alexa-tracking

Dukun (dilema pengobatan tradisional indonesia)

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000001066908/dukun-dilema-pengobatan-tradisional-indonesia
Dukun (dilema pengobatan tradisional indonesia)
Quote:Dukun (dilema pengobatan tradisional indonesia)
Sanro
(dukun dalam bahasa Makasar)








Dukun riwayatmu kini
dicaci, dimaki, dan disumpahi
bahkan berusaha untuk dihabisi



sementara itu ajaran luhurmu kini
tenggelam di timur

akankah

bersinar di barat

tatkala suatu saat nanti
orang timur

akan belajar ketimuran
di barat sana



Dukun (dilema pengobatan tradisional indonesia)



thread ini saya harapkan
untuk tidak dijadikan ajang flame


namun saya undang rekan-rekan
untuk saling share info dari daerahnya
masing-masing
tentang keunikan dan keilmuannya


buat yg flame
saya sudah siapkan
sekotak
Anggur Merah


emoticon-army:


sumber gambar:
[url]www.24framespersecond.net[/url]
/image/Dukun.jpg


emoticon-shakehand
Dimulai dari TS dulu , share tentang keilmuan dan keunikan keilmuan di daerahnya emoticon-rose
Dukun adalah seseorang yang membantu masyarakat dalam upaya penyembuhan penyakit melalui tenaga supranatural, namun sebagian dari mereka menyalahgunakan ilmu supranatural tersebut untuk menciptakan "penyakit baru", kepada masyarakat

Kebudayaan Dukun dapat ditemukan di seluruh dunia, mereka dapat terbagi berbagai macam aliran dan ilmu, Dukun Pawang Hujan, Dukun Pawang Hewan, Dukun Santet, Dukun Pelet, Dukun Pijat, Dukun Bayi (Bidan Desa), Dukun Ramal, dan lain sebagainya.
Dukun adalah sebutan untuk mereka dalam bahasa Indonesia. Di luar negeri mereka disebut dengan macam macam nama: Clairvoyant (Inggris), Macumba, Xango (Brazil), Obeah, Santeria (Jamaica), Voodoo (Afrika bagian Barat, yang berkembang pula hingga Haiti di Kepulauan Karibia, kejawen (Jawa)
http://id.wikipedia.org/wiki/Dukun
Kenapa orang pergi ke dukun?


Januari 21, 2007
Anda pernah pergi ke dukun? Kalau anda orang Indonesia/ pernah tinggal di Indonesia, rasanya anda pernah berkunjung ke dukun. Eits, pernyataan penulis di atas bukan tuduhan bahwa anda pasti pernah main santet atau pun pelet. Bisa jadi anda sekedar ke dukun urut karena keseleo, daripada pergi ke dokter sekedar disuruh perban dan kompres.

Kenapa sih orang pergi ke dukun? Apa iya semua orang ke dukun karena ingin main santet/ pelet? Penulis iseng cari info di google. Dari banyak cerita/ mitos/ dongeng di dunia maya, ternyata bukan itu yang dicari. Walau bisa jadi info dari internet tersebut bias, karena yang perlu jasa santet/ pelet bisa jadi diam-diam saja, alias tidak menyebar cerita ke mana-mana.

Dari hasil cari google, ternyata mayoritas orang-orang pergi ke dukun untuk cari solusi. Dari sekedar sakit, rejeki seret, ketipuan, sampe acara ribut rumah tangga yang bikin pusing. Mungkin tahun babi api mendatang praktek dukun bakal tambah ramai, karena naga-naganya (dan kata Mama Lauren) cari duit di tahun 2007 ini bakal susah.

Lain lagi pengalaman pribadi penulis. Ada orang kenalan penulis, katakanlah A, sangat curiga sama yang namanya dukun. Saking curiganya, sampai-sampai bila ada kejadian yang menurut Si A tadi ini sedikit saja tidak wajar (tentu saja dilihat dengan kacamata A pribadi), pasti langsung dicap ‘Pasti main ilmu hitam’, atau ‘Pasti pake jimat.’ Kadang-kadang sampai ke hal-hal kecil yang menurut penulis bukan masalah hitam putih, tapi karena komunikasi yang tidak jalan.

Ajaibnya, A sendiri hobi mengumpulkan barang-barang berkhasiat, bedanya ‘dukun’ A ini lulusan seminari bergelar pastor. Saat penulis melihat satu-dua jimat tersebut dan bertanya, ‘Lho buat apa?’ A menjawab ‘Yang ini, dari pastor B, supaya betah di rumah,’ atau ‘Yang itu dari pastor C, supaya menemukan kedamaian’. Yang terakhir ini bikin penulis ketawa, walau cuma dalam hati karena tidak ingin menyinggung perasaan yang bersangkutan. Kedamaian kok bisa-bisanya disyaratin pake benda material, duh…

Ditilik-tilik, pertanyaan yang diajukan A tidak beda dengan para pelanggan dukun, kepentok masalah makanya perlu solusi, semakin instan semakin baik (Indomie kali). Sekedar beda setting karena urusan selera. Yang pergi ke dukun bisa jadi merasa nyaman kalau masuk ke ruang gelap-gelap bau menyan. Sedang A merasa mantab dengan solusi yang ditawarkan dalam setting pastoran.

Selain itu A ini juga penggemar berat orang-orang yang punya ‘penglihatan’. Bila orang tersebut bilang bisa lihat masa lalu, masa depan, apalagi dengan penglihatan bisa menawarkan solusi instan, pasti didengarkan baik-baik oleh A. Baik orang awam maupun (lagi-lagi) pastor, ‘Wah pastor D punya talenta, saya juga mau ke sana.’ Bukannya para dukun pun biasanya bilang mereka punya ‘penglihatan’? Baik yang bener-bener bisa mau pun yang sekedar ngaku-ngaku saja.

Menurut penulis, praktek segala rupa laku keras karena menawarkan solusi instan, tidak perlu usaha berpikir pokoknya ingin terima beres. Tapi karena penyelesaiannya instan, tiap kali ketemu masalah ‘baru’ jadi perlu cari jasa dukun dll lagi. Baru dalam tanda kutip karena bila mau dianalisa sebenarnya sering kali masalah yang sama terulang kembali, cuma manifestasinya terlihat seolah-olah beda. Seperti orang yang sering ketipuan, saat dikomentari ‘Lho ketipuan lagi?’ akan protes, ‘Ini lain! Kali ini masalah properti, tempo hari kan kredit.’ Padahal sih sama saja urusannya duit.
Pendapat pribadi penulis, kalau mau belajar dari pengalaman/ sejarah, orang bisa belajar memecahkan masalah sendiri, tidak melulu perlu bantuan mantra, jimat dll dari pihak ketiga. Tapi kenapa ya banyak orang lebih suka Indomie (baca: yang instan-instan saja)?
http://illuminationis.wordpress.com/...ergi-ke-dukun/
Warga masih Andalkan Dukun Kampung \t



Friday, 27 April 2007
Solok Selatan - Untuk sebuah daerah terisolir dan jauh dari jangkuan, baik itu dari pusat kecamatan atau kabupaten, sarana dan prasarana di Nagari Lubuk Ulang Aling Sangir Batang Hari masih sangat terbatas. Persoalan mendasar di bidang kesehatan yang dihadapi daerah ini adalah tidak adanya tenaga kesehatan atau bidan, sehingga masyarakat berobat tentu melalui dukun kampung. Tak mengherankan, saat akan melahirkan sangat sulit ditolong oleh tenaga medis.

Kondisi itu diakui salah seorang ibu rumah tangga, Dasinur, 45 , warga Lubuk Ulang Aling kepada Bupati Solok Selatan, Syafrizal saat berkunjung ke kantor Wali Nagari Lubuk Ulang Aling beberapa hari lalu. Dasinur mengaku belum pernah dibantu oleh tenaga medis baik itu untuk berobat dan untuk melahirkan.

Untuk melahirkan, perempuan di sana melalui dukun kampung. “ Bayangkan saja untuk biaya operasional melalui tenaga medis sudah mencapai jutaan rupiah, sementara untuk dukun kampung saja hanya dibayar dengan satu helai kain sarung istilahnya untuk cuci tagan saja,” ujar Dasinur.

Dasinur mengaku angat terbantu dengan keberadaan dukun kampung. Walaupun berharap agar di daerahnya ada tenaga medias, namun kepada bupati ia berharap agar memberikan perhatian terhadap dukun kampung yang sangat membantu masyarakat. “Kami berharap kepada Pemda kalau tidak bisa tenaga medis di tugaskan di sini biarlah kami berobat melalui dukun kampung saja, tapi tolong diperhatikan nasib mereka bagaimana langkah meningkatkan kesejahteraan dukun kampung yang sudah propesional ini. Kapan perlu dimasukan dalam anggaran APBD,” harap Dasinur.

Bupati Solok Selatan Syafrizal memang agak terkejut mendengarkan keluhan dari kaum perempuan yang selama ini memanfaatkan jasa dukun kampung untuk berobat dan untuk melahirkan. Pihaknya berjanji dalam tahun 2008 nanti akan dianggarkan dan meminta data yang benar tentang dukun kampung yang sudah bekerja secara propesional. “Jangan nanti karena ini akan dianggarakan banyak pula yang mengaku-ngaku dukun beranak,” sebut bupati. 403
http://www.solok-selatan.com
Mayoritas Warga Pedalaman Lebak Berobat Ke Dukun

Minggu, 27 Juli 2008 | 01:07 WIB
LEBAK, SABTU - Sebagian besar warga pedalaman Kabupaten Lebak berobat ke dukun kampung akibat kekurangan tenaga medis di pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas). "Sampai saat ini warga pedalaman jika sakit lebih percaya pada dukun kampung dibandingkan petugas mantri puskesmas," kata Kepala Puskesmas Panggarangan H Edi Sunaedi, Sabtu.

Menurut dia, warga berobat ke dukun kampung sudah berlangsung lama sehingga sulit untuk merubah perilaku itu. Padahal, mereka berobat ke dukun sangat berisiko tinggi karena cara pengobatannya hanya diberikan air putih dan mantra-mantra. Namun demikian, apabila tak sembuh dari penyakitnya mereka baru pergi berobat ke pembantu puskesmas atau puskesmas induk.

Oleh karena itu, pihaknya terus melakukan penyuluhan-penyuluhan pada mereka agar meninggalkan kebiasaan buruk itu. "Setiap minggu sekali kami memberikan penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat ke desa-desa yang ada di pedalaman,"katanya. Dia mengatakan, saat ini jumlah tenaga medis di Puskesmas Panggarangan masih kekurangan dibandingkan luas pelayanan kesehatan di 10 desa.

Apalagi, wilayah kerjanya dengan kondisi medan berbukit terjal serta pegunungan. Misalnya, lanjut dia, Desa Gununggede, Sogong, Jatake, Mekarjaya dan Sindangratu, warga jika berobat ke puskesmas induk tentu biaya angkutan ojek Rp 150 pulang pergi dengan jarak tempuh sekitar 70 Km.

Kondisi demikian, kata Edi, hingga kini warga pedalaman masih berobat ke dukun kampung disebabkan kurangnya tenaga medis termasuk dokter. "Kami sudah mengusulkan kekurangan tenaga medis itu ke Dinas Kesehatan Kabupaten atau Provinsi, "katanya. Begitu pula Kepala Puskesmas Gunungkencana, Ade mengaku akibat keterbatasan tenaga medis tentu sangat mempengaruhi terhadap derajat kesehatan masyarakat.
Sebab, tambah dia, warga di pedalaman masih mempercayai dukun ketimbang mantri atau dokter. Dia menyatakan, untuk meningkatkan program pelayanan yang berkualitas pihaknya saat ini melakukan sasaran pelaksanaan pendataan masalah kesehatan yang ada di masyarakat.
Meliputi pendataan jumlah bayi,lanjut usia, ibu hamil, keluarga miskin, cakupan imunisasi, dan pengobatan tuberkulosis (TBC). Pendataan itulah guna memudahkan pelayanan kesehatan yang bermutu serta berkualitas dengan jumlah tenaga medis terbatas. "Selama ini kami hanya memiliki seorang tenaga dokter,"katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten Lebak, H Maman Sukirman, menegaskan, pihaknya saat ini masih kekurangan tenaga medis untuk bertugas di daerah pedalaman. Oleh sebab itu, pihaknya tengah mengusulkan adanya penambahan tenaga medis berstatus pekerja tidak tetap (PTT) dokter, mantri dan bidan ke Departemen Kesehatan Pusat. "Mudah-mudahan tahun ini juga ada penambahan tenaga medis dari Departemen Kesehatan,"katanya.

Sumber : Antara
Dukun dan Dokter
dalam Sastra Indonesia
("Literature and Medicine" - Sebuah Studi)


SEKILAS pandang, sastra tampaknya tidak ada hubungannya dengan pengobatan atau dengan penyakit, dan bidang kedokteran (medicine) dan sastra (literature) jarang dihubungkan satu sama lain. Tetapi, paling tidak, dalam tradisi Barat, hubungan antarkedua bidang itu sebetulnya cukup erat. Beragam ide dan spekulasi seputar hubungan seni dengan penyakit dan pengobatan dapat kita temukan dalam pemikiran Barat sejak zaman Aristoteles; misalnya bahwa "jenius" atau bakat seni yang luar biasa merupakan sejenis kelainan jiwa (penyakit), bahwa pengalaman sakit dan penderitaan berguna atau perlu bagi seorang sastrawan (misalnya dalam pemikiran Goethe, juga Nietzsche), atau bahwa seni mempunyai potensi untuk menyembuhkan orang yang sakit.


PENGOBATAN sendiri dipahami sebagai sebuah "seni" (the art of healing), dan hanya sejak makin majunya kedokteran biomedis/Barat sebagai sebuah "ilmu", maka mulai dibedakan antara "ilmu pengobatan" (the science of healing) dan "seni pengobatan". Di samping itu, keadaan sakit sebagai salah satu pengalaman manusia yang paling hakiki sudah dari dulu merupakan motif yang banyak dapat ditemukan dalam karya sastra, dan karena itu juga sangat layak dan perlu diteliti dalam kritik sastra.


Di Indonesia pun hubungan antara sastra dan pengobatan sebetulnya cukup erat walaupun tentu saja bentuk hubungan itu tidak sama dengan yang terdapat dalam tradisi Barat. Sayang sekali belum ada studi tentang sejarah hubungan antara seni dan pengobatan di Indonesia, sehingga ide-ide yang ada atau pernah ada tentang hubungan itu sulit kita nilai secara menyeluruh. Di sini saya hanya ingin menyebut salah satu contoh yang bagi saya tampak cukup menonjol, yaitu mantra: bukankah mantra sekaligus merupakan sebuah karya sastra tradisional dan sebuah sarana pengobatan?


Kalau dalam dunia kedokteran Barat zaman sekarang kedekatan dunia sastra dengan dunia kedokteran yang paling menonjol adalah di bidang psikologi/psikoterapi, di Indonesia bukan orang yang punya gangguan jiwa saja yang diobati dengan kata-kata. Kepercayaan pada mantra adalah kepercayaan pada kekuatan kata: kata dapat membentuk realitas, antara lain dapat menyembuhkan dan juga menyakiti orang.


Studi literature and medicine merupakan sebuah bidang penelitian interdisipliner yang cukup banyak diminati, dan bahkan sejak tahun 1982 ada sebuah majalah khusus bernama Literature and Medicine diterbitkan oleh Universitas Johns Hopkins, Baltimore, Amerika Serikat. Studi dalam bidang ini mulai dilakukan dengan serius pada akhir tahun 70-an, dengan studi awal yang penting antara lain esai panjang Susan Sontag, Illness as Metaphor (1978), dan kumpulan artikel "Medicine and Literature" yang dieditori oleh Enid Rhodes Peschel (1980).


Studi semacam itu dilakukan bukan hanya oleh kritikus sastra, tetapi juga oleh ahli di bidang kedokteran atau di bidang sejarah sains. Yang banyak dibahas adalah karya sastra (umumnya fiksi) dengan tokoh-tokoh dokter dan/atau orang sakit, antara yang sering diteliti misalnya novel The Magic Mountain Thomas Mann dan cerpen Tolstoy, The Death of Ivan Ilych. Di samping itu ada penelitian tentang sastrawan yang sekaligus dokter (misalnya penyair Amerika, William Carlos Williams), tentang "pathography" (tulisan otobiografis tentang pengalaman sakit), tentang guna ilmu sastra bagi dokter/calon dokter (di Amerika Serikat, literature and medicine merupakan bagian dari kurikulum di fakultas kedokteran), dan lain-lain.


Dalam kritik sastra Indonesia belum banyak studi tentang motif penyakit dan pengobatan dilakukan, tapi walaupun demikian, terdapat juga beberapa tulisan singkat mengenainya (sayang sekali semuanya bukan dalam bahasa Indonesia!). Dua peneliti Belanda, de Josselin de Jong dan Jordaan, meneliti motif penyakit dalam teks-teks klasik dan menginterpretasikan bahwa dalam teks-teks tersebut menggambarkan seorang raja sebagai orang yang kena penyakit merupakan sebuah bentuk kritik politik (1985 dan 1986). Dalam sebuah artikel di jurnal RIMA (Australia), Helen Pausacker dan Charles A Coppel membahas hubungan antara cinta, penyakit, dan citra perempuan dalam novel-novel Melayu Pasar karya para pengarang Tionghoa Peranakan (2001). Peneliti Jerman, Helga Blazy, dalam bukunya tentang citra anak- anak dalam sastra Indonesia membicarakan "anak yang sakit" dalam satu bab tersendiri (1990). Dan CW Watson, seorang ahli sastra dan budaya Indonesia dari Belanda, membicarakan motif dukun dan ilmu hitam dalam sastra Indonesia dalam sebuah buku tentang "witchcraft and sorcery" di Asia Tenggara (1993).


Sebuah ciri penting situasi pengobatan di Indonesia adalah terdapatnya pluralisme sistem pengobatan di mana berbagai cara pengobatan yang berbeda-beda hadir berdampingan. Yang paling dominan di antaranya adalah pengobatan asli Indonesia (yaitu sistem pengobatan etnis tiap daerah yang pada umumnya termasuk humoral medicine dan memiliki elemen-elemen magis) dan pengobatan biomedis/Barat. Pluralisme ini membawa berbagai macam persoalan, terutama karena sistem kesehatan yang resmi (puskesmas, rumah sakit, pendidikan kedokteran di universitas, dan sebagainya) hampir seutuhnya berpegang pada sistem biomedis, sedangkan sistem pengobatan yang paling dikenal dalam masyarakat tetaplah pengobatan asli Indonesia (tradisional). Untuk sebuah studi motif pengobatan/penyakit dalam sastra Indonesia tentu keadaan yang penuh konflik ini sangat menarik. Adakah wujud konflik antarsistem-sistem pengobatan itu terdapat dalam sastra, dan bagaimana bentuknya?


Yang ingin saya lakukan di sini adalah sebuah perbandingan antara citra pengobatan tradisional (atau citra dukun) dan citra pengobatan biomedis (atau citra dokter). Studi perbandingan seperti ini belum banyak dikerjakan. Sampai sekarang kebanyakan tulisan dalam bidang literature and medicine merupakan studi tentang karya sastra Eropa dan Amerika Serikat yang hampir selalu berfokus pada sistem pengobatan biomedis yang dominan di Barat. Memang ada beberapa studi yang bersangkutan dengan sistem pengobatan nonbiomedis, tetapi konflik antardua sistem yang berbeda jarang dijadikan fokus, begitu juga dalam artikel-artikel tentang motif penyakit dalam sastra Indonesia yang saya sebut di atas.


Sebuah pengecualian yang menarik adalah artikel Barbara Corrado Pope (Literature and Medicine, Vol 8, 1989) tentang novel Lourdes karya sastrawan Perancis Émile Zola (1894) yang mengisahkan tentang Lourdes, sebuah tempat di Perancis, di mana banyak orang sakit pergi berziarah dengan harapan akan disembuhkan secara ajaib. Novel ini bertemakan konflik antardua jenis pengobatan yang berbeda, yaitu pengobatan yang bercorak religius dan ilmu kedokteran.


Pada zaman Zola menulis novelnya itu terdapat perdebatan yang cukup sengit antara gereja Katolik (yang meyakini terjadinya keajaiban-keajaiban berupa penyembuhan spontan berkat campur tangan Yang Maha Kuasa di Lourdes) dengan dokter dan ilmuwan (yang tidak percaya akan adanya keajaiban semacam itu dan mengemukakan penjelasan alternatif tentang penyembuhan yang terjadi di Lourdes). Dalam konteks itu Zola dengan tegas menyatakan pendapatnya melalui novelnya bahwa "keajaiban" yang terjadi di Lourdes sebetulnya dapat dijelaskan secara medis sebagai sesuatu yang alami dan tidak ada ajaibnya. Tidak mengherankan kalau novelnya itu kemudian menimbulkan protes dari pihak gereja.


Lourdes merupakan salah satu contoh karya sastra yang digunakan untuk menyatakan pandangan tertentu tentang wacana kedokteran pada zamannya. Dengan memilih tempat berziarah Lourdes sebagai tema novelnya, sepertinya pengarang tidak bisa tidak mengutarakan pendapatnya dalam debat antara gereja dan ilmuwan yang sedang berlangsung pada masa itu. Kita sulit membayangkan bagaimana novel itu akan bisa ditulis tanpa adanya keputusan yang tegas (dari pengarangnya) apakah "keajaiban" mesti dipandang sebagai sesuatu yang nyata atau sebagai ilusi.

............... lanjut........
lanjutan...


Supernatural


Situasi di Indonesia bisa dikatakan agak mirip dengan apa yang dilukiskan Zola dalam Lourdes, dalam arti bahwa dalam masyarakat Indonesia terdapat kepercayaan tradisional pada hal-hal "gaib" atau "supernatural" yang tidak diakui secara "ilmiah". Dalam sistem pengobatan asli Indonesia, penyakit biasanya diklasifikasikan sebagai penyakit yang "biasa" (alami) dan "luar biasa" (disebabkan oleh kekuatan gaib), sedangkan ilmu kedokteran biomedis tidak mengenal penyakit yang "luar biasa" seperti itu. Lalu apakah dalam karya sastra Indonesia kita menemukan pernyataan pendapat pengarang yang tegas seperti dalam Lourdes tentang apakah kekuatan-kekuatan gaib yang dipercayai dan digunakan dalam pengobatan tradisional di Indonesia itu benar-benar nyata atau hanya tahayul belaka?


Ketegasan seperti itu ternyata jarang kita temukan dalam karya sastra Indonesia. Dukun cukup sering terdapat sebagai tokoh yang biasanya dihubungkan dengan dunia kampung/desa, dengan orang tua atau orang kuno dan dengan pandangan hidup tradisional. Tetapi, kalau kita mengamati cerita mengenainya-terutama cerita yang berhubungan dengan hal-hal magis-dengan teliti, kita sering tidak menemukan jawaban yang tegas apakah kekuatan atau kejadian gaib itu dipandang sebagai sesuatu yang nyata atau tidak. Contoh yang mungkin paling menonjol adalah novel Ni Rawit, Ceti Penjual Orang karya AA Pandji Tisna (1935).


Walaupun balian (dukun), guna-guna, dan sejenisnya merupakan tema yang amat penting dalam novel itu dan dibicarakan dengan sangat rinci, pengarang dengan sangat lihai berhasil menghindar dari pernyataan sikap yang tegas mengenai ilmu perdukunan itu sendiri. Dalam novel tersebut diceritakan bahwa tokoh Ida Wayan berkonsultasi kepada seorang dukun dengan maksud untuk memikat gadis Dayu Kenderan yang dipujanya. Lalu kita mendapat informasi yang terperinci tentang cara pembuatan guna-guna untuk mencapai tujuan itu.


Penilaian moral atas perbuatannya itu pun cukup jelas dalam novel tersebut: memakai guna-guna bukan cara yang terpuji, dan Ida Wayan akhirnya menyesalinya. Tetapi, apakah guna-guna itu mempunyai kekuatan yang nyata? Tampaknya semua tokoh meyakini hal itu, tetapi pandangan narator/pengarang tentang hal tersebut sama sekali tidak jelas. Berkali-kali plot seperti dengan sengaja dibelokkan hingga tidak pernah terjadi situasi di mana akan terbukti apakah guna-guna itu akan mampu membuat Kenderan terpikat atau tidak.


Setiap kali Ida Wayan mencoba menggunakan guna-guna yang diperolehnya dari dukun, selalu saja ada halangan: dua kali guna-guna yang disembunyikan dekat pintu pagar tembok pekarangan rumah Kenderan ditemukan orang sebelum sempat dilalui Kenderan; mantra yang dimaksudkan untuk membuat Kenderan terpikat terhalang digunakan; ilmu sesirep yang dipakai dengan tujuan membuat penghuni rumah Kenderan tertidur pulas dan tidak menyadari ada orang memasuki pekarangannya ternyata mubazir karena rumah telah kosong pada saat itu.


Tampak dengan jelas bahwa walaupun ilmu gaib dilukiskan secara rinci dan cukup panjang lebar dalam novel Ni Rawit, pertanyaan apakah ilmu gaib itu nyata atau ilusi tidak terjawab, atau lebih tepat: sengaja tidak dijawab.
Mengapa Zola secara tegas menyatakan pendapatnya tentang "keajaiban" dengan novelnya, Lourdes, sedangkan Pandji Tisna tampak dengan sengaja menghindari pernyataan pendapat seperti itu?


Ternyata, situasi di Indonesia pada saat Pandji Tisna menulis Ni Rawit cukup jauh berbeda dari situasi di Perancis pada masa Zola menulis Lourdes walaupun secara selintas pandang terkesan mirip. Kedua kekuatan yang bertentangan pada akhir abad ke-19 di Perancis (gereja dan sains) sama-sama besar meski dalam perkembangannya kemudian gereja bisa dikatakan kalah. Pertentangan itu berlangsung secara terbuka, dan dalam suasana seperti itu pernyataan sikap secara tegas seperti yang dilakukan dalam Lourdes merupakan hal yang wajar.


Di Indonesia, perdukunan dan kedokteran Barat tidak pernah menjadi dua kekuatan oposisi yang berhadapan secara frontal seperti itu. Pengobatan biomedis masuk ke Indonesia sebagai bagian dari budaya kolonial, dan itu berarti pengobatan tersebut dari awal sudah dipresentasikan sebagai yang paling baik, yang paling benar, yang "modern". Kalau dalam kasus Lourdes sulit dibayangkan bagaimana Zola mesti menulis novel seperti itu tanpa mengutarakan pendapatnya tentang debat yang sedang berlangsung, maka pada novel Ni Rawit justru sebaliknya: sikap menghindar dari pernyataan tegas tentang ilmu gaib terasa wajar dan masuk akal karena keputusan untuk melukiskan ilmu gaib sebagai tahayul ataupun sebagai kekuatan yang nyata masing-masing terlalu berisiko.
Seandainya dilukiskan sebagai kekuatan nyata, mana mungkin novel itu akan diterbitkan Balai Pustaka! Dan tentu pengarang akan kelihatan "kuno", ketinggalan zaman. Tetapi, seandainya dilukiskan sebagai tahayul, plot cerita akan menjadi kacau: semua tokoh, termasuk tokoh yang baik, akan terlihat "kuno", "kampungan" dan bahkan "bodoh" karena mempercayai sesuatu yang tidak nyata. Padahal, tokoh-tokoh itu berasal dari lapisan atas masyarakat Bali pada zaman itu, yaitu kaum Brahmana yang merupakan elite intelektual tradisional. Bukankah akan terkesan sebagai penghinaan pada masyarakat Bali seandainya pengarang mengambil jarak dari tokoh-tokoh itu dan menampilkan mereka sebagai "orang kampung" yang percaya pada tahayul!


Ambiguitas khas masyarakat pascakolonial semacam ini terdapat dalam kebanyakan karya sastra Indonesia yang menceritakan tokoh dukun walaupun, seperti sudah dikatakan di atas, Ni Rawit merupakan contoh yang agak menonjol. Bentuk ketidaktegasan tentang nyata atau tidak nyatanya ilmu/kejadian gaib sangat bervariasi: misalnya dalam novel Sitti Nurbaya (Marah Rusli, 1922) konsultasi beberapa tokoh dengan seorang dukun dilukiskan secara mendetail, tetapi kemudian cerita itu seperti tidak ada kelanjutannya, tidak diceritakan hasil usaha mereka untuk mencelakakan seorang tokoh yang tidak mereka sukai dengan ilmu hitam.


Sedangkan dalam Para Priyayi (Umar Kayam, 1992) yang digunakan adalah cara bernarasi: pengalaman Lantip menyaksikan "kesaktian" seorang dukun diceritakan oleh Noegroho dengan mengambil jarak, dalam arti Noegroho mengatakan Lantip yakin akan apa yang dilihatnya, tetapi dia sendiri tidak percaya.


Walaupun dalam banyak karya sastra Indonesia tampak sekali ada keraguan dalam menulis tentang dukun dan tentang kekuatan atau pengalaman gaib, keraguan itu hampir tidak pernah dibicarakan secara eksplisit. Biasanya fokus diletakkan pada elemen cerita yang lain. Yang sering ditekankan adalah penilaian moral tentang perdukunan, terutama bentuk-bentuknya yang dianggap "dosa", seperti guna-guna, jimat, sihir, dan sebagainya.
Wak Katok dalam novel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis (1975), misalnya, merupakan tokoh dukun palsu yang jahat. Buyung, tokoh pemuda yang cerdas dan baik, yang pada mulanya sangat percaya dan tertarik pada "ilmu" Wak Katok, mengalami "pendewasaan" yang cukup dahsyat dan akhirnya dia bukan saja menyadari bahwa "ilmu" Wak Katok itu palsu, tetapi juga bahwa "ilmu" seperti itu sebetulnya tidak perlu dan tidak baik.


Persoalan apakah "ilmu" seperti itu sebetulnya selalu palsu dan mustahil dimiliki manusia, atau apakah hanya Wak Katok saja yang "ilmu"-nya palsu, tapi dukun lain mungkin saja betul-betul memiliki kekuatan gaib, tidak dibahas dan menjadi tidak begitu penting. Pesan yang penting adalah bahwa manusia sebaiknya berusaha dengan "jujur" saja tanpa menggunakan bermacam-macam ilmu gaib, jimat, dan sebagainya, dan bahwa kepercayaan pada kekuatan gaib yang ada dalam masyarakat sebetulnya kurang menguntungkan karena dengan mudah dapat disalahgunakan oleh "pemimpin" semacam Wak Katok.


Ringkasnya, tokoh dukun pada umumnya tokoh yang jahat atau paling tidak agak mencurigakan. Berbagai bentuk "ilmu" yang dipraktikkannya digambarkan sebagai sesuatu yang tidak baik atau "dosa", dan usahanya untuk mengobati orang sakit biasanya kurang efektif. Walaupun begitu, tentang nyata atau tidaknya kekuatan gaib yang dapat digunakan dukun atau yang terdapat pada alam atau benda-benda tertentu sering tidak ada sikap pengarang yang tegas.

,,,,,,,,,, lanjut............
lanjutan...


Tokoh dokter

Lalu bagaimana dengan tokoh dokter? Kalau tokoh dukun kebanyakan negatif, sebaliknya dokter hampir selalu tokoh yang positif. Dokter sering digambarkan sebagai manusia yang penuh kasih sayang, ramah, dan baik. Hanya saja, kalau kita mencari informasi tentang ilmu pengobatan biomedis yang dipraktikkan tokoh-tokoh dokter tersebut, kita mesti kecewa: informasi semacam itu biasanya sangat sedikit atau tidak ada sama sekali.


Kutipan dari novel Karena Mentua (Nur Sutan Iskandar, 1932) berikut ini hanya salah satu contoh untuk sebuah kekhasan yang sering kita jumpai pada deskripsi konsultasi dengan dokter dalam sastra Indonesia:
"Dukun telah banyak turun naik rumah. Kata mereka itu, Ramalah sakit karena dimantrakan oleh bekas suaminya. Mantra pembalik pun dibacakan. Biasanya-kata dukun- karena mantra itu Ramalah mesti sembuh, dan Marah Adil sakit keras atau mati. Akan tetapi karena lama-kelamaan Mak Guna terpaksa meminta pertolongan kepada dokter. Meskipun agak lama akan sembuh, tetapi dari sehari ke sehari perempuan yang malang itu berangsur-angsur baik pula" (hlm 217).


Konsultasi dengan dukun dilukiskan dengan cukup rinci: kita diberi tahu tentang diagnosis menurut dukun itu dan tentang tindakan medisnya. Anehnya, pada deskripsi konsultasi dengan dokter, informasi yang seperti itu sama sekali tidak diberikan. Sakit apakah Ramalah menurut diagnosis dokter? Dan dengan cara apa dokter mengobatinya? Satu-satunya yang kita ketahui hanyalah bahwa dengan pertolongan dokter ternyata akhirnya Ramalah berhasil disembuhkan!


Yang kita temukan dalam penggambaran tokoh dokter dan pengobatan biomedis justru sebaliknya daripada yang kita lihat di atas dalam penggambaran dukun. Tindakan dukun biasanya diceritakan dengan cukup rinci, tetapi sering digambarkan sebagai tidak efektif atau tidak jelas keampuhannya. Tindakan dokter biasanya digambarkan efektif-kecuali kalau memang "ajal" si sakit sudah sampai hingga siapa pun tak dapat mengubahnya-tetapi informasi mengenainya sangat sedikit.


Apa yang menyebabkan absennya informasi tentang pengobatan dan ilmu biomedis dalam deskripsi interaksi pasien dengan dokter tersebut? Kekurangan informasi itu sebetulnya tidak terlalu mengherankan kalau kita memperhatikan situasi pengobatan biomedis di Indonesia. Dibandingkan dengan dokter di Barat, dokter di Indonesia pada umumnya bisa dikatakan sangat "pendiam": kalau pasien tidak bertanya, dokter jarang memberikan keterangan tentang diagnosisnya. Biasanya informasi yang diberikan kepada pasien hanyalah keterangan seperlunya tentang pengobatan (dosis obat dan sebagainya). Sayang sekali, keadaan yang jelas kurang baik dan merugikan pasien ini hanya sekali-sekali dikritik dalam karya sastra, sebaliknya biasanya karya sastra malah ikut dalam "konspirasi rahasia" semacam itu.


Mari kita kembali kepada perbandingan dengan novel Lourdes. Dalam menulis novel ini, Zola dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan pada zamannya, terutama oleh tulisan-tulisan JM Charcot, seorang ahli penyakit saraf yang bisa disebut pendahulu Sigmund Freud. Teori Charcot tentang penyakit "histeris" (sekarang lebih umum disebut psikosomatis) digunakannya untuk memahami apa yang terjadi dalam kasus-kasus "penyembuhan ajaib" di Lourdes.


Apa yang dilakukan Zola itu sebetulnya mewakili apa yang terjadi dalam masyarakat Eropa pada umumnya pada zaman tersebut: Peran ilmu pengetahuan dan pandangan hidup yang rasionalis dan sekuler makin besar, sedangkan kepercayaan pada "keajaiban", pada "yang gaib" (dan juga pada agama) makin terdesak dan menghilang. Ini merupakan sebuah proses yang panjang, di mana dengan makin majunya ilmu pengetahuan, kepercayaan pada hal-hal yang gaib, agama, dan berbagai kepercayaan tradisional yang lain makin dinilai "tidak masuk akal" karena tidak dapat dibuktikan secara "ilmiah". Sebagai akibatnya, ilmu pengetahuan menjadi begitu penting di Eropa (atau di dunia Barat pada umumnya) hingga menyerupai semacam "agama" baru.


Di Indonesia, seperti juga di negeri jajahan yang lain, "agama" baru itu diperkenalkan oleh penjajah, dan tentu karena itu dengan sendirinya tidak ada proses "penyadaran" atau rasionalisasi seperti yang terjadi di dunia Barat. Ilmu Barat begitu saja dihadirkan sebagai "yang modern" atau "yang unggul", tetapi berbagai macam bentuk ilmu dan kepercayaan yang sudah ada sebelumnya tentu tidak menghilang begitu saja.
Sebuah analisis yang tajam dan humoris atas keadaan ini bisa kita temukan dalam cerpen Idrus, Jalan Lain ke Roma (1948). Pada waktu orangtua tokoh utama memberikan nama padanya, mereka awalnya ingin menanyakan dukun apa nama yang baik bagi anak mereka itu. "Tapi, ini segera dibuangnya jauh-jauh. Mereka merasa hina berhubungan dengan dukun, karena di sekolah HIS dulu mereka belajar, bahwa dukun pembohong, tidak pintar, dan harus dijauhi, jika hendak selamat" (hlm 153). Pendidikan Barat membuat kedua orangtua merasa curiga pada dukun, tetapi pendidikan itu sendiri bukannya membuat mereka "menyadari" di mana letak "kekurangan" kepercayaan pada dukun tersebut, hanya membuat mereka mengikuti kata-kata guru tanpa mempertanyakannya.



Cara mereka kemudian mencari nama untuk anaknya pun sebetulnya sangat dekat dengan kepercayaan tradisional. Sang ayah bermimpi, lalu mimpi itu oleh istrinya diartikan sebagai "bisikan Tuhan". Di samping itu, sang ibu berharap nama yang diberikan akan mempengaruhi sifat anak itu. Jadi, apa yang biasanya dilakukan oleh dukun, yaitu mencari "wahyu" tentang nama yang tepat dan memilih nama yang akan punya pengaruh baik terhadap sifat dan keselamatan si anak, di sini dilakukan oleh kedua orangtua itu sendiri. Hanya saja, proses pemberian nama sedikit "dibaratkan": sang ayah bermimpi tentang Kota New York, dan kata Belanda openhartig (jujur) berdengking di telinganya, maka nama yang diberikan pada anak mereka: "Open".


Dengan ironis Idrus melukiskan sebuah kecenderungan dalam masyarakat Indonesia, yang masih juga terdapat sampai sekarang: hal-hal yang terkesan "kuno" dan "kampungan" (di sini dukun) ditolak, digantikan dengan "yang Barat" atau "yang modern", tetapi "yang Barat" itu sebetulnya cuma terkesan Barat, "modern" permukaannya saja, sedang intinya tetap "tradisional".


Sayang sekali karya yang begitu segar dan kritis seperti cerpen Idrus tersebut tidak begitu sering ditemukan dalam sastra Indonesia. Idrus dengan tajam menyoroti inti persoalan masyarakat pascakolonial seperti Indonesia, tetapi kesadarannya itu bisa dikatakan merupakan pengecualian, mungkin karena teori pascakolonial pun belum begitu dikenal di sini.


Tidak selalu yang "kuno" dan "kampungan" itu begitu buruk atau bodoh sama sekali. Bukankah ide yang ada di balik mantra bahwa realitas merupakan sesuatu yang (dapat) dibentuk oleh kata, ternyata telah kita "temukan" kembali pada zaman pascamodern ini?
Pluralisme sistem pengobatan di Indonesia di mana sistem biomedis menjadi sistem yang dominan, tetapi umumnya tidak dipahami dengan baik dan pengobatan asli Indonesia dikenal dan digunakan secara luas, tetapi kurang diakui dan dihargai tentu bukan sebuah realitas yang hadir begitu saja dengan sendirinya, tapi diciptakan mulai dari pendidikan Belanda pada zaman kolonial sampai sekarang. Penjajahan bukan hanya terjadi lewat kekerasan fisik, tetapi terutama sekali lewat sihir kata-kata (tekstualitas): misalnya lewat bacaan yang diedarkan kaum penjajah (antara lain buku-buku terbitan Balai Pustaka), iklan, pendidikan formal seperti yang digambarkan Idrus. Dan dalam wacana pengobatan tampaknya mantra yang digunakan penjajah cukup ampuh, paling tidak dalam membentuk nilai-nilai dalam masyarakat.


Oleh: Katrin Bandel Sedang meneliti motif penyakit dan pengobatan dalam sastra Indonesia untuk gelar doktornya di Universitas Hamburg, Jerman.
Sumber: Kompas Cyber Media
klo gak salah tadinya dukun adalah gelar terhormat di daerah sulawesi ? gak semua orang bisa menyandang gelar / sebutan ini ? tapi seiring perkembangan jaman... terjadi perubahan makna dan kata.

moga2 info ini gak salah.

sebenernya dukun mengalami kemunduran itu tidak bisa disalahkan. itu karena oknum. dukun terjerumus oleh godaan uang & wanita. sehingga namanya jelek.

yang terjadi seperti yg kita liat di kepolisian & kedokteran. ketika seseorang tidak bisa menjalankan perannya dengan baik dan tergoda oleh uang. dokter menjadi malaikat pencabut nyawa dengan membebankan biaya pengobatan selangit. polisi menjadi penjahat berseragam dengan membela keadilan tanpa pandang bulu, tapi pandang isi brankas.

beberapa hari yang lalu kenalan mendapatkan PM untuk belajar pasang susuk. karena malas, maka kenalan minta mahar 15 juta. ternyata orang yang PM itu mensetujui. hmm.. yakin balik modal sih.

udah segitu aja dulu
Quote:Dukun (dilema pengobatan tradisional indonesia)


sebelum mulai share, sengaja saya kutipkan dahulu artikel tentang dukun
agar sama-sama kita bisa menentukan arah diskusi pd thread ini..

dan selanjutnya silahkan kita simak dahulu ,
artikel-artikel berikut

anggap aja kompilasi sebagai pendahuluannya emoticon-Peace

Thumbs up 
nice share... terima kasih mas Hebi

Quote:Original Posted By hebiryu
klo gak salah tadinya dukun adalah gelar terhormat di daerah sulawesi ? gak semua orang bisa menyandang gelar / sebutan ini ? tapi seiring perkembangan jaman... terjadi perubahan makna dan kata.

moga2 info ini gak salah.


nah ini dia info yg sangat ditunggu... terima kasih emoticon-thumbsup:
Quote:Original Posted By hebiryu

sebenernya dukun mengalami kemunduran itu tidak bisa disalahkan. itu karena oknum. dukun terjerumus oleh godaan uang & wanita. sehingga namanya jelek.
]
setuju.. emoticon-Smilie
Quote:Original Posted By hebiryu

yang terjadi seperti yg kita liat di kepolisian & kedokteran. ketika seseorang tidak bisa menjalankan perannya dengan baik dan tergoda oleh uang. dokter menjadi malaikat pencabut nyawa dengan membebankan biaya pengobatan selangit. polisi menjadi penjahat berseragam dengan membela keadilan tanpa pandang bulu, tapi pandang isi brankas.


beberapa hari yang lalu kenalan mendapatkan PM untuk belajar pasang susuk. karena malas, maka kenalan minta mahar 15 juta. ternyata orang yang PM itu mensetujui. hmm.. yakin balik modal sih.

udah segitu aja dulu


emoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grin
Legenda Ular Nepa


Banyak cerita yang dituturkan oleh orang-orang yang datang membezuk. Adakalanya cerita itu menarik tapi tak jarang juga ada yang membosankan karena sudah sangat sering aku dengar dari orang lain. Pada umumnya cerita yang ditawarkan berkutat seputar success story dari orang-orang yang mengalami sakit khususnya patah tulang seperti yang aku alami ini, dan cerita-cerita tentang pahit getir kehidupan dari orang-orang yang pengalaman hidupnya lebih panjang dari pada aku.


Salah satu cerita yang menurutku sangat menarik dan meninggalkan kesan mendalam adalah kisah yang aku dapat dari seorang pemuda bernama Rofinus. Rofinus ini berasal dari Flores – NTT, bekerja sebagai driver di suatu perusahaan dan tinggal di rumah Wak Haji Fatma persis di depan rumahku.


Pada suatu siang dia menyempatkan diri datang untuk menengok keadaanku. Awalnya dia bercerita tentang pengalaman masa remaja – waktu dia masih di daerah asalnya Flores - dimana dia pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan pecah pada tulang dahinya dan harus ditambal (entah ditambal dengan apa aku juga lupa bertanya). Untuk itu dia juga telah menghabiskan beberapa minggu di rumah sakit dan sudah bertemu dengan orang-orang yang mengalami kasus-kasus semacam patah tulang. Dari hasil ngobrol dengan orang-orang itu dia mendapat cerita bahwa di daerah itu ada seorang yang ahli mengobati patah tulang melalui cara-cara yang adikodrati, sebut saja bernama Opa Mundus (bukan nama sebenarnya – red.).


Sampai di sini aku masih belum tertarik, karena di sini pun banyak orang-orang berkeahlian semacam itu atau yang di Jakarta populer disebut sebagai “dukun patah”, sebut saja seperti Guru Singa, Haji Ilyas, dan dukun-dukun lain dari daerah Cimande. Namun yang begitu menyentuh bagiku adalah legenda tentang bagaimana Opa Mundus ini memperoleh keahliannya itu.


Syahdan, puluhan tahun lalu ketika Opa Mundus masih remaja belia, dia ikut bersama rombongan pemburu dari desanya menuju hutan. Sebagaimana lazimnya di daerah itu, perburuan untuk mencari rusa atau babi hutan dilakukan serombongan laki-laki dewasa berjumlah belasan orang secara bersama-sama demi alasan keamanan. Mundus remaja adalah anggota termuda dalam rombongan itu. Demikianlah, pagi hari mereka berangkat dan sampai di hutan. Setelah mendirikan tenda mereka menugaskan Mundus tinggal di tenda sambil memasak makanan, lalu yang lain masuk ke hutan yang lebih dalam untuk memulai perburuan.


Hari itu rupanya mereka kurang beruntung, karena sepanjang siang tak satu rusa atau babi hutan pun yang berhasil mereka tangkap. Menjelang sore mereka menemuka seekor ular – yang menurut Rofinus – berdiameter sebesar bantal guling dan memiliki panjang 2-3 meter. Ular itu mereka sebut sebagai ular nepa dan sudah biasa dijadikan santapan oleh penduduk setempat. Maka ular nepa yang malang itu mereka tangkap dan bunuh, lalu menjelang malam mereka kembali ke perkemahan dimana Mundus telah menunggu sedari siang.


Malam harinya ular itu mereka kuliti lalu dipotong kecil-kecil, sebagian mereka panggang dan mereka jadikan menu makan malam. Sisanya mereka keringkan lalu disimpan. Setelah puas makan, mereka pun tertidur dibuai angin malam, diterangi cahaya bintang dan ditemani suara lirih burung hantu. Dan ketika matahari mulai bersinar esok pagi, mereka kembali melanjutkan perburuannya dan meninggalkan Mundus di perkemahan bersama sisa tulang-tulang ular nepa yang berserakan di sekitar tenda.


Pagi telah berganti siang ketika Mundus mendengar gemerisik suara daun kering. Semakin Mundus mengarahkan pendengarannya suara itu terdengar semakin kuat dan terkadang ditingkahi suara mendesis. Betapa terkejutnya Mundus ketika ia melihat seekor ular nepa seukuran ular yang telah mereka potong itu berjalan mendekat ke arahnya. “Tentu ini adalah teman nepa itu,” pikir Mundus, “Dan dia datang kemari untuk membalas dendam.”
Dengan jantung berdebar kencang Mundus lari dan memanjat pohon terdekat. Mundus mengamat-amati arah gerakan nepa itu kalau-kalau dia ikut naik mengejar ke pohon. Mundus tidak bisa membayangkan kalau nanti nepa itu akan datang bersama teman-temannya yang lain mengejarnya, pasti ia akan menjadi santapan nepa itu.


Namun apa yang dilihat Mundus sangat jauh dari bayangannya. Bukannya mengejar, nepa itu malah sibuk mengumpulkan sisa-sisa tulang yang berserakan itu dengan mulutnya. Setelah semua tulang itu terkumpul, kini ia mengobrak-abrik peralatan masak, dan memunguti semua potongan daging yang tersimpan di belanga. Setelah semua terkumpul, lalu nepa itu seperti mulai “merekonstruksi” potongan-potongan itu mulai dari kepala, badan sampai ekor, hingga akhirnya tersusun seperti seekor ular.


Mundus terus mengamati gerak-gerik nepa itu. Kini setelah semua potongan itu tersusun, nepa itu pergi ke semak-semak lalu mengambil sejenis daun-daunan dengan mulutnya, mengunyah daun-daun itu dan menaburi sepah-sepah kunyahannya ke atas susunan potongan daging nepa malang tadi. Dan setelah semua sepah ditaburi lalu nepa ini mulai menjilati dengan lidahnya. Merinding bulu roma Mundus melihat potongan daging tadi sedikit demi sedikit mulai menyatu dan lambat laun bergerak seiring gerakan lidah nepa itu menjilatinya. Sampai akhirnya seluruh potongan tubuh itu tersambung kembali dan berwujud seperti ular nepa utuh.


Kini nepa itu telah hidup lagi. Lalu kedua nepa itu mendekat terlihat seperti sendang berbicara dengan mesra. Kiranya nepa yang datang itu adalah pasangan nepa malang yang sudah dipotong-potong itu. Beberapa saat kemudian kedua nepa itu berjalan beriringan masuk kembali ke dalam hutan dan menghilang dari pandangan Mundus.
Takjub, takut dan haru memenuhi hati Mundus sehingga hilang kekuatannya untuk turun dari pohon itu. Sore hari ketika para pemburu itu kembali ke perkemahan baru dia berani turun dan menceritakan semua yang dilihatnya siang itu. Saat itu juga mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan perburuan.


Esok paginya mereka kembali ke desanya tanpa membawa hasil apa pun. Namun tidak bagi Mundus, kini ia telah memperoleh suatu penerangan budi yang memberinya kemampuan baru. Semenjak itu ia dikenal sebagai mengobati orang yang patah tulang melalui cara yang telah diajarkan oleh nepa itu.


Aku begitu terharu waktu Rofinus mengakhiri ceritanya. Tak sadar setetes bening membasahi sudut mataku. Terlepas dari benar atau tidaknya, legenda ini begitu mengesankan bagiku. Aku seperti baru mendapat suatu pencerahan. Bukan karena kini aku telah tahu cara mengobati patah tulang, tapi sungguh aku tersentuh dengan prilaku ular ini. Yang karena begitu besarnya cinta itu, ia sungguh kehilangan dan tidak rela jika pasangannya itu direnggut dari kehidupannya. Dan pada akhirnya cinta itu telah menang. Cinta lah yang mampu memulihkan si nepa malang itu.


Contoh yang ekstrim memang. Tapi kadang-kadang suatu pelajaran penting perlu diilustrasikan dalam contoh ekstrim. Jika ular saja mampu mencintai seperti itu, manusia seharusnya bisa lebih. Bahkan jauh lebih!
[url]http://bona_amanitogar.blogs.friendster.com[/url]
be right back


bobo dulu aaah... cape deh emoticon-linux2
ntar siang diperkanjut lagi emoticon-Shutup .................................................... emoticon-Ngacir
trit yg bagus ki.....emoticon-Angkat Beer

ijin baca2 dolo yah....
Dukun....

istilah yang sangat populer pada masyarakat tradisional. DImana istilah ini merujuk kepada seseorang yang memiliki kemampuan "lebih" dibandingkan orang lain. Kemampuan ini bisa berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Ada yang hanya memiliki/menguasai satu kemampuan saja, tetapi tidak sedikit pula yang menguasai banyak kemampuan.

Contoh, dukun bayi. Masyarakat tradisional (dan modern?) meyakini bahwa seseorang yang dijuluki dukun bayi memiliki kemampuan lebih untuk menangani urusan bayi. mulai dari proses kelahiran bayi, bayi sumeng/sakit, selametan bayi, sampai urusan pijat/massage bayi. Saya pribadi sampai detik ini untuk urusan tertentu masih percaya kepada dukun bayi dibanding dokter. Misal, pernah suatu ketika anak saya terlihat lesu tak nafsu makan (waktu itu anak pertama, balita), dibawa ke bidan katanya cuma kena flu, dikasih vitamin buat tambah nafsu makan. Nyatanya, ndak ada perubahan signifkan. Tersu, karena waktu itu tinggal di desa, istri menghubungi tetangga yang dikenal sebagai dukun bayi. Langsung beliau menuju rumah, anak saya dipegang, dipangku sambil badannya diurut-urut. Wuaaa...nangis dia...kata mbah dukun "wahhh...anakmu badannya owah (berubah), soalnya kebanyakan gerak. makanya suhu bandannya naik. Gak mau makan ya....ni mbah pijet ya...biar seger...biar maemnya banyak..." Alhasil puji Tuhan...selesai pijat, anak saya tidur lelap. pas bangun, terlihat lebih segar dan makan lebih lahap. Itu satu contoh...
Bahkan kedua anak saya waktu masih bayi, satu bulan pertama proses memandikan bayi dan merawat luka pusar dilakukan oleh dukun bayi. Dan jangan salah, dukun bayi tersebut sangat higienis. Selalu cuci tangan dulu sebelum memandikan anak saya dan orangnya juga rapi dan resik (usia kalo ndak salah sudah 65 th...itu sekitar th 2000 )
wah,,,,,thread yg bagus nih ki,,,,,, emoticon-shakehand

baru kemarin ngebahas hal serupa ini,,,masalah supranatural timur yg sudah hampir punah oleh era globalisasi dan anggapan bahwa supra adalah sebuah pembodohan,kuno dan tdk relevan dgn jaman modern saat ini,,,,,

kebetulan seorang kawan saya ini hobi bgt dgn sejarah barat semacam fremansori (maaf kl salah nulisnya) dari dia saya baru tahu ternyata orang barat yg mengaku paling logis dalam memandang sesuatu justru mempunyai kepercayaan yg amat kuat ttg supranatural,,,,,bahkan salah satu sekte dalam yahudi bernama kabbalah masih mgunakan kekuatan supranatural bahkan mengembangkannya hingga saat ini,,,hal ini di perkuat dgn sebuah tulisan yg di dapat kawan saya ttg sebuah rumusan jimat versi kabbalah yg setelah saya perhatikan ada sedikit banyak kelebihan dgn sistem azimah yg biasa saya lihat dalam kitab kitab hikmah semacam mamba ushul hikmah dsb,,,,,,,bahkan rumors yg berkembang knp israel yg di sponsori oleh para freemansori tsb berusaha menduduki negara palestina krn mereka meyakini berdasarkan petunjuk yg di tinggalkan oleh para leluhur mereka bahwa di masjid al-aqsa tdpt peninggalan para nabi yaitu tabut (yg berisi peninggalan benda2x para nabi terdahulu),,,,,,

saya sedikit berandai-andai dan membelokkan dgn sejarah islam,,,,,
jaman dahulu para ulama dan hukama semuanya mempelajari spiritual dan supranatural secara bersamaan dalam arti dalam satu sisi mereka (ulama&hukama) adalah seorang guru agama yg mengajarkan hukum islam (syariat) tapi di satu sisi lagi mereka juga adalah seorang ahli ilmu hikmah,,,,ini bisa di buktikan oleh peninggalan mereka yaitu berupa kitab yg membahas hal tsb (ilmu hikmah) bahakn seorang ulama terkenal yg jg seorang ahli kedokteran IBNU SINA juga menulis sebuah kitab ilmu hikmah semisal mujarabat ibn sina dsb,,,,,ini membuktikan tdk ada yg salah dalam mempelajari supranatural dan agama pun tdk ada pengharaman dalam hal tsb,,,,,,

mungkin teman2x FS bertanya apa hubungannya tulisan saya yg sedikit lebih membahas aspek supra dalam konteks agama dan sejarah dalam kaitannya dgn topik TS ttg Dukun yg mulai di tinggalkan???????jawabannya adalah sangat erat dari sejarah kita akan dapat mengetahui latar belakang mengapa semua ini bisa terjadi,

dukun bagi saya adalah sebuah sebutan saja,,,,,tapi dari 1 aspek yg paling gampang dukun adalah seorang supranaturalis jg kan,,,,,,dari sisi agama dan sejarah yg di politisasi oleh sebuah kepentingan besar ada konspirasi besar dalam menghancurkan supranatural yg merupakan warisan leluhur,warisan nenek moyang dan warisan agama yg begitu luaarrrr biasanya agar di jauhi,,di abaikan,,,,kemudian akan menjadi sebuah dongeng belaka sedangkan di luar negeri sana yg katanya puncaknya sebuah pemikiran logis malah berbalik menjadi pengguna supranatural yg kemudian di gunakan utk sebuah tujuan yg lebih besar utk masa yg akan datang,,,,,,,


pernahkah kita berfikir (dlm konteks agama dan hub dgn supranatural)

knp semua yg berhubungan dgn supra selalu di haramkan oleh agama yg di pelopori oleh pemikiran wahabbi???sehingga bermilyar orang islam menjauhi supra karena takut di fatwakan sesat????

kemanakah orang2x dahulu berobat???apakah sudah ada kapsul???alat xray???sudah adakah alat kedokteran canggih seperti saat ini????

saya pernah bertemu dgn ketua umum FBR (Pak Fadholi) dan berbincang soal di fatwakannya sesat sebuah organisasi oleh MUI bogor,,,,,saat itu beliau menceritakan,,,bahwa orang2x dahulu setiap sakit cm dateng ke seorang kyai atau dukun dan hanya bermodalkan doa yg di bacakan oleh kyai tsb pada sebuah air lalu diminumkan ke penderita tsb dan ternyata si penderita bisa sembuh dari sakitnya,,,,,orang2x dahulu sering menulis zimat kemudian di jadikan berbagai sarana utk mgapai kebutuhan atau menyelesaikan pmsalahan dalam hidupnya dan sudah sering terbukti ampuh dan manjur,,,,,

lalu bagaimana sekarang,,,,,hal tsb sudah dianggap takhyul,sebuah kebodohan tapi fakta tdk bisa di hindari bhwa justru tdk sedikit alias banyak orang yg mulai mempelajari spiritual dan supra secara berbarengan,,,,


uuupppzzzz,,,,,cape ntar lagi deh di lanjutin,,,,

semoga TS berkenan dgn postingan saya (mudah2xn tdk out of topic) emoticon-shakehand emoticon-Peace
ikyut duduk menyimak disiniemoticon-linux2
Boleh sharing lagi ya mbah..


Pengalaman pribadi yang lain...

Saat menikah dulu, kami dibantu oleh saudara yang oleh saudara-saudara lain termasuk saya diberi julukan "dukun pengantin." Ya, dukun pengantin dan bukan perias pengantin!.

Saya sangat membedakan hal itu. Menagapa? Karena sorang dukun pengantin tidak hanya sekedar merias calon pengantin pria maupun wanita saja, tetapi lebih dari itu. Dia harus mampu mebuat apa yang menurut orang Jawa menjadi berbeda. Yaitu (terutama mempelai wanita) pecah pamore. Saya meyakini, tidak semua orang/perias mampu melakukan hal ini. hanya orang-orang yang memiliki pengetahuan dan kemampuan tertentu yagn dapat membantu mempelai wanita "pecah pamore." Hal ini akan lebih dahsyat lagi, apabila mempelai wanita turut terlibat dalamproses itu, misal sebelum dirias sudah puasa dulu minimal 3 hari.

Terbukti, sewaktu malam midodareni, waktu istri saya dipajang (karena diadakan doa bersama), banyak sodara2 dari pihak saya yang bertanya-tanya..."kok mempelai perempuannya gak ikut doa?" Padahal, saat itu, mempelai wanita sudah duduk dideretan depan...Sodara-sodara saya baru ngeh, waktu saya beritahu kalo perempuan berkebaya kuning yang paesan itulah calon istri saya...serentak mereka cuma mlongo....dan berkomentar..."oooo..weleh...weleh...manglingi yo mas..."

Apa rahasianya...ya itu tadi...karena pakai dukun pengantin yang nota bene punya pengetahuan dan kemapuan untuk merias seseorang, sehingga pecah pamore, nek disawang ayune kaya Dewi Kamaratih. Yen kakung nek disawang baguse kaya Bethara Kamajaya.

Termasuk juha kemampuan dalam hal pelaksanaan upacara penantin menurut adat masing-masing (dalam kasus ini adat Jawa).

Dan satu ciri khas...baik itu dukun bayi, dukun pengantin, dukun pijet....merek menggunakan "RASA" dalam melaksanakan tugasnya. Tidak semata-mata bertugas..plek-plek-plek...wis...sudah...rampung...tdak...tetapi mereka telah melalui proses olah batin, sehingga perlakuan untuk setiap orang pasiennya adalah bersifat personal. Hal ini karena dengan "rasa" tadi, mereka mampu mempelajari karakter pasiennya, sehingga terapi maupun aktivitas yang dilakukan adalah tergantung dari karakter dan kepribadianpasien tersebut.

Sayang..."dukun" mengalami degradasi arti...sekarang kalo menyebut kata "dukun", pasti orang berpikiran/berkonteks negatif...bahkan tidak jarang dikaitkan dengan aktivitas seperti santet/teluh...seolah keahlian dukun hanya sebatas itu...ah....sayang seribu sayang....

Namun, bagi saya dukun adalah gelar/sebutan yang terhormat (lepas dari positif atau negatifnya aktivitas yang bersangkutan). Mengapa? Karena beliau-beliau ini berhasil menggali dan mengeksplorasi suatu pengetahuan/keilmuan kemudian mampu membagikannya kepada orang lain dalam bentuk pelayanan/service kebutuhan pelanggan/pasien.
Mungkin analoginya, nyari ilmunya mah bisa...asal sanggup tirakatnya pasti dapet. Tapi, setelah dapet, mampukah untuk berbagi dengan atau membantu orang lain? Kalo gak tau kuncinya...mungkin gak akan bisa...jadi ilimu2 itu hanya menjadi menara gading saja.

Maaf untuk mbah Kisawung dan para sepuh, kalo sharing pribadi saya ngelantur kemana-mana...ini cuma sharing lho...bukan bermaksud apa-apa emoticon-shakehand
Newbie Mohon izin menyimak Ki emoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassment




emoticon-rose emoticon-rose emoticon-rose