alexa-tracking

Voltaire “Kalaupun Nabi Muhammad itu adalah pendusta, tapi faktanya beliau berhasil

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/50fe41b54f6ea1ca3c00000c/voltaire-kalaupun-nabi-muhammad-itu-adalah-pendusta-tapi-faktanya-beliau-berhasil
Voltaire “Kalaupun Nabi Muhammad itu adalah pendusta, tapi faktanya beliau berhasil
Agama Kristen, ibarat seorang kakak dari agama Islam, akan marah bila sang adik mengkritik apa yang dilakukan kakaknya selama ini adalah salah dan sang adik berusaha memberikan solusi terbaiknya. Namun serta merta sang kakak justru menghajar sang adik. Inilah drama konflik keluarga atasnama fanatisme. Membuat Seorang filsuf dan sastrawan, ahli sejarah dari Prancis, Francois Marie Arouet dengan nama pena Voltaire (21 November 1694 - 30 Mei 1778), melalui 175 nama samaran melakukan kritikan kepada pemerintah Perancis, kekejaman kristen dan bentuk fanatisme lainya. Voltaire mengkritik Eropa, "orang lain (Islam) mungkin berpikir lebih baik daripada penduduk ini tumpukan kecil dari lumpur kita sebut Eropa." Dalam suratnya kepada Frederic II ia menulis, "Kepercayaan membabi buta memecah persahabatan, merusak persaudaraan, menghantam orang baik-baik dengan tangan si gila yang kerasukan." Thomas Macauley, sejarawan abad 19, mengatakan, Nazi diakui Voltaire sebagai musuh alami.

Dalam artikel “Dictionnaire Philosophique", ia menulis, “Lorsqu’une fois le fanatisme a gangrené un cerveau, la maladie est presque incurable” (“Tatkala fanatisme telah membusukkan otak, penyakit itu tak akan dapat disembuhkan”). Inilah Gagasan “pertempuran” politik dan ilosois, dengan mengatakan, “Je ne suis pas d’accord avec ce que vous dites, mais je me battrai jusqu’à la mort pour que vous ayez le droit de le dire” (“Saya tidak setuju dengan apa yang Anda katakan, tetapi saya akan berjuang sampai mati agar Anda tetap berhak mengatakannya.”)

Kritikan terhadap pastor dan Gereja Katolik dalam salah satu karyanya, “L’Ingénu” (“Si Lugu”,Yayasan Obor Indonesia, 1989). Tragedi pembantaian penganut Protestan pada hari Saint Barthelemy, Agustus 1572, mengakibatkan 3 ribu orang tewas.

Karya besarnya seperti karya filsafat (Essais sur les Moeurs, 1756, Lettres Philosophiques, 1734, Traités sur la tolérance, 1763, dll.), karya sejarah (Histoire de Charles XII, 1732, Le Siècle de Louis XIV, 1752) yang didasari atas penelitian dan dokumen otentik, sekitar 40 drama (antara lain Zaïre, 1732, Le Fanatisme ou Mahomet le Prophète, 1753, Irène, 1778), kritik sastra, pamlet-pamlet yang berisi kritikan politik, 26 dongeng ilosois (Zadig, 1747, Candide, 1759, L’Ingénu, 1767), dan sekitar 20 ribuan surat pribadi yang berisi gagasan-gagasan tentang berbagai masalah aktual bahkan juga polemiknya dengan pengarang Jean-Jacques Rousseau. Kesemua surat-suratnya senantiasa ditutup dengan kalimat “Ecrasez l’inflame” (Ganyang Barang Brengsek Itu!) Maksudnya “barang brengsek” adalah kejumudan dan fanatisme. Atau “Ecrasons l’inflame”, yang diartikan, “Mari Kita Basmi Kefanatikan”.

Pengarang selalu mencari setting tempat yang jauh, tokoh yang direkayasa agar pembaca terkecoh dan tak mencurigai tujuan sesungguhnya. Seperti karya fiksi LFMP dengan Tokoh Mahomet yang digambarkan sebagai tokoh jahat adalah bagian dari rekaan imajinasi Voltaire, pembaca dituntut memahami yang tersirat di balik yang tersurat dan ia telah menulis kepada Frédéric II: On pourra me reprocher que, donnant trop à mon zèle, je fais commettre dans cette pièce un crime à Mahomet, dont en effet il ne fut point coupable [....] (LFMP, hlm. 17) (“Mungkin saya akan dipersalahkan karena terlalu bersemangat, dalam drama itu saya membuat Mahomet melakukan kejahatan yang sebetulnya tidak pernah dilakukannya.”). Diperkuat dengan pernyataan: “Je sais que Mahomet n’a pas tramé précisément l’espèce de trahison qui fait le sujet de cette tragédie”. (“Saya tahu bahwa Mahomet tidak pernah melakukan jenis pengkhianatan yang merupakan tema tragedi itu”.).

Goethe, karyanya yang dimainkan untuk menyenangkan tuannya, Pangeran Charles-Auguste de Weimar, berbicara tentang hal itu kepada Napoleon yang ia temui di Erfut. Kaisar menjawab: "Saya tidak suka ruangan ini, itu kartun!
- Saya menurut pendapat Yang Mulia, saya telah melakukan ini terhadap jantung. Tapi dalam tragedi ini, ini tirani fanatisme, bukan Islam yang ditargetkan, namun Gereja Katolik.
- Sindiran kata Napoleon, begitu terselubung bahwa itu kurang ajar untuk mendedikasikan karyanya kepada Paus ... yang memberinya restu "(1)..

Voltaire menyerang agama Kristen "paling konyol, agama yang paling berdarah yang pernah menginfeksi dunia. "(Surat kepada Frederick II, King of Prussia, tanggal 5 Januari 1767). Sebaliknya, ia memuji doktrin Islam untuk kesederhanaan: "Ada satu Allah dan Muhammad adalah nabi-Nya”. “Tuhan yang Maha Esa, yang tidak berputra dan bukan putra siapa pun, dan tidak ada makhluk lain yang menyerupai-Nya”.

Ia membantah gambaran yang telah diberikan para sejarawan Eropa dan para ilmuwan lain, “Tak ada agama lain yang memerintahkan zakat. Agama Islam adalah satu-satunya yang telah memasukkannya dalam suatu konsep hukum, positif dan tak dapat ditinggalkan. Al-Qur’an memerintahkan agar orang menyerahkan dua setengah persen penghasilannya, dalam bentuk uang ataupun bahan mentah. Larangan berjudi mungkin merupakan satu-satunya yang tidak ditemukan dalam agama mana pun juga. Semua hukum itu, termasuk poligami, ketat sekali. Doktrinnya yang sederhana menimbulkan hormat dan kepercayaan orang terhadap agama itu.”

Voltaire bersimpati terhadap Kesultanan Islam di Ottoman, Turki yang membiarkan berbagai penganut agama – Islam, Kristen, dan Yahudi – hidup berdampingan dan melaksanakan kegiatan agama dan politik masing-masing, sebagaimana dijarkan nabinya, Voltaire berpendapat “Kalaupun Nabi Muhammad itu adalah pendusta, tapi faktanya beliau berhasil memimpin rakyatnya melakukan penaklukan agung.

Suratnya untuk Raja Frédéric II ia menulis: “Perubahan terbesar yang pernah mengubah dunia adalah pembentukan agama Muhammad. Dalam waktu kurang dari satu abad, orang Islam telah menaklukkan wilayah lebih besar daripada kekaisar-an Romawi [.....] Pastilah ia orang besar yang istimewa, yang telah membina orang-orang besar lain. Tentulah ia seorang martir atau penakluk, tidak setengah-setengah. Ia selalu menang, dan semua kemenangannya direbut oleh pasukannya yang kecil dari tangan pasukan musuh yang besar. Ia adalah penakluk, ahli hukum, pemimpin, serta agama-wan, dan di mata orang biasa, ia memainkan sekaligus semua peranan terhebat yang mungkin dipegang orang di muka bumi ini.”

Tahun 1768-1772 adalah periode terakhir Voltaire study Islam, ia memuji Islam, "agama-Nya yang bijaksana, yang parah, suci dan manusia: bijak karena tidak jatuh ke demensia untuk berhubungan dengan Tuhan, dan memiliki misteri sejak parah membela perjudian, anggur dan minuman keras, dan dia memerintahkan sholat lima kali sehari, suci, karena berkurang menjadi empat wanita ini jumlah luar biasa dari istri yang berbagi tempat tidur dari semua pemuka Timur, manusia, karena kami memesan sedekah, lebih ketat perjalanan ke Mekah. Tambahkan ke semua karakter kebenaran dan toleransi.

"Tidak ada agama di mana tak seorang pun telah merekomendasikan sedekah. Islam adalah satu-satunya yang telah membuat ajaran hukum, positif, penting. Quran [Qur'an] memerintahkan untuk memberikan dua setengah persen dari pendapatan mereka, baik dalam bentuk uang atau barang. Larangan perjudian semua mungkin satu-satunya hukum yang tidak dapat menemukan contoh dalam agama apapun. Semua undang-undang, poligami dekat begitu keras, dan ajarannya sangat sederhana, cepat tertarik pada agama, rasa hormat dan kepercayaan. Terutama dogma keesaan Tuhan disajikan tanpa misteri, dan proporsional dengan kecerdasan manusia, berkisar di bawah pemerintahan bangsa-temannya, dan orang Negro di Afrika, dan pulau-pulau di Samudera Hindia. Yang sedikit saya telah mengatakan semua yang gila sekalipun sejarawan kita, orator dan prasangka kita katakan, tapi kebenaran harus berjuang "(2).

Perubahan terbesar bahwa pendapat telah menghasilkan dunia kita adalah pembentukan agama Muhammad. Muslim, kurang dari satu abad, menaklukkan sebuah kerajaan yang lebih besar dari Kekaisaran Romawi. Ini revolusi, begitu besar bagi kami, adalah, pada kenyataannya, bahwa sebagai sebuah atom yang telah berubah posisi besarnya hal-hal, dan jumlah tak terhitung dunia yang mengisi ruang, tetapi setidaknya satu peristiwa yang akan terlihat seperti salah satu roda dari mesin dari alam semesta, dan sebagai konsekuensi dari yang kekal dan hukum berubah: seperti yang dapat terjadi sesuatu yang telah ditentukan oleh Guru dari segala sesuatu ? Tidak ada yang sebagaimana mestinya.(3)

Itu pasti orang besar, dan membentuk orang-orang besar. Ini harus menjadi martir atau penakluk, tidak ada jalan tengah. Dia dikalahkan selamanya, dan semua kemenangannya dimenangkan dengan jumlah kecil besar. Penakluk, legislator, raja dan Paus, ia memainkan peran yang paling penting kita bisa bermain di tanah di mata orang biasa.(4)

Aku berkata kami tahu Muhammad orang besar tidak ada yang lebih jahat, Anda katakan. Saya akan mengatakan bahwa itu bukan salahku bahwa pria kecil telah mengubah wajah bagian dari dunia, ia telah memenangkan pertempuran melawan tentara sepuluh kali lebih banyak daripada sendiri, ia menggelengkan Kekaisaran Romawi, ia memberikan pukulan pertama ini raksasa yang penerusnya telah jatuh, dan ia adalah anggota DPR dari Asia, Afrika, dan sebagian Eropa. (5)

Sampai akhir hayatnya tetap ambigu terhadap Islam, ada yang positif dan ada yang negatif. Pendapat positif tentang islam ia menyebut golongan Islam “Musulman” atau dogma“soumission” penyerahan diri’, bukan “Mahometans” keanggotaan suatu agama. Ia tetap menganut deisme serta membenci kefanatikan dan dogma-dogma agama yang tidak masuk akal (kristen). Sebelum meninggal, ia berkata kepada sekretarisnya “Je meurs en adorant Dieu, en aimant mes amis, en ne haissant pas mes ennemies, et en détestant la superstition (Saya mati sambil memuja Tuhan, menyayangi teman-teman, tanpa membenci musuh-musuh, tetapi sangat membenci takhayul [fanatisme]”). Deismenya diungkapkan dengan baik, sederhana dalam dongeng-dongengnya, misalnya Zadig ou La Destinée (“Suratan Takdir”, 1747/1989, 136 hlm.)

Kalau tahun 1742, pentas LFMP ketiga dilarang di Paris, walau isinya mengkritik islam tapi para pemuka agama Katolik sadar bahwa sebetulnya Gereja Katoliklah yang menjadi sasaran kritikan dalam drama itu, bukan agama Islam yang saat itu sangat kecil. Anehnya 200 tahun kemudian, setelah Islam di Prancis menjadi agama terbesar kedua. Dipentaskan LFMP tahun 1993 dan 2005 menjadi anakronisme karena situasinya sudah lain. Islam yang bagi Voltaire merupakan “selubung” atau “tameng” atau “sesuatu yang jauh,” pada abad ini, setelah agama itu menjadi bagian masyarakat Prancis, berubah menjadi sasaran karena sudah tidak akurat lagi untuk dijadikan selubung.

Referensi:
1. Jean Prieur, Muhammad, Nabi Timur dan Barat, Editions du Rocher, Paris 2003, hal 215.
2. Voltaire, Essay on Moral, di Faruk Bilici, op. cit.
3. "Catatan untuk melayani sebagai suplemen untuk Pengujian pada Manners" (1763), dalam The Complete Works of Voltaire, Voltaire, ed. Moland, 1875, vol. 24, chap. IX-Dari Muhammad, p. 588
4. "Catatan untuk melayani sebagai suplemen untuk Pengujian pada Manners" (1763), dalam The Complete Works of Voltaire,
5. Voltaire menulis surat ini pada tahun 1760 sebagai tanggapan atas "Kritik Sejarah Universal M. de Voltaire, tentang Muhammad dan Mohammedanism"

Journalis Islam edisi Maulid nabi Muhammad SAW
— bersama Jihad Bertobat, Pdt Bigman Sirait, Mutiara Dari Timur, dan 38 lainnya.

Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fb...4312598&type=1
×