alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/529d9cc641cb17bc0c000034/trauma-masa-kecil-dan-gangguan-mental
Trauma Masa Kecil dan Gangguan Mental
Trauma Masa Kecil dan Gangguan Mental


Teori yang berkembang mengenai sakit mental menyatakan bahwa sebagian besar sakit mental disebabkan oleh faktor genetik dan cacat biologis. Ada dua komponen utama yang menyebabkan seseorang bermasalah yaitu faktor biologis dan pengasuhan. Selama ini fokus lebih banyak diberikan untuk menemukan faktor biologis yang mengakibatkan sakit mental. Bremner (2002) menyatakan hal menarik yang sangat perlu disimak: Tiga puluh tahun sejak dimulainya revolusi biologis dalam psikiatri, sampai saat ini masih belum ditemukan gen skizofrenia atau mania.

Hasil penelitian mutakhir menunjukkan data dan temuan penting yang sangat perlu kita cermati dengan serius. Berbagai penelitian ini mengemukakan adanya keterhubungan yang erat dan signifikan antara trauma masa kecil, gangguan atau kerusakan pada wilayah otak tertentu, dan gangguan mental.

Di awal kehidupan otak manusia sangat sensitif dan mudah dipengaruhi oleh pengalaman baik yang positif (pengasuhan yang sehat) dan pengalaman negatif (kekerasan dan pengabaian). Trauma berulang pada anak berakibat sangat buruk terhadap kemampuan anak dalam berpikir, merasa, berelasi dan berfungsi baik di masa sekarang maupun di masa mendatang. Dari hasil penelitian diketahui bahwa semakin banyak trauma yang dialami anak semakin besar kemungkinan mereka mengalami sakit mental di kemudian hari.

Perkembangan dan pertumbuhan otak anak dipengaruhi oleh interaksi antara orangtua dan anak. Siegel (1999) mengatakan bahwa pikiran manusia berkembang melalui pola-pola dalam aliran energi dan informasi di dalam otak (anak) dan di antara otak (orangtua dan anak).

Schore (1994) menyatakan pentingnya relasi antara orangtua / pengasuh utama dan anak dalam konteks mengendalikan, menenangkan, dan memengaruhi secara positif kondisi emosi bayi/anak di masa kritis pertumbuhan mereka sampai saat anak mampu mengendalikan diri sendiri.

Masih menurut Schore bila relasi ini gagal, orangtua atau pengasuh tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik, dalam konteks mendukung regulasi emosi anak, maka akan berakibat perkembangan otak dan psikis yang buruk dan menjadi sumber berbagai masalah gangguan mental di masa mendatang.

Sejak tahun 1980 hingga saat ini terdapat lebih dari tiga ratus studi klinis yang menunjukkan hubungan erat antara trauma masa kecil yang berulang dan penyakit mental yang muncul kemudian – seringkali puluhan tahun kemudian.

Berdasar hasil penelitian mendalam sejak tahun 1991 para peneliti telah menemukan hubungan antara trauma masa kecil dan kondisi otak abnormal. Trauma masa kecil menyebabkan kerusakan otak dan selanjutnya mengakibatkan sakit mental.

Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang sehat belajar menjadi tenang dan mencerap pola perilaku kondusif yang ditunjukkan oleh pengasuhnya. Situasi lingkungan yang mendukung ini sangat baik untuk perkembangan otak dan sistem saraf sehingga mampu mngatasi kondisi stres normal yang biasa dialami anak.

Saat anak bertemu dengan situasi yang menimbulkan stres, sistem saraf simpatiknya secara otomatis mengaktifkan respon lawan atau lari. Saat stres berhasil ditangani dengan baik, otak yang berkembang optimal akan mengembalikan anak ke kondisi tenang dan rileks.

Namun bila anak berulang kali mengalami kekerasan (abuse) baik secara fisik atau psikis, dan pengabaian (neglect), otak dan sistem sarafnya akan mengalami gangguan dan kerusakan hingga taraf tertentu. Akumulasi data dari penelitian terkini menunjukkan bahwa trauma berulang yang dialami bayi atau anak kecil mengakibatkan kerusakan pada pre-frontal cortex (bagian otak yang melakukan fungsi eksekutif seperti berpikir, fokus, menimbang, kendali perilaku dan menenangkan diri), corpus callosum (kumpulan serat penghubung kedua hemisfir otak), hippocampus (bagian otak yang menangani pembelajaran, memori, dan keseimbangan emosi), amygdala (bagianotak yang menangani pemrosesan dan keseimbangan emosi), cerebellar vermis (membantu menenangkan sistem limbik yang terlalu aktif), HPA axis (poros hypothalamus-pituitary-adrenal, yang merupakan sistem hormon utama tubuh), sistem serotonin/dopamine/GABA, dan sistem saraf simpatik.

Selain mengakibatkan gangguan dan kerusakan otak, trauma masa kecil yang berulang dapat mengganggu sistem hormon dan senyawa kimiawi otak (neurotransmitter). Hingga saat ini terdapat tujuh belas penelitian yang dilakukan pada lebih dari 1.375 anak yang menunjukkan kerusakan pada fungsi HPA axis mereka akibat trauma masa kecil.

Efek lain yang diakibatkan oleh trauma masa kecil adalah berkurangnya fungsi saraf bertahun kemudian, berkurangnya kecakapan verbal dan performa, dan juga IQ, berkurangnya perkembangan mental (personal, sosial, dan motor), EEG abnormal, kejang, depresi, dan penyalahgunaan zat (substance abuse).

Trauma yang biasa dialami anak di masa kecil dan berlanjut hingga masa remaja yang berakibat sangat buruk terhadap masa depannya, antara lain:

- anak tidak diinginkan, karena kehamilan yang terjadi di luar kehendak atau rencana, baik oleh salah satu atau kedua orangtuanya.

- anak pernah mau digugurkan, baik masih dalam pikiran orangtua atau sudah pernah dilakukan upaya pengguguran namun gagal.

- salah satu atau kedua orangtua menolak anak karena berjenis kelamin tidak seperti yang diharapkan atau diinginkan.

- saat dalam kandungan ibu kedua orangtua sering ribut atau bertengkar.

- ibu mengalami tekanan mental dan emosi yang intens saat mengandung.

- anak diabaikan oleh orangtua, baik secara fisik maupun emosi.

- anak mengalami kekerasan fisik.

- anak mengalami kekerasan emosi.

- pelecehan seksual.

- trauma karena sekolah (misal: beban pelajaran, perundungan (bullying) yang tidak mendapat penanganan segera dan terselesaikan.

- kecemasan konstan yang berasal dari orangtua pencemas dan bermasalah.

- dll.

Saat anak mengalami trauma dan kondisi emosi negatif dan tidak ada orangtua atau pengasuh yang mendukung dan menenangkannya maka kondisi ini memengaruhi bagaimana jaringan di otaknya terbentuk.

Anak ADD/ADHD tidak memiliki kontrol diri yang baik karena wilayah otak sebelah kiri depan (prefrontal cortex), yang berfungsi sebagai "rem" dan pengendali tidak bekerja (optimal) karena trauma.

Depresi dan Atrofi Otak

Para peneliti telah menemukan ketidaknormalan pada struktur, senyawa kimiawi, dan fungsi otak para penderita beberapa jenis gangguan mental seperti depresi, adiksi alkohol, dan skizofrenia. Dengan menggunakan teknologi terkini seperti MRI (magnetic resonance imaging), PET (positron emission tomography), dan spectroscopy para peneliti independen mengamati beragam kelompok orang yang mengalami depresi dan menemukan atrofi signifikan pada wilayah otak tertentu.

Wilayah otak yang mengalami atrofi (berkurang dalam ukuran atau volume) meliputi: frontal lobes, orbital frontal lobes, subgenual frontal lobes, caudate nucleus, hippocampus, dan amygdala.

Wilayah-wilayah otak yang dijelaskan di atas semuanya saling terhubung dan terlibat dalam respon stres Stres kronis mengakibatkan level cortisol meningkat signifikan dan mengakibatkan kerusakan pada hippocampus, memori verbal, dan kemampuan berpikir.

Informasi dan temuan ini menunjukkan bahwa atrofi pada wilayah otak yang spesifik secara signifikan berhubungan dengan atau mungkin bahkan sebagai penyebab depresi.

Dalam beberapa penelitian secara khusus dilakukan penelusuran dengan meneliti riwayat hidup subjek penelitian dan ditemukan adanya hubungan yang kuat antara trauma masa kecil dan atrofi otak dan depresi.

[I]Sumber [url=http://www.adiwgunawan.com[/I]]www.adiwgunawan.com[/I][/url]
amankan pertamax
cocok nih dibaca sebelum tidur emoticon-Hammer

btw berita tipi nuh sering kebangetan klo ngekspos korban2 kecelakaan dll, IMO, bisa bikin trauma sikis pada anak kecil emoticon-Nohope
trauma masa kecil bakalan kebawa sampe gede emoticon-Embarrassment
jadi ortu seharusnya jgn membuat si anak trauma emoticon-Embarrassment
ane mengalami nih gan trauma masa kecil emoticon-Frown
wah bener nih, jangan sampe trauma deh pas kecil pasti kebawa entr sama mentalnya pas udah gede
Quote:Original Posted By lkun32
cocok nih dibaca sebelum tidur emoticon-Hammer

btw berita tipi nuh sering kebangetan klo ngekspos korban2 kecelakaan dll, IMO, bisa bikin trauma sikis pada anak kecil emoticon-Nohope


emoticon-Ngakak cocok dibaca sebelum tidur?? Kenapa gan emoticon-Stick Out Tongue
Quote:Original Posted By ddikodroid
trauma masa kecil bakalan kebawa sampe gede emoticon-Embarrassment
jadi ortu seharusnya jgn membuat si anak trauma emoticon-Embarrassment


Quote:Original Posted By schezart
ane mengalami nih gan trauma masa kecil emoticon-Frown


Quote:Original Posted By ndrewelektronik
wah bener nih, jangan sampe trauma deh pas kecil pasti kebawa entr sama mentalnya pas udah gede


Bener banget Gan..... Saya mengalami sendiri, efek ketika dewasanya sangat tidak menyenangkan, padahal hanya karena di cubit sama Ibu di waktu umur 1 tahun. Akhirnya setelah di selesaikan di level pikiran bawah sadar, trauma masa kecilnya di berikan solusi selesai deh masalahnya. Setelah itu jadi uenaaaakkkk banget rasanya.

Pemaknaan masing-masing peristiwa yang terjadi terhadap individu bisa membuat makna yang berbeda di pikiran bawah sadar. Buat saya kejadian dicubit itu memberikan makna negatif di emosi pikiran bawah sadar saya, tapi buat Agan mungkin tidak bermakna sama sekali.

Ada kakak beradik, si kakak takut sekali dengan anjing, sedangkan si adik senang anjing. Si kakak di terapi takut anjingnya, ternyata pada waktu kecil ketika si kakak dan si adik sedang berjalan ke rumah tetangga untuk mengembalikan sesuatu, mereka di kejar anjing. Si kakak takut adiknya terluka maka dia melindungi si adik. Ternyata hasil pemaknaan emosi di masa dewasa terhadap masing-masing individu berbeda. Si kakak takut sama anjing (karena pikiran bawah sadar takut kalo adiknya terluka), sedangkan si adik senang dengan anjing (karena tau kakak melindungi).

Jadi..., hati-hati dengan pikiran bawah sadar..

Alam bawah sadar itu apa sih??????

Quote:Original Posted By rudysetyawan






Bener banget Gan..... Saya mengalami sendiri, efek ketika dewasanya sangat tidak menyenangkan, padahal hanya karena di cubit sama Ibu di waktu umur 1 tahun. Akhirnya setelah di selesaikan di level pikiran bawah sadar, trauma masa kecilnya di berikan solusi selesai deh masalahnya. Setelah itu jadi uenaaaakkkk banget rasanya.

Pemaknaan masing-masing peristiwa yang terjadi terhadap individu bisa membuat makna yang berbeda di pikiran bawah sadar. Buat saya kejadian dicubit itu memberikan makna negatif di emosi pikiran bawah sadar saya, tapi buat Agan mungkin tidak bermakna sama sekali.

Ada kakak beradik, si kakak takut sekali dengan anjing, sedangkan si adik senang anjing. Si kakak di terapi takut anjingnya, ternyata pada waktu kecil ketika si kakak dan si adik sedang berjalan ke rumah tetangga untuk mengembalikan sesuatu, mereka di kejar anjing. Si kakak takut adiknya terluka maka dia melindungi si adik. Ternyata hasil pemaknaan emosi di masa dewasa terhadap masing-masing individu berbeda. Si kakak takut sama anjing (karena pikiran bawah sadar takut kalo adiknya terluka), sedangkan si adik senang dengan anjing (karena tau kakak melindungi).

Jadi..., hati-hati dengan pikiran bawah sadar..


Boleh tau terapinya dimana???
Thanks