alexa-tracking

Monolog : Hanya Bertanya, Berbicara, dan Menasehati Diri Sendiri

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/55239665a09a39f1798b4568/monolog--hanya-bertanya-berbicara-dan-menasehati-diri-sendiri
Monolog : Hanya Bertanya, Berbicara, dan Menasehati Diri Sendiri
Dan, Ia bertanya apakah arti kata : ‘Manusia’


Apa yang membuat manusia menjadi manusia?

Ya, kata itu yang selalu ada dalam benakku….

Manusia, ketika mendengar kata ini pasti yang ada dalam benak kita adalah “Makhluk paling sempurna ciptaan Tuhan yang bersifat sosial, tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain”.


Tapi, benarkah seperti itu?



Pertanyaan ini selalu terngiang dalam pikiran, seperti rajutan jaring sarang laba-laba yang menggelayut dalam selaput otak, menggantung di dalam kepala yang notabene kosong nggak ada isinya, mencoba terus berpikir dengan keterbatasan kapasitas otak yang ada.
Lalu?

Ya, manusia. Kita hidup di dunia ini adalah mencari sesuatu, tapi apakah sesuatu yang kita cari itu? Apakah pengakuan dari sesama manusia? Atau kepuasan batin yang kita cari? Tidak perduli apa komentar manusia lain, asalkan kita bahagia maka kita akan jalan terus? Atau ketika mereka kita tidak sejalan dengan kita, dan suatu saat kita akan ditinggal sendiri? Apakah kita akan bahagia?


Apa itu artinya menjadi manusia? Bukankah kita butuh kehadiran orang lain?


Ketika kita melihat orang lain, pasti terbersit dalam kepala kita “Hmm.. apa hebatnya dia? Apa bedanya dia denganku?” dengan segala kelebihan nya untuk berinteraksi, punya kharisma, didekati banyak orang, dan diakui oleh orang lain?
Lalu, bedanya apa? Bukankah kita sama-sama manusia?

Setidaknya, perlu bertahun-tahun untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dengan pengalaman? Ya! Hmm.. nggak juga sih. Tapi penulis nggak pernah bilang kalo jawaban ini adalah jawaban yang banyak mewakili jawaban banyak orang, seenggaknya ini yang penulis alami selama 24 tahun terjun di alam liar bernama ‘kehidupan’.

Sifat iri, dengki, nafsu, sombong, dsb sudah ada dalam diri manusia, bahkan semenjak manusia diciptakan pertama kali. Sudah menjadi kenyataan bahwa ketika seorang manusia melihat manusia lain, ia akan membandingkan orang itu dengan dirinya sendiri.


Apakah itu merupakan suatu keburukan?


Menurut penulis bukan sih, tapi gatau juga. Kalo runut dari sejarah manusia pertama – nabi Adam a.s & Siti Hawa beliau digoda oleh setan untuk memakan buah khuldi di surga. Dengan polosnya, Adam & Hawa memakan buah tersebut yang mengakibatkan Allah swt. murka, dan menjatuhkan hukuman untuk mereka berdua, dengan menjalani sisa hidup mereka di bumi, yaitu suatu tempat yang sangat jauh dari surga, berukuran sangat kecil bila dibandingkan benda antariksa ciptaan Tuhan yang lain di alam semesta, dapat dikatakan bumi ini seperti pengasingan, dan itulah sejarah awal manusia memulai perjalanan nya di dunia (Dipisah dulu pula mereka berdua sebelum bersatu/ketemu lagi).


Apakah ini semua salah setan semata-mata?


Menurut penulis, disini nabi Adam maupun Siti Hawa memiliki sedikit porsi kesalahan, apakah karena mau terbujuk oleh setan dengan polosnya? Bukan! Tapi kenapa nabi Adam penasaran dengan buah tersebut sehingga mau memakan nya atas suruhan setan tersebut. Jadi setan hanya memanfaatkan rasa ‘penasaran’ dan kepolosan nabi Adam.


Penasaran?


Ya, itulah awal kejatuhan manusia sesungguhnya. Sifat ini adalah sifat yang paling buruk yang ada dalam diri manusia, yang akan mengantarkan manusia kepada sifat-sifat lain yang lebih buruk sehingga akan menjatuhkan mereka, jatuh sejatuh-jatuhnya didalam keadaan yang hina, keadaan yang rendah, lebih rendah yang dapat kita bayangkan.
Contoh, kita selalu penasaran akan sesuatu hal, misalnya dengan orang lain. Ketika kita menemukan sesuatu yang tidak kita punya namun dimiliki oleh orang tersebut maka munculah rasa iri, atau sebaliknya jika kita memiliki sesuatu yang tidak dia punya, maka akan muncul sifat sombong dan tinggi hati.


Lalu darimana munculnya sifat penasaran tersebut?


Sifat itu muncul karena kita tidak bisa hidup tanpa orang lain, karena kita terlalu mendengarkan pendapat orang lain, karena kita terlalu memperdulikan atau memusingkan perkataan orang lain kepada kita, karena kita terlalu terpaku bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup tanpa sesama manusia lain. Padahal, logikanya adalah manusia datang ke dunia sendiri dan akan mati sendirian. Kita akan membawa segala perbuatan baik-buruk kita di dunia ke akhirat pun juga sendiri.


Sifat penasaran bukan nya bisa mengantarkan kita pada cinta juga kan? Bukan nya itu sesuatu yang baik?


Cinta? Sesuatu yang baik? Jangan bercanda. Cinta itu adalah perasaan yang bersifat sementara, tidak bersandar pada logika, dekat pada nafsu, dapat menyebabkan hilang konsentrasi permanen, menimbulkan harapan palsu dan hanya merugikan ketika cinta tersebut tidak terwujud. Ketika ada romansa disitu, seketika kita seolah mendeklarasikan akhir hidup kita kepada dunia, jadi bersiaplah untuk jadi pecundang dan mati ditelan perasaan yang tak berguna.


Jadi?


Intinya, boleh saja penasaran, tapi hanya kepada diri kita sendiri. Dengan penasaran pada diri kita sendiri kita akan membuka banyak kelebihan atau sesuatu yang kita punya tapi tidak pernah kita rasakan atau sadari.
Dengan penasaran kepada diri sendiri, kita akan menjadi terbuka pada diri kita sendiri, dan kita akan tahu seberapa jauh kita melangkah, dan akan kemana kita melangkah selanjutnya.


Jadi? Apakah yang membuat manusia menjadi manusia? Apa yang sebenarnya manusia cari?
Jawabnya : “Dirinya sendiri”.



Tanpa tahu dirinya sendiri, kita tidak akan menyadari bahwa kita adalah manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan, tanpa diri sendiri berarti kita tidak akan mengakui diri kita ada, hidup, bernafas, dan berjalan mengarungi dunia yang sialan ini.
Bagaimana kita mau mengakui segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, jika kita tidak bisa mengakui diri kita sendiri? Jangan bercanda, kita harus bangga menjadi diri kita, kita harus belajar menyukai diri kita sendiri, jangan berharap sesuatu yang belum jelas adanya untuk kita, jangan melihat sesuatu yang belum pasti akan terlihat oleh kita. Janganlah terlalu optimis jika diri kita tidak sebaik yang kita kira, dan janganlah pesimis jika kita terlihat lebih buruk daripada yang kita bayangkan.


Jadi? Apakah manusia butuh manusia lain dalam hidupnya?


Yaaa..Cuma kita yang bisa jawab, kalo sudut pandang subyektif saya sih.. “NO”
Untuk apa bergantung pada kehadiran orang lain, jika bergantung pada diri kita sendiri itu sudah cukup, lebih baik dari apapun, dan…


Apalagi yang kita minta? Selain diri kita sendiri.




-FIN-

Monolog

Pertamaxxxx
Quote:


username maho detected emoticon-Betty (S)

Kampretos

Quote:


Quote:


100 buat agan emoticon-Blue Guy Peace

sayang cendol ane dikit ngga bisa bagi emoticon-Berduka (S)