Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
Pandatang ke Jakarta Pasca Lebaran Berkurang, Jakarta Tak Lagi Diminati?
Pandatang ke Jakarta Pasca Lebaran Berkurang, Jakarta Tak Lagi Diminati?
Sumber Gambar

Setiap tahun setelah perayaan Lebaran, Jakarta selalu menjadi tujuan utama bagi ribuan pendatang yang pulang kampung. Namun, tahun ini terjadi perubahan yang signifikan. Jumlah pendatang ke Jakarta usai Lebaran menurun drastis, mencapai hanya 10.000 hingga 15.000 orang, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang selalu melampaui angka 20.000. Penurunan ini menjadi perhatian bagi banyak pihak, karena mencerminkan perubahan pola migrasi penduduk di Indonesia.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab turunnya jumlah pendatang ke Jakarta pasca-Lebaran. Salah satunya adalah adanya perubahan perilaku masyarakat akibat pandemi COVID-19. Banyak orang lebih memilih untuk tetap tinggal di kampung halaman setelah Lebaran, mengingat situasi yang belum sepenuhnya aman di kota-kota besar seperti Jakarta. Selain itu, kebijakan pemerintah yang mendorong untuk mengurangi perjalanan antarkota juga turut berperan dalam menurunkan jumlah pendatang.

Dampak dari penurunan jumlah pendatang ke Jakarta pasca-Lebaran tidak hanya terasa bagi para pendatang sendiri, tetapi juga bagi perekonomian dan infrastruktur kota. Bisnis yang bergantung pada musim mudik, seperti sektor perhotelan dan kuliner, mengalami penurunan omset yang signifikan. Di sisi lain, kota Jakarta mendapatkan sedikit kelonggaran dalam mengatasi kemacetan dan tekanan pada fasilitas umumnya.

Namun, penurunan jumlah pendatang juga dapat dijadikan sebagai momentum untuk mempertimbangkan ulang strategi pembangunan dan pengembangan kota Jakarta. Dengan adanya sedikit kelonggaran dari tekanan migrasi, pemerintah daerah dapat fokus pada peningkatan kualitas infrastruktur dan pelayanan publik untuk mendukung kehidupan penduduk lokal. Selain itu, pengurangan mobilitas penduduk juga dapat memberikan kesempatan bagi Jakarta untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan.

Penting bagi pemerintah pusat dan daerah untuk melakukan analisis mendalam terhadap perubahan pola migrasi penduduk pasca-Lebaran ini. Langkah-langkah strategis perlu diambil untuk mengantisipasi perubahan lebih lanjut di masa depan, serta untuk memastikan bahwa kebijakan pembangunan yang diambil dapat mendukung kebutuhan dan kesejahteraan seluruh masyarakat, baik penduduk lokal maupun pendatang.

Tren penurunan jumlah pendatang ke Jakarta pasca-Lebaran kemungkinan akan berlanjut dalam beberapa tahun mendatang. Faktor-faktor seperti perubahan perilaku akibat pandemi COVID-19, pergeseran pola migrasi, dan peningkatan kesadaran akan kesehatan dan keamanan akan terus memengaruhi keputusan orang-orang untuk melakukan perjalanan jarak jauh. Selain itu, adopsi teknologi yang memungkinkan kerja dari jarak jauh dan pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah lain juga dapat mengurangi daya tarik Jakarta sebagai destinasi utama bagi para pendatang.

Penurunan jumlah pendatang ke Jakarta dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan kota, termasuk ekonomi, sosial, dan infrastruktur. Pemerintah daerah perlu mempersiapkan strategi adaptasi yang tepat untuk menghadapi perubahan ini, termasuk penyesuaian kebijakan pembangunan, pengelolaan transportasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Langkah-langkah tersebut penting untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kota dan kesejahteraan penduduknya.

Meskipun jumlah pendatang ke Jakarta diprediksi akan terus berkurang, hal ini juga dapat dijadikan sebagai peluang untuk mengembangkan kota secara berkelanjutan. Fokus pada peningkatan kualitas hidup penduduk lokal, pemberdayaan ekonomi lokal, dan pelestarian lingkungan dapat menjadi prioritas dalam menghadapi perubahan dinamika migrasi penduduk di masa depan.

Sumber valid (baca sumber baik-baik pakai mata): Link Referensi
bukan.bomat
sontoloyo81
aniestoxic
aniestoxic dan 12 lainnya memberi reputasi
13
1.3K
47
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Tampilkan semua post
cemaraAvatar border
cemara
#9
Jakarta sudah terlalu keras untuk pendatang dari kampung untuk ditinggali. Keras dalam arti yang sesungguhnya. Tidak ada keramahan. belum lagi biaya hidup yang sangat tinggi untuk ditinggalidemi hanya memenuhi kehidupan dasar. jika dibandingkan antara jakarta dengan kota-kota kecil di pulau jawa, sangat jomplang sekali biaya hidup. bahkan sekedar untuk hidup normal. untuk makan saja di jakarta sekali makan kita butuh sekitar 15 ribu. dengan menu sangat sederhana. memang di beberapa tempat kita masih bisa makan dengan harga 10 ribu. namun itu baru untuk sekali makan. di kota kecil di pulau jawa kita masih bisa menemukan makanan dengan harga bahkan 5 ribu untuk sekali makan. belum lagi untuk masalah tempat tinggal. memang UMR jakarta "termasuk" besar dibanding UMR daerah2 lain. namun UMR jakarta sendiri belum atau bahkan "tidak bisa" merepresentasikan biaya hidup di jakarta. Bahkan ada seorang peneliti bahwa untuk hidup di jakarta kita membutuhkan gaji minimal 7 juta per bulan. itupun hanya untuk hidup sederhana. sedangkan pola hidup di jakarta sudah banyak diadopsi di kota-kota kecil di pulau jawa. sehingga kini banyak kesempatan kerja di jakarta yang banyak juga ditiru untuk diaplikasikan di kota kecil. Salah satu contoh adalah kebiasaan ngopi bagi kawula muda jakarta. di kota kecil saat ini banyak pemuda2 yang membuka bisnis kopi kedai kopi bermodalkan sepeda dan sepeda motor saja. dengan memanfaatkan keunggulan alam di pedesaan, mereka berani membuka kedai kopi kecil. mungkin omzet yang didapatkan mereka tidak sebesar jika membuka di jakarta. namun jika mereka membandingkan biaya hidup dan juga kerasnya persaingan di jakarta, mereka labih memilih berkarya di desa / kota kecil dengan alasan kesehatan mental lebih utama dibandingkan harta. Demikian.
BALI999
riodgarp
kkutu93652
kkutu93652 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Tutup