alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016645744/setiap-bulan-oktober-november-adalah-musim-tawuran-pelajar-tanya-kenapa
Setiap Bulan Oktober-November adalah Musim Tawuran Pelajar. Tanya, Kenapa?

TAWURAN PELAJAR: SMA 6 Vs SMA 70 Bulungan Jaksel Sudah Mentradisi
Selasa, 25/9/2012

Petugas kepolisian memperlihatkan sejumlah barang bukti senjata tajam yang disita dari pelajar yang melakukan tawuran, di kantor Polsek Pancoran Mas, Depok, Jabar, Senin (17/9/2012). (Foto: Dokumentasi)

JAKARTA–Tawuran antarpelajar SMA kembali pecah di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan, pada Senin (24/9/2012). Seorang pelajar bernama Alawy Yusianto Putra, meninggal sebagai korban. Tiga orang lagi luka-luka

Perkelahian antarpelajar di kawasan Bulungan biasanya melibatkan siswa SMA 6 dan SMA 70 dan sudah berjalan cukup lama dari generasi ke generasi. Kedua institusi pendidikan itu sebenarnya termasuk sekolah favorit.

Pada 5 Oktober 1981, di kawasan Bulungan ada tiga SMA yaitu 6, 9 dan 11. Ketika itu terjadi sering terjadi tawuran antara siswa SMA 7 dan SMA 9. Untuk meredakan aksi kekerasan itu, kemudian kedua sekolah digabung menjadi SMA 70.

Sejak itu, perkelahian antarapelajar di seputaran Bulungan menjadi reda. Era 1990-an, perkelahian bergeser ke wilayah lain di Jakarta danpinggiran ibukota, biasanya melibatkan pelajar STM dan sekolah swasta.

Entah mengapa, setelah era 2000-an, muncul lagi tradisi tawuran di seputaran Bulungan yang melibatkan SMA 6 dan SMA 70, bahkan sampai menelan korban meninggal. Pembicaraan tentang kekerasan di kalangan pelajar tersebut menjadi pembicaraan yang cukup hangat di media massa dan jejaring sosial.

Sebagaimana diberitakan Solopos.com sebelumnya polisi mengungkapkan terduga pelaku pembacokan siswa SMAN 6, Alawy Yusianto Putra, adalah FT, siswa SMAN 70, yang memiliki catatan kriminal dan dua kali tidak naik kelas meskipun sekolahnya kategori unggulan.

Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan AKBP Hermawan mengatakan kepolisian tengah mengejar FT yang diduga kabur setelah melakukan pembacokan Awaly. Namun, polisi telah mengamankan barang bukti tindakan kriminal tersebut.

“Yang diduga pelaku berinisial FT, itu umurnya sudah dewasa dan dua kali tidak naik kelas,” ujarnya kepada pers di Jakarta, Selasa (25/9/2012).

Dia mengungkapkan FT memiliki catatan kriminal yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Menurutnya, FT pernah disangkakan pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan bersama-sama dan pasal 351 KUHP tentang pengeroyokan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

Namun, dalam kasus tersebut FT lolos dari jerat hukum. Anehnya pelapor mencabut tuntutan kepada FT. Tak ada penjelasan kenapa pelapor melakukan pencabutan tuntutan. “Cuma pelapornya mencabut laporan dan gugatannya,” kata Hermawan.

Kali ini FT kemungkinan dikenai tuntutan yang hampir sama, yakni pasal 170 KUHP ayat 2 dengan ancaman 12 tahun penjara. Selain itu, pasal 351 ayat 3 karena menyebabkan korban meninggal dunia dengan ancaman 7 tahun penjara dan pasal 338 dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

“Saksi yang lihat pembunuhan itu cuma 1 orang, tidak terlihat orang lain yang memukul korban. Makanya pasal 338 yang dimasukkan. Kalau pasal 170 itu kan bersama,” terangnya.

Perkelahian antara siswa SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta pecah di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan, Senin (24/9/2012). Tawuran itu menyebabkan Alawy, 15, siswa SMAN 6 kelas X, tewas akibat luka sabetan benda tajam di bagian dada.

Padahal Alawy tidak melakukan tawuran. Dia tengah makan di sekitar lokasi. Pada saat kejadian, dia mencoba menyelamatkan diri bersama temannya. Namun, siyalnya siswa belia itu terjatuh dan ditebas oleh FT.

Polisi saat ini masih memburu FT yang diduga kabur setelah melakukan pembacokan. Namun, polisi telah mengamankan golok yang diduga dipakai melakukan pembacokan.

“Pelaku sampai sekarang belum ketangkap. Posisi dia di mana, itu belum diketahui. Sekarang polisi sedang memburu pelaku,” kata Hermawan.

Apabila FT pernah melakukan tindakan kriminal dan tidak naik kelas, tentu kontradiksi dengan status SMAN 70 yang berstatus sekolah unggulan. Pasalnya siswa apabila tak naik kelas sekali bakal diminta keluar, sesuai dengan perjanjian awal masuk sekolah
http://www.sragenpos.com/2012/tawura...tradisi-332727


----------------------

Kayaknya, ada yang suka melihat ana-anak kita jago berantemsejak dini tuh!
[quote]TAWURAN PELAJAR MEMPRIHATINKAN DUNIA PENDIDIKAN
Mei 15

Perkelahian, atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar. Bahkan bukan “hanya” antar pelajar SMU, tapi juga sudah melanda sampai ke kampus-kampus. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja.

Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran ini sering terjadi. Data di Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga perkelahian di tiga tempat sekaligus.


DAMPAK PERKELAHIAN PELAJAR

Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia.

PANDANGAN UMUM TERHADAP PENYEBAB PERKELAHIAN PELAJAR

Sering dituduhkan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah kejuruan, berasal dari keluarga dengan ekonomi yang lemah. Data di Jakarta tidak mendukung hal ini. Dari 275 sekolah yang sering terlibat perkelahian, 77 di antaranya adalah sekolah menengah umum. Begitu juga dari tingkat ekonominya, yang menunjukkan ada sebagian pelajar yang sering berkelahi berasal dari keluarga mampu secara ekonomi. Tuduhan lain juga sering dialamatkan ke sekolah yang dirasa kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang harmonis dan sering tidak berada di rumah.

Padahal penyebab perkelahian pelajar tidaklah sesederhana itu. Terutama di kota besar, masalahnya sedemikian kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat misalnya), serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota.

Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya.

TINJAUAN PSIKOLOGI PENYEBAB REMAJA TERLIBAT PERKELAHIAN PELAJAR

Dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu (sering disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar. Bila dijabarkan, terdapat sedikitnya 4 faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar.

1. Faktor internal. Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang / pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan.

2. Faktor keluarga. Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirnya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya.

3. Faktor sekolah. Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itu masalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya.

4. Faktor lingkungan. Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota (bisa negara) yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi.
http://www.kpai.go.id/publikasi-main...endidikan.html
mejeng dulu ah , wkwkw

asdasd
Quote:Original Posted By bezaliel97
mejeng dulu ah , wkwkw

asdasd


ente kira ini lounge pake kode buntut segala "asdasd" emoticon-Hammer (S)

===============================================
tawuran kok ada waktunya segala.
sepertinya ada bawaan dari masalalu baik dari alumni maupun senior.
harus secepatnya dicarikan solusi agar tawuran pelajar tidak timbul lagi.
mulai dari sejak sma suka tawuran begitu lulus jadi mahasiswa jadi tawuran jg, mendingan yg tawuran jgn kasi lulus dlu dah
Wah, sudah saatnya bapak jokowi beraksi. Bisa ga ya? Btw denger2 dari berita di tipi kemaren sore, ada yang meninggal lagi akibat tawuran?katanya sih dadanya kena bacokan parang gitu emoticon-Takut . Makin macem preman aja pelajar jaman sekarang. Dulu sekolah ane juga kayak gitu gan, terkenal tawurannya, tapi sekarang udah dikenal karena prestasinya emoticon-thumbsup
wah semakin miris lihat kelakuan pelajar sekarang....
emoticon-Berduka (S)
Klo ditanya kenapa? mungkin karena pengaruh juga kali ya, liat aja di tv, ada aja sifat2nya yang menjurus kearah kekarasan, kyk bentrok ormas, demo rusuh. selain itu, pengaruh film2 luar yang menjurus kearah kekerasan fisik dan non fisik.

ditambah lagi kurangnya pembinaan di sekolah, dan minimnya pengawasan orang tua, serta budaya kekerasan disekolah seperti bullying juga harus diperhatikan. pengaruh2 senior kepada juniornya, serta mencontoh alumni2 yang mungkin sebelumnya juga sering tawuran.
ini akibat kurangnya pendidikan akhlak, baik di rumah ataupun di sekolah
juga karena terbatasnya kegiatan" positif untuk anak" remaja
masih jama ya tawuran" :capede
emang ga ada gawean yang lebih baek lagi apa ya....
masih kagak mengerti kenapa ke2rasan itu bisa dihubungkan dengan tingkat ekonomi se2orang juga, apa kalau tingkat ekonomi se2orang tinggi orang menjadi lebih penyabar dan tidak ada ke2rasan emoticon-Bingung (S) emoticon-Bingung (S)

menurut ane kelakuan se2orang atau kelakuan seorang anak tergantung makanan apa yg diberikan orang tuanya, kalau makan yg diberikan dari barang yg halal tentunya makan itu menjadi daging yg baik untuk anaknya begitu juga sebaliknya
udah kaga aneh sih
perkembangan MAHO udeh ngajamur main kroyokan
emang kaga ada otak emang bayar sekolahnya pake daon
tanyakan pada rumput yang bergoyang... emoticon-Cool
soalnya bulan okt-nov lagi musim 'pembinaan' siswa/mahasiswa baru dimanapun. buat SMA 70 dan 6 kasusnya pembinaan kek siswa2 baru buat bales dendam atau uji nyali ke sekolah musuh.

SMA 6 katanya taun kemaren mau ngurangin siswa cowo..mana? ga jadi atau ga efektif? mindahin SMA 6 sih ga bakal ngaruh ya..anak2 SMA 70 masih banyak musuhnya. cuma berkurang satu mah ga berasa.. emoticon-Cape d... (S)
kenapa oktober-november musim tawuran?

karena pada bulan itu anak2nya di 'bina' untuk nama julukan dari senior emoticon-Stick Out Tongue
karena desember udah mulai tutup buku gan..abis tahun.. emoticon-Big Grin
kata pakar sebelah, densus juga menangkap teroris pada bulan2 tsb krn akan ada pencairan dana di awal tahun.
jangan2 para pelajar itu juga terlibat konspirasi emoticon-Takut (S)
gak nyambung sama judulnya,,
Quote:Original Posted By Kurani
tanyakan pada rumput yang bergoyang... emoticon-Cool


kata2 nya bener mengena sekali emoticon-2 Jempol