alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000014486981/travelista-palembang-kotanya-sejarah
[Travelista] Palembang, Kotanya Sejarah
[Travelista] Palembang, Kotanya Sejarah

[Travelista] Palembang, Kotanya Sejarah

PROLOG
Apakah yang timbul di benak Anda setelah mendengar kata “Palembang”? Kemungkinan besar sekali yang terlontar dari bibir adalah kota asal ‘kue’ ikan pempek dan Sungai Musi, yang sering kali dikonotasi secara negatif sebagai “WC terpanjang di dunia”. Atau, jika Anda biasa berbisnis atau malakukan kegiatan perdagangan, kota pelabuhan dan pusat komersial di Sumatera bagian Selatan. Ya, ketiganya jelas benar. Tapi, bagaimana apabila Anda ditanya mengenai wisata ke kota ini? Wah, yakin sekali kalau hampir semua akan mencari tempat lain yang lebih menyenangkan sebagai tempat pelesir, misalnya Bali, Jogja, Batam, Bandung, atau bahkan Bangka-Belitung. Warga kota Palembang sendiri berpikir, “nak ke mano bae di Plembang? Katek apo-apo di sini” (mau ke mana saja di Palembang, tidak ada apa-apa di sini). Hal ini bisa dimaklumi karena kota ini terletak jauh sekali dari laut maupun pegunungan, dibanding kota-kota dan tempat lain yang sudah disebutkan tadi. Hal ini juga membuat kota ini merupakan salah satu kota dengan temperatur rata-rata tertinggi di Indonesia, yang justru membuat kota ini awalnya dihindari oleh turis karena membosankan dan penat.

Namun, siapa sangka di balik semua kekurangannya ini kota Palembang merupakan permata tersembunyi, hidden jewel? Palembang sendiri merupakan warisan sejarah yang luar biasa. Palembang diperkirakan sudah berdiri sejak awal abad ke-7 dan telah melewati periode sejarah Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang, era kolonial Belanda, sampai masa kemerdekaan Indonesia dan seterusnya. Kota ini pertama kali dicatat dalam sejarah sebagai ibukota Kerajaan Sriwijaya yang kesohor itu. Berdasarkan kronik Tiongkok, nama Pa-lin-fong yang terdapat pada buku Chu-fan-chi yang ditulis pada tahun 1178 oleh Chou-Ju-Kua dirujuk kepada Palembang. Kemudian sekitar tahun 1513, Tomé Pires seorang petualang dari Portugis menyebutkan Palembang, telah dipimpin oleh seorang patih yang ditunjuk dari Jawa yang kemudian dirujuk kepada kesultanan Demak serta turut serta menyerang Malaka yang waktu itu telah dikuasai oleh Portugis.

Palembang muncul sebagai kesultanan pada tahun 1659 dengan Sri Susuhunan Abdurrahman sebagai raja pertamanya. Namun pada tahun 1823 kesultanan Palembang dihapus oleh pemerintah Hindia-Belanda setelah pemberontakan Raja Palembang Sultan Mahmud Badaruddin II. Setelah itu Palembang dibagi menjadi dua keresidenan besar dan pemukiman di Palembang dibagi menjadi daerah Ilir dan Ulu.

Sebagai kota yang menjadi pusat perdagangan sejak zaman Sriwijaya, kota ini memiliki banyak warga keturunan pendatang dan asing. Selain penduduk asli Palembang dan Sumater Selatan lainnya, di Palembang terdapat pula warga pendatang dan warga keturunan, seperti dari Jawa, Minangkabau, Madura, Bugis dan Banjar.Warga keturunan yang banyak tinggal di Palembang adalah Tionghoa, Arab dan India. Kota Palembang memiliki beberapa wilayah yang menjadi ciri khas dari suatu komunitas seperti Kampung Kapitan, 16 Ilir, Jalan Dempo, dan Segaran yang merupakan wilayah Komunitas Tionghoa serta Kampung Al Munawwar, Kampung Assegaf, Kampung Al Habsyi, Kuto Batu, 19 Ilir Kampung Jamalullail dan Kampung Alawiyyin Sungai Bayas 10 Ilir yang merupakan wilayah Komunitas Arab.

Pada tanggal 27 September 2005, Kota Palembang telah dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai "Kota Wisata Air" seperti Bangkok di Thailand dan Phnom Penh di Kamboja. Sejak saat itu, kota Palembang dikembangkan sebagai lokasi pariwisata, walaupun dengan handicap yang sudah dijelaskan sebelumnya dan belum optimalnya sarana maupun kemauan dari hampir semua pihak.

Ini dia lokasi-lokasi yang saya kunjungi di Palembang:
Spoiler for sorry rada gedean:


Lanjut di bawah

PERJALANAN

Saya memulai perjalanan dari Jakarta menggunakan penerbangan Lion Air pada pukul 15.00 WIB dan tiba satu jam kemudian di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) yang modern, tetapi somehow underused. Melalui jalur udara, banyak sekali pilihan yang dapat diambil untuk menuju Palembang. Dari Jakarta sendiri, Garuda Indonesia memiliki 8-10 penerbangan sehari menuju Palembang, sedangkan Lion Air, Sriwijaya, dan Batavia memiliki masing-masing 15, 3, dan 1 penerbangan setiap harinya. Melalui Bandung, Anda dapat memilih Merpati, yang menggunakan pesawat MA-60 via Tanjung Karang, Lampung. Sedangkan dari Batam ada penerbangan Wings Air dan Batavia Air. Penerbangan lainnya adalah Sky Aviation yang melayani rute Bangka-Belitung- Palembang. Penerbangan internasional dapat ditempuh dari Kuala Lumpur dan Singapura, keduanya 3 kali seminggu masing-masing dengan AirAsia dan Silk Air.
Apabila dana Anda cekak dan berniat untuk melakukan perjalanan ala backpacker, Anda dapat memilih perjalanan darat menggunakan bermacam pilihan bus AKAP atau kereta Limex dari Bandar Lampung. Perjalanan dengan bus dapat ditempuh dari Jakarta dan Bandung masing-masing 14 dan 16 jam, sedangkan menggunakan kereta, Anda harus bersabar karena seringnya kereta untuk berhenti cukup lama di setiap stasiun dan pelayanan yang sejauh ini kurang memuaskan, berbeda dengan kereta api di Jawa. Rute laut dapat ditempuh dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Pelabuhan Boom Baru dan kelak, Pelabuhan Tanjung Api-Api, namun memakan waktu lama sekali (bisa 2 hari), sehingga saya tidak merekomendasikan cara ini.

Spoiler for foto perjalanan JT 334:


Dari bandara, saya tinggal di rumah orang tua di Poligon, yang terletak di suburb, 12 km dari pusat kota. Dahulu, berkeliling di Palembang memakan banyak waktu, tenaga, dan uang, karena pelayanan transportasi massal yang di bawah rata-rata, bahkan untuk standar orang Indonesia. Kondisi angkot dan bus yang kala itu sering overcrowded, musik house music yang diputar sekeras mungkin, budaya ugal-ugalan, dan ngetem sembarangan sampai 1 jam atau lebih merupakan hal yang biasa. Namun, hal itu sudah tidak banyak berlaku lagi karena sejak tahun 2010, sebuah perusahaan transportasi massal BRT (bus rapid transit) Trans Musi didirikan, dan sejauh ini pelayanannya cukup baik terutama untuk kota seukuran Palembang. Sistem BRT ini tidak jauh berbeda dengan Transjakarta atau system serupa yang sudah ada di Jogja, namun bedanya bus yang digunakan berukuran lebih kecil. Armada Trans Musi sudah dilengkapi dengan sistem transit yang efisien dan nyaman, dilengkapi dengan pendingin ruangan; serta memungkinkan perjalanan jarak yang cukup jauh dengan biaya relatif rendah,misalnya dari Plaju ke Bandara SMB II hanya dengan Rp. 4000. Kelemahan Trans Musi saat ini adalah rute yang belum terlalu ekstensif dan armada yang belum terlalu banyak, terkadang saya harus menunggu sampai 10 menit. Direncanakan rute-rute tambahan yang mencakup tempat-tempat penting di Palembang dan sekitarnya, bahkan juga Trans Musi sungai yang menggunakan perahu khusus yang mencakup tempat-tempat di pinggir sungai Musi.

Spoiler for RUTE TRANSMUSI..AWAS BW NGILER:


Spoiler for transmusi:


Kota Palembang juga cukup nyaman untuk dijalani dengan jalan kaki karena di banyak tempat disediakan trotoar. Namun terkadang trotoarnya digunakan oleh pedagang asongan atau terlalu sempit untuk dilalui banyak orang. Apabila Anda malas untuk berjalan, Anda bisa naik becak atau ojek yang ada di mana-mana, bahkan sampai pusat kota sekalipun.


Lanjut lagi di bawah
WISATA SEJARAH DI RIVER SIDE PALEMBANG

Saya menentukan titik nol perjalanan dari pusat kota Palembang, yakni di bawah Jembatan Ampera. Alasannya, tempat ini merupakan node of transportation di kota ini, mulai dari Trans Musi, angkot, maupun ketek (perahu) ada di sini.

Spoiler for bawah ampera:


Selain itu, Jembatan Ampera ini sendiri merupakan landmark sejarah yang bernilai luar biasa. Sungai Musi, sungai sepanjang sekitar 750 m yang membelah Kota Palembang menjadi dua bagian yaitu Seberang Ulu dan seberang Ilir ini merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera. Jembatan Ampera sendiri, merupakan sebuah jembatan megah sepanjang 1.177 meter yang melintas di atas Sungai Musi yang menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir ini merupakan ikon Kota Palembang. Jembatan ini dibangun pada tahun 1962 dan dibangun dengan menggunakan harta rampasan Jepang serta tenaga ahli dari Jepang. Dahulu, bagian tengah jembatan ini dapat diangkat untuk memungkinkan kapal-kapal besar untuk mencapai pelabuhan yang kala itu ada lebih ke hulu Sungai Musi. Namun, akibatnya terjadi kemacetan yang luar biasa panjang karena proses naik dan turunnya bagian tengah jembatan ini memakan waktu 30 menit. Bayangkan apabila proses naik turun ini masih berjalan sampai sekarang, bisa-bisa Palembang jadi kota termacet di dunia! Satu hal lagi yang unik, jembatan ini diganti catnya setiap pergantian walikota Palembang. Saat ini jembatan ini berwarna merah dan hijau.

Spoiler for yes, we're in ampera:


Berjalan-jalan di atas Jembatan Ampera sendiri merupakan hal yang menarik karena sepanjang perjalanan Anda dapat melihat Sungai Musi yang lebar dan skyline Kota Palembang. Arsitektur jembatan yang cukup unik merupakan objek fotografi yang luar biasa. Sayangnya, sebenarnya jembatan ini dapat dioptimalkan sebagai objek wisata, hal yang terlintas di pikiran saya adalah seharusnya puncak-puncak menara jembatan yang besar ini dapat dijadikan pusat observasi kota, dilengkapi dengan teleskop dan akomodasi, seperti KL Tower di Malaysia atau Menara Eiffel di Paris. Sounds a good idea, doesn’t it?

Tidak jauh dari Jembatan Ampera, terdapat benteng tua peninggalan Kerajaan Palembang Darussalam. Benteng ini dinamai Benteng Kuto Besak, atau bahasa Indonesianya kota besar. Benteng ini merupakan satu-satunya benteng di Indonesia yang berdinding batu dan memenuhi syarat perbentengan / pertahanan yang dibangun atas biaya sendiri untuk keperluan pertahanan dari serangan musuh bangsa Eropa dan tidak diberi nama pahlawan Eropa. Kuto Besak adalah bangunan keraton yang pada abad XVIII menjadi pusat Kesultanan Palembang. Gagasan mendirikan Benteng Kuto Besak diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758 dan pelaksanaan pembangunannya diselesaikan oleh penerusnya yaitu Sultan Mahmud Bahauddin yang memerintah pada tahun 1776-1803. Menandai perannya sebagai sultan, ia pindah dari Keraton Kuto Lamo ke Kuto Besak. Belanda menyebut Kuto Besak sebagai nieuwe keraton alias keraton baru.

Benteng ini mulai dibangun pada tahun 1780 dengan arsitek yang tidak diketahui dengan pasti. Semen perekat bata menggunakan batu kapur yang ada di daerah pedalaman Sungai Ogan ditambah dengan putih telur. Waktu yang dipergunakan untuk membangun Kuto Besak ini kurang lebih 17 tahun. Keraton ini ditempati secara resmi pada hari Senin pada tanggal 21 Februari 1797. Konon benteng ini merupakan satu-satunya benteng buatan anak bangsa saat itu yang tahan terhadap gempuran meriam modern saat itu, hal itu terbukti saat pertempuran pertama antara Kerajaan Palembang melawan Belanda saat pemberontakan Sultan Mahmud Badaruddin II.

Sayangnya, saat ini benteng ini dimiliki oleh Angkatan Darat, dan ditempati oleh rumah sakit militer, sehingga tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang. Namun, lapangan di depannya merupakan tempat yang ramai sekali terutama saat malam minggu, di mana penduduk dan pengunjung menikmati pemandangan Jembatan Ampera yang bermandikan cahaya lampu berwarna-warni sembari menikmati kuliner lokal.

Spoiler for BKB:


Objek lainnya adalah Museum Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II). Objek ini merupakan salah satu andalan pariwisata kota Palembang. Museum ini memuat bermacam benda bersejarah di Sumatera Selatan, namun kelemahannya koleksinya tidak terlalu banyak, hanya sekitar 556 koleksi benda bersejarah, mulai dari bekas peninggalan kerajaan Sriwijaya hingga Kesultanan Palembang. Walaupun tidak terlalu banyak dan kecil, namun museum ini dirawat dengan baik dan cukup ramai pada akhir pekan. Museum ini terletak di antara lapangan parkir Ampera dan Benteng Kuto Besak dan bangunannya seperti rumah limas, sehingga tidak terlalu sulit untuk dikenali.

Museum ini berdiri di atas bangunan Benteng Koto Lama (Kuto Tengkurokato Kuto Batu) dimana Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo dan Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758) memerintah. Berdasarkan penyelidikan oleh tim arkeologis tahun 1988, diketahui bahwa pondasi Kuto Lama ditemukan di bawah balok kayu. Benteng ini pernah habis dibakar oleh Belanda pada 17 Oktober 1823 atas perintah I.L. Van Seven House sebagai balas dendam kepada Sultan yang telah membakar Loji Aur Rive. Kemudian di atasnya dibangun gedung tempat tinggal Residen Belanda. Pada masa Pendudukan Jepang, gedung ini dipakai sebagai markas Jepang dan dikembalikan ke penduduk Palembang ketika proklamasi tahun 1945. Museum ini direnovasi dan difungsikan sebagai markas Kodam II/Sriwijaya hingga akhirnya menjadi museum dan
Jam berkunjung museum ini adalah Senin hingga Kamis: 08.00 – 16.00 WIB, Jumat: 08.00 – 11.30; serta Sabtu dan Minggu: 09.00 – 16.00. Untuk hari libur nasional akan tutup. Biaya masuk Rp.2000.

Spoiler for museum SMB II:


Spoiler for lukisan SMB II:

Di belakang Museum SMB II, terdapat satu lagi museum yang merangkap sebagai monumen. Monumen itu bernama Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) yang difungsikan sebagai museum penyimpanan benda bersejarah sisa peninggalan perang lima hari lima malam di Palembang (1947). Bangunan Monpera berdiri kokoh di pinggir Jl Merdeka, persis di samping Mesjid Agung. Ciri khasnya ada enam cagak (tiang) beton yang kokoh bertautan tiga-tiga di bagian samping kiri dan kanannya. Juga terpampang relief yang menggambarkan suasana pertempuran lima hari lima malam di kota Palembang melawan penjajah Belanda. Monpera diresmikan penggunaannya tanggal 23 Februari 1988 oleh mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) RI H Alamsyah Ratuperwiranegara.

Monumen ini merupakan bangunan 5 lantai yang di dalamnya difungsikan sebagai museum, yang sayangnya koleksinya sangat minim, sehingga hanya sedikit orang yang berkunjung ke sini. Selain itu, banyak proses pemeliharaan dan penambahan fasilitas, misalnya lift, yang terbengkalai. Di lantai 2 terdapat koleksi senjata sisa pertempuran 5 hari 5 malam di Palembang, yakni senapan mesin berat dan ringan peninggalan Jepang, senjata antitank PIAT buatan Inggris, meriam tanpa tolak balik (recoilless rifle), tekidanto (mortir kaki) Jepang, senapan Lee Enfield dan Arisaka, serta senjata-senjata lainnya. Di lantai lainnya, terdapat patung yang merupakan replika wajah dari keenam pejuang kemerdekaan asal Sumsel. Namun, pengalaman terseru adalah menaiki tangga sampai ke puncak Monpera, yang tangganya curam sekali. Tetapi semuanya terbayar tuntas ketika sampai di puncaknya, karena bisa melihat kota Palembang hampir 360 derajat.

Spoiler for monpera:


Spoiler for naik ke puncak monpera:


Spoiler for di depan monpera:


Waktu buka Monpera juga sama seperti Museum SMB II dan biaya untuk masuk ke dalamnya Rp. 2000 (Rp. 1000 untuk masuk ke area monumen, sisanya untuk masuk ke dalam bangunan Monpera).

Ketiga objek wisata ini dapat dicapai hanya dengan berjalan kaki dari bawah Jembatan Ampera.
KAMPUNG KAPITAN, SISA PUSAT KEGIATAN WARGA TIONGHOA DI PALEMBANG

Etnis Tionghoa diperkirakan tiba di Sriwijaya ketika awal berdirinya kerajaan maritim pertama Indonesia tersebut dan berprofesi sebagai pelaut. Ketika Sriwijaya menjadi kota pelabuhan penting, tentunya jumlah orang Tionghoa yang tinggal menjadi lebih banyak. Namun, jumlah etnis Tionghoa yang tiba dan menetap di Palembang mencapai puncaknya pada abad ke-16 sampai 19. Saat itu, penduduk etnis Tionghoa hampir seluruhnya tinggal di Sepuluh Ulu, kira-kira barat daya Jembatan Ampera sekarang, karena saat itu pemerintah kolonial memiliki policy pemisahan berdasarkan ras. Pada puncaknya, mereka tinggal kira-kira 20 hektar tanah pemukiman, yang kira-kira sekarang seperti Chinatown di kota-kota besar, misalnya Kesawan di Medan. Pada akhirnya, pemerintah kolonial Belanda menunjuk para tokoh Tionghoa yang berasal dari kaum berada dan makmur untuk menjadi administrator (temenggung) di sana.

“Temenggung pada zaman Belanda kira-kira temenggung itu di bawah walikota tapi diatas camat. Biasanya yang ditunjuk untuk menjadi temenggung adalah yang kaya, sehingga tidak usah meminta-minta uang lagi kepada pemerintah Belanda pas menjalankan pekerjaannya”, jelas Oey Eng Sui, salah satu warga Kampung Kapitan yang kerap kali menjadi narasumber terkait Kampung Kapitan. Engkong Eng Sui sendiri merupakan menantu dari keturunan Tjua Ham Hin, temenggung Kampung Kapitan pada tahun 1850. Tjua sendiri merupakan keturunan kesepuluh dari salah satu keluarga yang mendiami Kampung Kapitan.

OK, lompat 250 tahun kemudian. Kampung Kapitan sudah hampir menghilang ditelan waktu, menyisakan dua buah rumah gudang tua di dekat pinggir sungai Musi. Para keturunan orang Tionghoa yang dahulu tinggal di sana pun pindah ke luar kota atau ke bagian kota Palembang lainnya. Kedua rumah tua ini masih ditinggali oleh keturunan Tjua Ham Hin dan dikelola nyaris tanpa bantuan pemerintah. “Sayangnya banyak dari keturunan penghuni Kampung Kapitan ini yang tidak mau membantu untuk merawat rumah ini, padahal banyak yang sudah kaya. Kasih cap tiao atau go cap tiao (masing-masing artinya 10 dan 50 juta rupiah) saja dak mau, padahal buat mereka itu kecil,” ujar Engkong Eng Sui.

Satu di antara kedua rumah warisan Kampung Kapitan ini sudah tidak ditempati lagi, tetapi yang kedua masih dirawat dan sering dikunjungi wisatawan atau peziarah yang berkeyakinan Konghucu. Para pengunjung ini bahkan berasal dari luar Palembang, misalnya Jakarta, Medan, Jambi, Pontianak, bahkan Malaysia. Uniknya, Engkong Eng Sui dan keluarganya sekarang merupakan Kristen, tetapi karena kesadaran untuk menjaga kebudayaan ini mereka tetap mengizinkan pengunjung untuk beribadah.

Keunikan dari rumah di Kampung Kapitan ini adalah adanya dua lukisan Temenggung Tjua Ham Hin yang dilukis di Singapura, yang mata dan sepatunya bisa mengikuti arah ke mana orang yang memandang berpindah tempat. Walaupun tidak disebutkan apa trik yang dipakai untuk menyebabkan hal demikian terjadi, sepertinya bukan ilmu gaib yang dipakai, hanya trik visual saja.

Di depan dua rumah ini terdapat tugu menara berornamen Cina yang belum selesai. “Berat bagian atasnya berton-ton, berat sekali, makanya belum dipasang. Tugu ini bantuan dari pemerintah ceng kuk (RRC) sana, “ lanjut Engkong Eng Sui yang rambutnya sudah memutih ini.

Spoiler for kampung kapitan:


Untuk menuju Kampung Kapitan dari Ilir, harus menyeberang ke Seberang Ulu, apabila menggunakan Trans Musi, berhenti di Halte UKB dan menyebrang jalan. Bisa juga dengan menaiki ketek ke seberang. Tempat ini lumayan susah untuk dicari karena letaknya di tengah pemukiman warga biasa, tetapi dapat dicapai dengan berjalan dari jetty ketek ke selatan, dan tentunya jangan lupa bertanya.
MUSEUM YANG TERLUPAKAN

Berpindah ke utara kota dengan menyusuri Jalan Sudirman dan Jalan Kolonel Burlian. Di bagian utara kota ini terdapat museum terlengkap di Sumatera Selatan. Museum ini dinamai Museum Balaputra Dewa (BPD). Museum BPD berfokus pada kebudayaan yang pernah dan tetap ada di Sumatera Selatan, dari kebudayaan megalitik (jaman batu), zaman Sriwijaya, sampai zaman Melayu Palembang.

Spoiler for museum BPD:


Spoiler for galeri melaka:


Spoiler for galeri 1:


Spoiler for galeri 2:


Spoiler for galeri 3:


Spoiler for open air display:


Spoiler for rumah limas besar:


Spoiler for rumah limas kecilan:


Museum Balaputradewa terletak di Km 6,5 tepatnya di Jl. Srijaya Negara I No. 288, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. Lokasi museum ini dibeli oleh Gubernur Sumsel pada tahun 1976 untuk dijadikan museum. Museum Balaputradewa dibangun pada tahun 1978 dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 5 November 1984. Museum ini terletak di areal seluas 23.565 meter persegi. Design arsitektur bangunan museum terinpirasi dari bangunan tradisional Palembang. Awalnya museum ini bernama Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan namun setelah keputusan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1223/1999 tanggal 4 April 1990 nama museum diganti menjadi Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputradewa.

Museum Balaputradewa memiliki sekitar 3580 buah koleksi yang terdiri dari barang-barang tradisional Palembang, binatang awetan dari berbagai daerah di Sumatera Selatan, beberapa miniature rumah pedalaman, replica prasasti dari arca kuno yang pernah ditemukan di Bukit Siguntang, batu-batu ukir raksasa dari jaman Megalitikum, dan masih banyak lagi.

Koleksi di Museum Balaputradewa dibagi menjadi 10 macam kategori yaitu histografi atau historika (cerita-cerita), etnografi, feologi, keramik, alat-alat teknologi modern, seni rupa (berupa ukiran), flora fauna (biologika) dan geologi serta terdapat rumah limas juga rumah Ulu Ali. Koleksi-koleksi di Museum Balaputradewa ditempatkan pada 3 buah ruang pameran yang dikelompokan menjadi ruang pamer zaman prasejarah, kesultanan Palembang Darussalam dan masa perang kemerdekaan serta tambahan Rumah Limas (rumah/bangunan khas Palembang).
Balaputradewa sendiri adalah nama seorang raja dari Kerajaan Sriwijaya. Balaputradewa memerintah pada abad VIII-IX masehi. Balaputradewa adalah raja yang paling terkenal dari Kerajaan Sriwijaya karena di masa pemerintahan beliaulah Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya sebagai sebuah Kerajaan Maritime yang berkuasa hampir diseluruh Nusantara hingga mencapai Thailand, India, Filipina dan China.

Menurut Adrian Fajriansyah (per 25 April 2012), museum Balaputradewa baru selesai direnovasi tanggal 4 April 2012. Ternyata setelah direnovasi Museum Balaputradewa kini tampak lebih baik, elegan dan modern dengan fasilitas baru seperti AC di tiap ruang pamer lalu ada monitor yang siap menjelaskan setiap koleksi yang ada di ruang pamer sehingga kita tidak perlu berlama-lama membacanya serta ruangan yang lebih terang dengan lampu-lampu baru yang lebih bercahaya, dibandingkan dahulu yang terkesan tidak terurus, penggap, panas. Belum lagi terdapat video visualisasi yang dapat diputar on demand dengan memencet tombol khusus. Sayangnya investasi dan perbaikan di atas tidak membuat museum ini ramai seperti Museum SMB II yang koleksinya jauh lebih sedikit, mungkin disebabkan oleh lokasi yang jauh dari pusat kota, yakni 6,5 km dan harus berjalan masuk sejauh 400 meter dari jalan utama. Mudah-mudahan apabila benteng Kuto Besak dapat diambil alih Pemda dan dijadikan situs wisata umum, museum ini bisa dipindah ke sana, sehingga pengunjung tidak usah repot-repot pergi jauh. Ya… kira-kira jadi seperti deretan museum di sekitar Museum Nasional, di mana pengunjung dari satu museum dapat berpindah dengan mudahnya hanya dengan berjalan kaki. Museum ini sendiri dapat dicapai dari pusat kota menggunakan Trans Musi (transit di Kantor Polda), berhenti di halte RS Ernaldi Bahar, dilanjutkan dengan jalan kaki atau ojek.

Museum Balaputradewa terbuka untuk umum mulai dari pukul 09.00 WIB sampai 15.00 WIB kecuali hari senin, hari Minggu dibuka dari pukul 08.00 WIB sampai 14.00 WIB. Harga tiket masuk Rp 2.000-3.000 per orang.
KAMPUNG ARAB ASSEGAFF

Spoiler for rumah persinggahan ratu juliana:


Spoiler for pabrik es assegaff:


Pendatang dari Arab tiba di Palembang sebagai alim ulama untuk menyebarkan agama Islam. Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam orang Arab mempunyai keistimewaan tersendiri dibanding orang-orang asing lainnya yang menetap di Palembang. Sementara orang-orang asing lainnya oleh hanya diperbolehkan tinggal di atas sungai, mereka dapat menikmati tinggal di tempat yang relatif lebih kering dan hangat meskipun jumlah mereka sedikit, hanya sekitar 500 orang (Aryandini Novita, 2011). Keistimewaan ini telah berlangsung sejak masa pemerintahan Sultan Abdurrahman (1659-1706). Pada saat itu orang-orang Arab mendapat kebebasan untuk tinggal di daratan karena jasa mereka dalam meningkatkan perekonomian Kesultanan Palembang Darussalam.

Di Kota Palembang orang Arab menghuni kawasan-kawasan di sepanjang Sungai Musi, baik di bagian ilir maupun di ulu. Saat ini pemukiman tersebut masih dapat ditemukan seperti di Lorong Asia dan Kampung Sungai Bayas di dekat Pasar Kuto, Kelurahan Kutobatu, Kecamatan Ilir Timur I; Lorong Sungai Lumpur di Kelurahan 9-10 Ulu, Lorong BBC di Kelurahan 12 Ulu, Lorong Almunawar di Kelurahan 13 Ulu, Lorong Alhadad, Lorong Alhabsy dan Lorong AlKaaf di Kelurahan 14 Ulu, dan Kompleks Assegaff di Kelurahan 16 Ulu.

Namun, di antara kampung-kampung Arab di atas, menurut saya hanya Kampung Arab Assegaff yang lumayan layak dikunjungi, karena terdapat dua landmark bersejarah yakni Rumah Persinggahan Ratu Juliana dan Pabrik Es Assegaff. Kedua bangunan ini terletak persis di pinggir dan menghadap kea rah Sungai Musi. Kampung ini sudah berdiri sejak 1900-an dan mayoritas dihuni keturunan Alhabib Alwi bin Assegaf.

Pabrik Es Assegaff merupakan pabrik es balok tertua dan terbesar di Sumatera Selatan, berdiri sejak tahun 1929. Hingga kini tetap beroperasi normal dan beroperasi enam hari sepekan. Dengan hari libur, hari Jumat, seperti halnya liburnya perekonomian di Kampung Assegaf. Sayangnya, siang itu, pabrik es balok PT Assegaf yang tetap menyuplai bagi kebutuhan para nelayan dan pedagang ikan tersebut tertutup bagi pengunjung. Untuk memasuki Kampung Assegaff saja pengunjung wajib melapor dan membawa tag khusus, walaupun tidak dikenakan biaya.
Sementara itu, Rumah Ratu Juliana sendiri merupakan tempat persinggahannya selama kunjungan di Palembang, yang kala itu terkenal sebagai pusat migas di Hindia Belanda. Terlihat jelas sekali rumah ini memiliki arsitektur Belanda. Sayangnya, rumah ini ditempati penduduk lokal yang tidak dapat ditemui ketika saya berkunjung ke rumah ini.

Spoiler for masuk ke kampung assegaff:


Untuk pergi ke Kampung Assegaff ini, Anda dapat naik Trans Musi jurusan Plaju dan turun di Halte JM Seberang Ulu, kemudian berjalan melalui jalan yang sayangnya tidak diaspal.
lengkap bener gan..... ane cicil bacany... emoticon-thumbsup
nice thread gan...
ane tinggal di palembang aja ada yg belum ane datengin tuh....emoticon-thumbsup
Nice share gan....

Ane belum pernah ke palembang, liat thread agan jadi punya referensi tempat bersejarah di sana


CINTA TANAH AIR....


emoticon-I Love Indonesiaemoticon-I Love Indonesiaemoticon-I Love Indonesia
RUMAH LIMAS, RUMAH KHAS SUMATERA SELATAN

Rumah limas merupakan bangunan khas Sumatera Selatan, yang memiliki ciri-ciri atap berbentuk limas, badan rumah berdinding papan dengan pembagian ruangan yang telah dibakukan (standard) dan bertingkat-tingkat (kijing), keseluruhan atap dan dinding serta lantai rumah bertopang atas tiang-tiang yang ditanam ditanah, mempunyai ornamen dan ukiran yang menampilkan karisma dan identitas rumah tersebut. Pembangunan rumah limas ini cukup sulit dan mahal karena membutuhkan bahan kayu tertentu, akibatnya hanya orang kaya dan berkuasa saja yang dapat membangun rumah limas.

Di kota Palembang, masih banyak rumah limas yang berdiri, baik di Seberang Ilir maupun Ulu, dengan berbagai macam kondisi. Namun di antaranya, hanya dua rumah limas yang sering dikunjungi karena kondisinya yang baik sekali, yakni rumah limas Bayumi Wahab dan Hasyim Ning.

Rumah limas Bayumi Wahab terletak di Jalan Perwari, di seberang sekolah IBA dan dekat SMA Xaverius 1. Bayumi Wahab, bangsawan sang pendiri dan pemilik rumah ini, mendirikan rumah limas yang luas sekali ini di kampungnya di OKI, namun ketika ia pindah ke Palembang, rumah ini juga dipindahkan. Peristiwa ini terjadi tahun 1960, di mana daerah IBA masih merupakan tanah rawa. Setelah rumah itu dipindahkan, ia mendirikan sekolah IBA di seberangnya. Saat ini, rumah ini dimiliki salah satu anak Bayumi yang tinggal di Jakarta, sehingga sebenarnya rumah ini kosong dan hanya dijaga satpam.

Spoiler for rumah limas bayumi wahab:


Rumah limas ini adalah rumah limas terbesar yang ada di kota Palembang dan yang paling terawat, 40 meter lebarnya dan panjang 100 meter lebih, dilengkapi dengan lapangan rumput yang luas dan lapangan tenis di belakangnya. Rumah ini punya ciri khas, yakni ada patung kuda besar di depannya, di mana banyak pengunjung berfoto di depannya. Untuk berkunjung ke rumah ini, Anda harus melapor satpam dan apabila datang sendiri tidak akan dipersilakan masuk ke dalam, sehingga saya harus mengambil foto interiornya dari luar jendela. Jika Anda datang dengan rombongan (10 orang lebih), Anda diperbolehkan masuk ke dalam dengan tarif Rp. 100.000 per rombongan. Untuk menuju rumah limas ini, Anda turun dari Trans Musi di BNI Syariah (koridor Hotel Horizon – Pusri) dan dilanjutkan angkot Hijau (Lemabang).

Rumah limas selanjutnya adalah Rumah limas Hasyim Ning yang terletak di Jalan Sekanak, dekat pusat perajin songket Palembang. Rumah ini sebenarnya letaknya tidak jauh dari pusat kota maupun halte Trans Musi. Namun, agak tersamar karena di depannya ada usaha mebel, yang tidak lain dikelola oleh penjaga rumah limas ini, Masagus H. Syafri. Beliau adalah keturunan keempat dari pemilik awal rumah limas ini.

Rumah limas ini lebih terkenal sebagai “rumah limas Hasyim Ning” karena beliau merupakan orang paling kaya dan terkenal di antara orang yang pernah jadi pemilik rumah ini, dan juga keturunan dari pemilik paling awal rumah tersebut. Hasyim Ning merupakan orang Palembang, namun lahir dan dibesarkan (oleh saudara kakeknya) di Padang. Beliau di kemudian hari terkenal sebagai pengusaha otomotif yang sukses.

Rumah limas ini sudah berdiri selama 235 tahun dan dideklarasikan sebagai cagar budaya Palembang. Sebenarnya, Hasyim Ning memiliki 2 rumah limas, rumah yang di Sekanak ini dan di 23 Ilir, namun yang terakhir habis terbakar. “Pak Tri Sutrisno (Wapres era Orde Baru) sampai marah ketika rumah itu terbakar, katanya cak mano dak pacak ngurus rumah itu, warisan sejarah itu,” jelas Pak Syafri.

Walaupun sudah tua dan dari luar terlihat kurang meyakinkan, di dalamnya masih sangat terawat. Berbeda dengan rumah limas lain yang pernah dipindah dari lokasi awalnya, rumah ini belum pernah dipindah. “Sebenarnya dulu pernah mau dipindah ke TMII, tapi dak jadi lantak tiang delapan ini, dak pacak dipindah, bahannya pulok mahal nian sekarang,” lanjut Pak Syafri.

Tiang delapan ini adalah tiang yang sangat kuat dan awet, karena terbuat dari kayu unglen dari hutan Sumatera, yang sejak tahun 1970-an sudah langka. Sementara dindingnya dibuat dari kayu tembesu. Fitur unik lainnya, untuk masuk rumah ini tidak dari pintu depan, tapi dari pintu belakang yang dibuka ke atas, bukan palang pintu, sehingga masuknya melalui lantai.

Spoiler for rumah limas hasyim ning:


Spoiler for rumah limas hasyim ning:


Untuk berkunjung ke rumah ini, Anda harus minta izin kepada tuan rumah, dan tidak diperlukan tarif masuk. Untuk menuju tempat ini dari pusat kota, tinggal naik angkot kuning dan stop di kantor Walikota (gedung ledeng) dan berjalan ke TKP. Ada 2 halte Trans Musi di dekat lokasi, yakni Jeramba Karang dan Puskesmas Merdeka (koridor PS Mall – Plaju).
PUNCAK TERTINGGI KOTA PALEMBANG

Bukit Siguntang merupakan puncak tertinggi kota Palembang, namun hanya berdiri sekitar 30 meter dari permukaan laut. Sepintas bukit ini tidak menawarkan apa-apa dalam segi pariwisata, eits…tetapi untuk pencinta sejarah, tempat ini tidak boleh dilewatkan.

Di lingkungan sekitar bukit ini ditemukan beberapa temuan purbakala yang dikaitkan dengan kerajaan Sriwijaya yang berjaya sekitar kurun abad ke-6 sampai ke-13 masehi. Di puncak bukit ini terdapat beberapa makam yang dipercaya sebagai leluhur warga Palembang. Oleh masyarakat setempat, kompleks ini dianggap keramat dan menjadi tempat tujuan ziarah. Kini Kawasan ini menjadi Taman Purbakala untuk menjaga artefak-artefak yang mungkin masih belum terungkap.

Bukit yang dipenuhi taman dan pepohonan besar ini dipercaya sebagai kompleks pemakaman raja-raja Melayu. Pada bagian puncak bukit terdapat beberapa makam yang menurut penduduk lokal dikaitkan dengan tokoh-tokoh raja, bangsawan dan pahlawan Melayu-Sriwijaya. Menurut kuncen Bukit Siguntang, Bu Atun, terdapat tujuh makam di bukit ini, yaitu makam:
1. Segentar Alam
Datang dari Majapahit membawa kapal. Menggunakan bendera Lancang Kuning dan terdampar di Bukit Siguntang, menurut kebiasaan oral, karena dulu di Palembang cuma Bukit Siguntang yang tidak tertutup air, walaupun kemungkinan hal ini merupakan mitos belaka. Kapal-kapal lainnya terdampar di Sabo Kingking dan Gunung Ibul.
2. Putri Rambut Selako
Nama aslinya Damar Kencana Ungu, datang dari Jogja (Mataram Kuno)
3. Panglima Batu Api
Penyebar syiah dari Arab
4. Panglima Bagus Kuning
Ajudan Segentar Alam
5. Panglima Bagus Karang
Juga merupakan ajudan Segentar Alam
6. Putri Kembang Dadar
Katanya putri dari kahyangan, kemungkinan cerita mitos juga
7. Panglima Tuan Junjungan
Sama seperti Panglima Batu Api dan berasal dari Arab

Bu Atun sebenarnya bukan orang lokal, tetapi berasal dari Pacitan dan pergi bersama keluarganya ketika masih kecil ke Melayu Lembang (nama lain Palembang) karena mendapat wangsit. Menurut beliau, di Bukit Siguntang harus sopan dan di dekat makam tidak boleh buang angin atau merokok.

Spoiler for bukit siguntang:


Spoiler for makam di BS:


Spoiler for nggak lupa dong foto narsis:


Untuk menuju Bukit Siguntang, dapat menggunakan Trans Musi koridor Sako-PIM, turun di halte simpang SMAN 10,kemudian berjalan ke barat atau naik ojek. Tiket masuk untuk dewasa Rp. 3000 dan anak-anak Rp. 1500; apabila membawa mobil Rp. 3000 dan sepeda motor Rp. 2000.
AKOMODASI, PENGINAPAN, DAN TIPS BERMANFAAT

Berikut ini tempat makan yang direkomendasikan di Palembang:
Quote:Budget/Medium
1. Warung pempek di Jalan Dempo. Salah satu yang terbaik di Palembang atau bahkan di Indonesia. Jangan lupa membeli beberapa untuk oleh-oleh
2. Martabak HAR. Makanan India khas Palembang, martabaknya sangat maknyus, terdapat di sepanjang Jalan Sudirman. Juga menjual hidangan lain seperti nasi kebuli, dll.
3. Pondok Pindang Pegagan. Makanan ikan sungai khas Palembang, menjual pindang patin

martabak HAR yang fenomenal itu
[Travelista] Palembang, Kotanya Sejarah

Splurge
1. Riverside Restaurant. Terletak di dekat Benteng Kuto Besak dan pemandangan dari restoran ini pada malam hari sempurna ke arah Jembatan Ampera. Hidangan bervariasi dari makanan khas Palembang sampai makanan Barat. Nikmati juga sensasi makan di atas perahu



Sementara itu, tidak afdol kalau pulang tidak bawa oleh-oleh. Barang yang saya rekomendasikan:
Quote:
1. Songket. Dapat dibeli di Pasar 16 Ilir atau langsung ke sentranya di dekat Jalan Sekanak
2. Pempek. Dapat dibeli di warung pempek, namun saya merekomendasikan warung pempek Jalan Dempo dan Pempek Candy



Tempat menginap di Palembang (daftar tidak lengkap):
Quote:
Budget
1. MTV Hotel, Jalan Mayor Ruslan. Harga kamar Rp. 77.000-100000
2. Hotel Bank Promo, Jalan Mayor Ruslan, harga kamar Rp. 250.000
3. Hotel Belvena, juga di Jl. Mayor Ruslan
4. Hotel Rajawali, Jl. Rajawali dekat SMA Xaverius 1 dan RS Tiara Fatrin
5. Hotel Sintera, Jl. Jend. Sudirman, dekat sekali dengan pusat kota
6. HomeInn Palembang, Jl.Mayor Ruslan No.8, ? 0711-377799
7. Penginapan Lebar Daun, Jl. Demang Lebar Daun Simpang Sekip, dekat junction transit Trans Musi, backpacker’s hostel style dan ada WiFi. Harga kamar dari Rp. 150.000. +62 812 712 9405

Medium
1. Hotel Graha Sriwijaya, Jl. Merdeka dekat gedung Walikota. Sangat dekat dengan pusat kota
2. Hotel Swarna Dwipa, di depan Kambang Iwak
3. Hotel Budi, Jalan Letnan Kolonel Iskandar Komplek Ilir Barat Permai Blok D2 No. 26-32, +62711377878. Harga kamar dari Rp. 320.000

Splurge
1. The Arista Hotel Palembang. Jalan Kapten Ahmad Rivai, (0711) 355000
2. Hotel Lembang. Jalan Kolonel Atmo 16, (0711) 365555 ? •
3. Hotel Aston Palembang. Jalan POM 9 (0711) 383838
4. Novotel Palembang Hotel & Residence Jl R Sukamto No 8a Palembang, Tlp 0711-369777
5. Hotel Sandjaja. Jalan Kapten Ahmad Rivai 6193, (0711) 362222
6. Quality-Hotel Daira. Jalan Jenderal Sudirman



Tips:

Quote:
1. Hati-hati berjalan di jembatan ampera karena banyak sepeda dan berjalan di trotoarnya yang lebar
2. Tempat di depan Masjid Agung dan Air Mancur merupakan tempat rawan copet
3. Kalau memutuskan untuk jalan siang-siang, jangan lupa menggunakan sun block dan topi, karena Palembang merupakan kota yang sangat panas, bahkan di musim hujan dan sore sekalipun
4. Jangan lupa membawa air minum untuk mencegah dehidrasi
5. Jangan merusak atau melakukan tindakan vandalisme di setiap tempat wisata, dan jangan membuang sampah sembarangan. Toh itu milik bersama, kan?
6. Jaga baik-baik kupon Trans Musi ketika transit. Kalau hilang Anda bisa di-charge lagi
7. Jangan sembarangan membeli pempek terutama yang di pinggir jalan karena ada oknum pembuat pempek yang menggunakan formalin dalam pembuatan pempeknya
8. Palembang dapat dikunjungi sepanjang tahun, tetapi bulan terbaik untuk berkunjung ke kota ini adalah bulan Mei-Agustus karena hujan relatif lebih jarang dibanding bulan lainnya.
9. Jangan lupa browsing dan mencari info mengenai adanya festival di Palembang


Itinerary untuk kunjungan 3 hari (flashpacker style)
Quote:
Hari pertama:
Tempat-tempat di sekitar Ampera (Jembatan Ampera, BKB, Museum SMB II, Pasar 16, Monpera

Hari Kedua:
Kampung Arab, Kampung Kapitan, Stadion Jakabaring

Hari Ketiga:
Bukit Siguntang, Museum Balaputradewa, Rumah Limas, Pulau Kemaro (di thread ini saya tidak masukkan karena lebih cenderung wisata spiritual daripada sejarah)


Itinerary untuk 5-7 hari
Sebenarnya Palembang terlalu kecil untuk dikunjungi selama 1 minggu, maka saya sarankan setelah di palembang Anda bisa pergi ke Bangka atau Belitung (dengan jetfoil/ferry atau dengan Sriwijaya Air ke Pangka Pinang)
Quote:
Hari 1
Daerah sekitar Ampera

Hari 2
Kampung Kapitan dan Kampung Arab

Hari 3
Rumah Limas, Bukit Siguntang

Hari 4
Museum Balaputradewa, wisata kuliner

Hari 5
Pulau Kemaro, dan beli souvenir



SUMBER PUSTAKA

Quote:
Munoz, Paul Michel (14 Mei 2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet. ISBN 981-4155-67-5.
Soekmono, R. (2002). Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia 2. Kanisius. ISBN 979-413-290-X.
http://senidanbudayakito.blogspot.co...n-rakyat.html, DIAKSES 15 Mei 2012 pukul 12.01 WIB
Adrian Fajriansyah , http://arumaarifu.wordpress.com/2012...wa-palembang/, DIAKSES 15 MEI 2012 pukul 15.23 WIB
Aryandini Novita, http://hurahura.wordpress.com/2011/0...kampung-arab/, DIAKSES 15 MEI 2012 pukul 16.45 WIB
Dedi Irwanto Muhammad Santun. Venesia Dari Timur : Memaknai Produksi dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang dari Kolonial Sampai Pasca Kolonial. Penerbit Ombak, 2011
Tim Kompas. Jelajah Musi: Eksotika Sungai di Ujung Senja. Kompas Gramedia, Jakarta, 2010




pesan terakhirx dari saya, ternyata liburan itu bukan cuman belanja, pantai, gunung, dan taman hiburan. Sejarah juga yoi juga koq gan emoticon-Recommended Seller

pertanyaan dari agan2:
Quote:Original Posted By queenb33
Maap gan klo salah, FYI mnurut ane pulau kemaro itu juga ada nilai sejarahnya. Dari asal muasal terbentuknya pulau, itu jg merupakan sejarah. emang sih agak spiritual gitu tp tetep terkandung nilai sejarahnya jg gan. Hrsnya dimasukin jg di threadnya biar orang2 jg tau, klo pulau kemaro yg terkenal di palembang itu jg bs dikenal oleh masyarakat luas. trims


iya sih sebenarnya, tapi cenderung seperti mitologi, beberapa hal benar tapi ada yang nggak masuk akal, misalnya disebutkan pulau itu muncul sendiri setelah putri cina yang ke palembang itu mati

thx buat sarannya emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By walabomba
kayaknya waktu itu di Kick Andy - metro tv sempet diundang pelukis SMB II,
Dan kalo g liat, gak mirip ama pelukisnya.....


thx juga udah ngeingetin, saia yang salah, udah diralat di trivia lukisan SMB II emoticon-Smilie

Quote:Original Posted By spyx
Nice Gan! emoticon-Big Grin

Jalan-Jalan Ke Palembang emoticon-Stick Out Tongue

Gw Tinggal Di Palembang Gan emoticon-Stick Out Tongue

Gimana Gan Kesannya?

Btw Dari Kecil Udah Di Palembang Ya Gan?

Wisata Kuliner Nya Kurang Tuh Gan emoticon-Big Grin

Nice Article! emoticon-Smilie


iya saia tinggal dari palembang dari umur 3 tahun emoticon-Big Grin
itu hometown gw emoticon-Smilie

iya kulinernya banyak yang lupa masukin, misalnya es krim bang karim atau tekwan emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By addhika
Mobil yang paling mewah di Palembang ap? Ada mercy, bmw ato roll royce ga di sana? Terus di sana ada ga Zara, LV, Mango, ato Guess??

Oh ya, di kota Palembang nyetirnya di seblah kiri atau sebelah kanan? Terus mobilnya menganut setir kiri apa setir kanan?

Terus untuk ajojing di mana tempat yang mantap di Palembang??

emoticon-Hammer2


bukan fans otomotif gw emoticon-Embarrassment, tapi ada aja keknya

di sini ya sama dengan tempat lain di indonesia dan bukan kek di malioboro emoticon-Big Grin

tempat ajojing: depan BKB, mall PS, PIM, dll

Quote:Original Posted By whiteberrie


Keterangan bahwa "Palembang itu belum menjadi Kota Wisata" Alias Pemerintah kurang memperhatikan tentang Wisata di Palembang gan..

Contoh paling simple, agan taro gambar Tourist Information Center di Benteng Kuto Besar. dan ternyata, Tourist Information Centre nya itu ga ada orang nya gan .. haisss.. padahal waktu itu ane siang2 ke sno, dan kata orang2 emg ga ada orang nya itu Tourist Information Centre nya, haiss.. sayang banget..

Paling enak kalo mau nahan budget naik Bus si gan dari Jakarta, cari aj bus antar pulau gan.. Harga kisaran itu 180 dlu gan ane pas 3 mnggu mau lebaran kesono nya hihi..


emang emoticon-Big Grin, itu tourist info centernya emang suka kosong
sayang sih, padahal tourist info center yang di bandaranya aja selalu ada orangnya

itu bus yang non-ac ya? yang AC sih biasanya 200 ke atas (ga tau kl dapet yang promo emoticon-Big Grin)

Quote:Original Posted By recktry
tiap ane ngeliat pesawat kok bawaanya kaya sukhoi gan
Spoiler for :


itu sih singa angop a.k.a lion air Boeing 737-900ER yang udah pake sky interior gan emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By ndoxs
Wah... ane baru 6 bulan di palembang gan.. So far so good.. Yang bikin enak disini tu jajanannya... Pempeknya bikin menggoda. Apalagi pempek vico.

Kalau masalah hujan nggaknya,,, ane merasa disini tu hujannya singkat2 aja kok. Paling 15 menit atau 30 menit. Kalau hujannya lama itu kalau tengah malam.. Itu yang ane rasakan selama 6 bulan ini.

Transportasi juga bagus. Ga pake ngetem. Cuma ati2 aja kalau naik angkot atau bus umum... emoticon-Big Grin

Pokoknya luar biasa banget palembang ini. Ane dari jawa baru tau kalau ada sungai yang kaya laut


ujannya emang suka tengah malam kl di sini

pempek vico mayan enak tapi masih kalah sama pempek home made bikinan ortu emoticon-Big Grin


Nice thread gan...emoticon-I Love Indonesia (S)
Ingat Palembang, jadi pengen makan Pempek...
sesi tanya jawab part 2

Quote:Original Posted By rmartico
nice thread gan...
ane tinggal di palembang aja ada yg belum ane datengin tuh....emoticon-thumbsup


wah ntar coba aja keliling...mayan seru koq emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By yogiindielovers
Nice share gan....

Ane belum pernah ke palembang, liat thread agan jadi punya referensi tempat bersejarah di sana


CINTA TANAH AIR....


emoticon-I Love Indonesiaemoticon-I Love Indonesiaemoticon-I Love Indonesia

Makannya kapan2 main ke Palembang emoticon-thumbsup

Quote:Original Posted By beladas
Nice thread gan...emoticon-I Love Indonesia (S)
Ingat Palembang, jadi pengen makan Pempek...

pempek di sini beda banget sama di tempat lain, otentik emoticon-thumbsup

Quote:Original Posted By seCTe
lengkap bener gan..... ane cicil bacany... emoticon-thumbsup

thx gan udah main ke sini emoticon-Smilie

Quote:Original Posted By okkydwi
syang gan pusat kotanya jauh dari kampus unsri, ane pernah ke kotanya kira2 1 jam dari indralaya


iya jauh, 32 km gitu emoticon-Big Grin
sekarang malah ada transmusi mahasiswa dari point2 tertentu ke indralaya

Quote:Original Posted By johnjohanjoe
maaf buat TS, ane orang palembang,...kalo buat wisata kuliner / makan makan palembang boleh juga ada tapi kalo wisata sepertinya masih kurang bagus
ini beberapa makan khas palembang
1. Martabak har (martabak kari HAR "HAJI ABDUL ROZAK) ga ada dikota laen, walau di jakarta ada di Hayam wuruk tapi ga se enak di HAR palembang
2. Mie Celor (Mie besar mirip spageti dengan kuah santan dan rempah kental) hanya ada di palembang ini agak susah dibawa coz ga bisa lebih dari 3 jam langsung basi kecuali di bekukan kuahnya tapi menguragi cita rasa
3. Pempek ini makanan Jagoan kota Palembang, kalo bilang Palembang orang pasti inget Pempek sama Sungai Musi
4. Kue 8 jam kue yang di buat dari susu + telor + Margarin + sedikit terigu dipanggang sampai 8 jam
5. Kue Ma'suba hampir sama dengan kue 8 jam hanya saja dikukus tidak sampe 8 jam
6. Kue Srikayo / srikaya sama dengan srikaya yg sering kita jumpai di kota kota laen.
7. laksan,burgo,celimpungan, sambel lingkung, kemplang, banyak lagi makanan di palembang ane ga bisa sebutin satu satu

untuk wisata kuliner palembang cukup enak bagi pecinta kuliner dengan harga yang variatif

kalo mau jalan jalan, ke
1. Jempatan AMPERA sama hal nya kita berdiri di pinggir jalan TOL debu asap kendaraan ane rasa bukan tempat yg cocok buat wisata
2. BKB benteng kuto besak, disini hanya taman tempan berkumpul panas tidak ada pepohonan biasanya sore subuh ato ada event disini rame
3.museum baladewa, ini berada di KM.6 tempat ini hanya rame kalo ada kunjungan murid murid sekolah aja, sedikit kurang terawat,
4.Kawah tekurep ini berada dekat dengan pelabuhan BOM BARU, ini juga kurang terawat,
5. kampung arab ini hanya sebuah kampung layaknya pemukiman biasa...
6 pulau kemaro ini salah satu situs, yang cukup terkenal dikalangan warga keturunan,..bisanya ada hari raya tertentu tepat ini sangat ramai dikunjungi

itulah palembang ane orang palembang cinta palembang lahir dibesarkan di palembang sampai saat ane tingal ditangerang rutin 2 x sebulan ane ke palembang,...untuk ongkos ke palembang cukup murah dengan kapal terbang (300-500rb di hari biasa tapi kalo ada hari libur season bisa sampe 1 jt) maskapai yang melayani dari ke palembang ada Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya, Batavia, dan sky avitation untuk jambi palembang, fly komala buat rute lubuk lingau palembang pelangi air & silk air ke singapore. bis AKAP Lorena, Kramat Jati,Harum, masih banyak lagi...
salam Joe..
I Love Palembang, kato wong palembang sekali minum banyu musi pasti balek lagi ke palembang...

Quote:Original Posted By Noshida
...pempek candy, dempo 310, nasi pagi sore
...pulau kemaro
...DA a.k.a Dharma Agung emoticon-Ngakak (S)

Quote:Original Posted By NicholasAG

sekalian venus ajaemoticon-Ngakak

Quote:Original Posted By reanaldi
kebetulan ane tinggal di Palembang nih emoticon-Big Grin
ane udah pernah ke semua tempat yang agan sebutin tuh,..
dan memeng cukup bisa direkomendasikan untuk dikunjungi emoticon-Add Friend (S)
oh iya gan, Makanan khas palembang yang jangan dilewatin ada lagi tuh..
Namanya Mie Celor, rekomendasi ane sih kalo mau beli, beli di Pasar 26 emoticon-Blue Guy Peace
trus ada lagi yang namanya Model sama Tekwan, nah kalo ini yang lumayan terkenal ada di H. Dowa udah banyak kok cabangnya di Palembang..
emoticon-I Love Indonesia (S)emoticon-I Love Indonesia (S)


thx banget gan! tambahannya mantep, ntar bakal saia apdet dah
btw sky aviation DJB-PLM udah tutup rutenya, yang PLM-based jadinya PLM-TJQ (belitung), sayang pas saya tanya kemarin di agennya harga tiketnya mahal banget (600rb 1 way emoticon-Hammer (S))

kawah tekurep sama museum sriwijaya yang letaknya di dekat musi 2 (yang bentuknya kanal-kanal) menurut saya rada ga worth to watch karena emang bener2 ga terawat emoticon-Shutup
yang kanal itu malah ketutup sama vegetasi semua malah, jadi balik kek rawa bukan situs sejarah emoticon-Cape d... (S)

yang ngerekomendasiin tempat nginap di DA sama venus....no comment emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak

Quote:Original Posted By crobay
woowww,,, klo menurut ane palembang tu bagus ny cuma malam aja....
klo siang beehhh,,, PANAS ny minta ampun...
lagian d palembang lalu lintas nya gak teratur...
banyak bus kota ugal2 an...
blom lagi jalus trans musi ny gak jelas plus halte seadanya...
terlihat ngt pemaksaan kebijakan ntuk bikin ne trans musi...
blom lagi byk pemalak berbaju dinas...
ane pernah naek bis kota,, eehh datang tu yg berbaju dinas minta uang...
salah kagak tu sopir tp s orang it maksa buat minta duit...
abis tu ane tanya sm sopir...
bayar brp bang?
5 ribu dek kata tu sopir...
emoticon-Hammer2

gilaaaa,, cuma 5 rebeennn...!!!!
lain dr itu palembang oke lah...

Quote:Original Posted By puma23
sayang seribu sayang gan...
seperti masalah di kota2 besar laennya, ane bisa bilang palembang juga salah satu kota yang terkesan kumuh dan urakan...
ane udah 2 kali kesana gan, n jujur rada takut juga..
angka kriminalitasnya lumayan tinggi, klo di jalan banyak angkot n bis nya yg ugal2an...
dan mungkin angkot paling jelek yg pernah ane naekin ya di palembang ini gan...
udah full karat, jalannya berderit-derit lagi...
ane takut... emoticon-Cape d... (S)
pernah ane jalan malem ke PIM, trus makan di sekitaran situ sama temen2 ane yg dari luar plb jga, pas selesai makan, ada 2 anak kecil minta2 gtu, karena kasian, temen ane cewek gan, ngasih tuh anak seribu Rp, ehhhhhh...
nggak tau darimana-mana asalnya, tiba2 dari pojokan warung, semak2, tiang2, pada keluar anak2 kecil yang minta2, belasan jumlahnya gan....
spontan temen2 cewek ane teriak histeris takut gan...
ane juga antara kasian sama takutm langsung inisiatid manggil becak motor deket situ buat balik ke hotel...
padahal hotelnya nggak jauh dari PIM, tapiu dimintain ongkos 10/15 rebu... padahal naek angkot cuma 2 ribuan.. emoticon-Cape d... (S)emoticon-Cape d... (S)
semoga pengalaman ane bisa dijadiin pelajaran buat pemda setempatm supaya palembang lebih bersih, rapi, dan tertata ya..
no offense teman, ane share berdasarkan pengalaman ya.. emoticon-Cendol (S)

gapapa koq, kan pengalaman masih2 bisa beda, mending yang lain juga tau jadi bisa siap2 dan timbang2 buat ke mari emoticon-Smilie

iya tahun lalu suka gitu tapi sekarang udah jauh mendingan koq, jumlah trans musi udah makin banyak dan lebih mendingan, rutenya lebih banyakan (kemarin yang rute pusri yang nyambung sama rute sako udah jalan katanya)

bis gila juga kurang banyak, mungkin bentar lagi punah gara2 kalah sama trans musi. I think i'm gonna miss those wacky buses emoticon-Ngakak (S) emoticon-Hammer (S)

kl kriminalitas palembang emang parah gan, tapi sekarang udah jauh mendingan. Dulu malah dikit2 ada orang ditusuk pas berkelahi di jalan dll.

ada inpoh tentang asal usul palembang dari agan ini
Quote:Original Posted By RamziiBarca2
ane ikut komeng ya gan emoticon-Embarrassment

ane waktu SMK, pernah baca buku, tentang sejarah nama palembang.
ada beberapa versi.
dan di buku itu versi yang terkuat itu sbb :

"ketika sunan seorang sunan (ane lupa sunan apa) kemungkinan sunan gunung jati. dia sedang sholat malam, dipinggiran sungai di cirebon, di atas sebuah sampan (perahu kecil) setelah itu ia berdzikir hingga tertidur, sampai saat terbangun, beliau sudah di tanah cina. entah kenapa bisa sampai kesana, kemungkinan besar dikarenakan perahu kecilnya yang terhanyut.

kebetulan ke cina, dia akhirnya memutuskan berdakwah menyebarkan islam disana. di cina, dia disambut hangat bahkan mendapat perlakuan khusus oleh kerajaan cina saat itu.
sampai suatu hari, nah disini ane lupa, pokoknya terjadi konflik antara sunan dengan kerajaan, dan akhirnya sunan di usir dari tanah cina, sunan pun pulang kembali ke nusantara.
Putri Raja yang saat itu, bernama Putri Ong Tien, ternyata jatuh hati kepada sunan, dan hendak menyusul sunan ke nusantara, ia nekat kabur dari istana.

mendengar itu, raja mengutus pengawal untuk mengejar putri Ong Tien ke Nusantara.
pengawal tersebut bernama Pai Li Bang
dalam perjalanan ke nusantara, Pai Li Bang singgah sebentar ke sumatera selatan, yang dalam buku itu terjadi masa kekosongan pemerintahan.
sampailahh ke sebuah kota, Pai Li Bang disambut hangat bahkan di elu elukan seperti raja oleh masyarakat setempat.
ternyata dalam perjalanan kembali ke nusantara, sunan menyempatkan ke sumatera selatan, dan berpesan, akan ada seorang yang datang dari cina yang bernama Pai Li Bang, yang akan memimpin daerah tersebut.
usut punya usut, ternyata Pai Li Bang, ketika di cina, adalah salah satu murid Sunan yang terhebat.
sejak saat itu, Pai Li Bang menjadi raja dan memerintah di wilayah tersebut, hingga beberapa masa sebelum masa kesultanan palembang.

nah dikarenakan kebiasaan lidah orang orang setempat yang sulit menyebut raja Mereka dengan Pai Li Bang, lama kelamaan, menjadi Palembang"

waduh mayan cape nulisnya, taro depan dong emoticon-Big Grin


thx banget gan...ane aja baru tau emoticon-Big Grin
palembang enak kotanya .......



makanannya juga ...................


emoticon-Big Grin
wow keyen emoticon-Belo

jadi pengen ke sono
Quote:Original Posted By yandhi_gila'
palembang enak kotanya .......



makanannya juga ...................


emoticon-Big Grin


iya, sekarang palembang itu lebih livable
tapi lebih modern, sayang itu loh harusnya ada jalan tol keluar kota, biar ga macet lagi

Quote:Original Posted By bangsammy
wow keyen emoticon-Belo

jadi pengen ke sono


wah ada bang sam emoticon-Embarrassment
makanya jangan nongkrong di sono mulu emoticon-Embarrassment emoticon-Hammer (S)

wah ini tempat next destination ane emoticon-Peluk

kira2 klo dari riau k plembang tuh enakan pke jalur mna yh?klo kereta ad gag sih emoticon-Bingung (S)
sejarah nya gan kerajaan sriwijaya yg ane tau
tapi bekas kerajaan2 nya banyak di provinsi jambiemoticon-Matabelo