alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Complete Short Stories
5 stars - based on 5 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55bddbd6d44f9fbc788b4569/complete-short-stories

Natajaya : Cinta Dua Dunia

Quote:


Natajaya : Cinta Dua Dunia


Spoiler for ilustrasi:


--- Prolog

Bandung, 10 Desember 2015

RAMBUTNYA PENDEK SEHITAM langit di malam hari. Kibasannya menyapu udara seperti rumput ilalang diterpa angin sore. Damai dan indah. Tubuhnya termasuk mungil di antara temannya tetapi paling cantik. Lucu pipinya dengan rona merah.

Sani mengamati gadis tersebut dengan bayangan gerakan slow motion. Dari jauh pun, Icha terlihat berbeda dari teman-temannya. Tatapan mata Sani tiba-tiba berpapasan dengan tatapannya. Rasa malu pun menundukkan tatapan Sani. Lalu dia menaikkan tatapannya lagi, namun Icha sudah mengalihkan perhatiannya. Andai saja bisa menyapa "Hei".

Begitu saja setiap kali berpapasan ataupun berdiri berjauhan, tatapan dua orang tersebut intens namun tanpa senyuman dan kata.


--- 1

SETIAP HARI, SANI memfokuskan diri terhadap tulisan-tulisan rumit di buku hariannya. Teori kuantum dan relativitas lah curhatannya. Rumus dan angka adalah bahasanya. Buku tersebut mengalihkan perhatian dia dari dunia sekitarnya. Sret, sret, sret, tiba-tiba dia menggambar acak. Tubuh seorang gadis mungil berambut pendek. Icha. Pikirannya bercampur antara rasa cinta dan benci. Cinta dengan Icha. Benci terhadap sendiri. Pikirannya berteriak " Apa susahnya sih kenalan dengannya" dengan mengepalkan tangannya seolah-olah ingin meninju muka sendiri.

Bunyi "bip" memecah keheningan ruang kerjanya. Notifikasi bahwa ada berita hangat di pagi hari. Lalu Sani menoleh ke jendela yang dilalui cahaya kuning hangat. Tidak terasa bergadang malam tadi. Pikirannya hanya untuk isi buku hariannya.

"Rani, tolong tunjukkan berita hari ini", Sani bicara ke komputernya.

Layar putih gading terbuka lebar menutupi dinding samping ruang kerjanya. Lalu proyektor menayangkan halaman berita hangat pagi tersebut dengan judul yang mengejutkannya.

Ilmuwan Mendeteksi Kemunculan "Angin Matahari" Tiga Hari Lagi
Bandung, 7 Desember 2115
.

Sani pun langsung berlari dengan kencang menuju laboratoriumnya.

Quote:

Diubah oleh yosandian
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
salam kenal ya
update terus tiap hari
Diubah oleh i4munited
Bikin tenda dulu . . .penasaran lanjutannya keep update gan . . .

--- 2

--- 2

HENING DAN BERSIH tanpa cela adalah deskripsi yang tepat untuk laboratorium Scanning Electron Microscope (SEM) miliknya. Dengan menggunakan SEM, Sani dapat mendeteksi jejak partikel-partikel cahaya yang telah menyinari suatu benda walaupun sudah beratus-ratus tahun lamanya. Teknologi mutakhir abad ke 22. Sani sedang meneliti kegunaan partikel-partikel cahaya sebagai sumber energi alternatif. Bagai bola bilyard yang jika bertumbukan dengan bola yang lain akan bergerak akibat tumbukannya. Begitu juga dengan partikel cahaya yang menumbuk benda akan menghasilkan energi akibat "tumbukannya".

Hummm... bunyi SEM yang baru saja dinyalakan. Sani sudah tidak sabar untuk menangkap momen yang langka ini. Angin matahari yang merupakan fenomena acak dan drastis semburan partikel-partikel matahari menuju bumi. Jika cahaya lampu tumbukannya menghasilkan energi yang besar, apalagi partikel yang berasal dari matahari, begitu menurut perhitungan Sani.

Merasa berharap cemas, Sani melongok ke layar digital yang menunjukkan struktur-struktur partikel penangkap partikel. Tombol di samping layar ditekan dengan bunyi "bip" yang menghasilkan tampilan angka-angka. Gigi-gigi putih Sani terpampang lebar akibat senyum puasnya setelah mengecek ulang angka-angka di layar. Tangannya merogoh sebuah benda pipih berbentuk lingkaran seukuran koin yang selama ini terjuntai di lehernya. Sensasi dingin logam meresap ke tangannya saat dia menggenggam dan menekan sebuat tombol. Jam kalung titanium berwarna perak tersebut terbuka. Bukan perputaran jam yang dilihatnya melainkan foto sosok gadis cantik di tutupnya. Akhirnya setelah puluhan tahun lamanya. Sani tersenyum dan menutup matanya.

Kring, kring, kring... suara telpon elektronik laboratoriumnya menghentikan lamunannya.

"Ya, Erik.. Ada apa ?"

"Ada telpon pak dari seorang remaja, katanya sangat penting untuk berbicara empat mata." Suara di balik speaker.

"Kamu sudah bilang aku sangat sibuk kan sekarang ?" Sani mengernyitkan dahi, siapa ini bocah yang menganggu disaat penting. "Sudah pak, cuma dia bilang ada pesan biar bapak yakin, katanya ini menyangkut tentang seseorang yang ada di sebuah jam kalung."

Sani terhening. Tangannya menggenggam erat jam kalungnya. Bagaimana bisa pikirnya.

"Oke rik... dia bilang mau ketemu kapan dan dimana ?" Sani memasukkan lagi jamnya ke dalam lubang kerah kemajanya. Dia langsung mematikan alatnya dan menyiapkan mental untuk bertemu dengan "bocah" yang mengetahui rahasia paling penting seumur hidupnya.
Diubah oleh yosandian

--- 3

--- 3

JALAN IR. H. JUANDA, atau lebih terkenalnya disebut Dago menawarkan keramaian akhir minggu yang tidak terbendung. Sejak abad ke-21, jalan ini tidak luput dari turis pejalan kaki yang menghabiskan uang tabungannya. Sekarang abad ke-22. Tidak ada yang berbeda. Hanya saja jalan ini sekarang memiliki monorel dan jalan layang di atasnya. Mobil - mobil bertenaga air berlalu lalang dengan suara hisss... yang khas.

Cafe Ngopi Doeloe berdiri sejak awal tahun 2000-an. Sekarang bangunannya memiliki lima lantai yang menghubungkan dengan jalan layang di atas jalan dasarnya. Aroma kopi menggoda Sani untuk menikmati cappucino kesukaannya saat dia memasuki lobi.

Sani langsung menuju lantai tiga favoritnya, tempat dia menikmati sore hari dengan cahaya matahari keemasan. Dan juga tempat dimana "bocah" misterius di telepon sebelumnya mengundang dia untuk bertemu. Sesampai dia di lantai tiga, dia secara otomatis melihat ke arah meja favoritnya, di tepi balkon, dekat dengan kolam buatan. Terlihat lelaki remaja dengan usia kira-kira tidak sampai 25-an dengan pipi lesung yang dalam. Wajahnya memiliki fitur dagu yang berbentuk persegi simetris. Walaupun ditutupi oleh kacamata dengan penyangga hitam tebal, satu kesan yang menonjol dari "bocah" itu yaitu tampan.

"Bocah" itu lalu menolehkan wajahnya ke arah Sani lalu melakukan kontak mata dan tersenyum sambil mengangkat cangkir kopinya. Sani berjalan ke arahnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Yang dipikirkannya dari tadi hanyalah jam kalung, foto di dalamnya, bahkan meja dan cafe favoritnya, bagaimana bisa tahu ?
Diubah oleh yosandian
wah cerita baru nih, ijin bikin tenda dulu gan emoticon-Big Grin
Keep update ya, emoticon-Big Grin
Ijin nenda gan emoticon-Shakehand2
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


pasang tendanya sekalian bikin api unggun biar gk kedinginan gan emoticon-Ngakak (S)

iya ane cicil kalo bisa setiap hari emoticon-Blue Guy Peace

--- 4

--- 4

SANI MENYERET KURSI di depan "bocah" itu. Duduk. Berbeda dengan kebiasaan orang - orang, dia tidak menawarkan tangannya. "Bocah" itu tersenyum lalu tertawa kecil sambil melihat ke bawah sejenak. Sani hening. Kedua lengan terlipat. Mata menyelidiki orang asing di depannya.

"Saya yakin anda banyak pertanyaan berputar - putar di kepala anda". Bocah itu tetap tersenyum mengejek.

Sani menatap mata remaja berjaket kulit hitam dengan kaos putih di dalamnya. Ada yang tidak benar menurutnya. Tetapi apa ?

"Permisi, bapak mau pesan apa ?" Seorang pelayan wanita berambut lurus kuncir bertanya dengan tersenyum ramah. Sani menoleh ke samping. Pelayang baru. Sudah dua tahun Sani berkunjung ke cafe itu tanpa di tanya pesanannya. "Cappucino, double shot, sirup hazelnut, cangkir medium." Sani menjawab dengan ketus.

"Baik, saya ulangi ya pak, cappucino, double shot, sirup hazelnut, dengan cangkir medium, seperti masnya." Sambil menoleh ke bocah di depannya. Sani tercengang. Bocah itu mengangkat cangkirnya dengan alis terangkat dan senyuman nakal lalu menyeruput minumannya.

"Sekarang langsung ke intinya karena saya yakin rasa penasaran anda tak terbendung lagi. Anda, Pak Sani, salah satu ilmuwan fisika partikel dan kuantum paling terkemuka akan melakukan sebuah percobaan yang melibatkan angin matahari. Saya tahu tujuan dari percobaan itu. Tetapi saya ingin menekankan, mengapa ?" Bocah itu menyelesaikan perkataanya sambil menunjuk jam kalung Sani dan memperagakan tangannya seolah dia memegannya.

Sani mengeluarkan sebuah bolpen dengan ujung emas dari kemeja putihnya. Lalu memutar penutup belakangnya sedikit dan mengarahkan ujungnya ke leher bocah itu seperti senter kecil. Ibu jarinya di atas sebuah tombol bulat kecil.

"Kamu tahu begitu banyak tentang saya, jadi saya yakin anda tahu tentang kegunaan lain bolpen ini. Jarum kalium klorida yang larut pada aliran darah yang nantinya akan sampai ke jantung dan membuatnya berhenti berdetak. Cepat. Tanpa jejak. Dokter akan mengiranya serangan jantung biasa. Dan jarum itu akan sekejap menancap ke leher kamu dengan hanya menekan sebuah tombol." Sani menjelaskan sambil mengangkat dan menurunkan ibu jarinya.

--- 5

--- 5

"BAPAK PERNAH DENGAR kalimat "jangan bunuh sang pembawa pesan ? Nah, saya hanyalah membawa pesan buat bapak." Bocah itu menjawab dengan muka serius. Tidak terlihat terancam dengan bolpen racun milik Sani. "Dan gimana saya bisa tahu tentang jam kalung bapak ?" Dia langsung mengeluarkan sebuah jam kalung dari kantung kiri bawah jaket kulitnya lalu meletakkannya di meja.

Perak. Sangat khas karena memantulkan sebagian cahaya yang mengenainya. Ukuran identik. Dan ukiran di belakangnya tidak ada bedanya.
Sani langsung menggengam erat jam kalungnya seolah khawatir telah dicuri.

Masih mengacungkan bolpennya, Sani merespon dengan marah dan bingung, "Jadi coba katakan saja sekarang, apa pesannya ? saya tidak butuh lagi kamu mengeluarkan satu per satu kehidupan pribadi saya. Sekalian saja kamu iklankan di media massa sana. Saya yakin ada maksud tertentu kamu masih belum melakukannya."

"Memang, saya punya maksud tertentu buat bapak." Bocah itu tersenyum nakal lagi.

"Anggap saja, percobaan bapak terhadap angin matahari. Lalu tujuannya tercapai. Namun, akibat terbatasnya waktu dan sumber daya alam, bapak hanya bisa melakukannya lagi puluhan tahun kemudian. Sebelum saya menyampaikan pesan yang saya bawa, bapak jawab dulu pertanyaan, apakah bapak akan kembali lagi dari "ujung sana" ?

"Apa urusan kamu coba, hah ?!"

"Urusan saya ? Sangat krusial bahkan. Urusan hidup dan mati"

Sani langsung melihat bocah itu terdiam hening lalu menunduk, seolah perkataan selanjutnya akan berakibat fatal. Bocah itu terus tertunduk melihat jam kalung identik dengan miliknya. Menunggu sesuatu.

"Hei Sani..."

Suara lembut tersebut dari sesosok gadis. Rambutnya panjang dan ikal. Orang mungkin mengira rambutnya tidak disisir. Salah. Walaupun disisir juga, akan tetap seperti menurut perkiraan Sani. Lebar mengembang, rambut gadis itu menutupi bagian belakang tubuhnya. Melengkung indah. Wajahnya pun cantik berseri. Senyumannya lebar tidak malu memamerkan gigi - giginya yang tanpa cela. Ujung matanya menyipit nakal. Satu kata yang mewakili semuanya, menakjubkan.

Diubah oleh yosandian

--- 6

--- 6

"Hei... Lia... aku nggak tahu kamu disini."

Wangi campuran bunga mawar dan aroma manis coklat tercium oleh Sani. Lia masih mengenakan jas laboratoriumnya. Di baliknya kemeja merah mudah strip hitam. Rok hitam selutut tanggung. Tetap saja, semua itu tidak dapat menyembunyikan betapa menakjubkannya teman kerjanya tersebut.

"Eh iya... Ih kamu masa' nggak pernah lihat aku kesini sih ? Sombong nggak pernah nyapa."

"Wah aku kesini jarang perhatian ke sekeliling. Biasanya sambil baca buku atau nulis sesuatu." Sani menepuk saku kanan jaket coklatnya yang berisi buku hariannya.

"Dasar kutu buku... tapi tetap aja... awas lho ya habis ini kalo kesini nggak nyapa... disitu biasanya aku duduk." Lia menunjuk meja di tengah, sebelah sebuah taman buatan dipenuhi bunga lily putih.

"Siap bos !" Sani menggoda dengan tangan hormat tentara.

"Daaahhh.... " Lia mengedip mata kanannya dengan nakal sambil tersenyum. Lalu membalikkan badan. Berjalan menuju tangga ke bawah, lenggak - lenggok tubuhnya seolah menghentikan waktu. Keterlaluan. Sangat menakjubkan.

"Adelia Sasikirana... Setahu saya dia cantik dan wow..., tetapi melihat secara langsung... " Momen barusan terganggu dengan siulan bocah yang dari tadi duduk di seberang mejanya.
Diubah oleh yosandian

--- 7

--- 7

FOKUS KEDUA ORANG tersebut kembali intens. Sani menatap tajam. Tawa canda kumpulan pegawai kantoran, yang berkumpul di meja sepuluh meter dari mereka, kalah adu dengan ketegangan yang kembali menyelimuti.

"Oke saya coba menceritakan dulu latar belakang semua ini. Sebelum itu... Nama saya Pratama." Pratama memecah keheningan.

Sani tetap diam tanpa gerakan respon.

"Hampir tepat seratus tahun lalu, ada seorang remaja yang malang. Teman - temannya memiliki kehidupan yang sempurna menurut remaja tersebut. Kedua orang tua masih sempat memeluk mereka. Jika kesusahan, sahabat akan menolong dan mendengar keluh kesah. Keadaan sempurna. Masa depan cerah bagai langit tanpa awan yang menutupinya. Tetapi berbeda dengan remaja ini." Pratama memberi jeda. Sangat berat kelihatannya untuk melanjutkan.

"Seluruh keadaan menekan remaja ini dari segala arah. Tidak ada bantuan. Tidak ada tempat berlari. Lalu ketika semuanya begitu berantakan, remaja ini melihat seorang gadis. Sangat berbeda dan spesial. Setitik harapan muncul di hati remaja ini. Setiap kali dia melewati gedung fakultas kampus gadis itu, dia memperhatikannya dengan penuh harapan. Suatu hari mungkin ada yang mendampingi dirinya melewati semua kepedihan hidupnya. Namun, justru kehidupannya mengkhianatinya. Dia sangat malu akan latar belakangnya sehingga seringkali mereka berdua bertatapan, dia menundukkan pandangannya dan menghindar. Harapan yang ada semakin memudar. Pada akhirnya, setiap orang pasti punya batasnya, remaja ini mengikat dan menggantung seutas tali melingkar. Kursi di bawahnya sudah siap. Dia kemudian menaikinya."

Pratama menghela napas panjang. "Lalu tiba - tiba keadaan yang sebelumnya hampir gelap berubah menjadi terang. Bagai hujan meteor kecil, partikel - partikel berwarna - warni turun menembus ruangan kamarnya. Dia berdiri di atas kursi, keheranan. Kedua matanya setengah tertutup akibat terangnya fenomena itu. Kemudian ada sesosok pria memakai masker hitam muncul. Pria itu meraih lengan remaja itu lalu tiba - tiba kegelapan menyelimuti."
Diubah oleh yosandian

--- 8

"Setelah hampir sepuluh tahun berlalu bukan di dunianya, sekarang saya melihatnya dengan mata kepala sendiri, pas di depan." Pratama menatap Sani sambil tersenyum.

"Ilmuwan, punya bisnis sampingan, terhormat, playboy. Anda benar-benar berubah banyak. Telah belajar banyak. Meningkatkan kelebihan anda dan menutupi kekurangan anda. Dan soal sikap playboy anda, saya sungguh tercengang, gadis wow seperti Lia." Sambil bersiul, Pratama membayangkan cara berjalan Lia.

"Sekali lagi, kenapa ingin kembali ke masa lalu padahal anda telah menguasai masa sekarang ?"

Langsung Sani meraih kerah Pratama. Erat. Sambil mengarahkan bolpennya. "Kamu pria bermasker itu."

"Memang kenapa... kalo saya orang itu,... ada bedanya?" Pratama menjawab sambil meraih nafas yang terbatas.

"Coba katakan bagaimana kau tahu semua ini ? dan ini juga." Sani meraih jam kalung yang identik dengan miliknya. Pratama menghela nafas. Lalu menutup matanya. Kemudian

"Karena entah anda percaya atau tidak, 35 tahun-an yang akan datang, anda yang memberi kalung itu ke saya !"

---9

Melepas genggamannya. Kembali duduk. Sani terdiam. Menatap Pratama.

"Jadi... diriku di masa depan yang mengirim kamu ?"

Pratama mengangguk.

"Kita hanya bisa memilih salah satu dunia. Pilihlah yang membuat kamu bahagia. Begitu kata 'anda'."

Pratama melihat ke jam kalungnya. "Waktunya saya pergi. Hanya itu saja yang harus dan boleh saya beritahu." Pratama berdiri. Merogoh saku jaketnya. Lalu mengeluarkan sepucuk kertas. Bukan. Namun sebuah foto.

Pratama mendekat ke Sani. Wajah mereka saling bertatapan. Pratama menjabat tangan Sani dengan tepukan. Tangan Sani menerima foto yang dibawa Pratama.

"Canggung rasanya dari tadi aku pakai kata 'anda' dan memanggil 'pak'. Foto ini sebagai bukti semua perkataanku tadi. Ingat pilih dunia yang membuat bahagia. Sampai ketemu lagi di masa depan ya, kakek."

Pratama langsung melepas jabatan tangannya. Berjalan cepat menuju tangga ke bawah. Sani yang tadi masih mengolah apa yang barusan dia dengar, terlambat untuk mengejar bocah tadi yang jika dari cara memanggilnya...

Sani keluar dari lobi cafe. Jam 5 sore. Trotoar jalan dipenuhi pejalan kaki hilir mudik. Pratama hilang tenggelam di tengah lautan manusia.

---10

Tiga hari berlalu. Hari ini. 10 Desember 2115. Sani memandangi foto yang diberikan oleh Pratama. Yang kelak adalah cucunya. Pikirannya bercampur aduk. Masa depan dan masa lalu. Ketika Sani merancang percobaannya pada angin matahari, dia berharap semua dapat berubah. Masa lalu dapat dia ulang. Berubah menjadi masa sekarang yang berbeda. Tetapi semua itu berubah dan terganggu dengan kemunculan keturunannya di depan mata kepala sendiri. Jika dirinya mengubah nasib masa lalu, maka bocah bernama Pratama itu tidak akan ada. Benar-benar membingungkan jika membicarakan waktu. Apakah dirinya tidak bisa mengubah alur jalannya nasib dirinya ?

Fotonya menunjukkan dirinya memeluk seorang wanita dengan lengan kirinya. Mereka berdua berdiri. Lalu di depan mereka, ada seorang pria dan wanita. Suami istri. Duduk di atas kursi kayu dengan ukiran dedaunan dipinggirnya. Di atas pangkuan mereka, ada seorang anak kecil. Tersenyum lebar. Tidak dipungkiri lagi namanya Pratama. Dari semua itu, yang paling diperhatikannya yaitu wanita yang dirangkulnya. Sani tersenyum sendiri dengan malu. Pipi nyaris memerah. Tidak disangka. Wanita yang selama ini dia hiraukan. Sani masih berpikir, "Apakah nasibnya dan jodohnya bisa dia ubah ? Aoa yang terjadi pada foto ini jika dia mencoba mengubah jalan hidupnya di masa lalu ?"

Sudah waktunya. Sani melihat jam kalungnya. Menutupnya kembali. Tubunya memanggul tas ransel berwarna hitam. Hidung dan mulutnya terutup oleh masker hitam yang tersambung oleh selang memanjang menuju tas ranselnya.

Jam 12.45. Angin matahari telah terpancar dan mencapai permukaan bumi. Ditandai dengan rentetan bunyi 'bip' dari ranselnya. Serangkaian tombol mencuat dari ranselnya. Sekarang saatnya. Lalu dia menekan salah satu tombol.

Terlihat laboratoriumnya yang sebelumnya diterangi cahaya putih LED sekarang tertutupi oleh terangnya warna pelangi dari partikel-partikel angin matahari yang menghujani dirinya. Sani memejamkan matanya. Hidungnya menghirup oksigen yang tersalurkan melalui selang. Jantungnya berdebar gelisah. Tubuhnya berasa tertarik ke segala arah. Kepalanya terasa aneh dan sedikit pusing. Sani pun melakukan perjalanan jauh menuju tempat dimana kenangannya bersemayam.
Diubah oleh yosandian

---11

Bandung, 10 Desember 2015

Gadis itu sungguh berbeda. Sani tidak tahu kenapa. Sani tidak peduli kenapa. Sani suka dia. Sani cinta dia. Perasaan tersebut masih tersimpan 25 tahun lamanya. Masih berbekas. Sekarang membesar kembali. Menggema kembali.

Dari kejauhan, Sani berdiri tegak, tangan kanan memegan masker hitamnya. Melihat gadis itu kembali. Rasanya baru kemarin dia melihatnya. Sani menoleh ke kiri. Dari kejauhan dia melihat seorang pemuda. Kurus tidak terurus. Pakaian seperti baru bangun tidur. Berantakan. Seperti perasaannya. Sekarang dia lagi melihat gadis itu dari kejauhan. Sani dari masa depan tersenyum. Mengingat kembali kejadian ini. Sekarang melihatnya dari sudut pandang lain. Orang yang sama. Beda masa. Beda perasaan.

Sani muda menundukkan pandangannya. Malu. Takut akan penolakan. Gadis itu keheranan. Lalu mengalihkan pandangannya. Gadis itu melihat sesosok dewasa memakai pakaian serba hitam. 1Ransel hitam. Di tangan kanannya terlihat seperti sebuah masker hitam yang dipakai oleh para pilot pesawat jet tempur. Sani tersenyum. Gadis itu menundukkan pandangannya. Penasaran. Kemudian mencoba melihat kembali. Sani masih tersenyum. Gadis itu pun tersenyum. Sani menganggukkan kepalanya. Memberi tanda salam berpisah. Gadis itu mengangguk kepala sambil tersenyum. Senyuman manis dan lebar. Terlihat gigi-giginya yang putih dan renggang. Tetap saja, manis. Sani pun berjalan pergi.
Diubah oleh yosandian

---12

Anak tersebut merasa sakit. Habis sudah harapannya. Dunia menekan dari segala arah. Dan di saat ada sebuah harapan, dirinya sendiri berkhianat. Rasa malunya untuk tidak menyapa gadis tersebut. Menangis di tempat sendirian sudah biasa. Tidak untuk kali ini. Kali ini dia sudah merasa tidak pentingnya menangis. Dia hanya ingin mengakhiri rasa sakitnya. Dia ingin bebas. Dia ingin keluar dari dunia yang dia tempati saat ini.

Permasalahannya adalah akibat dari keinginan tersebut sangat fatal. Fatal bagi Sani. Fatal juga bagi keturunannya yang akan datang. Dia sudah jauh datang dari dunia lain. Dia tidak akan membiarkan tindakan anak tersebut selanjutnya.

Sani remaja sedang mencoret dinding kamarnya dengan spidol papan tulis. "Aku sekarang pergi ke dunia lain"

Kemudian dia menggeret sebuah kursi kayu. Dia berdiri di atasnya. Seutas tali melingkar telah siap mengantarkannya menuju dunia lain. Sambil menghela napas, dia diam sejenak. Rasa ragu tiba-tiba muncul. Insting untuk bertahan hidup. Rasa dasar yang dimiliki oleh setiap manusia, separah apapun keadaannya. Namun dia menghilangkan keraguan tersebut. Menganggap itu hanyalah harapan belaka. Tidak ada harapan lagi bagi dia pikirnya. Langsung dia meraih tali melingkar di depannya. Memasukkan kepala yang diikuti lehernya.

Benar. Kamu akan ke dunia lain. Ke dunia berbeda. Namun dunia penuh dengan harapan. Memulai semuanya dari nol. Tetapi bakal berakhir indah. Sani dewasa dengan peralatan lengkapnya beserta helm masker hitamnya berlari menuju masa lalunya. Menekan tombol. Langsung saja kamar tersebut diterangi oleh hujan partikel warni-warni. Sani remaja terkejut. Sani dewasa meraihnya. Memeluknya erat. Melepas tali yang melingkar di lehernya. Dan kedua manusia tersebut terhisap memasuki dimensi jembatan menuju dunia lain. Dunia dimana harapan akan menyapa riang.


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di