- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
[Bonus Riset Lengkapnya] Efek Samping Polemik KPK-Polri Mengancam IHSG
TS
presiden.rhoma
[Bonus Riset Lengkapnya] Efek Samping Polemik KPK-Polri Mengancam IHSG
[
sumber
Riset lengkapnya
* Enjoy it while it lasts. "People can foresee the future only when it coincides with their own wishes, and the most grossly obvious facts can be ignored when they are unwelcome," George Orwell. Kami menurunkan prediksi IHSG akhir tahun ini menjadi 5.450 (dari 6.350) dan 'country rating' menjadi NEUTRAL (dari sebelumnya OVERWEIGHT) karena ada risiko koreksi.
Strong Rally. Rally kuat akan terjadi dan disebabkan oleh berita positif lama (yang keluar sebelumnya). Empat berita positif lama tersebut adalah reformasi harga BBM bersubsidi, disetujuinya APBN-P 2015 yang fokus pada pengembangan infrastruktur, penurunan suku bunga, dan potensi naiknya peringkat (rating) utang Indonesia dari Standard&Poor's - dapat mengangkat IHSG ke 5.800 pada Juli, berdasarkan prediksi kami.
New negative developments. Sebagian besar perkembangan berita yang negatif sayangnya tidak diindahkan investor, dan sepertinya sentimen negatif yang terjadi akan terjadi pada pertengahan 2015. APBN-P 2015 menunjukkan adanya pertumbuhan 30% pada pendapatan pajak. Jika target pajak itu tidak terpenuhi, anggaran pemerintah untuk infrastruktur dapat dipangkas.
Adanya kecenderungan terjadinya pengaturan harga barang dan rusaknya aturan hukum (efek samping dari perseteruan KPK-Polri), dalam pandangan Mandiri Sekuritas akan menurunkan daya tarik Indonesia bagi investor langsung (direct investors).
Jika pengeluaran investasi jauh dari ekspektasi, maka realisasi pertumbuhan GDP tahun ini juga akan turun. Hal itu akan memicu gelombang penurunan prediksi laba, karena banyak dari valuasi pertumbuhan pendapatan sektoral yang signifikan sudah memfaktorkan (priced in) pertumbuhan ekonomi yang kuat.
Catalyst and Top Picks. Kami memprediksi kembalinya ketakutan investor pada keputusan The Fed yang akan mulai menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate tahun ini, yang dapat menekan rupiah dan pasar saham Indonesia. Hingga risiko negatif terhadap rupiah dan pasar saham itu terjadi, kami mengusulkan investor untuk mengikuti rally tersebut dengan beberapa topik pilihan saham.
Pilihan pertama adalah saham yang akan diuntungkan dari penurunan suku bunga (BDMN, LPCK, SMRA), dari booming infrastruktur (WIKA, WTON), dan dari pertumbuhan ekonomi yang kuat (BBRI, TLKM, TBIG, ULTJ).
PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN, Rp4.775, NEUTRAL, TP Rp4.600);
PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK, Rp11.725, BUY, TP Rp12.300);
PT Summarecon Agung Tbk (SMRA, Rp1.760, BUY, TP Rp1.550);
PT Wijaya Karya Tbk (WIKA, Rp3.530, BUY, TP Rp4.000);
PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON, Rp1.375, BUY, TP Rp1.600);
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI, Rp12.850, BUY, PT Rp13.500);
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM, Rp2.920, NEUTRAL, TP Rp2,.900;
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG, Rp9.250, BUY, TP Rp10.800).
(John Rachmat, Riset Mandiri Sekuritas)
Quote:
Jakarta -Pasar keuangan Indonesia memang masih semringah, terbukti dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat beberapa kali mencetak rekor dan hampir menyentuh level 5.500. Namun, ke depan ada potensi pasar akan berbalik arah.
Mandiri Sekuritas dalam risetnya Kamis (5/3/2015) menyebutkan bahwa saat ini investor masih terlena dengan sentimen positif lama. Setidaknya ada 4 faktor yang menyebabkan pelaku pasar masih menyimpan optimisme.
"Empat berita positif lama tersebut adalah reformasi harga BBM bersubsidi, disetujuinya APBN-P 2015 yang fokus pada pengembangan infrastruktur, penurunan suku bunga, dan potensi naiknya peringkat (rating) utang Indonesia dari Standard&Poor’s," sebut riset Mandiri Sekuritas.
Namun, ada sejumlah perkembangan negatif yang bisa membalik optimisme pasar. Sepertinya, sentimen negatif tersebut akan mulai terasa pada pertengahan tahun.
"Sebagian besar perkembangan berita yang negatif sayangnya tidak diindahkan investor, dan sepertinya akan terjadi pada pertengahan 2015. Misalnya APBN-P 2015 menunjukkan adanya pertumbuhan 30% pada pendapatan pajak. Jika target pajak itu tidak terpenuhi, maka anggaran pemerintah untuk infrastruktur dapat dipangkas," jelas riset tersebut.
Kemudian, ada kecenderungan terjadinya pengaturan harga barang dan rusaknya aturan hukum yang merupakan efek samping dari polemik antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Polri.
"Dalam pandangan Mandiri Sekuritas, ini akan menurunkan daya tarik Indonesia bagi investor langsung (direct investors)," tegas riset itu.
Melihat perkembangan tersebut, Mandiri Sekuritas pun menurunkan proyeksi IHSG tahun ini. Sepertinya akan sulit melihat IHSG menembus kisaran 5.500.
"Kami menurunkan prediksi IHSG akhir tahun ini menjadi 5.450 dari sebelumnya 6.350. Kemudian country rating menjadi neutral dari sebelumnya overweight. Ini karena ada risiko koreksi," papar riset Mandiri Sekuritas.
Mandiri Sekuritas dalam risetnya Kamis (5/3/2015) menyebutkan bahwa saat ini investor masih terlena dengan sentimen positif lama. Setidaknya ada 4 faktor yang menyebabkan pelaku pasar masih menyimpan optimisme.
"Empat berita positif lama tersebut adalah reformasi harga BBM bersubsidi, disetujuinya APBN-P 2015 yang fokus pada pengembangan infrastruktur, penurunan suku bunga, dan potensi naiknya peringkat (rating) utang Indonesia dari Standard&Poor’s," sebut riset Mandiri Sekuritas.
Namun, ada sejumlah perkembangan negatif yang bisa membalik optimisme pasar. Sepertinya, sentimen negatif tersebut akan mulai terasa pada pertengahan tahun.
"Sebagian besar perkembangan berita yang negatif sayangnya tidak diindahkan investor, dan sepertinya akan terjadi pada pertengahan 2015. Misalnya APBN-P 2015 menunjukkan adanya pertumbuhan 30% pada pendapatan pajak. Jika target pajak itu tidak terpenuhi, maka anggaran pemerintah untuk infrastruktur dapat dipangkas," jelas riset tersebut.
Kemudian, ada kecenderungan terjadinya pengaturan harga barang dan rusaknya aturan hukum yang merupakan efek samping dari polemik antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Polri.
"Dalam pandangan Mandiri Sekuritas, ini akan menurunkan daya tarik Indonesia bagi investor langsung (direct investors)," tegas riset itu.
Melihat perkembangan tersebut, Mandiri Sekuritas pun menurunkan proyeksi IHSG tahun ini. Sepertinya akan sulit melihat IHSG menembus kisaran 5.500.
"Kami menurunkan prediksi IHSG akhir tahun ini menjadi 5.450 dari sebelumnya 6.350. Kemudian country rating menjadi neutral dari sebelumnya overweight. Ini karena ada risiko koreksi," papar riset Mandiri Sekuritas.
sumber
Riset lengkapnya
Quote:
* Enjoy it while it lasts. "People can foresee the future only when it coincides with their own wishes, and the most grossly obvious facts can be ignored when they are unwelcome," George Orwell. Kami menurunkan prediksi IHSG akhir tahun ini menjadi 5.450 (dari 6.350) dan 'country rating' menjadi NEUTRAL (dari sebelumnya OVERWEIGHT) karena ada risiko koreksi.
Strong Rally. Rally kuat akan terjadi dan disebabkan oleh berita positif lama (yang keluar sebelumnya). Empat berita positif lama tersebut adalah reformasi harga BBM bersubsidi, disetujuinya APBN-P 2015 yang fokus pada pengembangan infrastruktur, penurunan suku bunga, dan potensi naiknya peringkat (rating) utang Indonesia dari Standard&Poor's - dapat mengangkat IHSG ke 5.800 pada Juli, berdasarkan prediksi kami.
New negative developments. Sebagian besar perkembangan berita yang negatif sayangnya tidak diindahkan investor, dan sepertinya sentimen negatif yang terjadi akan terjadi pada pertengahan 2015. APBN-P 2015 menunjukkan adanya pertumbuhan 30% pada pendapatan pajak. Jika target pajak itu tidak terpenuhi, anggaran pemerintah untuk infrastruktur dapat dipangkas.
Adanya kecenderungan terjadinya pengaturan harga barang dan rusaknya aturan hukum (efek samping dari perseteruan KPK-Polri), dalam pandangan Mandiri Sekuritas akan menurunkan daya tarik Indonesia bagi investor langsung (direct investors).
Jika pengeluaran investasi jauh dari ekspektasi, maka realisasi pertumbuhan GDP tahun ini juga akan turun. Hal itu akan memicu gelombang penurunan prediksi laba, karena banyak dari valuasi pertumbuhan pendapatan sektoral yang signifikan sudah memfaktorkan (priced in) pertumbuhan ekonomi yang kuat.
Catalyst and Top Picks. Kami memprediksi kembalinya ketakutan investor pada keputusan The Fed yang akan mulai menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate tahun ini, yang dapat menekan rupiah dan pasar saham Indonesia. Hingga risiko negatif terhadap rupiah dan pasar saham itu terjadi, kami mengusulkan investor untuk mengikuti rally tersebut dengan beberapa topik pilihan saham.
Pilihan pertama adalah saham yang akan diuntungkan dari penurunan suku bunga (BDMN, LPCK, SMRA), dari booming infrastruktur (WIKA, WTON), dan dari pertumbuhan ekonomi yang kuat (BBRI, TLKM, TBIG, ULTJ).
PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN, Rp4.775, NEUTRAL, TP Rp4.600);
PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK, Rp11.725, BUY, TP Rp12.300);
PT Summarecon Agung Tbk (SMRA, Rp1.760, BUY, TP Rp1.550);
PT Wijaya Karya Tbk (WIKA, Rp3.530, BUY, TP Rp4.000);
PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON, Rp1.375, BUY, TP Rp1.600);
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI, Rp12.850, BUY, PT Rp13.500);
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM, Rp2.920, NEUTRAL, TP Rp2,.900;
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG, Rp9.250, BUY, TP Rp10.800).
(John Rachmat, Riset Mandiri Sekuritas)
Diubah oleh presiden.rhoma 05-03-2015 11:37
0
695
Kutip
3
Balasan
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan