KOMUNITAS
Home / FORUM / All / News / ... / Sejarah & Xenology /
Dalang Rahasia G30S/PKI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/549cadafde2cf29e2a8b4567/dalang-rahasia-g30s-pki

Dalang Rahasia G30S/PKI

Salah satu provokator pada masa pilpres adalah Allan Nairn, seorang jurnalis berkewarganegaraan Indonesia yang menurut pengakuannya sendiri telah melanggar etika seorang jurnalis karena membuka wawancara off-the-record dengan Prabowo Soebianto. Saya bingung, masa belum kapok diadu domba dan dijajah bule selama 350 tahun? Masa mental inlander kita tidak hilang sehingga menganggap apapun yang dikatakan Allan Nairn terutama mengenai isi wawancara pasti benar karena dia bule? Aya-aya wae..

Allan Nairn adalah jurnalis yang antara lain meliput perang “restorasi kemerdekaan Timor Leste/Timles,” tapi tahukah anda diserahkan kemana informasi yang dikumpulkan oleh Allan Nairn di Timles? Jawabannya adalah kepada Tapol UK yang berbasis di Inggris dan tidak peduli informasinya valid atau masih mentah, informasi tersebut akan diolah Tapol UK sebagai bahan propaganda penyebar kebencian terhadap Indonesia di dunia internasional melalui apa yang dinamakan Tapol’s Bulletin yang isinya selama puluhan tahun sangat tipikal: Indonesia penjajah Papua, Indonesia penjajah Timles, Indonesia penjajah Aceh, Indonesia pelanggar HAM, Indonesia pembunuh dll. Allan Nairn juga terlibat dalam berbagai kegiatan seperti konferensi yang bertujuan mendiskriditkan Indonesia itu.

Kebijakan Tapol UK mendiskriditkan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak berhenti sampai penerbitan buletin Tapol UK saja, tapi mereka juga menggalang dukungan politik di dunia internasional kepada gerakan apapun di semua propinsi di Indonesia yang mau memisahkan diri dan kedua hal tersebut masih tetap dilakukan sampai sekarang, contoh pendirian ETAN di Amerika untuk mendukung kemerdekaan Timles yang sekarang masih terus mendiskriditkan Indonesia adalah pekerjaan Tapol UK; kemudian Ingat pendirian markas OPM di Oxford beberapa tahun silam? Itu kerjaan Tapol UK; Ingat film the Act of Killing atau Senyap dari Joshua Oppenheimer? Tapol UK adalah sponsor utamanya; ingat kehadiran pemimpin OPM boneka bernama Benny Wenda di Australia yang didampingi pengacara Australia bernama Jennifer Robinson? Kerjaan Tapol UK dan ketika kuliah di Inggris, Jennifer Robinson menjadi anak didik langsung dari pendiri Tapol UK bernama Carmel Budiardjo, dan masih banyak lagi.

Contoh kerasisan Carmel Budiardjo dalam memfitnah Indonesia dalam tulisannya tahun 1983, yang singkatnya mengatakan bahwa Papua sudah jadi sasaran Indonesia sejak orang Indonesia menginjakan kakinya di Papua pada zaman kuno, di mana orang Indonesia memperbudak rakyat Papua dan mengincar burung-burung langka tapi kemudian sejak tahun 1962 rakyat Indonesia mengincar sumber daya alam di Papua sehingga “pribumi setempat” harus dipaksa pindah apapun caranya, termasuk kekerasan:

“Ever since the Indonesians set foot on Papuan soil, human rights abuses have been the rule of the day. In the antiquity or the dream time, the Indonesian quest had been Papuan slaves and the birds of paradise. Since 1962 however the quest has been for the rich mineral deposits, the vast virgin forest with its timber and the ‘empty’ land. The West Papuans have had to be removed from their land by hook or by crook.”

http://www.papuaerfgoed.org/files/budiardjo_1983_obliteration.pdf

Tentu saja kalimat Carmel Budiardjo di atas adalah fitnah yang sangat keji sebab nama Indonesia baru muncul pasca kebangkitan nasional tahun 1920an dan mungkin hanya orang dari kerajaan yang berlokasi di Maluku atau Sulawesi dan sesekali Majapahit dari Jawa yang pernah singgah di Papua, itupun tidak pernah ada bukti perbudakan orang Papua sebab Indonesia tidak seperti peradaban bule yang sangat maju dan menjajah dunia dari ujung utara sampai ujung selatan selama ratusan tahun, dan sampai sekarang tidak bisa meninggalkan sikap “bule knows best.” Kemudian alasan Soekarno mengejar Papua adalah karena hukum internasional menyatakan semua daerah yang dikuasai penjajah otomatis menjadi milik negara baru ketika merdeka, dan Indonesia tidak tahu Papua kaya akan sumber daya alam karena yang menemukan dan kemudian merahasiakan temuan tembaga di Eitsberg adalah Freeport. Ketertarikan Indonesia di Papua hanya politik dan tidak ada yang bersifat imperialisme.

Salah satu bukti kerja sama Allan Nairn dengan Carmel Budiardjo:

“The Indonesia Human Rights Network is grassroots-based and U.S. policy-focused, utilizing educational outreach, press work, protest and lobbying. Its advisory board includes such internationally recognized human rights activists as Carmel Budiardjo, Dr. George Aditjondro, Kerry Kennedy Cuomo and journalist Allan Nairn. A national kick-off conference on human rights in Indonesia will be held February 23 - 25, 2001 at George Washington University in Washington, D.C.”

http://etan.org/estafeta/01/winter/4human.htm

Siapa Carmel Budiardjo dan mengapa dia begitu membenci serta anti Indonesia?

Hari ini Carmel Budiardjo adalah seorang nenek Warga Negara Inggris berusia 90 tahun yang anti Indonesia, akan tetapi 60 tahun lalu dia adalah Carmel Brickman, Warga Negara Inggris penganut komunisme yang tinggal di Cekoslovakia yang saat itu bagian dari Uni Soviet, dan bekerja sebagai sekretaris di lembaga kemahasiswaan pada Universitas Cekoslovakia yang menjadi topeng dinas intelijen Cekoslovakia. Saat dia di Cekoslovakia Carmel Brickman bertemu dan menikah dengan Suswondo Budiardjo, anggota Komite Sentral Partai Komunis Indonesia sehingga sejak saat itulah dia mengganti nama menjadi Carmel Budiardjo.

Pada tahun 50an para petinggi PKI yang mengasingkan diri karena peristiwa Madiun 1948 pulang ke Indonesia, Carmel Budiardjo ikut suaminya dan tinggal di Indonesia dan aktif sebagai anggota PKI. Tahun 1965 ketika PKI berada dalam posisi terkuatnya dan sedang berjalan menuju eksekusi rencana pemberontakan yang dikenal sebagai G30S/PKI, bersama Njoto, ketua Divisi Propaganda dan Agitasi PKI, Carmel Budiardjo adalah penulis naskah pidato Soekarno. Salah satu contoh karya Carmel Budiardjo adalah semua pidato Soekarno terkait perebutan Papua Barat, jadi bisa dibilang Carmel Budiardjo salah satu yang berjasa dalam usaha Indonesia merebut Papua Barat, tapi ironisnya di masa depan dia malah mendiskriditkan Indonesia sebagai penjajah rakyat Papua Barat.

Pasangan suami-istri Budiardjo sangat terlibat dalam persiapan/prolog G30S/PKI terbukti salah satu korban G30S/PKI yaitu DI Panjaitan pernah menangkap Suswondo Budiardjo saat proses menyelundupkan senjata Chung dari Republik Rakyat China di dalam bahan bangunan untuk pendirian gedung CONEFO (sebagian senjata Chung yang terlanjur masuk adalah senjata yang digunakan pasukan G30S/PKI), sedangkan Carmel Budiardjo adalah pemalsu surat Duta Besar Andrew Gilchrist yang menyebut ada “bagian dari angkatan darat Indonesia” (our local army friend) yang bekerja sama dengan Amerika dan Inggris untuk menjatuhkan Soekarno kelak dikenal sebagai “Dokumen Gilchrist,” yang pertama kali disebar oleh Soebandrio kepada wartawan Al Ahram, Mesir pada tanggal 5 Juli 1965.

Menurut Ladislav Bittman, mantan intelijen Cekoslovakia dalam bukunya The Deception Game terbitan 1973, pembuatan Dokumen Gilchrist adalah salah satu operasi yang dilaksanakan Departemen D Dinas Intelijen Cekoslovakia yang tugasnya membuat operasi kabar bohong yaitu mengecoh musuh dengan memberikan informasi palsu kepadanya dengan asumsi dia akan menggunakan sebagai dasar membuat kesimpulan sesuai harapan pencetus kabar bohong, antara lain melalui mengirim surat palsu, surat kaleng dengan fotokopi dokumen palsu kepada pejabat berbagai negara atau surat kabar seperti New York Times dan Der Spiegel atau pejabat setempat yang sudah “dibeli” baik dengan gratifikasi sex atau uang dengan tujuan merusak kepercayaan kepada pejabat pemerintah dan pemimpin politik barat.

Dokumen Gilchrist adalah bagian dari Operation Palmer yang dicetuskan oleh Jenderal Agayants dari Uni Soviet dan Mayor Louda dari Cekoslovakia menyusul gerakan memboikot film-film Amerika di Indonesia dan kebencian itu dimanfaatkan oleh Departemen D untuk menciptakan propaganda bahwa William Palmer, direktur Association of American Film Importers di Indonesia adalah pemimpin CIA di Indonesia. Untuk melakukan hal tersebut Departemen D mengirim banyak surat kaleng anonim ke surat kabar di Indonesia yang isinya menuding Bill Palmer sebagai agen CIA, dan surat-surat tersebut kemudian menjadi sumber berita di berbagai surat kabar di Indonesia.

Berkat agitasi Departemen D, pada tanggal 1 April 1965 demonstran PKI antara lain Gerwani dan Pemuda Rakyat menyerang villa Palmer di Gunung Mas dan menurut sejarah adalah lokasi penemuan Dokumen Gilchrist. Uni Soviet juga memainkan peranan memanas-manaskan suasana melalui siaran luar negeri Radio Moskow yang isinya menyudutkan Amerika terkait “usaha subversi” di negara-negara asia oleh CIA, dan salah satunya adalah Bill Palmer yang selama belasan tahun melakukan kegiatan subversi di Indonesia, dan lain-lain.

Bukti Carmel Budiardjo pembuat Dokumen Gilchrist sangat mudah yaitu dari sangkalan pihak Inggris yang menyatakan walaupun secara tata bahasa tulisan di Dokumen Gilchrist memang ber-grammar ala Anglo Saxon, tapi mereka bukan pembuatnya. Berdasarkan fakta di atas maka kita menemukan petunjuk tentang siapa pembuat Dokumen Gilchrist:

1. Dia harus bisa grammar Inggris seperti seorang native speaker dan ahli dalam menulis dokumen diplomatik;

2. Dia harus memiliki hubungan dengan intelijen Cekoslovakia yang tinggal di Indonesia yang mana tahun 1965 sangat jarang karena Indonesia lebih dekat ke RRC daripada Uni Soviet; dan

3. Dia harus komunis yang dekat dengan pusat kekuasaan di Indonesia‎

‎Pada periode tahun 1964-1965 hanya ada satu orang di Indonesia yang memenuhi semua syarat di atas yaitu Carmel Budiardjo sebab dia adalah Warga Negara Inggris yang tinggal di Indonesia dan sebelumnya bekerja untuk lembaga intelijen Cekoslovakia dan di Indonesia pekerjaannya adalah menulis pidato kenegaraan untuk Soekarno, dan yang lebih penting lagi dia adalah komunis sekaligus istri dari petinggi PKI yang menyelundupkan senjata untuk persiapan pelaksanaan G30S/PKI. Dokumen Gilchrist menyebabkan kelahiran rumor Dewan Jenderal dan keduanya adalah penyebab Soekarno memukul “para jenderal” terlebih dulu, sehingga bisa disimpulkan Carmel Budiardjo adalah salah satu orang yang mendalangi G30S/PKI.

Ketika ditangkap dan dipenjara Orde Baru, Carmel Budiardjo belum diketahui sebagai dalang G30S/PKI dan oleh karena itu dia dideportasi ke Inggris ketika pemerintah Inggris meminta Indonesia melepaskan Carmel Budiardjo. Sesampainya di Inggris, Carmel mendirikan Tapol UK yang berfungsi sebagai alat propaganda dan agitasi melawan Indonesia dengan isu HAM, demokrasi, “pembantaian 1965″. Ingat, dia adalah tangan kanan Njoto, Ketua Departemen Propaganda dan Agistasi PKI, sehingga melakukan propaganda memang keahlian Carmel Budiardjo.

Tapol UK bersama ISAInya Goenawan Mohamad dan penerbit Hasta Mitra milik kuartet PKI sangat berjasa mengembalikan minat sebagian rakyat Indonesia kepada komunisme menggunakan HAM, demokrasi dan “PKI korban Orde Baru” sebagai pintu masuk, padahal Ladislav Bittman, mantan dinas intelijen Cekoslovakia saja sudah menyatakan G30S adalah G30S/PKI dan bukan G30S/Soeharto atau G30S/USA. Kemudian, Tapol UK melalui kaki tangannya di Indonesia khususnya Kontras dan Amnesty International asal Inggris yang sedang dalam proses masuk Indonesia adalah provokator yang mendorong para eks tahanan politik/tapol PKI yang tergabung dalam YPKP’65 mempersiapkan suatu People’s Tribunal International di Solo (!!!) Tahun 2013 untuk mengangkat kasus 1965 ke International Tribunal Court yang ditargetkan berjalan tahun 2015 melalui Special Reporter Komisi HAM PBB, UNWEG, dan pengadilan People’s International Tribunal Massacre 1965/1966 di Den Hagg pada Oktober 2015 yang mana salah satu tergugatnya adalah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Saya cukup yakin pasti banyak yang sudah mau berteriak: “PKI tidak bersalah,” “Soeharto dalangnya bekerja sama dengan CIA untuk mengeruk emas Papua dan menyingkirkan Soekarno,” atau “urusan internal angkatan darat,” bla bla bla..dan saya mau katakan bahwa semuanya salah. Banyak yang bisa dibahas mengenai hal ini tapi saya kuatir akan membuat artikel ini melebar kemana-mana, kendati demikian tetap perlu mendapat porsi pembahasan:

1. Saya sudah membaca lebih dari 1.000 dokumen CIA dan Departemen Luar Negeri Amerika yang berstatus declassified dengan kesimpulan tidak ada selembarpun yang mengatakan CIA terlibat prolog G30S/PKI padahal dari dokumen berjenis declassified kita tahu operasi CIA menggulingkan Mossadeq untuk digantikan oleh Shah Iran. CIA memang terlibat, tapi hanya pada epilog melalui pemberian daftar nama anggota PKI kepada Kostrad dan uang kepada KAP Gestapu pimpinan Jusuf Wanandi oleh Pater Beek, agen CIA di Indonesia.

2. “Soeharto adalah dalang,” dalam disertasi John Rossa sebenarnya memplagiat teori “missing link” Profesor W.F. Weirtheim, sosiolog komunis dari Belanda yang masih memiliki mental “bule knows best” dan diterima mentah-mentah oleh orang Indonesia bermental inlander padahal teori tersebut dibuat tanpa sedikitpun pernah datang melakukan penelitian di Indonesia perihal G30S/PKI. Semua ilmuwan yang pernah meneliti ke Indonesia dan diketahui tidak memiliki ideologi politik ke kiri atau ke kanan selain kepentingan akademik seperti Harold Crouch, Herbert Feith, Antonie Dake, Victor M. Fic, dll menyatakan teori Weirtheim tidak benar dan asal buat sebab tidak ada bukti yang memperlihatkan indikasi Soeharto terlibat. Lagipula logikanya bila Soeharto terlibat tentu dia akan diganyang oleh teman-temannya di angkatan darat, tapi AH Nasution justru ada di garis depan membela Soeharto dari tuduhan Weirtheim.

Tanggapan Profesor Salim Said pada seorang murid Weirtheim yang menyampaikan bahwa menurut Weirtheim “Indonesia harus mengikuti cara Mao di RRC supaya tidak tunduk pada Amerika dan Soviet serta bagaimana Orde Baru didirikan Soeharto dengan bantuan CIA,” bisa menggambarkan bagaimana sosok Weirtheim yang sebenarnya:

“Eh, sampaikan kepada Wertheim, dia boleh berteori dan berpendapat apa saja di Amsterdam, tapi saya yang turun-temurun hidup di Indonesia sudah capek miskin. Dari kakek moyang saya di zaman kolonial sampai saya di zaman Soekarno, semua hidup miskin. Kalau untuk terhindar dari kemiskinan negeri saya terpaksa menerima bantuan dari Amerika, itu jauh lebih baik dibanding tetap miskin dengan mengikuti nasihat Profesormu itu.”

(Salim Said, Dari Gestapu ke Reformasi, Penerbit Mizan halaman 178).

3. “Konflik internal angkatan darat” juga ciptaan ilmuwan komunis dengan sifat “bule knows best,” dari Universitas Cornell dalam tulisan yang dikenal sebagai “Cornell Paper” dari Ruth McVey dan Ben Anderson yang memang memiliki kedekatan dengan PKI sehingga mereka selalu membela PKI. Sudah lama teori-teori dalam Cornell Paper dinyatakan tidak berlaku oleh semua akademisi dan sejarahwan dunia, tapi mengapa masih terus dipakai oleh sejarawan Indonesia? Aneh sekali bukan?

Sumber informasi “kematian 500ribu s.d. 3juta komunis” yang sampai sekarang masih terus diulang adalah Ruth McVey yang ketika mengatakan itu di dalam sebuah seminar pemuda komunis di New York belum pernah menginjakan kaki di Indonesia untuk meneliti prolog sampai epilog G30S/PKI, padahal menurut Richard Cabot Howland, agen CIA di Indonesia yang mengikuti perkembangan amuk massa terhadap PKI mencatat komunis yang menjadi korban hanya 105.000 atau jauh di bawah jumlah korban komunis internasional selama komunisme berjaya yang mencapai 250juta jiwa.

https://www.cia.gov/library/center-for-the-study-of-intelligence/kent-csi/vol14no2/html/v14i2a02p_0001.htm

Bukti lain bahwa orang-orang Cornell terpengaruh oleh kedekatan mereka dengan PKI adalah ketika George Kahin, Ben Anderson, Ruth McVey mengirim surat-surat penuh kebencian dan memaki dengan kasar Herb Feith di Australia karena artikel yang seolah membenarkan “pembantaian komunis” di Indonesia atas alasan nesesitas atau kepentingan saat itu sebab apabila komunis tidak dihabisi maka non-komunis yang akan dibantai komunis Indonesia. Bayangkan menyerang secara pribadi hanya karena sebuah pendapat, sudah bisa dibayangkan kualitas Indonesianis dari Universitas Cornell kan?

http://www.aust-neth.net/transmission_proceedings/papers/Purdey.pdf

Nah, sekarang kita kembali ke pokok persoalan yaitu hubungan Allan Neirn dengan Carmel Budiardjo istri anggota CC PKI yang merupakan salah satu penyebab terjadinya G30S/PKI. Saya rasa rakyat Indonesia belum melupakan kekejaman PKI terhadap Indonesia, dan bila lupa maka dengan penuh kerendahan hati saya menyarankan supaya kita bertanya kepada diri sendiri‎: masih belum kapok diadu domba bule selama 350 tahun? Belum kapok diadu domba komunis dan PKI selama puluhan tahun? Belum kapok ditusuk dan dihianati PKI? ‎

Untuk yang mau belajar lebih lanjut, di bawah ini ada beberapa bahan bacaan:‎

1. Salim Said, Dari Gestapu ke Reformasi, Penerbit Mizan.

2. Victor M. Fic, Anatomy of the Jakarta Coup, October 1, 1965, Penerbit Obor.

3. H. Abdul Mun’I'm DZ, Benturan NU-PKI, 1948-1965, Penerbit Langgar Swadaya.

4. Jemma Purdey, Dari Wina ke Yogyakarta, Kisah Hidup Herb Feith, Penerbit KPG.

5. Peristiwa 1 Oktober, Kesaksian Jenderal Besar Dr. AH Nasution, Penerbit Narasi.

6. Anton Tabah, Jenderal Besar Nasution Bicara Tentang G30S/PKI, Penerbit CV Sahabat Klaten.

7. Ladislav Bittman, The Deception Game. Czechoslovac Intelligence in Soviet Political Warfare. Syracure Research Corporation.‎

http://m.kompasiana.com/post/read/712843/1/allan-nairn-dan-dalang-rahasia-g30spki.html
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 10
ijin nyimak
ceritanya membingungkan...soale byk versi tentang kejadian itu...
wah ... bisa gonjang ganjing nih bumi Indonesia kalo artikel ini sampai ke media massa mainstream!
ini TS nya agan blekki ya?
Quote:


aslinya hny ada satu dalang aja, tp bbrp pihak gak setuju, maunya ada bnyk versi biar dalang aslinya (PKI+PKC) bs kabur hilang terbawa ama angin sejarah sana sini.... emoticon-Ngacir
wahh gilak, nambah lagi versi dalang dibalik G30S!!
Ini anti mainstream, belum banyak yang tau juga. keren gan!
gw nambahin bahan diskusi yak emoticon-Big Grin


Mengapa Saya Tidak Mengambil Alih Kekuasaan



Setelah pemilihan presiden dalam Sidang Umum MPR 1973 jadi ramai, sekitar setahun setelah saya pensiun dari kemiliteran, banyak pertanyaan bernada penyesalan ditujukan kepada saya. Mengapa pada tahun 1965 dulu saya tidak besedia memenuhi dorongan Jenderal Soeharto dan lain-lain untuk mengoper kepresidenan, dan mengapa saya dalam Sidang Umum MPR 1973 tidak mencalonkan diri menjadi presiden. Pertanyaan ini paling sering terdengar dari kalangan mahasiswa, ketika saya diundang memberikan ceramah. Pertanyaan itu bertambah ramai disampaikan oleh mahasiswa dan masyarakat karena mendadak saya hilang dari televisi, pers dan radio, yang waktu itu memang menjadi "alat pemerintah". Dari pers sendiri saya mengetahui bahwa ada "perintah" untuk tidak meliput saya.

Saya rasakan pertanyaan itu sebagai penyesalan dan keprihatinan mereka karena mereka merasa "terpinggirkan" oleh ABRI dalam arenan perjuangan. Mereka menyesalkan tidak jadi tertegaknya kehidupan bernegara yangn konsisten menurut UUD 45, seperti yang bersama kita tekadkan. Mereka dengan lantang menuduh ABRI memonopolii kekuasaan.

Menjawab pertanyaan itu, saya jelaskan sikap para jenderal, baik di masa Jenderal Yani maupun Jenderal Soeharto memimpin angkatan darat. Mereka, para jenderal itu, senantiasa mendesak saya untuk menyesuaikan bahkan menyatukan diri kembali dengan Bung Karno. Perlu diketahui, bahwa pada rorganisasi pimpinan angkatan darat dan ABRI pada 1962-1963 saya tersingkir. Saya dikeluarkan dari struktur komando ABRI. Panglima Tertinggi (Pangti) Sukarno langsung memegang komando dengan kepala Komdando Tertinggi (Koti) Jenderal Yani. Jadi, pada saat peristiwa G30S/PKI itu saya tidak punya wewenang komando lagi. Dan sejak saat itu tidak pernah di antara kammi mempersoalkan untuk mengoper kepemimpinan dari Presiden Sukarno. Yang kami perjuangkan adalah mempertahankan posisi Jenderal Soeharto setelah hilangnya Jenderal Yani dan beredarnya fitnah tentang Dewan Jenderal yang disebut-sebut akan mengkup Presiden Sukarno.

Presiden Sukarno lah yang mengoper komando Angkatan Darat. Pada tanggal 3 Oktober 1965 pagi hari Jenderal Soeharto mengumumkan secara resmi bahwa bukan dia, melainkan Presiden Sukarno, yang memegang komando Angkatan Darat. Sehari sebelum pengumuman resmi itu, Jenderal Soeharto, Pranoto dan lain-lain menghadap Presiden Sukarno di Bogor. Saya bertemu mereka sebelumnya, saya berpesan agar mereka tetap mempertahankan komando Angkatan Darat.

Tapi pada 1973 tersebar luas informasi yang berbeda, yang memberikan pekerjaan rumah pada saya. Saya mendengar tentang adanya briefing atau informasi bahwa saya ragu untuk merebut kekuasaan dari tangan Presiden Sukarno walaupun, katanya, Jenderal Soeharto dan beberapa jenderal lain mendesak saya untuk berbuat demikian. Sebenarnya ini bukan kabar baru karena pada tahun 1966 pun telah saya baca hal pertanyaan ini dalam majalah luar negeri, antara lain Time.

Bila pada 1973 pertanyaan ini diramaikan terutama oleh para dosen dan mahasiswa – hal ini antara lain dimuat dalam buku David Jenkins, Soeharto and His Generals-karena isi pidaot historis Jenderal Soeharto pada 1 Oktober 1965 tak diingat lagi. Soeharto pada waktu itu menyatakan bahwa ia taat penuh kepada Presiden Sukarno. Waktu itu saya berusaha mempertahankan posisi Jenderal Soeharto sebagai panglima Angkatan Darat sesuai Order Tetap Angkatan Darat. Ini saya kemukakan kepada para panglima, utusan presiden, serta Mayjen Pranoto (salah satu asisten Pangad yang ditunjuk Presiden Sukarno menggantikan menggantikan Jenderal Yani) di markas Kostrad. Yang kami tentang hanya politik Sukarno membela PKI. Sesungguhnya sampai Sidang Istimewa MPRS 1967 pun, Jenderal Soeharto dan panglima keempat angkatan bersenjata tetap mempertahankan Bung Karno sebagai Presiden.

Sesungguhnya pada Februari 1966 Presiden Sukarno memecat saya, dan para panglima ABRI patu kepada Presiden, begitu pula panglima daerah yang penting (Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur). Bahkan mereka mengadakan apel kesetiaan kepada Presiden Sukarno atas instruksi Koti, dan Jenderal Soeharto serta jenderal yang lain menganjurkan kepada saya untuk menyesuaikan diri dengan Presiden Sukarno. Jenderal Sarbini yangn menjadi Menko Pertahanan berkali-kali mendesak saya pula untuk tetap dekat dengan Presiden Sukarno.

Agaknya orang luar dan pihak asing sulit mengerti struktur pimpinan militer kita di masa itu, karena tiada menteri pertahanan dalam arti yang lazim. Menko Hankam adalah pembantu presiden sehari-hari untuk mengkoordinasi menteri keempat angkatan, sementara kepala staf Angkatan Darat membantu presiden dalam koordinasi adminstrasi keempat angkatan. Yang membantu Presiden dalam hal komando ABRI adalah kepala staf Koti. Suatu hari kelak seorang profesor asing bertanya, mengapa saya mentaati keputusan-keputusan presiden itu. Menurut dia, saya terlalu legalistik.

Perubahan ini rupanya cocok dengan siasat PKI menuju 1 Oktober 1965, seperti dapat dibaca dalam dokumen PKI, 23 Desember 1963, yang berjudul :"Resume Program dan Kegiatan PKI Dewasa ini".

Dari reorganisasi ABRI itu saya menyadari sikap konsisten Presiden Sukarno terhadap saya : menolak saya kembali berposisi dalam komando militer dan juga dalam pemerintahan. Beliau berturut-turut menolak usul Angkatan Darat agar saya menjabat sebagai kepala staf Koti, sebagai wakil perdana menteri dan seterusnya. Akibatnya, Jenderal Soeharto terpaksa merangkap semuanya.

Lalu, berkaitan dengan Sidang Umum MPRS, Presiden Sukarno konsekuen menolak kemungkinan pencalonan saya sebagai wakil presiden, dan menolak ketentuan bahwa ketua MPRS yangn akan menjabat sebagai presiden kalau presiden berhalangan. Dalam hal inipun pimpinan Angkatan Darat selalu mengiyakan Presiden. Saya kutip buku My Friend the Dictator karya Cindy Adams, penulis yang pada hari-hari genting itu berada di sekeliling Presiden Sukarno. Betapa gigih beliau menolak saya tertuang pada halaman 307: The reason Soeharto was named to his high position was as a sop to Sukarno, who hates Nasution, the uncrowned political ruler of the military."

Beberapa wartawan menyampaikan kepada saya bahwa briefingitu dari pihak Opsus. Kolonel Kadir dan perwira lain yang tetap memelihara hubungan dengan saya juga melaporkan hal yang sama mengenai briefing yang mereka hadiri. Dan kemudian saya menerima risalah stensilan, transkrip briefing Pangkokamtib Soemitro pada 12 Desember 1973 pada rapat dinas pejabat penerangan se-Indonesia yang dipimpin oleh menteri Penerangan. Rupanya risalah itu oleh petugas penerangan diperbanyak dan disebarkan ke instansi-instansi dan kepada masyarakat.

Dari teman-teman lain saya peroleh pula laporan pribadi tentang briefing pejabat lain tentang saya. Ada pejabat yang lebih keras kata-katanya. Briefing yang senada dengan tokoh masyarakat dan politik, tokoh-tokoh agama, pers, mahasiswa dan daerah. Karena itulah kenalan serta teman terus-menerus bertanya atau mencek kepada saya dan Sunarti, isteri saya, tentang hal ini. Sering kali kami berdua membahasnya dan bertanya-tanya mengapa aparat pemerintah secara nasional begitu sistematis mengadakan kampanye menyebarluaskan briefing ini. Kelak saya dengar, salah satu sebabnya datang dari Kodam Siliwangi. Katanya, di daerah banyak yang mempertanyakan dimana saya dan apa jabatan saya. Penjelasan tentang saya memang sulit, seperti saya dengar sendiri dari pers, mereka diminta oleh pihak berkuasa untuk tidak meliput saya.

Karena banyak yang bertanya sehubungan dengan isi briefing itu, agar tak setiap kali menjelaskan hal yang sama, isteri saya suka memberikan buku Keadilan dan Kebenaran, yang dicetak oleh Seruling Masa, kepada mereka yang mempersoalkan sikap saya. Dulu, isteri saya mencetak buku itu untuk menghadapi tuduhan resmi Presiden Sukarno yang disampaikan dalam Pelengkap Nawaksara (Pelnawaksara). Pelengkap ini disampaikan tertulis untuk melengkapi pidato Nawaksara, 22 Juni 1966 di depan MPRS. Isi Pelengkap itu, antara lain, mempersoalkan mengapa beliau saja yang harus mempertanggung jawab tentang terjadinya G30S/PKI, padahal Menko Hankam dan kepala staf ABRI yang menjadi pejabat keamanan. Karena penjelasan ini meliputi fakta sekitar 1 Oktober 1965, buku kecil ini juga mencakup penjelasan tentang informasi bahwa para jenderal mendesak dan mendukung saya untuk mengoper kepemimpinan, tidak sesuai fakta.

Bekas Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta, Howard P.Jones, juga mengajukan pertanyaan tertulis kepada saya untuk bukunya. Di dalam buku itu ia menulis, jika saya merebut kepemimpinan dari Presiden Sukarno, terbuktilah yang dituduhkan oleh PKI. Saya jelaskan kepada dia, tak ada terlintas dalam pikiran saya pada sekitar 1 Oktober 1965 itu untuk merebut kepemimpinan. Tidak juga Jenderal Soeharto atau jenderal lain meski mereka pernah berbicara demikian.

Mungkin sementara orang mengatakan, inilah kelemahan saya sebagai politikus, yakni tidak melihat kejadian itu sebagai kesempatan. Tapi dengan demikian, saya membuktikan bahwa fitnah PKI terhadap kami tidak benar, seperti dengan spontan saya ucapkan dalam pidato pelepasan jenazah Jenderal Yani, dan kawan-kawan. Waktu itu pikiran saya terpusat pada usaha menyelamatkan posisi Jenderal Soeharto selaku pejabat Panglima Angkatan Darat. Tentang hal ini saya mendengar dari Kolonel Isa Edris yang masih bertugas di Hankam, tentang penilaian teman-teman di kantor. Katanya, "Orde Lama gagal membunuh saya secara fisik, Order Baru berhasil membunuh saya secara politik".

Kembali kepada briefing seperti tadi, ada beberapa variannya. Seorang "wartawan Istana" menguraikan briefing langsung oleh seorang jenderal intel. Katanya, di masa 1965 itu bukan saja mereka mendesak saya untuk mengoper kekuasaan dari Presiden Sukarno, tapi juga katanya, para jenderal juga telah mendesak Presiden Sukarno sendiri, namun dikatakannya, saya tidak mau.

Dari sekian banyak pertanyaan tentang "mengapa saya ak menjadi presiden' saat saya berceramah di ITB pada 10 November 1973 (Hari Pahlawan), satu pertanyaan begitu tegas :

"Pada waktu pemberontakan G30S Bung Karno pernah menghiang dari situasi selama 1 minggu, yaitu pada tanggal 1 hingga 6 Oktober 1965. Sedangkan Pak Nas luput dari teror. Kemana bapak selama itu ? Kenapa bapak Bapak tidak mengambil alih pimpinan kekuasaan waktu itu sebagai orang ke- dalam militer setelah Bung Karno, kenapa malah Jenderal Soeharto ? Apa strategi dan taktik Bapak waktu itu sebagai KSAB dan juga bagaimana kesimpulan Bapak mengenai strategi dan taktik Bapak ?"

Saya jelaskan, menurut pengalaman saya, pertanyaan seperti ini timbul karena adanya informasi yang lain, atau karena disinformasi tentang yang sebenarnya terjadi, dan tentang apa sebenarnya yangn jadi persoalan waktu itu, sehingga 10 tahun sesudah teror pembunuhan itu, fitnah tetap beredar. Apa yang disebut "pahlawan kesiangan" juga menambah persoalan karena sebagai pejabat waktu uitu saya merasa perlu memberi informasi. Sebenarnya cukup diketahui adanya sikap "menunggu", ragu-ragu, sehingga sebagian tokoh TNI pada hari-hari itu berpakaian preman (menyamarkan diri), dan baru menentukan sikap setelah lawan gagal.

Karena itu membasmi fitnah dan sikap mental "tujuan menghalalkan cara" (durnoisme) adalah tekad yang kita nyatakan pada waktu pemakaman Jenderal Yani dan kawan-kawan, untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.

Sering saya jelaskan bahwa pada 1 Oktober 1965 itu selama 10 jam saya berada di tempat persembunyian, setelah lolos dari pembunuhan. Di persembunyian saya tetap berhubungan dengan Jenderal Soeharto serta Jenderal Umar Wirahadikusumah. Pukul 15.30, saya bergabung ke Kostrad. Memang terhadap Jenderal Soeharto tidak ada usaha pembunuhan, dan syukur ia segera dapat bertindak sebagai pejabat Panglima Angkatan Darat dan waktu itu belum diketahui keterlibatan presiden, walaupun saya curiga karena pengawalnyalah yang menembaki saya.

Tragedi Nasional 1 Oktober 1965 dimulai dengan fitnah, dilandasi dokumen-dokumen palsu, sehingga respons kita adalah tekad menegakkan kebenaran dan keadilan. Namun 10 tahun Orde Baru, ternyata fitnah masih tetap beredar, bahkan tetap juga tak asing adanya dalam kehidupan politik. Berarti belum tertegak moral Pancasila. Saya pribadi berkali-kali mengalami difitnah sejak masa gerilya sampai dengan Orde Baru. Namun janganlah kita menyerah pada keadaan demikian, mari kita tetap berikhtiar menegakkan kebenaran dan keadilan, menghayati moral Pancasila.

Saudar Uyeng Suwargono meminta saya menulis tentan hal ihwal tadi, antara lain menjelaskan mengapa saya tidak menjadi presiden, dan ia kemudian mencetak tlisan itu 1.000 buah. Bung Natsir juga mendesak saya demikian, lalu sekretariatnya memperbanyak penjelasan saya itu. Juga Dema UI berbuat yang sama setelah saya ceramah di UI dalam memperingati 10 tahun gugurnya Arif Rahman Hakim. Namun pertanyaan tadi tetap saja berulang dan berulang. Maklumlah mahasiswa dan generasi muda berganti, dan rupanya tetap ada saja yang menggarapnya, seperti terjadi pada awal tahun 1970-an bahkan 1980-an. Informasi sedemikian sudah merata, sehingga jauh di tahun 1980-an saya masih terus difitnah, terutama setelah "Petisi 50", yang memohon kepada DPR agar Presiden menjelaskan isi pidato beliau tentang Pancasila di Cijantung dan Pekanbaru di depan ABRI. Mungkin terjadi lagi "briefing", sehingga ramai kembali yang meminta keterangan kepada saya.

Soal lain pertanyaan mengapa saya tidak menjadi presiden, pada masa "bersama mahasiswa" itu, ketika mahasiswa melakukan kritik terhadap pemerintah Orde Baru, tema pembicaraan rutin saya adalah bahwa sulit menemukan dalam sejarah bangsa-bangsa lain peranan nasional pemuda dan mahasiswa yang seperti di Indonesia, yakni yang telah sekian kali memelopori penentuan nasib bangsanya sebagai pembawa panji bangsa.


sumber : Buku "Mengawal Nurani Bangsa" - Dr. Abdul Haris Nasution.
Lebih baik terkubur dalam-dalam. .
Karena jikapun ada bukti yang menjelaskan bahwa PKI tidak bersalah, maka Bangsa ini pun juga tetap tidak akan menerima bukti tersebut. .
Jadi Biarkanlah Tetap begini adanya. . .
Versinya mantab nih
Quote:


berarti itu sama aja menyebut bhw PKI itu bkn partai komunis.... ups.... emoticon-Shutup


........ emoticon-Ngacir
Kuncinya di
Wooww..... Versi baru nih... Menarik dan cukup masuk akal....
panjang dan lumayan detail..tapi inti dari semua itu selalu ada campur tangan pihak eropa terutama belanda dan inggris..
trid cakep kaya gini kok sepi ya, padahal pembahasannya menarik nih.
Ane bantu ramein dah .. up .. up .. up
Lanjutkan ... ane baru nemu nih versi
Quote:


kalo dalang kasus pemberontakan g30s pki 1965 adlh SH+CIA+MI6, br bakal rame ini topik sejarah... emoticon-Big Grin
Quote:


hahaha, padahal topik di trid ini cakep lho, jujur ane baru kali ini tahu tentang teori yang dibahas disini.
kalo belajar sejarah kan kita harus obyektif dan mau melihat dari semua segi, setiap detail kecil punya arti besar dalam mempelajari sejarah.

kalo ane pribadi sih berusaha untuk gak mudah percaya ke semua teori, kebanyakan nonton film spionase gan, counter intellegence dilawan dengan counter intellegence pula.

yuk ah sundul lagi biar bangun nih trid zombie.
Quote:


sbnr nya, apa yg dijelaskan ama si TS nya itu, bs di bilang bs tuk melengkapi buku putih g30s pki 1965 dr pemerintah, kok.... emoticon-Embarrassment
Quote:


PKI terlibat, tapi PKC cuma sebatas kasih senjata Chung doang...
Quote:


Ini bukan teori, melainkan fakta gan...
Halaman 1 dari 10
×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di