CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Empat Dimensi Persoalan Papua Versi Menlu RI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/52b7cd3d19cb17d36b8b47aa/empat-dimensi-persoalan-papua-versi-menlu-ri

Empat Dimensi Persoalan Papua Versi Menlu RI

Minggu, 22 Desember 2013 | 15:13 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Persoalan Papua yang kerap menjadi duri dalam daging diplomasi Indonesia menurut Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa lebih banyak memerlukan perhatian di dalam negeri ketimbang aspek luar negerinya.

Meski tahun lalu masalah Papua mencuat lantaran pemberitaan kantor gerakan pro-kemerdekaannya dibuka di sejumlah negara sahabat, menurut Marty, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Kenyataannya, perkembangan dalam beberapa tahun terakhir dari dimensi luar negeri jauh lebih terkelola dibandingkan di masa lalu. Pihak yang meragukan tidak ada di tingkat negara, kecuali satu, yaitu Vanuatu. Itu pun karena masalah politik domestik mereka,” kata Marty menjawab pertanyaan Tempo dalam wawancara terbatas di Jakarta, Jumat sore, 20 Desember 2013.

Dia menekankan tidak ada lagi negara lain yang mempermasalahkan Papua. Meskipun ada kelompok lembaga swadaya masyarakat di negara-negara, seperti Eropa, Inggris, Belanda, dan Australia, yang masih menyuarakan upaya kemerdekaan Papua.

Namun, dia menyebutkan, pembukaan kantor-kantor pro-kemerdekaan Papua itu hanya sebatas konferensi pers. Sementara kondisi fisik kantor sebenarnya tidak ada. “Di Inggris, kantornya kosong. Di Belanda lebih kosong lagi. Setelah konferensi pers, sewa gedung, selesai, ditinggalkan,” kata dia.

Meski demikian, ada beberapa dimensi yang bisa memberi celah bagi komunitas internasional untuk mengecam Indonesia. Dimensi-dimensi tersebut antara lain soal hak asasi manusia, akses media asing ke Papua, serta masalah lingkungan.

“Kalau kita membiarkan pelanggaran HAM di Papua, ini celahnya. Bukan saja masyarakat internasional, rakyat Indonesia pun peduli,” kata Marty.

Sementara soal terbatasnya akses media asing ke Papua membuat seolah-olah ada yang ditutupi pemerintah. “Jadi permasalahannya ada di tangan kita, itu yang harus dikelola dengan baik,” dia menegaskan.

NATALIA SANTI

Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2013/1...Versi-Menlu-RI

Setujukah agan2? Komentar ane untuk yang ane bold: beneran tuh gak ada negara2 muka dua ato muka tiga yang adem ayem mengenai persoalan papua???

Begini Cara Indonesia "Taklukkan" Negara Pendukung OPM

http://www.solopos.com/2015/04/19/ko...ung-opm-596240
Minggu, 19 April 2015 19:30 WIB | Lili Sunardi/JIBI/Bisnis |

Solopos.com, JAKARTA — Pemerintah Indonesia menegaskan Indonesia memiliki penduduk Melanesia paling banyak dibandingkan dengan penduduk Melanesia yang ada di seluruh negara yang ada di kawasan Pasifik.

Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi, mengatakan dirinya bersama Menlu Vanuatu membicarakan upaya untuk mempererat hubungan penduduk Melanesia yang ada di Indonesia dan Vanuatu. Pasalnya, total penduduk Melanesia yang ada di dalam negeri masih lebih banyak dibandingkan dengan yang ada di seluruh negara Pasifik.

Saya tegaskan Indonesia adalah Melanesia, dan Melanesia adalah Indonesia, karena besarnya jumlah penduduk melanesia di Indonesia,” kata Retno Marsudi di JCC, Jakarta, Minggu (19/4/2015). Retno Marsudi menuturkan Indonesia akan menjadi tuan rumah Festival Seni dan Budaya Melanesia pada Oktober tahun ini. Agenda tersebut akan dimanfaatkan pemerintah untuk mempererat hubungan antar-orang melanesia yang ada di seluruh dunia.

Isu Melanesia kerap digunakan kelompok separatis di Papua untuk memperjuangkan kemerdekaannya. Kelompok sipil bersenjata seperti Organisasi Papua Merdeka sering mengungkapkan keinginannya bergabung dengan Melanesian Spearhead Group (MSG), bersama Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Fiji, dan Vanuatu.

Sebagai catatan, Vanuatu merupakan satu-satunya negara Melanesia yang pemerintahnya mendukung perjuangan OPM. Bahkan dukungan terhadap OPM juga datang dari berbagai tokoh adat, agama, dan lembaga swadaya masyarakat setempat. Kementerian Luar Negeri sebelumnya mengirimkan sejumlah bantuan kemanusiaan bagi korban badai PAM di Vanuatu sebagai solidaritas dan hubungan khusus kedua negara yang memiliki latar belakang serta warisan budaya Melanesia. Bantuan dengan nilai mencapai US$2 juta itu terdiri dari bahan makanan, paket untuk ibu dan anak, obat-obatan, tenda posko dan keluarga, selimut, genset listrik, tempat tidur, serta perangkat kebersihan.

Kementerian Luar Negeri juga mengirimkan tim untuk memberikan pendampingan terhadap kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana di beberapa wilayah Vanuatu.

Komentar ane:
Semoga peran Indonesia di panggung pasifik raya semakin hari semakin diperhitungkan...


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di