alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/53ca1cbede2cf2ea558b462e/pengen-otot-sehat-hindari-pemicu-neuropati
Pengen Otot Sehat, Hindari Pemicu Neuropati!
Pengen Otot Sehat, Hindari Pemicu Neuropati!
Buat Agan-agan yang aktif nge-gym pengen besarin otot. Mesti tau kalo ternyata neuropati itu bisa memicu penyusutan otot.

Kenapa?

Agan pasti dah familiar ya sama neuropati, sebelumnya Ane dah banyak posting. Nah, neuropati ini adalah kondisi di mana sel saraf yang terhubung langsung dengan otot yang sering Anda latih mengalami kerusakan. Kerusakan ini menyebabkan kinerja otot menjadi tidak stabil dan tidak maksimal. Bahkan neuropati bisa memicu katabolisme otot (penyusutan).

Neuropati biasanya ditandai dengan nyeri otot dan mati rasa pada tangan maupun kaki. Namun faktor terbesar penyebab neuropati adalah penyakit diabetes.

Neuropati dapat mempengaruhi saraf yang mengendalikan gerakan otot (saraf motorik) dan mereka yang mendeteksi sensasi seperti menggigil atau nyeri (saraf sensorik). Dalam beberapa kasus, neuropati otonom dapat mempengaruhi bagian organ internal, seperti halnya jantung, pembuluh darah, kandung kemih, atau usus.

Penyebab lain dari neuropati cukup beragam. Seperti kondisi trauma atau tekanan pada saraf yang biasa disebut dengan saraf kejepit. Ini bisa terjadi ketika melakukan gerakan dalam posisi yang salah, mengangkat beban dari posisi jongkok atau duduk terlalu lama dalam satu posisi.

Minimnya asupan vitamin dan mineral seperti vitamin B juga dapat meningkatkan risiko neuropati. Kebiasaan buruk seperti mengkonsumsi minuman beralkohol, pola makan tidak teratur, penyakit lupus, rematik, dan efek samping obat-obatan tertentu.

Semakin bertambah usia seseorang maka fungsi saraf pun akan semakin menurun. Semua saraf dalam tubuh sangat bergantung pada asupan vitamin B komplek karena vitamin ini berperan penting melindungi dan meregenerasi sel saraf.

Selain mencukupi asupan vitamin B kompleks seperti vitamin B1, B6, dan B12, para ahli juga menyarankan agar memilih pola latihan yang sesuai dengan kemampuan tubuh. “Setiap individu memiliki kapasitasnya sendiri sehingga harus memilih latihan yang tepat untuk dirinya,” terang Benrud-Larson, penulis Autonomic Symptoms And Diabetic Neuropathy: A Population-Based Study tahun 2004.