alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Sejarah & Xenology /
BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
4.88 stars - based on 34 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000010240654/babad-tanah-ganesha-dari-th-te-bandoeng-ke-institut-teknologi-bandung

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”

BABAD TANAH GANESHA:
Sedjarah Kampoes dari “de Technische Hoogeschool te Bandoeng”
ke “Institut Teknologi Bandung”


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


“Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta!
Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala
dari pada masa yang akan datang.”


Pidato HUT Proklamasi 1966 oleh Soekarno
(Ir. TH Bandoeng 1922-1926, Dr.(HC) ITB 13 September 1962)


Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berada di Jalan Ganesha 10/12 Bandung dan diresmikan oleh Presiden RI Ir. Soekarno pada tanggal 2 Maret 1959 telah memiliki sejarah yang panjang. Sejarahnya secara ringkas bisa dibaca di website ITB atau di trit CA-ITB.

Di dalam trit “BABAD TANAH GANESHA” ini mari kita bahas SIDE STORY yang mungkin belum diketahui baik berupa kisah2, foto2 dokumenter & tulisan2 lainnya. Berikut ini adalah tonggak2 penting Sedjarah Kampoes Ganesha dari “de Technische Hoogeschool te Bandoeng” hingga bertransformasi ke “Institut Teknologi Bandung”.


=========================
in the beginning...
=========================


8 Maret 1910 berdirilah Indische Universiteit Vereeniging (IUV), suatu badan yang bertujuan untuk membangun lembaga pendidikan tinggi (universitas) di Hindia Belanda. Tahun 1913 sebuah komisi berkesimpulan bahwa Indonesia belum matang untuk mendapat perguruan tinggi, tapi dengan anggapan pendidikan teknik amat penting, maka dibentuk sebuah Komisi Pendidikan Teknik yaitu Technisch Onderwijs Comissie. Minoritas dalam komisi ini mengajukan pendapat kepada pemerintah yaitu: disamping sekolah teknik yang sudah ada, agar juga dibuka Middelbare Technische School (MTS)/Sekolah Teknik Menengah dengan lama pendidikan 4 tahun setelah MULO (setingkat SMP), dan pendidikan insinyur dengan lama studi 4 tahun setelah HBS (setingkat SMA).

30 Mei 1917 berdirilah Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlands Indie (Institut Kerajaan bagi Pendidikan Teknik Tinggi di Hindia Belanda) di Belanda, suatu badan yang menyiapkan pendirian Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hoogeschool).

4 Juli 1919 penanaman pohon beringin di tengah sawah tempat lokasi Technische Hoogeschool akan didirikan.



=========================
Technische Hoogeschool te Bandoeng
=========================


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
sumber: KITLV


Sabtu, 3 Juli 1920 Technische Hoogeschool te Bandoeng diresmikan pembukaannya oleh Gouverneur Generaal Jhr. Mr. J. P. Graaf van Limburg Stirum di Aula Timur. Pada saat itu TH berstatus bijzondere school (sekolah yang menerima subsidi pemerintah/semi swasta) dengan satu fakultas saja yaitu Faculteit Weg-en Waterbouwkunde (Fakultas Bangunan Jalan dan Air) dengan mahasiswa sebanyak 28 orang. Tanggal 3 Juli inilah yg sampai sekarang diperingati sebagai HARI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK INDONESIA.

1 Juli 1924 Wisuda I TH-Bandoeng.

18 Oktober 1924 TH Bandoeng diambil alih pemerintah oleh Gouverneur Generaal Mr. D. Fock berdasarkan Hooger Onderwijs Ordonnantie No. 1 tgl 9 Oktober 1924 dengan satu fakultas saja yaitu Faculteit van Technische Wetenschap (Fakultas Ilmu Teknik) dengan satu jurusan Afdeling der Weg-en Waterbouwkunde (jurusan bangunan jalan dan air). Koninklijk Instituut voor Hoger Technisch Onderwijs dibubarkan dan dibentuklah Bandoengsch Technische Hoogeschool-fonds (BTH-fonds) - semacam yayasan dana untuk beasiswa, masih berdiri saat ini di Belanda.

3 Juli 1926 TH mewisuda untuk pertama kalinya bangsa Indonesia di antaranya Ir. Soekarno.

Maret 1942 TH Bandoeng ditutup, beberapa bulan kemudian dibuka kembali dalam bentuk Institute of Tropical Science.

====================
Bandung Kogyo Daigaku
====================


1 April 1944 pemerintah militer Jepang membuka kembali TH dengan nama Bandung Kogyo Daigaku dengan tiga bagian yaitu Dobukuka (bagian sipil), Oyakagakuka (bagian kimia), dan Denki & Kikaika (bagian listrik & mesin). Rektornya Isyihara dengan pengajar di antaranya orang Indonesia: Ir. R. Roosseno Soerjohadikoesoemo, Ir. R. Goenarso, Ir. R. M. Soewandi Notokoesoemo, S. M. Abidin, Ir. Soenarjo. Pada masa ini berhasil meluluskan 5 orang sarjana teknik semua dr jurusan sipil.

=========================
Sekolah Tinggi Teknik Bandung
=========================


1945 segera setelah proklamasi, pada lokasi yg sama dibuka kembali Sekolah Tinggi Teknik Bandung (STT Bandung) di bawah pimpinan Prof. Ir. R. Roosseno Soerjohadikoesoemo

November 1945 STT Bandung dipindahkan ke Yogyakarta dengan sebutan STT Bandung di Yogya, dan atas usaha Ir. Wreksodiningrat pada pertengahan tahun 1946 dibuka kembali dengan ketua Prof. Ir. R. Roosseno Soerjohadikoesoemo, Ir. Soewandi (sekretaris), Ir. Goenarso, Ir. Soenarjo, Ir. Wreksodiningrat, Ir. Abdoelmoetalip Danoeningrat, Ir. Ali Djojoadinoto, Ir. Soedoro, Herman Johannes.

Desember 1948 STT Bandung di Yogya terpaksa tutup karena serbuan tentara Belanda tetapi dibuka kembali tahun 1949 dengan menyelenggarakan bagian Sipil saja.

19 Desember 1949 UGM berdiri sebagai universitas negeri REPUBLIK INDONESIA YANG PERTAMA, STT itupun dimasukkan ke dalamnya sebagai Fakultas Teknik.

==============================
Nood-Universiteit/Universiteit van Indonesie
==============================


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


21 Juni (sumber lain Januari??) 1946 berdirilah Nood-Universiteit oleh pemerintah pendudukan belanda - NICA di mana perguruan tinggi di Jl. Ganesha masuk di dalamnya dengan nama Technische Faculteit.

12 Maret 1947 Nood-Universiteit diubah menjadi Universiteit van Indonesie yg berlaku surut mulai November 1945 di mana perguruan tinggi di Jl. Ganesha masuk di dalamnya dengan nama Faculteit van Technische Wetenschap (Fakultas Ilmu Teknik).

13 Juni 1947 berdirilah Faculteit van Exacte Wetenschap di Jl. Ganesha Bandung.

1 Agustus 1947 berdirilah Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar

22 September 1948 Faculteit van Exacte Wetenschap berubah menjadi Faculteit van Wiskunde en Natuurwetenschap.

====================
Universitas Indonesia
====================


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


2 Februari 1950 Universiteit van Indonesie diserahkan pemerintah Belanda ke pangkuan ibu pertiwi dengan namanya yang beragam: Universiteit Indonesia / Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia Serikat / Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia bahkan di salah satu pidato ketua fakultas di Bandung disebut Universiteit van de Republiek Indonesië.

Penyerahan tersebut termasuk semua fakulteitnya di Bandung yaitu Faculteit van Technische Wetenschap dan Faculteit van Wiskunde en Natuurwetenschap.

Faculteit van Technische Wetenschap diubah menjadi Fakultet Teknik Bandung (1950), Fakultet Pengetahuan Teknik (1951), Fakultet Teknik Bandung (1952), Fakultas Teknik Bandung (1956).

Faculteit van Wiskunde en Natuurwetenschap diubah menjadi Fakulteit Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA)

2 Februari 1952 dilangsungkan Dies Natalis ke-2 Universiteit Indonesia di Kampus Ganesha, Bandung. Di sinilah untuk pertama kalinya dies natalis UI dirayakan.

====================
Institut Teknologi Bandung
====================


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”



2 Maret 1959 berdasarkan PP Nomor 6 Tahun 1959 (ditetapkan tanggal 28 Februari 1959) berdirilah INSTITUT TEKNOLOGI di kota BANDUNG, yg ditandai dg penandatanganan piagam & prasasti.
Tanggal inilah yg kemudian diperingati sebagai DIES NATALIS ITB.

Sumber:
- Goenarso, Prof. Riwayat Perguruan Tinggi Teknik di Indonesia Periode 1920-1942. Penerbit ITB. Bandung. 1995
- Adjat sakri. Dari TH ke ITB. Bandung. 1979.
- Institut Teknologi Bandung. Undergraduate Student Handbook. Bandung. 2010.

"Kami bukanlah pelukis sejarah, kami cuma pengumpul mozaik-mozaik sejarah,
yang berusaha menyusun keping-kepingnya menjadi suatu lukisan"


Spoiler for jangan lupa:

trit ini diinspirasi ini & ini
Halaman 1 dari 20

Index & referensi

INDEX BABAD TANAH GANESHA





REFERENSI BUAT PEMINAT SEJARAH & KEMAHASISWAAN DI KAMPUS GANESHA

  • "Dari TH ke ITB: Kenang-kenangan Lustrum Keempat ITB 2 Maret 1979". Editor: Adjat Sakri. Bandung, Penerbit ITB, 1979.
  • Goenarso, Prof. "Riwayat Perguruan Tinggi Teknik di Indonesia, Periode 1920-1942". Bandung, Penerbit ITB, 1995.
  • Institut Teknologi Bandung. "Aura Biru: Catatan Para Pelaku Sejarah ITB". Editor: Aman Mostavan, Ismunandar, Iman Sudjudi, B.Kombaitan. Bandung, 2009.
  • Institut Teknologi Bandung. "Undergraduate Student Handbook". Bandung. 2010.
  • Moechtar, Hasyrul. "Mereka dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967". Bandung, Penerbit Alumni, 1998.
  • Raillon, Francois. "Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia". Jakarta, LP3ES, 1985.
  • Somadikarta, S. "Tahun Emas Universitas Indonesia". Jakarta, UI Press, 1999.

  • http://buku30tahun.blogspot.com
  • http://gerakanmahasiswa78.blogspot.com
  • http://sociopolitica.wordpress.com

Pemimpin Kampus Ganesha dari masa ke masa

Rector-Magnificus / Voorzitter pada periode Technische Hoogeschool te Bandoeng
• 3 Jul 1920-18 Okt 1924 Prof. Ir. Jan Klopper
Rector Magnificus TH Bandung & Voorzitter der Faculteit Weg-en Waterbouwkunde; guru besar matematika dan mekanika terapan TH Bandung & TH Delft, Dr (HC). UvI, Ir. TH Delft.
Sekretaris Fakultas: Prof. Dr. Jacob Clay

• 18 Okt 1924-15 Jun 1925 Prof. Ir. Jan Klopper
Voorzitter der Faculteit van Technische Wetenschap; guru besar matematika dan mekanika terapan TH Bandung & TH Delft, Dr (HC). UvI, Ir. TH Delft.
Sekretaris Fakultas: Prof. Dr. Jacob Clay

• 15 Jun 1925-2 Jul 1927 Prof. Dr. Jacob Clay
Voorzitter der Faculteit van Technische Wetenschap; guru besar fisika/ilmu alam TH Bandung, Dr. Leiden, Drs. Leiden.
Sekretaris Fakultas: Prof. Ir. H. C. P. de Vos

• 2 Jul 1927-30 Jun 1928 Prof. Ir. H. C. P. de Vos
Voorzitter der Faculteit van Technische Wetenschap; guru besar teknik sipil (irigasi/pengairan) TH Bandung.
Sekretaris Fakultas: Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker

• 30 Jun 1928-29 Jun 1929 Prof. Dr. Jacob Clay
Voorzitter der Faculteit van Technische Wetenschap; guru besar fisika/ilmu alam TH Bandung, Dr. Leiden, Drs. Leiden.
Sekretaris Fakultas: Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker

• 29 Jun 1929-1 Jul 1933 Prof. Dr. Willem Boomstra
Voorzitter der Faculteit van Technische Wetenschap; Dr. Univ. van Amsterdam 1913, guru besar matematika TH Bandung.

• 1 Jul 1933-16 Jun 1934 Prof. Ir. H. C. P. de Vos
Voorzitter der Faculteit van Technische Wetenschap; guru besar teknik sipil (hidrolika/irigasi/pengairan) TH Bandung.

• 16 Jun 1934-2 Agt 1935 Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker
Voorzitter der Faculteit van Technische Wetenschap; guru besar arsitektur TH Bandung, alumni Akmil Breda Belanda.

• 2 Agt 1935-31 Jul 1936 Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh
Voorzitter der Faculteit van Technische Wetenschap; guru besar teknik sipil (hidrolika/irigasi/pengairan) TH Bandung.
Sekretaris Fakultas: Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard

• 31 Jul 1936-14 Agt 1937 Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard
Voorzitter der Faculteit van Technische Wetenschap; guru besar teknik sipil (jalan dan jembatan) TH Bandung, TH Delft & Cornell Univ.
Sekretaris Fakultas: Prof. Dr. Herman Robert Woltjer

• 14 Agt 1937-18 Jul 1938 Prof. Ir. J. J. I. Sprenger
Voorzitter der Faculteit van Technische Wetenschap; guru besar teknik sipil (mekanika tanah) TH Bandung.
Sekretaris Fakultas: Prof. Dr. Willem Boomstra

• 18 Jul 1938-28 Jul 1939 Prof. Dr. Herman Robert Woltjer
Voorzitter der Faculteit van Technische Wetenschap; Lahir 16 Feb 1887 Amsterdam, Noord-Holland, Nederland, meninggal 18 Feb 1974 Zutphen, Gelderland, Nederland. Menikah 18 Sep 1917 di Amsterdam, Noord-Holland, Nederland dengan Louisa Bastiana van Schelven (lahir 11 Okt 1884 di Amsterdam, Noord-Holland, Nederland, meninggal 11 Jul 1945 di Jakarta).
Sekretaris Fakultas: Prof. Ir. J. W. F. C. Proper

• 28 Jul 1939-1 Agt 1940 Prof. Dr. Willem Boomstra
Voorzitter der Faculteit van Technische Wetenschap; Dr. Univ. van Amsterdam 1913, guru besar matematika TH Bandung.
Sekretaris Fakultas: Prof. Ir. J. W. F. C. Proper

• 1 Agt 1940-1 Agt 1941 Prof. Ir. J. W. F. C. Proper
Voorzitter der Faculteit van Technische Wetenschap; guru besar teknik sipil (hidrolika/irigasi/pengairan) TH Bandung.
Sekretaris Fakultas: Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard

• 1 Agt 1941-8 Mar 1942 Prof. Ir. J. J. I. Sprenger
Voorzitter der Faculteit van Technische Wetenschap; guru besar teknik sipil (mekanika tanah) TH Bandung.
Sekretaris Fakultas: Ir. W. J. Th. Amons

Pemimpin pada zaman Bandung Kogyo Daigaku
  • 01 Apr 1944-Agt 1945 Isyihara

Pemimpin pada zaman Sekolah Tinggi Teknik Bandung

Pemimpin pada zaman Sekolah Tinggi Teknik Bandung di Yogya

Voorzitter der Faculteit van Technische Wetenschap Bandung
  • 21 Jan 1946-01 Sep 1947 Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard
  • 01 Sep 1947-1950 Prof. Dr. Kees Posthumus[INDENT]guru besar kimia & teknik kimia TH Bandung & TH Eindhoven, Ir/drs(?) Univ. Leiden, Dr. Univ. Leiden.[/INDENT]
  • 1950-1 Agustus 1953 Prof. Ir. H. Vlugter
  • 01 Agt 1953-02 Mar 1959 Prof. Ir. Soetedjo

Faculteit van Wiskunde en Natuur Wetenschap Bandung
  • 1947-1957 Prof. H. Th. M. Leeman
  • 1957-02 Mar 1959 Prof. dr. Djoehana Wiradikarta

Rektor pada periode Institut Teknologi Bandung
  1. 02 Mar 1959-01 Nov 1959 Ketua Presidium: Prof. Ir. R. Soemono (teknik sipil); Anggota: Prof. Ir. R. Goenarso (teknik sipil/matematika); Prof. dr. Djoehana Wiradikarta (Dekan FIPIA); Prof. Ir. Soetedjo (Dekan FT); Panitera: Prof. Dr. Ir. R. M. Soemantri Brodjonegoro (Ketua Jurusan Teknik Kimia).
  2. 01 Nov 1959-20 Apr 1964---Prof. Ir. R. Otong Kosasih (teknik elektro)
  3. 14 Apr 1964-22 Feb 1965---Ir. R. Oekar Bratakoesoemah (teknik sipil)
  4. 22 Feb 1965-1969-------------Letkol Ir. Koentoadji (teknik elektro)
  5. 1969-07 Des 1976-------------Prof. Dr.rer.nat. Doddy Achdiat Tisna Amidjaja (biologi)
  6. 07 Des 1976-14 Feb 1978---Prof. Dr.Ing. Iskandar Alisjahbana (teknik elektro)
  7. 16 Feb 1978-30 Mei 1979---Ketua Rektorium: Dr. Sudjana Sapi’ie (teknik elektro); Anggota: Prof. Dr. Moedomo (matematika); Prof. Ir. Wiranto Arismunandar, MSME (teknik mesin); Ir. Djuanda Suraatmadja (teknik sipil).
  8. 30 Mei 1979-22 Nov 1980---Pjs. Rektor: Prof. Dr.rer.nat. Doddy Achdiat Tisna Amidjaja (biologi)
  9. 22 Nov 1980-12 Des 1988---Prof. Hariadi Paminto Soepangkat, Ph.D. (fisika)
  10. 12 Des 1988-07 Mar 1997---Prof. Ir. Wiranto Arismunandar, MSME (teknik mesin)
  11. 07 Mar 1997-10 Nov 2001---Prof. Ir. Lilik Hendrajaya, M.Sc., Ph.D. (fisika & teknik perminyakan)
  12. 10 Nov 2001-23 Okt 2004---Ir. Kusmayanto Kadiman, Ph.D. (teknik fisika)
  13. 23 Okt 2004-29 Jan 2005----Pjs. Rektor: Prof. Ir. Adang Surahman, M.Sc., Ph.D. (teknik sipil)
  14. 29 Jan 2005-29 Jan 2010----Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc. (teknik geologi/geofisika)
  15. 29 Jan 2010-2014--------------Prof. Akhmaloka, Dipl.Biotech., Ph.D. (kimia)

sumber:
  1. http://rektorkita.itb.ac.id/sejarah
  2. http://www.itb.ac.id/about-itb/timeline
  3. Goenarso (1995). Riwayat perguruan tinggi teknik di Indonesia, periode 1920-1942. Bandung: Penerbit ITB.
  4. Moechtar, H. (1998). Mereka dari Bandung: Pergerakan mahasiswa Bandung 1960-1967. Bandung: Penerbit Alumni.
  5. Sakri, A. (1979). Dari TH ke ITB: Kenang-kenangan lustrum keempat 2 Maret 1979. Bandung: Penerbit ITB.
  6. Verdoorn, F. (1945). Scientific Institutions, Societies and Research Workers in the Netherlands Indies. In P. Honig (Ed.), Science and Scientists in the Netherlands Indies (pp. 425-460). New York, NY: Board For The Netherlands Indies.
  7. Majalah "De ingenieur in Nederlandsch-Indie" edisi tahun 1934-1942.
  8. http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Rektor_Institut_Teknologi_Bandung

Side story periode TH-te Bandoeng (1920-1942)

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


“Niet Eindhoven maar Bandoeng was de tweede Nederlandse TH''


“Bukan TH Eindhoven, melainkan TH Bandung lah TH Belanda yg kedua” kalimat tsb diucapkan professor Duparc, guru besar matematika TH Delft. Mungkin terdengar berlebihan namun memang faktanya demikian. Polytechnische School te Delft yg dibentuk tahun 1904 ditingkatkan statusnya menjadi Technische Hoogeschool Delft tahun 1905. Lima belas tahun kemudian kalangan swasta Belanda mendirikan TH kedua di Bandung (3 Juli 1920). Baru kemudian tahun 1956 didirikanlah TH ketiga di Eindhoven, dimana Rektor keduanya adalah guru besar TH Bandung & mantan Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik Nood Universiteit/Universiteit van Indonesie Bandung (Maret 1946-1950).


Prehistory...

Pendirian TH Bandung sendiri melewati proses yg panjang & penuh perdebatan.
Antara perlu tidaknya dibuka sekolah teknik tsb,
pada tingkatan apa sekolah yg akan dibuka tsb, setingkat STM-kah, politeknik kah, atau sekolah tinggi?
dimanakah lokasi sekolah tsb… Jakarta, Jogja, Solo? atau Bandung?
jurusan apa saja yg perlu dibuka?
siapa pengajarnya? pembiayaannya? mahasiswanya darimana? waktu itu jumlah HBS (sekolah gabungan SMP+SMA – 5 tahun) di Indonesia masih bisa dihitung dgn jari, AMS (setingkat SMA, studi 3 tahun setelah MULO) belum ada…

Secara singkat ada empat kelompok yg berkaitan dalam pendirian pendidikan tinggi (khususnya pendidikan tinggi teknik) di Indonesia (Hindia Belanda saat itu) yaitu:
  1. Indische Universiteit Vereeniging/IUV (8 Maret 1910) yaitu suatu badan yang bertujuan untuk membangun Universiteit van Nederlands-Indie, namun gagal karena pemerintah menganggap Hindia Belanda belum waktunya memiliki universitas.
  2. Technisch Onderwijs Comissie yaitu suatu Komisi Pendidikan Teknik yang mengusulkan diselenggarakannya pendidikan:
    • insinyur diploma A (lama studi 4 tahun yg menerima lulusan MULO (sekolah setingkat SMP waktu itu) -- kurang lebih mirip STM sekarang.
    • insinyur diploma B (lama studi 6 tahun yg menerima lulusan MULO – konsepnya mirip penggabungan SMA 3 tahun + akademi/politeknik 3 tahun).
    • pendapat minoritas dalam komisi tsb menyarankan pendidikan insinyur (lama studi 4 tahun yg menerima lulusan HBS (sekolah setingkat SMA waktu itu).

  3. Committee Indie Weerbaar (Juli 1916).
  4. Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlands Indie/KIHTONI (30 Mei 1917) di Belanda, suatu badan yang menyiapkan pendirian Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hoogeschool).


Dari keempat kelompok tsb, KIHTONI yg merupakan gabungan pemuka swasta, wakil dari Kementerian Daerah Jajahan, dan wakil dari Koninklijk Instituut van Ingenieurs (semacam Persatuan Insinyur Belanda) lah yg bertindak secara nyata dalam mempersiapkan pendirian Technische Hoogeschool tsb.

Dalam waktu singkat terkumpullah tiga juta gulden, suatu jumlah yg cukup utk mendirikan jurusan Weg- en Waterbouwkunde (Ilmu bangunan air dan bangunan jalan).

Kemudian dibentuklah Raad van Beheer (Dewan Pengurus) untuk memimpin pelaksanaan selanjutnya dgn bantuan Technisch Onderwijs Comissie. Ketua Raad van Beheer semula adalah Dr. C. J. K. van Aalst, kemudian digantikan oleh J. W. Yzerman.

Prof. Ir. Jan Klopper, guru besar TH Delft ditugasi menyusun program pendidikan/kurikulum sesuai maksud KIHTONI. Rencana semula adalah membuat program studi tiga tahun shg lulusannya dpt bekerja sbg middelbaar technicus (teknisi menengah) – setingkat politeknik sekarang. Bagi yg pintar dapat meneruskan studi utk keinsinyuran.

KIHTONI mungkin hendak mengikuti “jejak” TH Delft yg tahun 1904 masih berbentuk Polytechnische School, kemudian ditingkatkan menjadi Technische Hoogeschool tahun 1905.

Namun berbagai kalangan di Indonesia tidak menghendaki program “setengah-setengah” tsb, tetapi menghendaki perguruan tinggi penuh – technische hoogeschool (bukan “sekedar” politeknik).

Technisch Onderwijs Comissie (diketuai Ir. R. A. van Sandick) yg diperbantukan pada KIHTONI telah merencanakan program studi keinsinyuran untuk insinyur sipil & insinyur kimia, namun untuk sementara hanya dibuka jurusan sipil dg meniru kurikulum TH Delft dgn modifikasi antara lain Kurikulum TH Bandung dirancang untuk studi selama 4 tahun, berbeda dgn saudara tuanya di Delft yaitu 5 tahun, dg pertimbangan satu tahun pelajaran di Delft cuma 25 minggu sementara di Bandung 40 minggu (4x40 = 160 > 5x25 = 125).

Ada bagian yg mencari dana, ada bagian yg menyiapkan kurikulum, ada juga yg menyiapkan sarana prasarananya. Ir. H. MacLaine Pont telah merencanakan kompleks kampus tsb berikut bangunannya yg merupakan perpaduanarsitektur lokal/tradisional dgn struktur/konstruksi Barat.


Mengenai lokasi kampus TH…

KIHTONI memikirkan antara Solo/Jogja atau Jakarta/Bandung,
Technisch Onderwijs Comissie mengusulkan Jakarta,
tapi Burgemeester (Walikota) Bandung Bertus Coops dengan tegas mengajukan kotanya bersedia menerima TH itu, dgn menunjukkan secara konkret lokasinya.

Suatu langkah berani yg kemudian berdampak pada pengembangan kota Bandung selanjutnya. Berturut2 kemudian dgn adanya TH, Bandung menjadi kota “pusat sains & teknologi”, banyak instansi2 keteknikan seperti Dept PU, kantor PTT (Pos, Telepon & Telegraf), laboratorium2, yg didirikan di kota Bandung (sampai sekarang).

Selanjutnya setelah konsep pendirian TH tsb mendapat persetujuan dr Gouverneur Generaal Jhr. Mr. J. P. Graaf van Limburg Stirum tanggal 1 Mei 1919, segera dimulai pembangunan di atas tanah yg telah disediakan seluas 30 hektar, yg dibatasi Cikapundung dan Dagoweg (Jl. Ir. H. Juanda sekarang) – 500 meter barat-timur dan 600 meter utara-selatan.

Pada tanggal 4 Juli 1919 diadakan Upacara penanaman empat pohon beringin oleh empat gadis berbagai bangsa pada sebidang tegal yg hanya bisa dicapai melalui pematang sawah yg sempit, di tengah2 dataran tempat kompleks bangunan Technische Hoogeschool akan didirikan.

Satu tahun kemudian, tepatnya hari Sabtu, 3 Juli 1920 Technische Hoogeschool te Bandoeng diresmikan pembukaannya oleh Gouverneur Generaal Jhr. Mr. J. P. Graaf van Limburg Stirum di Aula Timur. Pada saat itu TH berstatus bijzondere school (sekolah yang menerima subsidi pemerintah/semi swasta) dengan satu fakultas saja yaitu Faculteit Weg-en Waterbouwkunde (Fakultas Bangunan Jalan dan Air) dengan mahasiswa sebanyak 28 orang. Tanggal 3 Juli inilah yg sampai sekarang diperingati sebagai HARI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK INDONESIA.


Jurusan-jurusan yang lahir pada periode TH:

  • 2 Juli 1920 – Teknik Sipil (afdeeling weg- en waterbouwkunde)
  • 1 Agustus 1940 – Teknik Kimia (afdeeling chemische technologie)
  • 1 Agustus 1941 – Teknik Mesin (afdeeling werktuigbouwkunde)
  • 1 Agustus 1941 – Teknik Elektro (afdeeling electrotechniek – pada saat dibuka mahasiswa tingkat I bergabung dgn Teknik Mesin)



Kisah-kisah lain...


Side story periode Sekolah Tinggi Teknik Bandung (1944-1948)

Periode ini bisa dikatakan periode pancaroba dlm situasi yg kurang menguntungkan bagi perkembangan akademik & penelitian, pada periode inilah para mahasiswa & staf pengajar bahu membahu turut dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaannya.

Pada masa pendudukan Jepang sampai dg masuknya kembali Belanda dibagi dalam empat masa2 singkat:

  1. Institute of Tropical Science (..........1942 – 1 April 1944)
  2. Bandung Koogyo Daigaku (1 April 1944 - Agustus 1945)
  3. Sekolah Tinggi Teknik Bandung (Agustus 1945 - November 1945)
  4. Sekolah Tinggi Teknik Bandung di Yogyakarta (17 Februari 1946 - 19 Desember 1948)



Institute of Tropical Science (..........1942 – 1 April 1944)

Beberapa waktu sebelum tentara Jepang mendarat TH ditutup, karena semua guru besarnya diwajibkan masuk milisi. Kampus TH sempat dijadikan markas tentara Jepang. Beberapa bulan kemudian, atas desakan beberapa guru besar Belanda & sesuai dgn keperluan militer Jepang, laboratorium di kompleks TH dibuka kembali dlm bentuk Institute of Tropical Science....

sepertinya tidak ada kegiatan akademis di sana, cuma penelitian...IMHO


Bandung Koogyo Daigaku (1 April 1944 - Agustus 1945)

Pada tanggal 1 April 1944 Pemerintah Militer Jepang membuka kembali TH dengan nama Bandung Koogyo Daigaku yg terdiri dr dua tingkatan, yaitu Daigakubu atau Sekolah Tinggi Teknik, dan Senmonbu atau Sekolah Menengah Teknik.

BKD mempunyai tiga bagian dgn lama studi tiga tahun yaitu:
  1. Dabobuka (bagian Sipil)
  2. Oyakagabuka (bagian Kimia)
  3. Denki dan Kikaika (bagian Listrik dan Mesin)


Pimpinannya adalah tuan Isyihara. Selain orang Jepang, terdapat pengajar bangsa Indonesia diantaranya:
  • Ir. R. Roosseno Soerjohadikoesoemo (Mekanika, Beton) - THB 1932
  • Ir. R. Goenarso (Ilmu Pasti, Fisika) - THB 1935
  • Ir. R. M. Soewandi Notokoesoemo (Bangunan) - THB 1936
  • Sutan Muchtar Abidin (Ilmu Pasti)
  • Ir. Soenarjo (Irigasi, Hidrolika, Mesin)


Pada tanggal 1 Juli 1944, Roosseno (usia 35 tahun) diangkat Pemerintah Balatentara Nippon sebagai profesor (Kyooju) di Bandung Kogyo Daigaku dalam bidang ilmu mekanika dan beton serta baja. Dia merupakan satu2nya orang Indonesia yg diangkat sbg profesor di masa Jepang.

Selama pendudukan Jepang, BKD berhasil meluluskan lima orang dgn gelar sarjana teknik (kogakusi) semuanya dari Bagian Sipil. Sebelum TH ditutup mereka adalah mahasiswa TH tingkat akhir. (Sekedar pembanding, dr buku "Dari TH ke ITB" jilid 2 data alumni tahun 1945 cuma mencatat 3 orang: Irdan Idris, Nowo, Soebianto)

BKD berakhir pada tahun 1945 setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia.


Sekolah Tinggi Teknik Bandung (Agustus 1945 - November 1945)

Senin, Agustus 1945 kira-kira seminggu setelah proklamasi (19 atau 26??) di ruang Aula Barat Bandung Koogyo Daigaku, dilakukan timbang terima dari bala tentara Jepang kepada Pemerintah Republik Indonesia yg diwakili Soenaryo, Soewandi, Abidin dan Roosseno, dimana kemudian pada lokasi THS/BKD dibuka kembali Sekolah Tinggi Teknik Bandung (STT Bandung) di bawah pimpinan Prof. Ir. R. Roosseno Soerjohadikoesoemo, dibantu oleh Ir. Goenarso, Ir. Soewandi Notokusumo, Ir. Soenaryo, dan Sutan Muchtar Abidin.

Modal kerja pada saat itu hanya nasionalisme yg berkobar-kobar, antusiasme, devotion, untuk memulai pendidikan teknik di indonesia. Suatu tugas berat di atas pundak para insinyur. Pada saat itu hanya ada 170 insinyur di Indonesia. Apa mungkin 170 gelintir insinyur mengurus pekerjaan teknik dalam negara RI yg berdaulat dg penduduk 90 juta? (Ini penuturan Roosseno pada pidato pengukuhan sbg guru besar luar biasa ilmu beton pada tanggal 26 Maret 1949 di Aula Barat Faculteit van Technische Wetenschap Universiteit van Indonesie Bandung).

Perkuliahan berjalan terus hingga bulan Oktober 1945 Bandung diserbu Inggris yg diboncengi Belanda. Pada bulan Oktober 1945 tercetus ikrar bersama mahasiswa yg diucapkan dihadapan dua anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), yaitu Otto Iskandardinata dan Ir. M. P. Soerachman Tjokrohadisoerio, ketika mereka hendak berangkat ke Jakarta akan menghadiri rapat pleno KNIP yg pertama.

Di dalam ikrar itu para mahasiswa meminta kepada kedua anggota KNIP agar menyampaikan tekad mahasiswa tidak sudi kembali ke Kampus selama kemerdekaan penuh dari bangsa Indonesia belum tercapai. Para mahasiswa bersedia dan rela mengorbankan jiwa & raga bagi kemerdekaan bangsa (Reksowardojo, 1964).

Mulai bulan November 1945, kuliah dibubarkan, meskipun kantor administrasinya di bawah Sutan Muchtar Abidin dan Ir. Soenaryo masih berjalan terus, semua dosen & pegawai diharuskan mengungsi dari Bandung. STT kemudian dipindahkan ke Yogyakarta dgn sebutan STT Bandung di Yogyakarta.

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
sumber: [url]www.gimonca.com[/url]


Sekolah Tinggi Teknik Bandung di Yogyakarta (17 Februari 1946 - 19 Desember 1948)

Pada tanggal 6 Januari 1946 kantor itu dipindahkan ke Yogyakarta atas pimpinan Prof. Ir. R. Roosseno Soerjohadikoesoemo, Ir. Soenaryo, dan Ir. Soewandi Notokusumo. Mereka menghubungkan diri dg Panitia Pendirian Yayasan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada.

Pada suatu rapat dg Panitia tsb, tdk terdapat persesuaian paham karena Panitia tsb tetap bermaksud akan mendirikan Perguruan Tinggi Partikelir (swasta), sedang Prof. Ir. Roosseno cs telah memperoleh perintah dari Kementerian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan untuk membuka Sekolah Techniek Tinggi Negeri di Yogyakarta, yg dpt diselenggarakan & dibuka mulai tanggal 17 Februari 1946 di gedung Sekolah Menengah Tinggi B Negeri Yogyakarta.

Program studi yg dibuka ada tiga yaitu Bagian Jalan dan Air, Bagian Kimia, dan Bagian Mesin & Teknik Elektro dgn lama studi empat tahun. Catatan: sampai dgn ditutupnya TH tahun 1942, bagian Teknik Elektro masih bergabung dalam Bagian Mesin & Listrik. Itulah yg diteruskan STT tsb.

Staf pengajarnya terdiri atas Prof. Ir. R. Roosseno Soerjohadikoesoemo (THB 1932) (Ketua), Ir. R. M. Soewandi Notokoesoemo (THB 1936) (sekretaris), Ir. R. Goenarso (THB 1935), Ir. Soenarjo, Ir. Wreksodiningrat (TH Delft 1916), Ir. Abdoelmoetalip Danoeningrat (THB 1934), Ir. Ali Djojoadinoto (THB 1937), Ir. Soedoro, Herman Johannes.

Pada tanggal 1 Maret 1947 Prof. Ir. Wreksodiningrat menggantikan Prof. Ir. R. Roosseno sbg Ketua STT.

Mahasiswa yg dapat meninggalkan Bandung dpt meneruskan pelajarannya di Yogyakarta dan dapat menempuh ujian insinyur untuk pertama kalinya di bulan Oktober 1946.

Karena penyerbuan Belanda pada tanggal 19 Desember 1948 Sekolah Techniek Tinggi di Yogyakarta ditutup.

Pada tanggal 7 Desember 1949 fakultas2 dari “Yayasan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada” diserahkan kepada Pemerintah dan tanggal 19 Desember 1949 Pemerintah RI mendirikan Universitit Negeri Gadjah Mada dimana STT di Yogyakarta dimasukkan ke dalamnya sebagai Fakultas Teknik.

Itulah kisah periode “Sekolah Tinggi Teknik Bandung” yg harus berakhir di Yogyakarta, namun menjadi awal kisah saudara-saudara di Fakultas Teknik UGM.

Sumber: Dari TH ke ITB; “Pendidikan berwawasan kebangsaan” M. Nasruddin Anshoriy Ch.

Side story periode cabang Universiteit van Indonesie / UvI (1946-1950)

Side story periode cabang Universiteit van Indonesie / UvI (1946-1950)

19 Agustus 1945 Pemerintah RI mendirikan Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia yang terdiri dari Perguruan Tinggi Kedokteran (dibuka tanggal 1 Oktober 1945) dan Perguruan Tinggi Hukum/Kesusasteraan yang berkedudukan di Jakarta.

21 Januari 1946 pemerintah NICA Belanda yang berhasil menguasai Jakarta dan beberapa daerah lainnya mendirikan Nood Universiteit (Universitas Darurat) yang terdiri dari Geneeskundige Fakulteit (Fakultas Kedokteran) di Jakarta, Juridische Faculteit (Fakultas Hukum) di Jakarta, Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte (Fakultas Sastra dan Filsafat) di Jakarta, Landbouwkundige Faculteit (Fakultas Pertanian) di Bogor, dan Technische Faculteit (Fakultas Teknik) di Bandung. Jumlah mahasiswa yang tercatat saat Nood Universiteit dibuka sebanyak 221 orang, terdiri dari 104 mahasiswa Belanda, 103 mahasiswa Tionghoa, dan 14 mahasiswa Indonesia. Presiden Nood Universiteit adalah Prof. Dr. P. M. van Wulften Palthe (sampai akhir April 1946). Kemudian diganti Prof. Dr. A. de Waart (hingga pertengahan 1947).

Universiteit van Indonesie dibuka berdasarkan Hooger Onderwijs Ordonantie 1946, Besluit No. 1 tanggal 12 Maret 1947 (Staatsblad 1947 No. 47) berlaku surut mulai bulan November 1945.

Dengan adanya pengakuan kedaulatan Pemerintah Republik Indonesia Serikat oleh Belanda tanggal 27 Desember 1949, maka dikeluarkanlah Undang-Undang Darurat No. 7 Tahun 1950 tanggal 23 Januari 1950 tentang Perguruan Tinggi yang berlaku sejak tanggal 30 Januari 1950.

Dengan dasar itulah maka Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia di Jakarta (PT Kedokteran dan PT Hukum/Kesusasteraan dengan pengantar bahasa Indonesia) dan Universiteit van Indonesie (terdiri dari 9 fakultas dengan pengantar bahasa Belanda) dan empat lembaga pendidikannya digabungkan menjadi Universiteit Indonesia atau Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia Serikat.

Faculteit van Technische Wetenschap en Universitaire Leergang voor Tekenleraren di Bandung diubah menjadi Fakulteit Ilmu Pengetahuan Teknik dan Lembaga Pendidikan Guru Menggambar.

Faculteit van Wiskunde en Natuurwetenschap di Bandung diubah menjadi Fakulteit Ilmu Pasti dan Ilmu Alam.


Jurusan-jurusan yang lahir pada periode UvI:

Side story periode cabang Universitas Indonesia / UI (1950-1959)

Berbicara sejarah kampus Ganesha era tahun 1950-1959, tentunya akan bertautan dengan sejarah Universitet Indonesia karena pada era tersebut kampus Ganesha berada di bawah panji-panji yang sama …

Seperti sudah dibahas sebelumnya bahwa sebagai konsekuensi pengakuan kedaulatan Pemerintah Republik Indonesia Serikat oleh Belanda tanggal 27 Desember 1949 melalui Konferensi Meja Bundar (KMB), maka dikeluarkanlah Undang-Undang Darurat No. 7 Tahun 1950 tanggal 23 Januari 1950 tentang Perguruan Tinggi yang berlaku sejak tanggal 30 Januari 1950, di mana sejak saat itu Universiteit van Indonesie diserahkan pemerintah Belanda kepada pemerintah Indonesia dengan nama Universiteit Indonesia atau Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia Serikat.

=================================

Catatan: Dari pidato Voorzitter/Ketua Fakultas Prof. ir. H. Vlugter pada Dies Natalis der Faculteit van Technische Wetenschap tanggal 18 Oktober 1950 di kampus Ganesha Bandung, nama yang dipakai adalah “Fakultet Pengetahuan Teknik dari Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia” – bukan “Universiteit Indonesia”. Demikian juga dalam pidato pada Dies Natalis der Faculteit van Technische Wetenschap tanggal 18 Oktober 1951, dengan variasi “Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia” ada pula “Universiteit van de Republiek Indonesië”. Rupanya sampai tahun-tahun tersebut belum ada nomenklatur yang sama tentang nama universitas tersebut.
=================================


Kembali ke UI di mana selanjutnya tanggal 2 Februari 1950 dianggap sebagai tanggal lahirnya Universiteit Indonesia, sebagai kilas balik berikut adalah data peringatan dies natalis UI selama kampus Ganesha masih bernaung di bawah UI antara tahun 1950-1959:

  • Pembukaan Universiteit Indonesia (2 Februari 1950) – penggabungan Universiteit van Indonesie (penyerahan Belanda kepada RI) dengan Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia menjadi Universiteit Indonesia/Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia. Di kampus Ganesha sendiri diadakan Dies Natalis der Faculteit van Technische Wetenschap/Fakultet Pengetahuan Teknik dari Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia pada tanggal 18 Oktober 1950.

  • Dies Natalis ke-1 Universiteit Indonesia/Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia (1951) --- tidak ada data, kemungkinan masih pada tahap konsolidasi fakultas-fakultas yang menyebar di banyak tempat. Di kampus Ganesha sendiri juga diadakan Dies Natalis der Faculteit van Technische Wetenschap/Fakultet Pengetahuan Teknik dari Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia pada tanggal 18 Oktober 1951.

  • Dies Natalis ke-2 Universiteit Indonesia (1952) diadakan pada hari Sabtu, 2 Februari 1952 di Kampus Ganesha, Bandung. Di kampus Ganesha juga diadakan Dies Natalis Fakultet Teknik Bandung pada tanggal 25 Oktober 1952.

  • Dies Natalis ke-3 Universitet Indonesia (1953) diadakan pada hari Senin, 16 Februari 1953 di Kampus Ganesha, Bandung.

  • Dies Natalis ke-4 Universitet Indonesia (1954) diadakan pada hari Kamis, 4 Februari 1954 di Jakarta.

  • Dies Natalis ke-5 Universitas Indonesia (1955) diadakan pada hari Kamis, 10 Februari 1955 di Kampus Ganesha, Bandung.

  • Dies Natalis ke-6 Universitas Indonesia (1956) diadakan pada hari Kamis, 2 Februari 1956 di Kampus Ganesha, Bandung.

  • Dies Natalis ke-7 Universitas Indonesia (1957) diadakan pada hari Sabtu, 2 Februari 1957 di Jakarta. Lagu Genderang UI pertama kali dikumandangkan.

  • Dies Natalis ke-8 Universitas Indonesia (1958) diadakan pada hari Senin, 3 Februari 1958 di Jakarta.

  • Dies Natalis ke-9 Universitas Indonesia (1959) diadakan pada hari …………. Februari 1959 di ………..


Catatan: Perhatikan nama universitas tersebut selama rentang 1950-1959 mulai dari:
  • 1950 - Universiteit Indonesia/Universiteit van de Republiek Indonesië/Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia
  • 1952 - Universiteit Indonesia
  • 1953 - Universitet Indonesia
  • 1955 - Universitas Indonesia

=================================

Perubahan istilah "universitet" menjadi "universitas" dilaksanakan sesuai UU Nomor 10 Tahun 1955 tentang Pengubahan Nama Universiteit, Universitet, Universitit, Faculteit, Facultet dan Facultit Menjadi Universitas dan Fakultas (11 Juli 1955).

Sebelumnya UGM bernama Universitit Negeri Gadjah Mada, sementara Unair sendiri sejak lahir menggunakan nama Universitas Airlangga.
=================================




Menurut harian Pikiran Rakjat pada tanggal 4 Februari 1952, hingga Februari 1952 jumlah mahasiswa UI tercatat 6120 orang. Dari jumlah itu 1362 orang ternyata ada di Bandung, yang berarti hampir seperempat mahasiswa UI ada di kota Bandung, sehingga wajar kiranya terdapat empat kali Dies Natalis UI dilaksanakan di Kampus Ganesha yaitu tahun 1952 (untuk pertama kalinya dirayakan dies natalis), 1953, 1955, dan 1956.

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”

Suasana Perayaan Dies Natalis ke-6 Universitas Indonesia tahun 1956
yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknik di Bandung






Jurusan-jurusan yang lahir pada periode UI:

Brainstorming, OOT, Ide Ngelantur & Utopia tentang ITB

Tahukah Anda?

  • Siapakah pemimpin Kampus Ganesha pertama?
    [INDENT]Jawab: Prof. Ir. Jan Klopper di tahun 1920-1925.[/INDENT]

  • Siapakah pemimpin Kampus Ganesha pertama yang juga alumni Kampus Ganesha?
    [INDENT]Jawab: Prof. Ir. R. Roosseno Soerjohadikoesoemo di periode singkat bulan Agustus 1945-November 1945.[/INDENT]

  • Siapakah orang Indonesia pertama yang menjadi guru besar bidang teknik?
    [INDENT]Jawab: Prof. Ir. R. Roosseno Soerjohadikoesoemo diangkat sebagai guru besar/profesor (Kyooju) di Bandung Kogyo Daigaku pada tanggal 1 Juli 1944.[/INDENT]

  • Siapakah Rektor ITB dengan masa jabatan terlama?
    [INDENT]Jawab: Prof. Dr. Doddy Achdiat Tisna Amidjaja menjabat Rektor ITB dua kali berturut-turut dari tahun 1969-07 Desember 1976 dan ditugaskan kembali sebagai Pejabat Sementara Rektor ITB 30 Mei 1979-22 November 1980 (merangkap jabatan sebagai Dirjen Dikti). Total masa jabatan lebih dari 8 tahun 6 bulan.[/INDENT]

  • Siapakah Rektor ITB dengan masa jabatan tersingkat?
    [INDENT]Jawab: Ir. R. Oekar Bratakoesoemah menjabat Rektor ITB dari tanggal 14 April 1964-22 Februari 1965. Total masa jabatan 10 bulan lebih sedikit.[/INDENT]

  • Siapakah Pejabat Sementara Rektor ITB dengan masa jabatan tersingkat?
    [INDENT]Jawab: Prof. Ir. Adang Surahman, M.Sc, Ph.D. menjabat Pjs. Rektor ITB dari tanggal 23 Oktober 2004-29 Januari 2005. Total masa jabatan 3 bulan lebih sedikit.[/INDENT]

Monumenten Ordonnantie van de TH Bandoeng (1)

Quote:


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
sumber: KITLV

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
sumber: bandungsae.com


Kampus TH berada di kawasan Bandung utara yg bangunan2nya ditata secara simetris dengan poros utara-selatan yg sejajar dg sumbu utara-selatan area rencana pusat pemerintahan Hindia Belanda yaitu di kawasan disekitar Gedung Sate sampai dengan Jl. Tubagus Ismail sekarang (namun terhenti karena adanya PD II). Poros tsb jika ditarik ke utara akan tepat menuju ke Gunung Tangkubanparahu.

Nama daerah dan jalan di sekitar kampus TH tempo doeloe dan sekarang adalah:
  • Dago Weg  Jalan Ir. H. Juanda
  • Hoogeschool Weg  Jalan Ganesha
  • Maclaine Pont Weg  Jalan Gelap Nyawang
  • Ijzerman Park  Taman Ganesha
  • Jubileum Park  Kebon Binatang
  • Huygens Weg  Jalan Taman Sari
  • Lembang Weg  Jalan Cihampelas
  • Dj. Tjihampelass  Jalan Taman Hewan
  • Dj. Tempat Plesieran  Jalan Plesiran


Pada masanya TH Bandung dikenal dalam dunia akademik & penelitian karena laboratorium yg berada di kampus tsb diantaranya:
  1. Laboratorium Materiaal-onderzoek (Lab. Penelitian Bahan) (Oktober 1921) milik BOW (Dep. PU)
  2. Bosscha-Laboratorium Natuurkunde (Lab. Fisika) (1922).
  3. Centraal Electrotechnisch Laboratorium (Lab. Teknik Elektro) (1928) milik Perusahaan Listrik.
  4. Laboratorium Technische Hygiene & Assaineering (Lab. Teknik Sanitasi) (19 Maret 1935).
  5. Waterloopkundig Laboratorium (Lab. Hidrolika) (5 Juni 1936) milik Dept. Verkeer & Waterstaat (Dep. PU).
  6. Observatorium Bosscha di Lembang.



Aerial View…

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Foto udara kampus TH sekitar tahun 1923, mengapa dapat dipastikan sekitar tahun 1923?
Bisa dilihat dari "akte kelahiran" gedung2 yang ada, yaitu kanan ke kiri adalah 2 buah hulpgebouwen (bangunan tambahan) di belakang Barakgebouw B (tahun 1990-an dibongkar jadi Gedung FSRD yg sekarang) (selesai tahun1920); sebelah kirinya adalah Barakgebouw B (sekarang Aula Timur) (selesai tahun 1920); area gerbang; Barakgebouw A (sekarang Aula Barat) (selesai 1920-akhir); Gedung Kelas & Ruang Gambar (sekarang Jurusan Teknik Sipil) (selesai tahun 1923); Bosscha-Laboratorium Natuurkunde (sekarang Jurusan Fisika) (selesai tahun 1922). Belum ada proefbaan (jalur uji coba – lihat kanan atas) di belakang hulpgebouwen (bangunan tambahan) yang dibangun tahun 1924.


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Foto udara kampus TH sekitar tahun 1924-1928-an krn sdh ada proefbaan (jalur uji coba – lihat kanan atas) di belakang hulpgebouwen (bangunan tambahan) yg dibangun tahun 1924. Tapi yg pasti sebelum tahun 1929 dimana Laboratorium Teknik Elektro berdiri (laboratorium elektro ini digunakan tahun 1929, artinya mulai dibangun sekitar beberapa bulan sampai setahun sebelumnya, posisinya berada di utara proefbaan).


Construction…


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Suasana pembangunan salah satu gedung di kampus TH Bandung (tdk diketahui gedung apa).
Yg jelas pakaian & topi pak tukang dr jaman doeloe sampai sekarang ya podo mawon.emoticon-Berduka (S)emoticon-Berduka (S)

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Suasana pembangunan salah satu gedung di kampus TH Bandung (tdk diketahui gedung apa).
Tapi kalau dilihat di kanan kejauhan ada atap julang ngapak, kemungkinan ini bangunan Laboratorium Technische Hygiene & Assaineering (Lab. Teknik Sanitasi) dilihat dari sisi utara ke arah Lab Bosscha. Perhatikan tdk ada selasar didepannya, jendelanya lebar2, mirip bangunan TL. Kalau asumsi & penerawangannya bener maka foto ini dibuat sebelum gedung ini dibuka 19 Maret 1935.
fyi: Jurusan Teknik Lingkungan baru memisahkan diri dr jurusan Teknik Sipil tahun 1960 dgn nama Teknik Penyehatan.



Kronologis…

Ada 3-4 bangunan yg pertama didirikan di kompleks TH yaitu barakgebouw A (Aula Barat), barakgebouw B (Aula Timur), dan 2 buah hulpgebouwen (bangunan tambahan).

  1. Barakgebouw A (Aula Barat) dipergunakan untuk Ruang Kelas (2 buah di kedua ujung Aula Barat), Perpustakaan (di hall utama) & gudang buku (bagian utara hall), dan Ruang Gambar (bagian selatan hall).

  2. Barakgebouw B (Aula Timur) dipergunakan untuk Laboratorium Pengetahuan Bahan Bangunan (Kennis van Bouwstoffen). Namun untuk tahun pertama (1920) dipergunakan sebagai Ruang Kelas (di ujung barat Aula Timur), Laboratorium Fisika (bagian barat Aula Timur), Laboratorium Kimia (bagian timur Aula Timur), Laboratorium Teknologi Mekanik (bagian selatan/timur Aula Timur), Pengetahuan Bahan Bangunan (bagian utara Aula Timur), beserta ruang2 penunjangnya.

  3. 2 buah hulpgebouwen (bangunan tambahan) dibuat bersifat “sementara” yg dipergunakan untuk Gedung Administrasi & Gedung Kuliah (namun akhirnya keterusan sampe tahun 1990-an…emoticon-Big Grin emoticon-Malu). Gedung ini terletak di sebelah belakang (arah timur/utara dari Aula Timur). Karena sifatnya yg temporer, bentuk bangunan & atapnya tdk serumit konstruksi Aula Barat & Aula Timur. Sepertinya bangunan ini juga dipersiapkan sbg alternatif jika pembangunan Barakgebouw B (Aula Timur) meleset dari waktu yg ditentukan. Semula area tsb akan digunakan utk jurusan Teknik Sipil, namun kemudian dipergunakan untuk ruang praktikum ilmu ukur tanah. Selanjutnya dipergunakan untuk Lembaga Pendidikan Guru Menggambar yg kemudian menjadi cikal bakal FSRD ITB.



BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Pembangunan Barakgebouw B (Aula Timur) ketika mencapai tahap konstruksi atap (sebagian atap sirap sdh mulai terpasang). Demikian juga atap bangunan tambahan (di sebelah kanan Aula Timur). Tampak di kejauhan di sebelah kiri Aula Timur adalah Aula Barat yg masih dlm tahap pemasangan rangka atap.


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Barakgebouw B (Aula Timur) & bangunan tambahan (di sebelah kanan Aula Timur) inilah bangunan2 pertama yg diselesaikan. Tampak di kejauhan di sebelah kiri Aula Timur adalah Aula Barat yg masih dlm tahap pemasangan rangka atap. Di Aula Timur inilah dilangsungkan Peresmian Pembukaan TH 3 Juli 1920. Setelah upacara pembukaan, maka barakgebouw B disekat2 untuk dipergunakan sebagai Ruang Kelas (di ujung barat Aula Timur), Laboratorium Fisika (bagian barat Aula Timur), Laboratorium Kimia (bagian timur Aula Timur), Laboratorium Teknologi Mekanik (bagian selatan/timur Aula Timur), Pengetahuan Bahan Bangunan (bagian utara Aula Timur), beserta ruang2 penunjangnya.

Jadi… terjawab sudah soal di atas…

BANGUNAN YANG PERTAMA KALI SELESAI DIDIRIKAN adalah Barakgebouw B (Aula Timur) & bangunan tambahan (di sebelah kanan Aula Timur).

Sumber: KITLV, bandungsae.com, COLLECTIE_TROPENMUSEUM, wikipedia

...bersambung...



Diubah oleh cucuganesha

Kisah Peresmian Kampus ITB 2 Maret 1959 (1)

Quote:


Bermetamorfosanya Fakultas Teknik & FIPIA UI menjadi ITB ditandai upacara yg dihadiri & diresmikan Presiden RI Ir. Soekarno, didampingi Menteri Pendidikan, Pengadjaran & Kebudayaan Prof. Dr. Prijono, dan anggota Presidium Universitas Indonesia Jakarta. Hadir pula dalam upacara tsb tamu negara Presiden Vietnam Utara Hoo Chi Minh.

Kisah pemisahan tsb terasa lancar & damai2 saja namun ternyata pemisahan tsb memunculkan kontroversi2. Ketika Presiden Soekarno mencanangkan kebijakan satu universitas di setiap provinsi, maka berlomba-lombalah provinsi2 yg blm memilikinya termasuk Jawa Barat. Yogya sdh punya UGM (1949), Jatim sdh punya UNAIR (1954), Sulawesi Selatan sdh punya UNHAS (1956), Jabar...???emoticon-Malu

Maka ketika FT & FIPIA Bandung merencanakan pemisahannya dari Jakarta tahun 1952, dg akan dibukanya universitas negeri Jabar, dua mazhab yg "pro pemisahan" dg yg "pro UI" berkembang jadi tiga mazhab... antara yg "PRO UI", "PRO ITB" & malah kemudian berkembang menjadi "PRO UNPAD".

Dosen2 senior saat itu diantaranya Prof. Ir. R. O. Kosasih, Prof. Ir. Soetedjo, Prof. Ir. Sumono, Prof. Soemardja, sementara dosen2 mudanya seperti Soemantri Brodjonegoro, Suhadi Reksowardoyo, Samudro, Moedomo, John Katili, yg kemudian dpt meyakinkan Pemerintah akan pentingnya membuat suatu lembaga pendidikan tinggi di Bandung yg menyatukan dua fakultas UI yg ada di kota Bandung, yaitu Fakultas Teknik di Jl. Ganesha & FIPIA di Jl. Sulanjana (sekarang Rektorat ITB). Lembaga pendidikan baru ini kemudian disebut Institut Teknologi Bandung dg mengacu pd model universitas sains & teknologi yg ada di luar negeri.

Dg komitmen & konsistensi sebagian massa/civitas akademika FT & FIPIA Bandung, dukungan PII, dukungan Presiden Ir. Soekarno yg "kebetulan" alumni TH 1926 & Perdana Menteri Ir. H. Juanda yg alumni TH 1933, maka lahirlah ITB tanggal 2 Maret 1959...

Apakah se-lebay itu? Ternyata banyak juga yg EGP, spt komentar pak Hadiwaratama ini...emoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grin
Spoiler for Salah satu komentar mahasiswa ttg pemisahan FT & FIPIA UI saat itu...:


Tahap Persiapan...

Departemen Seni Rupa bertugas menyiapkan tiga buah piagam yg nantinya akan ditandatangani. Piagam tsb ditulis tangan dg tulisan indah, kaligrafis, orisinil. Berikut isi dari tiap2 piagam:

Spoiler for Piagam:


Persiapan Hari H – Peresmian ITB

Ini juga tulisan pak Hadiwaratama...

Entah siapa ketua panitia peresmian tersebut. Yang pasti seperti biasa dari berita lisan antar teman, kita diminta kumpul di ruang VI. Yang kumpul mahasiswa semua. Entah sudah ada Senat Mahasiswa apa tidak saat itu, penulis tidak perhatian. Yang pasti ada himpunan.

Rupanya itu persiapan acara peresmian ITB. Dibentuk kelompok/team yang bertanggung jawab pada penerima tamu (mungkin protokol), konsumsi, perlengkapan, keamanan, dll. Biasanya yang ditunjuk dan disetujui dalam rapat nama-nama ketua teamnya, yang ngusulkan floor. Kemudian cari anggauta masing-masing disitu sesuai yang direncanakan. Kalau kurang diserahkan Ketuanya masing-masing. Penulis kebagian sebagai ketua keamanan. Entah berapa kali penulis ikut dalam kepanitiaan semacam itu. Kalau tidak keamanan ya konsumsi. Yang teringat dalam upacara-upacara peresmian oleh Presiden ya Keamanan untuk peresmian ITB dan Konsumsi untuk peresmian Reaktor Atom/PRAB.

Anehnya sekalipun bertanggung jawab pada konsumsi, tidak pernah mengatur pengadaan konsumsinya sendiri. Rupanya hanya ngatur distribusi dan pengamanannya, maklum mahasiswa suka pada nimbrung, padahal untuk tamu-tamu undangan.

Acara peresmian ITB akan diselenggarakan di jalan masuk kampus disebelah utara regol dengan jam yang bersejarah itu. Kursi diatur dari pertigaan atas, kebawah sepanjang jalan antara lapangan basket dan tenis.

Batu prasasti akan ditandatangani Presiden dan akan ditempel di tugu yang akan ditanam di pinggir lapangan, totogan jalan masuk. Jadi tamu-tamu VVIP kursinya ya di jalan yang rata di pertigaan itu.

Semua tamu undangan lewat gerbang depan, sedang warga kampus lewat pintu timur dan pintu-pintu barat, dan belakang. Team Keamanan mengatur/mengawasi jalur pintu-pintu dan gerbang tersebut. Karena masih sedikit jumlah warga kampus, team keamanan yang anggautanya dari jurusan-jurusan bisa mengenali warga kampus atau bukan.
Security atau paswalpres rasanya kok tidak seperti sekarang, longgar-longgar saja. Apa memang belum ada, penulis tidak tahu pasti. Pengamanan di kampus seluruhnya oleh mahasiswa. Menwa belum ada ! Penulis tidak tahu, repotnya seksi-seksi lain, pokoknya ya konsentrasi keamanan ketertiban saja.

Hari-H, 2 Maret 1959

Pagi-pagi seluruh panitia siap di tempat masing-masing seperti yang telah ditentukan. Penulis disekitar pintu gerbang, karena di sebelah barat tiang bendera sebelum pintu masuk Presiden dan rombongan akan turun, terus diantar masuk ketempat acara. Umumnya tamu-tamu berpakaian jas lengkap.

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”

Barisan "pagar ayu & pagar bagus" menunggu kedatangan Presiden RI Ir. Soekarno. Lokasi di parkiran depan bumi sipil & jam ITB, difoto dari arah barat ke timur/utara. Tampak belakang terlihat selasar menuju LFM 9009.


Presiden RI Ir. Soekarno datang naik sedan cabriolet, open kap, entah merknya. Photonya ada di ruang rapat Rektor ITB. Entah masih di situ apa tidak, dulu penulis lihat kalo ikut Rapim ITB setiap pekan. Saat mobil berhenti di tempat yang ditentukan, penulis sebagai ketua keamanan ikut mendekat ingin membantu buka pintu mobil. Tapi sudah ada yang bukakan, entah ajudan atau protokol, atau anggauta penyambut. Yang turun 2 Presiden, Bung Karno dan Hoo Chi Minh.

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”

Presiden Soekarno datang dengan mobil sedan terbuka. Bung Karno memakai payung sendiri dan duduk agak tinggi.


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
Dua Presiden dalam satu payung... Presiden RI Ir. Soekarno & Presiden Vietnam Utara Ho Ci Minh (Paman Hoo)


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”

Presiden Soekarno dan rombongan menuju lokasi upacara.
Agak bingung dg foto ini, sisi kanan belakang mirip suasana bumi sipil,
tapi sisi kiri kok ada jendela model di spt itu??



BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”

Presiden Soekarno dan Ketua Presidium ITB saat itu berjalan dari pintu gerbang menuju lapangan bola
(catatan: Rektor ITB yg pertama baru resmi "eksis" tanggal 1 November 1959, lihat #3 di pekiwan)



....bersambung....

Kisah Peresmian Kampus ITB 2 Maret 1959 (2)

Kemudian keduanya diantar berjalan ke dalam kampus, ke tempat duduknya. Kalau sekarang kan tidak mungkin keamanan Presiden selonggar itu. Penulis dan teman-teman pengamanan gerbang depan, berdiri-berdiri saja di sekitar regol jam, sambil mengawasi.emoticon-I Love Indonesia (S)


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”

Wajah2 mahasiswa ITB yg bertugas sbg Panitia


Kesan penulis melihat dari dekat kedua Pemimpin Besar bangsa masing-masing itu masih melekat sampai saat ini. Yang satu sedang berjuang merebut kembali Irian Barat, yang satunya sedang berjuang merebut kembali Vietnam Selatan. Bukan main hebat keduanya.emoticon-I Love Indonesia (S)

Tetapi penampilan jauh berbeda,

yang satu keren chic/necis pakai peci dan kaca mata hitam, tak lupa tongkat komando, jalannya tegap pakai setelan jas safari

sedang yang satunya pakai baju/jas potong Cina kain blacu, jadi tidak putih lah, pakai trompah (pasti bikinan Vietnam karena saat itu belum ada trompah bandol/ban bodol ITB), kulit muka putih bersih, rambut putih, jenggot putih Cina – bukan Arab jadi nggak lebat gitu lho ! Jalannya tidak setegap Bung Karno, cenderung bagaimana ya ?! Mirip Cina klontong yang keluar masuk desa/kampung sambil mutar-mutar klontongannya dan bunyi tung tung…. tung tung…. tung tungemoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grin, cuma tidak bertopi.

Bung Karno memanggilnya “Paman Hoo”. Betul-betul bersahaja penampilan pemimpin besar Vietnam itu. Sekarang ekonomi dan industri Vietnam sudah bangkit. Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan comparative advantage upah buruh murah, kecuali kemahiran dan profesionalitas.

Karena jaga ngawasi pintu masuk, penulis tidak perhatikan apa pidato Bung Karno maupun Ho Chi Minh. Pasti masalah perjuangan ! Karena peresmian lembaga tinggi pendidikan, penulis sepintas dengar pidato begini:

Ilmu itu bagaikan air amerta, air kehidupan, jadi jangan takut sekalipun berada di tengah racun kita harus berani mendapatkannya.

Entah Bung Karno entah Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (saat itu Dr. Priyono) yang mengucapkan, lupa. Dr. Priyono, pakar Kesastraan Jawa Kuna dalam sambutannya menyebut “para mahasiswa dan mahasiswati”. Ketika Bung Karno mulai pidato nyebut “para mahasiswa dan …………….., berhenti sejenak – pendengar terdiam tegang apa akan sama dengan Dr. Priyono tidak, ternyata akhirnya bilang ………… “mahasiswi” ! Semua bertepuk tangan riuh, mungkin karena lepas dari ketegangan. Penulis juga ikut tepuk tangan, karena “itu” pasti akan menjadi istilah resmi ! Begitulah awal “mahasiswi” !emoticon-Ngakak (S)emoticon-Ngakak (S)

Entah di ITB itu, atau di mana Bung Karno mulai membakar semangat dengan suara berapi-api. Kita bukan bangsa tempe………………….. dst, dst ! Padahal tiap hari kita makan tempe tahu. Kalau sarapan enggak ada tempe dan tahu goreng + sambal kecap rasanya cemplang ! Apa maksudnya sebagai bangsa yang lembek, mudah membusuk ?! Bukankah sambal tempe bosok kalau nasinya liwet anget bukan main pula nikmatnya, apalagi itu di waktu hujan sore-sore !

Begitulah kisah Peresmian ITB 50 tahun lalu. Penulis tidak ingat bagaimana acara itu berakhir dan bagaimana Presiden-Presiden dan rombongannya meninggalkan upacara. Juga tidak ingat apa ada pembubaran Panitia, kan semuanya tanpa SK.

Sumber lain tentang Pidato....

Dalam sambutannya Presiden Soekarno menyinggung peran yg diinginkan dari ITB, yaitu untuk berfungsi sbg lembaga pendidikan ilmiah & teknologi, utk dpt membawa Indonesia menuju ke suatu negara modern dg industrinya.

Beliau sengaja menyebut dua hal, yaitu utk tdk mengaplikasikan ide2 swadesinya Mahatma Gandhi, akan tetapi mengembangkan Indonesia sbg negara modern dg industrinya dimana listrik berperan besar. Beliau menyatakan bahwa dlm dua puluh lima tahun listrik hrs telah sampai di puncak2 gunung & adalah kewajiban ITB utk dpt turut menciptakannya.

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
....jangan jadi bangsa tempe....emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
...dlm dua puluh lima tahun listrik hrs telah sampai di puncak2 gunung &
adalah kewajiban ITB utk dpt turut menciptakannya...emoticon-I Love Indonesia (S)


Presiden Hoo Chi Minh dalam sambutannya yg sederhana, yaitu agar kita di ITB dapat mengenangnya sbg "Paman Hoo" dengan harapan agar ITB dpt menjalankan peranannya dalam perjuangan kemerdekaan bangsa2 yg terjajah & turut aktif berperan mensejahterakannya.

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
Mahasiswa berbagai Departemen dan Fakultas berbaris rapih di pinggir lapangan bola sambil memegang gabungan huruf yg bertuliskan
"FAKULTAS _ " [tugu] "TEKNIK _ FIPIA".
Di tengah-tengah tampak prasasti yang akan ditandatangani Soerkarno masih ditutup kain putih.


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
Para undangan yg menghadiri upacara peresmian

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
Para guru besar yg menghadiri upacara peresmian termasuk dari universitas lainnya.

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”

Di meja inilah ditandatangani tiga lembar piagam yaitu
  • Piagam Peresmian ITB ditandatangani Presiden RI Ir. Soekarno,
  • Piagam Pembukaan ITB ditandatangani Menteri Pendidikan, Pengadjaran & Kebudayaan Prof. Prijono,
  • Piagam Penyerahan FT & FIPIA Bandung oleh UI Djakarta ke ITB ditandatangani Presidium UI, Menteri Prof. Prijono & Presiden Ir. Soekarno.


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
Pembacaan Piagam-Piagam...

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
Pembukaan selubung TUGU PRASASTI oleh Presiden Soekarno yg menandai diresmikannya ITB.

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
Pembukaan selubung TUGU PRASASTI oleh Presiden Soekarno yg menandai diresmikannya ITB.


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Inilah TUGU PERESMIAN ITB yg masih asli...
Sbg penanggung jawab perancangan & pelaksanaannya adalah But Muchtar yg dibantu Sumaryadi dari Seni Rupa. Tipografi teksnya dg huruf kapital klasik, gaya inskripsi yg dipahatkan pada tiang Trajanus di masa Romawi kuno. Teksnya berbunyi sbg berikut:

PADA HARI SENIN
TANGGAL DUA BULAN
MARET TAHUN SERIBU
SEMBILANRATUS LIMA
PULUH SEMBILAN
PADUKA JANG MULIA
PRESIDEN REPUBLIK
INDONESIA
HADJI DOKTOR INSINJUR
ACHMAD SOEKARNO
TELAH MERASMIKAN
INSTITUT TEKNOLOGI
DI KOTA
BANDUNG


Sampai tahun 1980-an tugu tsb masih berupa bata ekspose yg cuma dicat tembok,
kemudian direnovasi dg dilapisi keramik corak bata teracota, sampai kemudian dipindahkan bbrp meter ke arah utara & direnovasi spt yg sekarang.

Perhatikan gabungan huruf yg dipegang barisan mahasiswa yg semula bertuliskan
"FAKULTAS_" [tugu] "TEKNIK_FIPIA" sdh dibalik & berubah menjadi
"INSTITUT _" [tugu] "_ _TEKNOLOGI _".

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
Lokasi ini juga masih jadi polemik, apakah di selasar sipil atau di selasar fisika/lab Bosscha?? Penerawangan pribadi gw sih ini di selasar fisika.
Lihat lantainya yg kayak tegel kotak2 kuning spt di wc2 jaman baheula, spt lantai jurusan fisika/lab bosscha.
sementara selasar sipil lantainya pakai aspal spt jalan raya (entah kenapa belanda dulu buatnya pakai aspal, spy ekonomis? ataukah biar mahasiswa sipil akrab dgn suasana "jalan aspal" sesuai ilmunya?...emoticon-Big Grin

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
Suasana bulevard difoto dari arah lapangan bola/tugu ke arah selatan.

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
Suasana gerbang ITB usai acara peresmian. Pada hari tsb juga dibuka Pameran/Open House yg berlangsung dari tanggal 2 s.d. 4 Maret 1959


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”

Mahasiswa yg bertugas sbg Panitia Pameran berpose disamping papan petunjuk arah (masih pake kapur tulis mennn...emoticon-Big Grin).
Rutenya: Gerbang - Aula Barat - terbagi dua jalur
(jalur Timur: Seni Rupa, Arsitektur, Geodesi, Teknik Penyehatan (TL), Teknik Kimia, Farmasi, Kimia, Tambang, Geologi)
(jalur Barat: Sipil, Fisika, Elektro & Mesin).
Jam gerbang ITB masih belum ada atapnya tuh...emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin


=========

Inilah mozaik-mozaik kisah peresmian ITB,
tentang kontroversi & polemiknya, tentang gambar2 yg berbicara
ttg sebuah kampus di Jl. Ganesha...

TH te Bandoeng beserta saudara2 sepupunya (RHS, GHS, dll)

"Universiteit" vs "Hooge School"

Itulah kesan saya terhadap sejarah pendidikan tinggi di Indonesia,
selalu terjadi perdebatan antara kubu pendukung "universiteit" vs "hooge school" di 1910-20an,
dimana mula2 pendukung "hoogeschool" mendahului pendukung "universiteit" ditandai dgn berdirinya THS, RHS & GHS.

Pada periode perang kemerdekaan & awal kedaulatan RI mazhab "universiteit" berhasil mewujudkan cita2nya dgn mendirikan UvI,
namun dgn span of control yg terlalu lebar (9 fakultas & 4 lembaga pendidikan di beberapa kota yg berjauhan),
ternyata pengelolaan mesin besar universitas menjadi tdk efektif,
maka sekali lagi mazhab "hoogeschool" berhasil mewujudkan keinginannya
dengan berdirinya ITB tahun 1959, IPB tahun 1963, IKIP, dll.

Ini kisahnya....

8 Maret 1910 pemerintah kolonial menyetujui pendirian Perhimpunan Universitas Hindia (Indische Universiteitsvereeniging / IUV) di Batavia/Jakarta yang bertujuan memajukan, mendirikan, dan mengutus sekolah-sekolah tinggi Belanda Indo.

Namun hingga tahun 1912 Menteri Jajahan belum memikirkan rencana pendirian suatu universitas di Hindia Belanda, bahkan dalam pembahasan mengenai anggaran tahun 1912 Parlemen Belanda tidak mengalokasikan dana untuk keperluan pendirian sebuah perguruan tinggi di Hindia Belanda. Jika ada yang berminat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi maka lebih baik dengan mengirimkannya ke universitas di Negeri Belanda dengan bantuan dana dari pemerintah Hindia Belanda.

Pada tahun 1918 Dr. Abdul Rivai (alumni STOVIA 1895 dan Univ. Gent Belgia 1908) bersama 14 anggota Volksraad lainnya mengusulkan rencana pembentukan universitas di Hindia Belanda.

Namun terjadi perdebatan mengenai batasan “universiteit” dan “hooger onderwijs”, karena berdasarkan Hooger Onderwijs Wet (Undang-Undang Pendidikan Tinggi) sesuai Staatsblad No. 181 dinyatakan bahwa suatu universitas harus memiliki lima fakultas yaitu Fakultas Teologi, Fakultas Hukum, Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam), dan Fakultas Sastra dan Filsafat.

Dr. A. F. Sitsen, Direktur Pertama Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) Surabaya, mengusulkan agar universitas di Hindia Belanda terdiri dari beberapa sekolah tinggi yang tersebar di beberapa tempat.

Maka kemudian sejarah menulis bahwa tanggal 3 Juli 1920 dibukalah de Technische Hoogeschool te Bandoeng (THB) atau Sekolah Tinggi Teknik yang didirikan oleh badan swasta yaitu Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlands Indie.

Spoiler for Upacara Pembukaan TH te Bandoeng 3 Juli 1920:


Empat tahun kemudian sesuai janji pemerintah bahwa THB akan dijadikan sekolah negeri jika sudah meluluskan insinyurnya, maka pada tanggal 18 Oktober 1924 dilakukan upacara penyerahan THB dari Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlands Indie kepada pemerintah yang dihadiri Gouverneur Generaal Mr. D. Fock.

Sepuluh hari kemudian yaitu tanggal 28 Oktober 1924 pemerintah meresmikan pembukaan Rechtshoogeschool te Batavia (RHS) atau Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta.

Spoiler for Het gebouw van de Rechtshogeschool te Weltevreden (Foto COLLECTIE_TROPENMUSEUM):


Spoiler for setelah disearhcing, ternyata gebouw de RHS telah menjadi...:



Spoiler for Upacara Pembukaan RHS 28 Oktober 1924 (sumber: virtueelindie.nl):


Spoiler for Buklet Upacara Pembukaan RHS 28 Oktober 1924, perhatikan logo RHS dgn logo makara UI, miripkah??:




Pada tanggal 16 Agustus 1927 pemerintah membuka Geneeskundigehoogeschool te Batavia (GHS) atau Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta.

Spoiler for De Geneeskundige Hogeschool te Batavia (sumber: TROPENMUSEUM):


Spoiler for Centraal Burgerlijk Hospitaal (sekarang RSCM) dan Gedung GHS (sekarang FKUI) (sumber: TROPENMUSEUM):


Spoiler for Gedung FKUI jaman awal2 kemerdekaan (sumber: TROPENMUSEUM):


Pada tanggal 1 Oktober 1940 pemerintah membuka Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte (Fakultas Sastra dan Filsafat) di Batavia, dan setahun kemudian dibangunlah Faculteit voor Landbouw Wetenschap (Fakultas Ilmu Pertanian) di Bogor pada tanggal 1 September 1941.

Sumber: Somadikarta, S. "Tahun Emas Universitas Indonesia". UI Press. Jakarta, 1999.

Spoiler for Faculteit voor Landbouw Wetenschap Buitenzorg/Bogor:





Monumenten Ordonnantie van de TH Bandoeng (2)

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Barakgebouw B (Aula Timur) & bangunan tambahan (di sebelah kanan Aula Timur) dilihat dari luar pagar selatan/timur. Belum ada pohon2 rindang yg menghalangi pandangan, pagarnya masih memakai kawat duri (pagar batu kali baru dibangun sekitar akhir 1970-an. Yg jelas pada saat gerakan mahasiswa 1978, poster2 & pamflet2 yg dipasang mahasiswa ITB di sepanjang Jl. Ganesha & Jl Tamansari masih dipasang di pagar kawat yg spt ini. Demikian juga parkir mobil yg ada di lapangan Aula Barat/Timur, sebelum diperlebar adalah parkir sepeda motor, dibangun juga di sekitar tahun 1980-an.


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Foto yg lain dari Barakgebouw B (Aula Timur), dilihat dari tanaman perdu yg tinggi & mulai lebat sih ini usianya lebih muda dibanding foto sebelumnya. Ada pohon pisang yg mungkin ditanam mahasiswa TH buat hidangan penutup makan siang… (emoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grin ini hoax lho)


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Barakgebouw B (Aula Timur) sewaktu dipergunakan sbg Perpustakaan Pusat ITB.
Gedung Perpustakaan Pusat ITB di Aula Timur inilah yg dulu akan diserbu & dibakar kaum progresif revolusioner sekitar 1960-an, krn dianggap sbg gua garbanya Amerika Serikat.

fyi: di sekitar tahun 1955-an, seiring dg perkembangan politik negara kita, maka dosen2 belanda yg masih tersisa di Indonesia dipulangkan atau pulang sendiri. ITB saat itu bekerja sama dg Amerika Serikat dgn nama “Kentucky Contract Team” untuk 10 tahun, sehingga ITB banyak mendapatkan bantuan dr Amerika Serikat yaitu program USAID.

Program tsb terdiri dari pengiriman dosen muda ITB ke Amrik utk ambil Master & Doktor/Ph.D (makanya jumlah dosen ITB yg bergelar doktor paling banyak se Indonesia, baik prosentase maupun jumlah – rupanya tradisi baik itu terbawa sampai sekarang), bantuan lainnya berupa datangnya dosen2 Amrik ke ITB utk mengisi kekosongan dosen, pemberian beasiswa, penataan kurikulum dr semula berkiblat ke sistem belanda ke sistem Amrik & discount sampai 50-75% bagi mahasiswa ITB yg mau beli textbook terbitan luar negeri, termasuk hibah buku2 ke ITB…. yg disimpan di gedung perpustakaan (Aula Timur) ini, makanya mau dibakar oleh kaum kiri….

Untungnya KM ITB yg dipimpin DM ITB waktu itu tetap solid, shg tdk sampai terjadi serangan tsb.

Pada periode Perpustakaan Pusat inilah Aula Timur diperkosa habis2an….emoticon-Sorry.
Ketika kebutuhan akan ruangan semakin meningkat, maka selasar Aula Timur pun ditutup dinding utk dimanfaatkan menjadi ruangan & gudang buku, orang gak bisa lewat spt sekarang ini… pokoknya jelek banget. Namun dgn dibangunnya Perpustakaan Pusat di lokasi sekarang di selatan ITB, ruang2 tambahan tsb dibongkar & selasar difungsikan kembali spt kondisi tahun 1920-an.

Kembali ke gambar…, di sebelah kanan Aula Timur terlihat bangunan tambahan/hulpgebouwen sdh tertutup oleh bangunan baru, yg atapnya tetap menggunakan sirap & menyesuaikan dgn bangunan Aula Timur. Bangunan tsb yg nutupin hulpgebouwen beserta hulpgebouwen-nya sendiri ikut dirobohkan diganti gedung FSRD yg sekarang era 1990-an.


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Sayap timur gerbang Kampus diambil dr arah selatan ke utara, bangunan kantor penjaga TH (sekarang kantor dekan FSRD) belum dibangun, dinding batu kali sdh dibangun sebatas area gerbang, latar belakang adalah barakgebouw B (sekarang Aula Timur)


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Foto ini diambil dari arah timur TUGU PRASASTI ke arah selatan/timur. Bangunan paling kiri (Cuma terlihat sepotong atap) adalah bangunan tambahan/hulpgebouwen yg kemudian jaman ITB jadi FSRD (dibongkar ketika Gedung FSRD yg baru dibangun sekitar tahun 1990-an). Kelak nanti di sebelahnya ada Ruang kuliah 9009 yg difungsikan juga sbg bioskop mahasiswa (LFM – ITB), selasar LFM juga belum ada, lapangan tenis, bulevard, apalagi Student Center blm ada.


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Barakgebouw A (Aula Barat) terlihat di posisi paling kanan, mrpk bangunan angkatan kedua (gedung ke-3) yg diselesaikan setelah barakgebouw B (gedung ke-2) & hulpgebouwen (gedung ke-1)).

Sebelah kiri belakangnya adalah Gedung untuk Ruang Kuliah tingkat 1 & 4, ruang guru besar yg dibangun tahun 1922 & selesai pada bulan September 1923. Sebelah kiri belakangnya lagi adalah gedung untuk ruang gambar & pemodelan maket yg dibangun berbarengan dg gedung kuliah & ruang guru besar. Gedung2 ini adalah bangunan2 angkatan keempat (gedung ke-5 & 6).

Kalau menurut rencana semula kawasan tsb diperuntukkan bagi jurusan “werktuigbouwkunde” (teknik mesin), agak ke utara bersebelahan dg “natuurkunde” (fisika) adl “electrotechniek” (teknik elektro). Jurusan “weg- en waterbouwkunde” (teknik sipil) sendiri sebenarnya dialokasikan di kawasan hulpgebouwen di belakang timur Aula Timur. Mungkin karena sampai tahun 1940 jurusan mesin belum dibuka, shg sampai sekarang area tsb dipakai jurusan teknik sipil.

Kalau ke kiri belakang lagi ada sedikit terlihat kompleks laboratorium fisika/bosscha yg mrpk gedung generasi ke3 (gedung ke-4).


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Situasi halaman plaza dlm gerbang utama th 1922 (bugenville-nya masih gundul).


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”

Tampak dari utara timur atap Barakgebouw A (Aula Barat) dilihat dari sekitar lapangan tenis (waktu itu belum dibangun,… tapi sekarang juga sdh dipugar… gleg… susah jelasinnya). Sebelah kanan Aula Barat adalah gedung yg sekarang dipakai jur Teknik Sipil.


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Paling kiri adalah atap Barakgebouw B (Aula Timur), lapangan luas adalah lapangan tenis, Barakgebouw A (Aula Barat), Gedung jurusan teknik sipil, paling kanan adalah selasar & laboratorium fisika/bosscha. Foto diambil dari lokasi sekitar Labtek …. skrg.


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Bangunan berikutnya adalah Laboratorium Fisika yg mulai didirikan bulan Oktober 1920 & diresmikan penggunaannya tanggal 16 Maret 1922 dengan luas 1672 m2 terdiri dari laboratorium, kamar gelap, kamar guru besar & asisten, perpustakaan, bengkel instrumen & gelas & ruang kuliah. Ditambah lorong shg luas total 2344 m2 dibangun dg biaya 300.000 gulden. Untuk mengenang jasa K. A. R. Bosscha seorang pengusaha teh yg drop out dari TH Delft yg juga Ketua/Voorzitter van het College van Directeuren der TH, maka kawasan ini oleh TH dinamakan “Bosscha Laboratorium Natuurkunde”.


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Ijzerman Park sekarang Taman Ganesha. Pohon & tanaman belum tumbuh, suasana masih kumuh. Latar belakang Barakgebouw A (Aula Barat), Barakgebouw B (Aula Timur), gerbang utama, kantor rektor (sekarang kantor Dekan FTSL), penjaga (sekarang kantor Dekan FSRD & MKDU).




BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Ijzerman Park sekarang Taman Ganesha. Pohon & tanaman belum tumbuh, suasana agak rapih dibanding sebelumnya. Latar belakang Barakgebouw A (Aula Barat), Barakgebouw B (Aula Timur), gerbang utama, kantor rektor (sekarang kantor Dekan FTSL), penjaga (sekarang kantor Dekan FSRD & MKDU).


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Kolam air mancur di Ijzerman Park sekarang Taman Ganesha. Pohon & tanaman sudah rimbun. Disinilah dulu salah satu lokasi favorit acara ospek, termasuk kolamnya juga favorit sbg tempat berkubangnya mahasiswa baru yg dikerjain seniornya….emoticon-Hammer2 :maho


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Ini tugu di depan gerbang ITB, plaza berbentuk setengah lingkaran ini di teras dindingnya ada petunjuk gunung2 yg ada di sekitar Bandung berikut data ketinggian & arah gunung2 tsb. Bugenvilenya rapet & rimbun banget ya… dulu pernah dikasih tau namanya bukan bugenvil tapi lupa terus nama aslinya…emoticon-Hammer2


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Ini dia patung Ijzerman yg masa2 khaos revolusi kemerdekaan ikut ilang, sebenernya gak hilang sih…
Cuma pindah tempat aja… kalau diantara agan2 di rumah engkongnya nyimpen patung tsb, coba hubungi pihak ITB…
tinggal tanya ITB “wani piro???”emoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grin

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Ini gerbang rimbun TH, perhatikan sekolah ini memang dari dulu gak pernah punya papan nama…
entah PD atau kurang PD ya…?emoticon-Big Grin tradisi SEKOLAH TANPA PAPAN NAMA-nya berlanjut sampai tahun 1997…
Meneer hoogleraar sedang membawa nyonyanya jalan-jalan di depan kampus…


BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”


Keren yah… kalau Aula barat/timur dipasang lampu gini…
pemborosan listrik…


Sumber: KITLV, bandungsae.com, COLLECTIE_TROPENMUSEUM, wikipedia



mudah2an masih pejone emoticon-Big Grin

om tanya dong, kenapa ITB itu begitu resisten dengan organisasi2 kemahasiswaan luar kampus? contohnya ane sebut aja langsung ya : HMI, KAMMI, dll. ane 3 tahun di kampus ga pernah denger suaranya sama sekali tuh. beda banget ama kampus2 sebelah, saking ramainya keberadaan dari organisasi2 itu, sampai2 pemilihan ketua BEM/Presiden BEM semacemnya penuh dengan aroma2 organisasi itu

ini fenomena menarik, ada temen seangkatan gw, di kampus lain. dia ketua organisasi (mungkin kalau di ITB setara sama unit), begitu selesai masa kepengurusan, dia ditelpon orang yg ngakunya dari partai tertentu, meminta temen ane untuk join disana. disanalah ane berpendapat aroma politik kuat sekali di kampus temen ane. sementara di kampus ane sendiri, belom pernah denger tuh mantan2 ketua unit, himpunan yg nyusruk ke partai emoticon-Big Grin

tolong ralat aja kalau ada pernyataan ane yg salah
Post ini telah dihapus oleh
Wah mantap om cucu emoticon-Angkat Beer

Mau nanya juga, mungkin bisa dijelasin tentang asal muasal "clash" antar prodi di ITB dulunya (yang paling beken sih Sipil X Tambang)

Makasih atas jawabannya emoticon-Embarrassment/

P.S. Kalau mau ngelink ke post tertentu klik di angka yang di kanan atas aja om emoticon-Smilie
wow lengkap banget emoticon-Belo

keren keren!!

Quote:


ternyata bukan cuma gosip emoticon-Belo
kisah jurusan2 ga ya om Cucu?

trs filosofi berlogo gadjah itu gimana?
wow, lengkap banget emoticon-Belo emoticon-thumbsup:
ikutan nyimak aja gan emoticon-linux2 emoticon-Blue Guy Peace
ikut reserved emoticon-linux2
mantap om cucu emoticon-Belo
iya ane juga penasaran sm masalah yg diutarakan om mod emoticon-Big Grin
Halaman 1 dari 20


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di