CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Budaya /
LAKON... (Kumpulan Cerita Wayang)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000008509235/lakon-kumpulan-cerita-wayang

LAKON... (Kumpulan Cerita Wayang)

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 34
Gugurnya Salya


sebelum terjadi perang bharata yudha tepatnya ketika kresna duta, salya melambai pada sri kresna, kemudian mereka bercakap cakap di beranda kerajaan hastina. saat itu memang di hastina prabu duryodana mengundang sesepuh sesepuh, termasuk bhisma begawan dari talkondo, salya mertuanya sendiri dari madraka, guru drona dari sokalima, dan karna kakak angkatnya dari kerjaan perdikan anga.

saat itu salya berkata pada kresna, "wahai titisan wisnu, aku ingin menitipkan suatu hal kepadamu jika bharata yudha benar benar akan terjadi. ya aku akan menitipkan nakula dan sadewa kepadamu, karena sesungguhny setiap melihat mereka aku selalu teringat akan adiku madrim yang wafat ketika melahirkan mereka. untung saja kunti mau untuk merwat mereka berdua seperti merawat anaknya sendiri. tolonglah jaga si kembar nakula dan sadewa untuku"
dan kresna kemudian menyanggupi permintaan salya....

dan kisah berlanjut, saat itu perang bharata yudha berkecamuk, dan salya dijebak untuk berpihak kepada kurawa, salya yang merasa dijebak kemudian membalas ketika menjadi kusir kereta adipati akrna, saat adipati karna melepas panahnya prabu salya menghentakan kakinya ke kereta yang dikusirinya, dan roda kereta amblas masuk ke dalam tanah. dan panah sakti karna meleset hanya mengenai mahkota harjuna. lalu disuruhnya adipati karna untuk memperbaiki roda kereta, saat karna turun memperbaiki roda kereta pasopati melesat dan memenggal adipati karna.

alkisah sesudah gugurnya adipati akrna, prabu slya pulang ke madraka, dia tahu bahwa selepas gugurnya karna maka dia yang kan diangkat menjadi senopati kurawa. saat itu kresna tanggap bahwa salya bukan musuh yang enteng. saat itu kresna teringat akan pembicaraanya dengan prabu salya ketika ia menjadi duta terahir pandawa ke hastina.

maka dipanggilah nakula dan sadewa, dan disuruh memakai baju putih dari kain kafan dan dengan kereta mereka disuruh memacu kudanya ke kerajaan mandaraka bertemu dengan prabu salya. pesan kresna sederhana, jika kalian sampai di depan prabu salya segeralah minta mati. nakula dan sadewa tahu bahwa dia dikorbankan oleh kresna dan mereka pun menangis dalam kegalauan hatinya dalam perjalanan. bagaimanapun mereka sangat sayang kepada pamanya salya.

sampai di mandaraka nakula dan sadewa yang berpakaian kafan itu segera bersujud di kaki pamanya, mereka menangis dan minta mati. salya terkaget kaget, dan dia berkata "siapa yang menyuruh kalian kemari keponakanku tersayang?", nakula dans adewa berusaha menyembunyikan kenyataan dan berkata "tidak ada paman, kami tidak disuruh siapa siapa". salya tersenyum dan berkata "kalian tidak bisa membohongiku, aku ini paman kalian lebih banyak makan asam garam kehidupan daripada kalian, aku tahu kalian disuruh oleh kresna, ya kan?"

nakula dan sadewa membisu. salya berkata kembali "apa yang kalian inginkan keponakan tersayang?apa yang kalian inginkan dari pamanmu ini nak?". nakula dan sadewa walau galau pun menjawab seperti yang diajarkan oleh kresna kepada mereka "paman, daripada kami mati di bharata yudha menghadapi paman, lebih baik sekarang kami minta mati sekarang paman"
salya tersenyum dan matanya berkaca kaca...."anaku nakula dan sadewa, setiap aku melihat kalian, aku selalu teringat akan madrim adiku yang telah wafat ketika melahirkan kalian, maka manalah tega aku membunuh kalian anaku?, katakanlah anaku, katakanlah, aku ingin salya mati dalam bharata yudha, katakanlah anaku, katakanlah...."

nakula dan sadewa tak dapat lagi menahan air matanya, bagi mereka yang tertinggal cuma salya dalam keluarga mereka, ibu mereka madrim wafat ketika melahirkan mereka, sementara pandu ayah mereka meninggal beberapa saat kemudian karena kehabisan darah tertusuk keris prabu kala tremboko dari pringgandani, haruskah mereka kini merelakan kematian paman mereka yang sangat sayang dan kasih kepada mereka?mereka terdiam dalam tangis penuh keharuan.

prabu salya memecah keheningan "anaku, segera kembali ke kresna, katakan, besok jika aku maju menjadi senopati kurawa dalam perang bharata yudha, suruh kakakmu yudistira menghadapi aku, sekarang segeralah pulang". lalu nakula dan sadewa emmeluk kaki salya dan untuk terahir kalinya salya memberi berkatnya kepada keponakanya yang sangat dicintai itu.
malam itu, mengetahui takdir akan datang, yaitu kematianya. salya bercengkerama dengan mesra bersama istrinya ratu pujawati. bahkan seolah olah mereka sedang dalam keadaan bulan madu, seperti pasangan pengantin di malam pertama. pujawati sudah gelisah, dia menangkap kesan aneh dari suaminya. tapi salya tetap saja berusaha meyakinkan istrinya bahwa tidak akan terjadi apa apa.

ketika pagi menjelang, dewi pujawati masih lelap dalam tidurnya, salya melihat wajah istrinya yang sudah berumur tapi tetap cantik dan setia mendampinginya hingga kini, sambil menyelimuti tubuh istrinya salya berkata "mungkin ini terahir kalinya aku melihat kecantkan wajahmu. adiku, maafkan aku, aku tak mungkin memberitahukan kepadamu kematiaku". dan seperti 3 senopati kurawa sebelumnya ketika mengahadap ajalnya, prabu salya menggunakan baju perang berwarna putih putih.

seketika dilarikan keretanya ke kurusetra, dan perang pun berlanjut. candrabirawa makan korban banyak, pandawa kewalahan. saat itulah yudistira disuruh maju oleh kresna. awalnya yudistira tak mau maju perang dan bertekad tak akan pernah menyakiti siapapun juga. mendengar itu kresna pun meminta arjuna, nakula, sadewa dan bima untuk bunuh diri saja. jika yudistira tak mau maju, lebih baik seua pandawa bunuh diri, karena prabu salya tak mungkin terkalahkan kecuali jika yudistira maju. ahirnya dengan berat hati yudistira maju berperang.

dalam versi wayang diktakan bahwa salya tewas dilempar oleh jimat kalimasada. saat itu resi bagaspati masuk ke dalam tubuh yudistira, dan candrabirawa diambil kembali dari tubuh salya. kemudian yudistira melempar jimat kalimasada dan tepat mengenai dada parabu salya, seketika prabu salya gugur terkena lemparan jimat kalimasada.

di mandaraka, dewi pujawati terbangun dan menangis mengetahui suaminya sudah berangkat berperang, dan dia pun menyusul ke kurusetra. disana dia sampai ketika hari sudah sore, dan setelah mencari cari dari ribuan mayat yang tergeletak, ditemukanlah mayat suaminya. saat itu juga pujawati menikamkan keris ke dadanya. dia ikut bela pati atas gugurnya suaminya. istri yang setia, sebelum mati dia berkata kepada mayat suaminya "kakang, saya tak mampu hidup tanpa kakang, senang kita bersama, susah kita bersama, maka aku akan menyusul kakang ke sorga"...dan keris itu merobek dada pjawati, meembus jantungnya, membuat koncat nyawanya, dan bersama sukma resi bagaspati, dan prabu salya sukma pujawati menuju sorga.
Kala Bendana Gugur


Kala bendana adalah anak terahir dr prabu tremboko yaitu penguasa pringgondani yang gugur di tangan prabu pandu dewanata dari hastinapura. kala bendana juga adik dari arimbi istri dari bima yang melahirkan gatotkaca. bentuk kala bendana adalah raksasa cilik atau cebol. dimana memiliki kelebihan dan keutamaan tidak bisa berbohong dan cenderung membela kebenaran. pada kisah pemberontakan brajadenta, kala bendana menjadi temens etia gatotkaca dan brajamusti. dimana kala bendana sendiri datang bersama brajamusti untuk mengingatkan bahwa tindakan saudaranya itu merebut tahta pringgondani dari keponakanya gatotkaca adalah tidak syah.

kala bendana dikisahkan memiliki akhir hidup yang tragis. saat itu negeri plangkawati sedang dilanda kesedihan karena sang pangeran abimanyu penguasa kesatrian plangkawati menghilang. istrinya siti sundari putri dari dwarawati merasa sangat sedih. saat itu yang menemani adalah gatotkaca dan kala bendana. merasa ditangisi setiap hari oleh siti sundari sambil curhat soal hilangnya abimanyu membuat kala bendana sangat sedih dan pamit mencariw arta atau kabar. maka berjalanlah kala bendana mencari kabar dimana angkawijaya atau abimanyu berada.

di negeri mastsyapati ternyata abimanyu baru aja menikah dengan utari yang kalo diurut umurnya jauh lebih tua dan bisa disebut neneknya. tetapi karena dewi utari jago spiritual maka disebutkan sang dewi awet muda. dan menurut hyang bhatara kresna sendiri, wiji mahkota para raja hanya bisa disemai di rahim dewi utari. ketika sedang berkasih kasih datanglah kala bendana. sampe disana karena kala bendana tak bisa berbohong dia hampir saja membocorkan bahwa abimanyu sudah punya istri. tapi oleh abimanyu kala bendana diusir dengan ditusuk keris, sampe ahirnya kala bendana pun lari pulang ke plangkawati.

saat itulah utari curiga dan berkata pada abimanyu. jika abimanyu sudah punya garwa pun akan diterima sebagai saudara oleh utari. tapi dasar abimanyu malah ebrbohong bahkan bersumpah akan mati dikeroyok perawan 1000 jika bohong, tapi kepleset lidahnya jadi bersumpah akan mati dikeroyok panah seribu. dan jagad nyakseni, jagad mendengar itulah karma abimanyu. mati dalam perang bharata yudha dengan keadaan dikeroyok panah 1000 sampe tak ada sisa di tubuhnya yang tak kemasukan panah. hati hatilah dalam bersumpah!! jangan lalai terutama dalam keadaan bergembira.

kala bendana pulang ke plangkawati. disana gatotkaca menemani siti sundari. siti sundari bergembira menyambut kala bendana dan menanyakan bagaimana kabar abimanyu. kala bendana aka mengucap tapi di halang halangi oleh gatotkaca dengan kasar. tapi kala bendana yang tak bisa berbohong merasa bahwa kebenaran harus diungkapkan apapun resikonya. ketika kala bendana mengucap abimanyu ada di negera matsyapati langsung gatotkaca karena kesalnya mengayunkan tanganya ke kepala kala bendana. tak dinyana tak diduga, kepala pamanya itu langsung hancur berantakan. tak sadar gatotkaca sudah melakukan pembunuhan kejam kepada pamanya sendiri.

saat itu kala bendana badanya moksa, hilang mayatnya bersama rohnya. terdengar suara "anaku gatotkaca, aku sebenarnya sudah masuk sorga. tapi aku ga rela jika aku masuk sendirian. karena cintaku padamu maka aku akan tunggu engkau gugur di perang bharatayudha. dan kita akan masuk ke sorga bersama". gatotkaca sangat menyesal dengan kejadian ini. dan pada perang bharata yudha, kala bendana membawa konta yang dilontarkan oleh adipati karna untuk masuk menembus tubuh gatotkaca. inilah pembalasan karma gatotkaca terhadap pembunuhan pamanya kala bendana.dan ahirnya paman anak ini masuk sorga bersamaan.
Gojali Suta


Raja trajutisna prabu sitidja alias boma narakasura merasa sangat sedih dan kecewa. karena istrinya Dewi Hagnyawanawati atau dei Mustikawati tak mau melayaninya sebagai suami. malah sang istri mabok kepayang dengan saudaranya sendiri yaitu raden samba wisnubrata.

susana sangat suram menyelimuti paseban agung. sang raja prabu sitidja cuma diam saja. sedangkan Prabu Supala, patih Pancadnyana, Ditya Maudara, Ditya Ancak Ogra, Ditya Yayahgriwa, Ditya Sinundha cuma bisa ikutan diam sambil memandang kosong ke lantai. mereka sangat takut melihat keadaan rajanya yang sedang bermuram durja. untuk memecah kesunyian maka sang raja prabu sitidja berkata kepada patihnya prabu supala:

"paman supala saya mengadakan pertemuan ini sengaja ingin membhas masalah raden samba dan dhiajeng Hagnyanawati. dua orang itu sudah bener bener kasmaran sampe dhiajeng Hagnyanawati dibawa pulang ke dwarawati. maksud saya daripada didengar orang luar, mending adik saya samba saya nikahkan dengan istri saya dhiajeng Hagnyanawati. lalu saya dudukan di kerajaan trajutisna dengan baik baik"

"sebentar kanjeng prabu, bukankah kelakuan adik baginda samba itu berarti telah berani melakukan tindakan mesum dan berkhianat kepada sang prabu?barani mengambil istri paduka sebagai pacarnya?bukankah itu sama dengan berani menginjak injak kepala sang prabu sendiri"

"tidak apa apa paman, karena samba itu adik saya yang paling saya sayangi. karena itu saya akan mengirim utusan ke dwarawati yaitu maudara dan ancak ogra untuk menghadap ke prabu kresna agar mau mengijinkan membawa samba dan hgnywati untuk saya nikahkan di trajutisna."

kemudian prabu sutidja memberikan perintah kepada maudara dan ancak ogra untuk berangkat ke dwarawati untuk menghadap sri baginda kresna ayahnya untuk menyampaikan keinginan prabu boma narakasura. maka maudara dan ancak ogra segera berangkat.
di paseban agung kerajaan dwarawati. disana sang raja sri baginda raja bhatara kresna sedang berdiskusi dengan patih udawa dan raden setyaki. yang dibicarakan tidak lain adalah kelakuan raden samba yan telah merusak pagar ayu dengan membawa istri saudaranya sendiri untuk dijadikan sebagai kekasih. belum lama pembicaraan berlangsung datanglah ditya maudara dan ancak ogra.

setelah datang dan saling beramah tamah mereka mengatakan tujuan kedatanganya ke pada prabu kresna. lalu prabu bhatara kresna yang sudah mengetahui akan jadi apa lelakon ini mengijinkan raden samba untuk dibawa ke trajutisna. maka ditya maudara dan ancak ogra segera pamit dengan membawa raden samba ke trajutisna.

setelah kedua utusan pamit, setyaki maju menghadap bhatara kresna dan matur:
" kakanda prabu kenapa kakanda ijinkan mereka membawa raden samba?iya jika kedua utusan tadi berkata benar, bagaimana jika mereka berbohong dan ingkar janji?di sana nantinya raden samba bukan akan dinikahkan mlah akan dihukum?bagaimana kakanda prabu"

"wahai adiku setyaki, janagn berpikiran seperti itu. ingat semua itu sudah diatur takdir. walopun digedong baja sekalipun, jika sudah saatnya mati pasti terjadi. walopun dihujani tembakan peluru pun jika masih belom waktunya pasti kan selamat. adi setyaki jangan ikut campur, biarkan saja samba mau diapkan saja. yang jelas jangan sampe sitidja melawan dan melibatkan orang yang tanpa dosa!!. jika itu dilakukan apalagi melawan adi arjuna maka aku sendiri yang akan menghadapi sitidja anaku. sekarang adi setyaki bubarkan paseban pertemuan ini. saya mau tidur dan menenangkan hati"

diceritakan smapelah rombongan ditya maudara dan ancak ogra yang mengiring jaka samba ditengah hutan. disana 2 rksasa ini gak menerima kelakuan jka samba yang mengambil istri baginda rajanya. maka mereka berdua menyiksa jaka samba. sehingga jaka samba menjerit kesakitan. kebetulan saat itu datanglah arjuna yang kan menuju kerajaan dwarawati. kaget hati arjuna mendengar jeritan dari raden samba.

karena kaget maka arjuna segera bertanya dan mencegat rombongan itu:
"kalo ga salah ini maudara dan samba. kenapa ini kok badan samba biru biru seperti ini?dan kalian hendak pergi kemana?"

maudara menjawab:
"kalo raden arjuna bertanya maka sebenarnya saya dan ancak ogra menjalankan perintah kanjeng gusti sitidja untuk membawa anak mas raden samba ke trajutisna untuk di nikahkan dengan dewi hagnyawati. nah kenapa badan raden samba biru biru?karena kena duri dan onak di dalam hutan"

"apa benar seperti itu samba" tanya arjuna tidak percaya kepada samba.

"aduh paman itu tak benar, kenapa saya babak belur begini karena saya sebenernya digebuki oleh paman maudara dan ancak ogra"

karena marah maka maudara di tusuk oleh raden arjuna dengan pusaka pulanggeni hingga tewas dan balik ke asalnya yaitu bangkai burung dara. sementara ancak ogra diberikan surat tantangan yg ditulis arjuna untuk sitidja. karena temen seperjalananya tewas segera ancak ogra berlaripulang ke trajutisna. sementara raden samba dan dewi hagnywati untuk sementara waktu dipersilahkan menginap di kasatrian madukoro.

di kerajaan trajutisna sedang duduk prabu sitdja diatas singgasana dengan menhadap para bawahanya. tiba tiba datanglah ancak ogra dengan ngos ngosan dan berdarah darah. prabu sitidja sangat marah membaca surat tantangan. dan langsung menyerang madukoro. prabu sitidja naik diatas garuda wilmuna sementara semua prajuritnya berbaris didaratan.

tetapi sebelum tanding dengan arjuna prabu sitidja hendak mencari terlebih dahulu dimana raden samba yang menjadi pnyebab kejadian perkara ini. sementara perang pun pecah. baladewa, arjuna, setyaki, gatotkaca berperang melawan wadya bala dr trajutisna. perang besar pun pecah di madukoro.

diluar terjadi perang besar sementara di dalamkesatrin madukoro 2 muda mudi sedang bermadu asmara. yaitu raden samba dan dewi hagnywati. mereka berdua mabuk asmara bercumbu dan juga berpeluk peluk. apalagi raden samba merasa pamanya arjuna merestui dan melindungi dirinya. karena sedang asyik masyuk tak merasa ada endung yang tiba. itulah garuda wiluma yang segera turun. dan kagetlah raden samba melihat turunya garuda yang ditunggangi kakanya sitidja. segera raden samba tergopoh gopoh menghaturkan sembah.

"sembah saya kepada kakanda prabu, saya tak menyangka kakanda prabu sendiri yang akan datang kemari. mohon kakanda prabu mau memaafkan segla kesalahan hamba"

prabu seitidja berkata
"iya adiku, sebenarnya aku kesini akan marah kepada di samba, tp melihat adi seperti ini seolah hilang kemarahanku. sudahlah bukan watak trajutisna untuk marah cuma gara gara wanita"

ketika naik kembali ke garuda prabu sitidja mendengar omongan togog yang berkata:
"bagaimana sih ndoro?bukankah ndoro itu hendak marah dan menjatuhkan hukuman kepada samba yang telah merebut istri paduka?kenapa jadinya ketika sudah ketemu orangnya malah batal begini?"

lalu tanpa peringatan karena sangat marah dari atas garuda prabu sitidja melemparkan senjata limpung ke arah raden samba.sehingga lukanya sekujur tubuh. kemudian mengingat perang trajutisna dan madukoro terjadi karena samba plus melihat banyaknya mayat bergelimpangan. kemarahan prabu sitidja semakin membara. di hancurkanya tubuh samba. di robek mulutnya, dihancurkan hidungnya, tanganya dipatah dan dipuntir, lalu mayatnya dijuwing juwing. melihat keadaan ini dewi hagnywati menghunus patrem dan menusukan ke tubuhnya. ikut belapati.

sesudah itu prabu sitidja mengambil sisa mayat samba dan dilemparkan ke medan perang. dan sang prabu menaiki garuda untuk mengejar jatuhnya mayat. di medan perang para pandawa merasa sangat marah karena merasa tak mampu menjaga kselamatan raden samba. arjuna segera membidikan panahkyai sarotama yang di lepaskan ke leher prabu supala. dan tewaslah seketika prabu supala.

sementara patih pancatnyana di gemplang senjata neggala oleh bladewa dan tewas seketika. semua wadyabala trajutisna mulai habis di bantai oleh gatokaca dan werkudoro serta setyaki. mengetahui ini segera prabu sitidja maju perang. terjadi perang dahsyat antara arjuna dan prabu sitidja. tetapi prabu sitidja punya ajian pancasona. mati 7 kali sehari bisa hidup kembali. jd tak ada guna. ahirnya arjuna memilih keluar dr perang dan bertapa lg dengan nama benggawan cipto ening

karena malu arjuna keluar dr perang dan memilih betapa menjadi begawan cipto ening. mengetahui keluarnya arjuna maka para pndawa segera mencari bantuan sri bhatara kresna. malah sri bhatara kresna tidur tak bisa dibangunkan. bahkan diceritakan anaknya samba mati dijuwing juga tak bangun. sri bhatara kresna hanya bangun ketika diceritakan arjuna merasa malu dan keluar serta menghilang dr perang. rupanya sri bhatara kresna mengunjungi ibunyi sitidja yaitu dewi pratiwi di kayangan sapta pratala. di sana bhatara kresna menanyakan apa kelemahan sitidja. dei pratiwi menceritakan:

"sitidja punya aji pancasona tak akan mati selama masih menyentuh tanah. nah kelemahanya adalah sebuah anjang anjang besi. dalam episode topeng waja terjadi perkelahian antara sutedja dan gatotkaca. dimana topeng waja gatot di gemplang oleh senjata gamparan kencana milik sutedja lalu terjadi salah kedaden. ahirnya topeng itu berubah wujud jd anjang anjang besi di alas pramonokoti daerah pringgondani. itu pengapesan dr anak saya sitidja"

ketika bngun prabu kresna segera bilang kepada gatotkaca:
"jika nanti mayat saudaramu sitidja jatuh, segera bawa kabur ke alas pramonokoti dan baringkan di anjang anjang besi"

"baik paman prabu" kata gatotkaca

kemudian sitidja yang sedang menaiki garuda wiluma sedang terbang berputran di arena perang dilepasi senjata chakra oleh sri kresna. ahirnya tubuhnya terbelah dan jatuh kebumi lalu segera dibawa terbang oleh gatotkaca ke alas pramonoti dan diletakan di anjang anjang besi. sehingga matilah sitidja karena tak menyentuh tanah. maka berahirlah kisah perang gojali suta ini.
Kidung Malam (15)
Sang Resi Bisma


Di tengah terik matahari, Resi Bisma dan Yamawidura sengaja tidak berhenti, agar segera sampai di Padepokan Sokalima, tempat Pandhita Durna menggembleng cantrik-cantriknya, termasuk Pandhawa Lima. Jika pun harus istirahat, sekedar untuk memberi makan minum kuda-kuda mereka. Dilihat pada garis-garis wajahnya, Resi Bisma sudah tidak muda lagi, bahkan dapat dikatakan lanjut usia, namun badannya masih tegap dan jiwanya masih tegar, jauh lebih muda dari usia yang sebenarnya. Sorot matanya tajam bagai rajawali. Segudang ilmu sakti yang ia pelajari sejak masa kanak-kanak, masih melekat kuat di badan dan jiwanya. Waktu muda ia mendapat tiga anugerah besar yaitu; umur panjang sampai tujuh turunan, tidak pernah kalah dalam berperang dan tidak dapat mati jika tidak atas permintaan sendiri. Ia menjadi putera mahkota kerajaan Hastinapura pada masa pemerintahan ayahnya, Prabu Sentanu. Namun karena Dewi Setyawati, ibu sambungnya menginginkan tahta demi anaknya, maka ia mengalah, dengan ikhlas tahta diserahkan kepada anak Setyawati. Bahkan ia berjanji untuk menjalani hidup ‘wadat’ tidak menikah, agar tidak mempunyai keturunan yang akan mengusik tahta Hastinapura, dan menimbulkan pertumpahan darah diantara saudara.

Dengan kebesaran hati, Resi Bisma telah melepaskan tahtanya dan menjalani hidup wadat. Walaupun ada godaan besar dari seorang wanita bernama Dewi Amba, Bisma tetap setia dengan janjinya untuk tidak menurunkan anak dari seorang wanita. Namun saat ini ia sangat kecewa, bukan karena ia telah merelakan tahtanya dan menjalani laku hidup wadat, tetapi lebih dikarenakan pergolakan tahta Hastinapura tidak terhindarkan karenanya. "Apakah keputusanku untuk melepaskan tahta salah? Jikakalau benar, mengapa Citragada dan Wicitrawirya anak Setyawati, belum genap hitungan tahun menduduki tahta, meninggal secara berurutan? Menurut anggapan rakyat Hastinapura, Citragada dan Wicitrawirya tidak kuat menduduki tahta, mereka kuwalat kepada pendiri Keraton dan Rakyat Hastinapura. Karena secara tidak langsung telah merebut tahta yang bukan haknya dari tanganku. Rupanya Ibunda Setyawati mempercayainya anggapan rakyat. Ia sangat menyesalkan telah mengajukan anak-anaknya untuk menduduki tahta.

Pada suatu malam, Ibunda Ratu menemuiku, dan meyapaku. Ia selalu memanggilku dengan nama kecilku, Dewa Brata. Ketika nama itu disebut, aku diingatkan kepada ibuku Dewi Ganggawati, seorang bidadari yang memberikan nama itu. Aku rindu padanya, ingin dipeluk, dicium, dibelai dengan penuh cinta. Namun itu tak pernah aku rasakan. Sejak bayi, Ibunda telah meninggalkan aku dan ramanda Prabu Sentanu kembali ke kahyangan.

"Dewa Brata, aku telah melakukan kesalahan besar kepadamu dan rakyat Hastinapura. Semenjak kedua adik tirimu meninggal berurutan, tahta Hastinapura kosong. Aku sadar, tragedi ini merupakan peringatan ‘Hyang Akarya Jagad’ bahwa sesungguhnya hanya engkaulah yang berhak atas tahta Hastinapura."

"Bukan Ibunda yang bersalah, melainkan aku. Karena dengan memberikan tahta kepada keturunan Ibunda Dewi Setyawati, aku telah mengkhianati leluhurku, pendiri Keraton Hastinapura ini. Seakan-akan tahta Hastinapura adalah milikku, dapat aku gunakan sesukaku, boleh aku diberikan sesuai keinginanku. Demikian pula kedudukan putera mahkota yang kutanggalkan tanpa persetujuan rakyat, artinya aku telah menyelewengkan kepercayaan rakyat Hastinapura."

"Dewa Brata inilah saat yang tepat untuk menebus kesalahan kita"

"Katakan apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan."

"Jika engkau mau melakukan, kesalahku tertebus pula"

"Katakan Ibunda, katakanlah"

"Duduklah di tahta Hastinapura"

Malam itu terang benderang, tidak turun hujan. Bulan penuh menggantung di langit, kidung malam mengalun merdu. Namun kata-kata Ibunda Ratu laksana halilintar menggelegar di dada Dewa Brata. Sesungguhnya yang dikatakan Ibunda Ratu, sama dengan bisikan nuraninya bahkan sama pula dengan nurani rakyat, yang beranggapan bahwa satu-satunya orang yang berhak, pantas dan kuat menduduki tahta adalah Dewa Brata. Namun kesadarannya menolak untuk menjadi raja.

Aku mengalami goncangan yang amat hebat, jika aku tidak bersedia menjadi raja, artinya aku telah mengingkari tradisi pendiri kraton Hastinapura, dan menolak mandat yang diberikan rakyat. Namun sebaliknya jika aku bersedia menjadi raja, aku telah mengkianati janjiku dan menghina para Dewa yang telah memberikan tiga anugerah karena kerelaanku menyerahkan tahta dan hidup wadat.

Resi Bisma menghentikan permenungan masa lalunya, ia dan Yamawidura sampai di gapura masuk padepokan Sokalima. Sang Resi Bisma banyak berharap kepada guru besar Soka Lima, untuk membantu mengurangi beban perasaan bersalah, dengan mempersatukan Pandhawa dan Kurawa, sehingga mampu meredam sengketa dan pertumpahan.

Dua orang cantrik menyambut dengan penuh hormat, sopan dan ramah, walaupun mereka tidak tahu bahwa tamunya adalah dua orang besar dari negara yang besar pula.
Kidung Malam 16
Dendam dalam Sekam


Bisma dan Yamawidura turun dari kudanya, segera dua orang cantrik menghampirinya untuk menambatkan kuda-kuda mereka. Begitu pula dengan dua cantrik lain mengiring Bisma dan Yamawidura menuju ke bangunan induk padepokan. Sepanjang jalan, aneka bunga warna-warni menjulur tangkainya, merunduk di pinggir jalan, bagaikan pagar-ayu, menyambut datangnya kedua tamu agung. Di bibir tangga bangunan induk, Pandita Durna, beserta Puntadewa, Bimasena, Harjuna, Nakula dan Sadewa tergopoh-gopoh menyongsong mereka.

“Selamat datang di padepokan Sokalima, Sang Resi Agung Hastinapura. Sudah tiga hari ini, sepasang burung prenjak berkicau bersautan persis di depan rumah induk. Itu pertanda bahwa padepokan akan kedatangan tamu Resi Agung.”

“Pandhita Durna jangan berlebihan, aku manusia biasa seperti engkau, bukan manusia agung.”

Durna mengangguk-angguk, walaupun sesungguhnya ia tahu bahwa Bisma adalah Resinya para Resi.

Setelah mereka dipersilakan duduk, Bisma mengawali pembicaraan.

“Pandhita Durna, tentunya engkau telah mengetahui banyak tentang aku dari cucu-cucuku Pandhawa. Namun aku ingin mengatakan bahwa hingga sat ini hidupku selalu dibayang-bayangi perasaan bersalah. Menyusul keputusanku yang pertama: ketika aku merelakan tahta kepada anak-anak Setyawati dengan Ramanda Prabu Sentanu yaitu Citragada dan Wicitrawirya, yang meninggal berurutan setelah menduduki tahta. Keputusan yang ke dua: mengangkat Abiyasa, anak Setyawati dengan Palasara trah Pertapa Saptaarga, bukan trah Hastinapura. Sejak Abiyasa menduduki tahta, Hastinpura selalu bermasalah. Terlebih lagi setelah kehadiran Kurawa dan Pandhawa perebutan tahta Hastinapura semakin meruncing.”

“Sang Resi Bisma, perjalanan hidupku rupanya juga tidak lebih baik.” Pandita Durna berkisah pula.

“Sampai saat ini perasaan bersalah seperti yang dirasakan Sang Resi juga menggelayut dalam hidupku. Ketika Ramanda Prabu Baratwaja menginginkan aku menjadi raja di Hargajembangan, aku menolak, dan memilih pergi ke Tanah Jawa, untuk berguru kepada Begawan Abiyasa. Tetapi tragedi telah menimpaku, badan dan wajahku cacat seumur hidup. Aku menggembara tak tentu arah di negeri orang, dengan membawa anak tanpa ibu.”

Mereka terdiam untuk sementara waktu, ingin saling memahami perjalanan hidup masing-masing.

“Pandita Durna, aku tahu engkau dalam penderitaan, namun engkaulah yang kurasa dapat membantu mencegah perang antara Kurawa dan Pandawa. Untuk itulah aku datang memohon engkau bersedia menjadi guru mereka. Karena dengan menjadikan mereka murid-muridmu, mereka akan menjadi saudara seperguruan, yang akan menumbuhkan perasaan senasib, seperjuangan. Bukankah hal tersebut akan memperkecil benih-benih permusuhan?”

“Pada awalnya aku lebih berminat mengangkat murid para Pandhawa. Namun setelah Sang Resi mengungkapkan tujuan mulia dibalik pengangkatan murid Para Kurawa, aku bersedia menjadi guru mereka.”

“Terimakasih Kumbayana. Tentunya dengan kesediaanmu, Prabu Destrarastra akan memberikan gelar guru istana.”

“Dhuh Sang Resi Bisma, ada yang lebih penting dari gelar itu, yaitu kebebasan mengajar setiap orang yang membutuhkan.”

Bisma dapat memahaminya, karena ia tahu persis darma seorang pandita atau resi, ialah memberikan ilmu kepada siapa saja, tidak pilih-pilih. Ibaratnya sebuah sumur yang selalu terbuka bagi yang menimba air darinya.

Sebelum kembali ke Istana Resi Bisma dan Yamawidura berpesan agar selain mengajarkan ilmu, ada hal mendasar yang wajib ditanamkan kepada Pandhawa dan Kurawa, yaitu agar diantara mereka dibangun rasa mencintai, sikap saling menghargai dan rela memberi maaf.

Membangun sikap moral tidak lebih mudah dibandingkan dengan mengajarakan ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan. Oleh karenanya seorang guru diharuskan mempunyai otoritas penuh, teguh adil dan berwibawa. Dengan alasan tersebut, Bisma setuju bahwa tempat penggemblengan para murid, dilakukan di Sokalima.

Semenjak resmi menjadi Guru Istana Hastinapura, nama Pandita Durna terangkat karenanya. Tokoh-tokoh penting dari penjuru negara, berguru kepadanya. Kecuali dari Negara Pancalaradya. Hal tersebut dikarenakan adanya hubungan yang tidak baik antara Sucitra dan Kumbayana, antara Prabu Durpada dan Pandita Durna.

Awalnya, menyusul peristiwa penganiayaan Kumbayana oleh Gandamana, Prabu Durpada tidak tega melihat luka yang diderita Kumbayana, maka ia membiarkannya tinggal di tapal batas wilayah Pancalaradya yang bernama Sokalima. Namun saat ini Sokalima menjadi besar dan kuat. Prabu Durpada khawatir bahwa Kumbayana akan memanfaatkan kekuatan Sokalima untuk melampiasakan dendamnya.

Memang benar, dendam di hati Pandita Durna senantiasa masih menjala dalam sekamnya. Jika tiba saatnya ia akan membuka sekam itu, supaya nyalanya menjadi besar dan membakar sasaran dendamnya yaitu Prabu Durpada dan Gandamana.
Kidung Malam 17
Mimpi Gandamana


Dendam mengandung daya penghancur yang luar biasa. Si penyimpan dendam tidak akan pernah merasakan cara kerjanya dalam proses penghancuran hidup dan kehidupan. Seperti dendam yang ditumbuhkan di hati Durna. Sebagai Maha Guru ia memang suntuk mengajarkan ilmu-ilmunya kepada para murid-muridnya, tetapi tujuan utamanya bukan untuk para murid, melainkan untuk melampiaskan dendamnya kepada Prabu Durpada dan Gandamana. Sungguh luar biasa, dendam tidak akan pernah berhenti sebelum ‘tuan’nya hancur.

Dikarenakan yang menjadi tujuan utama pengajaran di Sokalima adalah pembalasan sakit hati, maka pesan Resi Bisma kepada Durna agar tidak lupa menanamkan rasa saling mencintai, sikap saling menghargai dan rela memberi maaf kepada Kurawa dan Pandhawa menjadi tidak begitu penting.

Dendam itu pulahlah yang telah menyeret Pandita Durna untuk memperlakukan murid-muridnya dengan tidak adil, Mban cindhe mban siladan, pilih-kasih. Murid yang satu diemban dengan kain cindhe sedangkan murid yang lain diemban dengan siladan (kulit bambu). Diantara ratusan muridnya, Bimasena dan Harjuna mendapat perlakuan istimewa melebihi Aswatama anaknya. Karerna mereka berdua yang memang sebelumnya gemar berguru kepada orang-orang sakti, mempunyai kemampuan di atas rata-rata, bahkan kesaktiannya jauh meninggalkan murid-murid yang lain. Melalui Bimasena dan Harjuna inilah, Durna berharap dendamnya kepada Prabu Durpada dan Gandamana dapat dilampiaskan.

“Salahkan aku, sebagai guru menaruh perhatian khusus kepada murid-murid berprestasi? Dosakah aku, sebagai seorang guru mencintai murid-murid yang patuh berbakti, dan menjunjung tinggi nama sang guru? Jika kalian ingin mendapat perhatian dan rasa cintaku seperti yang aku berikan kepada Bimasena dan Harjuna, berusahalah patuh dan berprestasi seperti mereka.”

Demikianlah Durna selalu membela diri, mencari alasan untuk membenarkan tindakannya. Tanpa pernah mengakui bahwa itu semua adalah buah karya dari dendamnya yang di sekam.

Walaupun tenaga Durna yang memang tidak sempurna lagi itu telah ditumpahkan untuk murid-muridnya, tidaklah mudah membentuk orang-orang sakti dalam waktu singkat. Beberapa tahun berlalu, semenjak Durna mengangkat murid Pandhawa dan Kurawa, belum ada satupun muridnya yang kemampuannya berada diatas kemampuan Gandamana, termasuk juga Bimasena dan Harjuna, murid andalannya.

Pada suatu pagi, sebelum matahari terasa panas sinarnya. Durna berdiri diatas panggungan, dengan matanya yang tajam, ia mengamati sepasang-sepasang muridnya di arena latih tanding. Ketika tiba gilirannya pasangan Bimasena dan pasangan Harjuna menunjukkan kemampuannya, ia tersenyum puas melihat ilmu kedua murid kesayangan tersebut maju dengan pesat. Namun apakah kemampuan mereka cukup memadai untuk menandingi Gandamana? Siang-malam Durna senantiasa berharap agar saat pembalasan segera tiba. Ia ingin melunasi janjinya kepada Aswatama, sewaktu anaknya menangis melihat luka-luka yang dideritanya. “Jangan menangis Aswatama bocah bagus, bersabarlah. Nanti jika saatnya tiba, akan kutunjukan di depanmu pembalasanku kepada Sucitra (Prabu Durpada) dan Gandamana. He he he”

Di Keraton Cempalaradya pada suatu malam, Gandamana tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Waktu tepat menunjukkan pukul dua dinihari. Jatungnya masih berdetak keras. Mimpi yang baru saja datang dalam tidurnya, membuat bergetar hatinya. Dalam mimpi tersebut ia didatangi Prabu Pandudewanata.

“Patih Gandamana, apakah engkau masih setia padaku?”

“Adhuh Sinuwun Prabu, aku selalu setia kepada Hastinapura dan Prabu Pandudewanata sampai akhir hayatku.”

“Terimakasih Gandamana, aku ingin bukti dengan apa yang engkau katakan.”

“Sinuwun Prabu, apakah yang Paduka kehendaki atas diriku ini?”

“Bersiaplah mengikuti aku ke medan perang!”

“Baiklah Sinuwun, di mana dan berapa pasukan mesthi aku persiapan?”

“Aku tidak memerlukan pasukan kerajaan. Cukup engkau seorang.” Prabu Pandudewanata tersenyum, sebentar kemudian hilang dari pandangan. Aku tiba-tiba sudah berada di medan pertempuran yang sengit. Mereka saling membunuh dengan ganas. Jantungku berdegup keras, selama menjadi Patih Hastinapura baru kali ini aku melihat pertempuran yang lebih dahsyat dari ‘Perang Pamukswa’ perang antara Hastinapura dan Pringgandani. Aku menebarkan pandangan ke delapan penjuru mata angin, dan dengan jelas melihat bahwa pertempuran tersebut melibatkan empat raja. Yang membedakan antara raja yang satu dengan raja yang lainnya adalah warna pakaiannya, termasuk bala tentaranya. Raja yang berpakaian serba Merah, bala tentaranya berpakaian serba merah. Raja yang berpakaian Hitam, bala tentaranya juga berpakaian serba Hitam. Demikian juga raja yang berpakaian Kuning dan Putih. Diantara raja-raja tersebut, aku tidak melihat Prabu Pandudewanata. Dimanakah beliau berada? Bukankah beliau yang mengajakku ke medan perang?

Sebelum pertanyaanku terjawab, tiba-tiba ke empat raja beserta pengikutnya menyerang aku. Puluhan ribu senjata diacung-acungkan kepadaku. Sungguh mengerikan sekujur tubuhku bergetar. Sebentar lagi badanku akan lumat dicincang mereka. Namun aku tidak bisa meninggalkan medan perang. Aku bukan pengecut. Apa lagi aku telah berjanji kepada Prabu Pandudewanata untuk ikut ke medan perang, bertempur sampai titik darah penghabisan. Maka aku songsong mereka dengan muka tegak dan dada terbuka. Dhuaarr! Benturan dahsyat terjadi, aku terbangun.

Sementara kidung malam masih menyisakan suaranya, pikiran Gandamana menerawang jauh di masa lampau, ketika ia masih menjadi Maha Patih Hastinapura. Kenangan bersama Prabu Pandudewanata sungguh membangkitkan kerinduan. Rindu masa-masa kejayaan, rindu kepada Raja yang ia cintai dan ia hormati.

Namun kini semua tinggal kenangan, Prabu Pandu Dewanata telah memasuki alam keabadian. Namun ia masih berkenan mengunjungi aku. “Apakah Sang prabu juga rindu kepadaku? Aku sangat bahagia karenanya, Sang Prabu meninggalkan senyum abadi kepadaku. Meskipun hanya di dalam mimpi.
Kidung Malam 18
Pendadaran Murid Sokalima


Belum lama gema kenthongan yang dipukul sebelas kali hilang dari pendengaran, para murid Soka Lima, yang terdiri dari Pandawa dan Kurawa memenuhi Pendapa induk padepokan. Suasana pada malam itu menjadi khusus, karena ada hal yang terlalu penting yang akan disampaikan oleh Pandita Durna kepada semua muri-muridnya, tepat pada jam sebelas malam. Temaramnya lampu minyak yang menggantung di tengah saka guru, mampu menampakan raut wajah mereka yang serius. Tidak lama kemudian Pandita Durna muncul didampingi oleh Aswatama, anak semata wayang.

Setelah duduk di antara murid-muridnya, Pandita Durna membuka pembicaraan.

“Sudah lebih dari tiga tahun kalian berlatih dengan sungguh-sungguh, Aku bangga atas kemajuan yang kalian capai. Aku menghargai kalian, seperti engkau menghormati aku. Aku mencintai kalian, seperti engkau juga mencintai aku. Selama ini aku telah membantu kesulitan kalian, demikian pula yang aku harapkan kalian juga membantu kesulitanku.”

“Bapa guru, bukankah bantuan kami selama ini terus mengalir. Tidak sedikit harta yang kami berikan untuk membangun pendapa yang megah ini, membangun asrama para murid, membangun pintu gapura dan tembok keliling padepokan, juga membantu fasilitas-fasilitas yang lain. Namun jika semua bantuan tersebut belum dapat mengatasi kesulitan, katakan saja Bapa Guru, kesulitan apa lagi yang perlu kami bantu.”

“Anak Mas Duryudana, apa yang engkau katakan perihal bantuan itu memang benar, namun bukan itu yang aku maksudkan. Aku membutuhkan bantuan untuk menyembuhkan luka batin yang selama ini masih menganga di dalam hatiku. Oleh karenanya hidupku tidak akan pernah tenang sebelum luka itu sembuh.”

“Bapa Guru yang aku hormati, hati yang menganga karena luka dan tidak segera pulih kembali itu hanya terjadi pada hati yang darahnya dialiri dendam. Apakah Bapa Guru Durna menyimpan dendam?”

“ Benar Harjuna, engkau memang murid yang ‘lantip,’ aku menyimpan dendam. Dan demi anakku Aswatama dendam tersebut aku hidupi, sembari menunggu waktu yang tepat untuk melampiaskan.”

“Lalu, kepada siapa dendam itu akan dilampiaskan.?”

“Kepada Sucitra dan Gandamana”

Para murid terdiam, mereka tahu bahwa dua nama yang disebut Pandita Durna adalah raja dan beteng kekuatan Cempalaradya atau Pancalaradya. Bagi para Kurawa Gandamana dan Sucitra atau Prabu Durpada adalah dua orang pilih tanding, yang tidak mudah dikalahkan. Hati mereka tergetar membayangkan sepak terjang Gandamana di medan perang. Dengan aji Wungkal Bener dan Bandung Bandawasa, Gandamana mampu memporakporandakan ratusan prajurit dalam sekejap Lain halnya dengan perasaan yang berkecamuk di hati Para Pandawa. Bagi mereka Prabu Durpada dan Gandamana adalah dua orang Pepunden yang pantas di hormati. Maka jika karena janji baktinya kepada Bapa Guru Durna harus menghadapi Gandamana dan Prabu Durpada, ada perang batin yang tidak mudah untuk diselesaikannya

“Demi dendam itulah aku mengumpulkan kalian semua, untuk meminta tanda baktimu, seperti yang pernah engkau nyatakan pada saat kalian akan menjadi muridku, sekaligus sebagai pendadaran atas ilmu yang telah aku ajarkan. Jika hal ini dianggap sebagai perintah, maka tidak ada pilihan bagi kalian selain melaksanakan perintahku. Maka perintahku adalah: Besok lusa pada hari Respati Manis, sebelum matahari tenggelam, aku menginginkan Durpada dan Gandamana sampai di depanku dalam keadaan terikat.”

Perintah Pandita Durna dapat diartikan bahwa para murid yang berhasil merangket Durpada dan Gandamana, adalah para murid yang lolos pendadaran. Keberhasilannya akan menempatkan mereka pada jenjang selanjutnya dan mendapatkan ilmu-ilmu yang lebih tinggi tatarannya. Tentunnya bagi mereka yang berhasil, mendapat perhatian khusus di hati Pandita Durna, lebih dari pada para murid yang tidak berhasil. Oleh karenanya walaupun para Kurawa tergetar hatinya mendengar nama Gandamana, mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapat pujian sang guru, maka Para Kurawa mendahului para Pandawa berangkat ke Cempalaradya.

Sebentar kemudian pendapa induk Padepokan Soka Lima menjadi sepi, Durna tersenyum tipis memandangi murid-muridnya yang bergegas meninggalkan pendapa, untuk mengemban tugas berat merangket Durpada dan Gandamana.

“Aswatama jangan pergi jauh-jauh dariku, karena sebentar lagi engkau akan menyaksikan peristiwa yang telah lama kita tunggu, pembalasanku kepada Sucitra dan Gandamana“

Keberanian para Kurawa yang kemudian muncul tidak terlepas dari ambisinya untuk selalu ingin berada di atas mengungguli para Pandawa. Peran Sengkuni sangat menentukan dalam mengobarkan kesombongan Duryudana dan Dursasana. Maka tidaklah heran, ketika para Kurawa dengan senjata lengkap sampai di pintu gerbang kotaraja Cempalaradya, Dursasana berteriak-teriak menantang Durpada.

“Hei! Raja penakut, Durpada! Jangan bersembunyi di balik tembok tebal, jangan berlindung di balik dada para prajurit, Jangan keenakan tidur bersama selir-selirmu keluarlah hadapi Dursasana dan Para Kurawa. Jika sampai tengah hari tidak mau keluar keraton akan saya bumihanguskan.”

Mendengar tantangan Dursasana, kepala prajurit jaga tidak dengan serta merta terpancing. Ia cukup waspada dan berhati-hati menghadapi para kurawa, sebatas tidak merusak dan menerobos masuk keraton.

Karena tidak ada tanggapan, Dursasana, Duryudana dan saudara-saudaranya ingin menerobos prajurit jaga yang menyilangkan tombaknya di depan pintu gapura. Melihat gelagat yang membahayakan, kepala prajurit jaga menyerukan perintah.

“Tahan mereka! Jangan sampai masuk sitihinggil!”

Dursasana memandang remeh prajurit rucah yang menghadang di pintu gerbang. Sambil berteriak-teriak mata pedangnya menyambar-nyambar, bak elang mencari mangsa. Sementara itu Duryudana dengan gadanya berusaha menghancurkan setiap musuh yang menghadang di depannya.
Kidung Malam 19
Menyerah Tanpa Perang


Bentrokan antara dua kelompok bersenjata akhirnya terjadi. Dursasana dan Duryudana sangat bernafsu untuk segera menghabisi para prajurit jaga yang menghadang di depan pintu gapura. Namun niatnya tidak segera kesampaian. Walaupun secara perorangan kemampuan para prajurit berada jauh dibawah murid-murid Sokalima, mereka adalah prajurit terlatih yang berani mati. Dapat bekerja sama dengan kompak dan disiplin, mampu saling menutupi celah-celah kelemahannya. Sehingga mereka bagaikan tembok tebal yang tidak mudah untuk ditembus.

Ketika belum ada satupun senjata yang menggores, tiba-tiba berkelebatlah bayangan yang mengacaukan para murid Sokalima. Bentrokan berhenti seketika. Semua mata memandang sesorang yang berdiri tegak diantara para prajurit jaga.

“Gandamana!”

Ucap para Kurawa hampir bersamaan.

“Benar aku Gandamana Beteng Negara Pancalaradya. Barang siapa ingin menerobos masuk ke dalam cepuri keraton dengan niatan buruk, terlebih dahulu harus mampu merobohkan aku.”

Rupanya Gandamana mau bertindak cepat untuk mengusir para Kurawa agar tidak membuat kerusakan dan ketidak tentraman di depan pintu gapura kraton, yang merupakan pintu utama bagi keluar masuknya para tamu, sahabat, kerabat raja dan kawula Pancalaradya. Maka segera di bangunlah sebuah mantra ajian Bandung Bandawasa. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari kedua telapak tangan Gandamana. Ke mana tangan digerakan, angin prahara menyapu dengan tenaga berlipat ganda, sebanding dengan tenaga seribu gajah.

Para Kurawa kesulitan untuk mendekat, apalagi untuk balas menyerang. Duryudana dan Dursasana orang yang dianggap mempunyai kelebihan dibanding dengan para Kurawa yang lain, tidak mampu membendung amukan Gandamana. Bahkan sebelum keringat mereka jatuh ke tanah, Duryudana dan Dursasana telah meninggalkan halaman pintu gerbang diikuti oleh para Kurawa dengan menyisakan debu dan umpatan kotor.

Gandamanan menghela napas lega, Pancalaradya terhindar dari bahaya. Ia tidak gentar jika para Kurawa akan datang kembali dengan membawa kekuatan yang jauh lebih besar.

Belum beranjak dari tempat ia berdiri, Pandawa Lima datang menghampiri Gandamana untuk menyembah. Menerima sembahnya Puntadewa, Bimasena, Arjuna, Nakula dan Sadewa, Gandamana melepaskan keperkasaan yang ditunjukkan sewaktu mengetrapkan aji Bandung Bandawasa.

“Ngger, cucu-cucuku Pandawa, berdirilah dan katakan apa yang kau inginkan atas diriku.”

“Eyang Gandamana sungguh berat dan tidak mungkin kami haturkan maksud kedatangan kami, tentunya Eyang Gandamana dapat membaca apa yang berkecamuk di dalam hati kami.”

Sebagai orang yang berpengalaman, Gandamana dapat membaca bahwa kedatangan para Pandawa yang adalah murid-murid Soka Lima, tentunya mempunyai tujuan yang sama dengan Kurawa. Artinya bahwa Gandamana harus menghadapi Pandawa seperti ketika ia menghadapi Kurawa.

Apakah kejadian ini merupakan gambaran nyata dari mimpiku? Ketika aku bermimpi, Prabu Pandu datang untuk menjajagi kesetiaanku dan mengajakku ke medan perang sendirian. Tetapi Gandamana tidak sampai hati berperang melawan Pandawa, apalagi sampai melukainya? Mengingat mereka adalah anak-anak Prabu Pandu Dewanata, raja yang dijunjung tinggi, dihormati, dicintai dan dirindukan. Sehingga kedatangan para Pandawa tidak dipandang sebagai musuh seperti Kurawa, namun justru menjadi pelepas rindunya kepada Prabu Pandu yang telah tiada. Dengan mata berkaca-kaca, dipandangnya Puntadewa, Bimasena, Harjuna, Nakula dan Sadewa bergantian.

“Siapa yang mewakili kalian untuk melaksanakan perintah gurumu Resi Durna?”

“Aku Eyang!” Bimasena menyahut mantap.

“Bagus! Majulah, ikat kedua tanganku dan bawalah kepada Resi Durna.”

“Tunggu Raden Gandamana! Sebagai kepala prajurit jaga, kami tidak mebiarkan Bimasena menawan Raden tanpa perlawanan. Jika Raden tidak mau berperang kepada Pandawa, biarlah kami yang akan berperang sampai kami tidak mampu lagi berperang demi menjaga Negara Pancalaradya, Prabu Durpada dan juga Raden Gandamana.”

Gandamana tertawa. Ia membenarkan apa yang dikatakan Kepala Prajurit Jaga. Jika ia menyerah tanpa syarat, bukankah artinya ia telah mengingkari sumpahnya sebagai panglima perang tertinggi dibawah raja, dan membiarkan Prabu Durpada dengan mudah dijadikan tawanan.

“Terimakasih Kepala Prajurit, engkau telah mengingatkan aku yang lemah ini. Bimasena ayo majulah ikatlah kedua tanganku ini.”

Sembari mengulurkan kedua tangannya, diam-diam Gandamana mengetrapkan mantra aji Wungkal Bener. Ajian tersebut merupakan salah satu kesaktian Gandamana yang istimewa. Karena aji Wungkal Bener seakan-akan mempunyai mata hati, ia akan memilih untuk menghancurkan lawan yang bersalah, sedangkan lawan yang benar akan luput dari aji Wungkal Bener. Karena alasan tersebut Gandamana sengaja mengetrapkan aji Wungkal Bener karena percaya bahwa Pandawa berada dalam kebenaran, sehingga tidak terluka karenanya.

Bima waspada, melihat ke dua tangan Gandamana yang dijulurkan untuk diikat mengeluarkan asap putih. Eyang Gandamana telah mengetrapkan ajian sakti. Maka Bimasena pun tidak mau membuang waktu, ia segera mempersiapkan diri menghadapi Gandamana Namun sebelum bentrokan terjadi, Prabu Durpada yang tiba-tiba berada di tempat itu telah mencegahnya.

Seperti Gandamana, Prabu Durpada merasakan hal yang sama saat bertemu dengan Pandawa Lima. Gambaran sosok Pandu yang luhur budi muncul dari ingatannya. Ia telah membantunya memenangkan sayembara. di Pancalaradya dengan mengalahkan Gandamana sehingga mendapatkan Gandawati, anak Prabu Gandabayu Raja Pancalaradya. Setelah Gandabayu surud, Sucitra menggantikan mertuanya menjadi raja dengan gelar Prabu Durpada. Sedangkan Gandamana diangkat Pandudewanata menjadi patihnya di Hastinapura. Maka sebagai upaya balas budi kepada Pandu Dewanata yang sudah meninggal, mikul dhuwur memdhem jero, Prabu Durpada dan Gandamana sepakat menyerahkan diri kepada Bimasena tanpa perlawanan, untuk di bawa menghadap Resi Durna sebagai tawanan.
Kidung Malam 20
Dua Sahabat


Mata Bimasena berkaca-kaca, orang nomor dua dari lima bersaudara yang biasanya keras, tegar itu luluh oleh sikap Prabu Durpada dan Gandamana yang telah merelakan dirinya dan negaranya demi tugas ksatria yang diemban oleh Bima dan saudaranya sebagai pemenuhan janji baktinya kepada sang guru Pandita Durna. Sebelum meninggalkan Pancalaradya, Gandamana berpesan kepada kepala prajurit jaga agar mengamankan negara sebelum kekuasaan diambil alih oleh Pandita Durna yang telah menaklukannya melalui Bimasena, Harjunan dan saudara-saudaranya.

Sementara itu di Padepokan Sokalima, Resi Durna kecewa menyambut kedatangan Duryudana, Dursasana serta saudara-saudaranya. Tidak sesuai dengan sesumbarnya bahwa mereka akan dengan mudah menundukkan Durpada dan Gandamana serta membawanya sebagai tawanan dihadapannya. Namun pada kenyataannya mereka kembali di Sokalima tanpa membawa hasil. Beberapa alasan kegagalan dikemukakan oleh Patih Sengkuni yang sejak semula mengiring para Kurawa. Namun Resi Durna enggan menanggapinya, bahkan sebelum Sengkuni selesai berbicara, ia meninggalkan pendapa induk dan masuk di sanggar pamujan.

Di ruang pemujaan Durna didampingi Aswatama, melakukan SembahHyang dengan membakar dupa-ratus sehingga asapnya dapat membawa permohonannya kepada Hyang Maha Tunggal agar tugas baktinya para Pandhawa membawa Gandamana dan Durpada di Soka Lima berhasil.

Ujung malam yang masih tersisa merupakan kidung-kidung pengharapan menyongsong hari baru yang mampu menyembuhkan sakit hatinya, dan kuasa menghancurkan dendamnya yang telah mengkristal selama bertahun-tahun, kepada sahabatnya, Sucitra.

Saatnya pun tiba, waktu akhirnya berpihak pada Resi Durna. Sebelum matahari bertahta dipuncak langit, Bimasena dan para Pandhawa tiba di Sokalima, dengan membawa tawanan yang diimpi-impikan. Sebentar kemudian orang banyak yang mengikuti iring-iringan telah berkumpul di halaman pendapa.membaur dengan para Cantrik Padepokan dan para Kurawa. Gejolak perasaan Durna gembira luar biasa, melihat kedatangan para murid kepercayaan yang membawa serta Gandamana dan Durpada dalam keadaan terikat. Jika tidak menyadari bahwa dirinya seorang guru besar yang dikelilingi para cantrik-cantriknya, pandita Durna akan melepaskan emosinya dengan meloncat-loncat kegirangan. Namun karena ia menyadari kedudukkannya, maka ia dapat mengendalikan diri. Dengan kata-kata yang arif penuh persahabatan, disuruhnya Bimasena untuk melepaskan tali yang mengikat Prabu Durpada dan Gandamana serta mempersilakan duduk di kursi yang telah disediakan.

Walaupun gejolak perasaannya telah dikendalikan, dendamnya meledak pula, melihat wajah Gandamana yang telah menyiksa dirinya sehingga menderita cacad seumur hidup. Durna membuang emosinya lewat puluhan kali tamparan tangannya ke muka Gandamana, sembari mulutnya mengumpat-umpat sepuasnya. Gandamana diam dalam duduknya. Sesungguhnya hatinya menyesal telah mencelakai Resi Durnya yang ternyata adalah sahabatnya Prabu Durpada. Maka sebagai tebusannya ia membiarkan Resi Durna menyakiti sepuasnya.

Setelah puas menghajar Gandamana, Resi Durna duduk di kursi berhadapan sangat dekat dengan Prabu Durpada.

“Sucitra sahabatku, aku tidak menginginkan persahabatan kita terputus. Maka aku cari engkau di tanah Jawa Namun setelah ketemu engkau yang sudah menjadi raja malu menerimaku sebagai sahabat, karena penampilanku yang miskin dan sudra. Bahkan engkau membiarkan aku di hajar oleh Gandamana. Yah itu masa lalu, yang pasti peristiwa itu masih kita ingat. Peristiwa yang sangat menyakitkan dan menghancurkan hidupku. Tetapi rupanya Hyang Maha Tunggal masih mengasihi aku. Terbukti aku diberi kesempatan hidup dan bangkit menyongsong masa depan yang ternyata lebih indah dan cerah dari pada yang aku banyangkan sebelumnya. Coba lihatlah sekarang aku dapat duduk sejajar dengan raja agung Pancalaradya. Bahkan aku lebih berkuasa, karena engkau sudah aku taklukkan, negara seisinya dan daerah kekuasaanmu menjadi milikku. Namun sebagai sahabat aku akan memenuhi apa yang kau inginkan. Katakanlah Prabu Durpada?”

Dapat dibayangkan, perasaan Durpada saat itu. Sebagai raja besar ia telah direndahkan martabatnya di depan banyak orang. Namun jiwa ksatrianya masih kental di hatinya, maka dengan tak kalah lantang ia menjawab

“Hai Durna! Aku telah kau taklukkan. Negara dan seisinya serta daerah jajahannya menjadi milikmu, termasuk diriku berada dalam kekuasaanmu. Sesuai dengan keadaanku, sebagai seorang taklukan aku tidak akan pernah merengek meminta sesuatu. Apapun yang akan kau perbuat atasku aku terima dengan jiwa ksatria.”

“Ha ha ha, engkau mengakui bahwa aku dapat berbuat apapun atasmu? Termasuk juga mengampuni dan membebaskanmu, jika engkau minta?”

“Sekali lagi Durna, apapun yang kau kehendaki atasku, aku tidak peduli!”

“Baiklah Sang Prabu! aku ingin menunjukkan kepada orang-orang yang menjadi saksi di pendapa ini, bahwa Durna tidak ingin menguasai dan merusak Negara Cempalaradya yang telah kau bangun dengan kebaikan. Seperti halnya Padepokan Sokalima yang telah aku bangun dengan susah payah. Walaupu semula bumi Sokalima termasuk wilayah Cempalaradya, ketika masih berupa hutan sudah aku beli dengan mahal, dengan darah dan dengan sebagian besar dari semangat hidupku. Oleh karenanya bumi Sokalima sekarang menjadi kekuasaanku, engkau tidak boleh menguasainya.”

Durna mendekati Durpada, kedua pasang mata dua orang sahabat itu beradu pandang. Di bola mata sahabatnya, mereka dapat saling melihat kehidupan masa lalu, waktu masih remaja di Hargajembangan. Di bawah asuhan Prabu Baratwaja Sucitra dan Kumbayana disatukan menjadi saudara. Namun sayang gambaran masa remaja yang indah tersebut tidak berlangsung lama, karena bola mata mereka keburu basah oleh air mata sehingga pandangan mereka menjadi kabur.

“Sucitra!”

“Kakang Kumbayana!”

Keduanya berangkulan sangat erat. Ketegangan yang memenuhi tempat itu berubah menjadi keharuan. Para Cantrik dan para murid Sokalima mendapat pelajaran yang sangat berharga, bahwa seorang Raja Agung dan seorang Maha Guru adalah tetap merupakan manusia yang lemah, tak berdaya, setiap waktu dapat jatuh karena sebuah kesalahan. Salah memahami misteri kehidupan yang menjadi kehendakNya.
ijin menyimak mas emoticon-shakehand
sangat bagus sekali
Quote:


silakan gan tolong kalo punya koleksi ikut post dsini ye..
Aji Narantaka


Di Negara Astina Prabu Duryudana, Patih Harya Sangkuni dan kerabat kerajaan Astina sedang membicarakan perihal berdiamnya keluarga Pandawa di Tegal Kuru Setra, ini menunjukan bahwa negara Astina segera ingin dikuasai lagi pihak Pandawa.

Untuk mengembalikan Negara Astina kepihak Pandawa, Prabu Duryudana merasa sayang dan tidak rela, untuk itu segala daya upaya dicari untuk membinasakan keluarga Pandawa agar tidak selalu mengusik-usik negara Astina yang memang menjadi haknya.

Begawan Dorna lalu mengusulkan agar Dursala muridnya dapat diberi tugas tersebut. Tetapi sebelum Dursala pergi ke Tegal Kuru Setra untuk membinasakan pihak Pandawa, Dursala harus tanding lebih dahulu dengan Prabu Baladewa, sebab Prabu Baladewa menyangsikan kemampuan dan kesaktian R.Dursala.

Setelah perang tanding dengan Prabu Baladewa, maka dengan diiringi bala tentara Kurawa berangkatlah R.Dursala ke Tegal Kuru Setra.

Kedatangan R.Dursala di Tegal Kuru Setra menjadikan keributan dan perkelahian, namun para putra Pandawa dan Pandawa tak satupun mampu menandingi kesaktian R.Dursala. Dengan Aji Gineng pemberian gurunya (Pisaca ), R.Dursala mengalahkan semua kerabat Pandawa.

Kemampuan Aji Gineng bila digunakan dan mengenai seseorang, maka orang yang terkena aji Gineng akan hancur lebur, dan R,Gatotkaca terkena aji Gineng tidak mampu menahanya dan gemetar tubuhnya.

Dengan sisa-sisa tenaganya R.Gatotkaca melarikan diri untuk menghadap Resi Seta. Oleh Resi Seta, R.Gatotkaca diberi Aji Narantaka untuk menandingi Aji Gineng milik R.Dursala. Setelah mendapatkan kesaktian dan aji Narantaka, R.Gatotkaca kembali menemui Dursala.

Melihat kedatangan R.Gatokaca, Dursala lalu menghantamnya dengan aji Gineng namun dapat ditangkis dengan aji Narantaka milik Gatotkaca. Benturan Aji Gineng milik R.Dursala dan Aji Narantaka milik R.Gatotkaca menimbulkan suara yang dahsyat. Akhirnya Aji Gineng tidak dapat mengalahkan Aji Narantaka milik Gatotkaca, akibatnya tubuh R.Dursala hancur lebur terkena hantaman Aji Narantaka. Dengan kematian R.Dursala, bala tentara Kurawa kucar-kacir dan melarikan diri kembali ke negara Astina untuk memberi kabar kematian R.Dursala.

Gatotkaca dengan memiliki Aji Narantaka, sesumbar barang siapa wanita yang mampu menahan Aji Narantaka miliknya, ia akan diperistri. Ternyata Dewi Sampani mampu menahan Aji Narantaka miliknya, maka diperistrilah Dewi Sampani dan berputra Jaya Sumpena.
Kidung Malam 21
Dendam Baru Telah Tumbuh


Lama kedua sahabat itu berpelukan, rasa sesal Sucitra semakin dalam masuk di hatinya. Mengapa ia menempatkan jabatan berada jauh di atas sebuah perasahabatan. Baru sekarang ia menyadari dan merasakan bahwa ketulusan persahabatan lebih indah dan mulia dibandingkan dengan sebuah jabatan. Sedangkan bagi Kumbayana, ada perasaan kecewa yang amat membekas, mengapa waktu menemui Sucitra yang sudah menjadi raja, ia memperlakukannya sebagai sahabat lama. Padahal sebagai anak raja, ia tahu bagaimana subasitanya menghadap raja yang sedang bertahta.

“Kakang Kumbayana engkau pasti tidak dapat menggambarkan seberapa besar dan dalam rasa sesalku. Karena jika pun aku harus memohon ribuan maaf, badanmu tidak dapat pulih. Engkau tetap menderita seumur hidup. Jika karena pertemuan ini, aku sebagai tawanan telah engkau bebaskan dan negara seisinya engkau kembalikan kepadaku, sesal itu akan semakin menindih sepanjang hidupku. Jika semula aku tidak mengajukan permintaan apapun, memang aku berharap engkau akan menguasai negara Pancalaradya beserta isinya yang telah kau taklukan dan kemudian menyingkirkan atau membunuh aku dan Gandamana. Hanya dengan cara itulah aku telah membayar lunas hutangku.”

“Sucitra, apakah kamu sudah tidak lagi mengenalku? Pernahkah muncul di dalam benakku ambisi untuk berkuasa? Bukankah engkau tahu kedatanganku ke tanah Jawa ini karena menolak jabatan raja di Negara Hargajembangan yang diberikan ayahanda Prabu Baratwaja? Apakah engkau juga pernah melihat aku haus darah, membunuh saudara ataupun sahabat?

“Kakang Kumbayana, dalam perjalanan hidup setiap orang akan berubah. Bukankah engkau telah merasakan perubahan pada diriku? Demikian pula yang aku rasakan bahwa kaupun telah berubah. Kita telah berubah! Kita bukan lagi sahabat. Pertemuan kita kali ini untuk menagih dan membayar hutang.”

Nada bicara Durpada meninggi. Rasa sakit hati atas perlakuan Durna di depan orang banyak telah menyingkirkan kembali rasa persahabatan yang sempat hinggap sejenak di hati.

“Baiklah! Bayarlah hutangmu dengan Bumi Sokalima.”

“Drona! Bumi Sokalima tidak akan ku berikan. Kecuali jika engkau membunuh aku dan Gandamana dan kemudian menguasai Negara Pancalaradaya.

“Engkau ini aneh Durpada, sebagai raja yang kalah perang engkau rela menyerahkan Negara Cempalaradya beserta isinya, tetapi tidak mau menyerahkan Bumi Sokalima yang merupakan bagian kecil dari Negara Pancalaradya”

“Engkau pun aneh Durna, jika engkau mau menerima Negara Cempalaradya, bukankah Bumi Sokalima menjadi milikmu?”

“Sucitra aku tidak ingin berbantahan dan bersengketa denganmu di hadapan para cantrik dan murid-muridku karena engkau adalah sahabatku. Cukup dengan merelakan Bumi Sokalima, hutangmu aku anggap lunas, dan diantara kita tidak ada masalah lagi.

“Durna! apakah kau kira aku tidak tahu kedengkian yang berada di balik jalan pikiranmu. Karena sesungguhnya engkau akan lebih berkuasa dengan mengembalikan Negara Pancalaradya kepadaku. Demikian pula ketika kami kau biarkan hidup, orang akan menilaimu sebagai seorang Guru yang penuh belas kasih. Dan itu semuanya akan semakin dikuatkan dengan keberadaanmu di Bumi Sokalima sebagai maha guru yang mempunyai pengaruh tak terbatas. Oo Durna, Durna…”

Durna tidak lagi mempedulikan omongan Durpada, Guru besar Sokalima tersebut melangkah meninggalkan Pendapa sembari memberi isyarat kepada Bimasena untuk mengantar kembali Durpada dan Gandamana ke Negara Pancalaradya.

Napas Sucitra mulai tidak teratur, ada gejolak emosi yang sengaja diredam. Pertemuannya dengan Kumbayana selain membawa pikiran dan perasaannya mengembara ke masa lalu sebagai sahabat, tetapi juga menyadarkan bahwa mereka sekarang bukan lagi sahabat. Mereka adalah dua orang musuh yang seorang menagih hutang, sedangkan yang lain membayar hutang. Sucitra ingin membayarnya lunas hutangnya, Sedangkan Kumbayana belum mau menerima pelunasan. Ia ingin mempermainkan Sucitra sepuas-puasnya dihadapan murid-muridnya.

“Baik Durna!“ Jika sekarang engkau tidak membunuhku dan Gandamana, jangan menyesal jika suatu hari nanti akulah yang akan membunuhmu!”

Pada saat kemarahannya merambat sampai ke ubun-ubun, Puntadewa, Bimasena dan Harjuna menghampirinya dengan penuh hormat. Keuali Bimasena, mereka menyembah Prabu Durpada dan Gandamana sembari bersimpuh di hadapannya. Gejolak amarah yang memuncak berangsur turun. Mereka sungkan untuk mengumbar amarahnya di hadapan anak-anak Pandudewanata.

Sepeninggal Pandita Durna ke ruang dalam, suasana menjadi lengang, para murid dan penduduk Sokalima berangsur-angsur meninggalkan halaman pendapa induk padepokan. Prabu Durpada dan Raden Gandamana tidak menolak ketika dibimbing Puntadewa dan Harjuna serta Bimasena untuk meninggalkan pendapa padepokan menuju gledhekan (jalan besar di depan pendapa induk). Dua ekor kuda tunggangan telah disiapkan bagi kedua orang pepundhen tersebut. Dengan senyum keramahan beberapa orang cantrik mempersilakan Prabu Durpada dan Gandamana naik ke punggung kuda. Sebelum masing-masing memacu kudanya, mereka menoleh ke arah anak-anak Pandudewanata dengan tatapan mata yang sulit diterjemahkan. Mungkin Durpada dan Gandamana bangga mempunyai cucu-cucu seperti para Pandawa. Mungkin juga orang nomor satu dan nomor dua dari Pancalaradya tersebut menganggap para Pandawalah yang menjadi penyebab Durna dapat mempermainkan mereka seenaknya di depan umum. Tetapi mungkin juga Raja dan Patih Pancalaradya tersebut mengucapkan terimakasih, karena atas jasa cucu-cucu Pandawa mereka telah terbebas dari belenggu rantai karma.. Tetapi yang pasti, di dalam hati Prabu Durpada telah tumbuh dendam baru dan tentunya dendam itu akan dihidupi di dalam hidupnya.

Suara keteprak kaki kuda yang membawa Durpada dan Gandamana meninggalkan luka di tanah. Luka itu semakin panjang, sepanjang perjalanan hidup Prabu Durpada dan Gandamana.
Kidung Malam 22
Lahirnya "Anak-Anak Pujan"


Dengan hadirnya dua bayi tersebut, maka anak Prabu Durpada menjadi tiga, karena sebelumnya sang Permaisuri Dewi Gandawati telah mempunyai satu anak yang bernama Dewi Durpadi.

Diceritakan kembali para Kurawa dan Pandhawa yang telah menuntaskan pelajaraannya di Sokalima semakin jarang datang menghadap Pandhita Durna. Sesungguhnya sang guru sendiri menginginkan agar murid-muridnya tidak henti-hentinya belajar mengembangkan ilmu-ilmu yang telah diajarkan. Karena tanpa usaha untuk memperdalam dan mengembangkan secara pribadi, ilmu-ilmu yang telah tuntas diterima tersebut akan berhenti sebagai ilmu tanpa menghasilkan buah seperti yang diharapkan.

Diantara para murid Sokalima, dua diantaranya sangat menonjol. Baik dalam hal penguasaan terhadap ilmu yang diajarkan maupun dalam hal sikap bakti dan kesetiaan seorang murid kepada guru. Bagi Durna, dua murid yang adalah Bima dan Harjuna tersebut, sudah cukup untuk mengobati kekecewaan Durna terhadap murid-murid yang lain. Ia sangat bangga kepada Bima dan Harjuna. Jika murid lain menganggap Durna pilih kasih maka Durna selalu mengatakan: “Salahkan aku, sebagai guru menaruh perhatian khusus kepada murid-murid berprestasi? Dosakah aku, sebagai seorang guru mencintai murid-murid yang patuh berbakti, dan setia menjunjung tinggi nama sang guru? Jika kalian ingin mendapat perhatian dan rasa cintaku seperti yang aku berikan kepada Bimasena dan Harjuna, berusahalah patuh, setia dan berprestasi seperti mereka.”

Durna memang selalu memberi ukuran yang sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan setiap pribadi murid-muridnya. Sehingga masing-masing murid menjadi berbeda-beda dalam menerima perhatian dari Guru Durna. Cara tersebut sengaja dilakukan Durna untuk dapat mengenali murid-muridnya satu-persatu secara khusus. Dari apa yang ditangkap secara lahir dan dirasakan secara batin, Durna tahu bahwa murid-muridnya terpecah menjadi dua kekuatan yang saling berhadapan dan bermusuhan. Satu dipihak Kurawa dan yang lain dipihak Pandhawa. Dari kejadian-kejadian yang disaksikan Selama bertahun-tahun, Durna mendapat firasat bahwasannya, sesama darah Barata ini kelak akan terjadi perang dahsyat. Oleh karennya Sang mahaguru Durna akan menempatkan perhatian dan kasihnya sesuai dengan yang dibutuhkan murid-muridnya.

Sehubungan dengan hal yang sangat penting dan rahasia tersebut, pada menjelang tabuh 11 malam, Durna memanggil Harjuna murid kesayangannya untuk datang menghadap di Sokalima.
Kidung Malam 23
Mewariskan Pusaka


Menjelang tengah malam, Harjuna memasuki halaman padepokan Sokalima. Temaramnya cahaya lampu minyak menyambut wajah halus nan tampan di pintu gerbang padepokan. Wajah tersebut sudah sangat dikenal oleh para cantrik yang jaga, sehingga dengan serta-merta mereka menyambutnya dengan penuh hormat, dan mengantarnya sampai di depan pintu, tempat sang guru menanti.

Sang Guru Durna sudah cukup lama duduk bersila di ruang dalam menghadap meja dengan lampu minyak yang diletakkan di tengah-tengahnya. Di meja pendek itulah Guru Durna meletakan pusaka andalan yang berujud busur panah pemberian Batara Indra, namanya Gandewa. Kedahsyatan pusaka ini adalah, jika busur tersebut ditarik di medan perang, akan mengeluarkan anak panah dengan jumlah tak terbatas, dapat mencapai ratusan ribu, tergantung dari pemakainya. Sesungguhnya busur ini akan diwariskan kepada Aswatama, anak laki-laki satu-satunya. Namun rupanya sang guru Durna tidak cukup puas dengan kemampuan Aswatama. Dibandingkan dengan murid-murid yang lain, Aswatama tidak memiliki keistimewaan, sehingga jika pusaka Gandewa dipercayakan kepada Aswatama, ia akan mengalami kesulitan untuk menggunakannya, apalagi jika harus menarik busur Gandewa di medan perang.

Dengan mempertimbangkan kemampuan yang ada, terlebih pada penguasaan berolah senjata panah, maka Harjunalah yang mempunyai kemampuan memanah jauh meninggalkan murid-murid yang lain. Maka tidak dapat disalahkan jika Harjuna lebih diistimewakan dibanding murid-murid yang lain, termasuk juga Aswatama, karena Harjuna memang istimewa.

Suara gemerit menandakan pintu ruang tengah dibuka.

“Saya datang menghadap di tengah malam ini bapa guru, maafkan saya”

“Masuklah Harjuna, aku telah lama menunggumu.”

Dengan langkah hati-hati Harjuna memasuki ruangan, menyembah, untuk kemudian laku dhodhok dan duduk menunduk di hadapan sang guru Durna. Mata Harjuna menatap sebuah busur yang pernah diperlihatkan kepadanya. Ada getar yang kuat di hati Harjuna melihat busur Gandewa yang sengaja diletakan dan disiapkan di meja. Sebagai murid yang lantip dan cerdas Harjuna dapat membaca bahwa ada hubungannya antara pemanggilan dirinya dengan pusaka Gandewa.

Suasana menjadi hening dan khidmat ketika Durna mengawali pembicaraan yang wigati dan serius.

“Harjuna murid yang aku kasihi, engkau tahu pusaka ini adalah pemberian Batara Indra pemimpin para Dewa. Diberikan padaku karena ketekunanku menjalani laku belajar ilmu memanah, baik secara lahir dan juga secara batin. Sehingga bagiku busur Gandewa ini merupakan tanda puncak prestasiku dalam hal ilmu memanah.

Namun sekarang aku tidak muda lagi, apalagi fisikku cacat sehingga tidak mungkin berprestasi seperti dulu lagi. Oleh karenanya, busur Gandewa ini sebaiknya aku wariskan kepada murid yang dapat mencecap ilmu memanahku dengan tuntas.

Pada mulanya aku memang berharap banyak kepada anakku Aswatama, namun dengan jujur aku mengakui bahwa ia tidak mampu mewarisi pusaka dahsyat ini, dikarenakan ilmu memanahnya tidak sempurna. Harjuna tentunya engkau dapat membaca arah pembicaraanku ini. namun pasti engkau tidak akan pernah menduga rencanaku atas pusaka ini.”

“Ampun Bapa Guru, saya tidak akan pernah mengungkapkan isi hatiku, sebelum Bapa Guru mengatakan kepadaku. Karena sesungguhnya, bapa guru dapat membaca isi hatiku.”

“He he he, Harjuna engkau memang murid yang selalu bisa membuat aku bangga. Kepatuhan, ketekunan, kemampuan dan kesetiaan yang telah engkau baktikan kepadaku selama ini adalah dasar pertimbanganku untuk memberikan semua ilmu yang ada padaku, khususnya ilmu memanah. Sehingga dengan demikian kemampuan memanah yang telah engkau kuasai sejajar dengan dengan kemampuanku. Jika aku lebih unggul dalam pengalaman, engkaupun lebih unggul dalam hal tenaga.

Harjuna bocah bagus, seorang guru sejati akan sangat berbahagia jika dapat menghasilkan murid yang mempunyai kemampuan melebihi gurunya. Maka untuk itulah aku memanggilmu secara khusus di tengah malam ini untuk menyempurnakan ilmu memanah yang telah aku ajarkan padamu.”

Tangan Durna yang mulai menampakan keriputnya tersebut bergetar, dengan perlahan dan hati-hati ia mengambil pusaka Gandewa.

“Terimalah pusaka ini, Harjuna”

“Bapa Guru”

“Seperti ketika aku menerima pusaka ini dari Batara Indra, demikian pula aku memberikan pusaka ini kepadamu sebagai tanda penghargaan atas prestasimu dalam ilmu memanah.”

“Adhuh Bapa Guru, apakah aku cukup pantas menerima penghargaan yang demikian tinggi? Tidakkah Aswatama yang lebih berhak menerima warisan pusaka dari Bapa Guru Durna?”

“Harjuna, purbawasesa ada padaku, aku masih percaya bahwa engkau tidak akan pernah mencoba untuk tidak taat kepada perintahku.”

“Ampun bapa guru Durna, dengan penuh rasa bakti dan hormat pusaka Gandewa aku terima. terimakasih bapa guru atas penghargaan ini.”

Dengan perlahan tangan Harjuna dijulurkan menerima pusaka Gandewa.

Di sisi gelap, jauh dari jangkauan cahaya lampu minyak, ada sepasang mata yang sejak awal memperhatikan dialog antara guru dan murid tersebut. Pada saat pusaka Gandewa telah berpindah ke tangan Harjuna, dari ke dua sudut mata tersebut menyembul airmata bening berkilau. Walau hanya beberapa tetes, namun telah mampu membasahi ke dua pipinya.
Adipati Karna


Beberapa jam sebelum sebelum pagi, sebelum gelombang pertempuran meledak lagi di Kurusetra, Karna tepekur sendirian di dalam kemahnya. Istrinya tidur pulas di peraduan. Karna tahu, hidupnya tak lama lagi. Karena itu, ia menulis sepucuk surat kepada Surtikanti istrinya.

“Peramal menujum aku akan tewas dalam perang ini. Tapi jangan dengarkan mereka, Surtikanti. Dengarkanlah aku. Nasib mungkin memihak musuh. Tapi aku akan menghadapi mereka - juga bila harus melalui mati.

“Mati, saat ini, rasanya bukan lagi soalku, Istriku. Mungkin karena alasan perangku lebih besar ketimbang hidup. Atau setidaknya alasan itu adalah alasan kehidupan sendiri: aku berperang untuk mengukuhkan siapa aku. Di pagi nanti, Karna tewas atau Karna menang, keduanya akan menentukan siapa dia. Sebab, siapa sebenarnya aku, Surtikanti, selama ini, selain seorang yang tak jelas kastanya, tak jelas asal-usul, tak jelas kaumnya?

“Jangan kau sedih. Aku memang mengulang kegetiranku. Di dunia kita yang telah dinubuat ini, Istriku, seseorang hanya mendapatkan dirinya tak jauh dari pintunya berangkat. Betapa menyesakkan! Sebab itu, Istriku, aku harus membuktikan bahwa seseorang ada, seseorang menjadi, karena tindakannya, karena pilihannya - bukan karena ia telah selesai dirumuskan.

Seorang resi pernah berkata: pada mulanya adalah Sabda, dan Sabda menjadi Kodrat. Bagiku, pada mulanya adalah perbuatan. Dari perbuatan lahir pengetahuan, dan dengan pengetahuan itu aku bisa merumuskan diriku. Bagiku, Surtikanti, Kodrat adalah sesuatu yang tidak ada; dewa-dewa tak pernah menyabdakannya. Telah kuduga itu ketika namaku masih Si Radheya. Dulu.

“Kini bisa kuceritakan kepadamu apa yang terjadi pada Si Radheya, ketika ia berumur 16 tahun: hari itu ia tahu bahwa ibunya bukanlah ibunya yang sebenarnya, dan bapaknya — seorang sais — bukanlah bapaknya yang sebenarnya. Ia anak pungut, Surtikanti.

Ada yang menduga, seorang putri bangsawan tinggi melahirkan bayi yang tak dikehendaki dan membuangnya ke air. Dan itulah aku. Aku menangis ketika semua itu dituturkan padaku oleh wanita yang selama ini kusebut ibuku. Ternyata, aku bukan lagi bagian seasal dari dirinya, betapapun ikhlasnya kasih sayang.

Dan mulai saat itu, aku kembali terbuang, seorang bocah yang hanyut, di sepanjang tepian.

“Lalu kucari ilmu, istriku. Kau tahu, mengapa? Ilmu akan mengukuhkan aku bukan cuma anak suta yang hina. Meskipun kukatakan kepada Radha, ibuku, bahwa ilmu tak mengenal kasta, tak memandang harta — dan karena itu di sanalah aku akan bebas — sesungguhnya aku berjusta, juga pada diriku sendiri: diam-diam aku ingin ingkar kepada kelas orang-orang yang mengasihiku. Sebab, ternyata di dunia kita yang menyesakkan ini, Surtikanti, ilmu pun telah jadi lambang tentang mana yang rendah, mana yang tinggi.

“Aku datang berguru kepada Durna, tapi Durna menolakku karena aku bukan ningrat, bukan kesatria. Aku datang kepada Bhargawa, mengaku anak brahmana dan jadi muridnya - tapi kemudian ia mengutukku ketika ia menuduhku anak kesatria, kelas yang dibencinya itu, yang berbohong.

“Memang, setelah kukuasai semua astra dan semua senjata, aku tahu ilmu bisa melepaskan kita dari perbedaan susunan rendah dan tinggi. Tapi akhirnya hanya tindakan besar yang membebaskanku tindakan Pangeran Duryudana. Dialah yang mengangkatku jadi penguasa di Angga, istriku, dan dari sanalah aku seakan lahir kembali: kini benar aku bukan anak kasta yang dihinakan. Dan aku meminangmu.

“Ya, aku tahu mengapa Duryudana mengangkatku, ketika para Pandawa menghinaku, di pertandingan memanah di arena Hastina belasan tahun yang lalu itu; mereka menolak melawanku karena bagi mereka, anak sais tak berhak bertanding dengan anak raja.

Duryudana ingin memperlihatkan, di depan rakyat yang menonton, betapa tak adilnya para Pandawa. Dan Putra Mahkota Kurawa itu mungkin juga memperhitungkan aku bisa digunakannya buat menghadap musuhnya yang lima itu.

“Tapi apa pun niat hatinya, tindakannya adil dan kata-katanya benar: ‘Keberanian bisa datang dari siapa saja, karena seorang kesatria ada bukan hanya karena ayahbundanya, tapi toh bisa keluar dari batu gunung yang tak dikenal.

“Rasanya, akulah salah satu batu gunung itu, Surtikanti, yang menerbitkan perciknya sendiri. Inilah kemerdekaanku. Arjuna memilih pihaknya karena darah yang mengalir di tubuhnya, aku memilih pihakku karena kehendakku sendiri. Arjuna berperang untuk sebidang kerajaan yang dulu haknya, aku berperang bukan untuk memperoleh. Maka, jika aku esok mau, istriku, kenanglah kebahagiaan itu. Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu, ketika kau memandangku.”

Sampai di situ Karna berhenti; tangannya tergetar. Tapi segera ia mengusap busur panah di sisi duduknya. Kurusetra senyap. Malam mengerang kesakitan. Keesokan harinya, Karna memang gugur di tangan Arjuna, saudara seibunya.
Baratayuda : Kresna Gugah (1)

By MasPatikrajaDewaku
LAKON... (Kumpulan Cerita Wayang)

Perang Baratayuda, perang dimana terjadi bagaimana prajurit yang maju menjadi senapati, memetik hasil dari apa yang telah ditanam dan disisi lain meluwar janji yang pernah terucap.
Semua kejadian adalah bermula dari konflik keluarga keturunan langsung dari Resi Wiyasa Kresna Dwipayana.
Tiga orang puteranya: Drestarastra sang cacat netra sebagai anak sulung, Pandu Dewanata anak penengah dan Arya Yamawidura sebagai anak bungsu.
Ketika Prabu Wiyasa hendak menyerahkan tahta lengser keprabon Astina dan hendak menyucikan diri ke Sapta Arga, dipanggilnya ketiga puteranya. Dan dengan ikhlas disaksikan para saudara dekat termasuk Resi Bhisma atau Sang Jahnawisuta Dewabrata, yang secara garis adalah sebenarnya pewaris trah Barata, Drestarastra menyerahkan tahta haknya hingga ke anak cucu turunnya kepada adik penengah, Pandu Dewanata.
Sayang, atas kelicikan dan gosok kerti sampeka sang maha julig adik ipar Drestarastra, yaitu Arya Gendara Sangkuni, seratus anak Drestarastra, dikenal sebagai trah Kurawa, menjadi manusia-manusia bermoral buruk yang kurang tata krama.
Puntadewa, anak sulung trah Pandawa, anak Pandu yang telah mangkat, seorang yang tidak bisa berkata tidak, masuk dalam perangkap pokal akal-akalan Sengkuni dengan mengadakan permainan dadu.
Trah Pandawa yang telah mempunyai negara sendiri, hasil dari membuka hutan Wisaamerta, dan menjadikannya sebuah istana indah bernama Indraparahasta atau kerajaan Amarta, terpaksa kalah dalam olah permainan curang Sengkuni. Perjanjian telah disepakati, pihak kalah akan dibuang ke hutan Kamyaka selama 12 tahun dan melakukan penyamaran disuatu tempat selama setahun terakhir masa pembuangan. Bila penyamaran diketahui pihak Astina, maka pembuangan harus diulang selama waktu yang sama.
Tigabelas tahun hampir lewat. Ketika Astina kedatangan seorang raja seberang bernama Prabu Susarman, raja dari negara Trikarta. Bujuk rayu Susarman menghasilkan serbuan bermotif menggelar jajahan ke Negara Wirata, dan berakhir gagal.
***
Syahdan, dalam sidang agung Negara Astina, Sang Duryudana sangat jengkel ketika prajurit Astina kembali dengan tangan hampa ketika pulang dari Wirata dalam misi menaklukkan negara itu.
Negara yang tadinya diperkirakan telah lemah karena ditinggalkan tiga orang agul-agul senapati, Sang Kencakarupa, Rupakenca dan Rajamala yang diberitakan tewas ditangan seorang jagal, ternyata berakhir dengan kegagalan telak. Malah Prabu Susarman, bala bantuan dari Negara Trikarta yang semula mengipasi agar Sang Duryudana mau menaklukkan Wirata, tewas mengenaskan.
Kekuatan Wiratha menurut perhitungan semula hanya tinggal dua dari tiga putera Baginda Matswapati Raden Utara dan Raden Wratsangka. Sudah sangat berkurang kekuatan negara itu, karena Resi Seta sang putra sulung yang sakti mandraguna, lebih senang dengan olah kapanditan, dan saat itu sedang bertapa tidur di Pertapan Suhini atau Sukarini.
Upaya Sang Duryudana untuk sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, menaklukkan Wirata sambil mencari keterangan tentang adanya trah Pandawa dalam masa penyamaran, sekalian dilakukan. Bila ditemukan disana, maka mereka harus mengulang lagi masa pembuangannya selama genap tigabelas tahun bakal terlaksana.
Padahal masa pembuangan duabelas tahun dan masa penyamaran satu tahun, sudah hampir berakhir ketika itu.
Selesailah masa perjanjian itu, ketika perang gagal dalam menggelar jajahan berakhir
“Hmm . . . . Paman Harya Sengkuni, kekalahan ini merupakan kegagalan beruntun. Pertama. . . . . . , pasti. ., negara Wirata gagal menjadi jajahan kita. Kedua, berakhirnya peperangan Astina dan Wirata, menandai habisnya waktu perjanjian pembuangan para Pandawa” Prabu Duryudana akhirnya bersabda setelah beberapa waktu diam dengan pergolakan pikiran penuh sesal atas misi yang berakhir dengan kekalahan telak yang memalukan.
“Dengan berakhirnya waktu perjanjian ini pasti Pandhawa akan segera menagih haknya untuk kita mengembalikan Astina dan Indraparahasta yang dulu dipertaruhkan dalam permainan dadu” Kembali sang Duryudana menyambung pembicaraannya dengan masygul.
Prabu Salya, raja Mandaraka, mertua dari Prabu Duryudana dan Adipati Karna yang ikut hadir dalam sidang menyela “ Benar angger Prabu, sabda raja adalah perkataan yang tidak dapat diasak, tidak usahlah kiranya angger prabu kukuh dalam mempertahankan lagi hak yang seharusnya harus dilepaskan, karena perjanjian telah berakhir. Bila nanti Angger bersedia, Negara Mandaraka akan saya pasrahkan untuk angger prabu. Saya sudah tua ngger, saatnya bagiku untuk menjauhi keramaian dan aku siap menyepi, kembali ke Argabelah” .
Sejenak suasana sidang sunyi.
“Anak Prabu” Sang mahajulig Sengkuni memecahkan kesunyian,” Negara Mandaraka tidaklah sebesar Astina, tidak sebanding, apalagi dibandingkan luas Astina yang digabungkan dengan Amarta. Mau dikemanakan anak anakku Kurawa yang seratus itu bila hanya negara seluas Mandaraka yang diharapkan menampung sejumlah keponakanku semua . . ?” demikian Sang Patih Sengkuni memberikan alasan, ditambahkan lagi segala pertimbangan bermacam macam yang intinya tidak menyetujui jika Negara Astina beserta seluruh jajahannya diserahkan ke trah Pandawa.
Demikian juga dengan Adipati Karna, seorang anak angkat kusir Radeya yang dirangkul dan dijadikan tetunggul senapati dan berpikiran menurut sudut pandang keprajuritan menambahkan :” Yayi Prabu, apakah menurut yayi, saya sebagai seorang yang sudah dibuat kenyang dengan segala kebaikan, kemurahan hati dan keluhuran yang tiada terhingga, merasa masih kurang dalam memberikan tetameng terhadap keluhuran derajat Yayi Prabu? Sehingga dengan mudahnya menyerahkan kembali negara tanpa harus mengandalkan peperangan. Jangan berpikir sebagaimana berpikirnya orang yang tua yang sudah rapuh, sehingga menganggap penyerahan negara adalah hal yang bermartabat? Tidak. Keutuhan negara harus dibela dengan pecahnya dada dan mengalirnya darah...!”
Prabu Salya merasa tidak senang dengan perkataan Adipati Karna, yang dengan tanpa sengaja mengusik rasa sang Prabu Salya. Dalam hatinya perkataan itu ditujukan kepada dirinya. Kemarahan Sang Narasoma tua menggelegak. Tudingan kemarahan jatuh kepada Adipati Karna Suryatmaja sontak mengalir bagaikan banjir bandang.
“ Heh Karna.!,Dari tiga orang mantuku, kamulah satu-satunya mantu yang tidak pernah memberi rasa puas terhadap mertua, celaka benar nasib anakku Surtikanti dapat suami kamu, suami yang seharusnya dahulu bukanlah kamu, tapi Arjuna. Atas kemurahan Arjuna-lah kamu menjadi mantuku.
Prabu Baladewa, raja Mandura, menantuku yang gagah perkasa, tetapi didepanku menyembah kakiku. Prabu Duryudana, raja kaya raya. Didepanku takluk juga menyembah. Tetapi kamu itu siapa? Adipati kecil, tetapi tingkah lakumu selalu tidak berkenan dalam hatiku. Sudah jarang datang ke Mandaraka, juga tak sekalipun kamu datang dengan membawa kebahagiaan, kalaupun datang pasti membawa masalah . . . . . . “ Panjang lebar Prabu Salya memarahi sang mantu dipersidangan , sekalipun beberapa kali dicoba kemarahannya dipenggal oleh menantu yang lain, Prabu Duryudana.
Merasa sudah lega dengan memuntahkan segala kemarahan yang melebar kesana kemari kepada menantunya, Prabu Salya meminta diri: “ Angger Prabu, pikirlah kembali dengan beningnya hati. Tetapi apapun yang terjadi nanti, bila Angger masih berkenan dengan tenaga orang tua ini, pastilah aku akan datang kembali ke Astina”
“Aku sudah kangen dengan Ibumu Setyawati. Ketika sudah tua semacam aku ini, pergi sebentar saja, rasaku gampang sekali kepengin kembali ketemu dengan ibumu” Prabu Salya berkilah.
Selepas kembalinya Sang Prabu Salya ke Mandaraka, sidang menetapkan, bagaimanapun Astina dan Indraparahasta dan seluruh jajahannya tetap akan dipertahankan. Sang Pendita Durna-pun dengan berat hati setuju dengan keputusan ini. Semua menganggap, para sesepuh Astina yang maha sakti seperti Sang Bhisma Jahnawisuta dari Talkanda, tidak akan tertandingi bila sudah berkenan maju dalam peperangan nanti.
Usahanya tinggal selangkah lagi, karena berdasarkan wangsit, peperangan besar Baratayuda bakal dimenangkan, bila sudah dapat menggaet Prabu Kresna yang sedang bertapa tidur di Balekambang. Usaha inipun sudah yakin dapat dicapai bila Prabu Baladewa yang merupakan kakak Sri Kresna dapat dirangkul untuk membangunkan adiknya, sekalian mengajaknya bergabung di Astina.
Apa yang diperhitungkan oleh Sang Duryudana perihal akan datangnya utusan dari para Pandawa memang benar adanya. Diluar sudah menunggu ibu dari para Pandawa, Dewi Prita, Kuntitalibrata dengan ditemani sang ipar, Adipati Yamawidura dari Ksatrian Panggombakan.
Setelah dipersilakan duduk, Sang Prita dengan santunnya mengutarakan maksud kedatangannya.
“Anakku ngger Duryudana, seperti yang sudah tersiar luas dijagat ini, bahwa sudah pundhat masa pengasingan anak anakku Pandawa. Itu sudah masa lalu. Sekarang angger, sebagai utusan dari kelima anakku, aku meminta ketegasan, kapan waktunya peristiwa diperbolehkan kembali Pandawa ke Astina beserta dipulihkannya kedaulatan atas Negara Amarta bakal dilaksanakan. . . . ?”
keren gan

update lagi donk

saya pengen mendapatkan pengetahuan dunia wayang

bisa di ceritakan tentang :

Pandu Dewanata
Prabu Sentanu

menarik sekali ini gan
Baratayuda : Kresna Gugah (2)

By MasPatikrajaDewaku

Sang Dewi juga mengatakan bahwa kedatangannya disertai Arya Yamawidura, adalah merupakan saksi atas ucapan kesediaannya mewujudkan janji yang telah diucapkan ketika permainan dadu hendak dilaksanakan dulu.
Prabu Duryudana terdiam. Dalam hatinya bergolak pikiran bagaimana cara mengatakan tidak kepada utusan itu, yang tak lain adalah orang yang dihormatinya. Bahkan oleh ayahandanya sendiri Adipati Drestarastra.
Tetapi oleh sang pembisik disekeliling Sang Prabu yang selalu menggosoknya dan nafsu Sang Prabu terhadap kekuasaan telah sedemikaian besar, kata Sang Prabu dengan tanpa mengindahkan tata krama dan seribu alasan, malah mengusir Dewi Kunti: “ Bibi sudahlah, bibi pulang saja kemana saja bibi mau,sekarang saya belum terpikir kapan akan mengembalikan semua yang telah dijanjikan dulu”.
Kunti hanya bisa meratap kepada adik iparnya, sang Yamawidura. Harapan besar yang telah diusungnya dari Wirata atas kembalinya negara Astina kepada anak-anaknya musnah sudah. Segera diboyongnya kembali Dewi Prita yang pingsan keberatan dengan beban batin, untuk sementara bermukim di Ksatrian Panggombakan. Segera Sang Yamawidura mengutus seseorang untuk mengabarkan apa yang terjadi terhadap Dewi Prita kepada anak anaknya di Wirata.
*
Prabu Drupada, raja Pancalaradya, yang datang kemudian atas inisiatif sendiri, sebagai duta juga dipandang remeh, dihinanya Sucitra tua itu yang hanya bisa menahan marah, dan keluar tanpa pamit dari sidang agung.
Keriuhan dalam sidang sampai juga ditelinga Adipati Destarastra, Adipati cacat netra ini segera minta dituntun sang istri, Dewi Gendari, menuju sidang agung yang sudah ditinggalkan oleh Dewi Kunti dan Prabu Drupada dengan perasaan masygul.
“Heh anakku Duryudana, aku dengar dari dalam tadi ada pertengkaran. Apa yang terjadi ngger, baiknya jujur saja katakan kepada bapakmu ini??”.
Dengan plintat-plintut Duryudana menceritakan apa yang baru saja terjadi. Terperangah sang Drestarastra. Segera dia minta dipertemukan dengan Prabu Drupada, yang dengan kesaktiannya pasti mampu menaklukkan anaknya, untuk dimintai seribu maaf atas kurangnya tata susila yang dilakukannya tadi.
***
Balekambang. Sebenarnyalah Sri Kresna sedang meraga sukma. Secara kewadagan kelihatan Sri Kresna tertidur dalam bertapa, namun sebenarnya sukma sang Kesawa sedang pergi menghadap haribaan Sang Hyang Guruloka untuk mecari keterangan mengenai isi kitab Jitapsara. Kitab skenario pelaksanaan Perang Baratayuda yang berdasarkan jangka kadewatan sudah saatnya dibuat oleh Hyang Jagatnata dan ditulis oleh Batara Penyarikan, sekretaris Kahyangan.
Maka ketika Para Kurawa datang hendak membangunkan dan mengajaknya bergabung, tidak satupun berhasil membangunkan. Mereka satu persatu melakukan usaha untuk mencoba dengan caranya sendiri sendiri.
Prabu Karna datang membangunkan dengan meraba leher sang Sri Kresna, menandakan leher adipati Karna akan terpenggal dan tewas dalam Baratayuda. Terkena pagar kesaktian diri Sri Kresna, Adipati Karna seketika terbanting tak sadarkan diri.
Demikian juga dengan Arya Dursasana yang datang membangunkan dengan menggerayangi dan menggoyang seluruh tubuh dan persendian Sri Kresna. Kejadian ini sebagai pertanda akan terpotong potongnya jasad Arya Dursasana dalam Baratayuda. Walat atau pagar diri Sri Kresna juga berlaku ketika Resi Durna mencoba membangunkan dengan memegang leher Sang Tapa.
Prabu Duryudana akhirnya datang sendiri dengan memegang dan mengelus paha Sri Kresna, ini sebagai pertanda bahwa kelak pada peperangan Baratayudha, Prabu Duryudana akan tewas dengan tertebas Gada Rujakpolo, gada Raden Werkudara, pada paha kirinya.
Karena tidak kunjung terbangun, makin lama semakin keras menggoyang paha Sri Kresna. Terkena walat sang Kresna seketika Prabu Duryudana juga sama dengan para bawahannya, terbanting tidak sadarkan diri. Geger para prajurit yang lain, seketika itu tidak ada satupun Kurawa yang berani mencoba membangunkan.
Ketika suasana sudah bisa diatasi dan tenang kembali, kesepakatan rembuk terjadi, mereka mengundurkan diri terlebih dulu sambil menunggu datangnya Prabu Baladewa sebagai usaha mereka yang terakhir.
*
Para Pandawa datang juga akhirnya. Waspada Prabu Yudistira, bahwa Sri Kresna sejatinya tidak sedang bertapa tidur, melainkan sedang meraga sukma, ditinggalkannya wadag. sementara sukma sang Narayana pergi entah kemana.
“Adikku Werkudara, kamu sudah pernah merasakan, bagaimana bertemu sang Guru Sejatimu, DewaRuci, tatkala kamu menceburkan dirimu ke samudera Minangkalbu dahulu. Sekarang ketemukan kakang Kresna. Ajaklah kembali ke raganya dan persilakan beliau untuk pulang bersama kita ke Wirata, untuk menjadikannya jaya trah kita Pandawa dalam perang Baratayudha bila benar akan terjadi nanti adimas”
“Apa gunanya Si Arjuna yang lebih dari sakti, yang juga merupakan tukang tapa, sesama titis Wisnu dan lebih dekat dengan Kresna, kenapa dia tidak ada usaha yang mestinya tidak lagi harus diberi perintah??!”. Tukas sang Werkudara
Sang Arjuna yang dari tadi diam disindir kakaknya Bima, sejatinya sedang mengheningkan cipta, meraga sukma mencari dimana gerangan sukma kakak iparnya, Sukma Wicara, berada.
Arjuna adalah sesama titisan Wisnu yang membelah diri bagaikan api dan panasnya. Ketika melihat raga Sri Kresna yang sedang tergolek, tak ada keraguan baginya bahwa Sri Kresna tidak bersukma. Ikutlah sang Arjuna meraga sukma dengan nama Sukma Langgeng meninggalkan raga dan saudara-saudaranya.
***

Diceritakan, ketika itu di Kahyangan Jonggiri Kaelasa atau Jonggring Salaka, Batara Guru sedang bersidang menetapkan siapa saja yang masuk dalam agenda perang Baratayuda.
Batara Panyarikan dengan pena ditangan dan tinta dihadapannya menulis skenario apa yang dikatakan oleh Sang Jagad nata.
Telah ditulisnya sabda dari Batara Guru, dari awal skenario:
Raden Utara dan Salya bertanding , Utara terbunuh oleh Prabu Salya.
Raden Wratsangka bertanding dengan Resi Durna, Wratsangka terbunuh oleh Resi Durna.
Raden Rukmarata terbunuh oleh panah Resi Seta.
Resi Bhisma perang tanding dengan Resi Seta dan terbunuh oleh Resi Bhisma, dan seterusnya.
Ketika sampai pada kalimat Prabu Baladewa tanding dengan Antareja dan hendak ditulisnya kedalam daftar skenario, tumpahlah tinta dihadapan Batara Panyarikan ditabrak seekor kumbang penjelmaan Sang Sukma Wicara, sukma dari Batara Kresna yang sedang memata-matai bagaimana Baratayuda tergelar. Gagallah kalimat itu dituliskan.
Marahlah Sang Girinata, ditangkapnya kumbang itu, seketika berubah menjadi Sukma Wicara.
“Heh Kaki Kresna. . ! kenapa kamu sebagai titahku menggagalkan usahaku dalam menulis naskah ini?” tanya Batara Guru.
“Duh Pukulun, jujur saja, rasa sayang hamba terhadap kakak kandung hamba Prabu Baladewa-lah yang menyebabkan hamba menggagalkan alur kejadian Baratayuda itu. Bukanlah tandingannya bila kakak hamba diadu dengan Antareja”. Jawab Sukma Wicara.
“Baik, adakah sesuatu yang dapat kamu berikan menjadi tetukar terhadap jalan cerita Baratayuda dan dapatkah kamu memberikan jalan cerita yang lain sehingga hal yang kamu tidak sukai itu dapat terhindar?” sahut Batara Guru.
“Pukulun, saya rela menukarnya dengan pusaka andalan hamba Kembang Wijayakusuma, sangatlah adil dan berharga nyawa kakak hamba bila dibandingkan dengan kembang yang merupakan penghidupan orang yang belum dalam pepasti akhir hidup, pukulun” demikian Sri Kresna menawarkan taruhan atas nyawa sang kakak dengan pusaka yang merupakan warisan dari Sang Guru, Resi Padmanaba.
“Dengan penyerahan ini Pukulun, maka dirasa akan fair-lah perang itu karena hamba tidak dapat lagi menghidupkan kawan yang telah terbunuh”. Tambah Sri Kresna seraya menghiba atas kearifan Sang Jagat Nata.
“Sedangkan bagaimana caranya agar kakak hamba Kakrasana agar tidak ikut dalam perang Baratayudha kelak serahkan kepada hamba” Kresna meneruskan.
Demikianlah, setelah barter terjadi dan Sukma Wicara telah diberitahu bagaimana jalan cerita dituliskan dalam Jitapsara maka pulanglah Sang Sukma kembali ke menuju raganya.
Diperjalanan ketemulah Sang Sukma Wicara dengan Sukma Langgeng.
Sukma Langgeng memaksa memberikan kitab skenario kepadanya, tetapi dijelaskan bahwa ini adalah rahasia para dewa dan iapun tidak diberikan kitabnya hanya diberitahu jalan ceritanya. Sukma Langgeng tidak percaya dengan keterangan itu, dan terjadi perkelahian diantara keduanya.
Gegerlah Jonggring Salaka oleh tanding seimbang dan tidak akan berkesudahan. Diutusnya Batara Naradda oleh Hyang Girinata untuk memisahkan keduanya.
“ Heh cucu-cucuku. . .!!, Berhentilah . . . !!, Tidak ada gunanya kalian berkelahi, segera masuklah kembali ke raga masing masing. Tugas suci sudah menunggu. Sukma Langgeng percayakan kepada Sukma Wicara yang kelak menjadi pengatur laku dalam peperangan besar nanti !!” Batara Naradda datang dengan memberikan penjelasan panjang lebar kepada Sukma Langgeng atas apa yang terjadi ketika Sukma Wicara menghadap di Kahyangan Jonggring Salaka.
Keduanya segera mematuhi titah sang Naradda, turun kembali ke arcapada masuk ke raga masing masing.
Baratayuda : Kresna Gugah (3)

By MasPatikrajaDewaku

Gembiralah para Pandawa setelah menerima kesanggupan Sri Kresna untuk diboyong ke Wirata.
Belum sempat mereka semua beranjak dari Balekambang, ketika datang Prabu Baladewa menghadang langkah para Pandawa dan Sri Kresna, sambil berkata:
“Sukurlah yayi Prabu sudah bangun dari tapamu…! Sekarang marilah adikku, pergi bersama kakakmu ini ke Astina, begitu kan kehendak yayi Prabu Duryudana?” sang Baladewa menegaskan juga ke Prabu Duryudana
“Benar kakanda…! Marilah datang berkumpul ke Astina. Disana kakanda bakal saya beri kemukten, asalkan kanda sudi kami boyongi” sang Duryudana juga merayu Sri Kresna.
Sri Kresna yang selalu waspada, dengan tidak ketara manampik dan berusaha untuk tidak melukai hati Sang Baladewa, menanyakan kepada Prabu Duryudana: “ Yayi, tujuan akhir yayi memboyong kakakmu ini adalah memenangkan Baratayudha, bukankan begitu?”
“Benar kakang Kresna” Dengan nada yakin Duryudana menyahut.
“Kalau begitu bukankan lebih baik bila kakakmu yang satu ini ditukar seribu raja beserta para nayakanya sekalian sehingga kekuatan negara Astina niscaya akan lebih kuat sentosa?!” Kresna berusaha memberi alternatif, sambil berusaha bagaimana agar Duryudana mau dirayu.
Belum sempat sang Baladewa mencegah jawaban sang Duryudana yang sudah diduganya, dengan cepat Prabu Duryudana menyanggupi menukar satu orang Sri Kresna dengan seribu raja lengkap dengan hulubalangnya. Dalam pikirannya apalah kekuatan satu orang dibandingkan dengan kekuatan yang hendak dibarternya.
“Heh yayi Prabu Duryudana, semula apa yang direncanakan dari Astina datang ke Balekambang? Apakah yayi Prabu lupa akan wangsit dewata bahwa siapa yang bisa mendatangkan Kresna bakal unggul dalam perang itu? Bukankan aku didatangkan kemari hendak diutus melakukan itu? Aduh yayi Prabu, alangkah malangnya Kurawa memiliki raja seperti yayi ini . . . . . . . . !!”.
Panjang lebar sang Baladewa memarahi Prabu Duryudana. Sri Kresna menyela: “ Sudahlah kanda, sabda raja adalah perkataan suci, harus konsisten, sekali dia berkata, tak layaklah dia mencabut kembali kalimatnya”
Segera Sang Kresna menepuk batang beringin tempat bernaung dalam tapanya, seketika daun daun yang berguguran berubah menjadi seribu raja beserta para punggawanya.
“Silakan yayi Prabu Duryudana , pulanglah ke Astina beserta para raja yang kelak menjadi beteng dalam perang yang pasti akan terjadi nanti”.Demikian Kresna bermaksud menyudahi persoalan.
“Mari Kakang Prabu, kita segera kembali ke Wirata”, Werkudara segera mengajak Sri Kresna pulang, ”persoalan kita sudah selesai” tambah Bima
“Belum !!” bentak Prabu Baladewa
“Apa maumu?”sahut Bima kembali
“ Kresna harus ikut aku!!” Baladewa kembali membentak
Tentu saja Bima tidak berkenan, terjadilah perkelahian diatara keduanya. Kekuatan kedua ksatria ini memang hampir seimbang. Baladewa menggunakan kecepatan dan kekuatan untuk mencoba mengalahkan Bima, namun Werkudara juga memiliki kekuatan yang lebih tangguh dalam melawan Prabu Baladewa.
Merasa keteteran, Baladewa menggunakan senjata Nenggala. Waspada sang Kresna, didekatinya Werkudara dan dibisiki untuk memancing agar senjata Nenggala menancap ke tanah.
Demikianlah, atas pancingan itu senjata Nenggala yang hendak ditujukan ke Werkudara dan dihindari akhirnya menembus tanah dan terjepit hingga tidak bisa dicabut kembali.
Sri Kresna mendekati Baladewa yang berusaha keras mencabut pusakanya dari jepitan, disapanya prabu Baladewa: “ Kakang Prabu, paduka tidak dapat melepaskan senjata dari dalam tanah karena sebenarnya kakanda berdosa. Tanah yang tidak bersalah paduka kenai senjata sakti. Akhirnya kejadian inilah yang menyebabkan senjata kanda tidak dapat dicabut kembali. Kandapun nanti akan mendapat kemalangan terjepit bumi dan tidak dapat keluar dari malapetaka itu”.
“Aduh adikku, sial benar aku. Bagaimana cara agar aku dapat keluar dari laknat bumi ini yayi??”.ratap Prabu Baladewa
“Kanda, paduka harus melakukan penebusan berupa memberikan dana bagi siapapun yang meminta”.
*
Tersebutlah seorang pengemis, hendak meminta sesuatu kepada Prabu Baladewa yang mendengar kabar Sang Prabu sedang berkelililng membagikan dana.
Ia dengan tidak sungkan meminta istri sang prabu, Dewi Erawati, untuk dijadikan sebagai istri. Tidak ingat akan kesanggupannya, marahlah Prabu Baladewa dan dikeluarkan senjata Nenggala dan ditujukan kepada si pengemis. Pengemis itu menghindar dan terserempet senjata itu, dan berubah ujud menjadi Arjuna.
Malang kembali menimpa Prabu Baladewa, senjata Nenggala kembali mengenai bumi dan menyebabkan tanah itu berlubang.
Ketika hendak mengambil senjata dan masuk kedalam lubang, segera bumi menjepit Sang Prabu hingga sebatas dada.
Sekuat tenaga Sang Prabu berusaha melepaskan diri, namun tetap tidak bisa keluar dari jepitan. Sekali lagi ia meminta tolong adiknya.
“Kanda Prabu, sekarang dosa kanda makin besar, penebusannya pun semakin besar pula”. Kresna memberikan penjelasan.
Dengan rasa putus asa Baladewapun menyerah atas ampunan dosa yang ia lakukan:
“Baik sebesar apapun aku sanggup melakukan penebusan itu asalkan aku terhindar dari dosa yang aku telah perbuat ini”.
“Baik, kanda prabu harus melakukan tapa di Grojogan Sewu (air terjun dengan seribu alur). Kanda akan kami sertai dengan anak saya Setyaka. Jangan sekali-kali paduka menyelesaikan laku tapa kanda, bila saya belum menjemput kanda nanti”. Dalam hati Sri Kresna, sekaranglah saatnya mulai untuk mengubah jalan nasib kakaknya itu.
Dengan ditemani keponakannya, Prabu Baladewa berangkat bertapa di air terjun dengan bunyi gemuruh, hingga segala bebunyian apapun akan terkalahkan dengan gemuruhnya suara air terjun dengan seribu alur. Raden Setyaka sudah dibekali pesan pesan dari ayahandanya dan dirajah tapak tangannya agar dapat menenangkan sang uwak dengan memegang dadanya, bila Sang Baladewa terlihat gelisah.
Inilah sebenarnya usaha Sri Kresna dalam mengubah alur skenario, agar sang Baladewa tidak terlibat dalam perang Baratayuda, seperti janjinya kepada Sang Hyang Guru ketika itu.
*
Satu masalah selesai. Lalu bagaimana dengan Antareja? Tidak kurang akal dipanggilnya Werkudara,
“ Sena, Baratayuda nanti akan terlaksana. Setujukah yayi akan hal ini, termasuk syarat srana yang harus ditempuh agar Pandawa unggul dalam perang?”
“Setuju, apapun syarat nya”.sahut Arya Werkudara.
“ Nah, syarat itu berujud tumbal berrupa anakmu Antareja, bila dia masih ada, maka Baratayuda yang berrupa perang suci tempat para manusia mengunduh apa yang mereka tanam dan sarana meluwar segala janji, akan gagal. Tidak ada seorangpun yang dapat menandingi kesaktian anakmu yang satu itu”
Seketika itu sang Bhima berbalik tidak setuju. Dengan segala cara bujuk rayu dan pemberian pengertian akhirnya dengan berat hati putra Bhima mengerti dan merelakan anaknya sebagai tumbal akan kejayaan Pandawa.
Memang demikian, kesaktian Raden Antareja memang luar biasa. Kesaktian turunan dari Sang Hyang Anantaboga, dewa ular, kakeknya. Kesaktian yang berupa lapisan gigi taring dan bisa anta pada lidahnya. Tapak kaki siapapun yang terjilat bakal langsung melepuh dan tewas. Bahkan bekas telapak manusia yang dijilatpun bakal tewas seketika itu juga.
Segera dipanggilnya Antareja. “Antareja, sudahkan kamu siap menjadi senapati dengan akan berlangsungnya perang besar nanti?” Seberapa kesaktian yang kamu punyai untuk membuat jaya trah-mu?
“Sudah siap uwa, kami bersedia untuk memberi bukti akan kesaktian putramu ini” Antareja mantap menjelaskan.
“Baik ikutlah aku, jilatlah tapak kaki yang aku tunjuk” perintah Kresna.
Segera Sri Kresna menunjuk bekas tapak kaki disuatu tempat yang sudah ditandainya. Gugurlah seketika sang Anantareja setelah menjilat tapak yang tercetak di tanah, yang ternyata bekas telapak kakinya sendiri. Diiringi wangi bunga tawur dari para bidadari, arwah Sang Antareja diiring para dewa dan bidadari ke sorga lapis sembilan.
***
Halaman 2 dari 34


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di