CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Perencanaan Keuangan /
Tips Mengatur Keuangan Untuk Bujangan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/508a499f532acfe77600000b/tips-mengatur-keuangan-untuk-bujangan

Tips Mengatur Keuangan Untuk Bujangan

Tips Mengatur Keuangan Untuk Bujangan


Berikut ini saya coba berbagi tentang cara membagi atau mengatur keuangan anda yang masih bujangan. Sekilas saja mengapa kita perlu mengatur keuangan untuk bujangan, hal ini berkaitan dengan masa depan kita kedepan karena kedepan kita harus memikirkan rencana pernikahan, investasi dan masih banyak lagi lainnya. Karena kebanyakan bujangan blom memikirkan hal tersebut padahal usianya sudah menginjak 25 tahun ke atas...

Alangkah bijaknya kalau kita mencoba membagi keuangan berdasarkan prosentasi menjadi beberapa kelompok. Hal yang dilakukan pertama adalah sisihkan 20-30% penghasilan anda untuk tabungan.

Kedua sisihkan 10-20% untuk dana darurat, hal ini bisa dipergunakan untuk keperluan mendesak yan di luar prediksi misalnya untuk sakit atau keperluan lainnya. Ketiga adalah sisakan 10% untuk investasi, hal ini tidak lain untuk tabungan tambahan masa depan kita.

Keempat adalah sisa dari pembagian di atas sekitar 40-50% dapat digunakan untuk kebutuhan kita sehari hari. Jika pembagian ini dilaksanakan dengan tertib saya berharap kedepannya anda tidak perlu khawatir untuk biaya pernikahan, biaya pembelian rumah.

Semoga bermanfaat

Note:
15 jan 13 - Terima kasih atas atensi yang besar dari agan sekalian ane coba menengahi banyak yang post dan menyarankan agar sadakoh/amal di masukan di dalam anggaran. Ane setuju banget tapi, alangkah baiknya kalo amal/sodakoh timbul karena spontanitas jadi tidak terjadwal dan tidak teranggarkan.

Atau mungkin bisa di masuk kan anggaran tabungan secara tidak langsung. Demikian dari saya semoga bisa jadi pengah. mohon maaf kalo masih juga belum memuaskan sebagian agan2 lain nya.

Tulisan saya jamin saat ini sudah saya rumah pada thread ane. Terima kasih


Quote:





http://konsultasi-aya.blogspot.com/
profile-picture
tata604 memberi reputasi
Diubah oleh mister.ari
Halaman 1 dari 64
Quote:


bukannya mengkritik ya bro, tapi menurut saya persentase itu tidak bisa dijadikan sebagai acuan, saya tidak tau asal mula persentase itu dari mana, tapi mayoritas financial planner sepertinya mengatakan hal yang sama

kalau kita lihat lebih jauh, target mayoritas (pasar) para financial planner ialah karyawan (kantoran), bila kita tinjau karyawan, katakanlah karyawan jakarta, kalau dirata2in penghasilan karyawan jakarta kemungkinan ialah 5 juta, dan kalau dilihat lagi dari biaya hidup di jakarta, maka persentase itu "make sense", yakni 2,5 juta untuk biaya hidup, 1,5 juta untuk di tabung, 500rb untuk investasi, 500rb untuk dana darurat.

tapi bagaimana dengan orang berpenghasilan tinggi, misalkan >50 juta/bulan? apa biaya hidup orang ini juga harus 25juta/bulan, tabung 15juta, investasi 5juta, 5jt dana darurat? tentu saja ini tidak masuk akal

dan juga tidak masuk akal misalnya buat orang yang berpenghasilan rendah katakan 1juta/bulan, bagaimana memaksa mereka mencukupi biaya hidup dengan 500rb/bulan di jakarta?

dan kedua, ada sesuatu yang menggelitik saya, Jika pembagian ini dilaksanakan dengan tertib saya jamin anda tidak perlu khawatir untuk biaya pernikahan, biaya pembelian rumah.

yang jadi pertanyaan saya, bagaimana bisa tidak khawatir bila persentasenya seperti itu? misalkan contoh golongan menengah yang saya sebutin di atas dengan penghasilan 5juta, yang menyisihkan 1,5jt/bulan untuk di tabung, 500rb untuk investasi, dan 500rb untuk biaya darurat

bila misalkan cuma sisihkan 1.5 juta/bulan, dalam setahun dia cuma bisa ngumpulin 18 juta/tahun, dan dalam 5 tahun cuma 90juta

di waktu sekarang ini saja, sangat susah sekali ditemukan rumah di jakarta yang bisa di DP dengan 90 juta (kecuali apartemen "umum", rumah2 dalam gang kecil, rumah2 bermasalah), apalagi 5 tahun ke depan? mungkin 90juta itu tidak akan cukup untuk DP rumah apapun di jakarta di 5 tahun berikutnya

mari katakan orang ini bisa membayar DP rumah dengan uang tabungannya, bulan selanjutnya dia harus membayar cicilan, yang berarti gaji yang dulu dipakai untuk simpanan, sekarang tidak bisa lagi karena bayar cicilan, kekhawatiran pun muncul karena harus mikirkan biaya pernikahan dan tidak bisa menabung, ini adalah contoh pola keuangan yang umum untuk golongan menengah

saya sudah ketemu beberapa anak muda yang secara finansial cukup hebat sebelum umur 30 tahun, semuanya punya kesamaan : mereka bisa menyimpan (perkiraan saya) > 80% dari uang yang didapatkannya, mereka punya cashflow yang bagus, penghasilan mereka pada umumnya berpulu-puluh juta hingga beratus2 juta per bulan, dan mereka tetap ketat terhadap pengeluaran
Diubah oleh PusatDistribusi
kalo bujangannya masi kuliah gimana gan?
Ane masih bujangan dan ane punya prinsip saving/investing first consume the rest and stick to the budget. Soal persentase, hanya masing-masing orang yang tahu yang terbaik untuk kebutuhannya.
ya... persen persenan itu bisa menyesatkan.... mis untuk kariawan biasa yang bergaji 1.5 s/d 2 jt perbulan... rasanya masih belum pas...

kalau ane sih sebaiknya di hitung-hitung dulu berapa pengeluaran standar kita (yang bajib dan gak bisa di hindari) setiap bulannya...(mis: biaya untuk transport, biaya makan, biaya sewa/kost, biaya pulsa, etc...etc...) pokoknya yang wajib keluar tiap bulan, kalo udah ketemu angka rata-rata baru deh ketahuan tinggal berapa sisa pendapatan kita dipotong yang diatas, nah selanjutnya mau diapain nih dana sisa, di tabung ato investasi (bisa juga keduanya kalau dana cukup) ato di tabung terlebih dahulu sampai dirasa cukup baru dipake untuk investasi...
tips yang bermanfaat ini gan
terutama untuk para bujangan emoticon-Big Grin
Quote:


yup ane paham bahwa kondisi tertentu hitungan prosentase di atas tidak bisa digunakan tapi mungkin bisa jadi referensi dan acuan. maaf saya kurang sependapat dengan agan mengenai DP 90juta tidak ada...

menurut saya untuk harga rumah 150juta di daerah bojong gede dan citayam banyak kok juga DP min 30% dari 150juta amaka kita wajib menyediakan uang hanya 45juta++.

So menurut saya kalau urusan rumah bukan gaji yang ngikuti harga rumah tapi sesuaikan harga rumah kita dengan gaji kita.
Quote:


yang saya maksud di jakarta gan, kalaupun ada rumah <300jt itu kemungkinan besar bukan rumah yang "layak" (misalnya rumah di gang2 tikus, rumah yg sudah hampir roboh atau bermasalah).....kecuali apartemen ya, apartemen di jakarta masih ada yg di harga 200 jutaan, makanya sekarang kebanyakan orang jakarta cuma sanggup cicil apartemen

Quote:


bila kamu kerja di jakarta, apa mau beli rumah di bojong gede? di pedalaman2 bahkan ada yang lebih murah dari itu

dan gaji rata2 karyawan kantoran di sana pasti lebih rendah dari jakarta, mungkin cuma 2.5-3juta/bulan

Quote:


Quote:


jadi mana yang bener ini??
saya jadi bingung, agan pusat.distribusi punya solusi lain gak??


tips dengan angka-angka misterius lagi emoticon-Cape d... (S)
Quote:


pada intinya itung-itungan prosentase di atas hanyalah gambaran minimal. Untuk selanjutnya anda bisa mengkodisikan sesuai dengan kebutuhan pada anggaran keungan anda... Silahkan di tulis disini apabila perlu untuk konsultasi. Saya akan coba membantu sebisa saya
nice info emoticon-thumbsup
mudah - mudahan bisa ane terapin
Quote:


menurut ane tetep saja berfungsi kok tips ane di atas, jadi kita belajar untuk mengatur keuangan dengan bijak
menurut anda apakah bujangan harus selalu berfoya2 ?
Quote:


hahahaha om ini terlalu sering bergaul di high end or what?
pernah tanya gaji kurir ekpedisi yang suka jemput barang tempat om gk sih?
dijakarta gaji dibawah 2jt juga masih ada om.
gmana solusi mereka beli rumah
ya beli rumah dipelosok.

mungkin om ini bakalan jawab diluar sana banyak uang bertebaran bla bla bla.
wiw kalo gitu kenapa gk jadi pemain bola aja om kayak messi seminggu gaji miliaran?
kenapa om malah milih bisnis dengan income 50jt+/bulan.

life is not easy , reading a book.
Quote:


yang saya tau yang seperti mereka mayoritas tidak akan pernah beli rumah, melainkan cuma ngontrak, kos atau numpang
orang2 yang seperti yang kamu maksud, kalau mau ajuin kpr di bank juga kemungkinan besar di tolak. saya tidak merendahkan mereka, tapi saya prihatin pada mereka.
dan ada 1 lagi hal menarik tentang orang yang kamu maksud (orang dengan penghasilan < 2 juta di jakarta), pada umumnya mayoritas dari mereka tidak menganggap rumah sebagai aset, kebanyakan harta/barang yang mereka incar ialah motor.
sebenarnya yang saya singgung lebih ke masyarakat menengah dalam hal ini pekerja kantoran, karena persentase yang di turunkan TS sepertinya berasal dari financial planner, dan target utama dari financial planner ialah pekerja kantoran yang memiliki penghasilan pada umumnya 3-5jt/bulan

Quote:

pemain sepak bola bisa berapa lama sih bertanding? paling umur 30an udah ga kepake....itu juga pemain eropa, kalau pemain di indo gajinya berapa ya? hehehe

jadi alasan saya:
- atlet yang benar2 menghasilkan uang itu sangat sedikit, pengusaha yang benar2 hasilkan uang lebih banyak
- pekerjaan utama atlet menggunakan fisik dan seperti kita tahu ada batasan waktunya, pengusaha menggunakan pikiran. tidak ada atlet tua (kalau mereka sudah tua, mereka dinamakan "mantan atlet"), tapi banyak pengusaha tua
- pemain messi menghasilkan milliaran seminggu, pengusahanya mungkin menghasilkan puluhan/ratusan milliar seminggu
Quote:


Nice info gan, tq. Memang harus disesuaikan dengan kondisi, kondisi ini pun sangat luas cakupannya, bisa kondisi gaji, lingkungan, keluarga, keilmuan kita, prospek pekerjaan, dll.

Quote:


Setuju gan, be wise .....

Quote:


Peace gan .... emoticon-Smilie
Mata untuk beberapa orang adalah yang menempel di kepala, dan berfungsi "melihat". Dan bagi beberapa orang lainnya mata juga termasuk abstrak yang bisa merasakan bukan hanya "melihat".
Rumah saya di daerah sawangan (depok), hampir mendekati parung (bogor), sedangkan saya kerja di jakarta. DP sampai 90jt? Well gan, dengan kondisi saya, saya tidak memilih perumahan, tetapi rumah kampung emoticon-Smilie. Sederhana saja pemikiran saya, akan bisa lebih berguna jika uang yang dialokasikan untuk membayar bunga kredit kita alokasikan untuk yang lain.
Standar hidup turun dong jadi orang kampung ? Haahahaha .... masing2 orang pastilah berbeda gan. Saya tidak keberatan sama sekali, justru merasa tenang ketika dirumah. Dan tahukan agan, sebentar lagi musin hujan, tanag lapang dibelakang kampung akan ramai anak2 bermain prosotan, yap termasuk anak saya, hahahahaha.......

Quote:


Peace gan .... kita semua berdiskusi or bertukar pikiran, tidak masalah perbedaan itu ada, justru seharusnya mendewasakan kita, ok gan ?

Quote:


Luar biasa gan !!! Akan datang saat merenung nanti, dan bijaksana menjadi penenang tingkah dan laku.
Menurut saya tips dari TS cukup berguna.
meskipun bukan berarti bisa diaplikasikan untuk seluruh orang.

IMHO, itu tergantung dari Gaya Hidup masing-masing.

Ada yang bisa hidup berkecukupan dan bisa menyisihkan untuk nabung dengan gaji 3jutaan. Tapi ada juga yang gaji sudah diatas 10 juta tapi selalu gak punya "sisa" untuk nabung.

saran dari agan TS bagus, tapi untuk beberapa orang untuk mempraktekannya harus ubah Gaya Hidupnya.

Buat saya sih "pertanyaan" utama nya apakah gaya hidup mengikuti penghasilan atau sebaliknya?
karena keduanya adalah sesuatu yang dinamis dan salah satunya belum tentu bisa mengikuti yang lainnya saat ada perubahan.
Diubah oleh Googee
Quote:


yup bener setuju ane gan... pada prinsipnya sih kebutuhan masing-masing berbeda emoticon-I Love Indonesia (S) tetapi jika tujuan sama maka sistem pengelolaan keuangannya akan hampir-hampir sama sih menurut ane
Quote:


- yang om bilang itu gaji dijakarta 5jt, kalo dipinggiran jadi 2-3jt.
orang dibayar gk selalu lebih tinggi dijakarta lebih ke berapa yang dihasilkan untuk perusahaan.
-ya kalo yang seperti mereka penghasilan 2-3jt. solusi beli rumah ya minggir dari jakarta atau masuk gang.

-yang saya tanya kenapa om dan saya gk jadi pemain bola saja?

atau kalo alibi nya seperti itu, kenapa om gk niru waren buffet aja jadi investor saham ?
Halaman 1 dari 64


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di