KOMUNITAS
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Stigma Ngawur: Antara Bu Menteri Bertato, Ukhti Jilbab Bercadar dan Muslim Berjenggot
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5451ec05902cfe95368b4573/stigma-ngawur-antara-bu-menteri-bertato-ukhti-jilbab-bercadar-dan-muslim-berjenggot

Stigma Ngawur: Antara Bu Menteri Bertato, Ukhti Jilbab Bercadar dan Muslim Berjenggot

Akhir-akhir ini Indonesia disibukkan dengan kontroversi pilihan menteri oleh Presiden Jokowi. Namanya kontroversi, pasti ada yang pro dan kontra. Saya pribadi memilih mengamati dan tak hendak memperkeruh kondisi negeri. Tapi bukan berarti saya tak mempunyai sikap sendiri berkaitan dengan hal ini.

Di antara kontroversi tersebut, bukan sosok menterinya yang menurut saya menarik untuk dibahas. Sikap masyarakat kita yang katanya mayoritas muslim inilah yang layak untuk dicermati. Betapa mudah kita melontarkan kata-kata menghina meskipun taruhlah perbuatan itu salah. Belum lagi membawa-bawa nama Islam yang sebetulnya dalam hal ini sekadar menjadi kambing hitam. Hanya karena ada pejabat yang memakai hijab dan korup, kemudian dijadikan contoh buruk dan dibandingkan dengan yang tak berhijab tapi tidak korup.

Perbandingan yang sangat tidak adil dalam hal ini sangat terlihat. Hidup itu bukan seperti ujian dengan pilihan ganda, apalagi yang diberikan pilihannya cuma dua dan bisa jadi salah semua. Toh, dalam ujian sendiri, bentuk tes yang bagus adalah yang bersifat terbuka atau essay. Dari sini saja logika contoh atau perbandingan ini sudah tidak logis

Inilah masyarakat kita, sangat suka membandingkan sesuatu yang tidak sebanding atau tak bisa dibandingkan. Apalagi ketika yang dibandingkan dengan pembandingnya sama-sama tak bisa diambil sebagai pilihan yang baik. Maka, sesungguhnya dalam hal ini kita memunyai standar baku sebagai seorang muslim. Sudah, ukur saja segala sesuatunya dengan standar Islam: Qur’an dan hadits.

Masalahnya, bagaimana Qur’an dan hadits akan dipakai sebagai standar bila akar dan pondasinya saja tidak memakai Islam? Nah, di sinilah tidak adilnya kita ketika pondasi tidak memakai Islam tapi bila ada buruknya bangunan maka Islam yang disalahkan. Sama tidak adilnya ketika banyak sekali yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menghakimi atau ‘menjudge’ seseorang dari penampilannya saja. Tapi lupakah kita bahwa mereka yang memakai hijab lebar bahkan cadar, berjenggot dan bercelana cingkrang sering sekali mengalami diskriminasi hanya karena penampilan?

Mulai dari julukan teroris, tidak sesuai dengan budaya Indonesia (budaya yang mana?), udik, kuno, hingga disuruh pindah ke Arab, semua lengkap ditudingkan ke orang-orang yang berusaha menjalankan Islam kaafah. Pernahkah ada pembelaan bagi mereka ini dengan kata-kata ‘yang penting kinerjanya?’ Jangankan kinerja, sedangkan kesempatan pertama saja tak pernah diberikan. Betapa banyak saudara-saudara muslim kita yang ditolak bekerja dan berprestasi hanya karena belum apa-apa dicurigai. Lalu, siapa yang membela mereka ini?

Mereka dinilai, dihakimi dan ‘dijudge’ dari penampilan semata. Tetapi hal ini menjadi tak berlaku ketika ada kritik diberikan untuk pejabat negara. Sebutan ‘haters’ menjadi sangat sering dihadiahkan bagi mereka yang berusaha untuk memberi masukan kepada pemimpin negeri. Di sini kita belum membincangkan kinerja karena memang porsinya belum sampai ke sana.

Saya pribadi tak berniat untuk berbicara buruk tentang mereka yang mungkin saja perilakunya tak elok. Karena sifat manusia itu dinamis. Hari ini ia berbuat salah, esok hari bisa saja ia menjadi orang yang salih. Begitu juga kebalikannya. Jadi alangkah indahnya bila kritik yang ada itu disampaikan dengan cara elegan dan kata-kata yang santun. Begitu juga dengan yang dikritik maupun pihak pendukungnya, bisa menerima kritik dengan lapang dada dan tidak memandang pihak pemberi kritik sebagai musuh. Karena terbuka sekali peluang Bu Menteri akan menjadi sosok muslimah yang baik tanpa rokok dan tattonya. Insya Allah.

Di bawah ini sebagai renungan tentang kondisi kita saat ini sebagaimana diisyaratkan oleh Sayidina Ali bin Abu Thalib r.a.

"Aku kawatir terhadap suatu masa yg rodanya dapat menggilas keimanan

Keyakinan hanya tinggal pemikiran, yg tidak berbekas dalam perbuatan.

Banyak orang baik tapi tidak berakal, ada orang berakal tapi tidak beriman.

Ada lidah fasih tapi berhati lalai. Ada yg khusyuk tapi sibuk dalam kesendirian.

Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis. Ada ahli maksiat, rendah hati bagaikan sufi.

Ada yg banyak tertawa hingga hatinya berkarat. Ada yang banyak menangis karena kufur nikmat.

Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat. Ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut.

Ada yang berlisan bijak tapi tidak memberi teladan. Ada pezina yg tampil jadi figur.

Ada orang punya ilmu tapi tak paham. Ada yang paham tapi tidak menjalankan.

Ada yang pintar tapi membodohi. Ada yg bodoh tapi tidak tau diri.

Ada orang beragama tapi tidak berakhlak. Ada yang berakhlak tapi tdk ber-Tuhan.

Lalu, di antara semua itu, dimana aku berada?"

(Ali bin Abi Thalib)





Halaman 1 dari 6
sekarang mah semua berasa abu-abu
realita nya seperti itu lho.

slh satu contoh bukan berarti semua.
penampilan suci kelakuan laknat emoticon-Cape d... (S)

Ada orang beragama tapi tidak berakhlak.
Ada yang berakhlak tapi tdk ber-Tuhan.



apa orang yg ngerokok dan bertatto, ga pantas jadi mentri? ga bisa kerja? haram? kafir? yg pantas apakah mereka yg berhijab suka foya2 pake uang rakyat, yg berpeci, berdahi hitam, bercelana cingkrang tp korupsi... MIKIIIIRRR!!!
Diubah oleh mBencoleng
Lumayan Gan,

Lumayan panjang emoticon-Cape d... (S)
stigmanya dibangun oleh media dan kelompok berkepentingan tertentu gan. inilah demokrasi gan dimana fanatisme akan di hancurkan dengan cara sedikit demi sedikit gan.
tulisannyaa emoticon-Matabelo
Quote:



iya, media selalu amat berperan dlm pergeseran pola pikir dan budaya
hampir sama kayak pertanyaan..
Pilih pemimpin kafir tapi amanah, atau pemimpin beriman tapi ga amanah

wow

Quote:


Pilih yg beriman dan amanah dong?
Quote:


Setuju gan sama ente. Emang kadang media juga yg kasih stigma buruk ke orang2 tertentu
“Akan datang suatu masa umat lain akan memperebutkan kamu ibarat orang-orang lapar memperebutkan makanan dalam hidangan.” Sahabat bertanya, “Apakah lantaran pada waktu itu jumlah kami hanya sedikit Ya Rasulullah?”. Dijawab oleh beliau, “Bukan, bahkan sesungguhnya jumlah kamu pada waktu itu banyak, tetapi kualitas kamu ibarat buih yang terapung-apung di atas laut, dan dalam jiwamu tertanam kelemahan jiwa.” Sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud kelemahan jiwa, Ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati!”. (HR. Abu Daud).

semua sudah dijelaskan jauh saat rasulullah masih ada gan, tinggal kita mau ikut jadi buih atau ngga.
Diubah oleh slapbazz
Quote:


bawa2 hijab, celana cungkring, jidat item...

begoooo

pinter tapi gk punya attitude..

malah banding2in ke hal yg sara...

gw suka ahok, dan gw muslim...

dan gw gak masalah selama kerjaan dia bener.

susi ya? dia attitudenya gak ada...

sory lw pinter, kaya, gelar s3 tp gk punya attitude. gaj punya temen lw

TS cuma jabarin salahnya org indonesia generalisasiin.

gk usah di bold juga kebaca

salam emoticon-Big Grin
Quote:


soooeremoticon-Ngakak
ane no commet deh...semoga pilihan pak jokowi tepat dan yang terpilih memberikan bukti bukan janji
Quote:


mantap gan emoticon-Shakehand2

keren gan

mantebb ijin sharee yak gan
Diubah oleh penyulang
Bintang 5 buat juragan ......... Ijin share gan
kalo IQ tiarap sih cuma bisa bandingin doank..mentang2 berhijab korup trus digeneralisasikan, nyangkut deh sara
pake bawa2 peci segala, kasihan anda gan dibekali otak semacam itu
emoticon-Sorry
No comment

Ntar salah
emoticon-I Love Indonesia emoticon-I Love Indonesia
Halaman 1 dari 6


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di