alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
"nasionalisme-soal-siapa-yang-disejahterakan-bukan-siapa-yang-memiliki" Gita Wirjawan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/51579ab01fd7197c32000001/quotnasionalisme-soal-siapa-yang-disejahterakan-bukan-siapa-yang-memilikiquot-gita-wirjawan

"nasionalisme-soal-siapa-yang-disejahterakan-bukan-siapa-yang-memiliki" Gita Wirjawan

numpang share artikel wawancara gan,
kalo bermanfaat dan menambah wawasan silahkan di rate,

INDONESIA2014 - Nama Gita Wirjawan kini kerap disebut sebagai salah satu kandidat Presiden Indonesia.

Gita memang seorang ‘rising star’ di negara ini. Sebelum usianya mencapai 50 tahun, ia sudah pernah menduduki posisi Komisaris Pertamina, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal pada 2009, dan kini Menteri Perdagangan.

Tapi ini tak berarti Gita bisa hidup melenggang. Beragam tuduhan ditujukan padanya. Yang paling sering diangkat adalah bahwa ia antek neoliberalisme atau kacung kepentingan asing.

Masa lalu Gita memang kerap digunakan untuk menjustifikasi serangan itu. Maklumlah, Gita memang lulusan Harvard, mengawali kariernya di Goldman Sachs Singapura, pernah di ST Telekomunikasi Singapura dan juga menjadi Direktur Utama JP Morgan Indonesia.

Gita bahkan juga dituduh turut menerima aliran dana Century, melalui perusahaannya, Ancora.

Redaksi Indonesia 2014, Ade Armando dan Levriana Yustriani, mewawancarainya hanya beberapa hari setelah Gita hadir dan bicara di World Economic Forum di Davos, Swiss.

Gita mengungkapkan optimismenya soal ekonomi Indonesia, langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menjadikan Indonesia terus naik kelas, soal kesejahteraan masyarakat, nasionalisme, ketidaksukaannya pada politik dan juga tuduhan-tuduhan terhadapnya.



INA.2014 : Anda baru saja hadir dan bicara di World Economic Forum di Davos. Apa kesan penting yang Anda bawa?

GW: Secara makro, bisa dibilang, ada konsensus bahwa mengenai perekonomian Eropa, kondisi terburuknya sudah dilewati. Saya pribadi agak berbeda pandangan. Tapi yang jelas ada optimisme. Ada perasaan lega.

Tapi yang lebih penting buat kita, pertama, adalah adanya pengakuan terhadap ekonomi Indonesia yang jauh lebih besar dari sebelum-sebelumnya. Dulu kita masih dibayang-bayangi India, Brazil, Afrika Selatan dan Rusia. Sekarang, angka-angka menunjukkan keberhasilan Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi di Brazil 0,6-0,7 %, India 5,3 %, Tiongkok sekitar 7% - turun dari 9-11%, Afrika Selatan 4-5 %, Rusia juga segitu. Indonesia mencapai 6,3 %.

Kedua, banyak pihak memberikan pengakuan bahwa ruang fiskal Indonesia sekarang sudah jauh lebih besar daripada sebelum-sebelumnya dan kebijakan moneter kita juga sangat bagus untuk meredam lajunya inflasi secara berkelanjutan. Selama 3-4 tahun terakhir, inflasi cuma 3,4-3,5% setiap tahun.

Ketiga, branding. Branding Indonesia menguat, bukan cuma dari sisi ekonomi tapi juga non-ekonominya. Bersama dengan Kepala BKPM dan kementerian lainnya, kami memprakarsai acara Malam Indonesia di sana. Kesuksesan acara ini sangat bergantung pada detailnya. Karena itu, selain menampilkan kuliner, kami juga bahkan ikut memilih dalam menampilkan Saykoji, Lea Simanjuntak, pemain biola Maylaffaiza, dan juga Miss Indonesia.

Itu kemasannya sangat berbeda dibandingkan dengan apa yang dilakukan negara-negara seperti India, Korea, Jepang, Malaysia. Banyak sekali teman dari seluruh dunia yang bilang bahwa Indonesia sudah bisa, ‘It’ factor-nya ada. Kalau saya sih agak lebih jauh lagi, the mojo factor (Istilah di kalangan musisi yang merujuk pada ‘feel good’ -- red) itu terasa sekali.

Jadi soft power-nya lebih terasa. Menurut saya adalah penting untuk memproyeksikan Indonesia ke seluruh dunia dengan imej bahwa kita bukan hanya kekuatan ekonomi, tapi ada kekuatan ‘It’-nya, the ‘It’ factor.

INA.2014 : Tadi Anda sendiri bilang, Anda tidak terlalu yakin bahwa krisis di Eropa sudah selesai. Apa itu artinya Indonesia masih harus pasang kuda-kuda?

GW : Secara langsung sebenarnya kita tidak terekspos dengan kondisi perekonomian Eropa. Investasi, perdagangan Eropa tidak terlalu signifikan. Kita lebih terekspos ke Asia-Pasifik dan Amerika. Tetapi secara tidak langsung, kita terekspos dengan Eropa karena barang-barang yang kita kirim ke Asia-Pasifik itu adalah intermediate products yang dibutuhkan oleh Korea, Jepang, dan Tiongkok untuk diolah dan dikirim ke pasar-pasar besar, termasuk Eropa dan Amerika Serikat.

Jadi kalau masih terjadi stagnasi di Eropa, permintaan terhadap produk-produk Tiongkok misalnya juga tidak meningkat. Implikasinya, kebutuhan Tiongkok terhadap produk Indonesia juga stagnan.

Kabar baiknya: kalau kita lihat pernyataan-pernyataan resminya terakhir, kelihatannya Tiongkok akan kembali menguat. Projeksi pertumbuhan mereka di 2013 ini 8-8.5% dibandingkan dengan 7.7-7.8% tahun lalu.

Saya melihat, secara sadar mereka mau mengubah konfigurasi struktur ekonominya dari ketergantungan pada perdagangan internasional ke domestik. Selama ini kan kecenderungannya adalah konsumsi dalam negeri mereka kecil. Sekarang, kelihatannya konsumsi domestik ini yang akan mereka genjot.

Dalam dua bulan terakhir ini, data manufaktur Tiongkok meningkat. Artinya mereka memproduksi barang-barang yang kemungkinan besar akan dikonsumsi pasar domestik. Nah, ini bagus karena manufaktur mereka membutuhkan sumber daya alam dari Indonesia. Kalau manufakturnya meningkat, pembangkit listriknya juga meningkat dan ini berarti kebutuhan batu baranya juga meningkat. Yang terakhir ini datang dari Indonesia.

Masalah buat kita, Indonesia seharusnya tidak terlalu mengandalkan ekspor komoditas. Dari keseluruhan ekspor kita, 65% itu komoditas sementarahanya 35% yang non-komoditas. Jadi ke depan, sangat mendasar bagi kita untuk berusaha meningkatkan ekspor non-komoditas di atas 35%. Ini pun saya tidak khawatir.

INA.2014 : Karena?

GW : Karena tesis investasi di Indonesia sudah kuat sekali. Tiga tahun terakhir, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) kita meningkat sekitar 25-30%. Bagusnya, ini adalah investasi di wilayah yang sangat mengandung value-added dimana kita bisa merangkak di mata rantai nilai.Artinya kita dapat membuahkan pabrik-pabrik yang memproduksi produk-produk bernilai tambah yang bisa dikonsumsi di dalam negeri dan yang bonusnya bisa diekspor ke luar negeri. Itu akan meningkatkan porsi non-komoditas yang 35% tadi.

INA.2014 : Misalnya apa?

GW : Kalau sekarang, misalnya sepatu. Tentunya kita sekarang belum bisa bikin i-Phone, kita belum bisa bikin Blackberry. Tapi pabrik-pabrik yang dibangun dalam dua-tiga tahun terakhir ini banyak yang mulai menuju ke arah itu. Ekspor otomotif kita meningkat 50%, dikirim ke Afrika, ke Timur Tengah, ada juga ke Amerika Latin. Itu membanggakan kita, dibandingkan kita hanya bisa kirim batu bara dan kelapa sawit.

INA.2014 : Tapi ekspor komoditas itu kan tetap penting..

GW : Batu bara? Kelapa sawit? Itu tidak apa-apa. Itu optimisme untuk tahun 2013. Tapi optimisme jangka menengah dan panjang adalah peningkatan kapasitas di Indonesia untuk bisa membuahkan produk-produk yang lebih bernilai tambah yang akan dibutuhkan juga oleh kawasan Asia dan sekitarnya.

sumber
Diubah oleh: EconomicHitman
Urutan Terlama
Halaman 1 dari 2
lanjutannya gan

INA.2014 : Tapi bagaimana dengan defisit perdagangan internasional kita?

GW: Tahun lalu kita memang defisit pertama kali setelah beberapa dekade. Tapi bagi saya, itu masih oke, karena beberapa alasan.

Jelasnya begini, yang mempengaruhi current account kita kan ada tiga: portfolio investment, real sector investment, dan international trade.

Kalau portfolio investment, itu saya rasa sangat terpengaruh oleh begitu banyaknya likuiditas di Amerika, di Eropa, di Jepang yang berimbas ke Indonesia. Tahun lalu kenaikannya sekitar 12%.

Real sector investment adalah yang saya sebut PMA dan PMDN, dimana peningkatanrealisasi investasinya sekitar 25-30% .

Baru terakhir adalah international trade. Tahun lalu kita defisit. Sampai akhir tahun lalu, defisitnya 1,6milyar dollar yang terdiri dari defisit migas 5,59 milyar dollar, dan surplus non-migas 3,96milyar dollar.

Saya sendiri tidak kuatir dengan gambaran itu. Kita bisa saja defisit dalam international trade, tapi selama current account deficit kita masih di 2,6 – 2,7% dari PDB atau Gross Domestic Product, itu masih belum mengkhawatirkan karena masih di bawah 3%.

Itu juga tidak mengkhawatirkan kita dari sisi nilai tukar Rupiah. Yang lebih mengganggu orang adalah sentimen di pasar, misalnya pertanyaan-pertanyaan tentang penegakan dan kepastian hukum di Indonesia, atau soal upah minimum.

INA.2014 : Jadi dalam hal ini pun kita tak perlu pasang kuda-kuda?

GW : Ya karena ada hal lain yang perlu diperhatikan.

Defisit ini terjadi karena adanya kenaikan importasi bahan baku dan kenaikan importasi barang modal. Sedangkan importasi barang jadi turun.

Kenaikan impor bahan baku dan barang modal itu terjadi untuk memenuhi kebutuhan pembangunan pabrik, yakni realisasi investasi para penanam modal itu. Jadi, tidak apa. Kita harus mentolerir yang kayak begini, karena pabrik-pabrik yang sedang dibangun di Indonesia ini memang perlu mengimpor sekrup, atau mengimpor baja karena baja di sini belum cukup. Tapi dalam satu, dua, tiga tahun lagi, pabrik-pabrik ini akan selesai dibangun dan akan memproduksi barang-barang yang bukan saja dikonsumsi di dalam negeri tapi juga bisa ekspor produk-produk yang lebih memiliki value-added dibandingkan kelapa sawit, nikel, dan batu bara.

INA.2014 : Bagaimana dengan kekuatiran orang tentang arus kekuatan asing dalam ekonomi Indonesia?

GW : Sederhana saja. Indonesia adalah sebuah negara besar. Perekonomian kita sekarang 15 terbesar di dunia secara Purchasing Power Parity, atau sesudah disesuaikan dengan daya beli. Permintaan masyarakat luas itu besar sekali dan itu belum bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Karena itu dibutuhkan investasi untuk bisa membuahkan produk-produk yang diinginkan konsumsi masyarakat luas di dalam negeri, dan yang syukur-syukur juga bisa dipasarkan ke luar negeri.

Investasi itu bisa dari dalam maupun luar negeri. Kedaulatan kita itu dilindungi oleh Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 dan oleh Daftar Negatif Investasi yang mengacu ke Perpres 36 yang menyatakan secara eksplisit bahwa ada sektor-sektor yang boleh dan tidak boleh dimasuki investasi asing. Nah, FDI atau penanaman modal asing (PMA) yang bergelontoran banyak sekali tiga tahun terakhir ini masuk ke sektor-sektor yang sudah disepakati sejak lama untuk bisa dimasuki dan tidak mengganggu kedaulatan.

INA.2014 : Bahkan kalaupun sekitar 70% dari total investasi di Indonesia itu dikuasai asing?

GW : Betul angkanya sekitar 70% dan Penanam Modal Dalam negerinya memang 30%.

Bagi saya, untuk kepentingan masyarakat yang lebih adil dan merata nasionalisme itu lebih mengenai siapa yang memperoleh keuntungan, bukan hanya mengenai siapa yang memiliki. Tentunya kita juga harus berupaya supaya investor dan pelaku usaha domestik bisa step up dan ikut membuahkan manfaat yang luas dimana kepentingan strategis bangsa dan negara tetap dipertahankan.

Investasi kita sudah terlihat membuahkan peluang kerja. Semakin besarnya peluang kerja bagi masyarakat luas semakin berkesinambungan kesejahteraan dan ekonomi kita.

Intinya, kita harus berpikir tentang langkah-langkah yang membawa manfaat bagi masyarakat luas, bukan semata melindungi kepentingan sebagian kecil pengusaha yang memang warga Indonesia tapi belum tentu berpikir tentang kepentingan orang banyak. Tentu kita bisa memilih, sektor mana yang sangat sensitif untuk kedaulatan kita dan itu harus kita lindungi secara mutlak, tidak boleh disentuh oleh orang asing. Kita harus sepakati bahwa yang ini diparkir di samping, tapi semua yang lain harus tegas.

INA.2014 : Bahkan setelah Anda jelaskan dengan cara seperti ini? Dan orang tidak bisa terima argumen itu?

GW : Waktu akan menilai mana yang benar. Saya percaya bahwa pembuahan lapangan kerja itu sangat penting untuk masyarakat luas namun saya juga peka dengan kepentingan kita semua untuk menjaga kedaulatan.

INA.2014 : Anda tidak seliberal yang dikatakan orang ya? Demi kepentingan masyarakat luas pula, Anda membatasi impor hortikultura?

GW : Itu kan karena untuk kepentingan masyarakat luas kita harus mendukung K3L (Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan). Kita sudah tangkapi ribuan produk-produk buah-buahan, sayur-sayuran yang dilapis formalin.

Kita keluarkan dua kebijakan. Yang pertama, pembatasan pelabuhan, karena banyak sekali rembesan buah-buahan dari negara lain yang Anda tahu sendirilah. Bayangkan kalau anak-anak kita makan buah-buahan yang dilapisi formalin atau menggunakan pestisida? Ya saya tidak mau dong anak-anak kita nanti sakit. Jadi, kita atur. Impor itu hanya boleh lewat di pelabuhan-pelabuhan tertentu yang memiliki sistem karantina yang baik dan terpercaya.

Kedua, kita keluarkan pembatasan pemasukan produk-produk hortikultura untuk memastikan kualitas juga kestabilan supply dan harga. Kita harus mendukung petani-petani dalam negeri. Tapi kita tentu harus gunakan bahasa dan pendekatan yang tepat dengan mengikuti aturan perdagangan internasional.

INA.2014 : Bahasanya apa?

GW : Bahasanya, ini harus sesuai dengan keselamatan, kesehatan, dan lingkungan. Ya lingkungan itu adalah apa pun yang bisa mempengaruhi kualitas hidup masyarakat luas di masa kini dan masa datang, dimana kesejahteraan petani dalam negeri juga diperhatikan.

Kan berdasarkan Undang-Undang Hortikultura Kementerian Pertanian harus melindungi petani atau kesejahteraan petani? Jadi dalam Peraturan yang kita keluarkan harus juga mengacu ke rekomendasi dari Kementerian Pertanian. Kalau tidak ada rekomendasi dari merekakita tidak akan keluarkan izin.

INA.2014 : Tapi kan, katanya Anda sampai diadukan ke WTO?

GW : Iya, diadukan. Ini gara-gara soal apel dan buah-buahan lainnyadari Amerika Serikat. Mereka sudah kirim banyak kontainer ke Tanjung Priok, padahal rekomendasi dari Kementerian Pertanian belum ada. Memang ketika itu rekomendasi telat keluar akibat ada transisi dari peraturan sebelumnya ke peraturan baru.

Jadi begitu banyaknya kontainer itu harus dikirim balik. Marah dong Amerika? Masalahnya mereka bukan hanya mempersoalkan pengalaman pahit di Tanjung Priok, tapi juga mengecam bahwa regulasi kita amburadul, kok harus nunggu rekomendasi dari Pertanian?

Intinya yang penting adalah kita bersama menjaga semangat kelembagaan yang mendukung kinerja Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian, termasuk untuk K3L.

INA.2014 : Bagaimana perkembangannya sekarang?

GW : Sekarang masuk ke tahap konsultatif sampai akhir Februari 2013. Dalam periode sampai akhir Februari ini, kita akan melakukan komunikasi supaya mereka bisa mengerti.

Yang kemarin soal apel itu memang kita ada salahnya. Kita mohon maaf, tapi di lapangan sekarang silahkan dicek. Sudah tidak ada masalah lagi, rekomendasinya keluar tepat waktu, dan begitu rekomendasi keluar dari Kementerian Pertanian, izin Kementerian Perdagangan juga keluar tepat waktu. Ini sudah kita cek di lapangan.

Kalau masih tidak puas, ini akan masuk pada fase berikutnya, yaitu penyelesaian sengketa. Sekitar enam bulan. Ramai itu nanti. Tapi kita tidak terlalu pusing dengan itu. Kita sih siap untuk mempertanggungjawabkannya.

INA.2014 : Kalau dinyatakan salah, kita harus bayar denda ya?

GW : Harus. Ya, kita punya peraturan, kita harus pertanggungjawabkan. Itu saja.

INA.2014 : Salah sekali ya orang yang menuduh Anda itu antek asing?

GW : Orang banyak yang kaget. Dulu kan kalau melihat saya, ada yang bilang eh ngomong Inggris-nya bagus. Begitu saya mengeluarkan kebijakan-kebijakan di sini, ternyata di dalamnya merah putih.

Tentu saja pendekatan saya di BKPM dulu sesuai konteksnya. Di sana, kan saya berusaha menarik modal dari manapun. Dan terbukti total modal yang datang itu meningkat 25-30% per tahun. Tapi yang harus juga diingat, porsi PMDN-nya meningkat dari yang tadinya cuma 20% dari total, sekarang 30% dari total. FDI-nya dari 80 turun ke 70. Tapi tidak ada masalah. Karena itu 70% dari total yang meningkat 30% per tahun.


sumber
INA.2014 : Anda melihat kenaikan-kenaikan itu terkait dengan kebijakan yang diambil?

GW : Ketika saya masuk di BKPM, saya berusaha mengemas tesis investasi itu dengan tidak memberi janji muluk. Jangan terlalu janji-janji. Justru yang saya paparkan pada siapa pun adalah ini lho arahnya, jalannya.

Saya tidak bisa jamin bahwa besok Indonesia tidak korup. Saya tidak bisa jamin besok tidak akan ada aksi teroris. Saya tidak bisa jamin besok tidak ada Tsunami. Tapi ya dengan postur fiskal kita yang seperti itu, masak sih kita tidak bisa menginvestasikan lebih banyak untuk kepentingan pendidikan, untuk kepentingan infrastruktur, untuk kepentingan apapun yang mendukung kemajuan bangsa? Jadi ada semacam kepercayaan tentang masa depan yang membuat orang bersedia berinvestasi.

Dan kami bisa mengeluarkan kebijakan fiskal yang jelas dimana sudah beberapa perusahaan dapat tax holiday untuk 5 – 10 tahun.. Banyak perusahaan juga bisa mendapatkan tax allowance sebesar 30% dari total nilai investasi, yang bisa diamortisasi selama 6-7 tahun. Ini bisa dilakukan di 128 sektor.

INA.2014 : Mereka dapat tax holiday kalau apa?

GW : Kalau mereka melakukan investasi lebih dari 1 triliun rupiah. Kedua, di sektor yang bisa membuahkan lapangan kerja yang banyak. Tiga, menggunakan teknologi yang pioneering. Keempat, yang mempromosikan pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah terpencil. Tentunya untuk menggolkan insentif fiskal seperti ini membutuhkan perjuangan dan dukungan dari banyak lembaga.

INA.2014 : Apa sih yang tidak ada di masa-masa lalu, yang sekarang ada sehingga kegairahan itu terlihat sekarang?

GW : Saya rasa karena akhir-akhir ini Indonesia didukung dengan kesehatan moneter dan fiskal yang jauh lebih bagus daripada sebelum-sebelumnya. Rasio utang kita ke GDP 23-24%. Defisit anggaran 1.5-2% dari PDB. Sehat sekali anggaran kita sekarang.

Sekitar 5-10 tahun yang lalu rasio utang ke PDB kita masih di atas 30%. Defisit anggaran terhadap PDB di atas level sekarang.

Sekarang ini, postur fiskal kita sehat. Dalam hal moneter, inflasinya juga tidak berlebihan dibanding dulu. Yang terakhir, selalu lebih baik memberi janji sederhana tapi dalam kenyataan kondisinya baik daripada berjanji muluk tapi hasilnya di bawah standard. Jangan terlalu memberikan janji surga gitu lho… Lebih baik underpromise dan overdeliver dibandingkan overpromise dan underdeliver.

INA.2014 : Sebenarnya apa yang terjadi yang menyebabkan kesehatan fiskal itu terjadi? Faktornya apa? Itu tentu terjadi karena sesuatu yang terkait dengan apa yang dilakukan pemerintah?

GW : Menurut saya, prinsip kehati-hatian yang ditanamkan semenjak krisis tahun ’98.

INA.2014 : Secara berkelanjutan?

GW : Secara berkelanjutan. Kita itu benar-benar trauma mau pinjam uang lagi. Jadi terjadilah disiplin untuk mengikis utang secara sistematis. Dan rasio utang terhadap PDB drastis turun dari 90% beberapa tahun yang lalu ke 23%. Pendapatan dan pengeluaran kita meningkat, tapi pendapatan kita itu peningkatannya lebih pesat daripada peningkatan pengeluaran. Jadinya defisit anggarannya menurun.

PDB kita meningkat karena tentunya faktor konsumsi domestik, investasi, belanja pemerintah dan ekspor-impor. Netto ekspor impor itu positif bertahun-tahun karena batubara, nikel, bauksit, dan sumber daya lainnya sampai tahun lalu. Kalau sekarang defisit, tidak terlalu bermasalah selama impornya mendukung substitusi impor - meningkatkan kapasitas produksi produk-produk bernilai tambah - sementara investasi, belanja pemerintah, konsumsi domestik juga masih bagus.

INA.2014 : Defisit itu terjadi betul-betul karena impor bahan baku dan barang modal?

GW : Itu faktor yang jelas-jelas berpengaruh. Tapi juga ada faktor-faktor penting lain. Harga batu bara kan terkoreksi, harga sumber daya alam terkoreksi 30-40%.

Tapi coba kupas sedikit perhitungannya. Ekspor tahun 2011 itu 200 milyar dollar. Kalau 65% dari ekspor itu terkait dengan komoditas, artinya dari 200 milyar dollar, 130 milyar dolar terkait dengan komoditas. Anggaplah komoditas koreksi harganya 30-40%. Semestinya yang terkait dengan komoditas itu koreksinya 39 milyar, yaitu 30% dari 130 milyar.

Ceteris paribus dengan asumsi apabila porsi ekspor non-komoditas sebesar 70 milyar dollar semestinya total ekspor kita turunnya 39 milyar dollar. Kenyataannya tahun lalu total ekspor hanya turun 10 milyar dollar, bukan 40 milyar dollar. Artinya apa?

INA.2014 : Ada yang naik?

GW : Itu mencerminkan kegigihan eksportir kita. Walaupun harga turun, tapi mereka bisa jualan dalam jumlah unit yang lebih tinggi. Volume-nya lebih tinggi. Dan masih ada yang mau beli murah di luar. Jadi total ekspor hanya turun 6% atau 10 milyar dollar. Dan itu tidak mengkhawatirkan karena ekspornya turun cuma 6% sementara kenaikan impornya terjadi karena kenaikan bahan baku dan barang modal. Sementara impor produk barang jadi turun 0,4-0,5%.

INA.2014 : Nasib komoditas kita di tahun-tahun ke depan bagaimana?

GW : Tergantung pemulihan beberapa perekonomian besar termasuk AS, Eropa, dan Tiongkok. Kalau pertumbuhan Tiongkok benar-benar bisa naik ke 8-8,5% dari 7,7% tahun lalu, pertumbuhan setidaknya akan menstabilisasi harga komoditas. Bonusnya ya harga komoditas bisa naik.

INA.2014 : Karena itu, yang seharusnya digenjot yang non-komoditas ya?

GW : Dan kita harus sabar. Itu perlu dua, tiga, empat tahun.

INA.2014 : Bagaimana caranya?

GW : Tunggu pabriknya selesai, sambil tunggu pemulihan ekonomi global terjadi.

INA.2014 : Tapi kalau soal pembangunan pabrik-pabriknya Anda lihat bagaimana?

GW : Bagus dong. Pabrik baja Korea Selatan Krakatau Steel POSCO menanamkan investasi 6 milyar dollar untuk produksi 6 juta ton baja per tahun. Baja is the mother of all industries. Kita tidak bisa bikin kapal, pesawat, apa pun tanpa baja. Honda dan Toyota investasinya milyaran dollar tambahannya, karena mereka sudah ambil sikap. Permintaan di Indonesia luar biasa dan iklim investasinya juga membaik terus.

INA.2014 : Dan mereka itu tidak hanya akan menggarap pasar domestik tapi juga berorientasi ke luar?

GW : Iya. Foxconn Taiwan yang bikin Apple, iPad, iPhone, akan bangun pabrik tahun ini di sini. Jadi orang sudah melihat bahwa Indonesia itu adalah tempat investasi untuk produk-produk yang rantai nilai-nya sudah ada di sini. Tapi pra-sarana pendidikannya memang harus ada. Seperti kemarin, Chairman-nya Caterpillar Inc. bertemu saya. Dia bilang, mencari tukang las saja sulit. Kekurangan SDM-nya.

INA.2014 : Kita kekurangan tenaga terlatih untuk industri?

GW : Iya. Saat orang berduyun-duyun mau investasi di Indonesia, mencari tukang las yang bagus saja susah sekali…

INA.2014 : Pendidikan kita tak menggunakan perkiraan kebutuhan di masa depan?

GW : Itu pernyataan yang terlalu menyederhanakan.

INA.2014 : Terlalu menyederhanakan?

GW : Pendidikan kita bukan hanya membutuhkan perkiraan kebutuhan, tapi membutuhkan transformasi – dan prosesnya sudah mulai.

INA.2014 : Tuduhan soal Ancora itu bisa dijelaskan?

GW : Tentu bisa.Grup Ancora sangat menggarisbawahi semangat kewirausahaan terhadap anggota profesional di grup ini. Ancora punya salah satu afiliasi yang berinvestasi di properti, namanya Ancora Land. Di sana tidak ada kepemilikan saya secara langsung ataupun tidak langsung. Kepemilikan saya hanya di perusahaan-perusahaan lain termasuk di perusahaan Tbk.

Pada tahun 2008 Ancora Land mengambil alihsebagian saham di perusahaan GNU / NUS yang sebelumnya pernah membeli tanah dari Yayasan Fatmawati di beberapa tahun sebelumnya.

Pertama, ini berdasarkan kepercayaan atas kesahan kepemilikan GNU NUS terhadap aset terkait. Kedua, kepercayaan bahwa kesepakatan yang sudah ditandatangani itu belum kadaluarsa karena ada kondisi yang belum dipenuhi oleh Yayasan Fatmawati. Ternyata ada perusahaan lain yang beraspirasi terhadap aset yang sama dan tentunya memiliki pengertian yang berbeda atas kesepakatan yang sudah ditandatangani oleh GNU NUS dan Yayasan Fatmawati.

sumber part 2
INA.2014 : Apa ada masalah antara orang-orang itu dengan Anda?

GW : Saya tidak tahu. Tapi isu ini sudah jelas sangat commercial oriented. Nilai tanah yang terkait di permasalahan ini cukup tinggi.

INA.2014 : Bukankah sebaiknya anda buka-bukaan saja…

GW : Saya sebetulnya bisa saja konferensi pers. Tapi saya tidak mau termakan. Lagipula, saya tetap percaya bahwa wartawan kita tidak akan mudah ditipu hanya karena kabar burung semacam itu. Wartawan itu piawai dan kritis kok.

INA.2014 : Tapi bagaimana jika yang terjadi justru kebenaran jadinya tidak terungkap?

GW : Saya percaya Tuhan Allah akan selalu memberikan sinar kepada kebenaran dan kita harus percaya atas proses hukum yang sedang berjalan.

INA.2014 : Kembali ke soal ideologi liberalisme dan nasionalisme tadi… Anda juga mendukung kenaikan harga BBM. Menurut Anda, itu juga kebijakan yang nasionalis?

GW : Iya. Angka subsidi energi seperti BBM, listrik, dan energi lainnya bisa di atas 300 triliun rupiah. Kalau bisa diturunkan, akan begitu banyak hal yang bisa ditingkatkan dengan realokasi.

INA.2014 : Tapi kalau sudah dihemat, apakah uang itu memang akan digunakan untuk kepentingan umum?

GW : Ya harus begitu dong. Misalnya alokasi anggaran bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur atau stimulus fiskal, pasti akan sangat membantu pertumbuhan ekonomi.

INA.2014 : Jadi Anda termasuk yang kecewa dengan tidak adanya keberanian pemerintah untuk menaikan harga BBM?

GW : Keberanian itu sudah ada kok. Ini sudah dicoba tahun lalu, tapi kadang-kadang politik itu memang jauh lebih rumit. Kalau murni dari teori ekonomi, kita pasti tahu apa yang harus dilakukan. Tapi kita harus juga mengukur apakah dinamika politik yang ada memungkinkan kebijakan itu bisa diambil. Nah itu yang saya tidak tahu karena saya bukan orang politik.

INA.2014 : Jadi Anda belum juga belajar menjadi politisi?

GW : Ya. Saya suka musik, olahraga, suka sesuatu yang menghasilkan perbedaan yang positif. Sekarang sih saya bahagia melakukan amanah sebagai Menteri Perdagangan.

INA.2014 : Tapi, pastinya lebih dari di BKPM, ini akan membutuhkan kemampuan politisi seperti melakukan lobi-lobi?

GW : Kalau soal lobi sih, Alhamdulilah… Saya bersama kawan-kawan dan atas dukungan Menteri Keuangan misalnya bisa menggolkan kebijakan tax holiday. Untuk itu kan saya harus lobi ke Kemenkeu dan Kementrian Perindustrian.

INA.2014 : Lobi dengan DPR?

GW : Tax holiday tidak dengan DPR. Tapi secara umum, kalau kebijakan BKPM dan perdagangan, sejauh ini tidak pernah ada masalah dengan DPR.

INA.2014 : Kembali ke soal defisit. Anda sebelumnya bilang bahwa impor tidak terhindari. Bukankah tetap ada impor yang bisa ditekan? Apakah ini karena Anda termasuk kelas menengah yang sangat menggemari produk-produk impor?

GW : Enggak kok, ini sepatu lokal buatan Jatayu (sambil menunjuk sepatunya). Jam tangannya, Alhamdulillah, masih mampu.Kelihatannya saja mahal.

INA.2014 : Tapi apakah Anda tidak khawatir dengan gaya hidup kelas menengah?

GW : Saya lebih khawatir tentang isu kesenjangan kesejahteraan di masyarakat luas. Tapi ini tantangan bagi saya untuk mengeluarkan kebijakan yang bisa mendongkrak tesis investasi agar apa yang kita konsumsi ke depan bisa diproduksi dalam negeri. Bukan karena nasionalis, tapi karena kita memang harus bisa. Terutama karena produk-produk dalam negeri itu diharapkan harganya bisa lebih terjangkau oleh masyarakat luas dan menambah jumlah lapangan pekerjaan. Nah, untuk mencapai itu yang diperlukan bukan cuma kebijakan industri, investasi, dan perdagangan, tapi kebijakan pendidikan secara menyeluruh. Kita harus tahu 10, 20, 30 tahun ke depan berapa lulusan S3, S2, S1, dan politeknik yang kita punya. Kita harus sudah tahu berapa banyak animator, penata rambut, ahli pertanian, pemrogram komputer dan sebagainya yang kita punya. Ini harus jelas pemetaaannya.

INA.2014 : Dan itu yang hingga sekarang masih belum jelas?

GW : Sudahlah, saya tidak mau bicara itu. Tapi saya bangga-lah anak muda sekarang sudah bangkit belajar. Tahun lalu lebih dari 100 karyawan Kementerian Perdagangan dikirim ke seluruh dunia termasuk ke perguruan tinggi di Indonesia, Australia, Singapura, Jepang, Amerika untuk mengambil S2 dan S3. Sebelumnya paling hanya 3-4 orang. Sekarang kita rekrut 94 CPNS baru dengan syarat IP harus 3,50 ke atas, TOEFL minimal 600. Pengecualian kalau IP nya 3,50 ke atas, tapi TOEFLnya kurang dari 600, 3 bulan setelah masuk harus 600. Itu kita buat perturannya. Lucunya, semakin banyak persyaratannya semakin banyak yang mendaftar.

INA.2014 : Hal yang sama dilakukan oleh Ancora Foundation?

GW : Iya, itu setiap tahun mengirim mahasiswa ke beberapa universitas seperti Harvard, Stanford, Cambridge, Oxford, NTU, Swisburne, University of Malaya. Yang nasional termasuk ke UI, ITB, IPB, Unpad dan macam-macam. Mahasiswa Universitas Cendrawasih saja mereka berikan beasiswa.

INA.2014 : Banyak yang khawatir dengan ASEAN Economic Free Trade. Anda?

GW : Tidak ada pilihan. Di rezim sebelumnya Indonesia sudah bersepakat untuk memberi kebebasan bagi arus barang, investasi, professional dan informasi dalam format Free Trade ini. Tapi ini tak berarti kebebasan absolut. Kita juga membuat barikade batas-batas seperti soal investasi. Jadi ujung-ujungnya nanti kulminasinya 90-95% dari idealisme yang dulu diaspirasikan. Dulu pada 2003, kita sudah yakin bahwa pada 2015 masyarakat ASEAN harus bebas untuk investasi, perdagangan, informasi, professional. Nah, derajat kebebasannya sekarang dikompromikan.

INA.2014 : Tapi tetap besar kan?

GW : Ya, tapi tetap ada batasan-batasannya. Misalnya di Indonesia, ada daftar negatif investasi yang tertuang di Perpres 36. Di situ ditetapkan, investasi asing tidak lebih dari 30% di hortikultura, investasi pos tidak lebih dari 49%. Itu kita cerminkan dalam keputusan kita dengan ASEAN. Bukan berarti negara lain harus sama porsinya dengan kita. Ada yang lebih liberal, ada yang lebih konservatif. Tapi intinya, ASEAN Free Trade itu tidak sepenuhnya bebas.

Contoh lagi, soal penerbangan. Kalau untuk transportasi udara, perlu sertifikasi yang harus dikeluarkan Kemenhub. Tidakkah mengkhawatirkan kalau tiba-tiba ada maskapai penerbangan dari negara lain bisa terbang langsung ke Sidoarjo, ke Mamuju? Mereka pakai pesawat terbaru, kita pakai kitiran.

INA.2014 : Bagaimanapun, kompetisi itu tidak terhindarkan?

GW: Tidak terhindarkan…

INA.2014: Kalau begitu, apa yang harus disiapkan?

GW : Kembali, pendidikan. Kalau Anda harus menceburkan diri ke kolam, ya Anda harus mencebur. Paling menggigil sedikit, tapi perlahan-lahan anda akan beradaptasi. Makanya saya mati-matian cari investasi yang bisa membawa perubahan besar untuk Indonesia.

INA.2014 : Seperti?

GW : Seperti Foxconn. Saya itu berkeliling tidak cari batu bara karena saya rasa bisa berjalan sendiri.. Saya cari orang yang mau investasi di sini untuk membuat microchip, baja, iPhone, petrokimia, biodiesel. Nah, itu yang harus kita cari.

INA.2014 : Tapi masyarakat sendiri belum sadar bahwa persaingan itu sudah di depan mata?

GW : Itu memang satu persoalan. Kita sudah pernah mencek di lapangan. Ternyata polling AEC (masyarakat ekonomi ASEAN) menunjukkan orang-orang di Jakarta saja sebagian besar tidak paham. Apalagi Mamuju. Karena itu, di tahun 2013 Anda akan lihat kita lebih aktif melakukan program sosialisasi kita untuk AEC dan APEC.

Tapi jangan salah, teman saya di kemendag AS, sama juga. Di AS, penelitian menunjukkan bahwa rakyat di sana lebih percaya eksistensi alien daripada manfaat pasar bebas. Jadi kalau orang Indonesia tidak terlalu paham dengan konsep ASEAN China Free Trade wajar, lumrah.

INA.2014 : Tapi agak menakutkan kalau nanti pemerintahan baru di 2014 tidak memiliki mindset ini ya? Belum tentu pada 2014 masih ada Anda yang punya cetak-biru.

GW : Entahlah. Tapi saya lihat ada banyak warisan dari SBY untuk 2014. Dua yang paling nyata bagi saya.

Pertama, pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang fondasinya sudah solid, kecuali ada kerusuhan nasional atau konflik besar secara politik yang bisa merusak ekonomi. Tapi kemungkinan itu sangat bisa diukur.

Kedua adalah konsolidasi politik yang menjurus pada agenda nasional. Itu probabilitas yang bisa membuahkan kesinambungan kebijakan. Penciutan jumlah parpol oleh KPU yang tegas memperlihatkan tanda-tanda bahwa kita memang berkomitmen untuk terus memperbaiki irama politik kita. Daya beli meningkat, cara pandang kita juga menyesuaikan dengan abad 21. Menurut intuisi saya, itu membantu untuk menjamin kesinambungan kebijakan.

INA.2014 : Anda percaya bahwa anak muda kita siap untuk terlibat dalam mencapai perubahan yang dibutuhkan mengingat informasi politik dan kepedulian politik kelompok tersebut?

GW : Saya percaya dengan naluri. Saya percaya bahwa proses politiknya nanti akan mengarah pada jalan di mana mereka akan mengambil keputusan yang bijak. Kalau memang Prabowo adalah pilihan yang paling bijaksana, tidak masalah. Aburizal Bakrie, Mahfud MD, Jusuf Kalla, Dahlan Iskan, Chairul Tanjung, Agus Martowardojo, Sri Mulyani, Hidayat Nur Wahid, dan lainnya, tidak masalah. Saya percaya naluri akan mengarahkan rakyat.

Di Davos saya katakan, pada tahun 2014 di Indonesia akan ada 170 juta pemilih yang banyak sekali terdiri dari wanita dan anak muda. Mereka akan mempengaruhi proses sosial, politik, dan ekonomi.

sumber part 3
INA.2014 : Dengan kondisi yang ada, untuk 2014 apa prioritas yang harus dilihat sang presiden baru?

GW : Ekonomi untuk kesejahteraan rakyat.

INA.2014 : Secara spesifik?

GW : Dia harus mengerti sekali ekonomi dan kepentingan rakyat. Dia harus secara proaktif memperbaikinya, dengan mendasarkan diri pada kepastian hukum. Agak dramatis memang, tapi ini memang harus benar. Karena konteksnya adalah bagaimana Indonesia bisa bersaing secara sehat berhadap-hadapan dengan Tiongkok dan India.

Salah satu hal yang bisa menggerogoti kaki kita adalah apabila tidak ada penegakan hukum. Kalau kita tidak mampu menggeser itu, kita tidak akan bisa berlari bersaing dengan Tiongkok dan India.

Kita harus memanfaatkan keberadaan komunitas ASEAN untuk kepentingan ASEAN dan Indonesia agar bisa bersaing dengan Tiongkok dan India.

INA.2014 : Bagaimana menurut Anda tentang soft power Indonesia?

GW : Besar sekali! Kalau misalnya dibutuhkan titik dari 0 ke 1 untuk membuahkan sosok seperti Steve Jobs, saya yakin itu bisa diperoleh dalam 10 tahun.

INA.2014 : Artinya?

GW : Artinya kita bisa melahirkan inovator kelas dunia, hanya dibutuhkan 10 tahun! Berikan kesempatan saja. Orang seperti Yohanes Surya bisa melatih orang dari Papua untuk menjadi juara olimpiade fisika. Itu sangat memungkinkan, kita cukup lakukan pencarian bakat ke 34 provinsi! Yang brilian, kita modali mereka ke sekolah-sekolah yang hebat termasuk UI, ITB, IPB, MIT, Caltex, Harvard, Oxford, Cambridge. Dua tahun di sana, kembali ke sini, buat inkubasi. Sistem MLM saja, buat dan bangun habitat yang bisa membuat mereka transfer ilmu.

INA.2014 : Kenapa kita tidak sadar dengan potensi tersebut?

GW : Saya sih sadar banget.

INA.2014 : Misalnya dengan kebudayaan, kita kurang kaya apa sih dengan sumber daya? Tapi kenapa tidak berkembang seperti Korea?

GW : Persoalan ada di pihak yang menatanya. Mereka yang bertanggungjawab atas sektor kebudayaan, harus berani.

INA.2014 : Ada masalah tidak dengan industri kreatif dinaungi oleh dua kementerian?

GW : Saya tidak terlalu peduli dengan teritorial. Yang penting yang melakukannya memang punya komitmen untuk mengembangkannya.

Anda tahu, di Davos, kita bersama kementerian lain yang memilih warna sablon, artis yang tampil, lagu yang dinyanyikan, warna. Semua disimulasikan.

Hasilnya baca saja The Strait Times yang memuji acara Malam Indonesia di World Economic Forum di Davos awal tahun ini dengan menyebut di headlinenya: Indonesia was the best. Wartawannya itu juga pergi ke Korean night, Indian night, dan lainnya. Dia puji habis Indonesia! Kenapa bisa? Ya mungkin karena kita adalah bangsa yang berbudaya.

INA.2014 : Mungkin Anda memang harus di sana. Siapa tahu Indonesia bisa melahirkan Korean wave yang mereka bangun dalam 10 tahun?

GW : Makanya, 10 tahun, kita juga bisa mencapai hal yang sama.

INA.2014 : Terakhir, soal pemerataan. Meskipun orang bicara bahwa pertumbuhan ekonomi kita tinggi 6,3% tapi Gini Ratio Coeefisien (koefisien untuk mengukur tingkat ketidakmerataan) kita naik menjadi 0.41. Menurut Anda?

GW : Ya, memang Gini Ratio Coefisien kita 0.41, naik dari sebelumnya 0.3 sekian. Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat, Gini Ratio mereka lebih tinggi daripada kita. Tapi memang kita masih lebih rendah dari Swedia, Singapura, Jerman.

Untuk Indonesia, semua kuncinya adalah pembangunan infrastruktur di Indonesia bagian timur. Penyebab utama kesenjangan di Indonesia adalah ketertinggalan infrastruktur di Indonesia timur.

Masalahnya jika kita ingin membangun inftrastruktur di timur, itu masih tidak dianggap layak secara komersial. Siapa yang mau buat jalan tol disana kalau mobilnya yang lewat cuma 10 mobil setiap hari? Kecuali kalau tarif tollnya per ruas 250 dolar.

Makanya untuk bisa membangun itu, harus ada kesediaan politik untuk menggelontorkan dana fiskal. Atau cari saja investor yang mau menggarap sumber daya alam dengan prasyarat pembangunan infrastruktur seperti pembangkit listrik, jalan, pelabuhan yang dibutuhkan oleh rakyat. Itu bisa, cuma harus ada keberanian.

INA.2014 : Jadi ada dua opsi yang tersedia menurut Anda. Mana yang Anda pilih? Menggelontorkan dana fiskal atau mengundang investor?

GW : Kombinasi. Investornya datang, kita berikan tax holiday. Anda tidak akan bayar pajak, selama anda membangun.

INA.2014 : Jadi soal pemerataan itu terutama Timur?

GW : Terutama timur. Dalam analisa saya, yang sangat mempengaruhi Gini Coefficent kita itu timur. Pertumbuhan ekonomi paling banyak ya di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Realisasi investasinya, alhamdulilah, meningkat dari 18% ke 46% dari total modal yang diinvestasikan di luar pulau Jawa. Bayangkan dari 2009 yang hanya 18%, sekarang 46%.

Caranya gimana? Gampang, kalo kita ke Sulsel cerita tentang Sulut, kalau ke Jambi, cerita tentang Sumsel. Ke Sulut cerita tentang kehebatan Sulsel ke pimpinan daerah di Sulut. Masing-masing akan terinspirasi. Healthy competition itu sangat bisa mendorong kemajuan.

INA.2014 : Anda tidak berminat untuk maju 2014?

GW : Bagi saya, saat ini tidak ada yang lebih penting daripada kerjaan saya sekarang di KementerianPerdagangan. Prioritas saya saat ini mengerjakan sebaik mungkin amanah saya. Saya akan coba lakukan yang terbaik.

sumber akhir

thanks
Izin nyimak dulu gan
Quote:


silahkan, boleh di rate gan.
emoticon-Sundul Upemoticon-Sundul Up
Lebih baik komen, dari pada jadi silent reader emoticon-angel
Quote:


makasih udah ikut baca dan komen gan.

emoticon-Sundul Upemoticon-Sundul Upemoticon-Sundul Up
emoticon-I Love Indonesia (S)emoticon-I Love Indonesia (S)
emoticon-Sundul Gan (S)emoticon-Sundul Gan (S)emoticon-Sundul Gan (S)
semoga bermanfaat.
emoticon-Sundul Gan (S)emoticon-Sundul Gan (S)emoticon-Sundul Gan (S)
Ane baca mpe post 3 aj deh emoticon-Cool
Eman bener yg dikatakan GW pola pikir kita harua dirubah dari kata nasionalisme... sampe byk yg koar2 nasionaliskan smua untuk rakyat indonesia emoticon-Ngakak tp ga ngerti asal mulanya n tujuanya..
Sekarang tgl tugas pemeritah ae bwt kebijakan yg adil. Untuk rakyat n investor.. kalo sekarang pemerintahnya galauers bih takut sama investor dibanding defisit n keteraturan negara ni. Naikin BBM n transportasi umum ae susahnya
emoticon-Ngakak tuh kan bener treat model bwt pengembangan pemikiran bakal sepi emoticon-Cool
Kalah sama berita kontrofersi, konspirasi n mesum emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
Ane bantu emoticon-Sundul Up hidup lagi emoticon-Big Grin
Diubah oleh elf321
nice share artikel gan
go INDONESIA emoticon-Ngakak
panjang juga ya gan<
TS pasti ppegel itu
Quote:


TS cuma moda ctrl+c sama crl+v doang ganemoticon-Malu (S)
emoticon-Sundul Gan (S)emoticon-Sundul Gan (S)emoticon-Sundul Gan (S)
emoticon-Kiss (S)emoticon-Kiss (S)
emoticon-I Love Indonesia (S)emoticon-I Love Indonesia (S)
emoticon-Sundul Gan (S)emoticon-Sundul Gan (S)emoticon-Sundul Gan (S)
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di