Penolakan Serikat Pekerja Bank Tabungan Negara (BTN) dengan menyerang Menteri BUMN Dahlan Iskan dalam rencana akuisisi BTN oleh Bank Mandiri dinilai bernuansa politis.
Ketua Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Saburmusi) Jakarta Ramadhan Isa menilai hal tersebut sudah kebablasan dan merugikan kepentingan nasional. "Sikap penolakan ini jelas dilandasi ketidak pahaman akan pentingnya menyelamatkan BTN menjadi bank yang perform," ujar pria yang akrab disapa Dhani ini dalam pernyataannya, Kamis (8/5/2014).
Menurutnya sudah menjadi tugas Dahlan Iskan untuk mengonsolidasi BUMN agar siap menghadapi pasar bebas ASEAN 2015. Tuduhan insider trading terhadap Dahlan untuk menggoreng saham BTN, kata Dhani, dirasa amat menggelikan. Menurut dia, teguran OJK terhadap BTN karena tingkat NPL yang tinggi seharusnya membuka mata pemerintah betapa pentingnya menyehatkan BTN dan menyerahkannya ke BUMN yang lebih sehat.
Dhani juga mengecam sikap pemerintah yang mengambil jalan kompromi, bahkan ‘tunduk’ dengan desakan SP BTN. Ketakutan tersebut dinilai tidak berdasar daripada berpikir jernih untuk konsolidasi perbankan nasional.
"Baru sebatas wacana, tapi sekarang Serikat Pekerja Pegadaian sudah menyuarakan penolakan akuisisi oleh BRI. Ini akan menjadi preseden buruk bagi setiap kebijakan pemerintah," tuturnya.
Sedangkan Ketua Forum Pengusaha Muda Nahdlatul Ulama (FPMNU) M Faizin menilai sikap akomodatif pemerintah terhadap tuntutan SP BTN menimbulkan kesan pemerintah ‘tersandera’. Dia khawatir jika dibiarkan, kondisi ini justru akan membuat pemerintahan mendatang tidak memiliki daya tawar untuk mengonsolidasi BUMN.
Kondisi akomodatif menurutnya akan berdampak negatif bagi pemerintahan mendatang, karena langkah SP BTN akan ditiru oleh karyawan BUMN-BUMN lain. Misalnya ketika pemerintah berencana mengonsolidasi atau memperkuat BUMN di sektor perkebunan, farmasi, maupun pelabuhan.
Faiz membandingkan sikap keras kepala SP BTN dengan sikap karyawan bank-bank lain seperti Bank Danamon, Bank BII, Permata, dan bank lainnya, yang ketika diakuisisi oleh investor lain sekalipun tidak protes.
“Bahkan karyawan Bank Lippo ketika pemiliknya memutuskan merger dengan Niaga, tidak ada protes seorang pun,” tukasnya.
sumber
sampe ada politikus rela turun gunung meredakan situasi berlagak jd pahlawan kesiangan tanpa ngerti esensi permasalahan