kang tatangAvatar border
TS
kang tatang
[Episode 2....Jum'at 8/8/2014] Gelak Tawa di Sidang Pilpres MK
JAKARTA, KOMPAS.com - Meskipun merupakan forum resmi, persidangan di Mahkamah Konstitusi tak jarang diselingi dengan gelak tawa. Situasi tersebut setidaknya terlihat dalam sidang perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) yang dimohonkan oleh pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Meskipun suasana persidangan formal dengan segala peraturan yang ketat, sidang yang berlangsung di ruang sidang pleno Gedung MK, Jakarta Pusat, Jumat (8/8/2014) itu berlangsung cair.

Mulai dari Majelis Hakim, pihak pemohon, termohon dan terkait, hingga pengunjung dan wartawan yang berada disana tak kuasa menahan tawa ketika momen-momen lucu terjadi. Hanya petugas keamanan yang terlihat tetap bertahan dengan wajah seriusnya.

Pemicu tawa tersebut, tak lain adalah beberapa saksi yang didatangkan oleh Prabowo-Hatta. Dalam sidang kali ini, pasangan nomor urut 1 tersebut menghadirkan 25 saksi dari tiga provinsi, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah dan DKI Jakarta.

Saksi dari KPUD Kabupaten Demak, Ahmad Gufron misalnya, mengundang tawa para hadirin ketika mengiyakan pertanyaan Hakim Ahmad Fadlil Sumadi dengan bahasa Jawa halus.

"Enggih (iya)," kata Gufron spontan yang langsung disambat tawa seisi ruangan.

Respon Fadlil lebih lucu lagi dan membuat suara gelak tawa yang tak kalah kuat. "Enggih, enggih. Ini Jakarta om, bukan seperti Demak," ujar Fadlil dengan nada bercanda.

Momen tawa tak berhenti disitu. Mungkin karena sudah terbiasa menggunakan bahasa Jawa di daerahnya, Gufron kembali menjawah 'Enggih' saat kembali ditanya oleh Fadlil. Kali ini, Fadlil tak lagi menegur dan hanya ikut tertawa kecil bersama para hadirin lainnya.

Saksi bernama Slamet dari Kecamatan Koja, Jakarta, juga tak kalah membuat suasana sidang menjadi riuh. Saat dia memperkenalkan diri, Hakim MK Patrialis Akbar langsung berkelakar.

"Slamet ini orang yang pertama kali sampai di bulan bersama Neil Amstrong. Karena Neil Amstrong tiba di bulan dengan Slamet," seloroh Patrialis yang disambut tawa hadirin, termasuk Selamet sendiri.

Kemudian Slamet menjelaskan mengenai Pemungutan Suara Ulang (PSU) di salah satu TPS di kecamatannya. Patrialis lalu bertanya berapa perbedaan suara Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK antara sesudah dan sebelum PSU.

Slamet mengatakan, Prabowo-Hatta berbalik unggul dengan selisih 9 suara dibanding Jokowi-JK. Namun Patrialis tak puas dengan jawaban itu dan meminta jumlah suara masing-masing pasangan.

"Angkanya kan ada di C1. Saya tidak bawa tapi saya ingat betul selisihnya 9 suara. Datanya bisa ditanyakan atau dilihat langsung di halaman KPU," jawab Slamet.

Mendengar jawaban Slamet itu, Patrialis kembali berkelakar. "Jangan perintahkan hakim. Hakim yang minta harusnya," ujar Patrialis sambil tersenyum dan kembali diikuti tawa hadirin.

Saksi dari wilayah Jepara, Jawa Tengah, Bendot Widoyo, yang menjawab serba tidak tahu terhadap pertanyaan hakim MK juga mengundang gelak tawa. Awalnya, Bendot menguraikan telah terjadi dugaan money politik dengan pembagian mi instan dan uang Rp 5000 untuk menggiring warga memilih Jokowi-JK.

Namun saat MK memperdalam keterangan tersebut, Bendot kewalahan menjawab.

"Apa anda tahu siapa yang bagi-bagi mi instan? Kapan dibaginya? Dimana pembagiannya?" tanya Hakim Fadlil.

"Enggak tahu, saya cuma dapat laporan dari tim relawan," jawab Bendot Polos.

Saksi Rahmatullah Al Amin dari Surabaya, yang sempat menangis dalam persidangan, juga sempat mengundang tawa, meskipun tawa kali ini agak kecil dan tertahan. Rahmatullah dalam sidang tersebut bermaksud memberikan bukti berupa klipping dari sebuah surat kabar. Namun Hakim Hamdan Zoelva enggan menggubris bukti tersebut karena menganggap pemberitaan media bisa saja salah.

Tak menyerah, Rahmat tetap berusaha untuk menunjukkan bukti tersebut kepada Hamdan. Saat itulah dia sempat menitikan air mata dan berbicara terisak.

"Ini saya bawa suara teman-teman di Surabaya yang Mulia. Ini benar, saya punya buktinya," kata Rahmat dengan suara yang mulai terdengar parau. Melihat sikap Rahmat tersebut, bukannya merasa kasihan, hadirin justru banyak yang tersenyum dan tertawa tertahan.

Suara tawa tersebut sepertinya tak cukup kuat untuk didengar Rahmat yang tetap terus memohon kepada Hamdan untuk melihat bukti yang dia miliki. Rahmat baru berhenti bicara ketika Hamdan mengancamnya akan dikeluarkan dari ruangan karena telah mengganggu jalannya sidang.






http://nasional.kompas.com/read/2014...ang.Pilpres.MK
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
1.8K
8
Thread Digembok
Urutan
Terbaru
Terlama
Thread Digembok
Komunitas Pilihan