Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016339711/hati2-bencana-kekeringan-krisis-pangan-bisa-memicu-munculnya-kerusuhan-plus-revolusi
Hati2 Bencana Kekeringan: Krisis Pangan bisa Memicu Munculnya Kerusuhan Plus Revolusi
Hati2 Bencana Kekeringan: Krisis Pangan bisa Memicu Munculnya Kerusuhan Plus Revolusi

Kekeringan Terkait Cadangan Pangan
03-09-2012 00:00

Kekeringan yang melanda beberapa wilayah di Indonesia, selain mengakibatkan defisit/krisis air bersih bagi penduduk, juga menyebabkan sawah dan ladang yang tak dapat diairi sehingga bisa tidak menghasilkan produksi padi seperti yang diharapkan. Kekeringan telah melanda sejumlah wilayah Indonesia. Pada periode Januari hingga Juli 2012, luas kekeringan lahan sawah telah mencapai 53.320 hektare, dengan angka gagal panen atau puso sebesar 1.358 hektare.

Menurut Direktur Perindungan Tanaman Pangan Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Erman Budiyanto, kontribusi kekeringan terluas tahun ini berasal dari Jawa Barat seluas 18.619 hektare dengan puso 111 hektare, diikuti Jawa Timur seluas 11.155 hektare dengan puso 996 hektare.

Data Ditjen Tanaman Pangan menunjukkan, kekeringan lahan terjadi hampir di seluruh Pulau Jawa. Selain di Jawa Barat dan Jawa Timur, di Jawa Tengah tingkat kekeringanya mencapai 7.568 hektare dengan tingkat puso seluas 23 hektare. Sementara di Luar Jawa, kekeringan melanda Sulawesi Selatan seluas 8.887 hektare, Sumatra Utara seluas 3.833 hektare, dan Aceh seluas 1.636 hektare.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir, menyebutkan, jika dilihat dari kondisi riil di lapangan, tingkat kekeringan tahun ini lebih parah dibandingkan periode tahun lalu. Jika ditelusuri hingga tingkat kecamatan, rata- rata kekeringan sudah mencapai 50 persen. "Prediksi saya, kekeringan lebih berat tahun ini, hasil laporan dari petani di beberapa provinsi, seperti Jawa Tengah dan Jawa Barat bahkan mencapai 50 persen. Di Indramayu dengan luas lahan sekitar 120 ribu hektare, tingkat kekeringannya sudah 60 hektare, itu terjadi karena air semakin berkurang," katanya.

Sementara itu, beberapa daerah di Jawa Barat yang bergantung dari pasokan air dari Waduk Jatiluhur masih bisa menunggu giliran irigasi, sedangkan daerah yang tidak terjangkau pasokan air dari waduk itu tinggal menunggu giliran kekeringan. Pada Agustus ini, tingkat kekeringan bakal meningkat karena sudah tidak ada hujan dan waduk skala di bawah 25 miliar kubik, seperti setu, debitnya sudah menyusut drastis dan cenderung kering. Dengan kondisi tersebut, Winarno memprediksi luas kekeringan bakal lebih luas dari data yang di paparkan Kementerian Pertanian, dan itu juga berdampak pada meningkatnya luas puso.

Dinas Pertanian Jabar menuruit Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan, Unef Primadi, menyiapkan 6 strategi khusus untuk mengantisipasi dampak kekeringan tahun ini. Pertama, melakukan rapat koordinasi di empat wilayah di Provinsi Jabar, kedua, pemantauan secara intensif oleh petugas lapangan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Langkah ketiga, gerakan percepatan tanam oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), keempat, pengairan sistem gilir giring dan membuat sumur pantek. Kelima, pada lokasi puso diusulkan bantuan benih dari cadangan benih nasional dan terakhir, dengan hibah melalui perbaikan irigasi di tingkat desa.

Secara keseluruhan, petani memang bisa menanam padi setidaknya dua kali dalam setahun. Dampaknya, panen padi pada tahun ini diperkirakan lebih tinggi dibanding tahun lalu. Laporan dari Badan Pusat Statistik berdasarkan angka ramalan I menunjukkan peningkatan produksi padi tahun ini sebesar 4,31 persen dibanding tahun lalu menjadi 68,59 juta ton gabah kering giling. Awal Juni, pengadaan beras oleh Perum Bulog juga menunjukkan peningkatan yang lebih baik dibanding tahun lalu. Bulan lalu pengadaan telah mencapai 2,1 juta ton. Tahun lalu pengadaan beras oleh Perum Bulog jauh lebih rendah dibanding angka itu.

Dengan demikian impor beras yang dilakukan oleh Perum Bulog tahun ini diperkirakan lebih rendah dibanding tahun lalu. Bahkan, Perum Bulog menyebutkan, tahun ini tidak diperlukan tambahan impor beras. Tetapi, ini barulah prediksi. Antisipasi pemerintah Sementara itu Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menyebutkan, saat musim kemarau, defisit air terjadi selama tujuh bulan. Surplus air berlangsung lima bulan saat penghujan. Diproyeksikan tahun 2020 potensi air yang ada hanya 35 persen yang layak dikelola yaitu 400 m3 per kapita per tahun.

Angka tersebut, katanya, jauh dari standar minimum dunia 1.100 m3 per apita per tahun. Sejak tahun 2003 terdapat 77 persen kabupaten/kota di Jawa yang mengalami defisit air selama 1-8 bulan dalam setahun. Bahkan sebanyak di 36 kabupaten/kota defisit air mencapai 5-8 bulan dalam setahun. "Jadi bukan hal yang aneh jika saat ini terjadi dampak kekeringan, khususnya di Jawa. Distribusi air, hujan buatan, pemboran sumur adalah solusi singkat yang belum mengatasi masalah ini secara tuntas," ujarnya.

Dia menyebutkan perlunya upaya penyediaan air secara besar-besaran. Pembangunan waduk, bendung, embung, dan pengelolaan DAS dapat mengatasi masalah yang ada. Namun ini perlu dukungan politik, dana, dan partisipasi masyarakat yang besar. Pembangunan waduk besar saat ini sulit dilakukan di Jawa. Kemarau panjang tahun ini misalnya, telah membuat beberapa daerah di Sumenep kering kerontang, bahkan Pulau Talango dan Pulau Giligenting kini dilanda krisis air bersih dan terpaksa dipasok air bersih oleh Pemkab Sumenep melalui Perusahaan Daerah Air Minum.

Moh Ramsi Kholil (41), tokoh Desa Cabbiye, Kecamatan Talango menyebutkan, sejak dua pekan ini warga di sana sulit mencari air bersih. Semua sumber air termasuk sumur rakyat yang tadinya menjadi tempat mengambil air bersih, kini sudah kering kerontang. Jangankan untuk mengairi sawah, buat kebutuhan mandi dan mencuci saat ini, warga menggunakan air sungai. Sedangkan air minum dan memasak terpaksa membeli di Kecamatan Kalianget, Sumenep. "Harganya cukup mahal, untuk satu jerigen ukuran 20 liter Rp25 ribu, masih ditambah ongkos sampan Rp3.000," katanya.

Pemerintah memang telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi menghadapi kemungkinan terjadinya kemarau panjang yang dapat mengganggu produksi dan ketersediaan pangan di dalam negeri antara lain menambah infrastruktur pertanian terkait irigasi, memastikan ketersediaan dan terkelolanya embung atau cekungan penampungan air serta pompanisasi di daerah tertentu yang kesulitan air saat kemarau panjang.

Dari sisi ketersediaan bahan pangan, pemerintah menyiapkan rencana bila terjadi gagal panen, sehingga tidak sampai memengaruhi ketersediaan bahan pangan yang dibutuhkan masyarakat. "Kita mulai pikirkan dari mana menutupnya. Kita antisipasi tapi juga bekerja," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai rapat koordinasi bidang pangan dan pertanian di Kantor Kementerian Pertanian, awal Agustus lalu.

Itu sebabnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan Rencana Aksi Terpadu dalam menghadapi kekeringan tahun 2012. Badan ini bakal memprioritaskan penanganan kekeringan di 9 provinsi, yaitu Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Barat. Langkah pertama yang bakal dilakukan adalah mendistribusikan air bersih ke sembilan provinsi itu melalui tangki, penyediaan pompa air, pembuatan sumur pantek atau sumur bor, hujan buatan, pembangunan embung atau reservoir, dan pengaturan pemberian air untuk pertanian dengan sistem gilir giring.
http://media.hariantabengan.com/inde...atext/id/28734


---------------

Dampak kekeringan yang bisa berakibat buruk untuk produksi padi nasional, jelas sudah di depan mata. Kalau kemarau sampai Januari 2013, pasti akan banyak sekali wilayah penghasil beras dan pangan lainnya di seluruh tanah air, akan mengalami gagal panen. Dan itu artinya ada ancaman terhadap keamanan pangan nasional bila stock beras yang bisa di simpan oleh BULOG sangat tipis dan sedikit. Mudah-mudan Pemerintah dan Elit Nasional tak mengabaikan fenomena ini hanya akibat semakin dekatnya masa Pemilu 2014 kelak, sehingga semua urusan hanya di fokuskan kesana.

Harap diketahui saja, kekurangan stock pangan atau langkanya pangan (terutama beras) sehingga berdampak pada harga beras/pangan yang menjadi melambung sehingga tak terjangkau lagi oleh rakyat kebanyakan (apalagi kalau stocknya pun terbatas), bisa berakibat buruk bagi stabilitas keamanan nasional. Orang bisa saja memberontak karena beras mahal dan tak terbeli lagi atau langka. Kalau rakyat lapar dan marah, hanya soal waktu saja terjadi pergolakan akibat kelaparan seperti itu. Sebuah revolusi sosial akan sangat mungkin terjadi (coba baca artikel ini). Dalam sejaran nasional kita, peristiwa revolusi 1945, peritiwa 1965, dan Reformasi 1997 lalu ... semua di awali dengan krisis yang menyebabkan pangan (khususnya beras) menjadi mahal, tak terbeli dan langka, sehingga rakyat pun memberontak. Kasus terakhir itu, Revolusi Mesir tahun lalu, yang terjadi akibat harga roti dan daging di negeri bekas Fir'aun itu, tak lagi bisa dijangkau rakyat kecil. Juga yang terjadi di Aljazair. Apa kita mau mengulangi pula? Kalau semua masa bodoh, bisa jadi pesta demokrasi 2014 kelak akan gagal total, sebab rakyat keburu merevolusi Pemerintahannya akibat krisis pangandi negeri ini telah menyadari akan hal ini? Wallahu'alam bi syawab.
Hati2 Bencana Kekeringan: Krisis Pangan bisa Memicu Munculnya Kerusuhan Plus Revolusi

Cadangan beras nasional rendah
Selasa, 4 September 2012 20:31:00

Di tengah ancaman musim panas yang panjang, muncul kekhawatiran akan ketahanan pangan nasional. Terlebih, cadangan beras nasional diakui masih rendah. Pemerintah mengaku tengah berupaya untuk menjaga ketahanan pangan dalam negeri. Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyebutkan, pemerintah memiliki target cadangan beras nasional sebesar 2 juta ton. "Sekarang kan cadangan beras kita rendah sekali cuma 500.000 ton cadangan beras pemerintah, Nah yang kita lakukan sekarang ini, kita upayakan untuk memproduksi," ungkap Hatta usai rapat koordinasi bidang pangan di kantornya, Selasa (4/9).

Besaran cadangan beras nasional perlu dijamin agar Bulog bisa menjalankan perannya melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas harga beras. Hatta menyebutkan, untuk bisa melakukan intervensi, minimal cadangan beras nasional di kisaran 200.000 ton. "Tim ini bekerja dalam rangka bagaimana upaya kita meningkatkan peran bulog sebagai stabilisator harga bahan pangan pokok. Pada dasarnya, stabilitas harga pangan dan ketersediaan pangan itu sumber utamanya adalah kecukupan produksi nasional kita, ini basic, oleh sebab itu upaya kita adalah upaya terus menerus meningkatkan ketahanan pangan kita dengan cara swasembada," papar Hatta.

Disinggung mengenai kondisi pangan nasional, Hatta meyakini dalam kondisi yang baik meskipun di musim kering yang diperkirakan bakal panjang. Bahkan, Hatta menyebut Indonesia masih akan surplus beras tahun ini. "Kemungkinan kita bisa surplus di angka 3 persen. Namun demikian, kita juga bertekad berjaga, mengantisipasi mengingat musim kering, harga pangan meningkat," katanya.

Dari sisi dukungan pendanaan sebagai antisipasi krisis pangan, mantan Menteri Perhubungan menyebutkan bahwa pemerintah sudah mengalokasikan anggaran negara yang bisa digunakan sewaktu-waktu. "Rp 1,4 triliun itu Mentan akan segera mengajukan penggunaannya untuk mengatasi kekeringan dan Puso pada petani kita. kita antisipasi jangan sampai terganggunya beras kita," imbuhnya. Untuk menjaga cadangan beras nasional, pemerintah tidak menutup ruang untuk kebijakan impor beras. Hatta menuturkan, jika nantinya keran impor beras dibuka, pemerintah berharap semua pihak memahami bahwa kebijakan tersebut konteksnya untuk berjaga-jaga.
http://www.merdeka.com/uang/cadangan...al-rendah.html


Hati2 Bencana Kekeringan: Krisis Pangan bisa Memicu Munculnya Kerusuhan Plus Revolusi

[PBB Peringatkan Berlanjutnya Fluktuasi dan Tingginya Harga Pangan Sampai 10 tahun ke Depan
Selasa, 28 Agustus 2012 02:54 WIB

Paris (ANTARA News) - Fluktuasi dan tingginya harga pangan akan terus bertahan dan negara-negara perlu memastikan bahwa mereka memiliki stok yang cukup, kepala lembaga pangan PBB mengatakan dalam sebuah wawancara pada Senin. "Harga pangan akan tetap tinggi dan akan berfluktuasi dalam 10 tahun ke depan," kata Ketua Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Jose Graziano da Silva dalam sebuah wawancara dengan harian Prancis Le Monde, lapor AFP. "Untuk menjaga ketahanan pangan dan menghadapi harga yang lebih tinggi, masing-masing negara harus memastikan bahwa mereka memiliki stok untuk menutupi kebutuhan mereka untuk antara satu minggu hingga satu bulan," ia menambahkan.

Indeks Harga pangan (FPI) FAO, sebuah ukuran perubahan bulanan dalam sekeranjang komoditas pangan, melonjak enam persen pada Juli, karena kekeringan mengirimkan harga jagung dan gandum melonjak. Graziano mengatakan, situasi ini tidak mengancam seperti pada 2007-2008 ketika harga pangan melonjak dipicu kerusuhan, sehingga harga beras, yang merupakan makanan pokok terbesar, tetap stabil.

Dia memperkirakan bahwa koordinasi internasional telah meningkat berkat inisiatif untuk meningkatkan transparansi di pasar pertanian yang dibawa oleh Kelompok 20 ekonomi utama (G20). Prancis, Meksiko dan Amerika Serikat yang akan mengadakan konferensi jarak jauh pada Senin, untuk membahas apakah akan mendesak pertemuan G20 untuk merencanakan tanggapan terhadap kenaikan harga."Pertemuan pertama forum ini tidak boleh ditafsirkan sebagai tanda panik, namun keinginan untuk koordinasi yang lebih baik," kata Graziano.

Dia mendesak negara-negara untuk menghentikan penggunaan tanaman pangan seperti jagung untuk menghasilkan bahan bakar, namun mengatakan masalah seperti itu dapat dihindari di masa depan karena kemajuan teknologi biofuel (bahan bakar nabati) dan non-tanaman pangan yang semakin banyak digunakan.
http://www.antaranews.com/berita/329...a-harga-pangan
yang ane takutin entar adalah musim paceklik, dimana tingkat kriminalitas semakin tinggi

maling, jambret atau apapun namanya bakalan merajalela
Padahal musim ujan tahun kemarin panjang bgt & musim kemarau tahun ini khan efektif baru mulai juli-agustus....baru juga mau 3bulan musim kemarau udah kelabakan kita
Bisa kita cegah klo kita semua ada kemauan, catchment area hendaknya jangan digunakan untuk bangunan apapun, harus ada keberanian masyarakat untuk menolak pembangunan didaerah2 catchment area dan daerah pertanian,...
Quote:Original Posted By asnug1125
Bisa kita cegah klo kita semua ada kemauan, catchment area hendaknya jangan digunakan untuk bangunan apapun, harus ada keberanian masyarakat untuk menolak pembangunan didaerah2 catchment area dan daerah pertanian,...


kelaparan atau kekurangan pangan selama bisa di lokalisir, terutama di luar jawa saja, tak mengapalah. Masalahnya langsung bisa teratasi. Tinggal cari gudang BULOG yang cukup cadangannya, kerahkan HERCULES menganggkutnya ke wilayah krisi, semua segera bisa teratasi.

Masalah akan muncul kalau krisis pangan itu terjadi di Jawa yang berpenduduk padat itu. Sebab, cadangan pangan dari wilayah Timur ke Barat atau sebaliknya, dengan mudah bisa mengalir. Agak sulit mengatasi dan memendungnya!
tenang aja kalee....kan masi bisa import...
emang kudu ati2, karena revolusi di tunisia, mesir tuh awalnya karena krisis pangan
Quote:Original Posted By dadoel


Kabarnya, banyak konflik di negara-negara AFRIKA yang tak pernah henti ...

salah satunya akibat penduduknya kesulitan memenuhi pangan itu, gan!


:


logika tanpa logistik adalah anarkis
Yang penting kan kebebasan berpendapat
×