alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Ilmu Marketing & Research /
AQUA VS PUREIT(Unilever)
3.67 stars - based on 9 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000006553206/aqua-vs-pureitunilever

AQUA VS PUREIT(Unilever)

Seiring dengan berkembangnya teknologi, produk yang consumeable pun semakin bervariasi. Ada perusahaan yang masih menjadi pemegang tunggal pasar untuk suatu produk, atau, setidaknya, belum memiliki saingan yang cukup berarti. Namun, ada juga beberapa perusahaan dominan yang mulai diserang oleh pesaing baru yang membawa lahan berbeda dan berusaha untuk merebut lahan emas yang sudah lama mereka jaga. Salah satu penantan baru tersebut adalah Pureit dari Unilever yang mencoba berebut pasar dengan AQUA. Pasar yang diperebutkan adalah pasar air mineral instant cepat konsumsi. Saya katakan “cepat konsumsi” karena keduanya bukan produk yang benar2 tinggal tuang dan minum. Pureit perlu pasokan yang dituang manual, dan Aqua memerlukan pergantian galon manual; berbeda dengan air siap minum di negara-negara maju yang tinggal buka keran dan minum. Ada beberapa hal yang menurut saya cukup menarik untuk diperbandingkan.

1. Bentuk dan Ukuran. Bentuk keduanya jelas berbeda. Pureit berbentuk persegi dengan ruang transparan di bagian bawah yang difungsikan sebagai penampung air yang telah dimurnikan dan siap untuk diminum, sedangkan bagian atasnya merupakan sebuah tangki mini yang digunakan sebagai wadah penampung air yang hendak dimurnikan. Masing-masing berkapasitas 9 liter. Dilhat-lihat, ditimang-timang, ukuran keduanya bisa menjadi saling relatif satu sama lain. Sebenarnya, sih, Pureit kapasitas 9 liter segitu-gitu aja ukurannya, tapi Aqua yang bisa jadi beda, misalnya masih diperlukannya alat bantu supaya air yang ada di dalamnya dapat dituang ke gelas seperti water pump (itu lho, yang dipasang ke bibir galon trus buat ngeluarin airnya musti dipompa pake tangan/kaki) dan dispenser dengan beragam ukuran, dari yang setinggi lutut orang dewasa sampai yang sepinggul orang dewasa, dengan fitur yang berbeda-beda, tentunya.

2. Harga. Pemasar mana yang tidak mengetahui bahwa harga merupakan faktor penentu penjualan yang sangat kuat di Indonesia? Dengan kesenjangan ekonomi yang cukup berarti, mereka yang berada pada keadaan perekonomian middle-end tentu sangat memperhitungkan pengeluaran mereka (kecuali yang nggak nyadar hidup di Indonesia itu mahal). Perbedaan atau perubahan harga sekecil apapun tetap menjadi hal yang dapat membuat konsumen menjual kesetiaannya. Pureit dari Unilever ditawarkan di beberapa Hypermarket dengan harga Rp499.000 atau 500 ribu kurang dikit banget. Paket pembelian perdananya adalah 1 unit case Pureit dan 1 paket germkill (perangkat pembunuh kuman/virus dan pemurni air) yang dapat digunakan selama 150 hari dengan konsumsi rata-rata per hari adalah 10 liter dengan suhu air rata-rata tidak lebih dari 25 ‘c. Artinya, seperangkat germkill digunakan untuk 1500 liter air yang dimurnikan. Setelah melalui usia tersebut, germkill harus diganti dengan germkill yang baru (tanpa mengganti case Pureit) dengan harga Rp150.000 yang sama artinya dengan Rp50.000 per bulan untuk 500 liter. Untuk rata-rata konsumsi bulanan yang berbeda, Anda dapat melihat perkiraan usia germkill di [url]www.pureitwater.com/Pureit_User/Pureit_FAQs.aspx[/url].

Sedangkan untuk Aqua, harga air dalam kemasan galon tersebut bisa sangat bervariatif, tergantung daerah dan pemasoknya. Kalau di daerah saya, harganya antara Rp9000 – Rp13000. Pengeluaran per bulannya juga tergantung pada pola konsumsi masing-masing keluarga.

3. Kemudahan. Menurut anda, mana yang lebih mudah : teknologi Aqua dan dispenser yang tinggal plug & play, atau mengisi air dan menunggu air tersebut dimurnikan? Pada poin ini, saya lebih cenderung mengatakan bahwa Aqua masih lebih mudah untuk digunakan. Cukup sekali repot untuk mengganti galon Aqua kosong dengan yang baru, selanjutnya air dingin/panas tinggal dinikmati.Hal inilah yang belum dimiliki oleh Pureit-nya Unilever. Lalu, tampaknya, produk Pureit ditujukan untuk mereka yang tidak terlalu perlu air dingin/panas dengan instant dan tidak mempermasalahkannya dengan tingkat konsumsi air minum yang tidak terlalu tinggi dalam kesehariannya.

4. Ketersediaan air. Pada poin ini, Aqua harus mengakui bahwa Pureit memang sangat menarik. Bagaimana tidak? Dikatakan bahwa konsumen cukup menggunakan air yang biasa akan dikonsumsi dan -walah!- Pureit dapat memurnikannya sehingga kualitas air tersebut menjadi sama baiknya dengan air yang direbus. Jadi selama ada air PAM atau air tanah (yang layak olah, tentunya), Pureit dapat menjamin ketersediaan air minum di rumah. Untuk Aqua, saya pernah merasakan saat-saat kelam dimana distribusi Aqua galon agak terganggu sehingga saya harus pergi ke Hypermarket untuk menukar galon atau merebus sendiri air sumur untuk dikonsumsi, dan itu cukup merepotkan harus gotong sana-gotong sini.

5. Iklan. Unilever sedang berusaha melakukan penetrasi pasar air cepat konsumsi yang selama ini menjadi lahan basahnya Aqua. Oleh karena itu, iklan yang disajikan ke konsumenpun haruslah iklan yang dapat menarik perhatian dan mencuri hati konsumen setia Aqua. Iklan Pureit dimulai dengan kata “Kami telah berhasil mengganti… 1.Galonlogy 2.Refillogy 3.Pancilogy menjadi technology! Wow.. berani sekali bawa2 galon dan refill itu. Tampolan langsung terhadap kehadiran Aqua yang dalam proses pendistribusiannya menggunakan galon dan refill dengan menukarkan galon yang kosong ke agen penjual Aqua galon. Lalu, Pureit juga menekankan bahwa air yang sehat itu mudah didapat sebab Pureit memiliki teknologi yang mampu mengkondisikan air mentah (air tanah/ PAM yg layak olah) menjadi bebas dari bakteri, virus, dan kotoran yang terkandung di dalam air sehingga air menjadi jernih dan siap konsumsi setelah dimurnikan. Hal tersebut jelas lagi-lagi menjadi tamparan untuk iklan Aqua yang selalu menggemborkan bahwa air Aqua berasal dari pegunungan a.k.a. jauuuuuuh
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 30
Tidak tinggal diam, Aqua pun meluncurkan beberapa iklan barunya yang lebih bersifat edukatif dimana didalamnya ditekankan bahwa air yang terlihat jernih saja belum tentu aman konsumsi. Kemudian, Aqua juga mengatakan bahwa air Aqua memiliki kandungan mineral yang baik sebab berasal dari sumber yang benar-benar telah diteliti sebelumnya, dicek secara ketat sehingga air Aqua mengandung mineral baik. Dengan beredarnya iklan edukatif tersebut, tampaknya Aqua ingin mengatakan

“Woiii, murah sih murah, tapi sehat nggak? Bening belum tentu bebas bakteri ! Lagian, air keran ga bakal punya mineral yang sama dengan air pegunungan yang sudah kami olah dengan teknologi yang oke dan tenaga ahli yang wuoke” Dengan kata lain, air yang baik itu sulit didapat, jadi, serahkan pada ahlinya air; Aqua.

Kesimpulan

Menurut saya, perang Unilever-Aqua ini adalah perang antar minuman cepat konsumsi galon atau galon wars, sebab konsep keduanya dari sisi bentuk penyimpanan dan ukurannya. Yang menjadi tombak dari perang itu sendiri adalah hal yang bernama ke-praktis-an, harga, dan sumber air. Untuk segi kepraktisan dan harga, saya lebih condong kepada Pureit-nya Unilever, namun untuk sumber airnya sendiri, saya lebih memilih Aqua. Kendati Pureit mengklaim bahwa air yang dihasilkan sama sehatnya dengan air yang direbus, namun itupun masih dibawah beberapa conditions atau syarat2, sebab ada beberapa hal yang tidak dapat ditangani dengan baik oleh Pureit kendati hal itu tidak bermasalah bagi kesehatan. Misalnya, Pureit tidak dapat menghilangkan beberapa aroma mineral seperti besi, kalsium, magnesium, dan garam sodim klorida. Aqua? Tidak berbau sama sekali.

Dengan harga Rp500.000, jelaslah bahwa Pureit dilancarkan guna menyasar segmen menengah-bawah, khususnya di daerah perkotaan yang memiliki kebutuhan air konsumsi tinggi yang tidak mempermasalahkan suhu air (dingin/panas) sebab Pureit tidak dapat mengolahnya menjadi air dingin/panas. Strategi fungsi dan harga yang dilancarkan Unilever tampaknya berhasil mendesak Aqua turun tangan melalui iklan-iklan edukatifnya. Dengan gencarnya Aqua mengiklankan bahwa air Aqua adalah air minum kelas premium yang tidak dapat ditandingi, dan mereka mendedikasikan segala yang mereka punya untuk konsumennya. Pertanyaannya : haruskah Aqua takut?

Nama besar Unilever memang sangat menjanjikan. Fungsi dari Pureit-nya pun sangat menarik, cocok untuk keluarga kecil dengan pengeluaran menengah-bawah untuk ketersediaan air minum. Aqua sendiri sudah lekat dalam benak kita sebagai produsen air kemasan yang tak tergoyahkan, serba ahli, serba canggih dan higenitasnya terjamin. Bebarapa hal yang menjadi catatan di sini adalah bahwa harga perdana Pureit belum dapat menyentuh semua kalangan middle-end, khususnya yang low-end, terlebih harus ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan untuk mengganti germkill nya Pureit, tergantung dari pola pemakaiannya. Seharusnya, Pureit juga menyediakan varian kapasitas lainnya yang lebih kecil (juga germkill nya) agar harganya lebih murah dan dapat dijangkau oleh pasar low-end. Jika Unilever dapat melakukannya, niscaya ambisi Danone untuk menguasai 10% air kemasan di seluruh dunia akan terganjal di negara-negara yang memiliki aliran Pureit di dalamnya.

Mulutmu – harimaumu. Hal ini cocok untuk apa yang telah digembar-gemborkan oleh Pureit, yang justru dapat dijadikan senjata oleh Aqua. Berkeinginan untuk mendulang emas dari segi kepraktisan, Pureit menobatkan diri sebagai perangkat pengolah air minum tanpa kompor dan listrik. Sayangnya, perilaku masyarakat jauh lebih kompleks dari sekedar itu. Kebutuhan untuk air minum memang dapat diatasi oleh Pureit namun hanya untuk ketersediaan air minum. Bagaimana kalau saya ingin minum teh dingin? saya harus memasukkan air teh ke dalam kulkas atau memasukkan bongkahan es batu ke dalam air teh saya (ada biaya listriknya). Atau jika saya ingin minum kopi, bukankah saya harus merebus dulu airnya agar panas, pake kompor juga dong? Kalau dipikir-pikir, Pureit cocoknya buat orang yang benar2 hanya butuh ada-nya air minum. baikk. Atau tempat pengungsian/ daerah bencana alam kali ya?

Kalau saya jadi Aqua, saya akan balas menusuk dengan hal tersebut. Hal yang tidak dapat digantikan oleh Pureit adalah dispenser-sahabat sejatinya Aqua galon. Kemewahan minuman dingin/ kopi panas tanpa repot tentu memiliki harganya sendiri yang bahkan sulit digantikan. Bekerja sama dengan produsen dispenser, Aqua dapat menjual bundling yang menarik, seperti diskon langganan Aqua dan perawatan dispenser cuma2 selama beberapa periode tertentu, sudah pasti akan meningkatkan keuntungan keduanya sekaligus menekan peredaran Pureit di masyarakat. Keluar duit dikit buat listrik, minuman dingin/panas mudah tersedia.

Kesimpulan saya, Aqua masih akan lama berkibar kecuali Unilever dapat melakukan inovasi-inovasi baru sehingga dapat benar-benar menghilanggkan ketergantungannya terhadap listrik/kompor. Untuk Aqua, baik-baiklah kau menjaga persahabatanmu dengan produsen dispenser itu, nak, sebab ternyata mereka dapat menjadi salah satu tombak runcingmu!

Untuk Anda-anda sekalian, mau pakai produk yang mana, itu tergantung pada kebutuhan dan kemampuan Anda. Anda yang menentukan.

sumber-sumber lain yang dapat Anda kunjungi untuk mendapatkan rincian lebih jauh mengenai kedua produk :

http://www.pureitwater.com/

http://www.pureitwater.com/Pureit_Us...reit_FAQs.aspx

http://waterresearchcommittee.aqua.com
Quote:


bole juga tuh gan buat pengungsian bencana alam. Bagusnya sih bikin yang besar sekalian biar bisa dimanfaatkan secara massal. Moga2 pengembang purit mau menjadikannya sebagai social work buat orang2 yg butuh emoticon-I Love Indonesia
wah ada yang bahas secara komprehensif nih. hebat.

menurut saya aqua sudah menohok pure it unilever dengan menampilkan testimoni dokter-dokter dalam iklannya. tapi saya yakin, alasan kepraktisan akan membuat orang-orang beralih ke pure it.

bikin analisa tentang XL vs SIMPATI donk gan..
Quote:


hahaha, iye, gan. Dibikin model raksasa gitu kali ya. Saya jadi kepikiran bahwa Pureit bisa saja bikin social work macam Aqua di Indonesia Timur sana (sekarang, sumber air su dekat), hehehehe. Tar kita liat aja dah, ok ok? emoticon-Shakehand2
Quote:


Makasi pujiannya, agan Senatores. Jadi, ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam topik ini. Pertama, Aqua menampilkan banyak dokter/ahli dan testimoni2nya untuk membendung Pureit. Kedua, seperti yang agan sebutkan, orang2 akan beralih ke pureit karena alasan kepraktisan.

Dari dua hal tersebut saya memiliki keyakinan bahwa Aqua juga berpikir seperti agan : Pureit itu praktis dan murah, dan hal itu merupakan ancaman langsung terhadap Aqua. Maka Aqua harus membendung Pureit habis2an.

Untuk jangka pendek, saya percaya Aqua masih bertahan. Tapi untuk jangka panjang, bisa jadi Pureit akan merusak pasar Aqua dengan produk2 barunya yang lebih oke lagi, seperti yang terjadi di India dimana pureit merilis produk yang lebih praktis (disambung langsung ke pipa air; benar2 tinggal tuang dan tidak perlu diisi ulang)


Oiya, saya juga ngebahas XL vs TELKOMSEL, gan, tapi belum di post. Berantemnya seru yak?? hahahaha emoticon-Recommended Seller
Unilever itu lintas negara ya gan? dimane2 ade?emoticon-Bingung
Agan moncong ngelawak nih.. OVJ masih nanti, gan, agak maleman dikit emoticon-Hammer (S)
ada pro dan kontra, pro memudahkan kita mengkonsumsi air tanpa dimasak, kontra : dengan mengunakan alat ini, pelan2 orang akan beralih, dan para pengusaha air ulang akan sepi pembeli
Quote:


bener, Gan, sangat memudahkan tapi sekaligus dapat membunuh para pengusaha air isi ulang. Tapi air yang dikonsumsi jadi lebih terkontrol, sih. Maksudnya, sumber airnya pasti dan tidak butuh wadah galon2an yang dibersihkan dengan cara yang kita tidak tahu steril atau tidak. Udah gitu, harga per liternya jadi murah banget kalo pake Pureit. Super hemat (tapi tetap perlu ingat ada biaya berkala yang harus dikeluarkan untuk mengganti "daleman" Pureit)

Emang banyak plus-minusnya, tinggal gimana produsennya bikin image yg oke di konsumennya emoticon-Recommended Seller
weiiits, ane suka nih gan.. penjabarannya lengkap!
emoticon-I Love Kaskusemoticon-I Love Indonesiaemoticon-I Love Indonesia
Quote:


terima kasih miss Rosa. Tadi saya juga membaca thread Anda. Sama2 belajar berbagi ilmuaja dah emoticon-Big Grin

keep on going!
bagus nih informasinya. kalo dari sisi penilaian marketing 2 produsen ini sangat "matang" dalam membuat calon konsumen berfikir PRAKTIS dalam memilih kebutuhan thd air. two thumbs buat mereka, TAPI dari sisi lingkungan hidup apa mereka memikirkannya?
sebenarnya dari dulu ane ada pertanyaan, produsen seperti aqua itukan mengambil air pegunungan, dan diambil secara kubikasi liter yg tidak terhingga (terus2an diambil), apa suatu saat sumber air ga akan habis??
trus kalo sudah habis apa yg dilakukan aqua? meninggalkan yg sudah habis itu dan cari mata air baru kah?
trus bagaimana pegunungan yg udah habis terkuras airnya, apa yg akan terjadi?
sepanjang informasi yg saya tau (bisa salah bisa benar) dibawah tanah itu ada sungai, makanya air tanah ketika orang ngebor cari air selalu bilang dapatkan sungainya biar air pas musim kering tetap ada. so kalo gunung yg airnya udah dikuras apa nanti tidak terjadi kekosongan/ ada ruang kosong dibawah tanah sehingga mengakibatkan sedimentasi tanah menjadi turun??
bagaimana hutan/pohon2 dapat menyerap air untuk kebutuhannya lebih maksimal jika sumber air sudah sangat terbatas??
pohon bisa mati, hutan bisa kering, bisa terjadi longsor atau kebakaran hutan.
kalo air dibawah tanah habis akan terjadi spt di jakarta tiap tahun ketinggian permukaan tanah di jakarta terhadap laut turun beberapa 0, sekian persen. makanya banjir ga selesai2, air rob (pas air laut pasang) pasti daerah utara jakarta banjir, got2 di kanal2 besar tidak bisa mengalir ke laut yg ada air buangan berbalik kembali hal ini blom diperparah jika hujan, pasti bencana banjir dimana2.
untuk UNILEVER yg menghasilkan alat purified (sorry kalo namanya salah) apa alatnya ga pakai indikator sensifitas misal kalo air sudah tidak bisa disterilkan dari bakteri ada bunyi atau lampu peringatan sehingga orang bisa ganti "isi dalemannya/ catrige"?? karna kalo ga ada, bakteri/logam berat itu masuk ke tubuh akan jauh lebih berbahaya, bukannya sehat krn minum air putih malah sengsara.
apa ga sebaiknya 2 produsen itu berfikir untuk menciptakan alat skala rumah tangga yg bisa membuar air di RECYCLE dan REUSE ? jadi air limbah rumah tangga bisa di pakai kembali, tp yg pasti harus aman untuk kehidupan.
karna ane ini orang awam jadi mohon maaf kalo pendapat ane ada yg salah.emoticon-Angkat Beer
untuk agan @miekriting..good thread bos, mengangkat persaingan 2 produsen iniemoticon-2 Jempol
hmmm, smntra ini aqua msh bisa megang kendali kyknya.
tp bener jg kata TS, klo unilever bisa menghilangan mslh listrik / kompor, bisa rusak tuh pasar aqua emoticon-Big Grin
Quote:


tengkyu tanggapannya, gan, ane seneng ada orang2 yang serius bacanya kaya agan2 di atas. Dengan pengetahuan ane yang terbatas, ane coba jawab pertanyaan agan Jalun ya emoticon-Malu

1. Air Aqua berasal dari pegunungan. Jika pengambilan airnya tidak diperhatikan, sudah barang tentu alam yang akan dirugikan (dan pada akhirnya manusia). Tapi, rasa2nya, Aqua, dengan nama besarnya, tidak mungkin melakukan pengerusakan alam dengan eksploitasi air besar2an. Memang, jika dilihat dari jumlah yang harus diambil, air pegunungan tersebut berjut-jut kubik, tapi dalam salah satu iklan edukatifnya, Aqua mengatakan "...dari sumber air yang terpelihara". Artinya Aqua menjamin bahwa tempat dimana sumber air tersebut dipelihara, dan bukan dirusak. Saya tidak punya bukti konkritnya sih, jadi cuma bisa "oh, iya ya.." emoticon-Hammer2 pas nonton iklan itu.

2. Unilever Pureit (alat pemurni/ purifier). Jadi, dia itu make beberapa tingkat penyaringan, dan item yang terpenting itu namanya germkill. Naaah, alat ini nih yang harus diganti secara berkala sesuai dengan pola konsumsi agan. Pola konsumsi dan perkiraan penggunaannya bisa dilihat di link ini [url]www.pureitwater.com[/url]. Kalo germkill nya udah harus diganti, kita pasti bisa tau secara kasat mata (kejernihan) atau secara rasa/aroma yang agak beda dari biasanya.

oiya, germkill ini mengandung chlor (aman utk digunakan dalam alat pureit) dan berbau agak kuat. Jadi konsumen tidak dianjurkan untuk membukanya atau menciumnya supaya ga ngasi sugesti negatif ke diri sendiri, padahal baunya emang gitu, hehehe emoticon-DP Tentang keamanan, produk ini bisa menghasilkan air layak konsumsi kok, udah dicoba di bebrapa negara

3. Re-use/Re-cycle water. Saya sependapat dengan agan bahwa pola konsumsi air kita harus diubah biar alam awet, dan saya yakin sudah banyak peneliti yang melakukan banyak usaha untuk mewujudkannya sehingga -mungkin- dalam beberapa tahun mendatang, akan ada alat yang benar2 dapat menjernihkan air yang saat ini belum dapat dijernihkan. Trendnya memang demikian.

emoticon-Toast makasi pertanyaannya gan, monggo ditambahkan jika punya info lebih emoticon-Big Grin
Quote:


setoedjoe, brader emoticon-thumbsup
wah....pureit sih bagus, tapi kyknya org2 blom bisa percaya deh, masa dari keran bisa lsg jernih, apalagi air PAM juga masih buruk

kenapa air aqua gak dimasukin ke pure it aja jadi tambah jernih emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin


atau pure it bikin iklan : air galon belum tentu bersih, gunakan pure it untuk menjamin kebersihannya , wah jadi partner dah tuh 2 company emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin
Quote:


itu dia Gan, tantangan buat Pureit : gimana mengubah persepsi masyarakat terhadap air minum yang ga di masak. Sebenernya sih bisa aja Pureit make strategi iklan edukatifnya Aqua tp kan jadi nggak lucu kalo kembaran emoticon-Big Grin
yah, kita tunggu saja tanggal mainnya

untuk dua ide yang di bawah, itu ide yg sangat baik emoticon-Recommended Seller
tapi kalo sampai itu terjadi, inovasi bisa berhenti, Gan, dan konsumen juga yg rugi ga bisa dapet teknologi yg lebih baik dengan harga yg lebih murah emoticon-Big Grin
diiklan sih memang disebut "DARI SUMBER MATA AIR YANG TERPELIHARA" kalo ane yg dengernya sih ane ambil kesimpulan itu yang jaga adalah ALAM, bukan aqua. pihak aqua tinggal memeriksa air tersebut apa ada hal2 yg berbahaya gak untuk dikonsumsi semisal bakteri amoeba
ane sendiri blom pernah searching air aqua itu di ambil dari mata air mana? dan sudah brp kali pindah mata air? trus kalo pindah apa yg terjadi si sumber mata air yg ditinggalkan itu.
cuma ane pernah main ke bandung, ke salah satu produsen air minum sehat (yg udah di kasih clorofil), dia cerita ada salah satu gunung yg dulu airnya di eksploitasi oleh produsen air minum (brand ga tau), setelah air yg kualitas bagusnya habis lalu ditinggalin (trus cari gunung dgn sumber mata air lain), sisanya tinggal air bagian bawah (bersedimen atau bahasa gampangnya mengandung banyak kotoran partikel kasar), bisa ke pakai minum bagi masyarakat sekitar tp air lebih keruh, trus tanaman disekitar pegunungan, terutama tanaman sayur2an tidak produktif maksimal. yah kembali lagi ini cuma obrolan di bandung sana kebenarannya sangat absurd krn memang tidak emoticon-Traveller ditelusuri sampe ke fakta2nya.
dan thread bahasan air oleh agan @miekriting memang menarik, jadi yah anggap aja ini obrolan di warung kopi.. setuju gan? mantap sruppppppp nikmattttemoticon-coffee
Quote:


menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi II, 1997), awalan "ter" memiliki makna : 1.Paling (tertinggi), 2.Telah dilakukan/dalam keadaan (terbuka), 3.Telah mengalami keadeaan atau kejadian dengan tidak sengaja/tiba2 (terpesona, terkunci), dan 4.Sanggup atau dapat dilakukan (terangkat/tersalurkan, dll). emoticon-cystg

TANYA : menurut agan2, kata "terpelihara" itu masuk ke pemahaman yang nomer berapa? Jujur, saya bingung, tapi saya cenderung memilih yg no.4 (sanggup/dapat dilakukan) sebab saya berasumsi bahwa Aqua memang menjaga sumber air yg mereka gunakan. Asumsi lho yaa.

tapi jika beda arti kata'nya, ya berarti beda perlakuannya terhadap sumber mata air tersebut. Saya cari dulu lah jejak2 mereka di gunung2 itu, siapa tau nemu, kan lumayan emoticon-Big Grin

Terimakasih agan Jalun, buat tambahan infonya yg dari Bandung itu. Dan, ngomong2, kantor saya memang di warung kopi tapi tidak remang2, jadi jangan ragu utk berpendapat emoticon-Shakehand2
Halaman 1 dari 30


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di