alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
4.73 stars - based on 22 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54a6adcba2cb1759518b457b/ingnue

Ingénue

Halo, para agan dan aganwati. emoticon-I Love Kaskus (S) Ane baru tahu forum Stories from the Heart beberapa hari lalu dari teman-teman ane. Cerita yang pertama kali dibaca ama ane tuh Love, Lie, Lust, Lunacy oleh sis wiltedrose. Selain itu, ane juga membaca cerita-cerita yang dibuat oleh para TS lainnya. Isi-isinya keren semua, ada romance dan juga komedi. Salut untuk para TS SFTH. emoticon-Jempol

Akhirnya, ane memutuskan untuk menulis juga. Kisah ini diambil dari pengalaman ane yang ibarat gado-gado campur lotek (?). Untuk rules, sudah disebutkan di sticky post forum SFTH. emoticon-Smilie

Nama-nama di sini telah disamarkan agar privasi mereka terjaga. Jadi, tidak ada sesi stalking dan kepo pihak yang terlibat dalam cerita ini. Jika ada yang memang ingin tau banget banget banget, belajarlah untuk menghargai privasi seseorang. Thank you so much for reading! emoticon-I Love Kaskus (S)

Maaf jika gaya tulisan ane masih kurang bagus. Kritik dan saran dari pembaca akan disambut hangat! emoticon-Malu (S)

Btw, karena TS yang sebentar lagi sedang menyusun skripsi, jadinya cerita ini hanya di-update sewaktu weekend saja. emoticon-Smilie

Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh: immanence
Urutan Terlama
Halaman 1 dari 16
Prologue

Mereka berkata bahwa dalam Matematika, ada tiga kisah cinta yang paling menyedihkan. Kisah-kisah itu melibatkan sepasang garis pada bidang koordinat. Mereka adalah garis tangen, garis parallel, dan garis asimtot.

Garis-garis tangen yang hanya memiliki satu kesempatan untuk bertemu, tetapi mereka akan berpisah untuk selamanya. Mereka jatuh pada pandangan pertama, tetapi tidak pernah dapat untuk saling menyapa lagi.

Garis-garis parallel yang ditakdirkan agar tidak bisa bertemu satu sama lain.

Dari ketiga pasangan itu, kisah yang paling sedih datang dari garis-garis asimtot. Mereka bisa saling dekat dan semakin dekat, tetapi mereka tidak akan pernah bisa bersama. Sehebat apapun usaha mereka, mereka tidak akan pernah mencapai impian mereka.

Aku pun mendengus. Perbedaan freewill dan takdir memang setipis kertas.

Namun, aku terkadang termenung sambil bertanya-tanya apakah ada garis yang akan menemaniku nanti? Atau, apa aku akan menjadi suatu garis linier yang berjuang untuk melintang sendirian? Lagi-lagi, aku menerawang, meminta jawaban yang tak kunjung datang.
Diubah oleh immanence
Part 1: Black Star

Semuanya dimulai pada hari Selasa di menjelang akhir tahun 2009. Aku dan teman-teman kursus bahasa Inggris kedatangan tamu baru, pindahan dari kelas hari Senin-Rabu (di tempat les ini, murid-murid bisa memilih kelas yang ada pada hari Senin-Rabu, Selasa-Kamis, Jumat, atau Sabtu). Dia berperawakan kurus tinggi dan memakai pakaian serba hitam. Matanya melemparkan pandangan kepada orang-orang asing di kelas dengan santai.

“Halo, nama saya Daniel. Senang bertemu kalian,” ucapnya dengan nada suara yang lembut. “Saya kuliah di U**** jurusan HI (Hubungan Internasional).”

Aku langsung sumringah dan berbisik ke Fia, “HI coy, di U**** lagi.” Jawabanku pun disambut anggukan semangat. Aku memang ingin masuk jurusan HI nanti karena aku senang mempelajari bahasa-bahasa asing. Aku pun bergabung dengan klub Bahasa Jerman di sekolah dan ingin mengambil kuliah les bahasa Perancis nanti.

Ibu guru pun tersenyum. “Terima kasih, Daniel. Nah, giliran kalian yang memperkenalkan diri.”

Murid-murid di kelasku tidak terlalu banyak. Maklum, kami berada di tingkat akhir. Saat giliranku tiba, aku pun berdeham. “Nama saya Vanessa. Saya bersekolah di SMA * kelas 1.” Daniel lalu mengangguk perlahan sambil berusaha mengingat nama setiap orang.

Sesi perkenalan pun selesai dan ibu guru mempersilakan Daniel untuk duduk.

Saat ibu guru menerangkan kosakata bahasa Inggris, aku sesekali melihat Daniel di ujung kelas. Dia sedang antusias membaca buku. Well, dia lumayan ganteng dan bawaannya cool banget. Entah kenapa, aku benar-benar tertarik untuk mengenal orang ini lebih jauh. Mungkin, aku bisa bertanya soal jurusan HI dengan Daniel sehabis les untuk permulaan.

Dua jam kemudian, kelas pun akhirnya selesai. Saat aku sedang beres-beres, Daniel sudah keluar dengan cepat. Tanganku pun memasukkan buku dan alat tulis dengan asal ke dalam tas dan langsung berlari mengejar Daniel. Untungnya Daniel belum turun tangga sehingga aku bisa menyusulnya. “Eh Daniel!” seruku sambil berjalan di sebelahnya.

“Eh, ada apa?” jawab Daniel bingung.

“Kamu kuliah di HI ya? Boleh nanya soal HI nggak? Soalnya aku mau ngambil jurusan itu.”

Daniel pun menggaruk kepala dan mengernyit. “Lo salah denger kali. Gue anak IT.”

“Oh. Kirain.” Keadaan seketika menjadi canggung. Kata ‘IT’ pun masih asing di telingaku.

“Gapapa kok, nyante aja. Nama lo…siapa tadi ya gue lupa…”

“Vanessa.”

“Oh ya, Vanessa.” Daniel terkekeh dan berhenti sejenak saat kami telah melewati anak tangga terakhir. “Gue duluan ya.” Dia melambaikan tangan dan beranjak pergi.

Aku terkadang membenci basa-basi, tetapi nada suaranya yang lembut seperti cokelat yang lumer di atas kue membuat basa-basi ini terasa istimewa. Aneh. Aku malah ingin mengobrol dengan Daniel lebih lama dan merasa agak sedih karena Daniel terburu-buru ingin pulang. Aku pun pergi ke lobby utama dan sesekali memandang Daniel pulang dengan motornya.
Diubah oleh immanence
Part 2: Vivace

Hari Kamis. Beruntung, Daniel datang hari ini dan fokusku terhadap apa yang dibahas ibu guru mengikis karena kehadirannya. Aku menjadi tidak sabar dan berharap agar kelas ini cepat selesai. Daniel terlambat datang sehingga aku tidak bisa mengobrol dengannya lebih dulu. Seperti pada film romansa, aku sesekali melihat Daniel sekilas, walaupun Daniel tidak menyadari gerak-gerikku yang mencurigakan.

“Hai, Niel,” sapaku dengan nama panggilannya saat kelas sudah usai.

“Oh hei, Nes.” Ia pun menyunggingkan senyum. “Ada apa?”

“Emm…aku mau nanya soal musik nih. Musisi yang kamu suka apa aja?” Pertanyaan yang selalu aku lancarkan sebagai pembuka kepada banyak orang. Aku memang ingin menjelajahi pengetahuan musik sebanyak-banyaknya. Salahkan virus ini kepada dua teman sekolahku, Dwi dan Jati, yang telah mengenalkanku pada Bjork, Sigur Ros, Mew, dan musisi-musisi lainnya yang belum pernah keketahui sebelumnya.

“Favorit gue sih Muse. Mereka itu keren banget sumpah! Cuman tiga orang yang mainnya, tetapi serasa ada sepuluh orang. Konsernya…ah parah deh! Gue udah nonton H.A.A.R.P. dan itu salah satu konser terbaik yang pernah gue tonton.”

Aku pun terkejut dalam sepersekian detik dan langsung berseru kagum, “Kebetulan, aku juga suka sama Muse! Udah suka Muse dari kapan?”

“Udah lumayan lama sih. Kayaknya dari gue awal SMA kalo nggak salah. Ah sayang banget dah gue nggak nonton waktu mereka ke Jakarta. Kalo lo?”

“Sama, Niel, gegara umur aku masih 13 tahun waktu itu jadi ga nonton. Kalo aku sih udah dari SD kelas 5.”

“Wah keren, Nes. Dari kecil udah suka Muse. Oh ya, gue punya H.A.A.R.P. asli yang gue beli di Amazon. Entar gue kasih liat deh. Minjem juga boleh kok.” Daniel nyengir lebar dan senang bertemu seseorang yang seleranya sama dengannya. Aku juga merasakan hal yang sama.

“Serius?! Ya ampun, makasih banget, Niel!”

Kami pun berbincang-bincang dengan semangat sambil melangkah keluar dari kelas. Obrolan kami sebagian besar seputar musik Rock dan Alternative. Kami saling bertanya apakah kami masing-masing punya koleksi lagu Rock dan Alternative yang keren untuk dibarter. Daniel pun tak henti-hentinya mendoktrin aku dengan band-band favoritnya dan menyarankan agar aku mendengar musik mereka. Pemakaian “aku-kamu” milikku dan “gue-elo”-nya Daniel menjadi dua nada berbeda yang selaras. Aku sama sekali tak menyangka bahwa Daniel mempunyai selera musik yang tidak jauh berbeda denganku. Rasanya seperti bertemu dengan anggota keluarga baru dan kelihatannya Daniel berpikir hal yang sama.

Pembicaraan yang asyik ini terpaksa diputus saat matahari terbenam menerpa kami di lobby.

“Nes, gue cabut duluan ya. Nanti kita bakal ngobrol lagi.”

Saat Daniel melangkah, aku tiba-tiba teringat satu hal. “Eh, Niel, boleh minta nomor HP?”

Daniel tersenyum kecil. “Boleh kok.” Kami pun bertukar nomor HP.

“Oke sip. Thank you ya,” kataku sambil memasukkan HP ke kantong rok. Daniel, seperti biasa, melambaikan tangan dan pulang dengan motornya. Meskipun Daniel telah pergi, perasaanku senang sekali. Sudah lama sekali aku tidak merasakan hal ini, padahal pembicaraan hanya berlangsung sepuluh menit dan aku baru bertemu Daniel beberapa hari lalu. Aku pun mengangkat bahu dan bersiap untuk pulang menggunakan angkot.

***


Seusai mengerjakan PR sekolah, aku mengambil HP dan berniat untuk mengirim SMS kepada Daniel. Aku berpikir sebentar untuk merangkai kata yang tepat dan akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan sore tadi. Kuharap Daniel sedang tidak sibuk dengan tugas kuliahnya malam ini. Jantung berdegup kencang selagi jemari menekan tombol-tombol huruf.

Quote:


Terkirim. Relativitas waktu terasa kacau selama aku menunggu balasan dari Daniel. Tak henti-hentinya aku mengecek layar HP seperti orang paranoid. Beberapa menit kemudian, HP pun bergetar. Akhirnya, Daniel membalas!

Quote:


Aku ingin mengobrol lagi, tetapi aku kehabisan ide. Kujatuhkan tubuhku ke atas kasur sambil mendekap HP. Aku menghela napas sembari memandang langit-langit rumah bewarna putih tulang. Tak sadar, aku tersenyum membayangkan wajah Daniel yang menghanyutkan itu dan pembawaannya yang santai. Seorang tamu tiba-tiba mengetuk pintu hatiku setelah sekian lama. Ia selalu kusambut meskipun aku sudah terlalu sering mendengar kabar bahwa tamu itu selalu mengganggu kehidupan orang-orang dan pada saat yang sama memberikan anugerah terindah kepada manusia.

Tamu itu bukan makhluk asing. Tamu itu sudah hidup di dalam benak manusia semenjak lahir.
Diubah oleh immanence
Salam kenal gan, ijin mejeng di sini ya. emoticon-linux2
Ngomong2 itu garis asimtot sama kaya lagu Sepatu nya Tulus yak emoticon-Embarrassment
Gelar tiker dulu ya disini emoticon-Smilie
izin deprok gan emoticon-Smilie
gaya penulisannya keren lho gan emoticon-thumbsup
Diubah oleh yagitudeh22
Kayanya nggak asing sama usernamnya yah... Hmm... Imanence : imanes ? Ines? Bang boni? Entahlah... *GaUsahDibaca... CurTak.. Curhatan otak ...

Eniwei... Nitip telapak kaki ya,.
Part 3: Restlessness

Dia tidak datang.

Selama setengah jam, hampir setiap lima menit aku menatap pintu biru samudera yang besar itu. Kadang-kadang, aku juga mengintip kaca kecil di pintu yang menunjukkan wajah seseorang yang akan masuk kelas. Tanganku memutar-mutar pulpen, telinga sigap menerima materi bahasa Inggris baru, mulut bersiap agar tidak terbata-bata saat disuruh membaca keras-keras paragraf di buku, dan sepasang mata mengawasi pintu layaknya seorang suami yang menunggu kelahiran istrinya. Aku pasti membawa pulang medali dan sertifikat atas penghargaan multitasking pancaindera terbanyak karena Daniel.

Kegelisahan ini menyesakkan. Kegelisahan ini menggelayuti akal sehat. Rasanya aku ingin segera membasuh muka untuk menenangkan diri atau apapun agar aku tidak gelisah dan tidak memikirkan ketidakhadiran Daniel. Aku menepuk dahiku sendiri. Vanessa, fokus! Ya sebenarnya, aku datang ke sini untuk menimba ilmu, bukan untuk memikirkan seseorang. Aku pun menghembuskan napas.

Aku memandang flashdisk yang sudah kusiapkan di atas meja. Tanganku menaruh flashdisk itu kembali ke saku baju sekolah dan mulai menulis penjelasan penting yang disampaikan ibu guru.

Penantian berhari-hari agar bisa bertemu Daniel berubah menjadi sia-sia.

***


Hampir jam 10 malam dan ibuku menyuruh anak-anaknya tidur sambil mematikan lampu ruang tengah. Saat aku berbaring terlentang di atas kasur, sempat terpikir niat untuk menanyakan alasan Daniel tidak masuk kursus hari ini. Namun, aku mengigit bibir. Aku terdengar seperti tokoh utama di lagu Yolanda-nya Kangen Band. Kamu di mana, dengan siapa? Di sini aku menunggumu dan bertanya. Tubuhku pun beralih ke samping dengan jijik. Menyedihkan.

Sebelum tertidur lelap, hati kecilku berpendapat bahwa mungkin Daniel sedang sibuk dengan dunia kampusnya.

***


Seriously, Niel?

Sekali lagi, dia tidak datang. Siklus multitasking pancaindera pun berulang dan tidak membuahkan hasil. Aku pun menjadi bosan dan muak. Lalu, ibu guru membangunkanku dari lingkaran mematikan dengan mengumumkan berita penting.

Ibu guru pun berdiri di tengah kelas dan memendarkan pandangan ke setiap anak. “Seperti yang kalian semua ketahui bahwa syarat lulus adalah dengan mengikuti ujian tertulis dan ujian verbal. Tetapi, ujian verbal di tingkat ini berbeda daripada yang lain. Ujian verbal ini meliputi esai final dan presentasi. Esai ini wajib mempunyai minimal 750 kata dan tentunya ditulis dalam bahasa Inggris.”

Kelas menjadi gaduh secara otomatis. Semua anak panik mendengar angka 750 dan bingung ingin menentukan topik apa yang mudah dimengerti tetapi cukup panjang untuk dibahas. Tugas besar seperti ini belum pernah kami temui selama kami kursus di tempat ini. Maklum, namanya juga tingkat akhir.

Ibu guru melanjutkan setelah ketegangan kelas sedikit mereda, “Kalian juga harus membuat presentasi berdasarkan esai tersebut. Presentasi tersebut akan diuji oleh tiga guru dari tempat kursus ini dan satu orang native speaker.”

Total chaos. Kepanikan anak-anak tak terbendung saat mereka membayangkan ada orang bule duduk di hadapan mereka. Bagaimana jika pelafalan mereka sulit dicerna? Bagaimana jika bule tersebut tidak mengerti topik yang dibahas dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menantang? Bagaimana jadinya bila seorang anak terpaku lama karena tidak bisa menjawab pertanyaan bule tersebut? Apa kabar nilai verbal?

“Jadi, mulai dari sekarang, kalian harus mengajukan topik dan latar belakang mengapa kalian memilih topik tersebut kepada saya. Hal ini dilakukan agar presentasi dan esai kalian terstruktur dengan baik. Setelah topik itu diterima, mulailah menulis esai itu sebelum hari H.”

“Wah, gimana nih?” “Topiknya apa ya?” “Ada bule juga! Aduh...” dan segala macam nada kekhawatiran bergema kencang di dalam kelas ini. Aku pun jadi penasaran apakah muka air Daniel yang selalu cool itu akan menjadi shocked bila mendengar tugas besar ini. Mungkin, kabar ini harus cepat disampaikan kepada Daniel. Namun, sekali lagi aku mengurungkan niatku untuk mengirim SMS karena takut mengganggu kesibukan Daniel.
Diubah oleh immanence
Wah si Daniel php nih. emoticon-norose
Mantab sist cerita nya.. Izin nenda ya emoticon-Big Grin udah rate bintang 5 juga emoticon-Malu (S)

Bikin ngiri gaya nulis nya,bagus banget emoticon-Frown *berenti nulis*
Diubah oleh Polyamorous
berat sist emoticon-Frown
ditambah prolog matematika emoticon-Nohope
Bantu sundul plus naro tenda~


Lanjutkan
Quote:


Wah, ane juga baru nyadar deskripsinya sama kayak lirik lagu Sepatu-nya Tulus. emoticon-Matabelo

Quote:


Terima kasih sudah mampir dan membaca! emoticon-Big Grin

Quote:


Ane juga masih dalam tahap belajar, gan. emoticon-Malu (S)

Quote:


Maaf ya gan ga ada sesi kepo dan stalking pihak yang terlibat dalam cerita ini, termasuk TS-nya. Terima kasih sudah mampir dan membaca.

Quote:


Yah yah jangan berhenti nulis juga, gan. emoticon-Frown *gives you kudos* Kita juga masih sama-sama dalam tahap belajar kok. emoticon-Smilie Anyway, terima kasih sudah mampir dan membaca!

Quote:


Hihi nih gan ilustrasi garis-garis tangen, parallel, dan asimtot untuk memudahkan visualisasi agan.

Garis-Garis Tangen

Ingénue

Garis-Garis Parallel

Ingénue

Garis-Garis Asimtot (Asymptotes Lines)

Ingénue


Quote:


Makasih buat sundulnya, gan. emoticon-Malu (S)
Diubah oleh immanence
Part 4: Aqua Regia

Dalam beberapa hari ini, pikiranku terus bergulat untuk mengambil tindakan yang amat sepele. Apakah aku harus menceritakan perasaan ini kepada seseorang atau dipendam saja? Lalu, aku juga memperhitungkan konsekuensi dari masing-masing keputusan tersebut. Jika hal ini dipendam, rasa gelisahku akan berkembang biak seiring waktu berjalan dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Jika hal ini disebarkan ke seorang teman, dia bisa membocorkan rahasia dan berita itu menjadi konsumsi publik. Wajahku tenggelam dalam dekapan kedua telapak tangan.

Apakah aku terlalu overthinking? Terlalu serius? Terlalu berprasangka buruk?

Langit dunia imajinasiku sekejap runtuh ketika Fia membuka pintu kelas. Fia memeriksa seluruh penjuru kelas karena ada beberapa tas yang sedang duduk tanpa pemiliknya dan langsung memulas senyum saat melihat keberadaanku. Aku menyapa Fia dengan gembira. Fia menaruh tas tepat di sebelahku dan duduk untuk mengurangi rasa capek.

“Hei, sendirian aja,” ujar Fia dan diikuti oleh tawa terkikik. “Tumben, Nes. Biasanya kamu lagi jadi jurig (jurig berarti hantu dalam bahasa Sunda) perpus jam segini.”

Fia seumur lebih tua daripada diriku dan dia bersekolah di salah satu SMA ternama di kota ini. Dia adalah salah satu teman seperjuangan kursus bahasa Inggris yang telah kukenal dari tiga tahun lalu. Hebatnya, dia tidak keluar dan tetap konsisten dalam mengikuti kursus ini. Fia memang disebut sebagai orang paling ramah oleh teman-temannya sehingga ia sering dijadikan teman curhat. Selain itu, saran-sarannya juga lumayan jitu dan tetap menyemangati teman curhatnya agar tidak menyerah dalam menyelesaikan masalah.

“Hus! Aku mah kuncennya (kuncen berarti penjaga kuburan dalam bahasa Sunda) perpus. Kalo jurigna mah, siapatahu lagi berdiri di belakang kamu.”

“Iiih, bercandanya gitu amet! Jadi merinding, tau!” Fia mengusap leher belakangnya dan pasti bulu remangnya sedang berdiri sekarang. Aku pun tertawa puas. Aku sengaja mengucapkan candaan garing tadi karena Fia benci ditakut-takuti oleh cerita hantu walaupun dia senang sekali menceritakan cerita hantu. Memang terdengar seperti hobi yang tidak tersinkronisasi, tetapi itulah Fia.

Aku akhirnya melaksanakan rencana B. “Fi, aku mau ngobrol sebentar masalah sesuatu. Lumayan urgent juga sih.” Tubuhku bangkit untuk menutup pintu kelas agar pembicaraan ini menjadi lebih privat. “Kamu tau Daniel si anak baru itu?” tanyaku sembari duduk di atas kursiku.

“Eh, emang kenapa—” Fia pun memproses secuil informasi tersebut dan langsung menyimpulkan satu kalimat mematikan tanpa pikir panjang. “Jangan bilang kamu naksir sama dia.”

“Apakah ngerasa cemas karena dia ga datang untuk dua pertemuan itu termasuk?”

Mulut Fia menganga dan ia menatapku lekat-lekat. “Waw. Akhirnya, kamu punya kecengan yang ngeklik juga, nak. Kamu baru ngejelalatin dia atau udah sempet berani ngomong?”

“Ya ampun, ngejelalatin! Bahasanya, duh, Fi!” Aku memecah tawa untuk mengurangi tingkat keseriusan. Kemudian, aku menceritakan perkembangan hubunganku dengan Daniel dan menjelaskan sedikit deskripsi mengenai identitas dan hobi Daniel. Fia benar-benar berkonsentrasi penuh terhadap setiap kata yang kuucap. Mungkin, Fia bersyukur bahwa si pencinta musik dan kutubuku ini akhirnya mulai puber juga.

Setelah aku selesai menceritakan dari A hingga Z, giliran Fia yang angkat bicara. “Emang dia ganteng dan kalem sih, tapi kita belum tau apa dia udah jadian apa belum. Terus, yang aku liat, dia pendiem banget. Jawab pertanyaan dari ibu guru juga singkat, nanya aja ga pernah, dan dia bener-bener ga ngomong sama anak-anak kelas. Anak IT, pasti dia gamer berat.” Penilaiannya pun berhenti saat dia sadar belum memberikan solusi. “Udah gini aja, kamu terus komunikasi aja sama dia sambil cari tau tentang dia lebih jauh. Gimana? Ga terlalu susah, ‘kan?”

Bel masuk telah berbunyi sebelum aku bisa melanjutkan diskusi agak penting ini. Kulihat anak-anak kelas berhamburan masuk sebelum guru-guru datang dan tiba-tiba, jantung ini berhenti memompa darah dalam hitungan waktu satuan nano. Daniel melenggang masuk sambil membawa tas selendang laptopnya. Daniel sama sekali tidak menyapaku dan dia beringsut duduk di ujung kelas. Lalu, handphone flip-nya dimainkan olehnya sampai ibu guru tiba di kelas.

Penilaian Fia memang benar adanya. Sifat pendiamnya Daniel mulai dirasa keterlaluan.

***


Setelah kelas usai, Fia berencana ingin membeli tahu stik krispi mayo bersamaku. “Nes, yang sabar ya.” Itulah ucapan pertama Fia yang keluar saat dia duduk di kantin. Dia menepuk punggungku sebagai bahasa isyarat untuk “tetap kuat”.

“Kesel. Jadinya cape hati, tau ga?” balasku sambil cemberut.

Tak lama setelah pesanan kami sudah disajikan, Daniel secara magis menghampiri kami. “Eh, sebelah sini kosong, ‘kan?”

“O—oh ya, iya, di situ kosong kok,” aku dan Fia merespon dengan nada terbata-bata.

Daniel mengarahkan kepalanya ke samping. “Nes, maaf ya kemarin ga ngasih kabar. Gue lagi sibuk banget nih soalnya tugas di mana-mana. Elo bawa flashdisknya ga?”

Aku mencari-cari saku baju sekolah, rok, dan mencari di dalam tas dengan grogi dan betapa tidak beruntungnya flashdisk itu tertinggal di rumah. “Ah elah, malah ga bawa lagi,” ujarku kesal.

“Udah gapapa kok, nyante aja. Jangan lupa aja nanti bawa pas Kamis besok.” Bukannya dia terbirit-birit pulang seperti biasanya, dia malah menunggu dengan kedua tangan bersedekap di atas meja. Ternyata, dia memesan nasi goreng spesial. Entah ini untuk makan malam atau makan siang yang telat, tetapi itu bukan urusanku.

Selagi Daniel masih melahap nasi gorengnya, Fia berpamitan dan meninggalkan aku dengan keadaan canggung menggantung di udara. Tepat sebelum aku berdiri, Daniel bertanya, “Elo pulang naik apa?”

“Pake angkot.”

“Oh, emang rumah elo di mana?”

“Di ******. Kalo kamu?”

“Deket dong ama gue. Gue di *******.”

Aku pun ternganga. Mimpi apa aku semalam? “Kalo gitu, boleh bareng gak? Soalnya udah jam setengah enam nih. Harusnya aku ga jajan dulu ya tadi.”

“Boleh-boleh aja kok. Tapi, siap-siap aja ya kejar-kejaran ama polisi. Gue ga bawa helm dua soalnya.”

“Mari kita berdoa semua polisi di kota ini lagi makan atau lagi ga berdiri di jalan pas kita lewat.”

Tawa gelak Daniel pecah dan ia pun mengangguk. “Amin.”

***


Kota ini kelihatannya sedang berevolusi menjadi kota Jakarta generasi kedua karena tingkat kemacetannya yang semakin tinggi. Tak peduli siang atau malam, jalanan kota ini selalu menghadirkan barisan kendaraan bermotor yang sedang merayap seperti barisan semut merah. Untungnya pada malam ini, situasi jalanan sedang bersahabat. Aku pun senang sekali bisa pulang cepat tanpa halangan macet dan sejauh ini tidak ada polisi yang ingin menilangku.

Walaupun aku memakai hoodie jaket, angin malam sepertinya ingin membelai wajahku sepanjang perjalanan. Hoodie yang menutupi kepalaku selalu terjatuh setiap kali angin berhembus kencang.

“Nes—” Sayangnya, aku tidak bisa mendengar kata-kata Daniel selanjutnya karena jalanan yang terlalu bising.

“Apa?!” teriakku kencang agar Daniel mengulangi kalimatnya tadi.

“Nes, pegang jaket gue biar lo ga kelempar pas jatuh!” balasnya dengan nada yang lebih keras.

Badanku bergidik. Peringatan yang sangat mengerikan dan...cukup realistis. Aku jadi teringat pada ibu yang selalu menasihatiku agar aku memegang jaket ibu saat dibonceng. Tanganku awalnya ragu, tetapi akhirnya mereka mengenggam kain jaket hitam Daniel. Aku merasa risih untuk berpose seperti perempuan yang memeluk pengendara motor di depan mereka seperti beruang karena pengendara pasti merasa sesak napas. Lagipula, aku ‘kan tidak layak memeluk Daniel—

Kurasakan darah mengalir cepat dalam nadi.

Endorphin mulai diproduksi, endorphin yang mengalahkan kekuatan aqua regia dan mulai membuat korosi pada kekerasan benteng hati ini. Hembusan angin kencang dan kekicauan kota tak sanggup menghentikan kelahiran cairan itu.

Daniel...

Quote:


Quote:


***


“Niel, terima kasih banyak ya udah nganterin.”

“Nyante aja kok. Gue cabut ya.”

“Oke, hati-hati.”

Suara motornya bergaung di antara gang yang tidak terlalu sempit ini. Kepalaku menggeleng. Kemudian, aku merogoh saku tas untuk mengambil kunci rumah. Setelah menutup pintu gerbang, aku terdiam sebentar untuk memikirkan sensasi euphoria tadi. Instingku menjadi tumpul. Aku tidak bisa membaca maksud dari kelakuan Daniel.

Apa yang sebenarnya dirasakan oleh Daniel?
Diubah oleh immanence
gw suka sama istilah" asing yang lu cantumin, sampe" gw googling satu" emoticon-Ngakak (S)
gaya penulisan lu punya daya tarik. jangan kelamaan update nya yaa
Berasa baca buku novel beneran. Nice! Makin rapih dan bikin adiktif. Cara pengandaian nya lebih dari bagus emoticon-Big Grin

Bener kata atas ane,updatenya jangan lama2 emoticon-Big Grin penasaran sama ceritanya emoticon-Big Grin

Btw London Grammar enak juga ya emoticon-Hammer (S)
Ijin nenda ya...
Ayo dilanjut lagi kisahnya...
tah knp klo gw liat judulnya sekilas kok bacanya jd lingerie ea.. emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
Quote:


quote-nya ngena banget gan huhuhu...lanjut sist ~
Halaman 1 dari 16


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di