alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/525740e01acb174d24000002/apec-dan-agenda-terselubung-as-china
APEC dan Agenda Terselubung AS-China
Sumber: Kompas.com

Didik Purwanto

KOMPAS.com - Perhelatan konferensi negara-negara ekonomi Asia Pasifik (APEC) memang sudah berakhir. Namun awalnya, pertemuan 21 negara yang digelar di Bali ini mengundang penolakan dari berbagai pihak. Penolakan ini terkait bakal tidak ada agenda signifikan yang bisa dihasilkan dari acara selama sepekan tersebut. Ujung-ujungnya pertemuan ini hanyalah pertemuan untuk transaksi jual beli yang mengatasnamakan negara, tanpa melibatkan kemakmuran masyarakat kecil.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofyan Wanandi semula ada dalam barisan kelompok yang tidak menyetujui ada agenda APEC ini. Menurutnya, pertemuan itu tidak perlu ada karena tidak akan ada hasil berarti terutama bagi pengusaha. Namun ternyata, Sofyan juga datang dalam perhelatan tersebut. Bahkan Sofyan datang sebelum pergelaran APEC CEO Summit yang seharusnya dihadiri juga oleh Presiden AS Barack Obama.

Sebagai Ketua Apindo,Sofyan tentu memiliki kepentingan prioritas yang mengatasnamakan pengusaha domestik. Sofyan ini bertugas untuk melobi pengusaha dari negara lain, kalau perlu kepala negaranya agar mau berkongsi dengan pengusaha domestik. Tentu hasil dari lobi-lobi tersebut tidak bisa instan dalam sehari dua hari bisa terjadi. Sebab, pengusaha masing-masing negara tentu memiliki tujuan investasi sendiri sekaligus mengamankan "agenda usaha"-nya sendiri.

Pernyataan Sofyan diatas, ternyata diamini oleh Indonesia for Global Justice (IGJ). Direktur Eksekutif IGJ Riza Damanik menilai, bahwa KTT APEC ini berpotensi memperparah perekonomian Indonesia melalui berbagai kesepakatan perdagangan bebas regional yang dipayungi oleh Bogor Goals. Dalam pandangan Riza, forum APEC ini juga ditunggangi oleh Perjanjian Perdagangan Bebas yang saat ini dalam proses negosiasi baik di dalam Trans Pacific Partnership (TPP) yang diinisiasi AS maupun ASEAN Regional Economic Comprehensive Partnership (RCEP) yang diinisiasi China.

Memang kedua negara super power tersebut sedang adu kekuatan khususnya dalam hal ekonomi. China dianggap lebih beruntung karena bisa tumbuh secara positif. Sementara AS sedang diselimuti awan shutdown pemerintahan dan krisis utang.

Riza memandang, bahwa KTT APEC telah digunakan oleh negara-negara industri, khususnya Amerika Serikat dan China, untuk semakin memperkuat pengaruhnya dalam kerjasama ekonomi kawasan baik di TPP maupun di ASEAN RCEP. Bagaimanapun, kawasan Asia Pacific merupakan potensi pasar yang besar karena populasinya mencapai hingga 40 persen dari populasi dunia, yang menguasai sebesar 55 persen GDP di dunia, dan 44 persen aktivitas perdagangan dunia berasal dari negara-negara APEC.

Oleh karena itu, Bogor Goals akan menjadi bermakna bagi pengaruh ekonomi AS dan China. Di sini, Riza menilai Bogor Goals hendak mengawinkan TPP dengan ASEAN RCEP, yang tidak semua negara di kawasan Asia Pacific tergabung ke dalamnya, melalui agenda FTAAP (Free Trade Area of the Asia Pacific). Inilah agenda terbesar di balik seluruh agenda pembahasan dalam KTT APEC di Bali tahun ini. Jadi semacam ada agenda terselubung di sini.

Dalam pengamatan Riza, agenda APEC ini juga tidak akan memberikan keuntungan bagi perdagangan Indonesia. Hal ini terbukti dengan neraca perdagangan Indonesia dengan negara-negara APEC cenderung defisit di sepanjang tahun 2012 hingga Januari-Juli 2013 yang didominasi dengan defisit di sektor non-migas.

Sementara Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto menilai, ajang APEC merupakan ajang kumpul-kumpul 21 negara yang menginginkan ada liberalisasi perdagangan dan investasi.

Tapi karena ini sudah terjadi, maka Suryo mengharapkan para pengusaha harus pandai-pandai memanfaatkan situasi dan waspada terhadap tawaran investasi dari negara lain. Artinya, liberalisasi perdagangan ini juga tergantung Indonesia juga, para pengusaha domestiknya.

Suryo menyebut, AS yang sudah dikatakan negara paling liberal terhadap pasarnya, tentu juga akan melindungi pengusaha lokalnya. Jadi pengusaha Indonesia juga tidak secara gampang untuk masuk ke pasar negeri Paman Sam tersebut. Apalagi dengan agenda terselubung tadi, maka barang-barang Indonesia tidak akan mudah masuk ke sana.

Kembali lagi, Indonesia memang harus bisa mengambil sikap dengan adanya pertemuan tersebut. Indonesia tidak hanya dipandang sebagai potensi pasar yang besar saja tapi harus mampu berperan melindungi pengusaha lokal dan berusaha membawa pengusaha lokal ini mampu berkancah di pasar internasional.

Sehingga pemerintah bisa melindungi dari agenda terselubung AS-China yang mana produk-produk dari kedua negara super power tersebut sebenarnya sudah membanjiri pasar Indonesia. Memang Indonesia selalu jadi pasar empuk negara manapun.
indon2.. aset2 jual2...


mantab
katanya apec "kendaraan" - nya AS...sekarang jadi nambah china ya...^^

btw udah teken perpanjangan kontrak 100 taon pipot-nya...^^^
ada usa dan china, males komen, ntar dikira pendukung onta lagiemoticon-Big Grin
China Tanamkan Investasi US$51 Miliar di Indonesia
http://bisnis.news.viva.co.id/news/r...r-di-indonesia

Alasan-alasan utama untuk menolak WTO

Top Reasons to Oppose the WTO!


1. WTO Secara Mendasar tidaklah demokratis
Dampak kebijakan WTO terhadap seluruh aspek masyarakat dan planet ini, tetapi ini bukanlah lembaga demokratis dan transparan. Aturan-aturan didalam WTO ditulis oleh dan untuk perusahaan-perusahaan dengan akses untuk masuk kedalam setiap negosiasi. Misalnya, Perwakilan Dagang AS mendapat masukan besar untuk negosiasi dari 17 perwakilan "Komite Penasihat Sektor Industri." Secara konsisten telah diabaikan oleh masyarakat, konsumen, organisasi lingkungan, organisasi hak asasi manusia dan organisasi buruh. Bahkan permintaan sederhana untuk informasi ditolak, dan proses yang diadakan secara rahasia. Siapa yang telah memilih pemerintahan rahasia global tersebut?


2. WTO Tidak Akan Membuat Kita Aman
WTO ingin Anda percaya bahwa menciptakan "perdagangan bebas" dunia akan mempromosikan pemahaman global dan perdamaian. Sebaliknya, dominasi perdagangan internasional dengan negara-negara kaya untuk keuntungan atas kepentingan individu mereka dengan kebencian dan kemarahan yang membuat kita kurang aman. Untuk membangun keamanan global yang nyata, kita perlu perjanjian internasional yang menghormati hak rakyat untuk demokrasi dan sistem perdagangan yang mempromosikan keadilan global.

3. WTO Merendahkan Buruh dan Hak Asasi Manusia
Aturan WTO menempatkan "hak" dari perusahaan untuk mendapatkan keuntungan atas hak asasi manusia dan perburuhan. WTO mendorong 'berlomba menurunkan' upah dengan mengadu domba pekerja satu sama lain daripada mempromosikan standar perburuhan yang diakui secara internasional. WTO telah memutuskan bahwa itu adalah ilegal bagi pemerintah untuk melarang produk berdasarkan cara itu diproduksi, seperti dengan pekerja anak. Hal ini juga memutuskan bahwa pemerintah tidak dapat memperhitungkan "nilai-nilai non komersial" seperti hak asasi manusia, atau perilaku perusahaan yang melakukan bisnis dengan kediktatoran setan seperti Burma ketika membuat keputusan pembelian.


4. WTO akan memprivatisasi jasa secara Esensial
WTO berusaha untuk memprivatisasi pelayanan publik penting seperti pendidikan, energi kesehatan, dan air. Privatisasi berarti menjual aset publik-seperti gelombang udara radio atau sekolah ke perusahaan-perusahaan swasta (biasanya asing), untuk memperoleh keuntungan daripada untuk kepentingan publik. Perjanjian Umum WTO tentang Perdagangan Jasa, atau General Aggreements On Trade in Service (GATS), berisi sekitar 160 daftar pelayanan yang terancam termasuk perawatan orang tua dan anak, limbah, sampah, perawatan taman, telekomunikasi, konstruksi, perbankan, asuransi, transportasi, pengiriman, layanan pos, dan pariwisata. Di beberapa negara, privatisasi sudah dijalankan. Mereka yang paling tidak mampu untuk membayar layanan vital-Masyarakat klas pekerja dan masyarakat marjinal-adalah orang-orang yang paling menderita.

5. WTO adalah Perusak Lingkungan
WTO sedang digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk berusaha keras membongkar perlindungan lingkungan lokal dan nasional, yang diserang sebagai "hambatan perdagangan." Ketetapan panel WTO yang paling pertama memutuskan suatu ketentuan dari US Clean Air Act, yang membutuhkan produsen dalam dan luar negeri yang sama seperti untuk memproduksi bensin bersih, itu ilegal. WTO dinyatakan ilegal berdasarkan ketentuan dari Endangered Species Act yang membutuhkan udang yang dijual di AS ditangkap dengan perangkat murah yang memungkinkan penyu terancam punah karena melarikan diri. WTO berupaya melakukan deregulasi industri termasuk penebangan pohon (logging), memancing, utilitas air, dan distribusi energi, yang akan mengarah pada eksploitasi lebih lanjut dari sumber daya alam.

6. WTO adalah Pembunuh Rakyat
Pertahanan keras WTO atas 'Hak kekayaan Intelektuil-Trade Related Intellectual Property (TRIPs)- hak paten, hak cipta dan merek dagang datang dengan mengorbankan kesehatan dan kehidupan manusia. WTO telah melindungi perusahaan-perusahaan farmasi untuk 'hak atas keuntungan' terhadap pemerintah-pemerintah yang berusaha untuk melindungi kesehatan masyarakatnya dengan menyediakan obat-obatan penyelamat nyawa di negara-negara di daerah seperti sub-Sahara Afrika, dimana ribuan orang meninggal setiap hari akibat HIV/AIDS.

Negara-negara berkembang meraih kemenangan penting pada tahun 2001 ketika mereka menegaskan hak untuk memproduksi obat-obat generik (atau mereka melakukan impor jika mereka tidak memiliki kapasitas produksi), sehingga mereka dapat menyediakan obat-obatan penting untuk menyelamatkan nyawa penduduk mereka lebih murah. Sayangnya, pada bulan September 2003, banyak kondisi-kondisi baru yang disetujui tersebut akan membuat lebih sulit bagi banyak negara untuk memproduksi obat-obatan tersebut. Sekali lagi, WTO menunjukkan bahwa nikmatnya keuntungan perusahaan selama menyelamatkan nyawa manusia.

7. WTO adalah Peningkatan Ketimpangan
Perdagangan bebas tidak bekerja untuk sebagian besar dunia. Selama periode terakhir dari pertumbuhan yang cepat dalam perdagangan global dan investasi (1960-1998) ketimpangan kian memburuk baik di internasional maupun dalam negara. Laporan Program Pembangunan PBB bahwa 20 persen penduduk terkaya di dunia mengkonsumsi 86 persen dari sumber daya dunia sedangkan 80 persen penduduk termiskin mengkonsumsi hanya 14 persen. Aturan WTO telah mempercepat tren-trenya dengan membuka negara-negara untuk investasi asing dan dengan demikian membuat lebih mudah bagi produksinya untuk diarahkan dimana tenaga kerja yang paling murah dan mudah dieksploitasi serta dengan biaya lingkungan rendah.
8. WTO Meningkatkan Kelaparan
Petani menghasilkan makanan yang cukup di dunia untuk memberi makan semua orang - namun karena kontrol perusahaan distribusi makanan, sebanyak 800 juta orang di seluruh dunia menderita kekurangan gizi kronis. Menurut Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, makanan adalah hak asasi manusia. Di negara berkembang, sebanyak empat dari setiap lima orang hidup dari tanah. Namun prinsip utama dalam Perjanjian WTO tentang Pertanian adalah bahwa kekuatan pasar harus mengontrol kebijakan-pertanian daripada komitmen nasional untuk menjamin ketahanan pangan dan mempertahankan pendapatan keluarga petani yang layak. Kebijakan WTO telah memungkinkan pembuangan subsidi idustri produk makanan ke negara-negara miskin, merusak produksi lokal dan meningkatkan kelaparan.

9. WTO Merugikan negara-negara miskin, kecil yang mendukung kekuasaan Bangsa-bangsa Kaya
WTO seharusnya beroperasi berdasarkan konsensus, dengan kekuatan yang sama dalam pengambilan keputusan untuk semua. Pada kenyataannya, banyak keputusan penting bisa dibuat dalam suatu proses dimana negosiator negara-negara miskin  bahkan tidak diundang ke pertemuan-pertemuan tertutup dan kemudian 'perjanjian-perjanjian' yang diumumkan negara-negara miskin bahkan tidak tahu ketika sedang dibahas. Banyak negara bahkan tidak memiliki personil perdagangan yang cukup untuk berpartisipasi dalam semua negosiasi atau bahkan memiliki perwakilan tetap di WTO. Hal ini sangat merugikan negara-negara miskin dari yang mewakili kepentingan mereka. Demikian juga, banyak negara yang terlalu miskin untuk mempertahankan diri dari tantangan WTO dari negara-negara kaya, dan mengubah hukum mereka daripada membayar untuk pertahanan mereka sendiri.

10. WTO melemahkan Keputusan-Keputusan Tingkat Lokal dan Kedaulatan Nasional
Ketentuan-ketentuan WTO "paling disukai bangsa" yang mengharuskan semua negara anggota WTO untuk memperlakukan satu sama lain secara seimbang dan untuk mengobati semua perusahaan dari negara-negara yang sama terlepas dari track record mereka. Kebijakan lokal ditujukan untuk menguntungkan perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan penduduk lokal, menggunakan bahan-bahan dalam negeri, atau mengadopsi praktek lingkungan yang sehat pada dasarnya ilegal di bawah WTO.

Negara-negara berkembang dilarang membuat peraturan daerah yang mengejar negara-negara maju, seperti perlindungan baru, industri dalam negeri sampai mereka bisa bersaing di tingkat internasional. Gubernur California Gray Davis memveto RUU "Beli California" yang akan memberikan preferensi kecil untuk usaha-usaha lokal karena itu WTO-ilegal. Sesuai dengan yang dibutuhkan WTO seluruh bagian undang-undang AS yang akan ditulis ulang. Banyak negara bahkan mengubah hukum dan konstitusi dalam mengantisipasi potensi masa depan peraturan-peraturan dan negosiasi-negosiasi WTO.

11. Alternatif-alternatif ke WTO
Organisasi masyarakat telah mengembangkan alternatif untuk sistem perusahaan yang didominasi tata kelola ekonomi internasional. Bersama-sama kita bisa membangun ruang politik yang memelihara ekonomi global yang demokratis yang mempromosikan pekerjaan, memastikan bahwa setiap orang dijamin hak asasinya untuk makanan, air, pendidikan, dan perawatan kesehatan, mempromosikan kebebasan dan keamanan, dan memelihara bersama-bersama lingkungan kita untuk generasi mendatang .

12. Arus ini Menghidupkan perlawanan Perdagangan Bebas dan WTO!
Penentangan internasional terhadap WTO terus berkembang. Protes besar-besaran di Seattle tahun 1999 membawa lebih dari 50.000 orang bersama-sama untuk menentang WTO-dan berhasil menutup pertemuannya. Ketika pertemuan WTO pada tahun 2001, para perunding perdagangan tidak mampu memenuhi tujuan mereka untuk memperluas jangkauan WTO. Di Cancún, Meksiko dan Hong Kong, Cina, WTO menghadpi protes ribuan aktivis protes, mencetak kemenangan besar bagi demokrasi. Negara-negara berkembang menolak untuk menyerah pada agenda negara-negara kaya untuk perluasan (ekspansi) WTO-dan telah menyebabkan runtuhny perundingan!

Referensi:
“Top Reason to Oppose the WTO (Versi Asli, PDF in English)” di: http://www.globalexchange.org/resources/wto/oppose

mampir juga di Thread ane gan, yuk belajar bareng

http://m.kaskus.co.id/thread/5259a3e...n-apec-dan-wto
free trade se asia pasific itu macam mana pula? impor semakin mudah? ekspor semakin susah?
yg untung pengusaha cukong
pengusaha kaki lima...siap2 terlibasss
Quote:Original Posted By bunkq
yg untung pengusaha cukong
pengusaha kaki lima...siap2 terlibasss


yang gw tau, kalo udah pasar bebas yang kuat yang bertahan.

udah gitu UMKM dipajakin 1% tiap bulan.

makin terlibasss ya...

rekan gw aja punya usaha jaitan harga sewa tempat naik dia pindah tempat, kalo ampe kena pajak dia mau tutup usahanya.
Quote:Original Posted By muda.merah

Referensi:
“Top Reason to Oppose the WTO (Versi Asli, PDF in English)” di: http://www.globalexchange.org/resources/wto/oppose

mampir juga di Thread ane gan, yuk belajar bareng

http://m.kaskus.co.id/thread/5259a3e...n-apec-dan-wto


gila...
china aja berusaha 10th buat masuk jd anggota WTO
ini indonesia udah didalem malah pengen keluar emoticon-Belo

kayanya harus pd belajar ekonomi 101

hidup SBY coy emoticon-Cool