alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5451c542529a45fd288b4577/gonjang-ganjing-moratorium-pns-buat-resah-dan-basah
Gonjang-ganjing Moratorium PNS Buat Resah dan Basah
Halo selamat membaca kembali konyolers. Lumayan lama juga saya tidak menulis di lembaran elektronik ini. Maklum, sibuk dengan pekerjaan dan tugas kuliah yang membuat mumet otak. Walaupun begitu, tapi saya tetap aktif kok menulis. Ya, menulis status di BBM atau Facebook. Hehe.
Kebetulan momen yang ingin saya tulis ini merupakan mindset kebanyakan teman saya, mungkin juga anda. Bisa jadi ini pengaruh dari keluarga anda atau tuntutan keluarga, bisa juga karena niat anda sendiri karena melihat enaknya. Saya ingin menuliskan beberapa keluh kesah teman BBM dan Facebook saya tentang kebijakan Moratorium PNS selama 5 tahun oleh pemerintahan Jokowi. Mungkin karena PNS itu menjanjikan di hari tuanya atau juga karena kerjanya yang kita lihat santai tapi tiap bulannya bergaji kali ya? Hehe. Tapi apakah kalian tidak pernah berpikir untuk menjadi pedagang, penulis, ataupun kolektor? Mungkin pernah, tapi sebagian saja. Coba bayangkan kalau kita yang melimpah ini, berkarya, menciptakan usaha sendiri walau kecil-kecilan, bisa juga menciptakan lagu walau orang lain tidak tahu judul lagu dan lirik yang kita buat. Hehe. Ah sudahlah, lupakan masalah itu.
Kembali ke masalah yang ingin saya sampaikan. Cekidot! Begini. Menurut saya, menjadi PNS bukanlah sebuah pekerjaan yang mustahil. Tidak salah jika seseorang ingin menjadi PNS. Lebih bagus lagi jika dia seorang PNS yang benar-benar mengabdi pada negara dan lebih luar biasa lagi jika ditambah dengan penciptaan lapangan kerja bagi lingkungan sekitarnya. Ya sedikit sih yang kayak gitu, hehe. Sedikit itu mungkin karena kebanyakan orang ataupun yang sudah menjadi calon PNS kurang mengerti esensi pekerjaan sebagai PNS. PNS itu kan tugasnya mengabdi pada negara, tapi kenapa banyak yang kita lihat PNS malas-malasan? Ya karena tak mengerti esensi pekerjaan makanya seperti itu. Akhirnya banyak pemuda—anak SMA dan mahasiswa khususnya teman saya—yang menduga betapa enaknya menjadi PNS. Asal kita mau berusaha dan belajar, tak ada yang perlu ditakuti untuk pekerjaan kita kelak entah sebagai PNS atau swasta. Yang perlu kita kedepankan adalah cara kita untuk membangun bangsa ini, mengabdi pada bangsa.
Kita ambil contoh, seorang guru (yang PNS bukan yang swasta) yang mengajar di sebuah sekolah misalnya saja SD. Pendidikan dasar ini merupakan pendidikan utama di Indonesia, karena itu guru harus giat dan sepenuh hati untuk mengajar murid-muridnya. Bukan begitu Bung Toel? Hehe. Pengalaman saya saat SD, guru bisa saja masuk untuk mengajar seenaknya. Maksudnya guru bisa mengajar atau tidak tergantung moodnya guru. Kalau sedang malas, guru tidak mengajar. Kalau lagi rajin, guru akan mengajar. Terus, dampaknya pada murid. Murid akan beranggapan betapa enaknya menjadi guru. Tidak mengajar tapi gaji jalan terus. Berbeda dengan guru swasta atau honorer, jika tidak mengajar, gajinya dipotong oleh yayasan. Kemudian saat murid di rumah. Kebetulan orangtuanya adalah PNS. Saat di rumah (kalo SD pulangnya jam 10-12), si anak (menggantikan posisi murid hehe) melihat orangtuanya tidak ke kantor padahal bukan hari libur atau jam istirahat. Padahal di rumah orangtua yang memberikan pendidikan secara nyata. Masa’ orangtua memberikan contoh yang malas. Akhirnya si anak akan beranggapan kalau menjadi PNS bisa santai di rumah, cuma isi absen terus pulang dan santai. Inilah yang menjadi motivasi anak-anak untuk menjadi PNS.
Mungkin sama halnya dengan yang dirasakan oleh teman-teman saya yang kecewa karena moratorium itu. Tapi alangkah indahnya jika kita menyikapi kebijakan itu dengan berusaha berkarya. Menjadi pedagang, penulis, kolektor, dan lain sebagainya juga berkarya dalam bidangnya, PNS juga.
Tidak mati kok kalau kita tidak menjadi PNS. Apalagi kebanyakan teman saya sedang menempuh strata satu di perguruan tinggi. Pastinya sudah dibekali pendidikan di bidangnya masing-masing. Selain pendidikan, pengalaman juga sudah mumpuni saat berorganisasi—walaupun masih banyak juga teman saya yang tidak pernah memasuki ruang lingkup organisasi secara nyata—di dalam kampus atau di luar kampus. Karena pendidikan dan pengalaman masih dirasa kurang, makanya kita mesti memiliki keahlian. Keahlian ini tidak hanya pada bidang atau jurusan yang kita dalami, bisa juga di bidang lainnya. Misalnya saja mahasiswa jurusan arsitek, dia memiliki keahlian di bidang jurnalis. Atau mahasiswa keguruan memiliki keahlian dalam wirausaha. Itulah bekal untuk menghadapi tuntutan zaman.
Masih takut untuk hidup jika tidak menjadi PNS? Ya masih lah, karena kebanyakan kita—sebagai mahasiswa khususnya—kebanyakan belum memiliki skill atau keahlian dan pengalaman karena kita hanya mengejar nilai dan mindset kuno kita untuk menjadi PNS masih membelenggu. Coba tanya ke beberapa teman anda, ingin kerja dimana setelah lulus kuliah? Pastinya mau kerja di dinas atau instansi pemerintah dong. Jarang sekali yang ingin membuat inovasi baru membuka lapangan kerja atau membuka usaha sendiri—walau banyak mahasiswa desain yang punya niat membuka usaha sendiri. Itu karena mindset dan lingkungan kita—keluarga yang menuntut kita untuk menjadi PNS—sehingga kita kuliah berorientasi pada kerja sebagai PNS.
Coba saja kita belajar dari pendiri google, dua orang mahasiswa yang berpikir untuk mendirikan pencarian dan penyimpanan file hingga akhirnya bisa sebesar sekarang. Atau ambil contoh kisah sukses Mark Zuckerberg yang sukses membuat Facebook. Lebih dekat lagi Andy F. Noya seorang pimpinan redaksi di stasiun televisi swasta yang sukses karena skill di bidang jurnalisnya hingga beliau bisa membawa acara reality show khusus dirinya yang membawakan sendiri. Nama Emha Ainun Najib juga banyak dikenal orang walau dirinya hanya kuliah tiga bulan saja. Walaupun mereka seperti itu—menempuh pendidikan tidak sampai menyandang gelar—, kita harus belajar dari pengalaman mereka dan pengalaman kita juga. Sangat minim sekali jika kita berpikiran bahwa orang yang tak berijazah sarjana saja bisa sukses masa’ kita tidak jika kita tanpa usaha untuk meraih kesuksesan.
Tak ada yang perlu ditakuti untuk tidak menjadi PNS jika kita memiliki skill dan pengalaman selain nilai yang kita kejar di kampus. Nilai yang kita kejar hanya penolong kita untuk melamar kerja karena bisa saja nilai “kasihan” dari dosen yang kita dapat selama kuliah. Percuma saja nilai—indeks prestasi kumulatif kalau dalam perguruan tinggi—kita 3,5 jika saat implementasi pekerjaan kita jauh dari nilai yang kita dapat di bangku kuliah. Sangat disayangkan jika terjadi seperti itu.
Yang perlu diketahui juga, skill dan pengalaman juga masih perlu ditambah dengan pengetahuan kita tentang dunia kerja diluar bidang kita—walau skill termasuk pengetahuan diluar bidang kita. Misalnya pengetahuan tentang berwirausaha. Kita bisa menambah wawasan kita dengan membaca buku-buku wirausaha, karena wirausaha biasanya adalah pilihan terakhir kita untuk tidak menjadi pengangguran. Banyak mahasiswa di pulau Jawa yang berwirausaha selain sebagai mahasiswa ataupun setelah menjadi alumni. Bukan suatu pekerjaan yang tidak mulia sebagai wirausahawan (kecuali berwirausaha narkoba hehe), bahkan jika usahanya sukses, malah bisa membuka lapangan kerja untuk lingkungan sekitarnya. Buang jauh-jauh pikiran bahwa “tak akan hidup jika tidak menjadi PNS” atau “sengsara di hari tua jika menjadi swasta”, itu masalah kemampuan kita menyikapi finansial kita sendiri. Tirulah cara hidup orang China yang hidup seadanya jika masih dibawah, tidak memaksakan diri untuk bermewahan.
Makanya saya sangat beruntung saat kuliah di kampus pertama saya pernah belajar tentang kewirausahaan. Mata kuliah ini memberikan bekal kepada mahasiswa sebagai “cadangan” jika kita tidak bisa melamar pekerjaan yang sesuai bidang kita. Hingga kini saya sering membaca artikel tentang berwirausaha walau saya belum sepenuhnya menjalankan kegiatan itu. Saya tidak takut jika saya tidak menjadi PNS karena saya sudah ada bekal dari pengetahuan berwirausaha dan masih mengejar skill serta pengalaman. Saat ini, saya mengajak teman-teman untuk mulai belajar berwirausaha dan berkarya sambil mengasah skill dan mencari pengalaman selama kita mengejar nilai. Tak ada yang mustahil jika kita berusaha. Mau menjadi PNS, pejabat, dokter, wirausahawan, penulis, atau apapun itu, tergantung pada pilihan dan jalan hidup kita. Anda memilih menjadi PNS, bersungguh-sungguhlah mengabdi pada negara karena PNS adalah abdi negara. Jika anda memilih sebagai dokter, seriuslah dalam pekerjaan menangani hidup mati orang lain. Anda memilih sebagai wirausahawan, tekunlah bekerja jangan sampai merugikan orang lain atau malah merugikan diri anda sendiri.
Ah sudahlah, saya ingin mengakhir tulisan ini, jangan ditanggapi jika tidak bersentuhan dengan anda hehe, silakan berikan kritikan disertai saran mengenai pikiran-pikiran saya ini, agar saling membuka pikiran-pikiran kita yang masih membelenggu. Tulisan saya ini bukan sebuah motivasi atau kata-kata bijak, tapi hanya kekalutan saya dengan keinginan kebanyak teman yang ingin menjadi PNS tanpa menjunjung tinggi esensi sebagai abdi negara. Masih banyak pekerjaan lain selain PNS kok. Hehe. Akhirnya pada penghujung tulisan, saya mengucapkan terimakasih atas permasalahan ini dan anda yang berkenan membaca. Indonesia Raya dan Salam Konyolers Damai (SKD).
emoticon-No Sara Pleaseemoticon-I Love Indonesia (S)
emoticon-Matabelo panjang kali gan

jd agan adalah seorang ?
jadi pns salah, jadi buruh salah,
panjang amat curhatnya gan?
emoticon-Amazed
kalau semua gak mau jd pns ya bangkrut donk gan segala kegiatan pemerintah gak akan jalan.
Quote:Original Posted By triutomohadi666
Halo selamat membaca kembali konyolers


konyolers???????? makanan apa pula itu?????? emoticon-Bingung (S)
Tulisannya dirapiin gan, biar enak bacanya. mana panjang pula
Quote:Original Posted By powermodif
kalau semua gak mau jd pns ya bangkrut donk gan segala kegiatan pemerintah gak akan jalan.


ganti robot
copas kali ni


dan apa yang kayak gini termasuk berita?

emoticon-Cape d... (S)

biarin aja gan ya mau jadi pns silahkan, mau wiraswasta silahkan, mau kerja d bumn/bumd silahkan, toh semua punya hak individu.
nah berbicara tentang hak, wacana moratorium ini sepertinya indikasi penyelewengan terhadap pasal 27 ayat 2.


Males bacanya.lihatnya uda panjang banget. Skip skip skip..
Ini curhatan ts kah?
moratorium PNS kagak berlaku buat tenaga pengajar kek guru dan dosen juga tenaga kesehatan kek dokter dan perawat so yang masih mau jadi PNS bisa masuk dari profesi tersebut
sebenarnya yg membuat kebanyaan PNS itu kerjanya gak bener karena dari tujuan utama menjadi PNS dan cara masuk PNS sudah salah...