CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
.. Live to Love .. #True Story
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5241e5128227cfcc6b000002/live-to-love--true-story

.. Live to Love .. Book 2

..Live To Love ..


.. Live to Love .. #True Story

Quote:


Spoiler for GALERI COVER L2L:


OPEN DESAIN GAMBAR #LTLYang jago desain gambar MASUK !!


Spoiler for NEW INDEKS:


Spoiler for NEW INDEKS BOOK 2:




PengenalanTokoh :


Rakha Novembrio
:


Sebelumnya perkenalkan saya pendatang baru. Saya newbe senewbe - newbenya dalam hal membuat tread yang berkualitas baik menurut standar internasional SNI. Bilamana ada kekurangan dan kesalahan dalam penulisan mohon bantuan dan di maklumi adanya.

Sebut saja saya Rakha. Rakha Novembrio itu nama yang di sematkan oleh ibunda dan Ayah ketika mereka mempunyai anak terakir. Entah ngidam apa saat itu hingga terlahirlah manusia super bandel sepertiku.

Ya, pasalnya ada saja ulah yang saya timbulkan di rumah mulai dari kebandelan hingga membuat mereka geram gigit jari. Itu kata saudara saya, betul itu kata saudara tunggalku yang seorang perempuan dengan selisih satu tahun denganku.

Jujur saya katakan bahwa saya di sini adalah tipikal orang yang mesum. Mungkin jika ada perlombaan orang mesum se-Indonesia maka jelaslah saya mendapat juara 2. Kenapa saya tidak juara 1 ??

Maaf, sebab juara itu sudah di isi oleh pasangan Ariel – Luna sebagai juara bertahan yang sulit saya kalahkan tahun belakngan ini saudara sekalian.
Maka cukuplah teman – teman di kampus memanggil saya dengat sebutan OMES alias Otak Mesum.

Saya hidup berempat dengan saudara perempuan saya dan dua orang tua tentunya, namun dengan bonus dua pegawai wanita di rumah. Sebab bunda seorang wiraswasta yang mendirikan Salon kecantikan. Maka ramailah isi rumah setiap harinya seperti pasar kambing yang berantakan juga.
namun bukan berarti saya tiap hari Nyalon di rumah lantas saya berubah menjadi Maho atau Bencong yang identik dengan “remfong dech yey”. Saya tetap pejantan tulen sobat. Catat itu baik-baik dalam isi dompet anda.

Setiap paginya rumah akan di suguhi dengan pemandangan Ayah yang selalu memakai baju seragam rapih namun tak berdasi. Ya, maklum, beliau hanya seorang pegawi negri tingkat tiga dengan gaji yang “pas-pasan’’.
Memang, Tulungagung masih rendah UMRnya di bandingkan kota – kota besar lainnya. Ya, itulah kota kelahiranku.

Dan cerita saya, akan di mulai ketika saya menginjakkan kaki di kota yang dingin. Sebut saja itu Malang. Namun tak semalang hidup saya, dan tak sedingin sifat saya tentunya . .

Amelia

kenalan saya sewaktu di kereta menuju kota malang. Dia cantik, kulitnya sawo mentah. Sebab coklat tidak, kuning pun juga tidak. Nah lo pikir saja sendiri apa itu warna kulitnya. Dia jago fashion, dengan perawakan yang biasa, dia bisa terlihat begitu cantik dengan busana yang selalu match dengan gayanya. Rambutnya lurus rebondingan sepunggung, tidak terlalu neko – neko dan sering memakai bando serta kontak lens warna biru.

Fany:

teman sekelas saya yang juga sahabat dari Nabila asal Jakarta. Dia manis, tidak terlalu tinggi, sekitar 160cm dengan kulit kuning dan tidak begitu peduli dengan Fashion serta berdandan asal rapih saja. rambutnya sepundak dengan model sebelah panjang dan sebelah pendek entah itu model terbaru atau tukang cukurnya malas mencukur. Dia tipikal wanita tomboy berhati baja, suka protes bila ada sesuatu yang tak ia suka.

Jovanda:

dia cantik tulen bawaan dari orok. Putri dari orang no satu di Sosiologi. Pembawaannya ceria, terbuka dan mudah bergaul dengan siapa saja. perasaannya sangat rapuh terhadap hal – hal sepele. Tipikal wanita yang setia namun lebih sering di sakiti oleh pasangannya. Pandai berdandan dan mempercantik diri dengan gaya baju yang maaf saya bilang seksi, terkadang juga memakai kostum yang menerawang bikin saya mabuk kepayang. Terbilang orang paling kaya di kelas dan cukup di segani oleh beberapa rekan termasuk saya yang sering minder terhadapnya.

Nabila

secara fisik dia tak terlalu tinggi, atau bahkan bisa saya sebut pendek. 158 itu pendek ga sih ?? kulitnya kuning seperti jeruk, wajahnya manis tulen prodak dari bandung punya. Rambutnya bergelombang dengan volume yang lebat dan terawatt. Cocok sebagai iklan shampoo dan keseringan di model karatan oleh dia. Dia tidak obes, dia juga tidak kurus, badan itu terlihat lebih seksi dari Jovanda sungguh. Sebab tiap lekuk tubuhnya terlihat lebih jelas dan di balut dengan busana yang terbilang sopan, namun kadang juga suka mengumbar nafsu. Dia baik, suka menolong dan haus akan perhatian. Tapi imannya sangat lemah terhadap Fashion.

Steve:

manusia setengah pria setengah wanita adalah penggambaran tepat untuk Steve. Bisa di bilang dia banci tulen, gayanya ngondek, jalannya melambai, bicaranya alay. Tapi kadang ada saaat dimana dia bisa serius untuk mengikuti alur pembicaraan seseorang dan tanpa sadar ia kehilangan sisi kebanciaannya. Dia tinggi, 172cm dengan kulit wajah putih (obat) serta gaya super modis. Ia berdandan masih normal layaknya seorang pria, namun sangat kental dengan gaya kekoreaan seperti Amelia. Secara fisik ia masih tergolong dalam ras manusia berkelamin jantan, namun secara gender atau kebatinan, ia memiliki jiwa layaknya seorang perempuan.

Nonik:

awalnya ia adalah sahabat dekat dari Jovanda. namun hubungan mereka harus berakir sebagai seorang musuh atau bisa di sebut juga sebagai Rival. Nonik tipikal cewek yang masih satu Ras dengan Jovanda. ia berasal dari golongan kaum borjuis dengan dompet tebal di sakunya. Berparas jutek serta lebih dominan untuk peran antagonis. Sering memakai eye liner yang membuat matanya juah lebih hidup. rambut sepunggung dominan warna coklat dengan ujung kadang di buat bergelombang. Berperawakan kurus dengan tinggi 165an. Kulit putih susu dan tentunya selalu modis dalam masalah busana.

Tisya

seseorang bagian dari masalalu saya. tepatnya adalah teman masa kecil yang pernah dekat dengan rumah saya saat SD dulu. dari segi paras, ia memang mirp dengan Nabila. namun sifat dia yang terkadang maish kekanak - kanakan sering kali membuatnya salah dalam mengambil keputusan. dalam segi fisik Tisya berbepawakan sedang, tidak tinggi juga tidak pendek. berkulit kuning dengan gaya rambut yang sering kali di tarik kebelakang mirip dengan tokoh anime. warna rambutnya dominan hitam lebat dengan model lurus asli bawaan dia dari orok.

Dania

salah satu tokoh yang berhasil saya ingat sejauh book 2 sudah berjalan. secara fisik dia cukup tinggi hampir sama seperti saya. dengan gaya rambut di gelung ke atas serta dandanan yang dominan memakai warna hitam baik itu kaos atau celana yang ia kenakan. kulitnya putih kapur, giginya rapih ala senyum pepsodent namun matanya sedikit sipit sama seperti milik Fany. awalnya teman satu kosan dari Nonik yang pada akirnya di waktu saya semester tujuh ia meminta saya untuk menjadi sahabat pertamanya dengan menerima segala kekurangan menurut dia namun merupakan suatu kelebihan bagi saya. sebab ia satu - satunya tokoh dengan kemampuan lebih yang bisa menjadi sahabat saya di akir cerita.
Polling
1,228 Suara
.. Siapa Pacar TS saat ini .. 
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ipangperalta dan 20 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rakhaprilio
19
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 460

Chapter 1. Kereta Malang Amelia

Saya bukanlah cowok pintar nan cerdas dalam bermatematika. Namun cukuplah saya mahir dalam memikat hati waria. Eh maaf, wanita maksud saya tentunya.

Seperti biasa, kereta menjadi transportasi andalan saya. Kelas Ekonomi, murah tentunya, dengan fasilitas seadanya, di lengkapi Emak – emak itu wajib hukumnya.

Meski kereta ini membawa derita, saya harap masih ada angin surga yang dapat mendinginkan di kala panas itu.

Gerbong 4 no duduk 4D saya masih ingat jelas kursi pertama menuju kota Malang.

Namun percayalah angin surga itu berubah menjadi angin neraka, ketika kudapati Emak – emak duduk di sampingku dengan balsam Geliga menyengat di tubuhnya yang membuatku semakin menderita. Yasudahlah, tak apa . .

Satu dua jam waktu berlalu membawa laju kereta ke arah yang aku mau. Malang itu tentu.

Kereta berhenti di setasiun terminal pertanda akan banyak bertambah penumpang. Namun aku tenang, sebab Emak – emak tadi entah kemana sudah hilang.

Kapala ini masih melayang, Efek belsem itu belum hilang. Namun lamunanku pecah, permisi padaku seseorang.

“kosong mas ??” Tanya seorang wanita yang menurutku mahasiswa baru.

“iya mbak. Kursi nomer berapa ??” basa – basiku sebab jelas ia pasti akan duduk si dekatku.

Angin surga itu segera menyadarkanku dari bau balsam yang hampir membuatku koma selama perjalanan itu.

“ke Malang mas ??” tanpa basa basi namun pasti ia menyapa.

“iya. Mbak sendiri ?? senangnya hati ini.

“sama mas. Mau ngurus OSPEK di UB”. Jawabnya tegas.

“hm, gitu mbak . .” jawabku jual mahal padahal sering ngobral.

“mas kuliah di Malang jugak ??” penasaran ia denganku sepertinya.

“yaps. Sama kaya mbak” jawabku imut.

“btw, klo naek kreta gini nyampe Malang jam brpa ya mas kira – kira ??” sedari tadi ia terus bertanya.

“lha mbak dari mana dlu ?? klo aku sih dari Tulungagung ya Cuma 3,5 jam mbak. Jadi klo naek jam 12 siang, nyampe sana jam stgh 4 sore gitu. Kdang klao macet ato ban kretanya lagi gembos bisa sampe jam 4 bahkan jam 5” jelasku panjang lebar.

“lhah masnya ini, emang kreta bisa bannya gembos ?? hahahahaha” terpingkal – pingkal itu dia.

“kalo orang bilang, kretanya lagi kres gitu mbak, jadi suka nunggu 20 smp 30 menit di satu setasiun lamanya” tuturku menjelaskan.

“wah klo lg ga hoki bisa jadi basi ya mas di kreta, hahahah” senang sudah itu wanita saya becandain.

Ngobrol ngalor ngidul sana sini kami menginal satu sama lain. Mulai dari tempat tinggal, alumni SMA mana, jurusan apa, hobby bahkan sampi hal ekstrem seperti status yang pada umumnya sangat awam untuk di tanyakan sekalipun, kini dengan candanya saya tau semua tentang itu satu wanita.

Peluit bertiup merdu di sebelah rell kereta api pertanda bahwa pertemuan kami akan usai, terlihat wajah sedikit muram ketika pembicaraan ini harus di sudahi. Namun pastinya saya dan dia punya tujuan yang pasti di Malang. Ya, kami ingin mencari ilmu dan pengalaman hidup.

Tak lama kereta sampai, kami pun berpamitan layaknya orang yang sudah kenal satu tahunan saja. saling melempar senyum dan menyapa satu sama lain bahwa samua ini akan berakir baik – baik saja. tapi sekali lagi saya dapati itu wajah ia terlihat muram mungkin ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.

“aku nunggu jemputan dlu ya, kamu dluan aja gapapa” sapaku sambil menyeret koper 5kg beratnya.

“ng . . . iya deh, byee” ia melambaikan tangan.

“kenapa, kok kayanya ada masalah ?? ada yg ketinggalan di kreta ??” saya
mulai penasaran.

“ga sih, cuman pengen ngobrol aja sama kamu lebih lama lagi, ahaha”
senyum dan tawa itu terlihat palsu.

“kan bisa SMS or Tlfon, kok bingung ??” solusiku padanya.

“aku kan ga tau nomer kamu ??” ia memancing pembicaraan.

“hahahahah, iya aku lupa, nih catet aja, tar aku hbungin dluan kalo
senggang”

Otak ini memang selalu encer bila urusan wanita, namun lain cerita jika itu matematika.

Singkat cerita, Amelia namanya. Berparas manis gula jawa, dandanan rapi bak artis korea, tinggi denganku tak jauh beda, cukup 160cm saja.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fatqurr dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rakhaprilio

Chapter 2. Kosan Bu Dina

Malang aku sampai, bagaimana kabarmu ? sapaku kepada kota yang pernah aku singgahi ini.

Udara dingin khas Malang menusuk malam itu, membuatku segera bergegas mencari tempat tinggal.

Untuk ukuran mahasiswa kere sepertiku tak harap banyak, kosan seharga 250 dengan fasilitas seadanya. Ada TV, AC, kamar mandi dalam, serta loundryan tentunya. Berlebihan ?? maaf saya sedang berkhayal.

Kerto rahayu no.XXX itu alamat kosku sodara sekalian. Maaf sebelumnya, disini alamat saya samarkan dengan kode XXX, bukan berarti saya tinggal di daerah mesum seperti judul film favorit saya IRON-MAN XXX. Ada yang pernah nonton mungkin ??

dengan bermodalkan jemputan dari sodara saya yang kebetulan berdomisili di malang, maka saya di antar untuk mencari kos sebagai tempat tinggal saya kelak.

sempat satu dua kali di tawari oleh sodara bahwasanya mereka ingin saya tinggal bersama mereka agar mudah untuk berkumpul, numun apa bedanya jika jauh dari orang tua saya masih hidup bergantung pada orang lain, sebab saya di sini ingin mandiri.

tak lama sampailah saya di sebuah pemukiman warga yang konon katanya di sana terdapat banyak ratusan kos - kosan dengan berbagai harga dan kualitas dari kelas gembel sampi eksekutif.

tak pikir panjang saya masuki saja itu rumah satu persatu beserta pemiliknya di dalam sebagai mediasi.

“buk, terima kosan cowok nggak ??” tanyaku pada ibu kos muda.

Beliau bu Dina. Ibu rumah tangga biasa 25 tahun dengan 1 putra Zidan namanya. Yang terpikir di otakku kala itu adalah bagaimana bisa bocah 1 tahun itu di beri nama Zidan.

Mungkin saat malam pertama, sang suami mengalami kesulitan teknik dalam meng-goal kan pertahanan bu Dina. Dengan jebolnya pertahanan bu Dina, maka turunlah ilham dengan nama Zidan bak pemain sepak bola dunia, agar kelak tak seperti ayahnya yang kurang mampu dalam mencetak goal.

“iya mas. Mau pilih kamar yang mana ?” jawabnya.


“ni yang di lantai atas berapaan ya buk ??” jawabku mencoba menawar.

“yang di atas ini 300/bulan mas” jawabnya tegas.

“kalo 150 boleh nggak buk, hehehe” jawabku iseng.


“boleh mas tapi kamarnya di belakang” bibirnya sambil usil.

Kucoba Lihat kanan kiri atas bawah. Hm, . . . Cukup satu kata untuk menggambarkan itu kamar.

Gudang . . .

Ibu kos muda memang doyan bercanda. Membuat daku semakin tergoda.
Tak lupa uang ku taruh di muka, sebagi pertanda aku aku tinggal di sana, kamar mulai ku tata, ku buang segala perabotan tak berguna, kamar ini bersih sudah. Sempurna, sambil bergaya ala Demian.

“mas kalo pagi buka aja ini jendela biar ada udaranya” jelas ibu kos muda.


“oh iya buk” pikirku meski jendela tak di buka, aku juga tak bakalan koma.

“kalo lagi beruntung mas bisa lihat mbak yang ngekos di depan rumah ini lho mas” ibu kos muda mulai menggoda.

“ah masa iya buk. Cantik ya ??” penasaran aku di buatnya.

“iya mas, Maba juga. Cuman bedanya itu depan kosan cewek” tuturnya.

Mulai sejak saat itu saya menata hidup di kosan tercinta. Di semangati oleh ibu kos muda. Bangun tak pernah telat dari jam lima. Sebab saya punya kewajiban kepada sang maha kuasa. Senang sudah hidup ini sodara. Saya mulai menikmatinya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fatqurr dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rakhaprilio
menarik nih untuk di pantau
di Lanjut Gan ...
profile-picture
hacano memberi reputasi
Quote:


iya gan, masih buat up date'an ama nunggu yang laen.
mohon bantu rate 5 y gan bila berkenan emoticon-Malu (S)
profile-picture
hacano memberi reputasi
Quote:


Gampang lah itu, bisa di atur
di Tunggu Lanjutannya dlu nih, hehehe
profile-picture
profile-picture
hacano dan adlihrp512 memberi reputasi

Chapter 3. Ospek NabiLa & Fany

Pastinya sodara sekalian sudahlah tau, bahwasanya setiap Universitas selalu memberikan masa orientasi terhadap mahasiswanya, yang biasa itu di sebut OSPEK.

Begitu juga yang saat itu tengah saya alami.
Sosiologi kala itu terbagi dalam 80 kelompok kecil. Dimana setiap kelompok kecil terdiri dari 10 orang.

Dan angka 64 adalah urutan kelompok dimana saya di dalamnya. Terdiri dari 4 cowok, 5 cewek dan satu ekor banci.

Namun perlu di ingat banci itu bukan saya. Catat itu baik – baik sodara. Dia Steve, biasa teman – teman sekelompok memplesetkan namanya menjadi Stevy. Maklum, setatus kemaluannya masih di pertanyakan.

“Kha, kelompok 64 jugak ??” ucap seseorang di belakang punggungku berbisik.

“eh iya. Situ sapa ??” aku keheranan.

“oiya lupa, aku Nabila.” Sembari tangan itu meluncur di sampingku.

“Rakha, Nab.” Jawabku asal.

“Kok manggilnya Nab sih ?! emang gw kaya Jaenab ?!” jawabnya ketus setengah ngondek.

Nabila Larasati. Badan berisi, tak terlalu tinggi, yang jelas ia sexy, rambut bergelombang ala bintang Sunslik agak karatan, namun ia putih. Maklum, produk asli Bandung punya. Tak tau alasannya kenapa bisa terdampar sampai ke Malang jauhnya.

“Bil, kmn aj gw cariin jugak !” jawab seseorang jengkel kepada Nabila.

“Dari tadi di sini aj nyariin anggota kelompok. Nih kenalin . .” tak pakai izin
tangan ini pun di tariknya. Aih sungguh sadap sodara. .

“Rakha. Salam kenal.” Tak lupa senyum ini sebagai bumbu penyedap.

“Fany. Lo klompok 64 jugak kha ??” tanpa basa basi ia bertanya.

“iya. Sama kaya Bila juga.” Muka ini basi di buatnya.

Beda dengan Bila, Fany tipikal cewek yang tegas. Banyak omongnya, ga doyan bercanda, ga suka basa basi. Dia produk Jakarta asli, rambut lurus hasil mutasi, bibir tipis dengan sedikit bulu halus di atasnya. Yap, saya panggil dia Doraemon.

“mas, mas, nimbrung dong.” Sekali lagi Suara merdu menyapaku sodara sekalian.

“hm, . .” belum sempat respon daku menoleh. Siapa gerangan pemilik suara merdu ini.

“Astagfirulah haladzim !!” kulihat seonggok manusia. Banci setinggi enam kaki berdiri membelakangiku. Aku coba mundur beberapa centi, takut di tusbolnya pantat ini. Maaf saya trauma dengan banci.

“mas, mbok ya permisi dulu napa ?!” jawabku sewot.

“nah akuh bingung bengeed nyariin kelompokkuh da dimana mas.” jawabnya ngondek sembari menggoyang – goyangkan kepala ala Tina Toon.

“akuh Steve. Masnya siappah ??” hal yang tak kuinginkan terjadi, Dia ingin bersalaman denganku.

“Hm,. Ng . . .” aku pura-pura bengong.

Fanny dan Bila menatapku kosong.

Terpaksa.

Tangan ini bersilaturahmi.

Jadilah kami sepasang teman. Ingat sodara, HANYA berteman, tidak lebih, itu sudah cukup.

Tiga hari dua malam tumbang sudah badan ini. segala bentuk penindasan serta makian yang harus kami dengar telah usai. Bersenang ria lah para mahasiswa di buatnya.

Kecuali saya.

Sebab, saya jatuh sakit karnanya.

Jadi cukuplah saya memeluk mesra kasur di kosan tercinta, tak lupa bumbu senyum dari ibu kos muda. Aih sungguh menggoda pemirsa.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fatqurr dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rakhaprilio

Chapter 4. Kelas dakwah Bu Ida

OSPEK telah usai, pertanda kuliah akan di mulai. Kulihat di papan pengumuman, senang rasanya bisa sekelas dengan Bila dan Fany. Tapi kenapa Stevy harus ikut juga kedalam kelas ini. gerutuku dalam hati.

“kha, duduk di mana ??” Bila terlihat bingung sebab banyak anak yang belum di kenalnya.

“gw cari yang medium aja lah” medium adalah urutan tengah pada deret yang tersedia.

“ngikut lo aja dah” Bila berjalan lirih di belakangku.

“Bil gw ikut, lo kok ngintilin rakha mulu sih” ucap Fany protes.

Karena sebelumnya kami telah dekat dalam kelompok kecil, tentunya sodara sudah tau Stevy, ia tak kalah ketinggalan dalam setiap kegiatan yang kami lakukan.

Jadilah kami duduk berjamaah di deret tengah dengan seekor banci.
Kelaspun di mulai dengan pengantar sosiologi. Pengantar yang bisa membawaku sampai gerbang mimpi. Bagaimana tidak, bu Ida dosen dengan umur kepala lima. Tak henti – hentinya beliau berbicara, tak peduli peduli dengan mahasiswanya.

Ceramahnya bak dakwah dai kondang dengan buku jilid dua. Dalam hati aku hanya bisa berkata,

Ampun bu . .

Di tengah mata kuliah bu Ida, Kubuka iseng handfone ini, kulihat –lihat galeri, hanya ada foto alay Nabila bekas di pinjamnya.

Ku lari ke internet, coba browsing sana sini, sinyal ini tak mau kompromi, al hasil browsing lelet. Lupakan saja.

Hanya kontak yang belum ku buka. Kutekan mesra Samsung galaxy mini dua, keluar banyak daftar nama.

Amelia

Daku teringat dengan itu satu wanita, Karna OSPEK diri ini hampir lupa, Sungguh mendusta hati ingin menyapa, Tapi aku tak kuasa, ku kirim pesan sebagai salam pembuka.

“Amelia” ku sebut namanya berharap benar itu dia yang menerima.

“Sp ya ?” balasnya singkat.

“ini gw, Ra . .” tak sengaja tangan ini di senggol oleh Fany.

“salah orang. Ga jelas lo !” jawabnya sewot.

“maaf ni gw Rakha, yg kemaren di kereta.” saya coba mengingatkan.

“Owh, rakha. Koq ru sms. Kmna ja. Gmn ospeknya. Masih di kampus apa di
kosan sekarang ??”

Sangat membabi buta responnya permirsa. Kampret betul itu wanita. Belum
tau siapa Rakha. Dalam hati daku berbangga.

Jadilah kala itu mata berkonsentrasi ria kepada bu Ida, namun tangan ini
bertasbih pada Amelia. Ya, itulah mahasiswa, mencari kegiatan di sela mata
kuliah.

Kadang tidurpun menjadi alternative kedua, asal mau duduk di belakang, keselamatan pasti terjaga. Sebab dosen hanya akan memperhatikan barisan bertama.

Jadi di mana hari besok saya akan duduk, semua tergantung mood saya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fatqurr dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rakhaprilio

Chapter 5. Janji Stevy

4 bulan lamanya saya berkuliah, kemanapun saya berada, di situ ada Nabila. Tak jauh 3 meter di sana pasti ada Fany sahabatnya. Tak kurang Stevi ikut bercanda ria, kami berempat selalu bersama.

Persahabatan ini sungguh suci tak ternoda, pasalnya kami mengucap janji setia untuk selalu bersama. Meski kadang hati ini miris karena Stevi adanya, namun taka apa, yang penting ia masih manusia.

“bray, makan yiuuk. Akkuh lapper bengeddd.” Tidak perlu saya jelaskan siapa yang berucap.

“baru 2 menit kelas bubar uda minta jatah aja lo Step” seperti biasa Fany protes.

“yaudin makan aja toh mbak. Gitu aj repot” Stevy memandang nafsu padaku. Aih, hooeek.

“mo makan di mana sih, gw ngikut lo aj Step.” Ujar Fany.

“ke CL aj. Enak di sana rame, Murah lagi” Nabila mengusulkan.

“Eaudah Capcus cyn.” komandan Stevy Maurello berkomando.

Perlu saya jelaskan gambaran mengenai kawasan CL ini sodara, bahwasanya tempat ini merupakan tempat kumpul favorit mahasiswa dalam hal nongkrong menongkrong.

Tempatnya bersahaja, harga cukup bersahabat dengan kantong mahasiswa, yang nongkrong cakep – cakep pula.

Tak lupa jeruk hangat menjadi minuman favorit saya, Es the dengan sedikit gula itu pesanan Nabila, Mocacino Classic menjadi selera andalan Fany,
Strowbery Punch sudah pasti Stevy punya.

“cuy, bis kuliah gniy biasanyah kliand ngpaind d kosand ??” Stevy memulai pembicaraan.

“gw sih biasanya ya kluar ama Doni Step” ujar Fany bercerita.

Sedikit saya singgung tenteng Doni, ia adalah kekasih hati Fany. Kuliah di
malang punya, sama – sama masih maba, asal satu kampung Jakarta tentunya.

“enak ya kmuh da eank merhatiin gituh Fan.” Stevy berucap sendu.

“lah emangnya lo mau di perhatiin siapa Step ?? aneh lo.” Nabila mencela.

“lo berapa bersodara sih Step ??” timpalku pada Stevy.

“akkuh nak tunggal.” Matanya sayu larut dalam Strowbery Puch sambil
sesekali ia menghisap sedotan.

“owh pantesan, jadi ngga punya sapa – sapa gitu di rumah buat curhat” Fany berucap frontal.

“ya ga usah di jelasin gitu kali Fan” Nabila membela Stevy.

Stevy hanya diam menunduk sambil menatap Strobery Punch andalannya.

Saya sebagai satu – satunya lelaki tulen dalam pembicaraan ini, berinisiatif mencari solusi untuk nenangin hati Stevy. Yah maaf sodara bukannya saya banci lovers, tapi saya masih punya nurani. Sebab saya tau bagaimana rasanya di tinggal sodara sendiri, bak anak kandung tiri pun tak jadi.

“Steve, sini tangan lo.” sembari ku minta tangan mulus Stevy.

“Buat apaan nih.” Lamunan di wajahnya lepas, pandangannya tertuju padaku
keras.

Kutaruh tangan ini di atas meja, menunggu kepastian dari temanku tercinta.
Ku sampaikan suatu hal pada mereka yang ini akan merubah segalanya.

“mulai sekarang kita saudara, siapapun yang merasa kesepian, gw selalu ada, mencoba menjadi yang terbaik buat kalian semua, cuma itu yang gw
bisa.”

Doraemon yang awalnya hanya sebagai tukang protes, mengambil inisiatif
pertama tuk menyandarkan tangannya di atas punggung tangaku. Usulan ini serius di anggapnya, Sebab saya tak sedang bercanda sodara.

“gw mah dari dulu dah anggap Fany kaya sodara, kalo itu harus lengkap karna Rakha, kenapa enggak ??” mata Nabila menuju lurus serius ke Stevy.

Dia yang awalnya hanya seorang banci, kini matanya mulai berembun, Embun itu berubah pelan menjadi awan mendung yang akan menghiasi langit cerah sore itu.

Dan hujan pun, turun.

Air mengalir melewati pipi mulus Stevy.

Pelan tapi pasti, ragu itu ada, namun ia mau mencoba. Di taruhnya pelan di atas punggung tangan Nabila. Sejak saat itu kami berempat,
saudara.

Nabila tersenyum mesra, sesekali menatapku tak jera, mungkin ia sedang berbangga.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fatqurr dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rakhaprilio

Chapter 6. Sosiologi Bancana Jovanda.

Pernahkah sodara tau apa itu Sosiologi Bencana ?. Tentunya matakuliah sosiologi yang akan menelaah berbagai macam bencana di indonesia,dengan sudut pandang secara sosial. Namun lain cerita jika saya berkumpul dengan itu tiga sodara baru saya, Sosiologi bencana pun berubah menjadi bencana sesungguhnya.

Boleh di sini saya jelaskan siapa itu Jovanda, ia putri dari salah satu Dekan di jurusan SOSIOLOGI. Kendaraanya tak pernah luput dari Honda Jazz warna merah. Siapa pun yang melihat Highhells setinggi 10cm, pastilah tau itu Jovanda punya.

Ia suka bergerombol dengan jenis yang sama, kumpulan orang kaya tentunya. Bukan dengan lelaki biasa seperti saya.

Pernah suatu ketika, leptop Aple jatuh di buatnya, tak nampak sedih atau menyesal. Hanya dengan berucap, “Pah leptopku rusak”.

Datanglah laptop Aple baru lebih canggih dari versi sebelumnya, hanya hitungan menit ia meminta. Dalam hitungan detik barang sudah di depan mata.

Ajaib sungguh itu hidup Jovanda.

Jika boleh sodara tau, saya akan membayangkan kejadian yang sama dalam hidup saya. Sekejab mata ini terpejam, tiba – tiba saja, saya membayangkan bagaimana reaksi mimik muka ibunda, bak setan tingkat dewa beliau akan mengutuk karma.

Sungguh kontars hidup ini sodara.

Sore itu sumpah saya kantuk betul ini kepala, tak mau berkompromi ku pilih
deret easy di belakang. Sebab pastinya sodara tau apa yang akan saya
lakukan.

Benar . .

Saya ingin tidur.

“kha, . . kha, . . kok mala molor sih !” Kudengar sayup itu suara Nabila.

“Hm . . Ng . . iya, Oke deh, Siip.” Saya setengah sadar sodara.

“tar gw semprot parfum baru bangun lo ya, gw mo crita soal nih !!”

Tak saya hiraukan itu suara Nabila, sebab kepala ini sudah tak mau bicara, masa bodoh yang penting saya bisa sedikit beristirahat. Suyup – sayup ku dengar,

“awas lo bntar lagi ya.” Ucap Nabila mengancam.

Berselang 10 menit, benar ini adanya, Nabila memenuhi perkataannya. Kucium bau parfum ala emak – emak kaki lima, dengan bau menusuk seperti bunga, . . .

Raflesia . . .

Sial sungguh ini satu wanita.

“Heh, lo kalo masi suka make parfum kaya emak – emak gini, ogah gw deket ama lo. Lagian ya, ini parfum sumpah yang paling ga enak gw cium, Kaya bunga bangke tau gak. Palagi lo duduk di sebelah gw keg gni, mirip emak – emak di pasar besar noh baunya. Pergi napa !!” Dengan kepala ku sandarakan di atas punggung tanganku, daku mencoba protes.

“masa sih ?? Perasaan ini harum kok.” . . .

Sebentar, perasaan ini tiba – tiba saja tak enak. Ada yang aneh dengan suara Nabila, tak seperti biasa suara terdengar serak – serak basah.

Kucoba melirik dari sela siku tangaku, samar – samar kudapati wajah itu buram tak karuan. Oh iya saya lupa,

kacamata mana kacamata . . .

“kha, makasih ya udah jujur kaya gini, meskipun gw blom terlalu kenal siapa lo, tapi lo orang pertama yang udah mau terbuka ama gw. Gw emang bingung tadi mo make parfum apa, jadi terpaksa gw make parfum . . . . hiks, hiks,”

Kata – kata itu putus pemirsa, . .

tak sangup lagi untuk berucap.

jatuh sudah itu air mata buaya.

demi tuhan barusan saya mimpi apa.

ternyata itu Jovanda.

Gelap sudah kepala ini, niatan tidur justru menjadi masalah, bagaimana dengan nilai sosiologi bencana, hancur sudah tak tersisa.

Jika tangisan ini terdengar sampi telinga orang tuanya, mungkin sodara semua ada usulan saya akan kuliah di mana ??

“jo, gw kira tadi Nabila, Sorry gw ga tau, Sueeer !!” mulut ini berkicau tak karuan.

“jelas – jelas gw duduk di sebelah lo. Sumpah kha, nyeseg banget.” Tancap gas saja itu tangisan suara.

Pada umumnya dosen adalah manusia yang peka, sekecil apapun gerakan kita, mereka tau. Sekecil apapun suara kita, tentunya mereka pasti tau. Menolehlah itu perhatian dosen kepada drama korea.

“itu yang duduk di belakang kenapa, kok Vanda nangis di sebelahmu kha ??” Tanya dosen to the point padaku.

“anu pak, ng, ini saya lagi mau tanggung jawab kok”

eh ?!!

konslet sudah ini mulut tak bisa di atur makin memperburuk suasana.

“kapan kalian pacaran”
“kok bisa kha”
“kapan kejadiannya”
“udah berapa bulan itu”
“laki apa cewek kha”
“gugurin aja deh”
“buruan ngadep dekan aja kha”

Itu lah celoteh teman – teman yang semakain membuat kencang gas kopling suara Jovanda. Bancana sudah sore itu, jadilah dia kuantar pulang sampai ke rumah, yah, anggap saja ini permintaan maaf yang aku punya. Hanya senyum kecil yang kuterima dari Jovanda. Namun itu sudah membuatku lega, setidaknya saya masih dapat menuntut ilmu di universitas tercinta.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fatqurr dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rakhaprilio
.. nunggu banyak baru ngindex .. emoticon-Malu (S)
profile-picture
hacano memberi reputasi
Quote:


keren gan, ane tunggu apdetannya emoticon-Big Grin
profile-picture
hacano memberi reputasi
Quote:



hehe, iya gan. nunggu tmen2 yang lain pada masuk jugak yah emoticon-Malu (S)
profile-picture
hacano memberi reputasi
sundul dulu sebelum up date emoticon-Sundul Gan (S)
profile-picture
hacano memberi reputasi
cerita baru emoticon-Matabelo

ijin diriin warung gan emoticon-shakehand
bentar lagi juga rame gan ....SR nya belom pd turun dari goa

sorry gan ane belom bisa bantu rate emoticon-Mewek ane ngaskus lewat hp sih gan, laptop ane belom ada modem emoticon-Mewek
Quote:


yup,. silahkan gan.
ane masih setia untuk uo date kok.
cz ane bukang penjual kentang emoticon-Malu (S)

ok, ane tunggu aja ratenya gan, semoga bisa jadi semngat buat ane emoticon-Toast
profile-picture
hacano memberi reputasi

Chapter 7. Caffe Amelia

Sebagai mahasiswa, tentunya saku ini tak pernah kering jika hanya untuk sekedar membeli makan. Kelaparan sudah menjadi hal yang biasa di alami oleh mahasiswa. Maka berinisiatiflah saya untuk mencari uang saku tambahan, yah, sekedar untuk modal, jika suatu saat ada wanita yang berminat, maka saya tak perlu bingung lagi dengan urusan penyakit Kanker (kantong kering).

Siang itu, panas sekali, jelas ! itu siang hari sodara. kudengar hape ini berbunyi mesra mengalunkan lagu Justin Bieber kesukaan saya.

“baby, baby, baby oooow, baby, baby, baby, ooooow” begitu kata Justin Bieber mengingatkanku bahwa hape ini sedang ada telfon.

“owh, da apa Mel, tumben nelfon ??” itu telfon dari Amelia pemirsa.

“Ga papa sii, lg boring aj d rumah. Gada yang ngajak maen, uffh . .” terdengar berat itu suara.

“ya kluar kek kemana gitu” asal usulku.

“ama sapah” jawabnya ketus.

“ama cowo kamu mungkin ???” Ea, Ea, . .

“aku blom punya cowok kha” suaranya melembut pemirsa, Aiiih sadap lampu hijau.

“kosan kamu daerah mana sih mel, agak sorean deh aku maen ke situ, boleh ??” ga pakai basa basi lagi.

“daerah XXX kha, tapi tar ketemuan aj deh di Caffe nya om ku, soalnya brusan d sms d suruh ke sana, gimana ??” usulnya padaku.

Mo ketemu di caffe kek, mo di terminal kek, pa di kuburan kalo perlu daku jabanin.

Jadilah diri ini “Henshin” secakep mungkin, gaya rambut ala Pasha ungu, parfum Spalding bekas bapak punya, celana pencil tapi bukan model model cangcut, kaos distro screamo, di balut sweater abu – abu kesayangan saya. Dompet, hape, tas pun tak lupa.

Bertemulah saya dengan itu Amelia tepat jam 3. Kucari dimana sosoknya berada, kudapati seorang wanita sedang duduk bersama om – om berwajah ganjen. Tiba – tiba saja om – om itu justru melambaikan tangan pertanda menyapaku. Lah kapan aku pesen jablay, kok pakai di suruh ke sana segala fikirku.

Ohw, itu Amelia dengan omnya sodara, maaf saya telah berburuk sangka.

“sini dek, duduk aja, baru dateng ya” sapa om Andi akrab padaku.

“eh, iya om, agak macet, hehe” Malang macet ?? kapan ?? tuh tiap jam 3 sore di jembatan Suhat.

“yawdah, om tinggal dulu, nih Amel dah nungguin dari tadi” pamitnya bercanda.

“pa’an sih om, uda deh buruan . . .” muka Amel merah padam.

Duduklah kami berdua di atas kursi sofa bak ratu dan raja, hanya ada saya dan Amelia. Sesekali saya perhatikan isi caffe itu, beberapa ekor manusia yang sedang memadu cinta, ada meja bar, ruang lesehan dalam ber AC, proyektor sebagai layar tancep, dan seperangkat alat music lengkap beserta tukang soundnya.

Maka jatuhlah pembicaraan saya kepada alat musik, sebab saya adalah pemusik dengan basic berbagai alat musik kecuali drum. Jika sodara Tanya bagaimana ini suara, saya pernah juara 1 lomba vokal tingkat kota, tak emamalukan tentunya. Piano, gitar, bas sudah jadi teman akrab sejak saya duduk di bangku SMP.

“itu alat musik siapa yang main mel biasanya” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.

“owh, itu biasa ada yg ngisi tiap dua kali seminggu, cuman, sekarang lagi vakum kata om, vokalisnya ngabur sih. Kamu bisa maen music kha ??” seraya matanya beralih pada alat musik.

“ah, Cuma dikit mel, ga jago – jago amat” jawabku merendah.

Tanpa banyak cincong Amel pergi menemui om Andi, tak tau apa yang di bicarakan, sesekali tangan om Andi menunjuk ke arah tukang sound. Sedikit tidak meleset saya bisa tebak pemirsa, Amel meminta saya bermain piano.

Masuk sudah dikau dalam perangkap buaya.

“kha, coba dong kamu main piano, katanya bisa” amel mencoba meminta mesra.

“duh malu mel, banyak orang” jawabku merendah.

“ayo dong kha, satu aja, kusus buat Amel apa aja yang Rakha bisa” Amel memelas.

“nunggu agak sepian dikit gimana ?? daku mencoba menawar,

Amel bermuka suram.

Ya sudah lah daku tak berdaya, apa mau di kata Amel yang pinta, satu buah tembang Rasa Ini dari Vierra, sebab itu salah satu lagu yang saya bisa.

Dan hasilnya, Amel melihatku terpana. Dalam hati, kena kau buaya betina, sebenarnya ini adalah jebakan betmen.

“kha kamu jago gitu maennya, suaranya jugak, bo’ong ih Rakha” tangan itu sesekali menggelitikku sembari menggoda.

“hehehe, biasa aja kok mel, udah malu jangan di liatin terus napa” tak henti – hentinya amel memandangku mesra.

Sejak saat itu, jadi lah saya setiap dua minggu sekali datang ke caffe om Andi. Ya, saya di kontrak untuk mengisi music bersama pemain lainnya. Dengan gaji bergambarkan bung Karno dan bung Hatta sebanyak tiga lembar setiap bulannya.

Belum sempat saya berbagi cerita dengan siapapun, kabar itu sampai ke telinga Nabila 3 jam setalah saya usai dari Amelia.

Whats going on . . .
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fatqurr dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rakhaprilio
Lanjut Terus Gan Update nya Gan
profile-picture
hacano memberi reputasi
ijin nenda gan emoticon-Kaskus Lovers
Quote:


iya gan,. pasti di update kok emoticon-Malu (S)

Quote:


monggo gan, silahken emoticon-I Love Indonesia (S)
profile-picture
hacano memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh samanosuke20
Halaman 1 dari 460
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di