alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54608eaf12e257c70e8b456a/jangan-ragu-katakan-quotjanganquot-muslim-perspektif
Jangan Ragu Katakan "JANGAN" (muslim perspektif)
Gara-gara tadi baca artikel yang melarang kata jangan terhadap anak. karena saya kurang setuju, sekarang saya memberikan artikel pembandingnya.

Tidak semua pemikiran yang berasal dari barat harus selalu kita ikuti atau bahkan kita jadikan pedoman untuk membangun generasi kita di masa yang akan datang. Dalam kehidupan dunia barat penghargaan terhadap kebebasan hak dari setiap orang bahkan anak selalu dijunjung tinggi sebagai suatu dogma yang harus ditaati.

Salah satu dogma yang berkaitan dengan memberikan kebebasan pada anak adalah dengan munculnya istilah populer dalam psikologi barat yaitu Jangan katakan tidak pada anak. (Don’t say NO to Children). Setiap orang yang sedang mendidik haram hukumnya mengatakan kata “jangan” pada anak, ataupun peserta didik karena kata jangan akan membelenggu perkembangan sang Anak. Baik ia seorang Guru, Ibu, Ulama, Masyarakat Umum, dan mereka semua yang terlibat dalam proses pendidikan anak dihimbau untuk menerapkanya. Ajaran ini menganjurkan para pendidik untuk mengganti kata “Jangan” yang di stigma negatif menjadi kalimat–kalimat positif. Benarkah konsep ini akan meningkatkan pertumbuhan kreatifitas anak, atau justru akan membinasakan?

Menurut Malik Badri dalam bukunya, Dilemma of Muslim Psychologist. Para Psikolog Muslim termakan dogma dari Psikolog Barat yang menyatakan, “Orang tua selalu berada di pihak yang salah. Sebaliknya berkembang sikap atau pandangan yang menyatakan bahwa anak selalu benar.” Padahal menurut Malik Badri dogma inilah yang membuat anak menjadi tak bisa menghargai orangtuanya.
Sebagai orang tua muslim, kita harus berkaca kepada keruntuhan moral yang terjadi pada anak-anak Barat. Hilangnya Rasa Hormat anak terhadap orang tua diakibatkan melunaknya pemberian hukuman dari para orangtua.

Konsep Pendidikan “Don’t say NO to children,” sesungguhanya merupakan embrio dari pemikiran liberalisme. Setiap anak dididik berpikir dan bertindak sebebas mungkin sejak dini dengan dalih untuk tidak membunuh kreatifitas sang anak. Padahal jika kita mau mengkritisi, kreatif bukanlah identitas dari kebaikan. Penjahatpun mampu untuk berkreatifitas, Para Koruptor yang sangat licin untuk ditangkap oleh KPK adalah contoh nyata kreatifitas.

Kebebasan tanpa larangan akan menghasilkan manusia-manusia kebingungan yang pada akhirnya akan berhujung pada sikap atheisme atau paling tidak iya akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Karena bagi orang yang bebas, peraturan adalah yang ia kehendaki. Layaknya para koruptor hari ini yang bebas memilih jalan mencari nafkah, kreatif dan lihai dalam mengakali birokrasi untuk korupsi.

Sebenarnya kesalahan yang kerap kali terjadi adalah pelarangan tanpa penjelasan yang terang dan jelas. Orang tua dan guru terkadang tidak mampu memberikan alasan pelarangan kepada sang anak. Cara pandang yang memberikan kebebasan anak untuk memilih sesungguhnya adalah konsep menuju kebinasaan. Karena tidak semua pilihan yang dihadapi oleh anak itu adalah benar. Pasti ada pilihan-pilihan keliru yang dapat membinasakan dirinya. Sehingga setiap orang wajib menggunakan kata jangan untuk membatasi pilihan-pilihan keliru terhadap anak.
Sebelumnya, kalau kita mau teliti, mari kita tanyakan kepada mereka yang melarang kata ‘jangan’, apakah ini punya landasan dalam al-Qur’an dan hadits? Apakah semua ayat di dalam al-Qur’an tidak menggunakan kata “Laa (jangan)”? Mereka pun mengatakan jangan terlalu sering mengatakan jangan. Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata “jangan”.

Allahu akbar, banyak sekali! Mau dikemanakan ayat-ayat kebenaran ini? Apa mau dibuang? Kalau mereka mengatakan kata jangan bukan tindakan preventif (pencegahan), maka kita tanya, apakah Anda mengenal Luqman AL- Hakim? Kita Juga Bisa Mengambil contoh dari Luqman yang yang dikisahkan dalam Al-Qur’an. Luqman mengawali nasihatnya dengan pelarangan kemudian ditambahkan penjelasan mengapa Menyekutukan Allah itu dilarang. Tentunya cara ini jauh lebih utama karena kisah didalam Al Qur’an adalah kisah-kisah terbaik dalam sejarah hidup manusia.
Ketika Luqman menggunakan redaksi “ janganlah mempersekutukan Allah”, ketimbang “Sembahlah Allah” bertujuan untuk meniadakan peluang pengakuan Tuhan-tuhan lainya yang patut disembah. Karena jika kalimat yang digunakan “Sembahlah Allah” berarti tidak menutup kemungkinan ada Tuhan-tuhan lain yang dapat disembah, namun dengan memilih “janganlah mempersekutukan Allah” Luqman telah menutup pilihan-pilihan keliru bagi anaknya.


Mengapa Luqmanul Hakim tidak menganti “jangan” dengan “diam/hati-hati”? Karena ini bimbingan Alloh. Perkataan “jangan” itu mudah dicerna oleh anak, sebagaimana penuturan Luqman Hakim kepada anaknya. Dan perkataan jangan juga positif, tidak negatif. Ini semua bimbingan dari Alloh subhanahu wa ta’ala, bukan teori pendidikan.

Adakah pribadi psikolog atau pakar parenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman? Tidak ada. Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allah dalam Kitab suci karena ketinggian ilmunya. Dan tidak satupun ada nama psikolog kita temukan dalam kitabullah itu.

Membuang kata “jangan” justru menjadikan anak hanya dimanja oleh pilihan yang serba benar. Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang dalam agama, tetapi karena lebih memilih berdamai. Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya. Dan, kelak, ia tidak berzina bukan karena takut adzab Alloh, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya.

Anak-anak hasil didikan tanpa “jangan” berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum. Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiatan bertebaran, tidak perhatian lagi dengan amar ma’ruf nahi mungkar, tidak ada lagi minat untuk mendakwahi manusia yang dalam kondisi bersalah, karena dalam hatinya berkata “itu pilihan mereka, saya tidak demikian”. Mereka bungkam melihat penistaan agama, mereka diam saat ada orang diperkosa, mereka diam saat tau orang lain korupsi, mereka diam saat tau ada transaksi narkoba, mereka diam saat temannya di bully karena otaknya berbunyi “mereka memang begitu, yang penting saya tidak melakukannya”.

Jadi kenapa harus ragu untuk mengatakan, “Jangan” pada Anak/Murid-mu?


Diambil dari Sumber dengan sedikit tambahan

Spoiler for sumber:


BUKAN KATA JANGAN YANG SALAH, TETAPI ORANG TUA DAN PENDIDIK YANG SALAH CARA MENGGUNAKAN KATA JANGAN. DARI SURAT LUQMAN KITA BISA TAU: LARANG ANAK, KATAKAN JANGAN PADANYA, TAPI JANGAN LUPA JELASKAN KENAPA HAL ITU DILARANG.

ada komen bagus nih di trit sebelah jadi saya masukin kesini

Quote:Original Posted By registry101
Nice Thread emoticon-thumbsup

Sebelum memutuskan untuk tidak menggunakan "JANGAN", ada baiknya dipahami dulu karakter si anak.

Mungkin judulnya bukan "STOP" namun "ALTERNATIF LAIN"....

Ada yang bisa diperlakukan dengan uraian TS, namun ada juga yang cukup dengan simply saying "JANGAN", maka dia akan paused sebentar kemudian dia akan men-challenge kenapa kita sampai bilang "JANGAN". Ini akan merangsang otak anak untuk melakukan analisa dan mengkritisi sesuatu sampai jelas sesuai kemampuan anak, yang akhirnya akan berpengaruh secara langsung pada kecerdasan dan pola pikir anak.

Sample : (P) Parents ; (K) Kids
P : Jangan main air di kamar mandi sekarang ya sayang.
K : (paused) Kenapa?
P : Sekarang sudah malam, airnya dingin, nanti bisa masuk angin lohh.. besok saja kalau airnya ga terlalu dingin
K : (paused)

  • (anak belajar lebih mendeteksi dingin)

  • (belajar memahami akibat dari sesuatu yang dia lakukan)

  • (memahami bahwa sebenarnya main air tidak dilarang, namun harus dilakukan di waktu dan tempat yang tepat)

  • (challenge) terus main apa sekarang?


P : Main tebak gambar yukk...

K : (paused) maka anak berpikir selalu ada cara untuk having fun... dan having fun ga selalu dengan aen air....

Ga bermaksud menggurui, hanya sekedar berbagi opini saja emoticon-Shakehand2

Thank you


1 lagi kemntar keren

Quote:Original Posted By kelilipan.duren


manusia memiliki dua tahap eksplorasi, yg pertama saat balita dan yg kedua saat remaja
bedanya, balita masuk masa imitasi dan masuk masa imitasi motorik, sedangkan remaja masuk pada masa asimilasi

penanganan yg tepat saat masa balita memasukan kalimat keterangan dan solusi yg tepat setelah kata jangan
sedangkan masa remaja menambahkan kalimat keterangan sudah cukup

yah susah kalau mau serba gampang emoticon-Big Grin


Quote:Original Posted By arlow
Saya seorang guru dengan pengalaman lebih dari 10 tahun bergaul dengan pendidikan barat berhati hati dengan topik ini. Maksud dari tidak menggunakan kata jangan kepada anak agar mereka tidak takut salah dalam bertindak (tentu dalam maksud positif) dan belajar.

Tapi terkadang untuk sebuah tindakan yang cepat dan menunjukkan kita serius maka kata JANGAN! masih sangat sangat efektif.

Anda bisa bayangkan melihat seorang anak kecil yang karena tidak tahunya hendak melempar pensil ke temannya karena dianggap ini permainan. Apa saya harus berkata," Letakan kembali pensilnya karena kamu butuh untuk menulis nanti". Percaya deh 5 menit kemudian ketika kita tidak melihat pensil itu sudah melayang ke temannya dan syukur aja kalau gak kena mata temannya.

Saat seperti itu kata Jangan atau don't atau stop akan sangat sangat efektif untuk membuat anak sadar bahwa gurunya serius, ini masalah serius dan kamu harus perhatikan ini baik baik. Anak akan ingat selamanya.


Spoiler for "kata pembuka":


begini cu.. emoticon-Kiss (S)
nenek baca ini judulnya berlawanan dengan trit HT emoticon-Embarrassment
tapi pesan yang cucu sampaikan bagus kok emoticon-Malu (S)


yang ngledekin nenek nanti kena DOR
counter ht emoticon-Ngakak (S)

bookmark dulu gan, ane mau mandi emoticon-Betty udah magrib
Quote:Original Posted By istri.kakekmu
Spoiler for "kata pembuka":


begini cu.. emoticon-Kiss (S)
nenek baca ini judulnya berlawanan dengan trit HT emoticon-Embarrassment
tapi pesan yang cucu sampaikan bagus kok emoticon-Malu (S)


yang ngledekin nenek nanti kena DOR


emoticon-Jempol
emoticon-Mewek
Quote:Original Posted By moderator.jahat
counter ht emoticon-Ngakak (S)

bookmark dulu gan, ane mau mandi emoticon-Betty udah magrib


ok gan. jangan lupan nanti dibaca. emoticon-Jempol
ane mandi dulu ya gan
Quote:Original Posted By manggor18
JANGAAAANN!!! emoticon-Big Grin
Jangan Ragu Katakan "JANGAN" (muslim perspektif)
Jangan Ragu Katakan "JANGAN" (muslim perspektif)Jangan Ragu Katakan "JANGAN" (muslim perspektif)Jangan Ragu Katakan "JANGAN" (muslim perspektif)

Spoiler for Mampir gan:



ok gan. emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By .Bathara.Kala.
ane mandi dulu ya gan


yang bersih gan emoticon-Ngakak (S)
ini baru benar, DILARANG MELARANG....!!!!
jangan ada dusta diantara kita kak emoticon-Sorry emoticon-Sorry emoticon-Sorry
JANGAN
Quote:Original Posted By apulbarus
ini baru benar, DILARANG MELARANG....!!!!


komennya sama dengan di sebelah ni gan
bilang "jangan" saat kondisi nya memungkinkan
jangan bilang "jangan" saat kondisinya tidak memungkinkan emoticon-2 Jempol
Mantep gan, memang biasa nya anak2 bule emang kurang ajar sama orang tua nya, juga terlalu bringas
Quote:Original Posted By raimine


komennya sama dengan di sebelah ni gan


emang trit ente bedua itu ini jawabannya gan
betul gan...blng jangn saat anak melakukan hal2 d luar norma
ane sih emang tetep pke kata "jangan".

emoticon-I Love Indonesia (S)
bener gan, contohnya anak2 jaman sekarang rata2 pada ga ada sopan santun, apalagi dibarat sana. dan itukah metode yang harus dijadikan pedoman ? emoticon-Busa:
proud of u ada manusia kaya ente di kaskus gan....cendol sent dah ngantri tp yak