- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
[Bukan MMM] Febriati Nadira Lebih Sreg Investasi Emas dan Properti
TS
arbei.net
[Bukan MMM] Febriati Nadira Lebih Sreg Investasi Emas dan Properti
![[Bukan MMM] Febriati Nadira Lebih Sreg Investasi Emas dan Properti](https://dl.kaskus.id/data.tribunnews.com/foto/bank/images/20140913_155147_febriati-nadira.jpg)
Quote:
Febriati Nadira merasa tenang karena di usia muda sudah memiliki berbagai investasi. Executive VP Corporate Communication Mandiri Sekuritas ini mengaku telah berinvestasi sejak pertama kali ia bekerja.
Ira, begitu dia dipanggil, mengawali investasi lewat instrumen konvensional, seperti properti dan logam mulia. "Kebetulan teman-teman kantor saat itu sudah aware dengan investasi. Apalagi melihat lahan semakin lama makin mahal. Jadi tabungan dan bonus saya sisihkan pelan-pelan untuk membeli properti," tuturnya.
Hingga kini, ia puas dengan properti yang ia miliki di Jakarta Selatan dan Surabaya. "Ada tanah, apartemen, dan rumah. Semuanya belum disewakan maupun tergarap. Namun, jika nilainya nanti sudah mencapai target yang saya mau, akan saya lepas," ucapnya.
Ira masih betah menggenggam investasi properti tersebut hingga saat ini. Padahal, pernah ada calon pembeli yang menawar apartemennya di Jakarta Selatan dengan harga 30 persen di atas harga belinya pada tahun 2009 silam.
Namun, ia memilih bersabar untuk mendapatkan target harga yang diinginkannya. Saat ini, harga properti dia di Jakarta sudah naik tiga kali lipat ketimbang harga beli.
Tak hanya membeli tanah dan apartemen, Ira juga suka membeli logam mulia. Ada alasan tersendiri bagi dia untuk berinvestasi emas. Ibu dua anak ini berencana menyimpan emas untuk tabungan pendidikan anak-anaknya hingga kuliah nanti.
Melihat pengalaman temannya yang sudah memiliki anak di bangku kuliah, Ira sudah memiliki visi ke depan untuk menyimpan investasi pendidikan si anak kelak. Maka, ia mencoba memperkirakan biaya kuliah yang harus dikeluarkan dan mengkonversikan dengan jumlah emas yang harus ia beli.
Asumsi yang ia gunakan dalam satu semester habis biaya kuliah Rp 20 juta. Jadi untuk 10 semester biayanya sekitar Rp 200 juta. "Saya cenderung memilih emas, ketimbang asuransi pendidikan, sebab emas harganya bisa terlindungi dari inflasi," papar dia.
Apalagi, perempuan berdarah Madura ini sudah terbiasa dengan tradisi keluarga yang menyimpan emas dan harta benda untuk warisan. Awalnya, Ira memang memilih asuransi pendidikan untuk anak-anaknya.
Namun, dana asuransi ini ia tarik dan dibelikan emas. "Saya melihat perkembangan dananya tak sesuai harapan," ujar perempuan 38 tahun ini.
Dia tak meninggalkan semua produk asuransi. Saat ini Ira masih tetap mempertahankan keikutsertaannya di asuransi jiwa.
Belum puas dengan properti dan emas, Ira menambah portofolio investasi di penanaman modal kerja. Sudah tiga tahun ini dia menyuntikkan dana untuk proyek yang digarap rekan-rekannya.
Setiap akhir tahun, profitnya cukup memuaskan, sehingga ia tak keberatan untuk terus berinvestasi. "Daripada uang menganggur, mendingan untuk menambah gain," imbuhnya.
Belasan tahun makan asam garam di perusahaan telekomunikasi yang membesarkan namanya, beberapa waktu lalu dia pindah kerja ke perusahaan sekuritas, Mandiri Sekuritas. Di perusahaan ini, ia mempelajari banyak hal yang berkaitan dengan pasar modal, kebijakan ekonomi makro dan mikro, regulasi, dan sebagainya.
Selain pengetahuan baru, Ira pun memperluas diversifikasi portofolio. "Pekerjaan mengharuskan saya untuk memahami pasar modal. Masak kami jualan, tapi enggak paham produk sendiri," canda Ira.
Namun, Ira belum berani terlalu agresif bermain saham. "Aku tipe moderat, dan cenderung memilih saham blue chips, seperti kelompok LQ45," ucapnya. Di usianya yang belum mencapai 40 tahun, Ira mengaku nyaman dengan diversifikasi portofolio investasi yang ia miliki.[URL="Febriati Nadira merasa tenang karena di usia muda sudah memiliki berbagai investasi. Executive VP Corporate Communication Mandiri Sekuritas ini mengaku telah berinvestasi sejak pertama kali ia bekerja. Ira, begitu dia dipanggil, mengawali investasi lewat instrumen konvensional, seperti properti dan logam mulia. "Kebetulan teman-teman kantor saat itu sudah aware dengan investasi. Apalagi melihat lahan semakin lama makin mahal. Jadi tabungan dan bonus saya sisihkan pelan-pelan untuk membeli properti," tuturnya. Hingga kini, ia puas dengan properti yang ia miliki di Jakarta Selatan dan Surabaya. "Ada tanah, apartemen, dan rumah. Semuanya belum disewakan maupun tergarap. Namun, jika nilainya nanti sudah mencapai target yang saya mau, akan saya lepas," ucapnya. Ira masih betah menggenggam investasi properti tersebut hingga saat ini. Padahal, pernah ada calon pembeli yang menawar apartemennya di Jakarta Selatan dengan harga 30 persen di atas harga belinya pada tahun 2009 silam. Namun, ia memilih bersabar untuk mendapatkan target harga yang diinginkannya. Saat ini, harga properti dia di Jakarta sudah naik tiga kali lipat ketimbang harga beli. Tak hanya membeli tanah dan apartemen, Ira juga suka membeli logam mulia. Ada alasan tersendiri bagi dia untuk berinvestasi emas. Ibu dua anak ini berencana menyimpan emas untuk tabungan pendidikan anak-anaknya hingga kuliah nanti. Melihat pengalaman temannya yang sudah memiliki anak di bangku kuliah, Ira sudah memiliki visi ke depan untuk menyimpan investasi pendidikan si anak kelak. Maka, ia mencoba memperkirakan biaya kuliah yang harus dikeluarkan dan mengkonversikan dengan jumlah emas yang harus ia beli. Asumsi yang ia gunakan dalam satu semester habis biaya kuliah Rp 20 juta. Jadi untuk 10 semester biayanya sekitar Rp 200 juta. "Saya cenderung memilih emas, ketimbang asuransi pendidikan, sebab emas harganya bisa terlindungi dari inflasi," papar dia. Apalagi, perempuan berdarah Madura ini sudah terbiasa dengan tradisi keluarga yang menyimpan emas dan harta benda untuk warisan. Awalnya, Ira memang memilih asuransi pendidikan untuk anak-anaknya. Namun, dana asuransi ini ia tarik dan dibelikan emas. "Saya melihat perkembangan dananya tak sesuai harapan," ujar perempuan 38 tahun ini. Dia tak meninggalkan semua produk asuransi. Saat ini Ira masih tetap mempertahankan keikutsertaannya di asuransi jiwa. Belum puas dengan properti dan emas, Ira menambah portofolio investasi di penanaman modal kerja. Sudah tiga tahun ini dia menyuntikkan dana untuk proyek yang digarap rekan-rekannya. Setiap akhir tahun, profitnya cukup memuaskan, sehingga ia tak keberatan untuk terus berinvestasi. "Daripada uang menganggur, mendingan untuk menambah gain," imbuhnya. Belasan tahun makan asam garam di perusahaan telekomunikasi yang membesarkan namanya, beberapa waktu lalu dia pindah kerja ke perusahaan sekuritas, Mandiri Sekuritas. Di perusahaan ini, ia mempelajari banyak hal yang berkaitan dengan pasar modal, kebijakan ekonomi makro dan mikro, regulasi, dan sebagainya. Selain pengetahuan baru, Ira pun memperluas diversifikasi portofolio. "Pekerjaan mengharuskan saya untuk memahami pasar modal. Masak kami jualan, tapi enggak paham produk sendiri," canda Ira. Namun, Ira belum berani terlalu agresif bermain saham. "Aku tipe moderat, dan cenderung memilih saham blue chips, seperti kelompok LQ45," ucapnya. Di usianya yang belum mencapai 40 tahun, Ira mengaku nyaman dengan diversifikasi portofolio investasi yang ia miliki."]sumber TRIBUN[/URL]
Ira, begitu dia dipanggil, mengawali investasi lewat instrumen konvensional, seperti properti dan logam mulia. "Kebetulan teman-teman kantor saat itu sudah aware dengan investasi. Apalagi melihat lahan semakin lama makin mahal. Jadi tabungan dan bonus saya sisihkan pelan-pelan untuk membeli properti," tuturnya.
Hingga kini, ia puas dengan properti yang ia miliki di Jakarta Selatan dan Surabaya. "Ada tanah, apartemen, dan rumah. Semuanya belum disewakan maupun tergarap. Namun, jika nilainya nanti sudah mencapai target yang saya mau, akan saya lepas," ucapnya.
Ira masih betah menggenggam investasi properti tersebut hingga saat ini. Padahal, pernah ada calon pembeli yang menawar apartemennya di Jakarta Selatan dengan harga 30 persen di atas harga belinya pada tahun 2009 silam.
Namun, ia memilih bersabar untuk mendapatkan target harga yang diinginkannya. Saat ini, harga properti dia di Jakarta sudah naik tiga kali lipat ketimbang harga beli.
Tak hanya membeli tanah dan apartemen, Ira juga suka membeli logam mulia. Ada alasan tersendiri bagi dia untuk berinvestasi emas. Ibu dua anak ini berencana menyimpan emas untuk tabungan pendidikan anak-anaknya hingga kuliah nanti.
Melihat pengalaman temannya yang sudah memiliki anak di bangku kuliah, Ira sudah memiliki visi ke depan untuk menyimpan investasi pendidikan si anak kelak. Maka, ia mencoba memperkirakan biaya kuliah yang harus dikeluarkan dan mengkonversikan dengan jumlah emas yang harus ia beli.
Asumsi yang ia gunakan dalam satu semester habis biaya kuliah Rp 20 juta. Jadi untuk 10 semester biayanya sekitar Rp 200 juta. "Saya cenderung memilih emas, ketimbang asuransi pendidikan, sebab emas harganya bisa terlindungi dari inflasi," papar dia.
Apalagi, perempuan berdarah Madura ini sudah terbiasa dengan tradisi keluarga yang menyimpan emas dan harta benda untuk warisan. Awalnya, Ira memang memilih asuransi pendidikan untuk anak-anaknya.
Namun, dana asuransi ini ia tarik dan dibelikan emas. "Saya melihat perkembangan dananya tak sesuai harapan," ujar perempuan 38 tahun ini.
Dia tak meninggalkan semua produk asuransi. Saat ini Ira masih tetap mempertahankan keikutsertaannya di asuransi jiwa.
Belum puas dengan properti dan emas, Ira menambah portofolio investasi di penanaman modal kerja. Sudah tiga tahun ini dia menyuntikkan dana untuk proyek yang digarap rekan-rekannya.
Setiap akhir tahun, profitnya cukup memuaskan, sehingga ia tak keberatan untuk terus berinvestasi. "Daripada uang menganggur, mendingan untuk menambah gain," imbuhnya.
Belasan tahun makan asam garam di perusahaan telekomunikasi yang membesarkan namanya, beberapa waktu lalu dia pindah kerja ke perusahaan sekuritas, Mandiri Sekuritas. Di perusahaan ini, ia mempelajari banyak hal yang berkaitan dengan pasar modal, kebijakan ekonomi makro dan mikro, regulasi, dan sebagainya.
Selain pengetahuan baru, Ira pun memperluas diversifikasi portofolio. "Pekerjaan mengharuskan saya untuk memahami pasar modal. Masak kami jualan, tapi enggak paham produk sendiri," canda Ira.
Namun, Ira belum berani terlalu agresif bermain saham. "Aku tipe moderat, dan cenderung memilih saham blue chips, seperti kelompok LQ45," ucapnya. Di usianya yang belum mencapai 40 tahun, Ira mengaku nyaman dengan diversifikasi portofolio investasi yang ia miliki.[URL="Febriati Nadira merasa tenang karena di usia muda sudah memiliki berbagai investasi. Executive VP Corporate Communication Mandiri Sekuritas ini mengaku telah berinvestasi sejak pertama kali ia bekerja. Ira, begitu dia dipanggil, mengawali investasi lewat instrumen konvensional, seperti properti dan logam mulia. "Kebetulan teman-teman kantor saat itu sudah aware dengan investasi. Apalagi melihat lahan semakin lama makin mahal. Jadi tabungan dan bonus saya sisihkan pelan-pelan untuk membeli properti," tuturnya. Hingga kini, ia puas dengan properti yang ia miliki di Jakarta Selatan dan Surabaya. "Ada tanah, apartemen, dan rumah. Semuanya belum disewakan maupun tergarap. Namun, jika nilainya nanti sudah mencapai target yang saya mau, akan saya lepas," ucapnya. Ira masih betah menggenggam investasi properti tersebut hingga saat ini. Padahal, pernah ada calon pembeli yang menawar apartemennya di Jakarta Selatan dengan harga 30 persen di atas harga belinya pada tahun 2009 silam. Namun, ia memilih bersabar untuk mendapatkan target harga yang diinginkannya. Saat ini, harga properti dia di Jakarta sudah naik tiga kali lipat ketimbang harga beli. Tak hanya membeli tanah dan apartemen, Ira juga suka membeli logam mulia. Ada alasan tersendiri bagi dia untuk berinvestasi emas. Ibu dua anak ini berencana menyimpan emas untuk tabungan pendidikan anak-anaknya hingga kuliah nanti. Melihat pengalaman temannya yang sudah memiliki anak di bangku kuliah, Ira sudah memiliki visi ke depan untuk menyimpan investasi pendidikan si anak kelak. Maka, ia mencoba memperkirakan biaya kuliah yang harus dikeluarkan dan mengkonversikan dengan jumlah emas yang harus ia beli. Asumsi yang ia gunakan dalam satu semester habis biaya kuliah Rp 20 juta. Jadi untuk 10 semester biayanya sekitar Rp 200 juta. "Saya cenderung memilih emas, ketimbang asuransi pendidikan, sebab emas harganya bisa terlindungi dari inflasi," papar dia. Apalagi, perempuan berdarah Madura ini sudah terbiasa dengan tradisi keluarga yang menyimpan emas dan harta benda untuk warisan. Awalnya, Ira memang memilih asuransi pendidikan untuk anak-anaknya. Namun, dana asuransi ini ia tarik dan dibelikan emas. "Saya melihat perkembangan dananya tak sesuai harapan," ujar perempuan 38 tahun ini. Dia tak meninggalkan semua produk asuransi. Saat ini Ira masih tetap mempertahankan keikutsertaannya di asuransi jiwa. Belum puas dengan properti dan emas, Ira menambah portofolio investasi di penanaman modal kerja. Sudah tiga tahun ini dia menyuntikkan dana untuk proyek yang digarap rekan-rekannya. Setiap akhir tahun, profitnya cukup memuaskan, sehingga ia tak keberatan untuk terus berinvestasi. "Daripada uang menganggur, mendingan untuk menambah gain," imbuhnya. Belasan tahun makan asam garam di perusahaan telekomunikasi yang membesarkan namanya, beberapa waktu lalu dia pindah kerja ke perusahaan sekuritas, Mandiri Sekuritas. Di perusahaan ini, ia mempelajari banyak hal yang berkaitan dengan pasar modal, kebijakan ekonomi makro dan mikro, regulasi, dan sebagainya. Selain pengetahuan baru, Ira pun memperluas diversifikasi portofolio. "Pekerjaan mengharuskan saya untuk memahami pasar modal. Masak kami jualan, tapi enggak paham produk sendiri," canda Ira. Namun, Ira belum berani terlalu agresif bermain saham. "Aku tipe moderat, dan cenderung memilih saham blue chips, seperti kelompok LQ45," ucapnya. Di usianya yang belum mencapai 40 tahun, Ira mengaku nyaman dengan diversifikasi portofolio investasi yang ia miliki."]sumber TRIBUN[/URL]
ane setuju propertinya, minimal tanah petok, klo duit gk cukup patungan beli sapi sementara

klo emas emang sangat liquid, tapi skrg ane lebih suka AAPL GOOG AMZN SPY dkk

Spoiler for Siapa Mau Belajar Investasi dari Nadira?:
BERKECIMPUNG di dunia pasar modal, membuat Febriati Nadira paham berbagai instrumen investasi. Dia gencar menularkan semangat investasi kepada teman-temannya.
Executive VP Corporate Communication Mandiri Sekuritas ini mengatakan, teman-teman sekolah dan zaman kuliah masih sangat konvensional dalam urusan berinvestasi. Padahal, mereka punya penghasilan yang bagus. "Sebagian besar dari mereka berinvestasi secara konvensional. Padahal kalau tahu caranya, saham itu lebih likuid," tambahnya.
Setelah memberi edukasi, terkadang ia tak segan untuk mengajak mereka bergabung berinvestasi. "Ya, lumayan sih mereka tertarik, akhirnya tinggal follow up," ungkap Ira.
Bermula dari teman-temannya, Ira pun akhirnya menebar informasi investasi ke jaringan yang lebih luas. Ia tampak semangat menularkan ilmu investasi. "Teman-temanku akhirnya meminta aku untuk mengajar di komunitas mereka tentang edukasi saham," imbuh Ira.
Ia menyambut usulan ini. Ira menyayangkan, masih sedikit orang yang melek dan berani berinvestasi di pasar modal. Ia mengutarakan, ada studi yang menyatakan, orang-orang Indonesia hanya satu persen yang memiliki investasi.
Berbeda jauh dengan jumlah orang yang memiliki perangkat telekomunikasi akhir-akhir ini. "Kenapa untuk investasi yang sifatnya jangka panjang sangat kecil? Sayang banget, kan?" kata Ira.
Ayo-ayo, siapa mau diajar investasi bersama Bu Guru Ira? sumber TRIBUN
Executive VP Corporate Communication Mandiri Sekuritas ini mengatakan, teman-teman sekolah dan zaman kuliah masih sangat konvensional dalam urusan berinvestasi. Padahal, mereka punya penghasilan yang bagus. "Sebagian besar dari mereka berinvestasi secara konvensional. Padahal kalau tahu caranya, saham itu lebih likuid," tambahnya.
Setelah memberi edukasi, terkadang ia tak segan untuk mengajak mereka bergabung berinvestasi. "Ya, lumayan sih mereka tertarik, akhirnya tinggal follow up," ungkap Ira.
Bermula dari teman-temannya, Ira pun akhirnya menebar informasi investasi ke jaringan yang lebih luas. Ia tampak semangat menularkan ilmu investasi. "Teman-temanku akhirnya meminta aku untuk mengajar di komunitas mereka tentang edukasi saham," imbuh Ira.
Ia menyambut usulan ini. Ira menyayangkan, masih sedikit orang yang melek dan berani berinvestasi di pasar modal. Ia mengutarakan, ada studi yang menyatakan, orang-orang Indonesia hanya satu persen yang memiliki investasi.
Berbeda jauh dengan jumlah orang yang memiliki perangkat telekomunikasi akhir-akhir ini. "Kenapa untuk investasi yang sifatnya jangka panjang sangat kecil? Sayang banget, kan?" kata Ira.
Ayo-ayo, siapa mau diajar investasi bersama Bu Guru Ira? sumber TRIBUN
0
2.6K
Kutip
18
Balasan
Thread Digembok
Urutan
Terbaru
Terlama
Thread Digembok
Komunitas Pilihan