- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- The Lounge
[KISAH INSPIRATIF] DOA HARU SEORANG BOCAH FILIPINA


TS
marco2000
[KISAH INSPIRATIF] DOA HARU SEORANG BOCAH FILIPINA
pagi agan2, ini trit pertama ane di lounge, biasanya ane cuma komeng dan jadi sr
silahkan dibaca
dulu pernah ada di kaskus si, tapi ga ada salahnya di share lagi
Ada seorang anak kecil kelas 4 SD yang selalu mengucap syukur dalam keadaan apa pun. Ia tinggal di desa Milaor, Camarines Sur, Filipina. Setiap hari, untuk sampai ke sekolahnya ia harus berjalan kaki melintasi jalanan berbatu dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya. Di situ banyak kendaraan yang melaju kencang. Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, Andoy selalu mampir sebentar ke Gereja untuk berdoa. Tindakannya ini diamati oleh Pdt. Agaton. Karena merasa terharu dengan sikap Andoy yang lugu dan beriman tersebut, suatu hari ketika Andoy hendak masuk ke Gereja sang pendeta menyapanya.
Pendeta: “Selamat pagi, Andoy, apa kabarmu? Apakah kamu akan ke sekolah?”
Andoy : “Ya, Bapak Pendeta!”
Pendeta: “Mulai sekarang saya akan membantu dan menemani kamu menyeberangi jalan raya tersebut setiap kali kamu akan menyeberang.
Andoy : Terima kasih, Bapak Pendeta.”
Pendeta: “Sekarang apa yang akan kamu lakukan?”
Andoy : “Aku hanya ingin menyapa Tuhan Yesus… Sahabatku.”
Lalu Pendeta itu segera meninggalkan Andoy agar bocah tersebut bisa melewatkan waktunya bersama Tuhan. Karena penasaran, Pendeta Agaton bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andoy. Biasanya, altar di gereja berukuran besar berbentuk meja, dan di bawahnya ada ruang. Di situ sang pendeta bersembunyi.
Andoy mulai “berbicara” kepada Sahabatnya
Andoy : “Tuhan, Engkau tahu, ujian matematikaku kemarin sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun teman-temanku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan nanti tinggal kue ini.Terima kasih buat kue ini Tuhan! Aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang satu lagi sehingga ini yang terakhir. Lihat, ini sepatuku yang terakhir. Mungkin minggu depan aku harus berjalan tanpa sepatu. Engkau tahu, Tuhan sepatu ini akan rusak, tapi tak apa-apa. Yang terpenting aku tetap dapat pergi ke sekolah.
TuhanKu, kata orang-orang kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini. Beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolong bantu mereka supaya bisa sekolah lagi.
Oh ya, Engkau tahu Ibu memukulku lagi. Sakit sekali, tetapi aku bersyukur karena masih memiliki seorang ibu. Rasa sakit ini pasti akan hilang. Lihatlah lukaku ini Tuhan… Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya. Di sini bekas lukanya (Andoy memegang bekas lukanya). Tolong jangan marahi Ibuku. ya… Memang dia sedang lelah dan kuatir memikirkan kebutuhan makanan, juga biaya sekolahku,. Itulah alasan dia memukulku.
Oh ya..Tuhan. aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik di kelasku, menurutMu apakah dia akan menyukaiku?
Ah…. Bagaimanapun juga aku tahu bahwa Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak perlu menjadi siapa pun untuk menyenangkan hatiMu. Engkau adalah Sahabatku.
Hei.. Tuhan temanku, ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira? (hari itu tanggal 23 Desember). Tunggu saja aku punya hadiah untukMu. Tapi ini kejutan, dan aku harap Engkau menyukainya.Ooops aku harus pergi sekarang. Selamat siang”
Kemudian Andoy segera berlari keluar dan memanggil Pendeta Agaton.
Andoy : “Pak Pendeta..Pa Pendeta… Aku sudah selesai berbicara dengan Sahabatku, Tuhan Yesus, sekarang Bapak bisa menemaniku menyeberang jalan!
Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andoy tidak pernah absen.
Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaatnya di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat iman dan kepercayaan yang murni kepada Allah dan bersyukur saat situasi yang sulit terjadi seperti yang dimiliki Andoy.
Saat hari Natal tiba, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin ibadah gereja dan dirawat di rumah sakit. Pengelolaan beberapa kegiatan di Gereja dia serahkan kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum. Mereka selalu menyalahkan segala sesuatu yang diperbuat orang lain.
Hari itu tanggal 25 Desember ketika 4 wanita tua tadi sedang berada di Gereja, tiba-tiba masuklah Andoy dan hendak menyapa Sahabatnya.
Andoy: “Halo Tuhan…Aku …’
4 Wanita : “Kurang ajar kamu bocah !!! Apakah matamu tidak melihat kami sedang berdoa ??!!! Keluar.!!!”
Andoy begitu terkejut, karena ia tidak pernah diusir oleh Pendeta Agaton.
Dalam hati Andoy berkata: “Di mana Bapa Pendeta? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya.. Dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Sahabatku, hari ini adalah hari ulang tahunNya, aku punya hadiah untukNya .”
Ketika Andoy hendak mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerah bajunya dan mendorongnya ke luar. Andoy sedih, bigung dan setelah berpikir sebentar ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan raya tersebut.
Di situ ada sebuah tikungan yang tidak terlihat pandangan. Sebuah bus melaju dengan kencang dan Andoy mulai menyeberang sambil melindungi hadiah tadi di dalam bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tadi. Tiba-tiba brakkk … (terdengar bunyi gaduh dan bus tadi berhenti mendadak). Apa yang terjadi? Ternyata, karena tidak bisa menghindari bus besar tadi, Andoy tertabrak dan tewas seketika. Orang-orang di sekitar tempat itu berlarian dan mengelilingi tubuh Andoy yang sudah tak bernyawa.
Sedih…! Saat itu entah dari mana munculnya, tiba-tiba datang seorang pria berjubah putih dengan wajah yang lembut namun penuh dengan air mata. Ia memeluk tubuh Andoy dan menangis.
Orang-orang pun heran, mereka penasaran lalu bertanya.
Orang-orang : ” Maaf Tuan, apakah Anda keluarga bocah malang ini? Apakah Anda mengenalnya?”
Dengan hati yang berduka ia segera berdiri dan berkata : “Anak ini namanya Andoy, Dia adalah sahabatku.”
Lalu diambilnya bungkusan hadiah dari dalam baju Andoy dan menaruh di dadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh Andoy. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran…
Malam itu, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia kemudian berkunjung ke rumah Andoy. Ketika Pendeta Agaton bertemu dengan orangtua Andoy, ia bertanya; “Bagaimana Anda mengetahui putera Anda meninggal ?” Ibu Andoy menjawab sambil menyeka air matanya, “Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari.” Pendeta Agaton bertanya lagi, “Apa katanya?”
“Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sedih, sepertinya dia mengenal Andoy dengan baik. Tetapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia membelai rambut Andoy dan mencium keningnya kemudian dia membisikkan sesuatu,” Jawab ayah Andoy.
Pendeta Agaton, “Apa katanya kemudian ?”
Ayah Andoy menjawab, di depan Andoy dia berkata, “Terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku.” Dan sang Ayah melanjutkan, “Anda tahu kemudian. Semuanya itu terasa begitu indah. Aku menangis karena bahagia. Aku tidak dapat menjelaskannya, ketika dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami. Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi Pak Pendeta tolonglah katakan siapakah pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu? Anda pasti mengenalnya karena anda selalu berada di sana setiap hari, kecuali hari ini saat puteraku meninggal.
Tiba-tiba air mata Pendeta Agaton menetes di pipinya, dengan lutut gemetar Pendeta Agaton berbisik, “Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa, kecuali dengan Tuhan Yesus.”
di sini ane ga bermaksud
ya gan, tapi ane juga kepengen ngajak kita semua merenung, sudahkah kita berdoa seperti Andoy? yang selalu bersyukur dalam segala hal
ane tunggu komen nya dan
ya gan
Please no junk and no
, mohon maaf
klo tridnya masi kurang rapih

silahkan dibaca

Spoiler for no repost:
dulu pernah ada di kaskus si, tapi ga ada salahnya di share lagi

Spoiler for cekibrot:
Quote:
Ada seorang anak kecil kelas 4 SD yang selalu mengucap syukur dalam keadaan apa pun. Ia tinggal di desa Milaor, Camarines Sur, Filipina. Setiap hari, untuk sampai ke sekolahnya ia harus berjalan kaki melintasi jalanan berbatu dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya. Di situ banyak kendaraan yang melaju kencang. Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, Andoy selalu mampir sebentar ke Gereja untuk berdoa. Tindakannya ini diamati oleh Pdt. Agaton. Karena merasa terharu dengan sikap Andoy yang lugu dan beriman tersebut, suatu hari ketika Andoy hendak masuk ke Gereja sang pendeta menyapanya.
Pendeta: “Selamat pagi, Andoy, apa kabarmu? Apakah kamu akan ke sekolah?”
Andoy : “Ya, Bapak Pendeta!”
Pendeta: “Mulai sekarang saya akan membantu dan menemani kamu menyeberangi jalan raya tersebut setiap kali kamu akan menyeberang.
Andoy : Terima kasih, Bapak Pendeta.”
Pendeta: “Sekarang apa yang akan kamu lakukan?”
Andoy : “Aku hanya ingin menyapa Tuhan Yesus… Sahabatku.”
Lalu Pendeta itu segera meninggalkan Andoy agar bocah tersebut bisa melewatkan waktunya bersama Tuhan. Karena penasaran, Pendeta Agaton bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andoy. Biasanya, altar di gereja berukuran besar berbentuk meja, dan di bawahnya ada ruang. Di situ sang pendeta bersembunyi.
Andoy mulai “berbicara” kepada Sahabatnya
Andoy : “Tuhan, Engkau tahu, ujian matematikaku kemarin sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun teman-temanku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan nanti tinggal kue ini.Terima kasih buat kue ini Tuhan! Aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang satu lagi sehingga ini yang terakhir. Lihat, ini sepatuku yang terakhir. Mungkin minggu depan aku harus berjalan tanpa sepatu. Engkau tahu, Tuhan sepatu ini akan rusak, tapi tak apa-apa. Yang terpenting aku tetap dapat pergi ke sekolah.
TuhanKu, kata orang-orang kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini. Beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolong bantu mereka supaya bisa sekolah lagi.
Oh ya, Engkau tahu Ibu memukulku lagi. Sakit sekali, tetapi aku bersyukur karena masih memiliki seorang ibu. Rasa sakit ini pasti akan hilang. Lihatlah lukaku ini Tuhan… Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya. Di sini bekas lukanya (Andoy memegang bekas lukanya). Tolong jangan marahi Ibuku. ya… Memang dia sedang lelah dan kuatir memikirkan kebutuhan makanan, juga biaya sekolahku,. Itulah alasan dia memukulku.
Oh ya..Tuhan. aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik di kelasku, menurutMu apakah dia akan menyukaiku?
Ah…. Bagaimanapun juga aku tahu bahwa Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak perlu menjadi siapa pun untuk menyenangkan hatiMu. Engkau adalah Sahabatku.
Hei.. Tuhan temanku, ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira? (hari itu tanggal 23 Desember). Tunggu saja aku punya hadiah untukMu. Tapi ini kejutan, dan aku harap Engkau menyukainya.Ooops aku harus pergi sekarang. Selamat siang”
Kemudian Andoy segera berlari keluar dan memanggil Pendeta Agaton.
Andoy : “Pak Pendeta..Pa Pendeta… Aku sudah selesai berbicara dengan Sahabatku, Tuhan Yesus, sekarang Bapak bisa menemaniku menyeberang jalan!
Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andoy tidak pernah absen.
Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaatnya di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat iman dan kepercayaan yang murni kepada Allah dan bersyukur saat situasi yang sulit terjadi seperti yang dimiliki Andoy.
Saat hari Natal tiba, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin ibadah gereja dan dirawat di rumah sakit. Pengelolaan beberapa kegiatan di Gereja dia serahkan kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum. Mereka selalu menyalahkan segala sesuatu yang diperbuat orang lain.
Hari itu tanggal 25 Desember ketika 4 wanita tua tadi sedang berada di Gereja, tiba-tiba masuklah Andoy dan hendak menyapa Sahabatnya.
Andoy: “Halo Tuhan…Aku …’
4 Wanita : “Kurang ajar kamu bocah !!! Apakah matamu tidak melihat kami sedang berdoa ??!!! Keluar.!!!”
Andoy begitu terkejut, karena ia tidak pernah diusir oleh Pendeta Agaton.
Dalam hati Andoy berkata: “Di mana Bapa Pendeta? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya.. Dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Sahabatku, hari ini adalah hari ulang tahunNya, aku punya hadiah untukNya .”
Ketika Andoy hendak mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerah bajunya dan mendorongnya ke luar. Andoy sedih, bigung dan setelah berpikir sebentar ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan raya tersebut.
Di situ ada sebuah tikungan yang tidak terlihat pandangan. Sebuah bus melaju dengan kencang dan Andoy mulai menyeberang sambil melindungi hadiah tadi di dalam bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tadi. Tiba-tiba brakkk … (terdengar bunyi gaduh dan bus tadi berhenti mendadak). Apa yang terjadi? Ternyata, karena tidak bisa menghindari bus besar tadi, Andoy tertabrak dan tewas seketika. Orang-orang di sekitar tempat itu berlarian dan mengelilingi tubuh Andoy yang sudah tak bernyawa.
Sedih…! Saat itu entah dari mana munculnya, tiba-tiba datang seorang pria berjubah putih dengan wajah yang lembut namun penuh dengan air mata. Ia memeluk tubuh Andoy dan menangis.
Orang-orang pun heran, mereka penasaran lalu bertanya.
Orang-orang : ” Maaf Tuan, apakah Anda keluarga bocah malang ini? Apakah Anda mengenalnya?”
Dengan hati yang berduka ia segera berdiri dan berkata : “Anak ini namanya Andoy, Dia adalah sahabatku.”
Lalu diambilnya bungkusan hadiah dari dalam baju Andoy dan menaruh di dadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh Andoy. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran…
Malam itu, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia kemudian berkunjung ke rumah Andoy. Ketika Pendeta Agaton bertemu dengan orangtua Andoy, ia bertanya; “Bagaimana Anda mengetahui putera Anda meninggal ?” Ibu Andoy menjawab sambil menyeka air matanya, “Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari.” Pendeta Agaton bertanya lagi, “Apa katanya?”
“Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sedih, sepertinya dia mengenal Andoy dengan baik. Tetapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia membelai rambut Andoy dan mencium keningnya kemudian dia membisikkan sesuatu,” Jawab ayah Andoy.
Pendeta Agaton, “Apa katanya kemudian ?”
Ayah Andoy menjawab, di depan Andoy dia berkata, “Terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku.” Dan sang Ayah melanjutkan, “Anda tahu kemudian. Semuanya itu terasa begitu indah. Aku menangis karena bahagia. Aku tidak dapat menjelaskannya, ketika dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami. Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi Pak Pendeta tolonglah katakan siapakah pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu? Anda pasti mengenalnya karena anda selalu berada di sana setiap hari, kecuali hari ini saat puteraku meninggal.
Tiba-tiba air mata Pendeta Agaton menetes di pipinya, dengan lutut gemetar Pendeta Agaton berbisik, “Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa, kecuali dengan Tuhan Yesus.”
di sini ane ga bermaksud


ane tunggu komen nya dan


Please no junk and no



Diubah oleh marco2000 24-07-2013 10:40
0
2.2K
Kutip
14
Balasan


Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama


Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan