alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/51b54eb4db9248b407000006/alasan-mengapa-susu-tidak-baik-dikonsumsi-orang-dewasa
Alasan mengapa susu tidak baik dikonsumsi orang dewasa..
Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti menyalahi perilaku yang alami seperti itu?

”Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan produknya,” ujar Prof Dr Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme (Keajaiban Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama. Padahal, katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia. Manusia seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga hanya minum susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia, katanya.

Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi penyebab osteoporosis? Jawabnya: karena susu itu benda cair sehingga ketika masuk mulut langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan enzim yang diproduksi mulut kita.

Akibat tidak bercampur enzim, tugas usus semakin berat.

Begitu sampai di usus, susu tersebut langsung menggumpal dan sulit sekali dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan ”enzim induk” yang seharusnya lebih baik dihemat. Enzim induk itu mestinya untuk pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu akan lebih mudah terkena osteoporosis.

Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia ahli usus terkemuka di dunia. Dialah dokter pertama di dunia yang melakukan operasi polip dan tumor di usus tanpa harus membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 tahun. Berarti dia sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia sudah memeriksa keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan Jepang. Dia memang orang Amerika kelahiran Jepang yang selama kariernya sebagai dokter terus mondar-mandir di antara dua negara itu.

Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiromi sekalian melakukan penelitian. Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus dengan kebiasaan makan dan minum pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti yang makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu itu antara lain susu dan daging.

Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan makanan/minuman yang ”jelek”: benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul, bercak-bercak hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan karet gelang. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. Sedangkan usus orang yang makanannya sehat/baik, digambarkannya sangat bagus, bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar.

Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dia lakukan kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bukan saja ususnya kecapean, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya, pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel radikal bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, makanan yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang menempel di dinding usus: menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan menimbulkan penyakit lagi.

Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomendasikan daging sebagai makanan. Dia hanya menganjurkan makan daging itu cukup 15% dari seluruh makanan yang masuk ke perut.

Dia mengambil contoh yang sangat menarik, meski di bagian ini saya rasa, keilmiahannya kurang bisa dipertanggungjawabk an. Misalnya, dia minta kita menyadari berapakah jumlah gigi taring kita, yang tugasnya mengoyak-ngoyak makanan seperti daging: hanya 15 persen dari seluruh gigi kita. Itu berarti bahwa alam hanya menyediakan infrastruktur untuk makan daging 15 persen dari seluruh makanan yang kita perlukan.

Dia juga menyebut contoh harimau yang hanya makan daging. Larinya memang kencang, tapi hanya untuk menit-menit awal. Ketika diajak ”lomba lari” oleh mangsanya, harimau akan cepat kehabisan tenaga. Berbeda dengan kuda yang tidak makan daging. Ketahanan larinya lebih hebat.

Di samping pemilihan makanan, Prof Hiromi mempersoalkan cara makan. Makanan itu, katanya, harus dikunyah minimal 30 kali.. Bahkan, untuk makanan yang agak keras harus sampai 70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang lebih penting agar di mulut makanan bisa bercampur dengan enzim secara sempurna. Demikian juga kebiasaan minum setelah makan bukanlah kebiasaan yang baik. Minum itu, tulisnya, sebaiknya setengah jam sebelum makan. Agar air sudah sempat diserap usus lebih dulu.

Bagaimana kalau makanannya seret masuk tenggorokan?

Nah, ini dia, ketahuan. Berarti mengunyahnya kurang dari 30 kali! Dia juga menganjurkan agar setelah makan sebaiknya jangan tidur sebelum empat atau lima jam kemudian. Tidur itu, tulisnya, harus dalam keadaan perut kosong. Kalau semua teorinya diterapkan, orang bukan saja lebih sehat, tapi juga panjang umur, awet muda, dan tidak akan gembrot.

Yang paling mendasar dari teorinya adalah: setiap tubuh manusia sudah diberi ”modal” oleh alam bernama enzim-induk dalam jumlah tertentu yang tersimpan di dalam ”lumbung enzim-induk”. Enzim-induk ini setiap hari dikeluarkan dari ”lumbung”-nya untuk diubah menjadi berbagai macam enzim sesuai keperluan hari itu. Semakin jelek kualitas makanan yang masuk ke perut, semakin boros menguras lumbung enzim-induk. Mati, menurut dia, adalah habisnya enzim di lumbung masing-masing.

Maka untuk bisa berumur panjang, awet muda, tidak pernah sakit, dan langsing haruslah menghemat enzim-induk itu. Bahkan, kalau bisa ditambah dengan cara selalu makan makanan segar. Ada yang menarik dalam hal makanan segar ini. Semua makanan (mentah maupun yang sudah dimasak) yang sudah lama terkena udara akan mengalami oksidasi. Dia memberi contoh besi yang kalau lama dibiarkan di udara terbuka mengalami karatan. Bahan makanan pun demikian.

Apalagi kalau makanan itu digoreng dengan minyak. Minyaknya sendiri sudah persoalan, apalagi kalau minyak itu sudah teroksidasi. Karena itu, kalau makan makanan yang digoreng saja sudah kurang baik, akan lebih parah kalau makanan itu sudah lama dibiarkan di udara terbuka. Minyak yang oksidasi, katanya, sangat bahaya bagi usus. Maksudnya, mengolah makanan seperti itu memerlukan enzim yang banyak.

Apa saja makanan yang direkomendasikan? Sayur, biji-bijian, dan buah. Jangan terlalu banyak makan makanan yang berprotein. Protein yang melebihi keperluan tubuh ternyata tidak bisa disimpan. Protein itu harus dibuang. Membuangnya pun memerlukan kekuatan yang ujung-ujungnya juga berasal dari lumbung enzim. Untuk apa makan berlebih kalau untuk mengolah makanan itu harus menguras enzim dan untuk membuang kelebihannya juga harus menguras lumbung enzim.

Prof Hiromi sendiri secara konsekuen menjalani prinsip hidup seperti itu dengan sungguh-sungguh. Hasilnya, umurnya sudah 70 tahun, tapi belum pernah sakit. Penampilannya seperti 15 tahun lebih muda. Tentu sesekali dia juga makan makanan yang di luar itu. Sebab, sesekali saja tidak apa-apa. Menurunnya kualitas usus terjadi karena makanan ”jelek” itu masuk ke dalamnya secara terus-menerus atau terlalu sering.

Terhadap pasiennya, Prof Hiromi juga menerapkan ”pengobatan” seperti itu. Pasien-pasien penyakit usus, termasuk kanker usus, banyak dia selesaikan dengan ”pengobatan” alamiah tersebut. Pasiennya yang sudah gawat dia minta mengikuti cara hidup sehat seperti itu dan hasilnya sangat memuaskan. Dokter, katanya, banyak melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya itu. Jarang dokter yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara keseluruhan. Dokter jantung hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di usus. Demikian juga dokter-dokter spesialis lain. Pendidikan dokter spesialislah yang menghancurkan ilmu kedokteran yang sesungguhnya.

Saya mencoba mengikuti saran buku ini sebulan terakhir ini. Tapi, baru bisa 50 persennya. Entah, persentase itu akan bisa naik atau justru turun lagi sebulan ke depan.

Yang menggembirakan dari buku Prof Hiromi ini adalah: orang itu harus makan makanan yang enak. Dengan makan enak, hatinya senang. Kalau hatinya sudah senang dan pikirannya gembira, terjadilah mekanisme dalam tubuh yang bisa membuat enzim-induk bertambah.
________________________________________________________________

Article lain mengenai Dr. Hiromi Shinya dalam bukunya The Miracle of Enzym

Sekitar September 2008 ada acara di TV yang membahas penyakit tumor otak yang diderita Gugun Gondrong. Dari bincang-bincang tersebut salah seorang sahabat Gugun Gondrong mengungkapkan bahwa selama ini Gugun Gondrong tidak pernah mengeluh tentang penyakit kecuali sakit maag yang tidak lain adalah penyakit lambung. Selain itu, salah satu narasumber yang hadir pada acara tersebut menyatakan bahwa faktor makanan tidak ada kaitannya dengan kejadian tumor otak tersebut. Kalau saya mendengar pernyataan ini 1 minggu yang lalu mungkin saya tidak terlalu tertarik untuk mengomentarinya. Tapi karena saya baru saja menyelesaikan membaca buku The Mircle of Enzym-nya Hiromi Shinya, saya jadi tergelitik untuk memberi komentar. Bukan masalah Gugun Gondrong yang akan saya bahas melainkan pernyataan makanan, sakit maag dan tumor otak yang menarik perhatian saya.

Dalam buku tersebut dikatakan bahwa makanan dan keadaan saluran pencernaan (antara lain lambung dan usus) berhubungan dengan timbulnya tumor entah jinak atau ganas, dan lebih jauh lagi dapat berhubungan dengan semua penyakit baik yang sudah muncul mau pun yang masih dorman (belum muncul). Bagaimana hal tersebut dapat diterangkan?

Hiromi memaparkan bahwa seluruh tubuh dan funginya yang tak terhitung banyaknya dapat dipahami dengan sebuah kata kunci yaitu enzim. Makhluk hidup, entah manusia, hewan atau tumbuhan sekalipun tak akan dapat bertahan tanpa adanya enzim. Lebih dari 5.000 jenis enzim vital diciptakan dalam sel-sel tubuh kita dan kita juga memproduksi enzim dengan menggunakan enzim yang terdapat di dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi sehari-hari. Bila kita kekurangan enzim tertentu atau yang lebih parah kehabisan enzim tertentu maka timbullah penyakit.

Sehingga secara umum, bila ingin menjaga kesehatan agar tidak terkena penyakit maka kita perlu memperhatikan apa, kapan dan bagaimana makanan dan minuman kita. Dan karena makanan dan minuman dapat ‘digunakan’ oleh sel-sel tubuh kita setelah melewati organ pencernaan, maka penting sekali menjaga agar lambung dan usus kita selalu sehat (dari pengalamannya sebagai ahli endoskopi gastrointestinal, ia memperlajari bahwa bila sistem pencernaan seseorang bersih maka orang tersebut dapat melawan penyakit jenis apa pun dengan mudah, sebaliknya bila sistem pencernaan seseorang tidak bersih orang tersebut rentan menderita suatu penyakit)

Untuk singkatnya ada beberapa faktor yang harus dilakukan (atau dihindari) untuk menjaga agar karakteristik lambung dan usus tetap baik yang oleh Prof Dr Hiromi Shinya disebut 7 kunci untuk hidup sehat :

1. Menu makanan yang baik, yaitu terdiri dari :

85% – 90% makanan nabati berupa biji-bijian, sayuran dan buah-buahan (yang paling baik adalah yang ditanam secara organik, karena bahan kimia hanya memboroskan ‘energi dan enzim’ yang sebenarnya bisa dipakai untuk keperluan lain tubuh kita ).
Sekitar 10% – 15% berupa protein, sumber paling baik adalah ikan kecil (karena ikan besar mengandung merkuri) dan konsumsi daging sapi atau domba harus dibatasi atau dihindari.
Makanan dan bahan yang harus dihindari/dibatasi : teh hijau jepang, teh cina, kopi, makanan yang manis dan gula, nikotin, alkohol, cokelat, lemak dan minyak, garam meja biasa (gunakan garam laut yang mengandung mineral).
Cara makan yang baik adalah berhenti makan 4 – 5 jam sebelum tidur, mengunyah setiap suap 30-50 kali, makan buah atau minum jus 30-60 menit sebelum waktu makan dankonsumsilah lebih banyak makanan mentah atau dikukus sebentar ( menggoreng sangat tidak dianjurkan).

2. Mengkonsumsi air yang baik yaitu air yang memiliki kekuatan reduksi yang besar, yang belum terpolusi oleh zat-zat kimia.

Orang dewasa sebaiknya minum 6-10 gelas setiap hari.
Minum 1-3 gelas air setelah bangun tidur pagi hari.
Minum 2-3 gelas air sekitar 1 jam sebelum setiap waktu makan.

3. Pembuangan yang teratur (jangan gunakan obat pencahar).

4. Olah raga secukupnya (olah raga berlebihan justru akan menghasilkan sejumlah radikal bebas yang besar).

5. Istirahat yang cukup.

Pergi tidur pada waktu yang sama setiap malam dan dapatkan tidur 6-8 jam tanpa terputus.
Lakukan tidur singkat setelah makan siang (sekitar 30 menit).

6. Pernapasan dan meditasi

Bermeditasi.
Berpikiran positif.
Kenakan pakaian longgar yang tidak menyesakkan napas.

7. Kebahagiaan dan cinta

Kebahagiaan dan cinta akan meningkatkan faktor enzim tubuh, terkadang bagai keajaiban.
Luangkan waktu untuk sikap menghargai.
Hidup penuh semangat dan hadapi hidup, pekerjaan dan orang-orang yang Anda cintai dengan sepenuh hati.

Quote:SUMBER
Setelah saya baca panjang lebar cerita TS....cerita tentang susu yang menguatkan judul threadnya mana??

Susu sangat baik di konsumsi oleh semua umur tetapi bila diikuti makanan lain yang seimbang...betul susu emang mengentalkan makanan tetapi ada makanan yang bersifat mengencerkan juga...keseimbangan makanan sehari-hari menentukan apakah makanan itu bagus untuk tubuh....

Tolong penjelasanya diperjelas lagi...

Berasumsi hanya satu teori penelitian terus kita langsung menelan bulat-bulat
Ingat penelitian itu tidak menyebutkan dilakukan dimana karena mananan setiap negara itu beda-beda...belum universalnya sebuah penelitian belum tentu bisa diterapkan hasilnya di negara kita...

Sekian analisa dari saya yang panjang lebar juga emoticon-Malu
Quote:Original Posted By KingWawan
Setelah saya baca panjang lebar cerita TS....cerita tentang susu yang menguatkan judul threadnya mana??

Susu sangat baik di konsumsi oleh semua umur tetapi bila diikuti makanan lain yang seimbang...betul susu emang mengentalkan makanan tetapi ada makanan yang bersifat mengencerkan juga...keseimbangan makanan sehari-hari menentukan apakah makanan itu bagus untuk tubuh....

Tolong penjelasanya diperjelas lagi...

Berasumsi hanya satu teori penelitian terus kita langsung menelan bulat-bulat
Ingat penelitian itu tidak menyebutkan dilakukan dimana karena mananan setiap negara itu beda-beda...belum universalnya sebuah penelitian belum tentu bisa diterapkan hasilnya di negara kita...

Sekian analisa dari saya yang panjang lebar juga emoticon-Malu


Quote:Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti menyalahi perilaku yang alami seperti itu?

ini yang membuat ane mencoba analisa


terima kasih ya gan atas analisanya..
sebenarnya ane juga masih mencari referensi lebih banyak lagi..
udah pernah baca

but nice lah emoticon-Embarrassment

search juga di twitter dengan hastag #kibulansusu gan emoticon-thumbsup
Quote:Original Posted By KingWawan
Setelah saya baca panjang lebar cerita TS....cerita tentang susu yang menguatkan judul threadnya mana??

Susu sangat baik di konsumsi oleh semua umur tetapi bila diikuti makanan lain yang seimbang...betul susu emang mengentalkan makanan tetapi ada makanan yang bersifat mengencerkan juga...keseimbangan makanan sehari-hari menentukan apakah makanan itu bagus untuk tubuh....

Tolong penjelasanya diperjelas lagi...

Berasumsi hanya satu teori penelitian terus kita langsung menelan bulat-bulat
Ingat penelitian itu tidak menyebutkan dilakukan dimana karena mananan setiap negara itu beda-beda...belum universalnya sebuah penelitian belum tentu bisa diterapkan hasilnya di negara kita...

Sekian analisa dari saya yang panjang lebar juga emoticon-Malu


coba search di twitter dengan hastag #kibulansusu

di sana lengkap penjelasannya emoticon-Recommended Seller
Quote:Original Posted By pBot


coba search di twitter dengan hastag #kibulansusu

di sana lengkap penjelasannya emoticon-Recommended Seller


lebih baik susu kedelai gan..
karena berasal dari kacang-kacangan..
Nggak ilmiah sekaliemoticon-Cape d... (S)

enzim di mulut cuma untuk karbohidratemoticon-Cape d... (S)
jd susu tuh perlu apa kaga?
kl kaga ya udin gua mau stop minum susu
ane uda lama ga minum susu hewan lagi.. minum nya susu kedelai aja... soalnya dulu kalo abis minum susu hewan selalu sakit perut
WOW

artikel bagus nih

Makasih brow
kalo gak minum susu gimana mencegah osteoporosis gan emoticon-Bingung
Quote:Original Posted By mmhtronic
Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti menyalahi perilaku yang alami seperti itu?
....

Sumber yg dipake TS: http://misteri.web.id/alasan-mengapa-susu-tidak-baik-dikonsumsi-orang-dewasa/

Websitenya bukan website ilmiah, sorry to say, kao saya bilang itu website abal2. Kemudian websitenya gak bisa dibuka.

Sejak saya mulai belajar jadi mahasiswa kedokteran gigi dan sampai sekarang menjadi dokter gigi, tidak pernah saya membaca literatur yg menyebutkan susu tidak bermanfaat bagi kesehatan manusia dewasa.

Kalo alergi terhadap susu hewani memang ada, namanya intoleransi laktosa. Maka terhadap orang tersebut dianjurkan menggantinya dg susu nabati (susu kedelai).

Lalu, saya setuju dg pendapat berikut:
Quote:Original Posted By KingWawan
Setelah saya baca panjang lebar cerita TS....cerita tentang susu yang menguatkan judul threadnya mana??

Susu sangat baik di konsumsi oleh semua umur tetapi bila diikuti makanan lain yang seimbang...betul susu emang mengentalkan makanan tetapi ada makanan yang bersifat mengencerkan juga...keseimbangan makanan sehari-hari menentukan apakah makanan itu bagus untuk tubuh....

Tolong penjelasanya diperjelas lagi...

Berasumsi hanya satu teori penelitian terus kita langsung menelan bulat-bulat
Ingat penelitian itu tidak menyebutkan dilakukan dimana karena mananan setiap negara itu beda-beda...belum universalnya sebuah penelitian belum tentu bisa diterapkan hasilnya di negara kita...

Sekian analisa dari saya yang panjang lebar juga emoticon-Malu


Dunia kedokteran modern saat ini menganut paham berbasis bukti ilmiah atau dalam istilah bahasa inggrisnya: Evidence Based Medicine.
Dan dalam post berikut saya bagikan artikel yang menurut saya cukup layak utk (tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada TS) mengcounter topik thread ini:

Heboh Susu Sapi Berbahaya dan Tak Layak Dikonsumsi

KOMPAS.com - Saat ini banyak masyarakat bingung dan cemas ketika belakangan dihebohkan informasi bahwa susu sapi berbahaya, layak tidak dikonsumsi dalam jangka panjang karena mengakibatkan osteoporosis dan penyakit berbahaya lainnya. Ternyata informasi yang salah dan menyesatkan itu diolah secara tidak benar oleh sebagian penulis atau jurnalis berdasarkan referensi dari sebuah buku yang diklaim best seller berjudul The Miracle of Enzyme karangan Dr. Hiromi Shinya.

Meskipun tidak semua dari buku tersebut mengandung kontroversi, tetapi justru hal kontroversial yang dibesar-besarkan dan dipahami secara tidak benar. Di media masa atau media online kontroversi ini diperumit ketika seorang Guru Besar Gizi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr Waloejo Soerjodibroto, juga mengatakan meski belum membaca buku itu sempat menyatakan bahwa pendapat tersebut masuk akal.

Waloejo selanjutnya juga menyatakan setuju dengan sebagian pendapat Shinya bahwa susu sapi memang paling cocok untuk anak sapi, bukan untuk anak manusia, apalagi manusia dewasa. Pendapat Hiromi Shinya tersebut sangat kontroversial dan menyesatkan, karena tidak berdasarkan fakta ilmiah dan penelitian, tetapi hanya berdasarkan opini atas pengalaman pribadi.

Namun hingga saat ini dalam pubmed online atau jurnal ilmiah kedokteran yang diakui dan berkualitas di dunia internasional ternyata tidak ada satupun penelitian atas nama Hiromi Shinya. Kontroversi informasi kesehatan seringkali ditimbulkan oleh opini dokter atau dokter ahli bila tidak berdasarkan penelitian ilmiah. Bahkan opini seorang profesorpun seharusnya tidak bisa diikuti dan dijadikan pedoman bila tidak berdasarkan data penelitian ilmiah berupa Kejadian Ilmiah Berbasis Bukti atau evidance base medicine.

Mitos Susu Sapi Berbahaya dan Tak Layak Dikonsumsi

1. Tak ada makanan lain yang lebih sulit dicerna daripada susu sapi. Padahal, sama seperti makanan lain, dalam keadaan individu sehat susu sapi mudah dicerna. Pada penderita alergi atau hipersensitif saluran cerna, kandungan gluten, kasein, whey, atau 40 protein lainnya yang ada pada susu sapi murni atau susu formula memang bisa mengganggu dan berdampak pada fungsi saluran cerna. Bila fungsi saluran cerna terganggu, maka penyerapannya terganggu.

2. Kasein yg membentuk kira-kira 80% dari protein yang terdapat dalam susu, langsung menggumpal menjadi satu begitu memasuki lambung sehingga menjadi sangat sulit di cerna. Protein susu sapi terbagi menjadi kasein and whey. Kasein yang berupa bagian susu berbentuk kental biasanya didapatkan pada terdiri dari 76-86% dari protein susu sapi. Kasein dapat dipresipitasi dengan zat asam pada pH 4,6. Kasein memang bagian paling ental dari susu sapi, tetapi bukan berarti tidak dapat atau sulit dicerna. Sekali lagi penyerapannya terganggu pada penderita hipersensitif dan alergi saluran cerna

3. Komponen susu yang di jual di toko telah dihomogenisasi dan menghasilkan radikal bebas. Sampai saat ini, tidak ada penelitian yang menunjukkan hal seperti itu. Tetapi memang benar pada penderita alergi susu sapi dapat terjadi pengeluaran berbagai zat mediator di dalam tubuh manusia yang dapat menggganggu tubuh, salah satunya yang berdampak mengahsilkan radikal bebas. Tetapi pada orang sehat hal itu tidak akan terjadi.

4. Susu yang dipasteurisasi tidak mengandung enzim-enzim berharga, lemaknya teroksidasi dan kualitas proteinnya berubah akibat suhu yg tinggi. Pasteurisasi adalah sebuah proses pemanasan makanan dengan tujuan membunuh organisme merugikan seperti bakteri, virus, protozoa, kapang, dan khamir. Tak seperti sterilisasi, pasteurisasi tidak dimaksudkan untuk membunuh seluruh mikroorganisme di makanan. Pasteurisasi bertujuan mencapai "pengurangan log" dalam jumlah organisme, mengurangi jumlah mereka sehingga tidak lagi bisa menyebabkan penyakit dengan syarat produk yang telah dipasteurisasi didinginkan dan digunakan sebelum tanggal kedaluwarsa.

Pada proses pengolahan susu, penambahan zat gizi tertentu memiliki banyak tujuan, misalnya menggantikan zat gizi yang hilang selama proses pengolahan. Teknik penambahan zat-zat gizi ke dalam makanan disebut fortifikasi. Fortifikasi dalam susu kebanyakan dilakukan ke dalam susu bubuk, dikarenakan selama pengolahan susu menjadi susu bubuk banyak nutrisi yang hilang oleh panas. Salah satu zat gizi yang sering ditambahkan dalam susu bubuk adalah AA dan DHA. Namun demikian, belum ada hasil penelitian yang pasti apakah AA dan DHA yang ditambahkan ke dalam susu bubuk dapat diserap dan dimanfaatkan tubuh sama baiknya dengan yang alami. Jika dilihat dari teknik pengolahannya, susu cair UHT memiliki keunggulan yaitu zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya relatif tidak berubah selama proses. Teknik pengolahan UHT (Ultra High Temperature) adalah teknik pengolahan susu paling mutakhir, di mana susu sapi segar dipanaskan dengan suhu 140 C selama 4 detik saja. Hasilnya, susu UHT bebas dari segala mikroba namun sejumlah kandungan nutrisi alaminya tetap terjaga. Sejumlah vitamin, mineral, protein, asam lemak, asam amino yang terkandung di dalamnya tetap aman dan dapat dengan mudah diserap tubuh.

5. Susu yang mengandung banyak zat lemak teroksidasi mengacaukan lingkungan dalam usus, meningkatkan jumlah bakteri jahat, dan menghancurkan keseimbangan flora bakteri dalam usus. Gangguan pada lingkungan dalam usus, meningkatkan jumlah bakteri jahat, dan menghancurkan keseimbangan flora bakteri dalam usus bisa saja terjadi pada orang yang tidak sehat khusus individu yang mengalami daya tahan tubuh menurun seperti penderita AIDS, malnutrisi (kurang gizi), penderita tuberkulosis, gangguan metabolisme dan gangguan kronis lainnya. Hal ini juga bisa terjadi pada penderita autisme, alergi makanan atau penderita intoleransi makanan lainnya. Pada penderita seperti itu memang pemberian susu sapi harus di bawah rekomendasi dokter ahli, karena akan memperberat gangguan pada saluran cerna. Bukan hanya susu berbagai jenis makanan tertentu khususnya yang mengakibatkan reaksi simpang makanan atau alergi makanan dapat menanggu juga. tetapi sebaliknya pada manusia sehat hal tersebut tidak berdampak apapun.

6. Jika wanita hamil minum susu sapi, anak-anak mereka cenderung lebih mudah terjangkit dermatitis atopik (penyakit radang kulit yang parah). Sampai saat ini belum ada cukup bukti ilmiah bahwa dengan pembatasan diet ibu selama kehamilan memainkan peran penting dalam mencegah penyakit atopik pada bayi seperti asma, rinitis alergi (hay fever), alergi makanan atau dermatitis (eksim). Namun Epsghan dan Committes on Nutrition AAP tetap menganjurkan hanya eliminasi diet jenis kacang-kacangan untuk pencegahan alergi sejak dalam kehamilan bukan menghindari susu sapi.

7. Minum susu terlalu banyak menyebabkan osteoporosis. Dr. Hiromi dalam bukunya memperlihatkan hasil penelitiannya bahwa suplemen kalsium dan produk susu bisa menyebabkan osteoporosis. Dari pubmed atau berbagai literatur penelitian yang resmi dan diakui di dunia, tidak ada satupun penelitian yang menunjukkan hal demikian. Justru sebaliknya, peneltian yang dilakukan Goulding A dkk menunjukkan anak-anak yang menghindari susu dan tidak menggunakan pengganti makanan kaya kalsium yang tepat dan memiliki asupan kalsium yang rendah makanan dan nilai-nilai bone mineral density (kepadatan mineral tulang) yang rendah.

Anak seperti ini beresiko terjadi fraktur atau patah tulang sebelum usia pra pubertas. Justru saat rekomendasi yang benar dalam konsumsi kalsium minimal yang dianjurkan bagi orang dewasa adalah 800mg per hari. Dalam keadaan hamil, kebutuhan Kalsium meningkat menjadi 1000mg per hari. Kadar kalsium per 100ml susu segar adalah 250mg. Jika dalam sehari seseorang mengonsumsi 2-3 gelas susu cair (500ml-750ml), maka perolehan Kalsiumnya adalah 1250mg-1875mg. Tetapi memang terdapat penelitian yang dilakukan oleh Hidvégi E pada penderita alergi susu sapi dapat menurunkan penurunan mineralisasi tulang yang diukur dengan osteodensitometry. Hal ini terjadi karena pada penderita alergi susu sapi selain asupan susu sapi kurang ternyata dapat mengakibatkan kerusakan epitel saluran cerna yang dapat mengganggu penyerapan makanan. Selain itu bila hal ini terjadi dapat terjadi gangguan mual dan muntah yang akan mengakibatkan anak sulit makan. Saat anak sulit makan berkepanjangan terjadi asupan nutrisi tidak optimal sehingga berdampak kekurangan asupan vitamin, mineral atau mikronutrien lainnya termasuk kalsium.

8. Orang yang minum susu sapi saluran cernanya rusak. Hasil pengamatan Hiromi menunjukkan bahwa bentuk usus orang yang memiliki pola makan dan minum buruk akan terlihat benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul, bercak-bercak hitam, dan menyempit di sana-sini. Ini artinya tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. Sedangkan usus orang yang pola makan dan minumnya baik, digambarkannya sangat bagus, bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar.

Hal ini memang tidak salah pada penderita alergi makanan dan intoleransi makanan dapat menganggu saluran cerna dapat berdampak proktokolitis, entero colitis, alergi eosinophilic gastroenteritis, sindrom enteropati, immediate gastrointestinal hypersensitivity (anaphylaxis), oral allergy syndrome, allergic eosinophilic esophagitis, gastritis, gastroenterocolitis, dietary protein enterocolitis, proctitis, enteropathy, celiac disease atau Irritable Bowel Syndrome. Pada bayi bisa berdampak colic, gastroesophageal reflux, dan konstipasi (Sulit BAB) berkepanjangan. Berbagai gangguan tersebut bisa saja dapat menampilkan berbagai tanda dan gejala keruskan saluran cerna seperti yang digambarkan dr Hiromi. Tetapi sekali lagi, hal itu sering terjadi pada penderita alergi dan hipersensitif saluran cerna.

Kehebatan Susu Sapi

Susu adalah cairan bergizi berwarna putih yang dihasilkan oleh kelenjar susu mamalia betina. Susu sapi diolah menjadi berbagai produk seperti mentega, yogurt, es krim, keju, susu kental manis, susu bubuk dan lain-lainnya untuk konsumsi manusia. Dewasa ini, susu memiliki banyak fungsi dan manfaat. Untuk umur produktif, susu membantu pertumbuhan mereka. Untuk orang lanjut usia, susu membantu menopang tulang agar tidak keropos. Susu mengandung banyak vitamin dan protein. Secara alamiah susu sapi segar telah mengandung sejumlah vitamin, mineral, laktosa (gula susu), asam lemak esensial (asam linoleat dan asam linolenat), asam amino esensial (triptophan, tirosin), sphingomyelin, laktoferin, serta prebiotik galakto-oligosakarida (GOS) dengan komposisi yang lengkap. Mengingat khasiat dan kandungan gizinya yang sangat lengkap, susu dikelompokkan sebagai pangan fungsional (functional food). Dan sebagai pangan fungsional, susu dapat dikonsumsi tanpa batas karena tidak menimbulkan bahaya apapun. Namun demikian, dalam konsep gizi seimbang, seseorang dianjurkan minum susu sebanyak 2-3 gelas sehari atau setara dengan 500-750ml susu cair.

Kontroversi Hiromi

Dr. Hiromi Shinya adalah seorang ahli bedah gastroenterologi dari Albert Einstein College of Medicine. Penulisan buku The Miracle of Enzyme ternyata diilhami oleh pengalaman seorang anaknya yang mengalami gangguan saluran cerna yang diperberat oleh susu sapi. Demikian juga hal ini ditemukan pada sebagian pasien yang dioperasinya. Dr Hiromi Shinya mengemukakan dampak bahaya susu sapi dapat menimbulkan osteoporosis, luka di usu, polip usus, gangguan enzym, dan berbagai gangguan lainnya. Sehingga dia tidak merekomendasikan untuk minum susu jangka panjang.

Meski hanya berdasarkan pengalaman pribadi, bila disimak opini tersebut memang mungkin tidak salah. Tetapi sebenarnya gangguan itu hanya bisa terjadi pada penderita alergi dan hipersensitifitas saluran cerna. Tetapi tidak akan terjadi pada individu yang sehat. Pada penderita alergi dan hipersensitivitas saluran cerna bila mengkonsumsi susu sapi bisa menganggu berbagai fungsi saluran cerna termasuk ensim pencernaan.

Bahkan dalam penelitian ilmiah yang termuat dalam pubmed dan jurnal ilmiah lainnya menyebutkan bahwa alergi susu sapi bisa berdampak pada kulit, saluran cerna, saluran napas dan berbagai gangguan organ tubuh lainnya. Reaksi akut (jangka pendek) yang sering terjadi adalah gatal dan anafilaksis seperti bengkak pada bibir, syok, pingsan dengan tensi dan tekanan darah turun. Sedangkan reaksi kronis (jangka panjang) yang terjadi adalah asma, dermatitis (eksim kulit) dan gangguan saluran cerna.

Pada bayi bisa berdampak colic, gastroesophageal reflux, dan konstipasi (Sulit BAB) berkepanjangan. Beberapa penelitian lainnya menyebutkan alergi makanan termasuk susu sapi dapat mengganggu perilaku anak seperti gangguan tidur, hiperaktif, gangguan emosi, gangguan konsentrasi, dan memperberat gejala autis. Tetapi, dampak tersebut hanya bisa timbul pada individu yang mengalami alergi atau intoleransi makanan.

Pada anak sehat atau manusia sehat lainnya tidak berdampak yang ditakutkan. Jadi, pendapat susu sapi membuat berbagai dampak yang mengganggu tidak dapat digenerelisasikan. Artinya pada kelompok anak tertentu bisa mengganggu berbegai organ tubuh tetap pada sebagian besar anak sehat tidak akan mengganggu bahkan susu sangat bagus kandungan gizinya.

Gangguan yang disebutkan Hiromi tersebut bukan saja disebabkan bukan hanya oleh susu sapi tetapi juga alergi makanan lainnya seperti coklat, kacang, buah tertentu, ikan laut dan sebagainya. Bila asumsi Hiromi itu digunakan maka coklat, kacang, buah tertentu, ikan laut juga berbahaya bagi kesehatan dan tidak layak untuk dikonsumsi untuk manusia sehat lainnya.

Kontroversi ini juga ditunggangi kepentingan bisnis lainnya. Para oknum pebisnis susu kambing pun memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang keburukan susu sapi. Susu kambing dianggap sebagai menyembuhkan alergi dan dianggap lebih baik dan dapat untuk pengganti pada anak penderita alergi susu sapi. Memang mungkin saja vitamin susu sapi dan susu kambing tidak jauh berbeda, tetapi kandungan protein penyebab alergi juga tidak jauh berbeda. Bila penderita mengalami alergi susu sapi tidak bisa diganti susu kambing. Bila penderita alergi susu sapi tidak terganggu dengan susu kambing, maka kebenaran diagnosis alergi susu sapi sebelumnya patut dipertanyakan kebenarannya.

Tetapi memang benar bila seseorang mengalami alergi susu sapi, intoleransi susu sapi, gangguan metabolik, penderita autuism atau gangguan hipersensitif saluran cerna lainnya maka sebaiknya menghindari susu sapi dan mencari alternatif penggantinya. Tetapi sayangnya, saat ini terdapat kecenderungan berlebihan dalam mendiagnosis alergi susu sapi. Hampir semua anak mengalami gejala alergi langsung divonis sebagai alergi susu sapi padahal belum tentu benar. Bahkan menurut penelitian di beberapa negara di dunia, prevalensi alergi susu sapi pada anak dalam tahun pertama kehidupan hanya sekitar 2%. Sekitar 1-7% bayi pada umumnya menderita alergi terhadap protein yang terdapat dalam susu sapi.

Kontroversi itu mengingatkan pada buku Diet Golongan Darah yang ditulis Dr. Peter D'Adamo. Dia juga menulis bahwa makanan tertentu pada golongan darah tertentu ada yang aman dan yang menggangggu kesehatan. Memang setelah diet tersebut oleh sebagian besar orang mengikuti dan berhasil. Tetapi sebenarnya bila dicermati berbagai makanan yang dihindari adalah kebanyakan makanan yang berisiko alergen atau penyebab alergi tinggi yang dapat mengganggu siapa saja yang mengalami tetapi tidak berdasarkan golongan darah. Artinya, golongan darah apapun bila mengikuti daftar makanan yang manapun pada umumnya sebagian akan relatif berhasil. Tetapi pada orang sehat yang tidak mengalami alergi atau intoleransi makanan tidak akan berdampak apapun meski tidak mengikuti diet golongan darah. Sampai sekarangpun tidak ada penelitian ilmiah yang menunjukkan manfaat diet golongan darah pada kesehatan. Bahkan dalam pubmed atau jurnal kesehatan ilmiah internasional yang kredibel tidak ditemukan satupun penelitian yang dilakukan oleh Dr. Peter D'Adamo tentang diet golongan darah.

Kontroversi opini kesehatan sering timbul di dalam masyarakat karena globalisasi dan kecanggihan informasi teknologi yang sangat pesat. Berbagai informasi kesehatan dengan sangat cepat bisa melalui media masa atau media online. Bahkan saat ini lebih dipermudah penyebarannya dan sangat luas dengan adanya BBM, Twitter atau media sosial lainnya. Setiap orang bahkan bukan ahli kesehatanpun dapat dengan bebasnya menyebarkan opini kesehatan tanpa tahu benar tidaknya informasi kesehatan itu secara ilmiah. Selain itu pada umumnya masyarakat awam sering salah dalam menginterpretasikannya. Kontroversi informasi kesehatan seringkali juga ditimbulkan oleh opini dokter, dokter ahli atau pakar kesehatan.

Kontroversi opini kesehatan sering timbul di dalam masyarakat karena globalisasi dan kecanggihan informasi teknologi yang sangat pesat. Berbagai informasi kesehatan dengan sangat cepat bisa melalui media masa atau media online. Bahkan saat ini lebih dipermudah penyebarannya dan sangat luas dengan adanya BBM, Twitter atau media sosial lainnya. Setiap orang bahkan bukan ahli kesehatanpun dapat dengan bebasnya menyebarkan opini kesehatan tanpa tahu benar tidaknya informasi kesehatan itu secara ilmiah. Selain itu pada umumnya masyarakat awam sering salah dalam menginterpretasikannya. Kontroversi informasi kesehatan seringkali juga ditimbulkan oleh opini dokter, dokter ahli atau pakar kesehatan.

Referensi:

- Gaucheron F. Milk and dairy products: a unique micronutrient combination. J Am Coll Nutr. 2011 Oct;30(5 Suppl 1):400S-9S.
- Hidvégi, Edit, Arato, András, Cserháti, Endre, Horváth, Csaba, Szabo, András, Szabo, Antal. Slight Decrease in Bone Mineralization in Cow Milk-Sensitive Children. Journal of Pediatric Gastroenterology & Nutrition: January 2003 - Volume 36 - Issue 1 - pp 44-49 Hepatology and Nutrition
- Hiromi Shinya,MD The Miracle of Enzyme ( Self Healing Program )
- Goulding A, Rockell JE, Black RE, Grant AM, Jones IE, Williams SM. Children who avoid drinking cow's milk are at increased risk for prepubertal bone fractures. J Am Diet Assoc. 2004 Feb;104(2):250-3
- Dupont C, Heyman M: Food protein-induced enterocolitis syndrome: laboratory perspectives. J Pediatr Gastroenterol Nutr 2000; 30 Suppl: S50-7.
- Scott H. Sicherer, Clinical Aspects of Gastrointestinal Food Allergy in Childhood

Sumber:
http://m.kompas.com/health/read/2012...Sapi.Berbahaya
kedokteran jaman sekarang sudah banyak diintervensi oleh industri obat dan makanan yg hanya mencari keuntungan materi semata2 jadi...,saya lebih sependapat dan percaya dengan alam kl manusia diatas dua tahun memang tidak layak/baik kalau mengkonsumsi susu, betul kata agan di atas, lihat kambing, sapi yg tak minum susu setelah dewasa adalah contoh pelajaran yg baik dari alam
×