CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Segera Daftarkan Komunitas Kalian Disini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
U Know That I Love U, D [Ditulis berdasarkan kisah nyata]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/52077e35a2cb170837000001/u-know-that-i-love-u-d-ditulis-berdasarkan-kisah-nyata

U Know That I Love U, D [Ditulis berdasarkan kisah nyata - Betul itu, sungguh]

Baiklah kawan, sebelum cerita ini saya mulai, saya peringatkan ada beberapa hal yang harus saudara prhatikan dalam membaca cerita ini;

point 1, cerita ini berdasarkan kisah nyata, tokoh dalam cerita ini masih hidup semua, jadi saya mohon apabila ada yang mengenal tokoh-tokoh dalam cerita saya, mohon jangan beritahukan bahwa saya memasukkan mereka dalam cerita saya. ini bukan berarti saya membuat cerita ilegal, tapi saya cuman tidak suka kalau mereka nanti minta hak penalti dari saya.

point 2, saya bukan orang yang romantis, jadi saya harap tidak ada nanti yang protes atau mengatai saya dengan sebutan tidak romantis

point 3, saya mengaku bahwa betul saya ini berotak mesum, seperti kebanyakan laki-laki lainnya, tapi saya tegaskan disini, ini cerita bukan stensilan, jadi tidak ada itu adegan-adegan panas dalam cerita ini.

point 4, kalau saya dalam cerita ini membuat saudara tersinggung dengan kata-kata saya, maka saya dengan ini memohon maaf terlebih dahulu.

Baiklah, saya akan mulai cerita ini dengan sedikit perkenalan diri dari saya sendiri.

Nama saya Arham, cukuplah dipanggil Arham walaupun nama saya bukan hanya sekedar Arham, tapi Said Muhibi Arham, hanya saja, saudara tidak perlulah tahu sedetail itu, jadi cukuplah saya dipanggil Arham.

Latar belakang keluarga, ayah saya adalah seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil, pensiunan dini pula. dan seperti juga ejakulasi dini atau pernikahan dini, maka pensiun dini pun sama halnya, nikmat di awal menyesal dibelakang.

ibu saya, jelas beliau adalah emak-emak, dan beliau perempuan, maka tidak usah dijelaskan bahwa beliau itu cerewet bukan buatan, komentar sana komentar sini, lebih minat berburu barang murah dari pada bergosip, tapi tidak ketinggalan ikut bergunjing kalau tidak ada uang untuk berburu barang murah

saya empat bersaudara, saudara-saudara saya cukuplah disebut dengan kakak, adik cowo dan adik cewe.

kami adalah keluarga yang cukup harmonis dan tidak berkekurangan saat kami masih di kampung halaman, Ayah dengan gajinya sebagai Pegawai Negeri, tidak banyak namun selalu senantiasa cukup, penghasilan ibu pun tidak jelek, karena beliau adalah penjahit yang sudah kondang namanya. Penjahit lain, kalau ketemu pelanggan itu yang punya selera baju aneh-aneh, pasti menyebut nama Ibu, tidak lain tidak bukan.

Namun semua berubah ketika kami berpindah ke Bogor, pidah pun karena masalah sepele, kakak saya diterima masuk perguruan tinggi di Bogor, dia mau ambil itu kesempatan dengan syarat ibu harus ikut temani dia di sana, ayah tentu saja tidak mau ditinggal ibu, jadi ayah juga mau ikut.

Di Bogor, kami hidup dengan mengandalkan mobil angkutan kota yang dibeli Ayah dari hasil pinjaman kredit lunak nan mencekik dari bank, bayarnya? tentu saja potong itu uang pensiun tiap bulan. ibu tetap mencoba buka usaha jahitannya, namun sayang perempuam bogor lebih suka membeli baju yang ada di mall, ada mereknya, ada diskonnya, didalam mall ada ac pula. daripada harus menjahit baju, sudah beli kain untuk bahan, tambah beli poring, kancing, resleting, sudah itu harus bayar penjahitnya pula, aih repot betul itu, sungguh.

Mengandalkan angkutan kota itulah kami sekeluarga mencoba hidup dan bertahan di Bogor. Hanya saja sungguh, manusia itu kalau tidak dikasih cobaan sama Tuhan nampaknya hidupnya belum cukup dikatakan sebagai hidup. Berulang kali kami harus ditipu oleh supir sewaan yang menyewa mobil kami, ayah bukan orang yang tegas, beliau lebih memilih pasrah dari pada harus berdebat dengan supir. Maka senanglah hidup kami ditipu terus dan selalu.

bikin indeks dulu ya...
Spoiler for indeks nih ceritanya di cerita saya:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
lemiere.id dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh freakking
Halaman 1 dari 37
baca dulu yah
aduh kalo baca dari gaya bahasa,agan ini berbakat loh bikin stensilan yang bersastra tinggi,asli deh. jarang jarang.

hidup dikota tidak selalu menjamin kebahagiaan gan,apalagi bogor. angkotnya lebih banyak sepertinya dari jumlah penduduk
emoticon-Ngakak
Diubah oleh djapri
story one - First Day on Campus

2005 - tahun pertama saya menginjakkan kaki di kampus, kampus yang sudah cukup terkenal sejak tahun... sejak tahun... ah, sudahlah, tidak penting juga toh kita bahas itu kampus sudah terkenal sejak tahun berapa, tidak ada untungnya juga.

Seperti juga kampus-kampus lainnya, kampus saya juga membuat OSPEK untuk menyambut mahasiswa barunya, untuk mengenal kampus kata petinggi universitas, supaya lebih kenal teman kampus kata senior, tapi jelasnya untuk mengerjai kami para mahasiswa baru, tidak lain tidak bukan.

Saya masuk jurusan komunikasi, dengan populasi manusia 140 jiwa terdiri atas 24 laki-laki, 114 perempuan, 2 banci. tolong dicatat itu bukan saya, banci itu.

"hei, lw komunikasi juga ya?" banci 1 menghampiri saya sambil menyapa, oke dia tidak ngondek, tapi saya tetap rasa itu seram.

"iya bang, abang juga ya?" sambil senyum terpaksa saya terpaksa menjawab, betul itu terpaksa, sungguh.

"ish, jangan lah panggil abang, kita kan seumuran" senyumnya sungguh tidak tahan saudara,bikin mual tingkat dewa.
"gw Ridwan" si banci ngulurin tangan, awalnya saya tidak berani itu pegang tangan dia, bukan apa-apa, kita bukan muhrim cyn.

"Arham," terpaksa saya bersalaman dengan dia, takutnya nanti dia tersinggung kalau tidak begitu.

"gw dari SMA xxx, lw alumni mana?" Ridwan mulai mencoba pedekate sama saya, sungguh saya takut, seram itu betul.

"gw insan kam**" saya sebut itu nama sekolah saya waktu SMA, terkejut kelihatannya dia, Ridwan itu.

"pesantrenan lw ya? ustad dong, fu fu fu"

"ah, bukanlah. gw g nyantren disitu, cuman numpang sekolah aja" saya sedikit merasa kurang enak dibilang ustad, karena kelakuan saya lebih dekat sama bejat daripada ustad.

tiba-tiba duduklah seorang wanita, oh bukan, seorang cewe dikursi samping saya. Saya lihat ini cewe satu ada mirip mukanya sama bule, rambutnya agak karatan sedikit, warnanya kuning-kuning begitu, kulitnya putih kemerah-merahan, agak tinggi, agak berisi, dan, seksi.

"hei, komunikasi juga?" segera saya sapa cewe ini, sebelum itu Ridwan lebih jauh mengenal saya.

"iya nih, kalian juga?" oke, perempuan ini cukup ramah.

"iya, kenalin gw Ridwan" sungguh cepat itu respon banci disampng saya ini, belum apa-apa dia sudah mau salaman sama itu cewe. Apa dia banci cuman sebagai samaran sajakah, supaya lebih mudah dekat dengan perempuan? kalau begitu, saya harus fikirkan untuk jadi banci juga.

"gw febri" sambut cewe itu ramah dan tamah

"Arham" saya sebut itu saya punya nama yang disambut oleh febri dengan ramah tamah nan istikamah.

sebelum kami sempat bercengkrama bertiga, tiba-tiba panitia ospek, senior-senior berwajah depresi, entah karena skripsi atau masalah ejakulasi, meminta perhatian dari kami para mahasiswa baru.

"oke, kenalkan gw ***, kakak kelas kalian angkatan sekian, disini gw bertindak sebagai ketua panitia kegiatan ini, gw harap kalian mau bekerja sama dengan baik selama kegiatan ini berlangsung,"

mendengar itu kakak kelas berbicara seperti itu, saya teringat kepada... pengamen di bis, perampok-perampok bertopeng penjual seni, bicaranya sopan tapi sikapnya mengancam.

setengah harian kemudian dihabiskan dengan mendengarkan instruksi kakak-kakak kelas panitia ospek, ceramah dari dosen-dosen senior berwajah horor, sampai ujungnya,

"oke, sebelum kita akhiri kegiatan hari ini, gw mau ngasih tugas untjk kalian. tugasnya g susah kok, kalian cuman harus bawa 1 potong karton ukuran dada kalian, satu spidol berwarna dan satu telor kaki tiga, dibawa besok, dan yang g bawa, akan ada sanksinya. sekian, silahkan bubar!"

kita orang bubar semua, beranjak dari tempat duduk. sambil jalan pulang saya dengar itu ada suara dibelakang saya,

"telor kaki tiga bentuknya kaya gimana ya?" itu suara satu
"ga tau gw juga, bingung" suara dua menjawab

saya balik kepala saya kebelakang, saya lihat itu ada dua cewe dibelakang saya sedang berbicara masalah tugas. Saya tidak jelas lihat wajah mereka karena saya punya perhatian sudah tumpah ruah ke bagian itu bawah leher cewe suara satu. Besar.

"eh, cowok, tau g telor kaki tiga kaya gimana?" cewe suara satu bertanya

saya cepat mengangkat pandangan saya, jangan sampai hari pertama dikampus saya sudah masuk lampu merah karena diteriakin penjahat kelamin, itu sungguh tidak elegan tentu.

"gw juga ga tau, paling ntar gw rebus telor ayam terus gw gambarin kaki tiga biji"
itu jawaban paling cepat yang bisa saya temukan, bodoh? biarlah.

"wah pinter lw, gw juga ah" cewe suara satu berdada besar memuji.
"gw juga ah kalau gitu" cewe suara dua ikut menimpali
"gw Desi, kenalan dulu dong" cewe suara satu mencuri tangan saya lalu langsung bersalaman tanpa seijin saya. tapi, saya sungguh rela kalau dia mau curi itu tangan saya tiap hari dan menyalamnya tanpa ijin, tidak usah dilepas kalau bisa, tangan itu cewe lembut betul, sungguh.

"gw arham"
"kiki" nama cewe suara dua.
profile-picture
profile-picture
anwaranwar93 dan Evy240216 memberi reputasi
Quote:


stensilan tidak perlu pakai bahasa sastra, kawan.
cukup 3 huruf yang dipakai, a, u, dan h, lain huruf? tak usahlah

Spoiler for contoh:


yah, betulah kota besar, ditipu terus kita selalu senantiasa
lanjut apdet gan jangan ragu2..

emang cewe2 tuh univ aduhai semua #soktau
kalo di tambahin, "if you know what I mean" bakalan kacau nih gara2 judul threadnya emoticon-Ngakak (S)

bangun apartment dulu di mari emoticon-linux2
Story Two - Desi

Ini adalah besok dari kemarin, bingung? sama
saya datang dengan dandanan yang sama seperti selalu, baju kemeja rapi tersetrika itu sama ibu saya. tidak lupa itu kemeja dimasukkan kedalam celana, sungguh elegan, betul itu, sungguh.

Seperti apa yang disampaikan senior kemarin sebelum hari ini, saya membawa itu karton seukuran dada, spidol warna merah, sama telur rebus gambar kaki tiga, tugas dari senior. saya tidak mau dapat sanksi cuman karena hal sepele seperti itu.

Desi dan Kiki sudah sampai itu dikampus lebih duluan dari saya, karena memang mereka menyewa kamar kosan yang dekat dengan kampus. Saya hampiri mereka dengan gaya penuh gaya, sungguh, itu gaya saya jalan, seperti yang punya Bogor saja, terkangkang kangkang lebar lebar.

"hay de, ki. cepet amat lw berdua nyampenya" sapa saya dengan senyum mempesona. betul itu, sungguh, banyak yang bilang seperti itu, kalau tidak percaya silahkan tanyakan pada banyak.

"eh, lw ham. bosen di kosan g tau mau ngapain, mending ke kampus, bisa ngeceng, ya ga ki?" desi bicara, baru tiba saya dia sudah bercanda, mungkin otaknya tidak dirancang untuk serius.

"betul tu ham, kita kan belum sempet beli tipi, beli komputer, beli leptop, jadi kalau kita dikosan, bosan, mending kampus" kiki mengaminkan sabda desi tadi.

"buset dah, lw mau beli leptop ama beli komputer? ngapain? kan sama aja fungsinya" saya terkejut mendengar ucapan kiki tadi, itu pemborosan, kawan.

" ya enggalah, maksudnya, kalau g beli komputer ya beli leptop, tergantung kata hati nanti" desi menjawab, bijak bestari

Sebelum saya lanjutkan ini cerita, ijinkan saya sedikit memperkenalkan kiki dan desi, dua cewe yang akan jadi tokoh dalam cerita ini. atas ijin dan perkenannya, saya ucapkan terima kasih sebelumnya.

Desi, apa yang saya lihat dari Desi adalah, dadanya. saya jujur ini, setelah itu wajahnya, kulit desi putih, dipadu padan dengan alis yang tidak tebal tapi juga bukan tipis, hidungnya bangir, cocok dengan bibirnya yang terlihat selalu tersenyum. Desi apabila ia berbicara, maka ucapannya lebih banyak bercanda, tipikal cewe yang mudah mendapat perhatian, Sunda asli, bukan bajakan, bukan juga imitasi, asli Sukabumi.

Kiki, wajahnya oriental walaupun aslinya sunda kental. tatapannya selalu sinis, tapi wajahnya manis, cukup humoris, sayangnya agak childish. aslinya dari Banten, saya sempat takut begitu dia bilang itu asal daerahnya banten, sudah banyak saya dengar kabar bukan sedikit itu cerita keangkeran ajian asal Banten. Mulai dari debus, santet, pelet, pengasih, yang terakhir itu nampaknya saya mau minta satu nanti dari kiki.

Setelah bercengkrama beberapa waktu, panitia ospek meminta kami untuk berkumpul dalam ruangan, kami pun masuk, tidak banyak bicara tidak banyak upacara.

Didalam ruangan, panitia berganti dari yang kemarin. Tidak terlihat kakak kelas yang menugaskan kami membawa telur tiga kaki itu, yang ada malah beberapa kakak kelas yang wajahnya lebih sabar dari wajah panitia kemarin. Saya menduga dalam hati, ini pasti para dosen takut melihat tampang itu para senior kemarin, jadi hari ini mereka terpelecat dari susunan panitia.

Tugas kami adalah; menuliskan nama kami di karton ukuran sedada itu dengan spidol warna yang kami bawa. tidak ada itu cerita pinjam-pinjam spidol, untuk yang bawanya normal, karton putih spidol hitam, itu tentu tidak menjadi persoalan. sempat kulirik Ridwan -banci 1- sedang kebingungan, dia membawa karton berwarna pink, dan spidolnya merah muda. mungkin dia mau me-machingkan antara spidol dan karton. Bencana.

Selanjutnya, acara ditruskan dengan, perkenalan. Satu-satu itu mahasiswa baru disuruh maju untuk memperkenalkan diri. untuk yang berwajah biasa, selamatlah dia, tak banyak ditanya, tak banyak ditertawakan. yang punya wajah agak luar biasa tapi kelakuan tidak bertingkah, selamatlah juga dia, hanya ditertawai sebentar. tapi yang punya wajah lumayan namun kelakuan tak sepadan, maka lamalah dia di depan, contohnya Ridwan.

mahasiswa satu : wan, lw udah punya cowo belum?
yang lain tertawa itu terpingkal-pingkal
ridwan : ih, masa gw punya cowo, kan gw cowo
mahasiswa dua : berarti lw punya cewe dong?
mahasiswa lain diam, hening,
ridwan : dulu sih punya, tapi dia ngeduain gw gitu, akhirnya gw ga tahan, kita ribut terus kita putus deh, kalau diingat, gw masih sebel banget ama tuh cewek, padahal gw kurang apa sih? coba kalian bilang, gw kurang apa coba?

saya sungguh tidak mengerti, ternyata ada orang-orang yang memang suka jadi pusat perhatian, nanti kawan, saya tahu sebutan untuk orang-orang itu, merekalah yang mendapat gelaran kehormatan disebut banci tampil.

pulangnya, selesai itu kegiatan, saya diajak lewat kosan desi dan kiki. supaya mudah nanti kalau ada keperluan. tidak ada keperluan pun saya juga akan kesana pastinya, betul itu sungguh.

bagaimana nasib telur kaki tiga? tak tersentuh dia, sungguh tersia-siakan, berdosalah itu para panitia, 140 butir telur jadi tak dapat dimanfaatkan, apa mereka tidak tahu, di Bosnia Herzegovina masih banyak orang yang kelaparan dan mati hanya karena mereka tidak bisa makan.

Sebentar, itu sebetulnya saya juga kurang tahu, apakah betul masih ada itu bencana kelaparan di Bosnia? Terakhir saya lihat itu berita tahun 1996 kalau tak khilap saya berhitung.


profile-picture
anwaranwar93 memberi reputasi
Quote:


betul itu, anda sungguh sok tau. tapi tak apalah, saya pun biasa begitu

Quote:


emoticon-Ngakak (S) saya saja tidak ada itu terfikir kesana, sungguh otak saudara betul mesum, sungguh

itu mahasiswa satu nanyanya nyelekit bener dah
tp kok nt pakek diem lama yakk
tnggl jwb *lalu kemudian hening*
ijin nenda dimari ye gan
lanjutkan ceritanya, gaya bahasanya beda dari yg lain
Quote:


hanya canda2 mas gan emoticon-Frown emoticon-Frown
penulisannya kayak di jaman2nya reformasi nih emoticon-Ngakak (S)
Quote:


itulah terkadang mahasiswa baru, adat istiadat sekolah masih dipegang erat, termasuk adat asal jeplak itu
hening menunggu jawaban sang ridwan, sebab itu termasuk misteri dunia

Quote:

silahkan kawan, jangan lupakan secangkir kopi teman untuk teman lewatkan malam

Quote:


kelahiran taun berapakah saudara? nampaknya pernah mengecap masa pemerintahan 32 tahun kah

Diubah oleh freakking
Ijin diriin lapangan futsal dulu gw emoticon-Ngakak
profile-picture
otta21 memberi reputasi
Story Three - Diana

Tahukah saudara, cinta itu tidak pernah dia datang sendiri, selalu dan senantiasa berbarengan pasti dengan duka dan suka.

Lewat masa ospek, tidak ada itu satu atau dua kenangan yang bikin masa ospek itu jadi sesuatu yang tidak terlupakan. Kami menjalani ospek itu cukuplah tiga hari, tidak berlebih, tidak ditambah, cukup tiga hari.

selama tiga hari itu ada beberapa kejadian yang cukup saya rasa pantas dijadikan bahan untuk tulisan ini, salah satunya adalah bahwa 140 jiwa mahasiswa komunikasi tahun ini dibagikan kedalam dua kelas, komunikasi a dan komunikasi b.

Saya, desi, kiki dan ridwan tergelandang kedalam kelas komunikasi a beserta 64 mahasiswa lainnya yang belum sempat saya kenal itu semua mereka. Cukup absurd untuk kawan ketahui, Ridwan, sang banci tampil, telah secara terhormat ditunjuk berdasarkan kesepakatan bersama untuk menjadi komti atau biasa disebut komandan tingkat. Kalau itu absurd, maka itulah absurd.

Seminggu pertama kelas, seperti selalu, dimanapun selama masih nusantara, maka hari-hari minggu pertama adalah masa perkenalan. semua dosen mengabsen nama kami lalu kemudian kami diperintahkan untuk menyebut hal-hal absurd dan tiada pentingnya, seperti alamat atau asal daerah. berulang setiap hari selama satu minggu itu kawan. Begitu dan tetap begitu, selama masih nusantara.

Hanya saja, dalam masa itu, cukuplah banyak yang saya tahu, bahwa dalam kelas komunikasi ini ada banyak wanita muda atau bahasa gaul Indonesia disebut dengan cewe. 70 jiwa dikelas ini dibagi dalam 2 kategori jenis kelamin, 12 cowok, 56 cewek dan 2 banci.

masa perkenalan, sungguh saya terkejut itu betul, ternyata banyak nama yang cukup unik yang dipunya sama itu teman sekelas saya, contohkahlah ada yang namanya gan gan abdurrahman, tanyakanlah padanya apa itu artinya gan gan, maka dia hanya bisa tersenyum pertanda dia pun dilanda bingung seperti yang bertanya.

ada lagi nama abung dan pani, mereka berdua dari satu daerah yang sama, kuningan. Nama Pani sendiri cukup bagus apabila yang menyandangnya adalah perempuan, saudara tentu mengerti maksud saya. Nama lengkap Pani adalah Pani Aprilian Paisal, Sunda betul itu nama, sungguh.

kelompok golongan nama yang cukup elit datang dari daerah Padang, ada empat mahasiswa putra asli Rumah Gadang, Ezi, Robi, Boy dan Alex, sunggh elegan mereka punya nama.

Masa perkenalan itulah saya mengenal Diana. Perempuan bukan main, selalu senantiasa sempurna, cantik tak terkira, tinggi semampai seperti ratu, sungguh itu perempuan seperti cantik selalu.

Sejak saat itu, urusan dikelas sudah bukan masalah berusaha menerima ilmu dari dosen dan pengajar, ini lebih bagaimana saya bisa memandang Diana sedetik lebih lama, semenit menjadi sejam, menjadi candu.

"lw suka ama diana ya?" secsra kurang ajar, seseorang menyampaikan isi hati saya, itu sungguh kurang ajar, karena itu betul.

seseorang itu, cukuplah kita kenal sebagai boy. mahasiswa rantau asal bukit tinggi.

"ah, engga, lw siapa bilang? asal ngomong aja lw ah," terkadang ada orang yang tidak suka berterus terang akan isi hatinya, dan biasanya orang itu banyak hidup lebih menderita, seperti saya.

"ah elah, sekelas juga udah pada tau kali lw suka ama dia. udah gebet aja, kita semua dukung kok" boy, tanpa dengan perasaan menusuk hati saya dengan masing-masing kata yang dia utarakan.

sayangnya, saya belum pernah ada itu pengalaman berurusan dengan cinta, tiga tahun selama SMA saya lebih disibukkan dengan kegiatan sekolah yang padat betul, selain itu saya sadar diri, pacaran itu bukanlah tidak butuh modal, itu hukum selalu dan pasti.

Saya putuskan untuk menjadi pengagumnya saja, tidak ada itu rasa mau jadi pacar Diana, saya cukup tahu diri, dia bukan buat saya Tuhan ciptakan, kalaupun untuk saya, maka saya akan menanyakan kembali kepada Tuhan, itukah yang disebut ujian?
profile-picture
anwaranwar93 memberi reputasi
Story Four - kesempatan

Ada dua tipe dosen di dunia, tidak bukan di nusantara saja, tapi disemua sudut bumi. tipe satu, dosen bijak bestari, kesayangan mahasiswa, tak pernah dijelek-jelekkan, tak pernah diomongkan dibelakang, sayangnya dosen serupa ini ibarat langka, seperti bilangan maka dia adalah prima, jarang adanya, sulit ditemukan.

tipe dosen kedua adalah tipe dosen antagonis, sungguhpun niat mereka baik hanya saja selalu dan senantiasa disalahpahamkan. Dosen-dosen ini sudah terbiasa dijadikan bahan gunjingan, olok-olokan, fitnah diam-diam, terhina dalam tatapan mahasiswa, namun anehnya dosen seperti ini banyak adanya, sebanyak laron musim panas.

salah satu mata kuliah yang ada yaitu mata kuliah komunikasi dalam diskusi, (mohon maaf terhadap kesalahan penulisan mata kuliah, saya sudah lupa judul itu mata kuliah) dosennya adalah antagonis, maka minggu pertama, setelah perkenalan dan sedikit basa-basi, dosen mata kuliah tersebut dengan sewenang-wenang menyuruh mahasiswa untuk membentuk kelompok-kelompok dan kelompok itu akan mendiskusikan makalah mereka nantinya.

"pas banget nih ham, udah lw sekelompok aja ama diana" kompor itu kita sebut saja dengan nama boy

"gw juga sih pengennya gitu boy, cuman gw g berani ngomongnya, tengsin rasanya" itulah derita, kalau itu derita.

"ah, masa lw cemen banget sih jadi cowo, come on man, this is a chance" boy semakin gencar memberi semangat kepada saya, anda sungguh orang baik boy, betul itu.

saya bimbang, gundah gulana, betul itu. saya tidak ada itu punya keberanian untuk mengajukan diri bergabung dalam kelompok Diana. Hati saya satunya sudah berteriak; majulah, ambil itu kesempatan. hanya saja satu lagi hati saya bilang lain : g berani gw, kalau ditolak kan malu....


"woii, lw udah ada kelomokk belum? belum kan? lw masuk kelompok gw aja ya!" satu perempuan, cantik sungguh, dengan tutupan jilbabnya, membuat dia cantik tak tersentuh, baru saja menepuk pundak saya, membuat saya terkaget.

"apa. kenapa? sori g konsen, ada apaan ya?" saya gagap, seperti balita baru belajar bicara

perempuan itu, namanya Rena, cantik menarik tidak berisik, wajahnya sungguh keibuan

"lw udah ada kelompok belom? gabung sama kelompok gw ya, mau kan lw?" bujuk rena secara akurat.

penyakit laki-laki adalah, dimanapun dan selalu pasti, mereka sulit menolak permintaan perempuan, Tuhan sudah bikin seperti itu, tidak boleh dibantah.

"eh, gabung sama kelompok lw? boleh aja sih...." saya sungguh menyesalkan ucapan barusan, sebab itu artinya seterang terangnya saya membunuh kesempatan saya untuk lebih dekat dengan Diana, saya bunuh dan kubur dengan tangan sendiri, bodoh? sungguh bodoh, tidak terbantah.

Boy menatap saya dengan pandangan rendah, ini tidak ada hubungannya dengan tinggi badannya yang memang sedikit lebih tinggi dari saya, ini jauh lebih kompleks, kawan.

Setelah memberi pandangan rendah itu, dengan santainya Boy berjalan menuju kursi Diana, dan berucap dengan penuh percaya diri,

"Di, gw gabung di kelompok lw ya"
"Asek, mas boy gabung di kita, sip sip sip"
Diana menyambut antusias bergabungnya boy dalam kelompoknya.

Penyesalan kawan, selalu datang dibelakang, sebab yang datang didepan itulah pendaftaran.
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan anwaranwar93 memberi reputasi
Quote:


lahan masih luas kawan, tak usahlah sungkan, asal tidak berperan sebagai silent rider sajalah saudara ini
Quote:


taon 90 an ane gan, cm emg ane suka baca2 karya sastra walaupun kebanyakan sastra asing. tp beberapa kali baca2 jg rekomendasi dr temen ane yg ngambil sastra jawa, jd ud rada familiar sm tulisan2 angkatan pujangga baru-reformasi emoticon-Big Grin
Nice share gan, keep update emoticon-Shakehand2
pasang tenda dulu gan emoticon-Malu (S)

setuju ama moto ejakulasi dininya gan emoticon-Ngakak
Quote:


emoticon-Ngakak (S) nampaknya saudara mau mengatai saya ini tua, hanya saja terselubung emoticon-Ngakak (S)

Quote:


terima kasih sebelumnya gan

Quote:


sudah pernah merasakan kah saudara? emoticon-Ngakak (S)
haha emoticon-Ngakak

gue yakin aktor utamanya si Ridwan nih emoticon-Big Grin

yg banyak gan ceritain si Ridwan ya emoticon-Malu (S)
Halaman 1 dari 37


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di