewan Jenderal. Tanggal 1 Oktober saya diberitahu bahwa tindakan terhadap Dewan Jenderal itu sudah berhasil. Saya bertanya, “Apakah sudah dilaporkan kepada PYM [Paduka Yang Mulia Soekarno]. Dijawab sudah dan beliau merestui.”

“Tanggal 1 Oktober saya diberitahu: Pak Aidit sekarang juga harus ke Jateng dengan plane yang sudah disediakan oleh Pangau [Panglima Angkatan Udara Omar Dhani]. Harap usahakan supaya Yogyakarta dapat dijadikan tempat pengungsian Presiden…”

(Dokumen No. 1, Surat Aidit kepada Presiden Soekarno tanggal 6 Oktober 1965, Victor M. Fic, ibid).

Pernyataan DN Aidit di atas diperkuat oleh pengakuan Mayor Bowo, dan Jenderal Mursyid.

Mayor Bowo adalah bekas ajudan Jaksa Agung Sutardio dan salah satu perwira binaan Biro Chusus PKI, yang turut hadir dalam pertemuan rahasia antara Soekarno dan orang-orang kepercayaannya di Istana Tampaksiring Bali tanggal 25 September 1965 di mana Soekarno menyatakan dia akan memiliki gawean besar. Menurut rencana dia akan memanggil Letjend Ahmad Yani di hadapan para Waperdam dan panglima angkatan lain pada tanggal 28 September 1965 di Istana Negara dengan tujuan menuntut pertanggung jawaban atas Dokumen Gilchrist, dan Dewan Jenderal. Selanjutnya Ahmad Yani akan dituduh sbg penghianat bangsa, diculik dan diajukan ke Mahkamah Militer bertempat di Kompleks PU Halim (Soegiarso Soerojo, ibid, halaman 360 - 361).

Sedangkan Mayjend Mursyid adalah salah satu deputi Ahmad Yani, yang pada tanggal 23 S‎eptember 1965 menemui Soekarno dan mengatakan bahwa benar ada sejumlah jenderal yang menentang kebijakan Soekarno: "Perintah Bung Karno kepada saya untuk mengecek kebenaran pati-pati AD yang tidak loyal pada Bapak telah saya kerjakan. Ternyata memang benar bahwa jenderal-jenderal yang Bapak sebutkan itu tidak menyetujui politik Bapak dan tidak setia pada Bapak." (Antonie Dake, ibid, halaman 274).

Kelima, Dalam instruksi D.N. Aidit kepada seluruh CBD PKI tanggal 10 November 1965 terungkap bahwa terdapat perjanjian rahasia antara Soekarno dan Republik Rakyat China yang mengawali keterlibatan PKI dalam G30S/PKI. Perjanjian rahasia ini juga melibatkan Soebandrio dan pasca kegagalan G30S/PKI, ternyata Soekarno telah menghianati PKI. Akibat penghianatan tersebut, DN Aidit menyampaikan bahwa bila Soekarno dan Soebandrio terus menghianati PKI maka PKI akan mengumumkan perjanjian rahasia yang dibuat dengan Soekarno dan hal ini berarti lonceng kematian dan kehancuran bagi Soekarno dan Soebandrio.‎

(Instruksi-instruksi Tetap Central Comite Partai Komunis Indonesia tanggal 10 Nopember 1965, Victor M. Fic, ibid).

Keenam, Bambang Widjanarko, ajudan Soekarno pada saat G30S/PKI terjadi memberikan kesaksian di Teperpu bahwa setelah Soekarno sampai di Halim pada tanggal 1 Oktober 1965, dia menepuk-nepuk bahu Brigjend Soepardjo dan mengatakan: “Je hebt goed gedaan, Kenapa Nasution kok lolos?” (Anda telah melakukan dengan baik. Kenapa Nasution kok lolos?)

(Lihat lampiran berupa Berkas Acara Pemeriksaan atas nama Bambang Widjanarko di Antonie C.A. Dake, Sukarno File, Kronologi Suatu Keruntuhan)

Selain itu, menurut keterangan Bambang Supeno, Komandan Batalyon 530/Para, pasukan G30S/PKI,  bahwa pada kesempatan lain setelah Soepardjo membuat laporan, Soekarno meluapkan kemarahan dan menampar Soepardjo seraya mengucapkan umpatan serta rasa kesalnya, "jenderal tai...mengapa kita bisa kalah?"

(Julius Pour, ibid, halaman 177).‎

Bambang Widjanarko juga bersaksi bahwa pada tanggal 23 September 1965, Soekarno memanggil Jenderal Saboer, Sunarjo dan Soedirgo untuk memberi perintah menindak jenderal-jenderal yang tidak loyal.

(Julius Pour, 103).‎
‎‎
Ketujuh, Di Mubes Teknik bertempat di Istora Senayan tanggal 30 September 1965, Bambang Widjanarko bersaksi menyerahkan kepada Soekarno sepucuk surat dari Letkol Untung yang dititipkan melalui Sogol Djauhari Abdul Muchid. Setelah itu Soekarno membaca surat tersebut di beranda luar, mengangguk-anggukan kepala dan masuk kembali ke tempat duduk. Peristiwa ini terjadi hanya satu jam sebelum Letkol Untung dan pasukan G30S/PKI melancarkan operasi mereka. 

Keterangan Bambang Widjonarko bahwa Soekarno m‎enerima surat dari Letkol Untung dibenarkan oleh Mangil Martowidjojo, Komandan DKP Tjakrabirawa, pengawal pribadi Soekarno:

"...begitu menerima surat dari Sogol‎, Bapak memberi isyarat ingin ke belakang. Beliau segera saya antar, diiringi Pak Saelan dan Bambang Widjanarko. Di depan toilet suratnya dibuka. Sesudah selesai dibaca, langsung disimpan dalam saku baju pakaian seragam Panglima Tertinggi yang malam itu beliau pakai. Saat itu Untung memang hadir di Senayan. Bersama anak buahnya, mereka bertugas mengawal Presiden. Saya tidak pernah lupa, Kolonel Saelan malam itu marah kepada Untung karena salah satu pintu Istora tidak dijaga dengan tertib..."‎

Setelah itu Soekarno berpidato dan mengutip bagian dari Bagavad Gita pada bagian dialog Krishna kepada Arjuna supaya tidak ragu-ragu menjalankan tugas negara dan membunuh siapapun yang menjadi lawannya di medan perang sekalipun orang itu adalah saudaranya sendiri. Kutipan pidato dimaksud diambil dari buku Revolusi Belum Selesai, Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965 – Pelengkap Nawaksara, halaman 44:

“Kresna memberi ingat kepadanya. Arjuna, engkau ini ksatria. Apa tugas ksatria? Tugas ksatria adalah berjuang. Tugas ksatria adalah bertempur kalau perlu. Tugas ksatria adalah menyelamatkan, mempertahankan tanah airnya. Ini adalah tugas ksatria. Ya benar, di sana itu engkau punya saudara sendiri, engkau punya tante sendiri, engkau punya guru sendiri ada di sana, tetapi jangan lupa tugasmu sebagai ksatria. Mereka hendak menggempur negara Pandawa, gempur mereka kembali. Itu adalah tugas ksatria. Kerjakan engkau punya kewajiban sebagai ksatria. Karmane, fadikaraste, mapalesyu, kadatyana. Kerjakan engkau punya kewajiban, tanpa menghitung-hitung untung atau rugi. Kewajibanmu kerjakan!”‎

Kedelapan: beberapa saksi yang diperiksa menyatakan bahwa pada tanggal 4 Agustus 1965, Letkol Untung dipanggil Soekarno ke tempat tidurnya dan disaksikan oleh Brigjend Sabur. Pada kesempatan itu, Soekarno menanyakan kepada Letkol Untung kesiapannya mengambil tindakan kepada Djenderal-djenderal  yang tidak loyal. Letkol Untung menyanggupi. (Antonie Dake, ibid, halaman 413). Hal ini juga diungkap Bono alias Walujo, orang ketiga dalam Biro Chusus PKI‎. Bahwa setelah menghadap Soekarno itu, Untung segera bertemu Bono, yang mana kemudian Bono melaporkan kepada Sjam, dan Sjam kepada DN Aidit (Soegiarso Soerojo, Siapa Menabuh Angin Akan Menuai Badai, halaman 355).

Jenderal tidak loyal dimaksud adalah jenderal angkatan darat yang dituding sebagai Dewan Jenderal yang menurut rumor yang disebar oleh Soebandrio dan BPI, mau melakukan kudeta terhadap Soekarno:

"Soebandrio sangat aktif menyebarkan isyu Dewan Jenderal -- sebuah isyu yang menurut pengakuan di kemudian hari, ia peroleh dari Kepala Staf BPI Brigjen Pol Sutarto...Isyu tersebut sejalan dengan penyebarluasan apa yang ia sebut sebagai Dokumen Gilchrist, di dalam mana disebuttkan adanya our local army friends...Tapi Ladislav Bittman, bekas Kepala Departemen Dinas Intelijen Cekoslovakia, menulis dalam The Deception Game bahwa pemerintahan Praha menjalin hubungan yang kuat dengan Soebandrio." 

(B. Wiwoho dan Banjar Chaeruddin, Memori Jenderal Yoga, penerbit PT Bina Rena Pariwara, halaman 192.)‎

Kesembilan, Hasil temuan intelijen Amerika, CIA, dalam sebuah dokumen rahasia yang sudah dilepas ke publik karena mendapat status declassified menyimpulkan bahwa dari hasil temuan intelijen ditemukan dalang besar G30S/PKI adalah Soekarno.

https://www.cia.gov/library/center-f...2a02p_0001.htm

Kesepuluh, penulis Dokumen Gilchrist yang dijadikan alasan pembenar bagi Soekarno mempercayai rumor Dewan Jenderal ketimbang ucapan Panglima Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani di Istana Tampak Siring, Bali, adalah penulis pidato resmi kepresidenan, yaitu Carmel Budiardjo.‎

http://www.kaskus.co.id/thread/549ca...asia-g30s-pki/

Carmel Budiardjo bernama asli Carmel Brickman, wanita Inggris, isteri Soewondo Budiardjo. Sebagai sesama aktivis mahasiswa komunis, keduanya bertemu di Praha, Cekoslovakia, kemudian menikah di sana tahun 1950. Dua tahun setelah pernikahan, pasangan Indonesia-Inggris tersebut pindah ke Indonesia, menetap di Jakarta. 

Soewondo Budiardjo sebagai pengurus HSI (Himpunan Sardjana Indonesia), organisasi sarjana yang dikendalikan PKI, awal tahun 1968 ditahan dengan tuduhan dengan tuduhan terlibat Peristiwa 30 September. Carmel, yang pada masa itu bertugas di Deparlu sebagai penerjemah Soebandrio, beberapa waktu kemudian ikut ditahan, sebagaimana suaminya....Sesudah dibebaskan, Carmel menetap di London, dikenal menerbitkan buletin Tapol yang mengkritisi pemerintahan Presiden Soeharto. Soewondo Budiardjo sendiri pernah ditangkap Jenderal DI Panjaitan karena menyelundupkan senjata chung dari RRC di dalam bahan bangunan untuk pendirian gedung CONEFO.

(Julius Pour, Ibid, halaman 393).‎

Masih banyak bukti lain, misalnya, yang menyebar isu Dewan Jenderal ke publik untuk pertama kali adalah BPI pimpinan Soebandrio, seorang Soekarnis tulen. Demikian pula adalah Soebandrio yang mengaku memperoleh salinan Dokumen Gilchrist dan menyebarnya ke anggota delegasi Konferensi Asia Afrika di Aljazair dan kemudian dimuat oleh surat kabar Mesir. ,amun demikian untuk tulisan ini sepuluh saja sudah cukup. 

Adapun mengenai motivasi Soekarno membunuh jenderalnya sendiri adalah karena pada dasarnya dia menganggap para jenderal angkatan darat itu tidak loyal. Indikasi tersebut didapat Soekarno dari doktrin baru angkatan darat yang dipelopori oleh Ahmad Yani dan Nasution mengenai “bahaya dari utara,” atau negara RRC yang menjadi bahaya utama Indonesia dan bukan Amerika Serikat membuat Soekarno murka karena doktrin tersebut berlawanan dengan garis politik Soekarno khususnya mengenai NEFOS, OLDEFOS dan NEKOLIM. Kemarahan Soekarno diungkap di depan umum dalam acara di Istana Tampak Siring, Bali, tanggal 6 Juni 1945, dengan mengatakan ada jenderal-jenderal pethak yang telah menentang dirinya.‎ Kemarahan itu kembali ditunjukan pada pidato kenegaraan tanggal 17 Agustus 1965 yang ditulis oleh Njoto dan Carmel Budiardjo, antara lain:

"Meski kamu jenderal pada masa perjuangan masa kemerdekaan, tetapi kalau hari ini kamu mengacau Nasakom, anti persatuan nasional, anti Nasakom, ...pasti aku tendang keluar.."‎

Keraguan Soekarno terhadap loyalitas Ahmad Yani sudah mulai dirasakan Yani sejak pertengahan tahun 1963 ketika Yani menyampaikan hal tersebut kepada AH Nasution. 

(‎Jenderal Tanpa Pasukan, Politisi Tanpa Partai. Perjalanan Hidup AH Nasution, halaman 141).

Ketakutan Soekarno mungkin semakin menjadi setelah Presiden Aljazair, Ben Bella digulingkan Kolonel Boumedienne, Panglima Angkatan Darat atas dukungan dari CIA, Dinas Rahasia Amerika Serikat pada 20 Juni1965.‎

Tulisan di atas akan dielaborasi lebih lanjut dalam postingan-postingan yang lain.‎
ijin nyimeng sebelum komeng emoticon-army
ninggalin jejak dulu,
nanti diedit emoticon-Malu
malam. emoticon-Blue Guy Peace

@ bro TS baka, ijin komen ye.

masalahnya tidak sesederhana itu .. anggapan "Soekarno adalah Dalang Besar G30S/PKI" tersebut selain kurang berdasar juga punya potensi untuk memanipulasi dan membengkokkan sejarah dan rawan untuk ditunggangi oleh kelompok kelompok garis keras anti Nasionalis Indonesia.

untuk sekedar diketahui, ada beberapa situasi pada masa tersebut yang cukup rumit baik itu menyangkut pergolakan dalam negeri dan luar negeri, jadi sebelum menghakimi Soekarno adalah dalang besar PKI, harus diketahui bahwa ada:

Faktor Luar Negeri

1. pada masa itu (sekitar tahun 1960an) sebenarnya dunia sedang parah parahnya - bagai bara dalam sekam - terlibat dalam Perang Dingin yang membagi dunia ke blok barat dan timur (komunis).

2. posisi Indonesia yang strategis baik secara wilayah, SDA dan SDM jelas punya peran penting di kawasan, bila Indonesia jatuh ke genggaman salah satu fihak maka itu akan menjadi pukulan telak bagi fihak lainnya, maka ibarat gadis cantik yang diperebutkan para kompetitor akan memakai segala cara untuk menggaet Indonesia.

3. sayangnya sejak awal Sukarno telah menunjukkan ke kurang minatan beliau pada barat, pada masa pemerintahannya Sukarno telah 2 kali melakukan invasi melawan barat yaitu saat Trikora Irian Barat dan invasi Malaysia yang keduanya jelas membuat pihak barat geram dan ketar ketir.

dari situ, semisalnya Sukarno harus digulingkan dengan segala cara, kira kira fihak barat "merestui" tindakan tersebut atau tidak ? tak perlu ngomong operasi intelijen tetek bengek yang tak ada buktinya, cukup dari pertimbangan perang dingin tersebut secara teori sudah bisa ada benang merah yang ditarik menyangkut masa lalu Indonesia dan Sukarno.

Faktor Dalam Negeri

1. harus diingat bahwa PKI pada masa itu bukanlah partai gurem yang ingin kudeta karena merebut kekuasaan, PKI pada masa itu adalah partai pemenang pemilu 1955 yang membuat 19 Janji PKI di Pemilu 1955 dan berusaha mewujudkannya meskipun cara caranya kemudian ternyata tidak tepat dan merugikan persatuan nasional.

2. Sukarno justru karena paham PKI yang komunis tersebut diam diam merasa terancam, terutama berkaitan dengan Tap MPRS No.III/MPRS/1963 tentang Sukarno sebagai presiden seumur hidup, dimana bila komunis berjaya akan menimbulkan masalah bagi status beliau sebagai presiden seumur hidup.

3. perlu diketahui pula bahwa Ir.Soekarno adalah salah satu perumus Dasar Negara Indonesia PANCASILA dan seandainya komunis berjaya maka ada kemungkinan Pancasila diganti komunisme, sedangkan di sisi lain Sukarno tidak mungkin mengganti ideologi Pancasila, karena ia sendiri penggali Pancasila dan ia juga tahu benar soal jiwa bangsa Indonesia yang multi kultural.

dari situ, sangat lemah alasan Sukarno untuk menjadi "Dalang Besar" dari PKI, buat apa ? PKI yang pemenang pemilu saja sudah membuatnya dilema, apalagi saat itu Sukarno adalah presiden seumur hidup, cukup dari berbagai pertimbangan tersebut secara teori sudah bisa ada benang merah yang ditarik menyangkut masa lalu Indonesia dan Sukarno.

NB:

- gw bukan fans komunis sama sekali ..haluan gw adalah free thinker yang bebas (bebas tapi gak ngawur), dan paham komunis adalah lawan dari kebebasan.

- Sukarno, sebagai manusia biasa memang juga punya kelemahan soal harta, tahta dan wanita, namun kalau kemudian jasa jasanya pada bangsa ini harus hancur sebab alasan yang tak jelas, nampaknya itu kurang tepat bagi sejarah bangsa Indonesia.

- sejarah rawan pembengkokan bila tidak di- cross cek dari berbagai sumber dan fakta yang lain, apalagi pernah ada ungkapan "sejarah ditulis oleh pemenang." jadi untuk mendapat sudut pandang yang obyektif ada baiknya harus dilakukan kajian dari berbagai sudut pandang terlebih dulu.

terima kasih, silahkan berdiskusi lagi dan cmiiw.




------- emoticon-Ngacir
Spoiler for kuot:

ulasan yang menarik..jadi menurut ente, siapa kira2 dalang besarnya?
atau bahkan mungkin nggak ada? yang artinya, semua berbaur bercampurtangan memegang nangka..
kalau memang begitu, apa nggak ada pemantik api nya?
Quote:Original Posted By nuranidalamdiri

ulasan yang menarik..jadi menurut ente, siapa kira2 dalang besarnya?
atau bahkan mungkin nggak ada?

yang artinya, semua berbaur bercampurtangan memegang nangka..


entahlah bro, keknya dari kalimat yang dibold tersebut cukup mewakili dari keadaanpada masa itu.

pasca kemerdekaan 1945, Indonesia yang belum stabil terlihat menggiurkan untuk menjadi lahan perebutan pengaruh (apalagi di masa tersebut, maaf, tingkat pendidikan rakyat Indonesia juga relatif masih sangat terbatas) dan kekuasaan.

jadi sangat mungkin kalau pada masa itu beberapa kepentingan saling tumpang tindih dan berperan dalam kemelut tersebut.


Quote:Original Posted By nuranidalamdiri

kalau memang begitu, apa nggak ada pemantik api nya?


dari apa yang nampak di sejarah, rasanya PKI juga berperan besar dalam memantik api kekacauan, sikap agresif PKI sebenarnya sudah menimbulkan luka, misalnya saat peristiwa 1948.

lebih jauh lagi .. PKI yang ke luar negeri bersikap bermusuhan dengan blok barat serta di dalam negeri juga menunjukkan kecenderungan memusuhi berbagai golongan (agama, pemodal, tuan tanah, bangsawan) dan mulai mempengaruhi rakyat ketjil untuk "bergolak" cukup menimbulkan keresahan.


Quote:
Soekarno, Dalang Besar G30S/PKI

Kondisi kekuatan politik pada masa orde lama

untuk sekedar info agar diperoleh gambaran tentang gejolak politik pada masa itu, pada pemilu 1955 ini 8 besar kekuatan politik tahun tersebut:

1. Partai Nasional Indonesia (PNI)
2. Masyumi 7.903.886 20,92
3. Nahdlatul Ulama (NU)
4. Partai Komunis Indonesia (PKI)
5. Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)

6. Partai Kristen Indonesia (Parkindo)
7. Partai Katolik
8. Partai Sosialis Indonesia (PSI)

PKI pada masa itu bertengger pada posisi 5 besar pemenang pemilu, jadi 5 besar tersebut menggambarkan kekuatan politik yang di Indonesia jaman tersebut, selain itu juga masih ada kekuatan ABRI (dan kepolisian) yang berdiri segai kekuatan di luar politik namun cukup berpengaruh.

Soekarno

Soekarno, Dalang Besar G30S/PKI
sedangkan bila membahas peran Soekarno disini, beliau berasal dari PNI, Partai Nasional Indonesia, Sukarno secara teori juga bingung dengan PKI, di satu fihak, ia butuh dukungan PKI dalam sikap "anti barat" dan "konfrontasi dengan malaysia" namun beliau sebagai seorang Nasionalis juga sadar kalau PKI dan paham komunis serta agresivitasnya bisa merusak persatuan Indonesia.


sayangnya dalam situasi yang relatif genting di dalam negeri tersebut, Sukarno - dari apa yang nampak - kurang bisa mengambil langkah yang bisa mempertemukan semua fihak dalam musyawarah (keknya memang sulit sih, jaman sekarangpun juga hampir sama), sehingga eskalasi ketegangan terus meningkat dari waktu ke waktu.

mungkin beliau sebagai seorang pemimpin besar yang diakui dunia terlalu percaya diri, mungkin beliau konsentrasinya terpecah dengan masalah keluarga dan istri istrinya, mungkin beliau yang memasuki usia senja sudah mulai lelah dan banyak mungkin mungkin lainnya.

tapi lepas dari kelemahan beliau sebagai manusia yang harus dimaklumi .. bagaimanapun juga Sukarno adalah seorang presiden, pemimpin Indonesia pada masa itu, bila terjadi "blunder" maka nasib bangsa Indonesia juga turut dipertaruhkan.


jadi kesimpulan akhir sederhananya, sejak jaman dulu, politik memang sudah ruwet.

emoticon-DP

mari silahkan dilanjut diskusinya, ini komen terakhir gw di thread ini, gak kuat ngomongin politik.




------- emoticon-Ngacir
waunjir panjang banget komen si baka emoticon-DP

jadi ada bukti nya kah soekarn dalang GS/30PKI
panncasila pun itu hasil pemikiran Pak Karno yg menggabungkan sosialisme, liberalisme.
Quote:Original Posted By nuranidalamdiri
Spoiler for kuot:

ulasan yang menarik..jadi menurut ente, siapa kira2 dalang besarnya?
atau bahkan mungkin nggak ada? yang artinya, semua berbaur bercampurtangan memegang nangka..
kalau memang begitu, apa nggak ada pemantik api nya?


ijin komeng gan.
kalo menurut ane, Sukarno bukan dalang G30S/PKI tapi dia juga terlibat dalam.... ini dia masalahnya. dalam kapasitas apa dulu, mengingat dia sebagai PBR, intervensi dia terhadap gerakan ini lebih disinyalir sebagai "mungkin" korban intrik antara 2 kubu: Angkatan Darat dan PKI.
apa yang dipaparkan TS sebenarnya masih lemah dari sudut pengamatan obyektif, kita tahu sebelum pecahnya G30S/PKI, Sukarno justru lebih suka mengadu domba kedua kubu tsb. aksi-aksi kebijakannya bikin geram kedua pihak, berbagai persengketaan soal Lekra Manikebu aja dibiarkan.
kalo soal Sukarno gak menyambangi evakuasi para jenderal dari Lubang Buaya dan tidak mendatangi Pemakaman pas Hari ABRI memang terkesan mencurigakan. tapi yang perlu diingat, sebelum G30S/PKI, Sukarno sendiri sempat keblingsatan soal isu Dewan Jenderal. jadi sebenarnya Sukarno sendiri korban rumor.
kembali ke soal dalang, lagi-lagi dalang yang dibahas ya.... apa sebaiknya trit ini di merge aja ke trit sebelah?
ane pribadi percaya G30S/PKI bukan soal dalang atau mastermind. tapi yang pasti, ada oknum-oknum yang merasa diuntungkan dengan adanya peristiwa ini, sebut saja oknum-oknum oportunis. ane sebut oknum-oknum, jadi dalangnya bukan satu orang. peristiwa ini lebih kepada aji mumpung yang dimanfaatkan para oportunis tsb.
Quote:Original Posted By tyrodinthor


ijin komeng gan.
kalo menurut ane, Sukarno bukan dalang G30S/PKI tapi dia juga terlibat dalam.... ini dia masalahnya. dalam kapasitas apa dulu, mengingat dia sebagai PBR, intervensi dia terhadap gerakan ini lebih disinyalir sebagai "mungkin" korban intrik antara 2 kubu: Angkatan Darat dan PKI.
apa yang dipaparkan TS sebenarnya masih lemah dari sudut pengamatan obyektif, kita tahu sebelum pecahnya G30S/PKI, Sukarno justru lebih suka mengadu domba kedua kubu tsb. aksi-aksi kebijakannya bikin geram kedua pihak, berbagai persengketaan soal Lekra Manikebu aja dibiarkan.
kalo soal Sukarno gak menyambangi evakuasi para jenderal dari Lubang Buaya dan tidak mendatangi Pemakaman pas Hari ABRI memang terkesan mencurigakan. tapi yang perlu diingat, sebelum G30S/PKI, Sukarno sendiri sempat keblingsatan soal isu Dewan Jenderal. jadi sebenarnya Sukarno sendiri korban rumor.
kembali ke soal dalang, lagi-lagi dalang yang dibahas ya.... apa sebaiknya trit ini di merge aja ke trit sebelah?
ane pribadi percaya G30S/PKI bukan soal dalang atau mastermind. tapi yang pasti, ada oknum-oknum yang merasa diuntungkan dengan adanya peristiwa ini, sebut saja oknum-oknum oportunis. ane sebut oknum-oknum, jadi dalangnya bukan satu orang. peristiwa ini lebih kepada aji mumpung yang dimanfaatkan para oportunis tsb.


Terlepas dr terlibat langsung dibelakang layar/tdk, Orang yg paling diuntungkan dr outcome g30s kan bapak pembangunan ya gan? Yg sosoknya pada saat itu justru tdk sepopuler A Yani/Nasution. emoticon-Bingung (S)

Sempet baca tp lupa dmn kalo agen2 US disini aja sampe bingung ni org siapa kok tiba2 pegang kendali 1 Oktober 65.

------------------------------------------------------------------------

edited :
Baru nyadar TS nya pengacara kondang suaminya piwan emoticon-Berbusa (S)
Quote:Original Posted By cprach


Terlepas dr terlibat langsung dibelakang layar/tdk, Orang yg paling diuntungkan dr outcome g30s kan bapak pembangunan ya gan? Yg sosoknya pada saat itu justru tdk sepopuler A Yani/Nasution. emoticon-Bingung (S)

Sempet baca tp lupa dmn kalo agen2 US disini aja sampe bingung ni org siapa kok tiba2 pegang kendali 1 Oktober 65.

------------------------------------------------------------------------

edited :
Baru nyadar TS nya pengacara kondang suaminya piwan emoticon-Berbusa (S)


tidak cuma Suharto.
kan ane sebut oknum, dari kalangan Pemerintahan Orba, ABRI, partai Islam (mungkin sebagian ya), ormas-ormas tertentu, merasakan manfaatnya juga. PKI sendiri juga kan beroposisi dengan semua pihak, dan tidak punya tandem apa-apa selain Sukarno. CMIIW.
"History is written by the victors."

Hanya sesederhana itu jawaban dari benang kusut "G30S/PKI". emoticon-Hammer (S)
Quote:Original Posted By tyrodinthor


tidak cuma Suharto.
kan ane sebut oknum, dari kalangan Pemerintahan Orba, ABRI, partai Islam (mungkin sebagian ya), ormas-ormas tertentu, merasakan manfaatnya juga. PKI sendiri juga kan beroposisi dengan semua pihak, dan tidak punya tandem apa-apa selain Sukarno. CMIIW.


Ya. Mungkin kaya apa yg agan bilang, Suharto oportunis yg paling oportunis, dia yg paling cerdik ambil momentum hari itu, sehingga besoknya dia langsung ambil alih AD meskipun Sukarno memilih Pranoto. Sementara kubu lain masih bingung sama apa yg terjadi. Blunder Sukarno ya letkol Untung, dan gagal memperhitungkan apa yg bisa dilakukan Suharto.
Quote:Original Posted By M0squit0
malam. emoticon-Blue Guy Peace

@ bro TS baka, ijin komen ye.

masalahnya tidak sesederhana itu .. anggapan "Soekarno adalah Dalang Besar G30S/PKI" tersebut selain kurang berdasar juga punya potensi untuk memanipulasi dan membengkokkan sejarah dan rawan untuk ditunggangi oleh kelompok kelompok garis keras anti Nasionalis Indonesia.

untuk sekedar diketahui, ada beberapa situasi pada masa tersebut yang cukup rumit baik itu menyangkut pergolakan dalam negeri dan luar negeri, jadi sebelum menghakimi Soekarno adalah dalang besar PKI, harus diketahui bahwa ada:

Faktor Luar Negeri

1. pada masa itu (sekitar tahun 1960an) sebenarnya dunia sedang parah parahnya - bagai bara dalam sekam - terlibat dalam Perang Dingin yang membagi dunia ke blok barat dan timur (komunis).

2. posisi Indonesia yang strategis baik secara wilayah, SDA dan SDM jelas punya peran penting di kawasan, bila Indonesia jatuh ke genggaman salah satu fihak maka itu akan menjadi pukulan telak bagi fihak lainnya, maka ibarat gadis cantik yang diperebutkan para kompetitor akan memakai segala cara untuk menggaet Indonesia.

3. sayangnya sejak awal Sukarno telah menunjukkan ke kurang minatan beliau pada barat, pada masa pemerintahannya Sukarno telah 2 kali melakukan invasi melawan barat yaitu saat Trikora Irian Barat dan invasi Malaysia yang keduanya jelas membuat pihak barat geram dan ketar ketir.

dari situ, semisalnya Sukarno harus digulingkan dengan segala cara, kira kira fihak barat "merestui" tindakan tersebut atau tidak ? tak perlu ngomong operasi intelijen tetek bengek yang tak ada buktinya, cukup dari pertimbangan perang dingin tersebut secara teori sudah bisa ada benang merah yang ditarik menyangkut masa lalu Indonesia dan Sukarno.

Faktor Dalam Negeri

1. harus diingat bahwa PKI pada masa itu bukanlah partai gurem yang ingin kudeta karena merebut kekuasaan, PKI pada masa itu adalah partai pemenang pemilu 1955 yang membuat 19 Janji PKI di Pemilu 1955 dan berusaha mewujudkannya meskipun cara caranya kemudian ternyata tidak tepat dan merugikan persatuan nasional.

2. Sukarno justru karena paham PKI yang komunis tersebut diam diam merasa terancam, terutama berkaitan dengan Tap MPRS No.III/MPRS/1963 tentang Sukarno sebagai presiden seumur hidup, dimana bila komunis berjaya akan menimbulkan masalah bagi status beliau sebagai presiden seumur hidup.

3. perlu diketahui pula bahwa Ir.Soekarno adalah salah satu perumus Dasar Negara Indonesia PANCASILA dan seandainya komunis berjaya maka ada kemungkinan Pancasila diganti komunisme, sedangkan di sisi lain Sukarno tidak mungkin mengganti ideologi Pancasila, karena ia sendiri penggali Pancasila dan ia juga tahu benar soal jiwa bangsa Indonesia yang multi kultural.

dari situ, sangat lemah alasan Sukarno untuk menjadi "Dalang Besar" dari PKI, buat apa ? PKI yang pemenang pemilu saja sudah membuatnya dilema, apalagi saat itu Sukarno adalah presiden seumur hidup, cukup dari berbagai pertimbangan tersebut secara teori sudah bisa ada benang merah yang ditarik menyangkut masa lalu Indonesia dan Sukarno.

NB:

- gw bukan fans komunis sama sekali ..haluan gw adalah free thinker yang bebas (bebas tapi gak ngawur), dan paham komunis adalah lawan dari kebebasan.

- Sukarno, sebagai manusia biasa memang juga punya kelemahan soal harta, tahta dan wanita, namun kalau kemudian jasa jasanya pada bangsa ini harus hancur sebab alasan yang tak jelas, nampaknya itu kurang tepat bagi sejarah bangsa Indonesia.

- sejarah rawan pembengkokan bila tidak di- cross cek dari berbagai sumber dan fakta yang lain, apalagi pernah ada ungkapan "sejarah ditulis oleh pemenang." jadi untuk mendapat sudut pandang yang obyektif ada baiknya harus dilakukan kajian dari berbagai sudut pandang terlebih dulu.

terima kasih, silahkan berdiskusi lagi dan cmiiw.




------- emoticon-Ngacir


ane setuju gan ama persepsi ente emoticon-Angkat Beer

Kl mbah harto + paman sam gmana? Lengserin bung karno, harto naik, paman sam dapet sesuatu,PKI jd tumbal,

Pernah ad yang berteori seperti itu ga?
Quote:Original Posted By Gentayaumal
Kl mbah harto + paman sam gmana? Lengserin bung karno, harto naik, paman sam dapet sesuatu,PKI jd tumbal,

Pernah ad yang berteori seperti itu ga?


Berapa lapis? RATUSAN!
Quote:Original Posted By atticus.finch


Berapa lapis? RATUSAN!


Iklan tv taon brapa itu gan, ..mash inget aj
ada dalang besarnya lagi gan, konon katanya dari negara dan benua sebrang sana gan ,untuk mengacawkan pemerintagan indonesia
Quote:Original Posted By elecktrical
ada dalang besarnya lagi gan, konon katanya dari negara dan benua sebrang sana gan ,untuk mengacawkan pemerintagan indonesia


Dari mana? Middle earth? sapa nama pemimpinnya? sauron?
ato jangan2 dari luar angkasa ... darth vader sekalian diajak ...
Quote:Original Posted By cprach


Terlepas dr terlibat langsung dibelakang layar/tdk, Orang yg paling diuntungkan dr outcome g30s kan bapak pembangunan ya gan? Yg sosoknya pada saat itu justru tdk sepopuler A Yani/Nasution. emoticon-Bingung (S)

Sempet baca tp lupa dmn kalo agen2 US disini aja sampe bingung ni org siapa kok tiba2 pegang kendali 1 Oktober 65.

------------------------------------------------------------------------

edited :
Baru nyadar TS nya pengacara kondang suaminya piwan emoticon-Berbusa (S)


Se-emoticon-Bikini

Sukarno cuma terlibat

Blekki lagi emoticon-Big Grin