CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Budaya /
LAKON... (Kumpulan Cerita Wayang)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000008509235/lakon-kumpulan-cerita-wayang

LAKON... (Kumpulan Cerita Wayang)

Tampilkan isi Thread
Halaman 14 dari 34
Banjaran Karna 1


KARNA, yang lebih terkenal dengan sebutan Adipati Karna adalah lawan utama Arjuna dalam Baratayuda. Padahal kedua ksatria itu sama-sama putra Dewi Kunti.
Basukarna adalah putra sulung, sedangkan Arjuna anak yang ketiga. Dalam dunia pewayangan Basukarna merupakan profil tokoh wayang yang otodidak, berjuang sendiri tanpa mengandalkan bantuan keluarga. Ia juga menjadi perlambang bagi karakter manusia yang tahu membalas budi, sekaligus rela berkorban bagi menangnya kebenaran, walaupun untuk itu ia harus mengorbankan jiwa dan bahkan juga nama baiknya.
Basukarna adalah anak buangan. Ibunya adalah Dewi Kunti alias Dewi Prita, putri bungsu raja Mandura, Prabu Basukunti. Waktu masih berusia remaja, Dewi Kunti mencoba-coba menggunakan Aji Adityarhedaya, yakni ilmu untuk mendatangkan seorang dewa yang dikehendakinya. Ilmu dipelajarinya dari gurunya, Resi Druwasa, yang sengaja didatangkan Prabu Basukunti ke Keraton Mandura untuk mendidik Dewi Kunti.
Ternyata ilmu ajaran Resi Druwasa itu benar-benar ampuh. Dengan mem-baca mantra Aji Adityarhedaya, Dewi Prita alias Kunti berhasil mendatangkan Batara Surya. Tetapi kedatangan Batara Surya yang tampan itu membuat Dewi Kunti mengandung, padahal ia masih gadis. ***) Setelah Prabu Kuntiboja mengetahui perihal musibah yang menimpa putrinya, ia amat marah dan segera memanggil Resi Druwasa. Guru Besar itu dipersalahkan telah mengajarkan ilmu tingkat tinggi pada gadis yang belum dewasa. Resi Druwasa mengaku bersalah dan bersedia menjamin keperawanan Dewi Kunti. Tetapi pertapa itu juga menjelaskan, bahwa kelak Dewi Kunti akan memerlukan ilmu itu.
CATATAN KAKI =***) Dewi Prita mempunyai kebiasaan buruk, sering bangun siang. Manakala hari telah terang, dan matahari sudah naik, ia masih tergolek di tempat tidurnya. Sinar terang matahari yang masuk ke kamarnya membuatnya kagum. Tanpa sadar ia mengamalkan Aji Adityarhedaya sambil membayangkan ketampanan Batara Surya.
Dengan ilmunya yang tinggi, sesudah masa kehamilannya cukup, Druwasa mengeluarkan jabang bayi yang dikandung melalui telinga Dewi Kunti. Alasannya, ilmu itu masuk dan diresapi oleh Kunti melalui telinganya. Itulah sebabnya, ia diberi nama Karna - yang artinya telinga. Nama lain baginya adalah Talingasmara. Dalam pewayangan ia juga disebut Suryaputra, atau Suryatmaja, karena anak Kunti itu memang benar hasil pertemuan ibunya dengan Batara Surya. Dua nama yang terakhir ini digunakan oleh sebagian besar dalang untuk menyebut Karna sewaktu masih muda.
Setelah lahir, Prabu Basukunti segera memerintahkan agar bayi itu dibuang. Maka, bayi Karna pun ditaruh dalam sebuah peti dan dihanyutkan di Sungai Gangga. Sebelum bayinya dibuang Dewi Prita alias Kunti sempat memperhatikan, di telinga bayi itu terdapat Anting Mustika yang memancarkan sinar kemilau. Bayi yang malang itu kemudian ditemukan dan dirawat dengan baik oleh Adirata, seorang sais kereta kerajaan di Keraton Astina. Yang memerintah Astina saat itu adalah Prabu Krisna Dwipayana. Bayi itu lalu diaku anak dan dipelihara dengan penuh kasih sayang oleh Adirata dan istrinya yang bernama Nyai Nanda (Dalam Mahabarata Nyai Nanda disebut Radha. Itulah sebabnya, Basukarna juga disebut Radhea atau Ara-dea). Kebetulan mereka memang tidak punya anak.
Tahun berganti tahun, dan takhta Astina diduduki oleh Prabu Pandu Dewanata,
menggantikan Prabu Krisna Dwipayana yang mengundurkan diri karena hendak menjadi pertapa. Ketika Prabu Pandu me-ninggal dalam usia muda, Drestarastra menggantikannya untuk sementara waktu, sebagai wali para Pandawa yang saat itu masih kecil-kecil.
Menjelang masa remaja, Basukarna sering ikut ayah angkatnya ke Keraton Astina.
Di sana ia selalu mengintip dan mencuri dengar dengan penuh perha-tian segala yang diajarkan oleh Resi Krepa dan Begawan Drona kepada murid-muridnya, yaitu para Kurawa dan para Pandawa. Dengan demikian segala sesuatu yang diajarkan oleh kedua mahaguru itu diketahui dan dipahami dengan baik oleh Karna. Minat dan semangat Basukarna untuk belajar amat tinggi. Suatu hari ia
memberanikan diri menjumpai Begawan Drona dan minta agar guru besar itu mau menerima dirinya sebagai murid. Namun permohonan itu ditolak, karena Drona terikat aturan istana: hanya boleh mengajar para pangeran, yakni putra-putra Drestarastra, Pandu, dan Yama Widura. Resi Krepa, guru besar lainnya juga bersikap sama dengan Begawan Drona. Dengan penolakan itu Basukarna tetap hanya bisa belajar dengan cara mengintip dan mencuri dengar.
Untuk mengetahui sampai di mana tingkat kemajuan ilmu dan keterampilan para Pandawa dan Kurawa, secara berkala Begawan Drona dan Resi Krepa mengadakan
uji keterampilan bagi mereka. Pada acara ujian seperti itu ternyata Pandawa selalu unggul. Lebih-lebih Arjuna. Pada setiap pertandingan ksatria remaja yang tampan ini selalu mendapat angka tertinggi. Keunggulan ini membuat Arjuna lalu bersikap sombong.
Basukarna yang sejak semula menyaksikan acara itu, merasa panas hati melihat kesombongan dan keangkuhan Arjuna. Walaupun ayah angkatnya telah berusaha mencegah, dengan nekad Karna lalu menantang Arjuna untuk adu tanding dalam ketrampilan keprajuritan dengan dirinya. Tantangan Karna ini ditolak Arjuna, karena sebagai seorang putra raja Arjuna merasa dirinya tidak pantas melayani tantangan Karna yang hanya anak seorang sais kereta.
Tantangan Karna itu memang mengejutkan semua orang, termasuk para Kurawa. Duryudana, si Sulung dalam keluarga Kurawa segera memanfaatkan peristiwa itu.
Dengan pengaruh yang dimilikinya selaku putra Prabu Drestarastra, saat itu juga Duryudana mengangkat Basukarna sebagai adipati di Kadipaten Awangga. ***) Dengan kedudukan Karna sebagai seorang adipati, tidak ada lagi alasan bagi Arjuna untuk menolak tantangan itu. Adu tanding pun dimulai. Dan ternyata keduanya sama kuat dan sama mahirnya. Resi Krepa dan Begawan Drona akhirnya
memberikan penilaian tidak ada yang kalah dan tak ada yang menang. Keduanya seimbang sama kuat.
Dewi Kunti yang menyaksikan acara pertandingan itu, saat itu sudah yakin benar bahwa Karna sesungguhnya adalah anak sulungnya, yang belasan tahun sebelumnya dihanyutkan di sungai. Selain wajahnya yang amat mirip dengan Arjuna, gerak-gerik Karna boleh dibilang sama dengan Ksatria Panengah Pandawa itu. Lagi pula. dari telinga Karna memancar sinar kemilau Anting Mustika yang telah menempel sejak dilahirkan. Namun untuk segera mengakuinya sebagai anak, Dewi Kunti merasa tidak menemukan alasan yang tepat. Dewi Kunti tercekam oleh perasaan antara yakin dan ragu. Yakin, karena baik raut wajah maupun bentuk tubuh Karna seolah bayangan Arjuna, dan Anting Mustika itu pernah dilihatnya belasan tahun yang lalu. Namun Kunti juga ragu, apakah jika ia tiba-tiba mengakui Karna sebagai anak akan membuat situasi menjadi baik, ataukah sebaliknya.
Selain berguru secara tidak langsung pada Begawan Drona dan Resi Krepa yakni hanya dengan mendengar dan melihat dari kejauhan, Karna sempat pula berguru pada seorang brahmana sakti bernama Rama Parasu alias Rama Bargawa. Ini dilakukan setelah permohonan Karna untuk diterima menjadi murid resmi Begawan Drona dan Resi Krepa, ditolak.
CATATAN KAKI = ***) Menurut pewayangan, Karna menjadi Adipati di Awangga bukan karena hadiah atau diangkat oleh Duryudana, tetapi karena hasil usahanya sendiri. Karna memperoleh negeri itu setelah me-ngalahkan Prabu Karnamandra, yaitu raja penguasa di Awangga. Untuk dapat berguru pada brahmana yang kesaktiannya tidak tertandingi siapa pun di dunia ini, Karna harus menyamar sebagai brahmana. Penyamaran itu terpaksa dilakukan karena Rama Bargawa amat membenci golongan ksatria. Dari gurunya yang ini Basukarna antara lain mendapat ilmu Bramastra, yakni ilmu ketrampilan memanah. ***)
Sesudah mewariskan berbagai ilmunya, barulah Rama Bargawa sadar bahwa Karna sebenarnya bukan dari golongan brahmana, melainkan seorang ksatria. Penyamaran Basukarna ini terbongkar manakala Rama Bargawa tidur berbantal paha muridnya. Saat itu seekor ketonggeng, sejenis kalajengking berbisa, menyengat paha Basukarna. Namun untuk menjaga jangan sampai gurunya terbangun, dengan sekuat tenaga Karna menahan rasa sakit yang alang kepalang itu, sehingga keringatnya bercucuran. Rama Bargawa justru terbangun ketika peluh Karna menetes ke wajahnya. Sewaktu tahu apa yang terjadi, sadarlah Sang Guru bahwa muridnya itu tentu berasal dari golongan ksatria. Hanya seorang ksatria yang tangguh sanggup menahan rasa sakit yang demikian hebat. Karena merasa ditipu, dengan marah Rama Bargawa mengucapkan kutukannya: Kelak dalam Baratayuda, pada saat yang genting yang menentukan hidup atau mati, Karna akan lupa bunyi mantera ilmu Bramastra. Dan, kelak ternyata, kutukan itu akan terbukti.
Basukarna menikah dengan Dewi Surtikanti, putri Prabu Salya, raja Mandraka. Pernikahan ini sebenarnya tidak disetujui oleh Prabu Salya, yang telah merencanakan akan menikahkan Surtikanti dengan Duryudana. Saat itu Duryudana sudah berkedudukan sebagai Prabu Anom, atau raja muda. Oleh sebab itu Karna diam-diam lalu sering masuk ke Istana Mandraka dan secara sembunyi-sembunyi memadu kasih dengan sang Dewi, bahkan kemudian melarikan Dewi Surtikanti, sehingga mereka terpaksa dinikahkan. Sejak itu timbullah kebencian Prabu Salya terhadap Karna, walaupun telah menjadi menantunya.
Prabu Anom Duryudana sendiri sebenarnya amat sakit hati pada tindakan Karna melarikan Dewi Surtikanti, justru pada saat raja muda Astina itu sedang menyiapkan lamarannya pada Prabu Salya. Namun karena keluarga Kurawa sangat memerlukan tenaga Basukarna, terutama pada saat menghadapi Baratayuda kelak, masalah Dewi Surtikanti itu tidak diperpanjang lagi. Apalagi kemudian Prabu Salya menjanjikan akan menikahkan Duryudana dengan Dewi Banowati, adik Surtikanti.
Banjaran Karna 2


CATATAN KAKI = ***) Sebagian dalang menyebut ilmu itu Aji Kunta Bramasta.
Karena perkimpoiannya dengan Dewi Surtikanti itu, Karna mempunyai dua orang raja besar sebagai ipar, yakni Prabu Anom Duryudana, dan Prabu Baladewa yang sebelumnya telah menikahi Dewi Erawati, putri sulung Prabu Salya. Adipati Awangga itu memiliki sifat pantang berkhianat, tahu membalas budi, percaya diri, teguh dalam pendirian, dan membenci orang yang terlalu mengagungagungkan kebangsawanannya. Karena selalu diperlakukan dengan baik dan dihargai oleh Kurawa, Adipati Karna merasa berhutang budi pada Duryudana dan adik-adiknya. Itu pula yang me-nyebabkan ada sebagian pecinta wayang menggolongkan Basukarna sebagai tokoh yang berpihak pada kejahatan dan mabuk akan derajat serta kedudukan.
Selain seimbang kesaktiannya, penampilan dan wajah Basukarna amat mirip dengan Arjuna. Itulah sebabnya Batara Narada pernah keliru menganggap Arjuna tatkala akan memberikan senjata Kunta Wijayandanu. Senjata pusaka pemberian dewa itu seharusnya diberikan kepada Arjuna untuk memotong tali pusar Gatotkaca yang baru lahir. Dalam perja-lanannya mencari Arjuna, Batara Narada yang secara kebetulan berjumpa dengan Basukarna, salah lihat, mengira bertemu Arjuna dan memberikan senjata Kunta Wijayandanu pada Karna. ***) Arjuna kemudian berusaha merebut kembali senjata pusaka itu, tetapi gagal. Yang berhasil direbut hanyalah warangkanya (sarung) saja. Dalam pewayangan, kisah mengenai senjata Kunta ini diceritakan dalam lakon Lahirnya Gatotkaca.
CATATAN KAKI = ***)Dalang ternama, Ki Nartasabda, dalam lakon Banjaran Karna menceritakan bahwa Batara Surya yang tahu rencana perjalanan Batara Narada memberitahu Karna agar mencegat dewa itu, dan mengaku sebagai Arjuna. Jadi, perjumpaan Karna dengan Narada bukan suatu kebetulan. Meskipun sebelumnya telah tahu, tetapi baru tiga hari sebelum pecah Baratayuda, Basukarna yakin benar bahwa ia sesungguhnya adalah putra sulung Dewi Kunti. Berarti ia adalah saudara tua yang seibu dengan Yudistira, Bima, dan Arjuna. Yang meyakinkan adalah penjelasan yang diberikan oleh ayahnya sendiri, yaitu Batara Surya. Waktu itu Batara Surya datang menjumpainya dan menceritakan siapa sebenarnya Basukarna sesungguhnya. Batara Surya juga memperingatkan agar Karna waspada, sebab Batara Endra, ayah Arjuna akan datang menemuinya dan membujuknya dengan berbagai cara guna melemahkan Karna. "Ingatlah Karna, dari aku sejak lahir engkau telah kuwarisi Anting Mustika dan Kotang Kerei Kaswargan. Anting Mustika berkhasiat akan mengingatkan engkau bilamana ada bahaya mengancam, sedangkan dengan Kotang Kerei Kaswargan engkau akan kebal terhadap senjata apa pun. Jangan sampai kedua pusaka itu lepas dari tanganmu, siapa pun yang memintanya." Ketika itu Basukarna menjawab: "Ayahanda, ... itu tergantung pada siapa yang memintanya. Jika seorang brahmana datang meminta, sebagai seorang ksatria tentu pantang bagi hamba untuk menolaknya, walaupun yang diminta itu langsung menyangkut keamanan jiwa hamba ..." Apa yang diperingatkan oleh Batara Surya memang terjadi. Esok harinya, dua hari menjelang Baratayuda berlangsung Batara Endra datang menjumpainya dalam ujud seorang brahmana tua. Seperti yang diduga oleh Batara Surya, saat itu brahmana tua yang sebenarnya penjelmaan Batara Endra meminta Anting Mustika dan Kotang Kerei Kaswargan. Tanpa menanyakan, apa alasan brahmana itu memintanya, dengan hati teguh dan ikhlas Karna menjawab: "Bilamana Bapa Brahmana memang menginginkan, ambillah. Namun hamba tidak memiliki kemampuan melepaskan kedua pusaka pemberian Ayahanda Batara Surya ini dari tubuh hamba. Hanya seorang dewa saja yang akan sanggup melepaskannya ..." Brahmana tua itu menjawab: "Jangan khawatir, ksatria mulia. Hamba sendiri yang akan melepaskannya."
Karena brahmana itu memang penjelmaan dewa, dengan mudah ia melepaskan kedua pusaka andalan Basukarna. Namun, pada saat itu sebenarnya hati kecil Endra terharu dan heran menyaksikan ketulusan hati Karna. Rasa simpati itu menyebabkan Batara Endra - yang masih dalam ujud brahmana, berkata: "Karna, engkau sungguh seorang ksatria sejati yang berbudi luhur. Sudah sepantasnya jika ksatria agung seperti Tuanku memiliki senjata pamungkas yang ampuh. Karenanya, sebagai ganti barang yang hamba ambil, terimalah pemberian hamba berupa anak panah Wijayacapa."
Basukarna: "Hamba telah menyerahkan dengan ikhlas kedua barang yang Bapa Brahmana minta. Bilamana Bapa Brahmana juga memberikan senjata pamungkas itu dengan ikhlas, dengan senang hati hamba akan menerimanya." Demikianlah, hari itu Karna kehilangan dua pusaka yang merupakan perisai dirinya, tetapi mendapat pusaka pengganti sebuah senjata pamungkas. Sehari menjelang Baratayuda, beberapa saat setelah Prabu Kresna sebagai duta yang gagal kemudian dikroyok para Kurawa sehingga terpaksa melakukan triwikrama, terjadi peristiwa sebagai berikut:
Sebelum pulang ke Kerajaan Wirata untuk me-laporkan hasil perundingannya pada pihak Pandawa, Kresna secara khusus datang menemui Karna. Pada pertemuan empat mata, raja Dwarawati itu berusaha membujuk Karna agar bersedia menyeberang ke pihak Pandawa. Saat itulah terjadi perdebatan dan adu pendapat di antara mereka.
Karna menolak bujukan itu dengan alasan, bahwa sebagai ksatria sudah selayaknya ia harus tahu membalas budi. Kurawa telah memberikan kemuliaan duniawi dan derajat kepangkatan kepadanya. Kini, tibalah saatnya bagi Karna untuk membalas budi baik para Kurawa.
Kresna: "Dinda Karna, Baratayuda yang akan dimulai esok hari, bukan perang kecil. Perang itu me-rupakan pertarungan antara pihak yang benar dengan pihak yang salah. Antara kebaikan dan keadilan me-lawan keserakahan kebatilan. Jadi, dalam hal ini soal balas budi bukanlah hal yang mutlak harus dilakukan, karena membela kebenaran bagi seorang ksatria lebih mutlak harus dilaksanakan." Karna: "Kakanda Kresna, sebagai seorang titisan Wisnu mestinya kakanda maklum, jika Adinda berpihak pada para Kurawa dan berperang melawan adik- adikku para Pandawa, bukan berarti Adinda berpihak pada keangkaramurkaan. Adinda berperang di pihak mereka semata-mata hanya menjalani darma ksatria, membalas kebaikan dengan kebaikan pula. Itu adalah kewajiban Adinda. Jika Adinda harus berperang melawan adik-adik para Pandawa, bukan berarti Adinda berperang melawan kebaikan dan kebenaran, melainkan juga hanya karena menjalani darma ksatria. Soal kalah atau menang bagi Adinda bukan lagi merupakan hal yang penting. Yang penting, sebagai ksatria Adinda harus menjalankan kewajiban sebagai prajurit menghadapi lawannya."
Kresna: "Tetapi, Dinda Karna. Dengan adanya Adinda di pihak Kurawa, tentu akan menyulitkan para Pandawa untuk memenangkan Baratayuda."
Karna: "Kakanda Kresna. Adinda tahu benar, adik-adikku para Pandawa bukan ksatria yang takut dan enggan menghadapi kesulitan."
Kresna: "Saya memahami hal itu. Namun, jika Adinda Karna mau menyeberang ke pihak Pandawa, tentu Kurawa tidak akan meneruskan niatnya menempuh jalan perang, sehingga Baratayuda dapat dicegah."
Karna: "Justru Adinda yang sebenarnya sangat menginginkan Baratayuda segera terjadi."
Kresna: "Mengapa? Peperangan akan selalu membawa penderitaan bagi banyak orang. Bilamana Adinda Karna dapat mencegahnya, mengapa itu tidak Adinda lakukan? Apa alasannya?"
Karna: "Kakanda Kresna yang bijaksana, ... Adinda telah mengenal para Kurawa, satu persatu secara pribadi sejak mereka masih kecil, sejak masih remaja. Adinda mengenal benar tabiat dan watak mereka, pendirian mereka. Adinda tahu benar akan keserakahan mereka, sifat iri, culas, dan dengki mereka. Rasanya, mereka memang dilahirkan sebagai manusia-manusia pembawa sifat buruk yang tidak lagi dapat diperbaiki. Bahkan Maharesi Bisma, Kakek Abiyasa, Begawan Drona, Resi Krepa, yang tinggi wibawanya pun tidak sanggup memperbaiki sifat-sifat buruk mereka.
Tidak satu pun saran dan nasihat baik dari para pini sepuh Astina yang mereka dengar. Mereka hanya mengikuti hasutan jahat dari Paman Sengkuni dan Ibunda Dewi Gendari. Kakanda Kresna, Adinda berpendapat tidak ada cara lain untuk memberantas keangkaramurkaan dan kebatilan yang telah belasan tahun terjadi di Astina, kecuali dengan meniadakan keberadaan mereka di dunia ini. Itulah sebabnya, bagaimana pun, Barata-yuda harus segera terjadi. Saya berketetapan hati untuk memihak Kurawa, saya sengaja membakar-bakar semangat Adinda Duryudana, saya bujuk mereka agar jangan takut berperang, ... itu semua agar Baratayuda dapat segera terjadi sebagaimana seharusnya."
Kresna: "Adinda Karna. Kakanda benar-benar menaruh hormat akan pendirian Adinda yang teguh itu. Namun dengan adanya Dinda Basukarna di pihak Kurawa, bagaimana pun, Baratayuda tentu akan berlangsung lebih lama dan korban di kedua pihak akan lebih banyak. Tidakkah hal ini Dinda pertimbangkan?"
Karna: "Adinda memahami hal itu. Namun, bu-kankah jer basuki mawa beya? Kakanda Prabu Kresna tentu sudah faham benar, Baratayuda adalah peristiwa yang menjadi sarana untuk memusnahkan segala yang jahat dan yang angkara. Untuk mencapai masyarakat dunia yang tenteram dan damai, selalu harus ada yang menjadi korban, dan selalu harus ada yang dikor-bankan. Itu sudah merupakan hukum alam yang berlaku pada zaman apa pun.
Adinda tahu, bahwa menurut takdir pada Baratayuda nanti Adinda harus berhadapan dengan Arjuna. Entah siapa yang akan kalah, dan siapa yang akan unggul, kita semua belum tahu. Seandainya Adinda yang gugur, maka Adinda ikhlas sebab pe-ngorbanan Adinda adalah untuk kemenangan adik-adik para Pandawa dan itu berarti pengorbanan Adinda adalah untuk tegaknya kebenaran dan keadilan.
Banjaran Karna 3


Demikian pula, seandainya Adinda yang menang, Arjuna pun sebagai ksatria harus ikhlas karena pengorbanannya tentu tidak sia-sia."
Kresna: "Adinda Karna, cobalah Adinda renungkan sekali lagi. Pengorbanan Adinda Karna dengan pengorbanan Adinda Arjuna, jelas berbeda. Jika Adinda Basukarna gugur dalam Baratayuda nanti, sejarah akan mencatat Adinda Karna gugur karena berperang di pihak yang salah. Adinda Basukarna tewas karena membela pihak angkara. Sedangkan jika Dinda Arjuna yang gugur, maka ia akan dianggap sebagai pahlawan pembela keberaran. Coba renungkan hal itu."
Karna: "Itu pun Adinda pahami. Namun, bukankah sebagai ksatria kita tidak boleh memperhitungkan untung rugi dalam menjalankan darmanya? Adinda berperang di pihak Kurawa karena menjalankan darma Adinda sebagai ksatria. Hamba tidak peduli lagi tentang bagaimana sejarah akan mencatat nama Adinda. Biarlah sejarah mencatat Adinda sebagai pembela nafsu angkara pihak Kurawa. Biarlah nama baik Adinda hancur karena sikap Adinda dalam menjalankan darma. Karena nama baik itu pun telah Dinda ikhlaskan sebagai pengorbanan demi tegaknya kebenaran dan keadilan .."
Prabu Kresna tidak bisa berkata-kata lagi. Dengan penuh haru dipeluknya putra sulung Kunti itu erat-erat.
"Semoga Yang Maha Mengetahui selalu memberikan berkah kepadamu, Dinda Basukarna ..." kata titisan Wisnu itu.
Setelah pertemuannya dengan Prabu Kresna, lewat tengah hari, Adipati Karna pergi ke Sungai Gangga hendak mensucikan dirinya. Hati kecilnya merasa, ia akan gugur dalam perang besar antarke-luarga Barata itu. Karenanya, sebelum menghadap pada Sang Pencipta, anak pungut Sais Adirata itu ingin lebih dahulu mensucikan tubuhnya.
Di tepi sungai yang dianggap suci itu, secara kebetulan Karna bertemu dengan Dewi Kunti yang juga baru saja selesai mensucikan tubuhnya. Sekali lagi, sebagaimana perjumpaanya dengan Prabu Kresna, kali ini Dewi Kunti juga berusaha membujuk Adipati Karna agar mau menyeberang ke pihak Pandawa. "Basukarna anakku, ... sebenar-benarnyalah bahwa engkau itu anak sulungku. Para dewa dapat menjadi saksi. Hanya karena keadaan, engkau terpaksa berpisah dengan adik-adikmu para Pandawa. Hanya karena keadaan yang membuatmu terpaksa bergabung dengan pihak Kurawa.
Namun, perang besar akan terjadi esok hari. Aku, ibumu ini, sangat berharap engkau tidak berdiri di pihak yang berlawanan dengan adik-adikmu. Bergabunglah engkau bersama kelima adikmu. Jika harapanku ini engkau kabulkan, berarti engkau membahagiakan wanita yang pernah melahirkanmu." Dengan penuh hormat Karna menjawab: "Ibunda Dewi Kunti yang amat hamba hormati. Hamba mengerti, keadaan telah membuat hamba terpaksa berpisah dengan adik-adik hamba. Hamba juga mengerti bahwa karena keadaan pula hamba sekarang berdiri di pihak Kurawa yang merupakan lawan para Pandawa, adik-adik hamba.
Namun, bukankah kita tidak dapat hanya menyalahkan keadaan? Bilamana Ibunda Dewi Kunti mengharapkan agar hamba menyeberang ke pihak Pandawa dan meninggalkan Kurawa, maka itu berarti hamba menyalahi darma hamba sebagai seorang ksatria. Hamba akan menjadi pengkhianat bagi Kurawa yang selama ini telah memberikan derajat dan kemuliaan pada hamba. Hamba akan menjadi manusia yang tidak tahu membalas budi, yang membalas kebaikan orang dengan pengkhianatan. Baratayuda yang akan dimulai esok hari, bukan alasan bagi hamba untuk mengecewakan harapan para Kurawa yang mengandalkan kekuatan hamba..."
Kunti: "Karna, Anakku. Ibunda mengerti, engkau adalah prajurit sejati. Engkau seorang ksatria utama. Namun, cobalah engkau renungkan barang sejenak. Selain harus menjalani darmamu sebagai seorang ksatria, engkau pun mempunyai kewajiban menjalankan darmamu sebagai seorang putra terhadap ibumu. Tidak adakah keinginanmu untuk membahagiakan wanita yang telah melahirkanmu?"
Karna: "Ibunda Dewi Kunti, junjungan hamba. Tentu saja hamba ingin membahagiakan Ibunda Dewi. Hamba ingin agar Ibunda Kunti dapat merasakan kebahagiaan serta bangga, bilamana hamba dapat menjalankan darma hamba sebagai seorang ksatria."
Kunti: "Tetapi ..., Karna Anakku. Engkau tentu juga tahu, dalam Baratayuda nanti besar kemungkinan engkau akan berhadapan dengan adikmu, Arjuna. Tidak bisa tidak, salah satu dari kalian berdua akan menjadi korban kekejaman perang besar itu. Dapatkah engkau membayangkan, betapa remuknya hati seorang ibu, manakala ia tahu dua orang putranya saling ber-hadapan di medan perang dengan tekad akan saling membunuh? Dapatkah kau bayangkan itu, anakku?"
Kunti tidak lagi dapat menahan air matanya. Basukarna pun terharu mendengar kata-kata yang diucapkan oleh wanita yang dulu melahirkannya itu. Namun, dengan menguatkan hati, Basukarna berkata dengan lembut: "Ibunda Dewi Kunti yang hamba hormati. Hamba yang hina ini memahami benar kepedihan hati Ibunda Dewi. Namun hamba mohon, .... anggaplah kepedihan itu sebagai pengorbanan Ibunda untuk ketentraman dan kedamaian masyarakat banyak. Ibunda tentu juga tahu, bahwa Baratayuda adalah salah satu sarana dan jalan untuk membebaskan dunia dari keangkaramurkaan yang selama ini dilakukan oleh para Kurawa. Semua orang yang melangkah pada jalan darmanya harus ikut berkorban demi ketentraman dunia. Ada yang ditakdirkan harus mengorbankan jiwanya, ada yang harus mengorbankan suaminya, mengorbankan orang yang disayanginya, dan tentunya tidak terkecuali Ibunda Dewi.
Bilamana ternyata dalam Baratayuda nanti Adinda Arjuna yang terpaksa menjadi korban, maka ia akan gugur sebagai pahlawan. Ibunda Dewi dapat membanggakannya, walaupun tentu dalam kesedihan seorang ibu yang kehilangan putra. Demikian pula, bilamana hamba yang tewas dalam perang tanding itu, Ibunda Dewi pun boleh merasa bangga karena hamba tewas dalam menjalankan darma hamba sebagai seorang prajurit, sebagai ksatria. Jika hamba gugur, maka hamba bukan mati sebagai pengkhianat" Kunti merasa, tidak akan ada manfaatnya ia membujuk Karna lebih lanjut.
Sekarang ibu para Pandawa itu tahu benar keteguhan hati anak sulungnya itu. Karena itu, Kunti lalu berkata: "Anakku, Karna. Aku tidak lagi dapat merangkai kata-kata. Kesedihanku sebagai seorang ibu, membuat tenggorokanku serasa tersumbuat. Tetapi, ... kumohon kepadamu, izinkan aku memelukmu, anakku. Puluhan tahun, sejak engkau masih berujud bayi merah, aku telah kehilangan engkau. Aku tidak berkesempatan merawat, memelihara dan mengasihimu. Untuk itu, maafkanlah Ibumu ini. Biarlah aku memelukmu barang sejenak, anakku ...." Dengan air mata bercucuran Dewi Kunti memeluk anak sulungnya, menciumi ubunubunnya, sambil berkata terisak di sela tangisnya: "Restuku untukmu, anakku. Doaku untukmu, buah hatiku ...."
Pertimbangan Karna dalam mengambil keputusan itu adalah, karena sebagai ksatria ia harus tahu membalas budi kepada Kurawa yang sudah memberinya kedudukan, kemuliaan, derajat dan pangkat. Tanpa bantuan Suyudana dan keluarga Kurawa lainnya, ia akan tetap dikenal sebagai anak sais kereta Adirata. Pertimbangan yang lain adalah, jika ia tidak ikut beperang, mungkin Baratayuda akan gagal, batal, tidak terlaksana, karena bisa jadi Duryudana akan memilih jalan damai. Dan, jika ini terjadi berarti kesewenangan di dunia akan tetap berjalan terus.
Sikap Basukarna yang siap untuk mati dalam perang juga dibuktikan ketika ia menolak tawaran bantuan Naga Ardawalika yang diam-diam akan ikut menyerang Arjuna. Walaupun tawaran bantuannya ditolak, ketika tahu bahwa Adipati Karna gugur, Ardawalika atas inisiatifnya sendiri langsung menyerang Arjuna, tetapi ksatria Pandawa itu pun berhasil membunuhnya. Dalam Baratayuda, Basukarna sebagai panglima perang di pihak Kurawa, pada hari ke-15 berhasil membunuh Gatotkaca dengan senjata Kunta Wijayandanu. Penggunaan senjata pamungkas ini sebenarnya sama sekali di luar rencananya.
Sejak ia menerima Kunta dari tangan Batara Narada, ia merencanakan penggunaan senjata sakti yang hanya dapat sekali digunakan itu untuk menghadapi Arjuna. Hati kecil Basukarna memang menaruh dendam pada Arjuna sejak ksatria Pandawa itu menghinanya di hadapan umum dengan menolak mengadu ketrampilan dengannya.
Namun sewaktu Gatotkaca memporakporandakan barisan prajurit Kurawa dan membunuh beberapa adik Duryudana, penguasa Astina itu mulai khawatir. Di tengah pertempuran Duryudana mencari Basukarna dan memintanya untuk menghadapi Gatotkaca. Semula Adipati Karna menolak karena ia sedang mencaricari Arjuna. Duryudana lalu meng-ingatkan, bahwa perang ini bukan perang pribadi. Ia minta agar Basukarna melupakan dulu dendam pribadinya, dan lebih memikirkan kemenangan bagi seluruh Kurawa. Karena desakan Duryudana ini, Basukarna terpaksa menghadapi Gatotkaca. Putra Bima itu memang berhasil dikalahkannya, namun dengan demikian ia kehilangan Kunta Wijayandanu.
Waktu berperang tanding melawan Arjuna, Basukarna sudah tidak lagi memiliki senjata andalan. Supaya dirinya sederajat dengan Arjuna, ia minta agar mertuanya Prabu Salya bersedia menjadi saisnya. Alasannya, kereta perang Arjuna dikemudikan Sri Kresna, raja Dwarawati. Agar seimbang dan tampak sederajat, kereta perangnya juga harus dikendalikan seorang raja, dan menurut anggapannya, yang paling tepat adalah Prabu Salya. Permintaan ini amat menyakitkan hati Prabu Salya dan serta merta raja Mandraka itu mendampratnya, dan mengatakannya sebagai menantu yang tidak tahu diri. Duryudana dengan cepat melerai, kemudian membujuk Prabu Salya. Hanya karena bujukan Duryudana, akhirnya Salya mau menuruti permintaan Basukarna. Peristiwa itu menambah kebencian raja Mandraka itu pada menantunya itu. Di medan perang Karna menggunakan kereta perang bernama Jatisura, sedangkan kereta perang Arjuna bernama Jaladara. Kedua kereta perang yang berisi dua ksatria utama itu seolah menjadi primadona pertempuran.
Banjaran Karna 4


Pada suatu kesempatan Basukarna melepaskan panah pusakanya Wijayacapa, dibidikkan tepat ke leher Arjuna. Namun, pada saat yang tepat Prabu Salya menarik tali kekang kuda, sehingga kereta perang yang dikendarainya tergoncang. Panah Wijayacapa meluncur deras, tetapi bidikannya tidak tepat lagi. Panah sakti itu hanya menyambar mahkota gelung rambut Arjuna. Sesaat berikutnya Arjuna me-lepaskan anak panah pusaka Pasopati dan tepat menebas leher Basukarna. ***)
Karna yang berperang dengan sepenuh hati akhirnya gugur sebagai ksatria utama dalam Baratayuda, sebagaimana dikehendakinya. Ia telah mendarmabaktikan jiwanya pada Kerajaan Astina yang telah mengangkat derajatnya dari kedudukan anak sais menjadi seorang adipati. Ia juga telah merelakan jiwanya untuk membahagiakan Dewi Kunti, ibu kandung yang tidak pernah menyusui, mengasuh, dan mengasihinya. Karena jika bukan dia yang gugur, maka Arjunalah yang harus tewas dalam perang tanding itu. Dan, bila ini terjadi tentu akan membuat ibunya lebih berduka.
Sementara itu, ketika tubuh Karna roboh ke bumi, keris Kyai Jalak Kaladite yang disandangnya lepas dari warangkanya (sarung keris) dan melayang, melesat ke arah dada Arjuna. Tetapi Arjuna yang selalu waspada segera menangkis serangan keris itu dengan gendewa pusakanya.
Basukarna, seorang anak yang terbuang sejak bayi, seorang anak pungut sais kereta bernama Adirata, gugur dalam keyakinan untuk menjalankan darmanya sebagai ksatria utama.
CATATAN KAKI = ***) Menurut salah satu versi Ma-habarata di India, Basukarna gugur karena siasat licik Kresna. Waktu itu salah satu roda kereta perang Karna terperosok ke dalam lumpur. Karna lalu melepaskan seluruh senjatanya, turun dari kereta, kemudian mencoba mendorong kereta itu untuk membebaskan roda kereta yang terbenam di lumpur. Pada saat itu Kresna memberi isyarat, agar Arjuna melepaskan anak panahnya. Jadi, Karna terpanah dalam keadaan tidak bersenjata; sesuatu yang sebenarnya terlarang dalam Baratayuda.
Dari perkimpoiannya dengan Dewi Surtikanti, putri Prabu Salya, Basukarna mendapat dua orang putra, yaitu Warsasena dan Warsakusuma. Kelak Warsakusuma kimpoi dengan Dewi Lesmanawati, putri Prabu Anom Duryudana. Dengan demikian, hubungan Basukarna dengan Duryudana, selain sebagai ipar, ia juga merupakan besan.
Dewi Surtikanti meninggal karena bunuh diri. Pada saat Baratayuda berlangsung, ia selalu mengikuti berita dari medan perang yang disampaikan oleh Patih Adimanggala, yakni patih Kadipaten Awangga. Suatu hari, patih Kadipaten Awangga itu menyampaikan be-rita yang tidak jelas, sehingga Dewi Surtikanti salah mengerti. Ia mengira suaminya gugur di palagan Baratayuda. Tanpa piker panjang Surtikanti bunuh diri dengan mencabut patrem (keris kecil) lalu menusukkannya ke dadanya sendiri. Kematian Dewi Surtikanti membuat Adipati Karna amat marah. Ia mempersalahkan Adimanggala. Tanpa banyak bicara Karna segera membunuh Patih Adimanggala.
Tetapi versi lain menyebutkan, Patih Adimanggala gugur bersama (sampyuh - Bhs. Jawa) ketika ia bertempur melawan Patih Udawa, abang satu ibu lain ayah.
Perkimpoian Basukarna alias Basusena dengan Dewi Surtikanti sebenarnya dapat berlangsung dengan bantuan Arjuna.
Kisahnya begini:
Suatu ketika Keraton Mandraka geger karena Dewi Surtikanti dilarikan oleh seorang ksatria muda yang tampan. Mulanya ksatria itu memasuki keputren dan berasyikmasyuk dengan Dewi Surikanti. Ketika mereka dipergoki para dayang istana dan terjadi keributan, ksatria itu segera lari membawa sang Dewi. Para prajurit yang berusaha menghalanginya, tidak sanggup menghadapi kesaktian ksatria tampan itu. Kejadian ini membuat marah Prabu Salya dan Prabu Anom Duryudana, karena sebenarnya Dewi Surtikanti akan dikimpoikan dengan raja muda Astina itu. Dari keterangan para dayang, yang menyebut bahwa pria yang melarikan sang Putri itu sangat tampan, Prabu Salya dan Duryudana langsung menuduh Permadi (nama panggilan Arjuna selagi muda) sebagai pelakunya. Permadi mencoba membantah, namun tidak seorang pun yang percaya.
Resi Bisma lalu mengambil kebijaksanaan: Permadi harus mencari pelaku penculikan atas Dewi Surtikanti dalam waktu tiga hari. Bila dalam waktu itu Permadi tidak berhasil, maka ia akan dijatuhi hukuman sebagai si Penculik. Permadi sanggup.
Dalam waktu singkat, Permadi menemukan Dewi Surtikanti di Istana Awangga. Karenanya, ksatria Pandawa itu minta agar Basukarna menurut dibawa ke Mandraka sebagai tertuduh. Karna menolak, dan terjadilah perang tanding. Adu ketrampilan dan kesaktian di antara keduanya begitu seru sehingga kahyangan goncang karenanya. Batara Narada lalu turun ke dunia untuk melihat apa yang menjadi penyebabnya. Setelah tahu apa yang terjadi, dewa itu segera melerainya. Narada menjelaskan bahwa sebenarnya keduanya bersaudara. Diterangkan, Karna sebenarnya adalah putra sulung Dewi Kunti yang ketika masih bayi dibuang ke Sungai Gangga dan ditemukan oleh Adirata. Sedangkan Permadi adalah anak Kunti yang keempat. Dengan penjelasan itu mereka pun berdamai. Basukarna bersedia membawa kembali Dewi Surti-kanti ke Mandraka, karena Permadi menyanggupi akan memintakan maaf pada Prabu Salya, sekaligus membujuknya agar Karna diterima sebagai menantu. Usaha Permadi ini berhasil. Basukarna diakui oleh Prabu Salya
sebagai menantu, walaupun hati kecilnya masih tetap tak menyukai Karna, yang
dianggapnya telah memberikan malu kepadanya. Sedangkan Duryudana yang amat kecewa karena gagal kimpoi, terpaksa menerima kenyataan itu. Lagi pula, Duryudana juga berusaha tetap memelihara persahabatannya dengan Karna, yang diharapkan bantuannya pada saat pecah Baratayuda kelak.
Dalam pewayangan di Indonesia, mengenai peran Basukarna dalam memantik api perang Baratayuda ada dua versi.
Sebagian dalang menceritakan bahwa Basukarna sengaja menyulut api perang dengan maksud agar angkara murka keluarga Kurawa cepat hancur punah dengan terjadinya perang besar itu. Ia tahu benar kekuatan Kurawa dan sekutunya tidak akan sanggup menandingi para Pandawa, namun ia membesar-besarkan hati dan membakar semangat Prabu Anom Duryudana, sehingga penguasa Astina itu memilih jalan peperangan daripada perdamaian. Guna menyirnakan angkara murka, ia sanggup mengorbankan jiwanya, dan bahkan juga nama baiknya.
Sebagian dalang yang lain menyebutkan, sikap Basukarna menyulut api peperangan disebabkan karena dendamnya pada para Pandawa, terutama pada Arjuna yang dinilainya angkuh.
Gambaran tentang pribadi Basukarna dalam pewayangan pada umumnya memang sedikit lebih baik dibandingkan dengan yang tergambar dalam Kitab Mahabarata.
Dalam Mahabarata, selain dendam pada Arjuna, Adipati Awangga itu juga sangat membenci Dewi Drupadi. Kebencian Basukarna pada Dewi Drupadi disebabkan karena peristiwa berikut ini:
Ketika Prabu Drupada, raja Pancala (di pewayangan Pancala disebut Cempalaradya) hendak men-carikan jodoh bagi Dewi Drupadi, Basukarna adalah salah seorang pesertanya. Setelah para peserta lain gagal mengangkat gendewa pusaka, Karna ternyata sanggup.
Namun pada saat itu Dewi Drupadi berseru dengan nyaring: "Saya adalah putri raja besar, tidak akan mungkin saya menikah dengan pria berdarah sudra (orang biasa, bukan bangsawan)."
Kata-kata Dewi Drupadi ini amat menyakitkan hati Basukarna. Tanpa bicara apa pun ia lalu berjalan keluar istana.
Kelak, ketika Pandawa kalah main dadu dan Drupadi sebagai barang taruhan dipanggil untuk diper-malukan oleh para Kurawa, Basukarna berkesempatan membalas sakit hatinya. Waktu itu Adipati Karna sengaja memanas-manasi Dursasana agar menelanjangi Dewi Drupadi di hadapan umum.
Garjendramuka


Negara Ragastina adalah negara besar. Wilayahnya luas dan pasukannya kuat. Yang menjadi raja bernama Prabu Garjendramuka. Raja Garjendramuka berwujud aneh. Dari leher sampai kaki adalah manusia. Sedangkan kepalanya kepala gajah. Mungkin hal tersebut menjadi perlambang bahwa Prabu Garjendramuka. menempatkan binatang gajah sebagai sumber kekuatan dan kesaktian. Ia membangun negaranya menjadi besar dan kuat, laksana gajah. Gelar Patih kerajaan dan para panglima perang juga memakai nama serba gajah, yaitu : Patih Watu Gajah, panglima perang Gajah Oya dan Liman Benawi (liman = gajah). Yang aneh lagi adalah penasehat raja wujudnya gajah, bernama Gajah Antisura. Karena kebesarannya negara Ragastina disegani oleh kawan dan ditakuti oleh lawan.

Ada pepatah mengatakan bahwa semakin tinggi sebuah pohon akan semakin tinggi pula pula angin menerpa. Demikian juga yang dialami Prabu Grajendramuka, semakin banyak orang segan dan takut padanya, ia justru semakin arogan. congkak, sombong dan memandang rendah kerajaan-kerajaan lain.

Pada suatu hari Sang Raja tidak bisa mengendalikan lagi hasratnya untuk memperisteri Bathari Reguwati, putri Batara Siwah di kahyangan Sela Gumilang. Dengan kesaktiannya, Prabu Garjendramuka berhasil menculik Batari Reguwati dan disembunyikan di negara Ragastina. Batara Siwah cemas dan sedih atas hilangnya putri kesayangannya. Segera ia meninggalkan kahyangan Sela Gumilang pergi mencari putrinya yang hilang tak tahu rimbanya.

Kesewenang-wenangan Prabu Garjendramuka semakin menjadi-jadi. Setelah berhasil menculik Batari Reguwati, ia menuju Kahyangan Paranggudadi di dasar samodra, menemui Batara Baruna untuk meminta pusaka Bokor Inten yang berisi Wedi Retnojumanten. Karena tidak diperbolehkan, Prabu Garjendramuka mengambil paksa pusaka tersebut yang disimpan di kancing gelung Batara Baruna. Batara Baruna merasa malu atas perlakuan yang tidak hormat. Maka keluarlah kutuk dari mulut Batara Baruna bahwa Bokor Inten yang berisi Wedi Retno jumanten tidak akan membawa bahagia, tetapi sebaliknya. Prabu Garjendramuka akan binasa dengan semua kebesarannya.

Sementara itu Batara Siwah yang mencari puteri kesayangannya, sampailah di hutan Cebokcengkiran. Tanpa sengaja Batara Siwah menemukan Bambang Gutama yang sedang bertapa. Keduanya saling membuka pembicaraan. Batara Siwah mengatakan bahwa ia sedang mencari putrinya, yaitu Batari Reguwati yang hilang. Siapa pun, tanpa kecuali yang dapat menemukan Batari Reguwati akan dikimpoikan dengannya. Bambang Gutama juga mengatakan bahwa tujuannya ia bertapa adalah untuk memohon isteri bidadariuntuk pendamping hidupnya.

Gayung pun bersambut, Bambang Gutama menyanggupi untuk mencari dan menemukan kembali Batari Reguwati. Atas kesanggupan Bambang Gutama, Batara Siwah memberikan pusaka yang bernama Jungkat Penatas, untuk sipat kandel agar Bambang Gutama berhasil menemukan dan meyelamatkan Batari Reguwati.

Kisah selanjutnya Bambang Gutama dapat menemukan Dewi Reguwati yang disembunyikan di Taman Ragastina. Sang Batari Reguwati dijaga ketat oleh tiga bersaudari, adik dari Prabu Garjendramuka, yang bernama: Dewi Leng-leng Ndari, Leng-leng Agi dan Leng-leng Adi. Bambang Gutama mengutarakan bahwa kedatangannya menemui Batari Reguwati diutus oleh Batara Siwah untuk membebaskannya dari cengkeraman Prabu Garjendramuka.

Batari Reguwati gembira. Dengan mata berbinar senang, tanpa rasa canggung, tangan Bambang Gutama dipegangnya erat-erat. Walau tanpa sepatah kata pun, Bambang Gutama dapat menangkap kehendak Batari Reguwati, bahwasannya ia telah mempercayakan diri dan pasrah sepenuhnya kepada Bambang Gutama.

Walaupun Dewi Reguwati sudah berada di depannya, tidak mudah bagi Bambang Gutama untuk membebaskan dan membawanya pergi. Dikarenakan Prabu Garjendramuka telah mendapat laporan dari para saudarinya bahwa ada duratmaka, pencuri yang masuk di taman keputren dan ingin membawa pergi Batari Reguwati

Maka sebelum Bambang Gutama bertindak Prabu Garjendramuka menghadang di depannya. Setelah saling bersitegang, sebentar kemudian keduanya terlibat dalam pertempuran. Keduanya sama-sama sakti. Karena tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah, Bambang Gutama mengeluarkan senjata Jungkat Peñatas pemberian Batara Siwah. Prabu Garjendramuka mulai terdesak. Dan ketika ia lengah senjata Bambang Gutama berhasil melukai Prabu Garjendramuka dan ambruklah ia di medan perang. Ia merintih kesakitan. Batari Reguwati mendekatinya. Prabu Garjendramuka mohon untuk disempurnakan. Batari Reguwati menyanggupinya, asalkan ia mengembalikan pusaka Bokor Inten yang berisi Wedi Retnojumanten yang diambil paksa dari kancing gelung Batara Baruna.

Apa mau dikata, walaupun rasa angkara masih mencengkeram hatinya, raganya tak kuasa lagi menyangga. Batari Reguwati melepaskan kerisnya ke tubuh Prabu Garjendramuka menyusul senjata Bambang Gutama.

Kematian Prabu Garjendramuka diikuti oleh kematian Patih Watu Gajah, Antisura, Gajah Oya, Liman Benawi, Dewi Leng-leng Ndari, Dewi Leng-leng Agi dan Dewi Leng-leng Adi.

Keelokan terjadi, bersamaan dengan kematian Prabu Garjendramuka, para pengikut dan saudaranya, negara Ragastina hilang dan berubah menjadi hutan.

Kelak jika sudah sampai pada waktunya, hutan tersebut akan di babad dan di atasnya didirikan Negara besar. Nama dari negara itu adalah Hastinapura yang artinya pura gajah, atau juga disebut Liman Benawi. Nama wilayahnya juga memakai nama-nama Gajah seperti misalnya: Kadipaten Gajah Oya, Pakuwon Watu Gajah dan taman Kadilengleng.

Entah disengaja atau tidak, nama-nama tersebut sepertinya memunculkan kembali kebesaran Prabu Garjendramuka yang telah lama tenggelam dari sejarah belantara kehidupan.

Apakah itu suatu pertanda bahwa watak angkara dari Prabu Garjendramuka tidak akan pernah mati dan akan muncul kembali di negara baru yang bernama Hastinapura?
Seri Cerita Ramayana

Anggada Balik


Lakon ini dikisahkan terjadi setelah Prabu Dasamuka tewas, dan Ramawijaya dan anak buahnya menududuki Kerajaan Alengka. Gunawan Wibisana, adik Dasamuka, minta agar Rama mau menjadi raja di Alengka, tetapi Rama menolak. Ia memutuskan akan mengangkat putra Prabu Dasamuka yang masih hidup, yaitu Dasawilukrama.

Keputusan itu tidak disetujui oleh Anggada, karena itu ia pergi meninggalkan Rama. Anoman yang berusaha membujuk tidak berhasil.

Ternyata kepergian Anggada adalah untuk memata-matai Dasawilukrama yang sesungguhnya menyimpan rasa dendam pada Ramawijaya yang telah membunuh ayahnya.

Dendam Dasamilukrama mendapat dukungan dari arwah Dasamuka yang bernama Godayitma. Dari Godayitma, Dasawilukrama mendapat sebilah keris bernama Kyai Pecatyitma, yang harus digunakan untuk membunuh Rama.

Pada suatu kesempatan Dasawilukrama berhasil memasuki tempat peraduan Rama, dan siap menusukkan keris Kyai Godayitma ke tubuh Sri Rama. Pada saat yang tepat, Anggada melompat merebut keris itu dari tangan Dasawilukrama. Agar mengalihkan tuduhan, Dasawilukrama berteriak menuduh Anggada akan membunuh Rama. Teriakan itu didengar Anoman yang segera datang meringkus keduanya.

Rama bingung bagaimana mengadili keduanya, karena Anggada dan Dasawilukrama masing-masing menuduh lainnya sebagai pembunuh. Akhirnya Gunawan Wibisana memberi saran, agar keduanya diadu sampai mati. Yang menang itulah yang tidak bersalah.

Godayitma, arwah Dasamuka, amat kecewa dengan kegagalan Dasawilukrama. Karena itu ia menghukum anaknya dengan cara keluar dari raga Dasawilukrama dan masuk ke raga Anggada. Karenanya, tiba-tiba Anggada menjadi buas, dan menggigit leher Dasawilukrama sampai putus.

Sesudah Dasawilukrama tewas ditusuk dengan keris Kyai Pecatyitma, Anggada melompat ke arah Rama untuk menusuknya. Untunglah Anoman waspada dan meringkusnya. Dalam jepitan tangan Anoman, Anggada dimanterai oleh Gunawan Wibisana sehingga arwah Godayitma dapat diusir dari kera berbulu merah itu.
Setelah sadar, Anggada segera bersujud di hadapan Ramawijaya.
Seri Cerita Ramayana

Kembang Dewaretna


Prabu Dasamuka, raja Alengka, berpikir keras untuk memenangkan perang melawan bala tentara kera anak buah Ramawijaya.

Untuk memenangkan perang, Dasamuka merebut Kembang Dewaretna dari tangan Batara Danaraja alias Batara Kuwera. Sang Dewa berusaha mempertahankan, tetapi gagal. Ia kemudian mencipta seekor kera berbulu kuning dari seekor kumbang yang selama ini selalu bersama dengan Kembang Dewaretna. Kera jadi-jadian itu dinamakan Kapi Pramuja, dan diperintahkan mengabdi pada Sri Rama.

Setelah Kapi Pramuja menghadap Rama, ia diperintahkan mengambil kembali Kembang Dewaretna yang dirampas Dasamuka.

Sebelum berangkat ke Alengka, Kapi Pramuja lebih dulu menghadap Batara Surya dan mohon agar dewa itu menciptakan seribu matahari.

Sewaktu orang Alengka, termasuk Prabu Dasamuka, sedang mengagumi sinar matahari di langit, Kapi Pramuja menyusup ke Keraton Alengka. Dengan penciumannya yang amat tajam, Kapi Pramuja berhasil menemukan Kembang Dewaretna dan membawanya kabur dari Alengka.

Dasamuka marah besar pada Patih Prahasta karena hilangnya Kembang Dewaretna, karena Prahastalah yang diserahi tanggung jawab. Raja Alengka itu mengingatkan bahwa Prahasta masih punya tanggung jawab lain, yaitu menjaga pedang pusaka Kyai Mentawa. Prahasta harus mempertaruhkan jiwanya untuk menjaga pedang itu.

Dalam pada itu, setelah menerima Kembang Dewandaru, Rama yakin bahwa prajurit keranya akan menang karena bunga sakti itu berkhasiat melindung keselamatan para kera.

Agar lebih yakin akan datangnya kemenangan, Rama memerintahkan Patih Anila untuk merampas pedang Kyai Mentawa dari Alengka. Anila berangkat ke Alengka, dan untuk merampas pedang itu terpaksa berperang tanding dengan Patih Prahasta.

Anila kewalahan, dan melarikan diri, tetapi tetap dikejar Prahasta. Sesampainya di perbatasan Alengka dan Hutan Dandaka, Anila melihat sebuah tugu batu. Segera dicabutnya tugu itu, dan digunakan untuk memukul kepala Prahasta.

Seketika itu juga Prahasta roboh, dan gugur. Tugu yang digunakan sebagai gada lenyap, dan muncullah bidadari Dewi Indradi.

Tugu itu ternyata penjelmaan Dewi Indradi yang dikutuk. Setelah berubah ujud menjadi bidadari, ia segera kembali ke Kahyangan.
Seri Cerita Ramayana

Sinta Obong


Ceritanya terjadi sesudah Ramawijaya dan anak buahnya berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Alengka, dan tewasnya Prabu Dasamuka. Sesudah Alengka kalah dan Dewi Sinta dibebaskan, Ramawijaya kembali ke Ayodya.

Beberapa waktu setelah Ramawijaya menjadi raja di Ayodya, ia mendengar desas-desus, bahwa rakyat Ayodya tidak yakin akan kesucian Dewi Sinta, karena istri Rama itu 12 tahun lamanya berada dalam sekapan Prabu Dasamuka.

Keraguan rakyat Ayogya yang mempengaruhi Ramawijaya itu membuat Dewi Sinta merasa perlu untuk membuktikan kesuciannya. Kemudian Dewi Sinta minta agar dirinya dibakar hidup-hidup, dan bilamana tubuhnya tidak termakan api, berarti ia tetap suci, walaupun selama 12 tahun berada di dalam kekuasaan Dasamuka.

Ketika api mulai berkobar, Batara Agni melindungi tubuh dan pakaian Sinta, sehingga tidak hangus dijilat api.
Pada lakon ini juga diceritakan tentang Kapi Jembawan, seekor tua kera yang sedih karena rupanya yang buruk. Sesudah bertapa, Batara Narada datang menemuinya, dan mengatakan bahwa ujud sebagai kera sudah nasibnya. Namun, pada dewa berkenan akan memberikan keturunan yang mulya bagi Kapi Jembawan. Batara Narada lalu mengubah ujud Jembawan menjadi Laksmana tiruan, dan disuruh menjumpai Dewi Trijata di Alengka.

Dewi Trijata menyanbut kedatangan Laksamana tiruan dengan suka cita karena diam-diam ia memang jatuh cinta pada Laksmana. Terjadilah cumbu rayu di antara mereka.

Ketika kejadian ini dilaporkan Sri Rama, segera Laksama asli disuruh menjumpai Laksamana tiruan. Terjadilah perang tanding antara yang asli dengan yang tiruan, dan saat itu yang tiruan menjelma kembali menjadi Jembawan.

Rama kemudian memutuskan Jembawan menjadi suami Dewi Trijata, sebab itu memang sudah jodohnya.
Manumayasa Rabi


Sang Hyang Girinata, berkehendak akan menjodohkan bidadari Dewi Retnawati dan resi Manumayasa, Dewi Kanastri dan Janggan Semarasanta. Menyadari bahwasanya Resi Manumayasa belum berkeinginan akan kimpoi, kedua bidadari diganti perwujudanya dengan bentuk dua ekor harimau, kepada sang Hyang Narada diserahkan agar segala kehendak sang Hyang Girinata terlaksana.

Di tengah hutan belantara, Resi Manumayasa dan Janggan Semarasanta, yang tengah berkelana, bertemu dengan kedua harimau jadian tersebut, akhirnya harimau dapat dibunuh, sehilangnya kedua harimau, tampak kedua bidadari tersebut, resi Manumayasa mengejarnya. Sang Hyang Narada yang merasa berhasil dalam mempertemukan resi Manumayasa dan Dewi Retnawati, Janggan Semarasanta dan Dewi Kanastri, segera mendekati sang resi, seraya berkata, “, Resi Manumayasa, dan kau Janggan Semarasanta, sudah takdir dewa, bahwasanya bidadari-bidadari, Dewi Retnawati menjadi jodoh Manumayasa, dan Dewi Kanastri dengan Semarasanta, terimalah”.

Pada suatu hari Dewi Retnawati mengajak suaminya Resi Manumayasa, untuk berkelana mengelilingi wukir Retawu, ditengah-tengah hutan belantara, Sang Dewi melihat buah Sumarwana, berkeinginan sekali memakannya, kepada sang Resi dimintanya memetik.

Syahdan, buah Sumarwana itu milik gandarwa Satrutapa, sesuai dengan sabda dewa yang diterimanya”, hai Satrutapa, jika istrimu menginginkan mempunyai anak, makanlah buah Sumarwana itu”, maka ditungguilah buah Sumarwana itu sampai saat dapat dipetik dan dimakan.

Mengetahui bahwasanya buah Sumarwana telah hilang, berkatalah gandarwa Satrutapa kepada Resi Manumayasa”, hai sang resi, jika kelak istrimu melahirkan anak lelaki, namailah Sakutrem”’ hilanglah gandarwa Satrutapa, bersatu jiwa dengan Dewi Retnawati

Datanglah kemudian Prabu Karumba, raja raksasa dari Pringgadani dengan segenap prajuritnya, untuk menggempur wukir Saptaarga, dan menawan resi Manumayasa, sesuai perintah pamandanya raja Basumurti, dari Wirata, yang diperkirakan akan memberontak terhadap kerajaan pamandanya. Prabu Karumba mati oleh resi Manumayasa, demikian pula semua prajuritnya tewas.
Quote:


gimana gitu waktu baca lakon tentang sumantri & sukrasana iniemoticon-Belo dulu waktu liat langsung lakon ini juga pengen nangisemoticon-Frown sedih bgt, kasian si sukrasanaemoticon-Berduka (S)

pernah dengerin lakon2 yg dibawakan ki seno nugroho, gan???

baca kisah cinta werkudara & nagagini co cwiiitttemoticon-Peluk
sori salah posting.
bagaimn puh,, akhir crita pewayangan ini??? stelah parikesit???
Quote:

bner bro.. cerita sumantri sukrasana ini emang bner2 menyedihkan.. apalagi kalo di bawakan oleh dalang2 dg karkter yg kuat.. bner2 kasihn ma nasib sukrasana.
Lom pernah kalo ki Seno Nugroho.
Quote:


setelh parikesit kan emang masi panjang.. sperti cerita Anoman Swarga, itu jaman cucunya parikesit.
Sakutrem Rabi


Syahdan raja Wirata, Prabu Basumurti berkehendak berburu binatang dan burung, terlaksanalah sudah banyak hasil perburuahannya, atas kehendak raja, diperintahkan kepada patih Wirata, Jatidenda, untuk mengadakan sedekah uang kepada orang-orang pedesaan.

Seorang cantrik bernama Janaloka sedang tekun menunggu pohon Sriputa, tak tergoyahlah hatinya untuk mengumpulkan uang sedekah raja yang berserakan disekitarnya. Raja Basumurti segera mengutus adiknya yang bernama raden arya Basukesti, untuk menanyainya, berkatalah, ”Hai, Janaloka, apa sebab kau tak sudi mengumpulkan uang sedekah raja?”. Dijawabnya, ”Raden, takut hamba akan singit dan wingit”, raden arya Basukesti melanjutkan pertanyaannya, ”apa yang kaumaksudkan dengan kata-katamu itu?’. Janaloka menerangkanya, ”Wahai raden arya Basukesti, hamba takut akan singitnya kayu Sriputa dan wingitnya sang raja”’ segera raden arya Basukesti menebang kayu Sriputa, Janaloka segera berucap ,”Ketahuilah raden setelah tertebang kayu Sriputa, wajah raden kelihatan sangat bercahaya, sesungguhnya singit dan wingit sudah ada pada raden arya Basukesti”. Kepada Janaloka, dipesan, ”Kelak, jika aku menjadi raja, Janaloka datanglah menghadap kepadaku”.

Segera setelah prabu Basumurti (Basurata) kembali ke istana, mangkatlah beliau, adik raja, raden arya Basukethi dinobatkan sebagai penggantinya, dengan sebutan Prabu Basukethi raja Wiratha. Janakoka Memenuhi pesan raden arya Basukethi, oleh sang prabu Wiratha, diangkatlah sebagai warga istana, dengan gelar arya Janaloka. Kepada segenap empu dan pandai besi istana Wiratha, sang raja menginginkan dibuatnya macam ragam alat-alat bunyi-bunyian kelengkapan perang, yaitu: gurnang, thong-thong grit, gubar, puk-sur, teteg, gendhang, bendhe, gong dan beri. Patih Jatidhendha berdatang sembah, melaporkan, melaporkan muksanya Resi Brahmana Kestu, pula diceritakannya tampak sekarang ditempat kediaman Brahmakestu suatu keelokan, adanya Jamurdipa yang tumbuh. Sang raja segera menyaksikannya, Jamurdipa yang bercahaya bagaikan meraih angkasa segera hilang, tampak oleh sang raja cahaya pula yang terang benderang yang beralih diwajah sripaduka Basukethi.

Raja Wiratha, Basukesthi merasa dirinya sangat waskitha dalam segala hal lagi pula sangat arif dan bijaksana.

Sakutrem mempersunting Dewi Nilawati

Di pertapan Saptaarga, dengan dihadap oleh puthut Supalawa (kera putih), sang resi Manumayasa menerima kehadiran puteranya, Bambang Sakutrem. Berkatalah Sakutrem,” Ayah, sepeninggal ananda dari wukir Retawu, dihutan telah ananda bunuh sepasang raksasa, bernama Haswana dan Haswani, di perjalanan hutan Silu, menuju wukir Retawu anannda bertemu dengan seekor naga, kami tewaskan pula. Hilangnya naga, tampak oleh anannda adanya bidadari, anannda kejar, tetapi ananda akhirnya tak dapat menemukan kemana perginya”. Sang resi Manumayasa merasa bahwa puteranya Bambang Sakutrem telah jatuh cinta pada wanita, tak lama Hyang Narada berkenan berdatang dipertapan Saptaarga, berkatalah,” Hai, resi Manumayasa, ketahuilah olehmu sesungguhnya wanita yang tampak oleh anakmu itu, adalah bidadari , yang berasal dari naga yang dibunuh oleh Sakutrem cucuku, sebaiknyalah kau pergi kegunung Pujangkara, Nilawati mengadakan sayembara, kepada siapa yang dapat meneguk air di kendi Pratola yang dihadapnya, dialah yang akan menjadi suaminya”. Berangkatlah Bambang Sakutrem ke wukir Pujangkara, untuk memasuki sayembara yang diadakan Dewi Nilawati.

Syahdan, Begawan Dwapara bersama-sama kemenakannya prabu Drumanasa, raja Madhendha, juga berangkat ke gunung Pujangkara, untuk memasuki sayembara.

Bagawan Dwapara memulai meneguk isi kendhi Pratolo, mundurlah sang Begawan dikarenakan isi kendhi Pratala, mundurlah sang Begawan dikarenakan isi kendhi Pratala dirasa sangat panasnya, bergantian dengan prabu Drumanasa, juga tak tahan akan isi kendhi Pratala.

Bambang Sakutrem segera meneguk isi kendhi Pratala, dihabiskannya seluruh isi kendhi tersebut, Dewi Nilawati menyerahkan diri kepada Bambang Sakutrem sebagai pemenang seyembara, diajaklah sang dewi ke Pertapaan Saptaarga.

Sekembalinya dari gunung Pujangkara, sang bagawan merasa malu hatinya, dan berketatapan akan merebut Dewi Nilawati ke partapan Saptaarga. Berangkatlah sang Begawan diiringi oleh sang prabu Drumanasa dan segenap prajuritnya dari Badhendha. Perang terjadi di gunung Retawu, puthut Supalawa dan Bambang Sakutrem dapat menewaskan musuh-musuhnya.
Bambang Sakri Rabi


Syahdan, raja di negara Trebelasuket, prabu Partawijaya, menerima sasmita dewa, pulihnya keadaan negaranya yang terserang bencana hanya bisa tercapai apabila Prabu Partawijaya berguru ke Gunung Saptaarga. Sang prabu juga menerima permintaan putrinya Dewi Sati, untuk menemukan arti mimpinya, ialah menemukan teja yang bercahaya. Tak lain ialah Bambang Sakri, yang meninggalkan Saptaarga, karena diusir oleh ayahandanya sebab menolak perintahnya untuk dikimpoikan. Semula Bambang Sakri menolak permintaan Prabu Partawijaya untuk dijodohkan dengan putranya Dewi Sati. Setelah melalui peperangan, akhirnya menurutlah ia, dan pergilah mereka menuju ke Negara Trebelasuket. Bambang Sakri kemudian dijodohkan dengan Dewi Sati. Prabu Partawijaya berpesan kepada putra menantunya, hendaknya menjaga Negara Trabelasuket. Sang prabu sendiri akan pergi ke Saptaarga, dan pergilah Prabu Partawijaya. Dalam perjalanannya ke Sabtaarga., sang prabu telah tersesat, sehingga bertemulah beliau dengan Resi Dupara, musuh Resi Manumayasa dari Saptaarga. Semula Prabu Partawijaya tidak akan berguru kepada Resi Dupara tetapi karena kepadanya telah dipertunjukan kemujijadan, diakuilah Resi Dupara, sebagai gurunya. Setelah dianggap cukup akan kesetiaan dan kepandaiannya, oleh Resi Dupara ditugaskan untuk membunuh Resi Manumayasa. Berangkatlah Prabu Partawijaya ke Saptaarga. Di pertapaan Saptaarga, Begawan Sekutrem ditugaskan oleh Resi Manumayasa untuk mencari Bambang Sakri. Berangkatlah Bambang Sekutrem. Di tengah-tengah hutan beliau bertemu dengan Prabu Partawirya. Setelah berbincang-bincang tentang maksud dan tujuan masing-masing, Begawan Sekutrem menyarankan Prabu Partawijaya agar tidak memusuhi Resi Manumayasa, sebab beliau itu sangat arif dan bijaksana, lagi pula hatinya sangat suci. Terjadilah peperangan antara Prabu Partawijaya dan Resi Sekutrem. Prabu Partawijaya tak kuasa menandingi Sekutrem, apalagi setelah prabu Partawijaya berkali-kali disabdakan oleh Sakutrem. Semula wajah berubah menjadi seorang raksasa, dan yang terakhir menjadi seekor babi hutan. Tatkala prabu Partawirya menyadari dirinya berubah menjadi binatang, menangislah prabu Partawirya, dengan menyebut-nyebut putera menantunya, Bambang Sakri. Terkejutlah resi Sekutrem, mendengar puteranya ditangisi oleh Prabu Partawirya. Setelah ditanyai, jelaslah bahwa prabu Partawirya adalah ayah mertua puteranya sendiri, Sakri.

Dengan kesepakatan, prabu Partawirya berjanji akan membawa Bambang Sakri ke Saptaarga, dan memohon dirilah prabu Partawirya untuk menyelesaikan urusan dengan gurunya, resi Dupara di Atasangin.

Resi Dupara menerima kedatangan prabu Partawirya keheran-heranan, karena bukan selesainya tugas yang dilaporkan melainkan umpatan, cacimaki dari parabu Partawirya kepada Resi Dupara. Peperangan tak dapat dihindari lagi. Setelah puas prabu Partawirya melampiaskan kemarahannya kepada resi Dupara dan semua pengikut-pngikutnya, terbanglah prabu Partawirya menuju pertapaan Saptaarga.

Di Pertapaan Saptaarga, Resi Manumayasa menerima kedatangan resi Sakutrem. Segala hal ihwal telah dilaporkannya, tak lama datanglah Bambang Sakri bersama istrinya, kemudian prabu Partawirya. Bersukacitalah seluruh isi pertapaan Saptaarga.
Palasara Rabi


Prabu Basukiswara, raja Wirata mendengar sabda dewa bahwa, puterinya yang bernama Durgandini, akan sembuh dari keringatnya yang berbahu busuk, jika dibuang ke bengawan Silugangga. Patih Kiswata ditunjuk untuk melaksanakan pelarungan Dewi Durgandini, dan berangkatlah patih menunaikan tugas ini.

Syahdan, terjadilah gara-gara di dunia sebab Begawan Palasara tekun sekali bertapa. Hyang Guru dan hyang Narada turun ke bumi, berubah menjadi sepasang burung emprit dan membuat sarang di gelung Begawan Palasara. Lama kelamaan burung emprit bertelur, dan menetas. Begawan Palasara menjadi murka, sebab si anak emprit tak diberi makan oleh induknya. Dikejarlah burung emprit itu, ke mana saja terbangnya begawan Palasara membuntutinya. Untuk mengejar burung emprit yang sudah di seberang bengawan Silugangga adalah sukar. Kebetulan sekali terlihat oleh sang Begawan sebuah perahu beserta tukang satangnya. Dipanggilnya perahu itu dan datanglah ia. Di dalam perjalanan menyeberang bengawan, diketahuilah bahwa tukang satangnya seorang wanita yang sangat cantik. Pada tatapan pertama sang Begawan merasa jatuh cinta. Luapan asmara yang tak dapat dicegah itu, menjadikan sang begawan Palasara mengeluarkan airmaninya. Menyadari hal itu percikan air mani yang tertumpah sebagian diusapkannya di tepian kayu perahu, sebagian lagi menetes ke air bengawan, dan ditelan ikan Tambra dan kepiting. Heran sang Begawan mengetahui bahwa Dewi Durgandini berkeringat yang sangat busuk baunya. Setelah diceriterakan asal mulanya sang dewi dilarung di bengawan Silugangga, sang bersedia mengobatinya, dan sembuhlah sang dewi dari penyakitnya. Demikian pula mengenai teka-teki yang terutulis di perahu tersebut, sang Begawan tak merasa khawatir lagi. Dewi Durgandini lalu dapat diperistri oleh sang Begawan Palasara.

Naiklah keduanya ke darat, Begawan Palasara bersemedi. Dengan bersenjakan panah dibasmilah hutan sekitar tempat bersemedi itu, dan hutan Gajahoya, atas karunia dewa, berubah menjadi suatu negeri yang disebut Astina. Hutan yang berisi bermacam-macam binatang itu kemudian berubah menjadi hutan berisi manusia, dengan rajanya Andaka, Rajari, Rajamariyi. Kesemuanya itu menjadi kawula Begawan Palasara.

Perahu yang ditinggalkan oleh Dewi Durgandini dan Begawan Palasara pecah. Dengan hilangnya perahu timbullah manusia kembar, kepiting dan ikan tambra berubah menjadi manusia. Hyang Brama menjelaskan kepada mereka, dan bersabda,” wahai, sebenarnya kau berempat ini puttra Palasara, ibumu adalah Dewi Durgandini, jika kamu sekalian ingin bertemu dengan ayah bundamu, pergilah ke Astina, ayahmu menjadi raja di negara tersebut. Kamu yang lahir lebih dahulu kunamakan Raden Kencakarupa dan Rupakenca. Yang lahir kemudian, yang berujud putrid, kunamai dewi Rekatawati, dan saudaramu itu kuberi nama raden Rajamala”, lalu pergilah keempat putra Begawan Palasara ke Astina.

Sangat suka citalah Begawan Palasara, dengan kelahiran putranya dari Dewi Durgandini di Astina, diberi nama, Kresnadipayana, Biyasa adalah julukan nama dari ki lurah Semar.

Konon prabu Basukiswara, Raja Wiratha, menerima laporan tentang hilangnya sang Dewi Durgandini dari bengawan Silugangga , dan adanya suatu negara baru bernama Astina, di hutan Gajahoya, dengan rajanya bernama Begawan Palasara. Beliau amat murka. Putranya Raden Durgandana, diperintahkan untuk pergi ke Astina untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Setiba di negara Astina, Durgandana minta bertanding melawan Begawan Palasara putra-putra Palasara: Kencakarupa, Rupakenca, dan Rajamala tak kuasa mengundurkannya. Begawan Palasara bertanding sendiri dengan raden Durgandana. Kalahlah raden Durgandana. Di istana Astina diketahui bahwa Dewi Durgandini, diperistri oleh Begawan Palasara. Akhirnya dikimpoikan Raden Durgandana dengan Dewi Rekathawati. Sukacitalah seluruh istana Astina. Resi Sentanu yang sedianya akan menggempur negara Wiratha, memerangi dahulu negara Astina. Begawan Palasara ditantang bertanding. Ajakan Resi Santanu diluluskan, sangat ramai perangnya tak ada yang kelihatan kalah atau menang, sehingga dewa harus mencampurinya. Hyang Narada turun ke bumi melerai peperangan tersebut. Kepada resi Santanu dan Begawan Palasara diberikan teka-teki. Berkatalah Hyang Narada,” Wahai kau Santanu, dan kau Palasara, pilihlah, apa yang kau senangi, sah atau sempurna”. Sah dipilih oleh resi Santanu dan sempurna dipilih oleh Begawan Palasara. Hyang Narada menceriterakan, sudah menjadi kehendak dewata, kau Santanu akan menikmati kebahagiaan di dunia, adapun kau Palasara, akan menurunkan ratu-ratu di kelak kemudian hari, dan menikmati kehidupan langgeng dan sempurna di kelak kemudian hari juga. Setelah itu Hyang Narada kembali ke kahyangan. Begawan Palasara segera meninggalkan istana Astina dan permaisurinya Dewi Durgandini, untuk pergi bertapa di Saptarengga. Di negara Wiratha, prabu Basukiswara menerima kembali kedatangan Dewi Durgandini, akhirnya dijodohkan pula dengan resi Santanu, seluruh istana bersuka cita. Resi Santanu bertahta menjadi raja di Astina, Gajahoya.


CATATAN.... cerita Palasara Rabi diatas adalah versi jawa, perbedaan dg beberapa cerita dalam pewayangan jawa sangat mungkin, mengingat banyak sumber yg dipakai, terutama yang dr India.
Wahyu Tirta Manik Mahadi


Para Pandawa meninggalkan Amarta, Abimanyu diserahi mememgang pemerintahan.
Patih sangkuni mengambil kesempatan baik mengusulkan agar Suyudana menyuruh prajurit Astina untuk menguasai Amarta. Raja Suyudana setruju , tetapi Basukarna tidak menyetujuinya. Brahmana Kestu datang di Astina akan membatu rencana penyerangan negara Amarta. Basukarna panas hatinya. Brahmana Kestu ditarik dibawa ke alun-alun dan dihajarnya. Brahmana Kestu mengambil pusaka Manik maninten dipukulkan kepada Basukarna. Basukarna menjadi arca. Arca dibuang , jatuh di Amarta.
Prajurit Kurawa bersama Brahmana Kestu menyerang negara Amarta.
Patih Sengkuni bisa menemui para putra Pandawa (Abimanyu, gatotkaca, Antarja, Wisanggeni, Prabakusuma). Sengkuni dengan gaya marah para Pandawa diminta menyerah dan akan dipenjara di Astina. Gatotkaca melawan, Sengkuni mundur ketakutan. Kartamarma melawan gatotkaca , terjadilah perang hebat. Brahmana Kestu tampil ke depan. Abimanyu, gatotkaca, Antarja, Prabakusuma dan Irawan berubah menjadimenjadi arca karena kesaktian pusaka manik maninten. Wisanggeni bisa meloloskan diri, lari ke hutan. Negara Amarta dikuasai Kartamarma dan dibantu Brahmana Kestu.

Wisanggeni tiba di Gua Windu bekas kerajaan Wisakarma. Di gua itu terdapat pakaian Hyang Guru. Pakaian disembah lalu dibawa pergi, di hutan berjumpa Arjuna di hutan. Arjuna menjawab, bahwa sedang mencari wahyu. Wisanggeni menyarankan agar Arjuna mau mengenakan pakaian Sang Hyang Guru yang dibawanya. Arjuna menurut anjuran Wisanggeni. Arjuna menyembah, lalu mengenakan pakaian sang Hyang Guru, dan naik tahkta di Kahyangan.

Wisanggeni mencari Puntadewa, Bima, Nakula dan sadewa. Mereka ditemukan di gunung Himawan. Mereka sedang berkumpul dan berunding akan mencari Wahyu Tirta manik mahadi (air manikam sangat indah). Wisanggeni menyarankan agar Puntadewa dan Bima pulang ke Amarta, sebab negara Amarta dikuasai Kartamarma. Para Pandawa telah menjadi arca. Mendenagr kata-kata Wisanggeni itu Bima bangkit marahnya.

Bima masuk istana Amarta dan mengamuk, tetapi kemudian menjadi arca karena kesaktian pusaka manik maninten. Puntadewa melihat sejumlah arca bangkit amarahnya seketika triwikrama berubah menjadi raksasa besar lagi dasyat, mengaku bernama dewa Amral. Brahmana Kestu dikejar hendak ditelannya. Brahmana Kestu hendak menggunakan pusaka, tetapi terlebih dahulu terkena aji gelap sayuta. Brahmana Kestu hanyut terbawa angin topan. Setelah jatuh ke bumi Brahmana Kestu akan bersembunyi ke guwa Windu, berganti pakaian. Tetapi pakaian telah tiada lalu kembali ke kahyangan.

Brahmana Kestu dikeroyok oleh para dewa. Brahmana Kestu tidak mampu melawan serangan para dewa, lalu turun ke dunia, berjumpa dengan Dewa Amral, dan pergi ke Dwarawati. Brahmana Kestu mionta tolong agar dimabilkan pakaiannya. Raja Dwarawati mau menolong bila diberi upah Tirta Manik Mahadi beserta kendi Pratala. Raja Dwarawati menyuruh agar Dewa Amral menolong. Dewa Amral bisa merebut pakaian Sang Hyang Guru. Arjuna menampakkan diri dan menghormat. Pakaian diberikan kepada Brahmana Kestu . Dewa Amral menerima tirta Manik Mahadi . Para putera Pandawa dan basukarna serta Bima disiram Tirta Manik mahadi dan kembali ke asal mula. Tirta Manik mahadi menyembuhkan orang sakit, menghapus rasa susah dan memberi ketentraman dunia.
Quote:


keren bgt tuh ki seno nugroho. antawecana nya kuat kyk ki hadi sugito. apalagi tokoh bagong suaranya mirip bgt dgn ki hadi sugito. dalang-dalang muda baru moncer nih di jogja. kerenemoticon-2 Jempol

oh iya, cerita tentang tokoh-tokoh kera & ras lain selain manusia, dewa & raksasa dibanyakin donk... hehehehehe
Quote:


oke bro.. ada kok cerita2 diluar Mahabharata n Ramayana, nanti rencananya jg mau di post dsini, termasuk dari wayang klithik (Cerita DAMARWULAN). kalo gak salah cerita dr wayang madya (Jaman Sudarsana, Jayabaya, dll) jg ada.
Tungguin aja, nanti jg pd kluar.. emoticon-Blue Guy Peaceemoticon-Cendol (S)
Kelahiran Yudhisthira


Pertemuan di istana Ngastina, Pandhu dihadap oleh Dhestharata, Widura dan Patih Jayaprayitna. Mereka membicarakan kandungan Kunthi yang telah sampai bulan kelahirannya belum juga lahir. Tengah mereka berunding, Arya Prabu Rukma datang memberi tahu, bahwa negara Mandura akan diserang perajurit dari negara Garbasumandha. Raja Garbasumandha ingin merebut Dewi Maherah. Raja Basudewa minta bantuan. Arya Widura disuruh pergi ke Wukir Retawu dan ke Talkandha, supaya mohon doa restu demi kelahiran bayi. Raja Pandhu akan ke Mandura untuk membantu raja Basudewa dalam menahan serangan musuh.

Raja Pandhu menemui Dewi Kunthi yang sedang berbincang-bincang dengan Dewi Ambika, Dewi Ambiki dan Dewi Madrim. Setelah memberi tahu tentang rencana kepergiannya ke Mandura, Pandhu lalu bersamadi. Kemudian berangkat ke Mandura bersama Arya Prabu Rukma, Dhestharata menunggu kerajaan Ngastina.

Yaksadarma raja Garbasumandha dihadap oleh Arya Endrakusuma, Patih Kaladruwendra, Togog, Sarawita dan Ditya Garbacaraka. Raja berkeinginan memperisteri Dewi Maherah isteri raja Mandura. Ditya Garbacaraka disuruh melamar, Togog menyertainya, Patih Kaladruwendra dan perajurit disuruh mengawal perjalanan mereka.

Perajurit Garbasumandha bertemu dengan perajurit Ngastina. Terjadilah perang, tetapi perajurit Garbasumandha menyimpang jalan.

Raja Basudewa dihadap oleh Patih Saraprabawa, Arya Ugrasena dan hulubalang raja. Mereka menanti kedatangan Arya Prabu Rukma. Arya Prabu Rukma datang bersama Pandhu. Setelah berwawancara, raja Basudewa masuk ke istana akan menjumpai para isteri. Namun Garbcaraka telah masuk ke istana lebih dahulu, dan berhasil melarikan Dewi Maherah. Dewi Mahendra dan Dewi Badraini kebingungan. Basudewa dan Pandhu datang, Basudewa minta agar Pandhu segera mencarinya. Pandhu segera berangkat meninggalkan kerajaan Mandura.

Pandhu berhasil mengejar Garbacaraka dan merebut Dewi Maherah, lalu dibawa kembali ke Mandura. Setelah menyerahkan Dewi Maherah, Pandhu minta pamit, kembali ke Ngastina, Raja Basudewa mengikutinya.

Semar, Gareng, Petruk dan Bagong bersenda gurau, kemudian menghadap Begawan Abiyasa. Bagawan Abiyasa sedang berunding dengan Resi Bisma tentang kehamilan Kunthi. Arya Widura datang dan minta sarana untuk kelahiran bayi yang dikandung oleh Kunthi.

Arya Widura disuruh berangkat kembali ke Ngastina, Bagawan Abiyasa dan Resi Bisma segera mengikutinya. Perjalanan Arya Widura dihadang oleh raksasa Garbasumandha. Arya Widura mengamuk, perajurit raksasa banyak yang gugur dan melarikan diri.

Bathara Guru mengadakan pertemuan di Suralaya, dihadiri oleh Bathara Narada, Bathara Panyarikan, Bathara Dharma dan Bathara Bayu. Mereka berbicara tentang kehamilan Kunthi. Bathara Narada disuruh turun ke marcapada bersama Bathara Dharma, Bathara Panyarikan dan Bathara Bayu. Mereka disuruh memberi pertolongan kepada Dewi Kunthi.

Perjalanan raja Basudewa dan Pandhu berjumpa dengan Patih Kaladruwendra. Terjadilah perkelahian, Kaladruwendra terbunuh ole panah Pandhu.

Raja Yaksadarma dan Endrakusuma menanti kedatangan Garbacaraka. Garbacaraka datang bercerita tentang hasil yang diperoleh, tetapi direbut oleh raja Pandhu. Cerita belum selesai, tiba-tiba kepala Kaladruwendra jatuh dihadapan raja. Yaksadarma marah, lalu mempersiapkan perajurit, akan menyerang negara Ngastina.

Raja Pandhu berbicara dengan Arya Prabu Rukma, Ugrasena, raja Basudewa dan Arya Widura. Arya Widura memberi tahu tentang kesanggupan Bagawan Abiyasa dan Resi Bisma. Tengah mereka berbincang-bincang, Bagawan Abiyasa dan resi Bisma datang. Setelah mereka berdua disambut, lalu diajak masuk ke istana. Bathara Narada dan Bathara Darma datang. Raja Pandhu dan Basudewa cepat-cepat menyambut kedatangan para dewa. Bathara Narada memberi tahu tentang tujuan kedatangannya. Bathara Narada menyuruh agar Bathara Darma merasuk kepada Dewi Kunthi, membimbing kelahiran bayi. Bathara Darma merasuk, bayi dalam kandungan Dewi Kunthi segera lahir. Bayi lahir laki-laki. Bathara Narada memberi nama Puntadewa, dan mendapat sebutan Darmaputra. Semua yang hadir menyambut kelahiran sang bayi.

Raja Yaksadarma dan para pengikutnya datang menyerang negara Ngastina. Raja Yaksadarma mati oleh Pandhu, Endrakusuma mati oleh Arya Widura, Garbacaraka mati oleh Arya Ugrasena. Bathara Bayu menghalau semua perajurit raksasa.
Halaman 14 dari 34


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di