- Beranda
- Komunitas
- News
- Forex, Option, Saham, & Derivatifnya
Tantangan Besar Stabilitas Perekonomian Indonesia Ada Di Depan Mata


TS
adidananto.88
Tantangan Besar Stabilitas Perekonomian Indonesia Ada Di Depan Mata

Di tengah ambisi mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 5,7 persen tahun ini, bahkan sesuai dengan RPJMN yang memprediksi dapat mencapai tingkat pertumbuhan hingga 8 persen pada tahun 2019 mendatang, pemerintah dihimbau untuk menjaga dua fondasi perekonomian, yakni stabilitas dan pemerataan ekonomi. Keinginan kuat pemerintah untuk mendorong laju pertumbuhan harus dikelola dengan baik agar upaya tersebut tidak mengesampingkan perbaikan profil struktural dan fundamental perekonomian.
Seperti ramalan mantan Menteri Keuangan Chatib Basri dan juga Wakil Ketua Komite Ekonomi Nasional Raden Pardede era presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, pada tahun 2015 ini akan menjadi tahun yang penuh tantangan bagi perekonomian Indonesia. Tantangan itu datang ditengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu.
Di era Presiden Joko Widodo saat ini yang sangat ambisius mengejar ketertinggalan pembangunan, nampaknya tidak bisa menampik bahwa masalah ekonomi dalam negeri telah terakumulasi sejak lama dan harus dituntaskan. Masalah-masalah ekonomi tersebut mengerucut pada perekonomian Indonesia yang hingga kini masih mengalami defisit ganda dalam transaksi berjalan dan defisit pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Defisit transaksi berjalan selama beberapa tahun terakhir terus berada di atas 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), kecuali pada tahun 2014, defisit menurun di posisi 2,95 persen terhadap PDB atau sekitar USD26,2 miliar. Defisit tersebut disumbang oleh masih belum membaiknya kinerja perdagangan, jasa, dan pendapatan. Defisit transaksi berjalan ini pula yang membuat nilai tukar rupiah rentan dengan tekanan-tekanan perekonomian global.
Tidak dapat dipungkiri, upaya pemerintah dalam memperbaiki defisit transaksi berjalan kerap menjadi penilaian investor dan pengusaha dalam dan luar negeri untuk melihat kondisi perekonomian Indonesia secara menyeluruh. Pengalaman krisis moneter 1998 dan krisis keuangan global pada tahun 2008-2009 telah membuktikan negara yang tidak mampu mengelola transaksi berjalan dan stabilitas perekonomian akan mudah tersulut dampak dari krisis ekonomi global.
Pada kuartal I-2015, sinyal-sinyal kenaikan suku bunga Bank Sentral AS dan keyakinan belum membaiknya defisit transaksi berjalan telah menggerus nilai tukar rupiah terhadap dolar AS lebih dari 4 persen sepanjang Januari-Maret 2015. Nilai tukar rupiah terus stagnan berada di kisaran Rp13.000-Rp13.200 per USD, atau terburuk sejak era 1998. Fluktuasi nilai tukar ini, yang dapat melesatkan nilai impor dan membuat kerugian kurs dari utang luar negeri, sempat dikhawatirkan menghambat pembangunan infrastruktur.
Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terlihat kompak mengeluarkan pernyataan-pernyataan bernada optimistis dalam menyikapi pelemahan rupiah meskipun kerap dicibir oleh kalangan ekonom. Namun, tidak hanya melalui pernyataan, jajaran pemerintah pun dengan sigap mengeluarkan beberapa paket kebijakan yang ditujukan untuk mengatasi pelemahan rupiah.
Menteri Koodinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil pada tanggal 16 Maret 2015 lalu mengumumkan pemerintah siap mengimplementasikan paket kebijakan ekonomi, antara lain kelonggaran perolehan insentif pajak “tax allowance”, insentif “tax holiday”, dan pengenaan bea masuk antidumping sementara, serta bea masuk tindakan pengamanan sementara. Kebijakan selanjutnya adalah membebaskan visa untuk turis asing dari 30 negara sebagai upaya menambah devisa dan mendukung kewajiban penggunaan letter of credit (L/C) untuk transaksi dalam setiap usaha tertentu, seperti sektor pertambangan batu bara, migas, dan CPO.
Dampak Paket Kebijakan Setelah pengumumkan paket kebijakan ekonomi tersebut, nilai tukar rupiah terus menguat. Bukan hanya paket kebijakan dari pemerintah saja, melainkan data ekonomi makro dalam negeri maupun luar negeri telah memberikan kepercayaan kepada investor untuk terus mengalirkan dananya ke pasar keuangan domestik.
Seminggu setelah pengumuman paket kebijakan ekonomi, rilis dipertahankannya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), dan surplus neraca perdagangan Februari, ditambah melesetnya perkiraan pemulihan ekonomi AS, membuat rupiah kembali bertengger di level psikologis Rp12.900,00 per USD. Penguatan tersebut juga sangat dibantu keyakinan para pelaku pasar bahwa pemulihan ekonomi AS tidak akan secepat yang diperkirakan sebelumnya.
Dari sisi domestik, sentimen positif datang dari suplusnya neraca perdagangan Februari 2015 sebesar 0,74 miliar dolar AS. Sementara itu, sentimen positif dari lembaga Rating and Investment Information, Inc. (R&I) telah mengafirmasi “Sovereign Credit Rating” Republik Indonesia pada peringkat ’BBB-’ (triple B minus) dengan outlook ekonomi stabil. Namun, pemerintah masih akan tetap diingatkan untuk tidak lengah meskipun tekanan terhadap nilai tukar rupiah mulai mereda saat ini.
Ke depan tantangan perekonomian dalam negeri memang terlihat akan semakin sulit. Tidak hanya dilihat dari sisi pasar keuangan yang tentunya erat kaitannya dengan pasar global, tapi juga kondisi instabilitas politik dalam negeri yang mulai menimbulkan keresahan terhadap para pelaku pasar atas prospek ekonomi jangka panjang.
Sumber http://vibiznews.com/2015/04/10/tant...di-depan-mata/
0
711
2


Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama


Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan