alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/523b4a5f40cb17a931000000/menjadi-chef--pikirin-lagi-dan-baca-dulu-nih-agan-wati
menjadi chef ?, pikirin lagi dan baca dulu nih agan/wati
1. Kerja di restoran
Sebelum membayangkan yang
indah-indah jika menjadi chef
ternama, coba dulu bekerja di
restoran. Terjun langsung dan
rasakan betapa sibuknya industri
ini. Satu shiftnya bisa mencapai 12
jam sehari, belum lagi panasnya
dapur jika sedang musim kemarau.
Jari agan/wati bisa sering teriris atau
terbakar.
Apalagi agan/wati harus berdiri
sepanjang hari dan tak sempat
makan jika restoran sedang ramai.
Setelah mendapat pengalaman ini,
renungkan lagi, apakah Anda lebih
berbakat menjadi pelanggan
restoran atau menjadi koki.
2. Tidak semua chef sekolah
kuliner
Bisa jadi, 6 bulan yang dihabiskan
di sekolah kuliner terasa tak ada
apa-apanya dibanding 2 bulan
pengalaman bekerja di restoran.
Makanya, tak sedikit chef yang kita
kenal sekarang berlatar belakang
pendidikan 'menyimpang' dari
kuliner. Bahkan, sebagian dari
mereka memulai kariernya sebagai
pencuci piring di restoran.
3. Realita menjadi bawahan chef
Meski di depan layar chef terlihat
ramah dan baik hati, belum tentu
demikian jika ia sudah kembali ke
'alamnya'. Di dapur, ia bisa
berubah menjadi 'macan' yang siap
membentak bawahannya yang
ceroboh. Beberapa koki tidak suka
penjelasan panjang, senang
mengatur, memberi instruksi
seadanya, dan selalu tahu jika anak
buahnya membuat kesalahan.
Sebenarnya, hal ini wajar karena
industri restoran penuh dengan
persaingan ketat. Namun, bagi yang
tak kuat, pikirkan kembali keinginan
Anda menjadi chef.
4. Kecepatan adalah segalanya
Kecepatan adalah hal yang sangat
krusial di restoran. Pelanggan bisa
kecewa dan kabur jika makanan tak
kunjung sampai ke mejanya.
Makanya, koki yang dibutuhkan
adalah orang yang terbiasa bekerja
cepat. Tak heran, dapur di restoran
sukses selalu heboh dengan orang-
orang yang sangat sibuk.
5. Gaji koki
Meski gajinya lebih rendah
daripada bos atau manajer
restoran, executive chef tetap bisa
menikmati hidup mewah. Namun,
untuk mencapai tahap ini,
dibutuhkan bertahun-tahun
pengalaman menjadi staf bawahan.
Sebuah riset menyebutkan bahwa
umumnya upah koki biasa relatif
lebih rendah dibanding profesi
lain. Hal ini disebabkan oleh beban
tugas yang berat dan waktu kerja
yang lebih panjang. Coba pikirkan,
berapa lama waktu yang diperlukan
untuk mengembalikan biaya sekolah
kuliner agan/wati ? emoticon-Hammer2
6. Sulit dapat waktu libur
Restoran biasanya ramai saat akhir
pekan. Ketika orang-orang bersantai
bersama keluarga, Anda malah
bekerja. Untuk mendapatkan libur
dua hari berturut-turut saja rasanya
sulit. Makanya, beberapa chef
memilih mengajar saja agar punya
waktu luang lebih banyak.
Ada pula yang bekerja menyajikan
makanan bagi pegawai kantor ,
sehingga waktu kerja lebih pendek
dan akhir pekan bisa dipakai untuk
libur. Tak hanya itu, mereka juga
bisa kebagian bonus. Sementara
itu, sebagian chef mencari
penghasilan dari menulis buku.
7. Sulitnya bisnis restoran
Persaingan semakin ketat. Berbagai
jenis restoran baru marak
bermunculan. Jika pengelolaan
kurang mantap, tempat makan yang
dimiliki artis atau chef ternama
sekalipun bisa bangkrut.
Penyebabnya bermacam-macam,
mulai dari kerusakan akibat
kurangnya pemeliharaan fasilitas,
pencurian, staf bermasalah, naiknya
harga pangan, hingga konsumen
yang menuntut.
Bagi Agan/wati yang bercita-cita punya
restoran sendiri, Agan/wati harus
mengantisipasi hal ini.
8. Alternatif profesi kuliner
Lulus sekolah kuliner tak harus jadi
koki restoran kok. agan/wati bisa
membuka usaha katering, menjadi
penulis atau jurnalis kuliner,
personal chef, food stylist, atau
pengetes resep. Namun, di
beberapa profesi, diperlukan syarat
tambahan. Menjadi personal chef
atau penulis freelance, misalnya,
harus punya kenalan banyak.
Pendapatan pun tak menentu.
Bagaimanapun juga, bekal
pengetahuan dari sekolah kuliner
akan menjadi nilai plus di mata
calon atasan. Tandanya, Agan/wati
punya minat di bidang makanan
dan cukup berwawasan dibanding
orang yang tidak berpendidikan
kuliner.
9. Kurikulum sekolah kuliner
Beberapa sekolah kuliner
menerapkan pendekatan yang sama
kepada setiap muridnya, tak peduli
apa latar belakang mereka. Di sini,
Agan/wati bisa menemukan 'koki'
rumahan sekaligus pelajar
berprestasi yang sudah bekerja di
restoran sejak muda.
agan/wati juga dituntut cepat menyerap
ilmu yang diajarkan karena
biasanya satu topik hanya dibahas
sekali. Jangan pernah berniat bolos,
atau agan/wati akan ketinggalan jauh.
sekian thread ane kalo ada yang salah jangan emoticon-Bata (S)
kalo boleh minta cendol nya emoticon-Cendol (S) sory kalo gak berkenan atau apa ya all emoticon-Ngakak