alexa-tracking

Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54e6a863a1cb17cf6a8b4575/potret-para-pecandu-opium-di-indonesia-pada-abad-19
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Quote:Opium adalah salah satu dari banyak jenis tanaman yang memberikan efek candu pada manusia. Bunga opium atau yang lazim disebut poppy, adalah tanaman yang banyak dikembangkan di dunia untuk memenuhi konsumsi orang-orang yang telah terkena candunya. Poppy memang tidak ditanam di Pulau Jawa, namun pada akhir abad ke 17, Belanda mendarat di Pulau Jawa dan bersaing keras dengan pedagang Inggris untuk menggencarkan pemasaran opium di Jawa.
Di luar dugaan, bangsa Indonesia yang kala itu masih “miskin” ternyata menjadi target empuk penjualan opium. Benda terlarang itu laku keras, bahkan ada beberapa balai atau warung yang khusus menjajakan opium dalam pipa-pipa panjang untuk dihisap. Berikut adalah beberapa foto bersejarah yang memperlihatkan pemakaian opium di Pulau Jawa pada abad ke 19.



Quote:1.Pria Tua Penikmat Opium
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Meski pada awal kemunculannya opium digadang-gadang sebagai sesuatu yang bisa “menambah stamina” namun tentu saja hal itu hanyalah omong kosong belaka. Opium memberi efek relaksasi pada tingkat tertentu, hingga penggunanya tidak sadarkan diri. Pengguna opium juga mengalami penurunan berat badan yang cukup drastis. Hal tersebut terjadi pada pria tua yang sedang menghisap opium ini.
Poppy yang telah kering dirajang dan dicampur dengan tembakau halus. Campuran tersebut kemudian dijadikan bola-bola kecil, seukuran kacang tanah. Kemudian bola-bola candu tersebut dimasukkan ke dalam pipa penghisap dan dibakar dengan api dari lampu minyak. Ketika asap opium memasuki paru-paru sang lelaki tua, dia merasa begitu rileks hingga tampak seperti melayang.



Quote:2.Pernah Dilarang oleh Pakubowono II
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Pada masa keemasannya, opium laku keras di Pulau Jawa. Benda haram itu dipasarkan di kota maupun di desa. Tidak tanggung-tanggung, para penjual opium asal Belanda bahkan memasarkan benda memabukkan itu kepada orang-orang miskin dengan rayuan-rayuan maut.
Kala itu, bahkan pesta panen di kebun sering diikuti oleh pesta opium. Dalam sebuah hajatan, tidak jarang sang pemilik pesta menghidangkan candu sebagai penghibur bagi para tamunya. Pemimpin desapun sering disambut kedatangannya dengan pipa yang penuh poppy. Hal ini membuat Raja Surakarta, Pakubuwono II bertekad untuk melarang semua keturunannya untuk menghisap opium.



Quote:3.Mengorbankan Penghasilan untuk Opium
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Masyarakat Indonesia kala itu sangat terpengaruh akan kepopuleran opium. Rakyat yang berprofesi sebagai buruh tani, pedagang dan kuli perkebunan tidak segan-segan menghabiskan uang mereka untuk opium. Rata-rata penghasilan mereka sehari hanya 20 sen. Namun, mereka tidak segan-segan menghabiskan 5 sen, atau seperempat dari penghasilan mereka untuk menghisap opium.
Meski diduga tidak sempat mengalami kecanduan berat, namun konsumsi opium tersebut cukup mengkhawatirkan. Rakyat menjadi malas-malasan bekerja dan badan mereka tampak kurus kering. Sementara Belanda memanen keuntungan besar dari penjualan candu tersebut.



Quote:4.Bumi Pasundan Menolak Keras Opium
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Meski penyebaran opium telah merata dan begitu terkenal, di masa-masa awal rakyat Pasundan tidak tertarik dengan benda tersebut. Bahkan, mereka menyikapi hal ini dengan cukup tegas dan membuat larangan resmi soal penggunaan opium. Sepanjang abad 19, Pasundan dinyatakan sebagai kawasan bebas opium bersama-sama dengan Keresidenan Priangan dan Banten.
Namun pada awal abad ke 20 opium akhirnya masuk juga ke tiga kawasan tersebut. Pemerintah kolonial Belanda mencabut hak monopoli peredaran opium dari para pedagang Cina. Sejak itu pemasaran dan penyebaran opium semakin menjadi-jadi.



Quote:5.Diimpor dari India dan Diolah di Jawa.
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Belanda mulai mendirikan bandar-bandar opium secara resmi di berbagai kawasan di Jawa pada tahun 1830. Para kolonialis Belanda mengimpor opium mentah yang dijual di Calcutta, India. Penglolahan bahan mentah itu kemudian diserahkan kepada para pedagang dan distributor di Pulau Jawa.
Pemerintah Belanda menunjuk para pedagang Cina untuk mengawasi peredaran opium di beberapa kawasan di Jawa. Mereka mengenakan baju resmi lengkap dengan lambang kekuasaan dan para pengawalnya. Semakin banyak opium yang berhasil mereka jual, semakin banyak pula kontribusi mereka bagi pemerintahan Belanda di Indonesia. Opium juga menjadi indikasi kemakmuran suatu wilayah kala itu.



Quote:[Dari sejarah di atas hendaknya kita belajar, bahwa narkoba dalam bentuk apapun adalah sebuah bentuk penjajahan. Akibat barang terlarang tersebut, para generasi kita rusak fisik dan mentalnya. Sementara negara penghasil dan pemasok narkoba itu meraup keuntungan yang tidak sedikit. Itu tentu merugikan kita.
Menghindari diri dari narkoba adalah cara terbaik untuk memutus rantai setan tersebut. Kita harus sadar bahwa bangsa ini pernah rugi besar dan dieksploitasi habis-habisan karena barang terlarang. Dan sebagai generasi muda, kita tentu tidak mau bangsa kita dijajah lagi seperti dulu



Quote:
Spoiler for Sumber:



Quote:Jangan Lupa Tinggalkan Komentar ya gan/sis
Bantu Juga emoticon-Rate 5 Star ya
emoticon-Cendol (S)


Quote:
Spoiler for cendol:
Quote:Opium, antara Obat dan Racun


Quote:Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Opium, apiun, atau candu (poppy) adalah getah bahan baku narkotika yang diperoleh dari buah candu (Papaver somniferum L. atau P. paeoniflorum) yang belum matang.
Opium merupakan tanaman semusim yang hanya bisa dibudidayakan di pegunungan kawasan subtropis. Tinggi tanaman hanya sekitar satu meter. Daunnya jorong dengan tepi bergerigi. Bunga opium bertangkai panjang dan keluar dari ujung ranting. Satu tangkai hanya terdiri dari satu bunga dnegan kuntum bermahkota putih, ungu, dengan pangkal putih serta merah cerah. Bunga opium sangat indah hingga beberapa spesies Papaver lazim dijadikan tanaman hias. Buah opium berupa bulatan sebesar bola pingpong bewarna hijau.
Istilah untuk candu yang telah dimasak dan siap untuk dihisap adalah madat. Istilah ini banyak digunakan di kalangan para penggunanya.
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
"Candu mengajarkan hanya satu hal, yaitu bahwa selain penderitaan fisik, tidak ada hal yang nyata. "
André Malraux (MAN'S FATE)



Quote:Produksi Opium
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Buah opium yang dilukai dengan pisau sadap akan mengeluarkan getah kental berwarna putih. Setelah kering dan berubah warna menjadi cokelat, getah ini dipungut dan dipasarkan sebagai opium mentah.
Opium mentah ini bisa diproses secara sederhana hingga menjadi candu siap konsumsi. Kalau getah ini diekstrak lagi, akan dihasilkan morfin. Morfin yang diekstrak lebih lanjut akan menghasilkan heroin. Limbah ekstrasi ini kalau diolah lagi akan menjadi narkotik murah seperti "sabu-sabu" (Metamfetamia).
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Metamfetamina (metilamfetamina atau desoksiefedrin), disingkat met, dan dikenal di Indonesia sebagai sabu-sabu, adalah obat psikostimulansia dan simpatomimetik. Dipasarkan untuk kasus parah gangguan hiperaktivitas kekurangan perhatian atau narkolepsi dengan nama dagang Desoxyn, yang akhirnya disalahgunakan sebagai narkotika. "Crystal meth" adalah bentuk kristal yang dapat dihisap lewat pipa. Metamfetamina pertama dibuat dari efedrina di Jepang pada 1893 oleh Nagai Nagayoshi.
Tanaman opium yang berasal dari kawasan pegunungan Eropa Tenggara ini sekarang telah menyebar sampai ke Afganistan dan "segitiga emas" perbatasan Myanmar, Thailand, dan Laos.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, Afganistan saat ini merupakan penghasil opium terbesar di dunia dengan 87%. Laos juga merupakan salah satu penghasil terbesar.



Quote:Efek Opium
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Dijaman dahulu kala, opium sering digunakan sebagai obat-obatan, pelengkap acara ritual keagamaan, dan komoditi perdagangan.
Efek dari merokok opium kurang lebih sama dengan efek menggunakan morfin atau heroin. Efek ini dapat berlangsung selama 3-6 jam dan dapat mencakup hilangnya rasa sakit dan kecemasan, penurunan kewaspadaan dan merasa santai, pernapasan diperlambat, pandangan terbatas, dan mual.
Ketika disalahgunakan, penggunaan obat hasil pengolahan opium bisa menimbulkan kecanduan. Opium, ketika pertama kali digunakan akan memberikan rasa tenang yang ekstrim, euforia atau rasa kebahagiaan bagi pengguna. Semua kesulitan atau masalah tampaknya hilang dan menjadi hal yang remeh bagi mereka. Tapi ketika efek dari obat tersebut habis, mimpi buruk dan halusinasi akan mungkin terjadi, dan itu adalah titik dimana pengguna membutuhkan lebih banyak opium untuk memenuhi kebutuhan mereka (kecanduan).



Quote:Faktor Pendorong Penggunaan Opium
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan seseorang mengkonsumsi opium, diantaranya:
-Penggunaan narkotika oleh anggota keluarga dan teman.
-Keluarga miskin asuhan di mana cinta, kehangatan, pujian, dan penerimaan sangat kurang.
-Kurangnya arahan dari keluarga tentang cara-cara yang tepat untuk bergaul dengan orang lain.
-Kemiskinan, kondisi hidup yang buruk, atau isolasi dari orang lain.
-Kegagalan di sekolah.
-Kegagalan untuk mengembangkan kemampuan untuk bergaul dengan teman sebaya.
-Tumbuh di sebuah lingkungan di mana penggunaan narkoba adalah hal yang umum dan diterima secara luas.
-Penggunaan resep medis untuk alasan yang sah. Sebagai contoh, dokter mungkin meresepkan obat kepada individu yang menderita sakit punggung. Sementara obat ini dimaksudkan untuk meringankan rasa sakit, mungkin juga mengandung beberapa efek samping adiktif. Penggunaan obat tersebut dimonitor oleh dokter, tetapi tergantung juga pada pasien apakah ia menggunakan obat sesuai dengan yang diresepkan.



Quote:Penyebab Kecanduan
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Kecanduan bisa terjadi karena dua alasan, yaitu alasan fisiologis dan psikologis. Pertama, tubuh seseorang bisa menjadi secara biologis tergantung pada sesuatu. Artinya, tubuh mungkin mulai membutuhkan dan berharap bahwa ia akan menerima suatu zat tertentu setiap hari atau setiap jam. Jika tidak menerima zat itu, tubuh akan merespon dengan menjadi sakit. Ketika ini terjadi, orang itu dikatakan secara fisiologis tergantung pada zat tersebut.
Orang juga dapat menjadi kecanduan secara psikologis terhadap zat tertentu. Artinya, zat tersebut membuat mereka merasa bahagia, lebih percaya diri, atau lebih baik dalam beberapa hal. Dalam rangka memelihara perasaan ini, mereka percaya bahwa mereka harus terus menggunakan zat tersebut yang memberi mereka perasaan ini. Dalam hal ini, seseorang dikatakan secara psikologis tergantung pada zat-zat tersebut. Dalam banyak kasus, kecanduan melibatkan baik aspek fisiologis maupun psikologis.



Quote:Cara Mengobati Kecanduan Opium
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Berkat kemajuan bioteknologi, kini para dokter dapat memahami lebih baik apa yang tidak diketahui tiga puluh tahun yang lalu. Narkotik seperti heroin, opium, morfin, kodein dan metadon dapat menyebabkan kelainan susunan saraf pusat dan penyakit neurologis. Kelainan tersebut adalah berupa bertambahnya jumlah reseptor opiat m yang menjadi aktif di otak, sesuai dengan jumlah opiat yang ada di dalam darah. Hal ini diketahui berkat adanya alat canggih PET Scan. Jumlah reseptor yang banyak ini mengakibatkan timbulnya craving (sugesti, rasa rindu pada narkotik). Tidak hanya para dokter, namun masyarakat awam pun dapat bermain-main dengan banyak obat. Seseorang dapat mengkonsumsi heroin sekali, dua kali, tiga kali, lima kali barangkali, dan semuanya tampak baik-baik saja. Kehidupan berjalan normal, sampai pada suatu hari, orang tersebut bangun di pagi hari dan mendapatkan dirinya tidak lagi seperti biasanya, mengalami diare dan muntah yang merupakan permulaan tanda-tanda kecanduan/ketagihan. Sejak itu, konsumsi heroin merupakan keharusan, kalau tidak mau menderita nyeri. Tidak ada pilihan lain, dan mulailah mereka menyembunyikan problemnya, berbohong dan mau melakukan apa saja untuk mendapatkan heroin.

Selama ini, problema kecanduan narkotik ditangani oleh dokter psikiater dan ahli psikologi, namun menurut metode Waismann, apa yang mereka derita bukanlah primer problema psikologis. Sesungguhnya, ini adalah problema neurologis yang mengakibatkan efek psikologis sekunder.

Pasokan narkotik eksogen (dari luar) yang kontinyu menimbulkan kerusakan sistem yang sangat mendasar dan sangat halus dari keseimbangan alami zat-zat mirip narkotik yang dihasilkan otak. Zat-zat tersebut mengatur nyeri, cairan, pola tidur, tekanan darah dan fungsi-fungsi penting lainnya. Narkotik bekerja setelah terikat pada reseptor di otak. Dengan penggunaan kronik, otak beradaptasi terhadap narkotik yang ada. Sekali terjadi pengaturan baru yang berdasarkan jumlah narkotik eksternal, penghentian tiba-tiba pasokan narkotik akan menyebabkan distres berat pada tubuh. Bila pasokan narkotik dihentikan, timbullah ketidakseimbangan biokimiawi. Khususnya, bagian otak yang disebut lokus seruleus berubah menjadi hiperaktif dan menghasilkan hormon stres noradrenalin. Ini memicu nyeri, spasme otot dan diare, yang menjadikan gejala putus obat (sakau) ini disebut cold turkey karena adanya merinding / bulu roma berdiri akibat spasme otot sekitar folikel rambut, kicking the habit karena adanya gerakan tungkai yang tidak disadari.

Penghentian konsumsi narkotik menyebabkan muntah, diare, nyeri perut, nyeri tulang seluruh tubuh, berkeringat, hidung meler dan susah tidur. Kondisi kacau ini akan berlangsung selama 7-10 hari. Itulah sebabnya, separo pecandu heroin tidak tahan akan proses ini. Meskipun tidak ada pasokan dari luar, tubuh masih mempunyai cadangan dalam tulang dan jaringan lemak. Karenanya, diperlukan waktu lama sampai seluruh persediaan narkotik dalam tubuh habis. Bila sudah tidak ada lagi kandungan heroin, tubuh memulai proses neuroregulasi.

Endorfin mengalir ke otak dan ditampung oleh reseptor-reseptor opioid. Begitu pula, heroin juga ditampung oleh reseptor-reseptor yang sama. Dalam metodenya Waismann memblok reseptor-reseptor ini dan berapapun jumlah heroin dalam tubuh, heroin tersebut tidak dapat lagi mencapai otak. Dengan begitu, pasien menjadi ‘bersih’ seketika. Blokade reseptor dimulai 20 menit setelah pemberian naltrekson per oral/sonde lambung. Karena pasien menjadi bersih begitu cepat, semua penderitaan yang dialami pasien sangatlah parah, namun tidak berlangsung selama 10 hari, hanya 4 jam. Kendatipun periode ini relatif sangat pendek, pasien haruslah diberi sedasi berat agar tidur selama proses berlangsung.

Kecanduan obat, meski dengan berbagai perilaku negatif tidak dapat disembuhkan secara efektif oleh ahli psikologi. Mereka yang kecanduan heroin menderita rasa nyeri yang hebat dan mulai berperilaku aneh-aneh. Karena perubahan perilaku ini, mereka diserahkan kepada para psikiater. Pola sosial ini perlu ditinjau kembali, karena sesungguhnya ada korelasi antara reseptor opioid, kecanduan, cara kerja dan segala penyakitnya. Dengan membalik proses ini, kita memulihkan pasien dari ketergantungan opiat.

Blokade reseptor dilakukan dengan tablet antagonis (penawar) narkotik yang membuat otak menjadi bersih. Kala otak menjadi bersih, pasien akan mengalami gejala putus obat yang paling berat, sehingga pasien perlu dibius. Penawar narkotik sudah dipakai selama 30 tahun untuk menawarkan narkotik. Ini dilakukan oleh dokter spesialis anestesiologi dalam profesi mereka sehari-hari. Namun, baru belakangan ini dimanfaatkan dalam bidang penyembuhan kecanduan narkotik.

Seorang psikiater akan berbicara panjang lebar untuk mendefinisikan ‘kecanduan’, Waismann mendefinisikannya sebagai neuroadaptasi. Apabila elemen baru dimasukkan ke dalam daur hayati (biology cycle) seseorang, otak akan beradaptasi terhadap pendatang baru ini dan elemen baru ini menjadi bagian daur hayati orang tadi. Manakala elemen ini dikeluarkan, tubuh akan menderita. Nyamuk, laba-laba dan sebagainya akan mati jika lingkungan berubah, namun manusia dapat beradaptasi. Narkotik eksogen yang dikonsumsi akan masuk ke otak dan mengubah dinamik kesehatan tekanan darah, denyut jantung dan regulasi rasa nyeri dan penderitaan akan berat jika zat narkotik tersebut dikeluarkan. Dengan konsep ini Waismann dapat membuktikan bahwa apa yang dinamakan ‘kepribadian pecandu’ tidak ada.

Pengobatan (terapi medikamentosa) kecanduan narkotik pada dasarnya tidaklah sulit karena semua obat yang diperlukan telah tersedia. Digunakan antagonis yang berefek lama yang akan mempertahankan blokade reseptor. Tidak lagi digunakan istilah ‘detoksifikasi’ melainkan diperkenalkan konsep neuroregulasi. Dengan istilah ini, dimaksudkan neuroregulasi yang dipercepat yang membalikkan ketergantungan fisis dan psikologis, sedangkan detoksifikasi hanyalah berarti membersihkan tubuh dari narkotik.

Oleh karena adanya masalah kejiwaan (stres dan sebagainya), ikut-ikutan teman, mendapat narkotik karena menderita nyeri kronik atau menyusu ibu yang pecandu opiat. Seseorang dapat mengkonsumsi opiat untuk waktu yang cukup lama dan akhirnya menjadi pecandu.

Konsumsi narkotik eksogen yang kronik ini menyebabkan reseptor opioid makin lama makin banyak yang aktif. Terjadilah ketidakseimbangan kimiawi yang menyebabkan kelainan sistem saraf pusat yang dapat mengakibatkan distres fisis dan aspek psikologis sekunder, dari yang ringan sampai berat.

Dengan detoksifikasi cepat (4-5 jam) sebagian besar opiat akan keluar dari tubuh. Sesudah proses detoksifikasi ini, dimulailah proses neuroregulasi (dengan bantuan naltrekson) selama 9-14 bulan. Bergantung pada berat ringan kelainan psikologis yang timbul pasien perlu pula mendapat bantuan psikososial / mental dari ahli psikologi, psikiater dan atau agama. Mental pasien perlu diperkuat agar tidak mudah jatuh menjadi pecandu lagi, bilamana sudah normal kembali (jumlah reseptor yang aktif kembali seperti semula).


Quote:
Spoiler for sumber:






Quote:Pengertian Zat Adiktif


Quote:Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Zat adiktif adalah istilah untuk bahan-bahan alamiah, semi sintetis maupun sintetis yang pemakaiannya dapat menimbulkan ketergantungan fisik yang kuat dan ketergantungan psikologis yang panjang (drug dependence). Kelompok zat adiktif adalah narkotika (zat atau obat yang berasal dari tanaman) atau bukan tanaman, baik sintetik maupun semisintetik, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, mengurangi sampai menghilangkan rasa sakit, dan dapat menimbulkan ketergantungan(Undang-UndangNo. 22 tahun 1997).
Golongan I:Narkotika hanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta memiliki potensi sangat tinggi untuk mengakibatkan sindrom ketergantungan. Jenis-jenis: Tanaman koka, kokain, ganja, asetorfina, etorfina, desomorfina, heroina, ketobemidona, MPPP, PEPAP, Tiofentanil, dll .
Golongan II:Narkotika untuk pengobatan yang digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta memiliki potensi kuat untuk mengakibatkan sindrom ketergantungan. Jenis-jenis: Alfametadol, diampromida, difenoksin, hidrokodona, fenomorfan, fentanil, metadona, petidina, opium, kodeina,dll.
Golongan III:Narkotika untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta berpotensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan. Jenis-jenis: Asetildihidrokodeina, etilmorfina, kodeina, nikokodeina, korkodeina, polkodina, propiram, dekstropropoksifena, dihodrokodein.



Quote:Ganja(Mariyuana)
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Ganja terbuat dari daun, bunga, biji, dan ranting muda tanaman mariyuana (Cannabis sativa) yang sudah kering. Kandungan zat kimia delta-9-tetrahydrocannabinol (THC) di dalam daun ganja dalam dosis tertentu dipercaya dapat memengaruhi perasaan, penglihatan, dan pendengaran. Ganja biasanya disalahgunakan dengan cara dihisap sebagai rokok atau dikunyah untuk mendapatkan efeknya yang memabukkan (intoksikasi).



Quote:Opium
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Merupakan narkotika dari golongan opioida. Opium diambil dari getah buah mentah Pavaper sommiverum. Opium dikenal juga dengan sebutan candu, morfin, heroin, dan putau. Pemakaian yang terlalu banyak menyebabkan pingsan, atau bahkan mati. Jika pecandu menghentikan pemakaian opium akan menderita penyakit penghentian, dengan tanda-tanda seperti kejang, muntah, diare, berkeringat dan sukar tidur.



Quote:Morfin
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Morfin berasal dari tanaman opium atau candu. Opium mentah mengandung 4–21 % morfin. Morfin mempunyai sifat penahan nyeri yang kuat, tidak berbau, rasanya pahit, berupa kristal putih yang dapat berubah warna menjadi kecokelatan. Di dunia medis, morfin digunakan sebagai bahan sedatif (penenang) dan pembunuh rasa sakit.



Quote:Heroin
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Heroin atau diamorfin adalah jenis obat analgesik (penahan nyeri) yang kuat dan merupakan turunan sintetis dari morfin. Heroin merupakan senyawa turunan (hasil sintesis) dari morfin yang dikenal dengan sebutan putau. Heroin biasanya berbentuk serbuk putih dan pahit rasanya. Heroin dapat menimbulkan rasa kantuk, halusinasi, dan euphoria.



Quote:Kodein
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Kodein merupakan senyawa turunan dari morfin, tetapi memiliki kemampuan menghilangkan nyeri lebih lemah. Kodein biasa dipakai dalam obat batuk dan obat penghilang rasa nyeri. Menyebabkan rasa sering mengantuk, perasaan gembira berlebihan, banyak berbicara sendiri, kecenderungan untuk melakukan kerusuhan, merasakan nafas berat dan lemah, ukuran pupil mata mengecil, mual, susah buang air besar, dan sulit berpikir.



Quote:Kokain
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Kokain berasal dari tanaman coca (Erythroxylon coca). Efek narkotik dari kokain dan senyawa lain berada di dalam daun coca. Daun coca (Erythroxylon coca) menghasilkan senyawa kimia alkaloid yang bernama kokain dan senyawa-senyawa turunan yang sejenis dan dipakai sebagai anaestetik (pembius)



Quote:Sedativa dan Hipnotika (Penenang)


Quote:Zat penenang (sedativa-hipnotika) misalnya dalam dunia kedokteran adalah pil BK dan magadon. Pemakaian sedativa-hipnotika dalam dosis kecil dapat menenangkan, sedangkan dalam dosis besar dapat membuat orang yang memakannya tertidur. Mula-mula gelisah, mengamuk lalu mengantuk, malas, daya pikir menurun, bicara dan tindakan lambat. Jika sudah kecanduan, kemudian diputus pemakaiannya maka akan menimbulkan gejala gelisah, sukar tidur, gemetar, muntah, berkeringat, denyut nadi cepat, tekanan darah naik, dan kejang-kejang.


Quote:Alkohol
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Alkohol diperoleh melalui proses peragian (fermentasi) sejumlah bahan, seperti beras ketan, singkong, dan perasan anggur. Berdasarkan kandungan alkoholnya, minuman keras dikelompokkan menjadi golongan:
1) A, berkadar etanol 1–5 %
2) B, berkadar etanol 5–20 %
3) C, berkadar etanol 20–50 %.



Quote:Rokok
Potret Para Pecandu Opium di Indonesia Pada Abad 19
Rokok mengandung sejumlah zat yang dapat menyebabkan ketergantungan atau ketagihan. Bahan-bahan kimia yang terdapat dalam rokok, antara lain nikotin, karbon monoksida, senyawa kimia dalam tar, senyawa golongan alkohol, dan senyawa golongan amina.



Quote:
Spoiler for sumber:
ceking ceking begitu orangnya
Udah miskin malah beli opium segala -_-
Kurus kering kurang gizi, anak istri dikasih makan apa?
kesian juga yak, yang jadi korban kebanyakan rakyat miskin.... emoticon-Berduka (S)
ini sejenis narkoba ya.
sampe sekarang itu gan
wah baru denger ane,,

semacam narkoba kah??

emoticon-Bingung (S)
emoticon-Takut (S) bahaya bgt klo mengkonsumsi nya emoticon-Takut (S)

semoga aja ga ada lagi emoticon-Ngakak (S)
bakar lagi gaan
amit2 jauh2 ane dari yg bgituan emoticon-Takut (S)
Ngeri ngeri gan emoticon-Takut
wah udah kurus kering gitu gan, emoticon-Takut (S)
Kasian ya kurus kering kerontang emoticon-Mewek emoticon-Mewek
Ngeri ngeri gan
Sampe' kering kering gitu gan orangnya emoticon-Matabelo
Quote:Original Posted By ezakfs
ceking ceking begitu orangnya

iya gan emoticon-Sorry
bantu emoticon-Rate 5 Star ya
Quote:Original Posted By namakulyna
Udah miskin malah beli opium segala -_-
Kurus kering kurang gizi, anak istri dikasih makan apa?

kalo udh kecanduan susah gan..
bantu emoticon-Rate 5 Star ya
Quote:Original Posted By jaunfuat
emoticon-Takut (S) bahaya bgt klo mengkonsumsi nya emoticon-Takut (S)

semoga aja ga ada lagi emoticon-Ngakak (S)

semoga gan,ga ada lagi yang mengkonsumsi emoticon-Matabelo
bantu emoticon-Rate 5 Star ya

yg rokok ane demen gan, yg lain belum nyoba emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By jambanhanyutt
yg rokok ane demen gan, yg lain belum nyoba emoticon-Big Grin

kalo bisa juga rokok mulai dikurang-kurangin gan...bahaya emoticon-Takut