alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Nusa Lontar dan Totalitas Orang Rote
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/514ac88a20d719721f000007/nusa-lontar-dan-totalitas-orang-rote

Nusa Lontar dan Totalitas Orang Rote

Nusa Lontar dan Totalitas Orang Rote
Kamis, 21 Maret 2013 | 14:57 WIB

Oleh Kornelis Kewa Ama
Nusa Lontar dan Totalitas Orang Rote
Pulau Rote disebut Nusa Lontar. Pulau ini dipadati pohon lontar atau Borassus flabellifer secara alamiah, dari pesisir sampai wilayah perbukitan. Hampir 90 persen warga Rote hidup dari menyadap nira lontar. Lontar memberi kehidupan yang lebih bermakna bagi mereka, dari lahir sampai mati.

Sebelum seorang bayi Rote menyusui susu sang mama, terlebih dahulu, ia mengenyam air nira lontar yang dioleskan ayahnya di bibir dan lidahnya. Barulah kemudian sang bayi diberi air susu mamanya. Inilah pertanda sang bayi telah meminum makanan pokoknya, dari bayi sampai akhir hidupnya kelak.

Budayawan atau manehelo Rote, Abia Mandala (69) di Ba’a, Senin (3/12/2012), mengatakan, lontar pertama kali tumbuh di Nusak (kerajaan) Ringgou, Rote Barat Laut, tahun 1400-an. Dari situ, lontar berkembang biak ke seluruh daratan.

Legenda tua menyebutkan, nenek moyang dari Maluku itu pertama kali melakukan penyadapan terhadap nira lontar. Keterampilan leluhur ini diwariskan dari generasi ke generasi. ”Bahkan, menyebar ke seluruh warga Rote waktu itu, hingga hari ini,” kata Mandala.

Tumbuhan jenis palem ini dipahami sebagai anugerah Tuhan yang diberikan secara cuma-cuma. Lontar tidak bisa dikembangbiakkan atau budidayakan. Tumbuhan ini tumbuh dengan sendirinya, lama-kelamaan membentuk hutan lontar di lokasi itu.

Peradaban

Lontar mencerminkan totalitas kehidupan orang Rote. Lewat lontar mereka membangun sejumlah kearifan lokal. Batang, bulir, daun, pelepah, nira, tulang daun, buah, sabut, dan pucuk lontar membangun peradaban dan budaya lokal mereka.

Batang, daun, pelepah, dan tulang daun, misalnya, dimanfaatkan untuk membangun rumah.

Daun juga dipakai untuk perkakas dapur, alat timba air yang disebut haik,dan penghias alat musik sasando. Pucuk daun (putih) dimanfaatkan menganyam topi lokal tiilangga, pembungkus tembakau (rokok) tradisional, dan tulang daun untuk tali (pengikat).

Rokok tradisional dan tuah (nira) adalah sarana untuk mempertemukan mereka. Tiap upacara adat yang melibatkan tetua, menghadirkan rokok dan tuah ini.

Tetapi sebagian dari tradisi ini mulai hilang. Misalnya, nira diganti bir, rokok asli diganti hasil pabrikan, ari-ari bayi dibuang di laut atau pohon lain, generasi muda tidak lagi menyadap, keranda dibuat dari kayu lain, dan sejumlah perkakas dapur dari hasil pabrikan. Generasi muda merasa gengsi menyadap lontar. ”Mereka lebih suka jadi tukang ojek,” kata Mandala.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Rote Ndao Orias Alberth Muskananfola mengatakan, air nira lontar memberi kehidupan kepada setiap bayi, anak balita, remaja dan orang dewasa di Rote. Nira bisa dikonsumsi bersama dengan sayur-sayuran, kacang-kacangan, umbi-umbian, jagung atau buah-buahan sekaligus.

Hasil penelitian menyebutkan, nira lontar mengandung vitamin A, B, C, D, dan E serta memiliki kemampuan antioksidan tinggi. Tidak heran bila orang Rote menyebutkan, kami minum makanan, yakni nira,” kata Muskananfola.

Satu pohon lontar menghasilkan 40 liter nira per hari, masing-masing 20 liter diambil pada pagi hari, dan 20 liter lain diambil sore hari. Jika 20 liter diproses menjadi gula air menghasilkan sekitar 10 liter gula cair, berwarna coklat. Jika 10 liter gula cair ini diproses lebih lanjut, menghasilkan sekitar 5 kilogram gula lempeng.

Rata-rata tiap keluarga memiliki 30 pohon lontar. Kini, terdapat sekitar 23.375 keluarga di Rote. Total pohon lontar di Rote sekitar 701.250 pohon.

Nilai ekonomis

Usia produksi lontar 5-30 tahun. Lontar telah berproduksi sekitar 60 persen atau 420.750 pohon. Jika satu pohon lontar menghasilkan 40 liter nira per hari, 420.750 pohon lontar menghasilkan 16.822.800 liter nira per hari.

Satu liter nira dijual seharga Rp 5.000. Jika 16.822.800 liter, menghasilkan Rp 84.114.000.000 per hari. Namun, tidak semua nira lontar dijual karena tidak diminati. Hampir semua orang Rote menyadap lontar.

Sebagian besar untuk konsumsi, makanan (minum) ternak, dan diproses menjadi obat pembasmi hama tanaman. ”Ini baru hitungan nira saja, belum termasuk gula lempeng dan gula semut,” kata Muskananfola.

Rata-rata setiap hari 30.000 kilogram gula lempeng masuk Kota Kupang. Gula lempeng ini dibeli pedagang kemudian dilanjutkan ke Bali, Mataram (Nusa Tenggara Barat), dan Surabaya (Jawa Timur).

Cocok kemarau

Marsel Laning (54), penyadap lontar Desa Soka, Kecamatan Lobalain Rote Ndao, mengatakan, gula lempeng Rote lebih manis, lengket, keras, tanpa bahan pengawet, dan bertahan sampai 3-5 bulan.

”Saat kemarau panjang menimpa daerah ini, maka lontar berproduksi optimal. Makin panas matahari, niranya makin terasa manis. Jumlah itu, selain mencukupi kebutuhan semua anggota keluarga, juga dipasarkan,” kata Laning.

Hampir semua rumah tangga di Rote mengelola lontar. Mulai dari menyadap dan mengolah nira menjadi gula cair, gula lempeng, dan bahkan gula semut, mirip gula pasir.

Namun, gula semut jarang beredar di Kota Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Harga gula semut di Rote Rp 15.000 per kilogram, setara 1 kilogram gula pasir.

Ketergantungan masyarakat setempat terhadap nira sangat tinggi. Nira menjadi sumber utama ekonomi. Namun, kebanyakan generasi muda enggan menekuni pekerjaan ini karena merasa gengsinya turun dan pekerjaan itu dianggapnya ketinggalan zaman.

Sulit menghitung pendapatan yang diperoleh setiap keluarga per bulan dari lontar. Hampir semua orang Rote memilikinya. Namun yang jelas, lontar sebagai tumpuan hidup untuk membangun seluruh tradisi dan kearifan lokal warga Rote.
link
http://tanahair.kompas.com/read/2013...campaign=Khlwp

satu lagi kekayaan indonesia yang mengagumkan....
bangsa ini sangat mengagumkan dg keanekaragamannya...peran pemerintah sanagt diperlukan untuk memberikan kontribusai nyata pengembangan ekonomi masyarakat
Urutan Terlama
kapan digenepin jadi sejuta poon emoticon-Embarrassment
Sudah seharusnya generasi muda bangsa ini menggali lagi kebudayaan lokal nusantara yg mengandung begitu banyak kearifan,kebijaksanaan,hikmah dalam menatap kehidupan ini


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di