Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000012542199/ipk-tinggi-penting
Ngakak IPK Tinggi, Penting?
IPK Tinggi, Penting?

Suami saya adalah seorang dosen tidak tetap di salah satu universitas di Jakarta. Ia baru saja curhat kekecewaannya terhadap salah satu asisten dosen, karena menurutnya benar-benar unexpected, seorang asdos yang ber-IPK tinggi di fakultasnya, tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia resourceful dan siap untuk mengajar. Komentar saya mula-mula: “Loh, kan memang tidak ada mata kuliah mengajar, jadi wajar aja kali ya kalau dia ngga terampil…”. Tapi kemudian suami saya cerita bahwa maksud dia, si asdos ini tidak komunikatif sama sekali, tidak bisa menantang mahasiswanya untuk berfikir kritis, sekaligus tidak bisa mengkritisi hasil kerja mahasiswanya. Menghadapi mahasiswa sangat tidak terampil, dia lebih banyak diam atau membaca materi presentasinya secara membosankan tanpa tanda-tanda antusiasme terhadap apa yang dia ucapkan. Pada saat rapat dosen pun dia membiarkan dirinya invisible, tidak bersuara sama sekali.

“Kok bisa ya IPnya tinggi?” keluh suami saya.

Sebenarnya pertanyaan ini sudah klasik. Sering kan kita mendengar: “Dulu waktu kuliah IPnya tinggi banget, tapi kok pas kerja kayanya ga secemerlang itu ya?” atau “Padahal dia waktu kuliah cuek banget, ngga pernah belajar, kali. Cuma sibuk ke sana ke mari. Tapi ngga nyangka, sekarang sudah bisa jadi Bos.”

Fenomena seperti itu adalah salah satu indikator lemahnya korelasi antara perguruan tinggi dengan tuntutan kerja di dunia nyata, di mana teori-teori yang “kelihatannya” usang masih menjadi andalan pada saat ujian, dihafalkan, dan kemudian… dilupakan setelah nilai keluar dan A sudah di tangan. Kelihatannya? Ya, sebenarnya tidak semua teori usang, begitu juga tidak semua buku musti di-tongsampah-kan karena diterbitkan duapuluh tahun yang lalu. Tetapi masalahnya terlalu sering dosen, atau guru, tidak mengaitkan (atau tidak menstimulasi mahasiswanya untuk menganalisis) antara teori dengan fenomena riil sehingga akibatnya kita hanya menilai teori tersebut usang, kuno, tidak aplikatif, dan akhirnya: dihafalkan saja.

Ditambah lagi soal-soal ujian, yang menjadi penentu nilai mata kuliah dan selanjutnya menentukan IP dan IPK, adalah soal-soal hafalan. Jadi konsekuensinya, yang IPKnya ‘gede’ adalah mereka yang rajin menghafal, suka menulis (biasanya kalau soal esai, jawaban yang panjang-panjang nilainya lebih dari yang cuma beberapa baris walaupun yang beberapa baris tadi sangat akurat loh J). Sayangnya, mereka yang analitis, yang kreatif, up-to-date, dan suka menantang dirinya untuk bereksperimen seringkali tidak terakomodir dalam sistem pendidikan formal, tetapi menjadi landasan kebutuhan di dunia kerja atau industri. Mungkin (ya, hipotesis saja) inilah yang menyebabkan mengapa IPK mahasiswa seringkali tidak dapat mengindikasikan kesuksesan seseorang dalam dunia kerja

selama sistem pendidikan indonesia tidak pernah dievaluasi,ya hanya seperti ini produk yg dihasilkan

Spoiler for Lamar pekerjaan :D:


SUMBER

mungkin sistem pendidikan di negara ni yang harus dibenahi y bu

ngmg2 itu antrian wc umum apa y?
ha ha ha
di dunia kerja memang mekanisme survival of the fittest yang berlaku, tidak hanya otak
sebagai lulusan ber IP tinggi saya tersinggung

ehmmm
gini gan ane juga seorang pengajar lulusan LPTK di jogja
untuk jadi seorang pengajar membutuhkan ilmu dan waktu
bisa aja asdos yang diceritakan tidak punya cukup ilmu dalam mengajar
butuh diagnosa sebelum ngajar, buat RPP, apersepsi, sumber buka, pembuka, isi, penutup, terus aspek yang diamati apa ja kognitif, psikomotirk dan afektif
dan kebutuhan lainnya
jadi untuk jadi seorang pengajar dan pendidik bukan hanya mengandalkan kepintaran semata juga harus punya keterampilannya
ane juga sekarang sebagai pengajar di universitas swasta
senang bisa ketemu teman seprofesi
ane setuju gan, buat apa ada ujian kalo tujuannya cuma buat ngetes hapalan mahasiswanya doang, harus ada yang di ubah tentang sistem pendidikan kita sekarang
masalahnya dasar ilmu ane emang hapalan sih ini. ya mau gimana lagi.
Kalo ane mahasiswa ber-IPK terendah di kelas ipk ane 3,3

kata temen ane yg kerja sebagai HRD di Indonesia, IPK adalah salah satu saringan awal dalam penyeleksian pegawai baru. Hrd kan dituntut untuk dapat menyeleksi bertumpuk-tumpuk berkas lamaran secara efisien alias dapat menghemat waktu. Terlepas apakah calon pegawai tsb qualified ato ga. Toh ini cuma saringan awal doang.

Tp kalo IPK dikaitkan dengan kesuksesan seseorang enggak bisa dijadikan faktor penentu juga sih karena ada faktor lain yg saling mempengaruhi.
penting tapi bukan yg terpenting IPK Tinggi, Penting?
IPK tinggi tidak menjamin pekerjaan.





apalagi yang IPK rendah...
IPK tinggi?
penting dong, biar dapet duit jajan lebih






Tuhan Bersama Orang Berani dan Rendah Hati
kalo interaksi dengan sesama, kepekaan dll kan ndak ada hubungan dengan ipk
mau setuju atau ngga tetep aja tergantung yg punya perusahaan dodol
kalo IPK aja rendah kan udah keliatan kualitasnya kaya gimana
kaga, soalnya dosen kalo kasih nilai seenak jidat, mhs yang dekat aja dikasih nilai tinggi
pendidikan indonesia

tanya kenapa....?????

vbot berpendidikan gag
ga penting babnget lah,,,,
secara ane ga pernah kuliah, cuma lulusan smk doank
kalau yang ipknya rendah daya juangnya tinggi dan pantang menyerah, ngotot juga liat diri sendiri

kalau yang ipk tinggi mungkin terlalu percaya diri dan kurang bergaul, dan kepintarannya buat dia jarang "belajar"

tapi yang penting jujur dan jaga amanat dalam bekerja tuhan akan menjaga masa depan kita, amin
Ini berita atau sekedar opini ya
Kok dimasukin ke BP sih??
Ke lounge aja deh kalo yg begini2 mah..

Mohon ditertibkan untuk2 trit2 yg tidak pada tempatnya.
Quote:Original Posted By banyubiru66

Ditambah lagi soal-soal ujian, yang menjadi penentu nilai mata kuliah dan selanjutnya menentukan IP dan IPK, adalah soal-soal hafalan. Jadi konsekuensinya, yang IPKnya ‘gede’ adalah mereka yang rajin menghafal, suka menulis (biasanya kalau soal esai, jawaban yang panjang-panjang nilainya lebih dari yang cuma beberapa baris walaupun yang beberapa baris tadi sangat akurat loh J). Sayangnya, mereka yang analitis, yang kreatif, up-to-date, dan suka menantang dirinya untuk bereksperimen seringkali tidak terakomodir dalam sistem pendidikan formal, tetapi menjadi landasan kebutuhan di dunia kerja atau industri. Mungkin (ya, hipotesis saja) inilah yang menyebabkan mengapa IPK mahasiswa seringkali tidak dapat mengindikasikan kesuksesan seseorang dalam dunia kerja

selama sistem pendidikan indonesia tidak pernah dievaluasi,ya hanya seperti ini produk yg dihasilkan

Spoiler for "Lamar pekerjaan :D":


SUMBER



tergantung jurusannya om
kalau dia di jurusan ane, dan semuanya dihapal, gila gali tu orang ntar
gini bu, menurut saya sebagai mahasiswa ada beberapa faktor penentu kenapa IP dan IPK bisa tinggi.

1. Dosen. Ada beberapa tipe dosen yang ngga mau ambil pusing. nilai disamaratakan tanpa liat kompetensi mahasiswa. dosen kaya gini biasanya yang mata kuliahnya diincar mahasiswa krn bisa dpt nilai A dengan mudah. kaya di univ saya ada mata kuliah awal pilihan olahraga dan seni. mahasiswa cenderung milih mpko karena nilai A lebih gampang diraih bahkan ngga ngerjain UAS aja dpt A

2. Contek-menyontek. Ini dia bu, penyakit yang masih aja dibawa sampe ke tingkat kuliah.

3. Absen yang lengkap. banyak mahasiswa tidak jujur yang malas (tentunya) suka titip absen ke temennya yg rajin.

Tapi memang bu, yang pintar tp ngga kuper (kurang pergaulan) biasanya lebih sibuk ke organisasinya kaya BEM jd perhatiannya ke pelajaran berkurang. Makanya yg terlihat menonjol adalah orang yang hanya pintar hafalan
×