alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5258a2f038cb177676000000/g30-s-pki--dosa-bangsa-utang-tni
G.30/S/PKI : Dosa Bangsa, Utang TNI
Dosa Bangsa, Utang TNI


Oleh: Derek Manangka
nasional - Jumat, 11 Oktober 2013 | 07:01 WIB



Quote:inilah..com, Jakarta - Gugatan yang mempertanyakan benar tidaknya peristiwa G-30.S/PKI, sebagai sebuah rekayasa, sudah lama muncul namun baru terdengar nyaring di 2013.

Paradigma tentang komunisme sebagai ideologi yang bukan ancaman bagi Indonesia, sudah berhembus sejak Uni Soviet, salah satu negara penganut komunis terkuat di dunia, terpecah menjadi beberapa negara di 1990.

Debat bahwa komunisme bukan sebagai ideologi berbahaya, semakin marak setelah RRC sebagai salah satu sumbu komunisme dunia, tiba-tiba berubah menjadi negara kapitalis. Padahal komunis dan kapitalis, selama ini diibaratkan antara orang jahat (komunis) dan orang baik (kapitalis). Tapi hembusan itu semua baru menerpa luas banyak kalangan di Indonesia pada 2013.

Adanya wacana yang mempersoalkan G.30S/PKI dan larangan komunisme, tak perlu dicurigai atau dituding sebagai upaya mencari-cari persoalan. Rasa ingin tahu dan sikap berbeda ini patut dilihat sebagai sebuah reaksi wajar. Sebab situasi Indonesia, keadaan dunia di 2013, sudah sangat berbeda dengan kondisi di era 1965-1966.

Sejatinya, kontroversi tentang peristiwa yang disebut kudeta gagal oleh PKI yang terjadi pada 30 September 1965 (G.30.S/PKI), semenjak 1978, sudah dipersoalkan oleh Brian May, wartawan berkebangsaan Amerika Serikat.

Melalui bukunya "The Indonesian Tragedy", May yang pernah menjadi koresponden kantor berita Prancis, AFP (Agence France Presse) di Jakarta, antara lain menyimpulkan bahwa G.30.S/PKI bukanlah gerakan yang dilakukan oleh PKI.

Penculikan dan pembunuhan terhadap 7 jenderal lebih cocok disebut sebagai persaingan internal di kalangan Angkatan Darat. May juga tidak percaya atas penyebutan Kolonel Untung sebagai otak dari G/30.S/PKI.

Memurutnya, Soekarno sebagai Presiden RI, tidak mungkin mendukung usaha kudeta PKI terhadap pemerintahan yang sah, sebagaimana dituduhkan. Tidak mungkin dan tidak masuk akal antara lain, karena saat itu Soekarno sudah ditetapkan oleh MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) sebagai presiden seumur hidup. Lalu utuk apa Soekarno mendukung kudeta terhadap dirinya ?

Wartawan Amerika Serikat itu punya catatan, Kolonel Untung yang dituduh sebagai Komandan G.30S/PKI, ketika menikah di Yogyakarta, dihadiri oleh bekas komandannya di Makassar. Dia adalah Jenderal Soeharto, Panglima Operasi Mandala yang bertugas membebaskan Irian Barat dari Belanda,

Jadi Untung merupakan salah seorang anak buah kesayangan Soeharto, paling tidak dikenal dekat. May menyesalkan atas eksekusi terhadap Untung oleh Kolonel Yasir Suhadibroto (terakhir menjabat Gubernur Lampung).

Sebab kalau betul dia (Untung) memang otak dari G.30.S/PKI, semestinya Untung terus "dipelihara". Tapi yang terjadi Untung justru dieksekusi. Lebih memprihatinkan, semua jejaknya pun dihilangkan. Termasuk dimana letak makamnya, tetap menjadi sebuah misteri.

Selama Orde Baru, "The Indonesian Tragedy" dilarang beredar di Indonesia. Pertanyaan tentang G.30.S/PKI dan paradigma tentang komunisme, muncul dari kalangan intelektual muda. Usia mereka rata-rata di bawah 45 tahun. Mereka merupakan generasi muda Indonesia yang belum lahir ketika G-30.S/PKI meletus. Begitu juga ketika larangan hidup terhadap PKI diberlakukan 47 tahun lalu, generasi muda ini belum dilahirkan..

Apapun motif pertanyaan dan ketidak setujuan mereka, hal ini menandakan cara pandang masyarakat Indonesia terhadap sebuah persoalan, secara kultural telah mengalami perubahan. Perubahan ini tidak boleh dimusuhi ataupun ditentang.

Generasi yang mempertanyakan kejelasan G.30/S/PKI dan pelarangan ideologi komunis, tidak punya beban politik. Karena itu mereka juga perlu dihargai. Memang tak banyak kalangan yang mau peduli terhadap sejarah politik Indonesia, terutama yang terkait dengan G.30S/PKI dan pembubaran PKI. Selain sensitif, ada yang merasa terlalu letih memperdebatkannya.

Juga tidak banyak pihak yang percaya bahwa ABRI dan atau TNI khususnya pada era itu sangat berperan. Hampir setengah abad lalu, peran TNI, sekalipun melewati batas kewenangan, tak ada pihak yang berani mempersoalkannya.

Peran TNI sekalipun melewati kekuasaan, dianggap wajar, semakin mengental setelah sejarawan TNI, Brigandir Jenderal Nugroho Notosusanto memberikan legitimasinya.Nugroho yang terakhir menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era rezim Soeharto, merupakan seorang intelektual yang "diberi" pangkat jenderal bintang satu oleh Presiden Jenderal Soeharto.

Dari fakta penelitian dan perspektifnyalah, peran TNI (Tentara Nasional Indonesia - dulu ABRI) selalu diposisikan sebagai kekuatan utama yang mencegah Indonesia menjadi negara komunis. Disintegrasi Indonesia, tidak terjadi karena PKI berhasil dilumpuhkan oleh TNI. Jadi komunisme merupakan bahaya laten terhadap eksistensi Indonesia.

Legitimasi terhadap TNI yang dibuat Menteri Nugroho Notosusanto (almarhum), semakin kuat dan dipercaya, sebab di masa itu, tak ada tokoh intelektual yang berani mpersoalkannya. Pers pun diam, tidak bereaksi karena takut risikonya. Akibatnya text book sejarah Indonesia khususnya yang ada kaitan dengan peran TNI, ikut berubah.

Sebelum diangkat sebagai Menteri Pendidikan, Nugroho Notosusanto dikenal sebagai ahli sejarah ABRI. Itu pula sebabnya ia dipercaya sebagai Kepala Pusat Sejarah ABRI. Salah satu versi sejarahnya yang terkenal tentang ABRI atau TNI yang sekaligus menimbulkan kontroversi adalah soal Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret).

Surat Perintah 11 Maret 1966 yang dikeluarkan Presiden Soekarno untuk Panglima Kostrad Jenderal Soeharto, merupakan dokumen resmi dan konstitusional yang menjadi dasar peralihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto. Melalui dokumen itu Nugroho Notosusanto menampik tudingan dari berbagai kalangan bahwa Jenderal Soeharto merebut kekuasaan Presiden dari tangan Soekarno.

Salah satu yang fatal dari sejarah Supersemar itu adalah dokumen aslinya hingga sekarang tidak pernah dilihat oleh publik. Di perpustakan Arsip Nasional, dokumen aslinya tidak ditemukan. Sehingga legtimasi Jenderal Nugroho Notosusanto, cacat.

Inilah yang antara lain menyebabkan para ahli sejarah, pengamat atau mereka yang menghendaki keterbukaan, punya kesimpulan sementara dan pandangan tersendiri terhadap TNI dan lebih khusus lagi para jenderal senior. Mereka beranggapan TNI telah melakukan tindakan yang menimbulkan aib dan dosa.

Tidak ditemukannya dokumen yang mengubah sejarah perjalanan bangsa, yang telah mengakibatkan pembunuhan sesama warga bangsa, sesuatu yang patut disesalkan. Aib dan dosa ini akan menjadi sebuah ceritera yang tidak selesai, ceritera duka yang melukai bangsa.

Di era demokrasi seperti saat ini, sejatinya tak ada misteri yang bisa ditutup rapat-rapat. Oleh sebab itu TNI perlu melakukan klarifikasi termasuk introspeksi.

Sebab dengan kecanggihan Teknologi Informasi, hadirnya Era Informasi (Information Age), aib dan misteri itu menjadi seperti sebuah durian monthong. TNI akan terus terbebani oleh pertanyaan yang sama yang muncul dari waktu ke waktu. Sejarah yang dibelokkan, harus ditulis kembali.

Seperti halnya kisah pembunuhan ratusan ribu kader PKI. Di dalam negeri, ceritera itu selalu dibantah. Terutama oleh pihak-pihak yang masih ada hubungannya dengan rezim yang berkuasa di era Soeharto,.

Namun berbagai dokumen yang beredar melalui internet yang sumbernya berasal dari Amerika Serikat menunjukkan, CIA, Badan Intelejens Amerika Serikat dan Jenderal Soeharto, melakukan kerja sama dalam mengeksekusi para kader PKI.

Caranya, CIA yang bertugas di Kedutaan Besar Amerika Serikat, disebut-sebut menyamar sebagai diplomat, mengumpulkan semua informasi dan daftar tokoh PKI. Nama-nama itu kemudian oleh CIA diberikan kepada otoritas Indonesia.

Pejabat atau petugas militer Indonesia, atas dasar dokumen itu juga dituding melakukan penangkapan, penyiksaan sampai dengan pembunuhan. Mereka yang bertugas sebagai eksekutor merupakan aparat militer.

Sehingga kalau anggota TNI ingin kembali berkuasa di Indonesia, utang darah ini, tidak boleh dianggap sesuatu yang sudah lunas. Otomatis diputihkan berhubung kejadiannya sudah bertahun-tahun. Utang tetap utang. Begitu pula aib dan dosa. [mdr]



===============================================

nyaring di 2013 emoticon-Bingung

ga pernah denger........ tiap hari berita akil mulu emoticon-Hammer2
Ne baru dengar.....
Quote:inilah..com, Jakarta - Gugatan yang mempertanyakan benar tidaknya peristiwa G-30.S/PKI, sebagai sebuah rekayasa, sudah lama muncul namun baru terdengar nyaring di 2013.

Paradigma tentang komunisme sebagai ideologi yang bukan ancaman bagi Indonesia, sudah berhembus sejak Uni Soviet, salah satu negara penganut komunis terkuat di dunia, terpecah menjadi beberapa negara di 1990.

Debat bahwa komunisme bukan sebagai ideologi berbahaya, semakin marak setelah RRC sebagai salah satu sumbu komunisme dunia, tiba-tiba berubah menjadi negara kapitalis. Padahal komunis dan kapitalis, selama ini diibaratkan antara orang jahat (komunis) dan orang baik (kapitalis). Tapi hembusan itu semua baru menerpa luas banyak kalangan di Indonesia pada 2013.

Adanya wacana yang mempersoalkan G.30S/PKI dan larangan komunisme, tak perlu dicurigai atau dituding sebagai upaya mencari-cari persoalan. Rasa ingin tahu dan sikap berbeda ini patut dilihat sebagai sebuah reaksi wajar. Sebab situasi Indonesia, keadaan dunia di 2013, sudah sangat berbeda dengan kondisi di era 1965-1966.

Sejatinya, kontroversi tentang peristiwa yang disebut kudeta gagal oleh PKI yang terjadi pada 30 September 1965 (G.30.S/PKI), semenjak 1978, sudah dipersoalkan oleh Brian May, wartawan berkebangsaan Amerika Serikat.

Melalui bukunya "The Indonesian Tragedy", May yang pernah menjadi koresponden kantor berita Prancis, AFP (Agence France Presse) di Jakarta, antara lain menyimpulkan bahwa G.30.S/PKI bukanlah gerakan yang dilakukan oleh PKI.

Penculikan dan pembunuhan terhadap 7 jenderal lebih cocok disebut sebagai persaingan internal di kalangan Angkatan Darat. May juga tidak percaya atas penyebutan Kolonel Untung sebagai otak dari G/30.S/PKI.

Memurutnya, Soekarno sebagai Presiden RI, tidak mungkin mendukung usaha kudeta PKI terhadap pemerintahan yang sah, sebagaimana dituduhkan. Tidak mungkin dan tidak masuk akal antara lain, karena saat itu Soekarno sudah ditetapkan oleh MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) sebagai presiden seumur hidup. Lalu utuk apa Soekarno mendukung kudeta terhadap dirinya ?

Wartawan Amerika Serikat itu punya catatan, Kolonel Untung yang dituduh sebagai Komandan G.30S/PKI, ketika menikah di Yogyakarta, dihadiri oleh bekas komandannya di Makassar. Dia adalah Jenderal Soeharto, Panglima Operasi Mandala yang bertugas membebaskan Irian Barat dari Belanda,

Jadi Untung merupakan salah seorang anak buah kesayangan Soeharto,
paling tidak dikenal dekat. May menyesalkan atas eksekusi terhadap Untung oleh Kolonel Yasir Suhadibroto (terakhir menjabat Gubernur Lampung).

Sebab kalau betul dia (Untung) memang otak dari G.30.S/PKI, semestinya Untung terus "dipelihara". Tapi yang terjadi Untung justru dieksekusi. Lebih memprihatinkan, semua jejaknya pun dihilangkan. Termasuk dimana letak makamnya, tetap menjadi sebuah misteri.

Selama Orde Baru, "The Indonesian Tragedy" dilarang beredar di Indonesia. Pertanyaan tentang G.30.S/PKI dan paradigma tentang komunisme, muncul dari kalangan intelektual muda. Usia mereka rata-rata di bawah 45 tahun. Mereka merupakan generasi muda Indonesia yang belum lahir ketika G-30.S/PKI meletus. Begitu juga ketika larangan hidup terhadap PKI diberlakukan 47 tahun lalu, generasi muda ini belum dilahirkan..

Apapun motif pertanyaan dan ketidak setujuan mereka, hal ini menandakan cara pandang masyarakat Indonesia terhadap sebuah persoalan, secara kultural telah mengalami perubahan. Perubahan ini tidak boleh dimusuhi ataupun ditentang.

Generasi yang mempertanyakan kejelasan G.30/S/PKI dan pelarangan ideologi komunis, tidak punya beban politik. Karena itu mereka juga perlu dihargai. Memang tak banyak kalangan yang mau peduli terhadap sejarah politik Indonesia, terutama yang terkait dengan G.30S/PKI dan pembubaran PKI. Selain sensitif, ada yang merasa terlalu letih memperdebatkannya.

Juga tidak banyak pihak yang percaya bahwa ABRI dan atau TNI khususnya pada era itu sangat berperan. Hampir setengah abad lalu, peran TNI, sekalipun melewati batas kewenangan, tak ada pihak yang berani mempersoalkannya.

Peran TNI sekalipun melewati kekuasaan, dianggap wajar, semakin mengental setelah sejarawan TNI, Brigandir Jenderal Nugroho Notosusanto memberikan legitimasinya.Nugroho yang terakhir menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era rezim Soeharto, merupakan seorang intelektual yang "diberi" pangkat jenderal bintang satu oleh Presiden Jenderal Soeharto.

Dari fakta penelitian dan perspektifnyalah, peran TNI (Tentara Nasional Indonesia - dulu ABRI) selalu diposisikan sebagai kekuatan utama yang mencegah Indonesia menjadi negara komunis. Disintegrasi Indonesia, tidak terjadi karena PKI berhasil dilumpuhkan oleh TNI. Jadi komunisme merupakan bahaya laten terhadap eksistensi Indonesia.

Legitimasi terhadap TNI yang dibuat Menteri Nugroho Notosusanto (almarhum), semakin kuat dan dipercaya, sebab di masa itu, tak ada tokoh intelektual yang berani mpersoalkannya. Pers pun diam, tidak bereaksi karena takut risikonya. Akibatnya text book sejarah Indonesia khususnya yang ada kaitan dengan peran TNI, ikut berubah.

Sebelum diangkat sebagai Menteri Pendidikan, Nugroho Notosusanto dikenal sebagai ahli sejarah ABRI. Itu pula sebabnya ia dipercaya sebagai Kepala Pusat Sejarah ABRI. Salah satu versi sejarahnya yang terkenal tentang ABRI atau TNI yang sekaligus menimbulkan kontroversi adalah soal Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret).

Surat Perintah 11 Maret 1966 yang dikeluarkan Presiden Soekarno untuk Panglima Kostrad Jenderal Soeharto, merupakan dokumen resmi dan konstitusional yang menjadi dasar peralihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto. Melalui dokumen itu Nugroho Notosusanto menampik tudingan dari berbagai kalangan bahwa Jenderal Soeharto merebut kekuasaan Presiden dari tangan Soekarno.

Salah satu yang fatal dari sejarah Supersemar itu adalah dokumen aslinya hingga sekarang tidak pernah dilihat oleh publik. Di perpustakan Arsip Nasional, dokumen aslinya tidak ditemukan. Sehingga legtimasi Jenderal Nugroho Notosusanto, cacat.

Inilah yang antara lain menyebabkan para ahli sejarah, pengamat atau mereka yang menghendaki keterbukaan, punya kesimpulan sementara dan pandangan tersendiri terhadap TNI dan lebih khusus lagi para jenderal senior. Mereka beranggapan TNI telah melakukan tindakan yang menimbulkan aib dan dosa.

Tidak ditemukannya dokumen yang mengubah sejarah perjalanan bangsa, yang telah mengakibatkan pembunuhan sesama warga bangsa, sesuatu yang patut disesalkan. Aib dan dosa ini akan menjadi sebuah ceritera yang tidak selesai, ceritera duka yang melukai bangsa.

Di era demokrasi seperti saat ini, sejatinya tak ada misteri yang bisa ditutup rapat-rapat. Oleh sebab itu TNI perlu melakukan klarifikasi termasuk introspeksi.

Sebab dengan kecanggihan Teknologi Informasi, hadirnya Era Informasi (Information Age), aib dan misteri itu menjadi seperti sebuah durian monthong. TNI akan terus terbebani oleh pertanyaan yang sama yang muncul dari waktu ke waktu. Sejarah yang dibelokkan, harus ditulis kembali.

Seperti halnya kisah pembunuhan ratusan ribu kader PKI. Di dalam negeri, ceritera itu selalu dibantah. Terutama oleh pihak-pihak yang masih ada hubungannya dengan rezim yang berkuasa di era Soeharto,.

Namun berbagai dokumen yang beredar melalui internet yang sumbernya berasal dari Amerika Serikat menunjukkan, CIA, Badan Intelejens Amerika Serikat dan Jenderal Soeharto, melakukan kerja sama dalam mengeksekusi para kader PKI.

Caranya, CIA yang bertugas di Kedutaan Besar Amerika Serikat, disebut-sebut menyamar sebagai diplomat, mengumpulkan semua informasi dan daftar tokoh PKI. Nama-nama itu kemudian oleh CIA diberikan kepada otoritas Indonesia.

Pejabat atau petugas militer Indonesia, atas dasar dokumen itu juga dituding melakukan penangkapan, penyiksaan sampai dengan pembunuhan. Mereka yang bertugas sebagai eksekutor merupakan aparat militer.

Sehingga kalau anggota TNI ingin kembali berkuasa di Indonesia, utang darah ini, tidak boleh dianggap sesuatu yang sudah lunas. Otomatis diputihkan berhubung kejadiannya sudah bertahun-tahun. Utang tetap utang. Begitu pula aib dan dosa. [mdr]


banyak yang ambigu dari tulisan ini......
terkesan sang penulis ingin mengarahkan kalau komunisme adalah sesuatu yang wajar tidak berbahaya, TAPI di lain paragraf penulis justru menulis mengenai kegagalan sistem pemerintahan komunis (soviet hancur, China beralih ideologi)...sebuah pernyataan yang bertolak belakang
seperti kutipan-kutipan yang ane bold, PKI tidak terlibat G30S..??? tapi kenapa Aidit harus lari dari istana merdeka dengan sembunyi di mobil petinggi AU ketika istana di kepung tentara?? kalau memang PKI tidak terlibat, bikin pernyataan resmi aja....lagipula di istana khan Aidit dekat dengan sukarno (banyak cakrabhirawa juga) kenapa harus takut dengan tentara??

Untung memang bukan otak, tapi dia juga berperan serta menculik para jenderal yang kemudian di bawa ke lubang buaya, dia bergerak di luar komando...karena kedekatan emosionalnya dengan seorang sukarno...meskipun Untung ini di sebut orang kesayangan suharto, tapi ingat juga, Dia adalah komandan tjakrabhirawa yang sudah di sumpah untuk menjaga keselamatan dan wibawa presiden dalam kondisi apapun...

kalau MPRS menyetujui presiden sukarno menjadi presiden seumur hidup.....ya sudah pasti menyetujui lah. lha wong pasca dekrit 1959, MPR yang awalnya berada di atas presiden, berubah namanya menjadi MPRS dan menjadi bawahan presiden (bahkan ketua MPRSnya juga merangkap wakil menteri bawahannya sukarno), gimana bisa menolak??....tapi di situlah awal sukarno menjadi seorang otoritarian totaliter, ketika sistem kenegaraan menjadi demokrasi terpimpin...semakin jelaslah arah ideologi Indonesia ini akan di bawa kemana

yah cukup ini dulu lah yang ane tulis...kalau di lanjutkan bisa panjaaaaang banget ini
moga-moga bisa bermanfaat
^
banyak yg gak bisa bedain com-fucianist cina zaman sekarang sama real commie maois zaman dolo... khmer merah kyk apa aja pada gak ngeh...
pdhl kalo PKI menang waktu itu banyak kaskuser yg bakal gak lahir krn ortunya dimatiin krn dianggep setan kota/setan desa kalo gak malah niru mao dgn program 'great famine' nya emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By kimi mabok
^
banyak yg gak bisa bedain com-fucianist cina zaman sekarang sama real commie maois zaman dolo... khmer merah kyk apa aja pada gak ngeh...
pdhl kalo PKI menang waktu itu banyak kaskuser yg bakal gak lahir krn ortunya dimatiin krn dianggep setan kota/setan desa kalo gak malah niru mao dgn program 'great famine' nya emoticon-Big Grin


yup...
komunisme itu banyak macemnya, dan ane yakin betul kalau komunisme di indonesia itu hampir seperti model komunisme yang dipake oleh polpot dan khmer merahnya
kalau diteruskan.....silahkan di bayangkan sendiri (yang pasti seremm)
di luar urusan utang piutang, yg paling disesalkan, setelah era ini, kondisi kekuatan TNI terjun bebas sampai titik yg mengenaskan...

1998, 2001, 2004... krisis ekonomi, GAM, Ambon, lepasnya tim tim, lepasnya ligitan sipadan, kasus Ambalat...

merupakan akumulasi dari efek domino peristiwa ini...
Quote:Original Posted By kimi mabok
^
banyak yg gak bisa bedain com-fucianist cina zaman sekarang sama real commie maois zaman dolo... khmer merah kyk apa aja pada gak ngeh...
pdhl kalo PKI menang waktu itu banyak kaskuser yg bakal gak lahir krn ortunya dimatiin krn dianggep setan kota/setan desa kalo gak malah niru mao dgn program 'great famine' nya emoticon-Big Grin


Kalo yg 2-3 jt warga Indo tewas dlm 1 thn setelah G30S 1965 itu akibat perang sipil antara pemerintah fanboy vs Komunis fanboy, atw pembantaian thd komunis fanboy??
Quote:Original Posted By 032700


Kalo yg 2-3 jt warga Indo tewas dlm 1 thn setelah G30S 1965 itu akibat perang sipil antara pemerintah fanboy vs Komunis fanboy, atw pembantaian thd komunis fanboy??


kalo komunis menang brapa byk yg tewas ya ?
jgn2 bikin gunung tengkorak kyk rouge khmer emoticon-Embarrassment
Quote:Original Posted By kimi mabok


kalo komunis menang brapa byk yg tewas ya ?
jgn2 bikin gunung tengkorak kyk rouge khmer emoticon-Embarrassment


komunis musnah, syukur alhamdulillah, komunis menang, innalillah....
yang ane tangkep dari tulisan diatas, penulis mempertanyakan kenapa komunis dilarang. kenapa gak liberal, kapital, atau apalah.
kalo denger komentar para korban pemberantasan prri maka mungkin akan muncul kalimat yng mirip2 ini:
"g30spki itu adalah karma atas apa yang terjadi saat pemberantasan prri..." ato "hal tsb adalah penghapusan dosa atas apa yang terjadi sebelumnya"...
Quote:Original Posted By zuneazunea
yang ane tangkep dari tulisan diatas, penulis mempertanyakan kenapa komunis dilarang. kenapa gak liberal, kapital, atau apalah.


penulisya pensboy commie, kaya si Larbugiyyah emoticon-Ngakak
Yang menang rezim orba dan kroni2nya gan. Nyaris berkuasa seumur hidup dan multi perusahaan nasional.
Quote:Original Posted By 032700


Kalo yg 2-3 jt warga Indo tewas dlm 1 thn setelah G30S 1965 itu akibat perang sipil antara pemerintah fanboy vs Komunis fanboy, atw pembantaian thd komunis fanboy??


Pembantaian terhadap segala sesuatu yg bau ataupun di anggap komunis. Seperti petani yg dapat jatah pembagian lahan.
kalo bicara soal PKI khususnya di daerah, jangan menyalahkan siapapun, kecuali menyalahkan PKI itu sendiri; tak perlu menuduh ini itu krn orang masih ingat benar gmn polah tingkahnya si PKI/Gerwani dan antek2nya...; fakta lapangan sudah membuktikan itu.
di plafon musholla desaku masih ada 1 ikat Rotan eks senjata utk menumpas PKI di areaku. panjangnya tidak lebih 100 cm-an;
emoticon-Najis
emoticon-Matabelo
emoticon-I Love Indonesia (S)
Quote:Original Posted By Laksapro

di plafon musholla desaku masih ada 1 ikat Rotan eks senjata utk menumpas PKI di areaku. panjangnya tidak lebih 100 cm-an;

dibuat mukulin tuh gan?? emoticon-Matabelo
Saya sebenarnya juga sedikit heran.. kenapa Komunis pada era tersebut bisa sangat luar biasa kejamnya...

Banyak kisah-kisah lokal yang menceritakan bagaimana orang PKI mengganggu tempat peribadatan. Bagaimana PKI begitu ingin menyebarkan ajaran Tanpa-Tuhan-nya...

Sampai saya sendiri juga masih ingat cerita jaman kecil
"Ayo anak-anak... silahkan tangannya ditengahdahkan.. tutup matanya... terus berdoa 'Ya Allah.. saya minta roti...'. Gimana? rotinya ada tidak? Kalau gitu, sekarang doanya diganti... 'Bu Guru.. saya minta roti...' (sambil bu guru meletakkan roti di tangan muridnya) Gimana? rotinya ada kan?
Nha... ini buktinya bahwa Tuhan itu nggak ada... Tuhan tidak bisa memberikan roti, tapi Bu Guru bisa..."

Suatu kisah yang saya pikir dulu itu sederhana dan simple, ternyata memiliki pesan indoktrinasi yang luarbiasa...
Quote:Original Posted By kimi mabok
^
banyak yg gak bisa bedain com-fucianist cina zaman sekarang sama real commie maois zaman dolo... khmer merah kyk apa aja pada gak ngeh...
pdhl kalo PKI menang waktu itu banyak kaskuser yg bakal gak lahir krn ortunya dimatiin krn dianggep setan kota/setan desa kalo gak malah niru mao dgn program 'great famine' nya emoticon-Big Grin


ane gk lahir jgn" om..
ato gk ane lahir dgn kondisi memprihatinkan.
emoticon-Sorry
Ah jd teringat peristiwa bandar betsy saya.
PKI serobot tanah milik perkebunan.
KOMUNIS memang tidak sesuai dengan dasar negara kita ganemoticon-I Love Indonesia (S)

NKRI harga mati