alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/523d02171bcb17184e000006/tukang-gorengan-naik-haji
tukang gorengan naik haji
Ilustrasi

tukang gorengan naik haji

Bak judul serial sinetron yang
sedang digandrungi pemirsa televisi,
tapi yang satu ini adalah tukang
gorengan naik haji. Bukan hanya
berhasil naik haji bersama istri
tercinta, Siti Nursofiyah. Tapi juga
berhasil memiliki 4 rumah. Itulah Haji
Ahmad Bahaji, pria kelahiran Kebumen
20 Mei 1965. Dari hasil jual aneka
gorengan bersama istri yang juga
sekampung dengannya, Hj Siti
Nursofiyah, akhirnya bisa menunaikan
ibadah haji pada tahun 2003.
Pria yang hanya mengenyam
pendidikan sampai kelas 2 SD ini
mengadu nasib di Kota Semarang
sejak tahun 1982. Ia ikut saudara
sekampungnya di Semarang yang
berjualan Kue Bandung (Martabak;
red).
Sejak tahun 1986, Haji Bahaji
—demikian ia biasa disapa—
memutuskan untuk berjualan sendiri.
Tiga tahun kemudian dia melirik
usaha dagang molen yang semasa itu
mulai digemari banyak orang.
Akhirnya tahun 1989, Haji Bahaji mulai
nyambi berjualan molen. Usaha Bahaji
mulai menapaki sukses. Apalagi ia
menambah menu gorengan lainnya
seperti tahu isi, tahu petis, dan tempe
mendoan. Gerobak jualannya mangkal
di depan Pasar Lama, Sampangan.
Tahun 1990 an akhir usahanya
berkembang menjadi 4 gerobak. Dua
gerobak ia pegang sendiri, masing-
masing 1 gerobak dikelola istri dan
adiknya.
Bersamaan dengan
pengembangan gerobak mangkal
tersebut, Bahaji pun memakai merek
yakni Putra Molen. Pilihan nama itu ia
pakai sebagai wujud keinginannya
memiliki anak pertama laki-laki. Tapi
Tuhan berkehendak lain, ternyata yang
lahir perempuan dengan nama Ika
Sovitrisnawati. Karena itu pula,
tetangga dan saudaranya acapkali
menyebut putrinya Ika Molen Sari
yang sekarang sudah menjadi bidan.
Usaha Bahaji terus
bertumbuh bahkan hingga memiliki 23
karyawan. Uniknya karyawannya
masih berasal dari kalangan keluarga
sendiri. Mulai dari adik, ipar, hingga
ponakan. Kendati demikian, Bahaji
mendorong sanak saudaranya untuk
memberanikan diri membuka usaha
sendiri. Dan ternyata berhasil. Penjaja
gerobak molen yang dulu karyawan
sekaligus saudaranya berkembang
dengan sendirinya.
Untuk menjaga kekerabatan
dan kebersamaan, tahun 2002 ia pun
membentuk Paguyuban Putra Molen
Grup. Dan nama inilah yang
terpampang jelas di setiap gerobak
para anggota paguyuban. Total
gerobak mangkal milik paguyuban ini
sudah mencapai 28 gerobak. Setiap
anggota ada yang memiliki 1 atau 2
gerobak. Lewat paguyuban inilah
mereka terus berbagi. Mulai dari
arisan, rekreasi bersama, hingga
berhasil membangun Mesjid Haitul
Islam di kampung halaman mereka.
“Paguyuban ini memang
ditujukan untuk mengikat
persaudaraan. Bersaing dan tumbuh
bersama dengan tetap menjaga
kualitas produk serta tali silaturahmi.
Kalau mau jadi anggota harus ikut
aturan demi menjaga persaudaraan,”
ucap pria yang sangat ramah ini.
Dari sukses itu pula, Bahaji
dan istrinya berhasil menunaikan
ibadah haji pada tahun 2003. Dan
rejeki pun terus mengalir hingga
orangtua dari 3 anak ini memiliki 4
rumah. Satu diantaranya menjadi
tempat produksi sekaligus mess
penginapan karyawan.
Dalam menjalankan usaha
dan meraih sukses seperti sekarang
ini, Bahaji mengakui haruslah dengan
kerja keras. “Dan yang terpenting lagi
adalah menjaga kualitas. Saya sering
mendapat tawaran dari produk di luar
Bogasari, tapi saya tidak berani
pindah karena menyangkut kualitas
dan kepuasan pelanggan,” ucap
Bahaji.
Terus + ????