CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Arti Patung dalam ajaran Buddha
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/550d374612e257354b8b456c/arti-patung-dalam-ajaran-buddha

Arti Patung dalam ajaran Buddha

Tanya Jawab Dhamma:
Bersama YM. Bhikkhu Uttamo Thera


VISI MISI THREAD:
hanya meluruskan pandangan non buddhist yang salah terhadap buddhist. bukan untuk mencari umat dan lain lain

Arti Patung dalam ajaran Buddha

Rupang / Patung Dalam Agama Buddha
Apakah fungsi rupang/patung dalam Agama Buddha?
Dalam konsep Buddhis, rupang adalah lambang dari kebuddhaan, oleh karena itu dalam membuat rupang biasanya memperhatikan ciri2 Sang Buddha, karena semuanya melambangkan kebuddhaan, bukan pribadinya.
Rupang juga merupakan simbol Sang Guru, sehingga apabila kita mengadakan puja bakti bukanlah untuk menyembah rupang tersebut, melainkan untuk menghormati dan mengingat ajaran Sang Guru. Jadi fungsinya sebagai lambang dan kesempatan untuk merenungkan ajaran Sang Guru.

Arti Patung dalam ajaran Buddha

Ada umat yang meminta agar rupang/patung yang dibelinya didoain [baca:diisi] agar ‘hidup’ sehingga dapat mendengar dan melihat, bagaimana pandangan agama Buddha?
Dalam agama Buddha hal itu tidak ada, pengisian itu adalah upacara yang berkembang dalam tradisi masyarakat agar seseorang umat yang mengadakan puja bakti bisa lebih mantap.
Sesungguhnya tanpa upacara itupun tidak masalah. Kemantapan dan keyakinan seorang umat Buddha akan muncul karena pengertian dan pembuktian kebenaran ajaran Sang Buddha. Sekali lagi, hal itu bukan ajaran Sang Buddha.
 

Ada yang mengatakan bahwa rupang tidak boleh ditempatkan didalam kamar, karena menurut mereka kamar itu kotor. Apakah itu benar?
Itu hanya perasaan kita sendiri, patungnya sendiri tentu tidak tahu kalau diletakkan di kamar. Jadi sebenarnya tidak ada masalah.
 

Kenapa sekarang ini ada yang membuat rupang/patung bhikkhu yang kemudian mereka disembah?
Kiranya hal itu adalah bentuk penghormatan juga, dan menyembah atau bersujud itu adalah bentuk penghormatan tertinggi dalam tradisi Timur. Bukankah Agama Buddha berasalah dari tradisi Timur? Yang penting, kita tidak meminta apa-apa dari patung tersebut, karena dengan demikian, berarti kita menyembah berhala.
 

Ada yang mengatakan bahwa bila kita berhasil memegang bagian tertentu dari rupang/patung di candi Borobudur, kita akan mendapat rejeki, apa itu benar ?
Itu adalah hasil tradisi, bukan ajaran Sang Buddha. Kalau memang memegang patung bisa mendatangkan rejeki maka para penduduk di sekitar Borobudur pasti sudah kaya raya. Buktinya, mereka sama saja. Dengan demikian, rejeki dan berkah bukan didapat karena memegang patung, melainkan karena menanam kebajikan.
 
Arti Patung dalam ajaran Buddha

Ada beberapa kalangan mempercayai bahwa sewaktu kita membeli rupang/patung untuk ditempatkan dialtar rumah tidak boleh menawar harga, bagaimana dengan yang satu ini?

Ada baiknya kita bersikap bijaksana karena memang patung adalah lambang, bukan mewakili pribadi, juga bukan sebagai hal-hal yang bersifat mistik.
Kalau itu pribadi, memang tak ternilai, jadi tidak bisa ditawar, namun karena merupakan simbol, tentu saja kita bisa menawar. Oleh karena itu, menjadi umat Buddha hendaknya menjadi orang yang bijaksana.
 

Sewaktu kehidupan Sang Buddha tidak ada rupang, apakah para Sangha telah melakukan kebaktian seperti kita sekarang ini?
Kebaktian adalah pengulangan kotbah Sang Buddha yang dilakukan setelah Sang Buddha wafat. Pada jaman dahulu, penghormatan bisa langsung pada Sang Buddha dan Beliau memberikan ceramah Dhamma, ceramah inilah yang kemudian menjadi pembacaan paritta setelah Beliau wafat.

Selain penghormatan kepada Sang Buddha, ada juga penghormatan kepada pohon Bodhi seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha sendiri, atau tempat duduk Sang Buddha yang melambangkan kehadiran Beliau. Setelah Beliau wafat, maka ada juga pemujaan pada stupa. Borobudur adalah merupakan stupa terbesar di dunia.
 



Bagi yang mau bertanya langsung/belajar dan memperdalam ajaran buddhist (Buddha Dharma) hubungi:
Hp : 08999104988
FB Group : Buddhism Talk Group
BBM : 53E99D65

Tidak dipungut biaya (Gratis)



Arti Patung dalam ajaran Buddha
profile-picture
profile-picture
anasabila dan anugamindo memberi reputasi
Diubah oleh lee89siva
Halaman 1 dari 3


bagaimana cara mencapai nirvana ?

emoticon-Bingung (S)
Keren juga yha emoticon-Matabelo
Jadi tau emoticon-Malu (S)
Baru tahu gan...
Tq ingpo nya..
emoticon-Smilie
Ooooohhh gitu ya gan emoticon-Matabelo
baru tau ane gan
nice thread gan emoticon-2 Jempol
siapa itu maitreya menurut buddhist?
wow... keren juga penjelasan ente.
tetap welas asih, itulah yang terpenting. emoticon-Angkat Beer
nice.inpo gan,
ane baru tau emoticon-2 Jempol
oh ternyata gitu ya gan
filosophi dewa
larena semua mahluk menuembahNya emoticon-2 Jempol
Quote:


melenyapkan 3 akar kejahatan, lobha, dosa, moha, uraian nya di google cari 3 akar kejahatan gan,

Quote:


Bodhisatva, calon Buddha, yang di ramalkan Buddha Gautama akan lahir ke dunia pada jaman kemerosotan dan dimana ajaran dharma sudah lenyap karena ketidak kekalan. jaman dimana sudah habis orang beragama Buddha.

gan, bagus infonya..

tapi agan salah forum emoticon-Salah Kamar

buat bahasan seperti ini agan bisa nulis di DC, ato sf Spiritual emoticon-thumbsup:
Diubah oleh dzomb13z
Gan ane sangat tertarik dengan agama buddha, setelah ane nonton film Arisan!2 dmana disitu tokoh utamanya (meimei) diajarin meditasi n yoga ma dokter buddhist.. trus diajak ke borobudur juga buat memperingati waisak, keren bgt itu lampion nya diterbangin ke langit.. diterangin jg klo dlm berdoa kita lbh baik jangan terlalu banyak meminta, tapi lebih kepada mengheningkan pikiran dan mengapresiasi hal2 dlm hidup ini. Coba ya kalo novel Supernova Akar yg tokoh utamanya Bodhi jg difilmin, pasti bagus mengangkat tema2 buddhisme di indonesia, selain film Arisan!2. emoticon-I Love Indonesia
Wah...
Arti patung dalam ajaran Buddha...

Salah satu Laoshi ane juga Buddhist gan...
Kalimat yang sering di ucapkan beliau pas selesai doa sampe hapal ane...

"Semoga semua makhluk berbahagia..."

Begitu...

emoticon-I Love Indonesia (S)
sabhe satta bhavantu sukitata sadhu3x
Quote:


semoga semua makluk hidup berbahagia sadhu sadhu sadhu
nice share gan emoticon-thumbsup:
We're what we think, what we think we become... (Buddha)
KWAN IM PO SAT...
Kisah Cakkhupala Thera

Suatu hari, Cakkhupala Thera berkunjung ke Vihara Jetavana untuk melakukan penghormatan kepada Sang Buddha. Malamnya, saat melakukan meditasi jalan kaki, sang thera tanpa sengaja menginjak banyak serangga sehingga mati. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali serombongan bhikkhu yang mendengar kedatangan sang thera bermaksud mengujunginya. Di tengah jalan, di dekat tempat sang thera menginap mereka melihat banyak serangga yang mati.

"Iiih..., mengapa banyak serangga yang mati di sini?" seru seorang bhikkhu. "Aah, jangan jangan...", celetuk yang lain. "Jangan-jangan apa?" sergah beberapa bhikkhu. "Jangan-jangan ini perbuatan sang thera!" jawabnya. "Kok bisa begitu?" tanya yang lain lagi. "Begini, sebelum sang thera berdiam disini, tak ada kejadian seperti ini. Mungkin sang thera terganggu oleh serangga-serangga itu. Karena jengkelnya ia membunuhinya."

"Itu berarti ia melanggar vinaya, maka perlu kita laporkan kepada Sang Buddha!" seru beberapa bhikkhu. "Benar, mari kita laporkan kepada Sang Buddha, bahwa Cakkhupala Thera telah melanggar vinaya", timpal sebagian besar dari bhikkhu tersebut.

Alih-alih dari mengunjungi sang thera, para bhikkhu itu berubah haluan, berbondong-bondong menghadap Sang Buddha untuk melaporkan temuan mereka, bahwa "Cakkhupala Thera telah melanggar vinaya!"

Mendengar laporan para bhikkhu, Sang Buddha bertanya, "Para bhante, apakah kalian telah melihat sendiri pembunuhan itu?"

"Tidak bhante", jawab mereka serempak.

Sang Buddha kemudian menjawab, "Kalian tidak melihatnya, demikian pula Cakkhupala Thera juga tidak melihat serangga-serangga itu, karena matanya buta. Selain itu Cakkhupala Thera telah mencapai kesucian arahat. Ia telah tidak mempunyai kehendak untuk membunuh."

"Bagaimana seorang yang telah mencapai arahat tetapi matanya buta?" tanya beberapa bhikkhu.

Maka Sang Buddha menceritakan kisah di bawah ini:

Pada kehidupan lampau, Cakkhupala pernah terlahir sebagai seorang tabib yang handal. Suatu ketika datang seorang wanita miskin. "Tuan, tolong sembuhkanlah penyakit mata saya ini. Karena miskin, saya tak bisa membayar pertolongan tuan dengan uang. Tetapi, apabila sembuh, saya berjanji dengan anak-anak saya akan menjadi pembantu tuan", pinta wanita itu. Permintaan itu disanggupi oleh sang tabib.

Perlahan-lahan penyakit mata yang parah itu mulai sembuh. Sebaliknya, wanita itu menjadi ketakutan, apabila penyakit matanya sembuh, ia dan anak-anaknya akan terikat menjadi pembantu tabib itu. Dengan marah-marah ia berbohong kepada sang tabib, bahwa sakit matanya bukannya sembuh, malahan bertambah parah.

Setelah diperiksa dengan cermat, sang tabib tahu bahwa wanita miskin itu telah berbohong kepadanya. Tabib itu menjadi tersinggung dan marah, tetapi tidak diperlihatkan kepada wanita itu. "Oh, kalau begitu akan kuganti obatmu", demikian jawabnya. "Nantikan pembalasanku!" serunya dalam hati. Benar, akhirnya wanita itu menjadi buta total karena pembalasan sang tabib.

Sebagai akibat dari perbuatan jahatnya, tabib itu telah kehilangan penglihatannya pada banyak kehidupan selanjutnya.

Mengakhiri ceritanya, Sang Buddha kemudian membabarkan syair di bawah ini:

"Manopubbangama dhamma
manosettha manomaya
manasa ce padutthena
bhasati va karoti va
tato nam dukkhamanveti
cakkamva vahato padam."

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu,
pikiran adalah pemimpin,
pikiran adalah pembentuk.
Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat,
maka penderitaan akan mengikutinya,
bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.

Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, di antara para bhikkhu yang hadir ada yang terbuka mata batinnya dan mencapai tingkat kesucian arahat dengan mempunyai kemampuan batin analitis "Pandangan Terang" (pati-sambhida).
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di