Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

ih.sulAvatar border
TS
ih.sul
Short Story # 50 : Setengah Puncak
Short Story # 50 : Setengah Puncak

Sudah lama aku tidak mendapatkan kabar dari adikku Sella. Pesan yang kuterima dalam bentuk email memberitahu bahwa ayah mertuanya baru saja meninggal dan dia membutuhkan bantuanku. Dia tak menjelaskan bantuan apa yang dia harapkan, tetapi aku memilih untuk mengemasi barang-barangku dan pulang ke Indonesia.

Sella menikah dengan Arim, seorang pedagang biasa yang merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Ayah Arim memiliki usaha ruko dan secara ajaib ketiga anaknya merintis bisnis yang sama. Ayah mereka pedagang yang sukses, tapi tampaknya ketiga anaknya tak terlalu bisa mengikuti jejaknya.

Saat tiba di rumahnya Sella hanya ditemani oleh Biska, anak kedua yang baru berumur satu tahun. Ini pertama kalinya aku melihat keponakanku ini secara langsung karena sudah dua tahun ini aku mengelilingi dunia. Sayangnya dia sedang tertidur jadi aku tak bisa menanamkan wajah tampanku ini ke dalam ingatannya.

“Gimana kabarmu, Sel? Kau gemukan sekarang,” godaku.

“Namanya juga perempuan habis melahirkan ya gendut, Bang. Makanya nikah sana!”

Sembari menaruh secangkir kopi di meja dia pun tertawa. Memang benar aku belum menikah. Aku pernah berencana untuk menikah tapi semua rencana itu hancur di tengah jalan dan membuatku sakit hati. Karena itulah aku healing keliling dunia.

“Jadi, kau butuh apa dariku? Nggak mungkin kan kau cuma kangen?”

Aku menyeruput kopi yang dia tawarkan. Rasanya pahit sekali. Apa kopi di negara ini memang sepahit ini sejak dulu?

“Jadi gini Bang,” Sella duduk tegak, raut wajahnya mendadak serius, “mertuaku kan baru meninggal. Nah, sebelum meninggal dia bilang sama ketiga anaknya kalau dia punya warisan.”

“Wow, enak dong. Kalian dapat apa?”

“Itu dia, Bang. Mertuaku bilang cuma satu anak yang bisa dapatin warisan itu. Yang bisa nyelesaiin teka-teki ini bisa dapat warisannya.”

Alisku mengerucut saat Sella menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Tampaknya itu adalah buku tulis yang diisi dengan tulisan tangan.

Quote:


“Puisi jelek karangan siapa ini? Yang nulis mabuk ya?”

Itulah reaksi pertamaku saat membaca entah apa yang tertulis di sana. Mendengar itu Sella memberengut.

“Itu mertuaku yang tulis.”

“Pantas saja.”

Aku cuma pernah bertemu mertua Sella satu kali yaitu saat pernikahan Sella dan Arim. Dia orang yang asik, enak diajak ngobrol, tapi percaya kalau naga benar-benar ada. Dia memang tipe orang yang akan menyembunyikan harta karun di suatu tempat dan meminta anak-anaknya mencari harta karun itu.

“Jadi kau minta aku pecahin teka-teki ini?”

Sella mengangguk. Aku tak bertanya lebih jauh karena itu akan melukai harga dirinya. Meski tak disebut, ekonominya pastilah tidak terlalu baik.

“Tapi aku sama sekali nggak paham teka-tekinya di mana. Kurasa ada pesan internal di sini. Suamimu nggak bilang apa-apa?”

“Ada sih, tapi semua nggak masuk akal.”

“Sel, mertuamu itu memang nggak masuk akal jadi jangan berpikir pakai akal sehat. Bilang aja semuanya. Siapa tahu aku dapat ilham.”

Sella kembali cemberut. Aku tak terlalu tahu apakah Sella akur dengan keluarga suaminya, tapi setidaknya dia menjadi istri yang baik dengan tidak terang-terangan menjelekkan ayah mertuanya.

“Kalau Abang baca baris-baris awal, di situ ada kecelakaan mobil. Bang Arim bilang ini kecelakaan waktu mereka masih kecil. Waktu itu mereka mau jalan-jalan ke Puncak, tapi gara-gara ayah mereka ngantuk akibat begadang nonton bola mobil mereka nabrak truk. Ibu mereka meninggal di situ.”

“Puncak?”

Puisi (atau entah apa pun ini) judulnya adalah setengah puncak. Apa ada hubungannya?

“Kalian sering jalan-jalan ke Puncak?” tanyaku.

“Cuma sekali. Kira-kira sebulan sejak kami nikah.”

Jawabannya tidak memberikan petunjuk apa-apa. Bahkan Sherlock Holmes pun tak akan bisa memecahkan teka-teki jika tak ada yang bisa dia temukan.

Aku menyandarkan diri ke kursi dan meminum kopiku lagi. Masih sama pahitnya.

“Saudara suamimu nggak bilang apa-apa?” tanyaku lagi.

“Abang macam nggak tau ajalah. Kan udah dibilang cuma satu orang bisa dapat warisan, nggak mungkin mereka kerjasama.”

“Kan bisa aja warisannya dibagi tiga.”

“Kalau warisannya bukan uang gimana? Rumah misalnya.”

Tak mungkin rumah dibagi untuk tiga keluarga. Sebenarnya mungkin sih. Rumahnya dijual terus uangnya dibagi tiga.

“Orang-orang serakah,” bisikku pelan. Aku yakin Sella dengar, tapi dia tak membalas.

“Mertuamu ninggalin pesan ini buat tiga anaknya. Itu bisa berarti dua hal, ketiganya bisa mecahin teka-teki atau ketiganya harus kerjasama buat pecahin teka-teki. Tapi aku malah ragu kalau ada warisan. Jangan-jangan ini cuma akal-akalan mertuamu biar saudara suamimu bisa akur. Di film-film sering ada cerita begitu. Uhh! Aku minta gula dong. Kopimu kok pahit banget.”

“Sengaja kubuat begitu,” celetuknya dengan nada mengutuk sebelum bangkit dan berjalan ke dapur. Aku tahu dia benar-benar butuh bantuanku untuk membantu keluarganya. Sayangnya aku pun tak bisa berbuat banyak tanpa tahu apa-apa.

Kenapa mertuanya melakukan hal ini? kurasa itu hal pertama yang perlu kuketahui.

Kubaca lagi pesan peninggalannya. Ada banyak keanehan yang mengusikku, tapi tak cukup dijadikan petunjuk. Membaca pesan ini malah membuatku ingat masa kecil kami. Aku dan Sella sering mencari teka-teki entah dari mana dan mencoba memecahkannya. Sella tak pernah bisa mengalahkanku. Kurasa aku memang jenius dalam teka-teki.

“Lo? Bang Fii?”

Saat aku menoleh Arim sudah memasuki rumah. Aku tersenyum dan berdiri menyambutnya. Dia mengulurkan tangan dan aku menerimanya.

“Apa kabar Rim? Lama nggak jumpa.”

“Iya Bang. Sendirian aja? Sella mana?”

Seolah menjawab pertanyaannya suara tangisan terdengar dari dalam kamar. Biska terbangun. Sella bergegas dari dapur untuk melihatnya.

“Sibuk ya di sini,” ucapku. “Gimana kabarmu?”

Amir cuma tersenyum tipis dan duduk di kursi yang tadi diduduki Sella. “Biasa aja Bang. Cukup mensyukuri hidup.”

“Tapi katanya ayahmu ninggalin warisan. Kau nggak usaha nyari?”

Raut wajahnya berubah. Buru-buru aku berkata, “Jangan salahin Sella. Dia cuma peduli sama keluarga.”

“Iya, aku tahu Bang. Aku … bagus sih kalau dapat warisan, tapi begini aja udah cukup sih buatku. Kalaupun aku bisa dapat warisan abang-abangku pasti nuntut bagian. Nggak mungkin enggak.”

Amir ini memang pria baik. Tanpa warisan pun hidupnya tak akan ada masalah. Meski begitu aku tetap penasaran dengan teka-teki ini. Firasatku berkata ini bukan sekedar uang. Ada sesuatu yang ingin almarhum sampaikan melalui ini.

Aku pun menyesap kopiku lagi. Lupa kalau kopiku belum ditambah gula.

“Jadi teka-teki ini benar? Kalian dulu pernah kecelakaan waktu ke Puncak?”

“Hmm … kalau nggak salah aku masih delapan atau sembilan tahun waktu itu. Ibu meninggal dan Ayah memang merasa sangat bersalah. Ayah sempat stres, tapi untungnya Ayah bisa merelakan Ibu.”

“Hmm … kalian ke Puncak ngapain? Liburan?”

“Iya. Ibuku suka lihat sunrise dari Puncak. Tapi sejak Ibu meninggal kami nggak pernah ke sana lagi. kurasa … kurasa Ayah cuma pengen kami liburan bareng-bareng lagi, makanya dia buat teka-teki itu buat kami pecahin bertiga.”

Setelah mendengar ceritanya aku jadi merasa itu sangat mungkin. Kubaca ulang teka-teki itu dan akhirnya menemukan makna sebenarnya. Jawabannya sebenarnya simple. Sejak awal ini memang bukan sesuatu yang perlu dipikirkan rumit.

“Kau sama kakak-kakakmu nggak akur ya?” tanyaku lagi.

“Kami akur kok. Cuma … kami memang nggak terlalu kaya, jadi pasti kami bakal rebutan warisan. Padahal Ayah baru meninggal tapi yang kami omongin cuma warisan. Aku pribadi lebih suka kalau warisan ini nggak perlu ada. Uang kaget itu bisa jadi sumber masalah.”

Aku menyesap seluruh sisa kopi dan menikmati rasa pahit yang kini mulai bisa ditahan oleh lidahku. Betul kata Amir. Uang yang didapat mudah tak akan bertahan lama. Ayahku tak meninggalkan warisan apa-apa, tapi aku dan Sella baik-baik saja. sebaliknya, bertengkar karena uang malah akan merusak sesuatu yang jauh lebih penting.

“Kalau gitu aku pergi dulu. Dah lama aku nggak pulang ke rumah. Kalau ada masalah nggak usah sungkan hubungin aku.”

Kami saling berjabat tangan dan tersenyum. Aku tak pamit pada Sella. Besok aku akan menemunya lagi. Sudah cukup lama aku berkelana. Ini waktunya untuk menetap dan menata hidup. Kira-kira tabunganku cukup untuk usaha apa ya?

Sekali lagi aku teringat teka-teki warisan itu. Aku yakin mertua Sella tak bisa membuat teka-teki yang terlalu rumit jadi solusi dari teka-teki itu sebenarnya sangat mudah. Kuncinya ada pada judul setengah puncak. Kalau menyinggung puncak pasti yang dimaksud adalah gunung jadi setengah puncak adalah setengah gunung.

Setengah atas atau setengah bawah? Aku heran kenapa jumlah kata di setiap baris itu genap, tapi jumlah kata genap itu sempurna untuk dibagi dua. Jika teka-teki ini memang tentang gunung maka tarik saja garis miring dari puncak atas ke kanan bawah.

Huruf pertama dari setengah baris pertama, huruf kedua dari setengah baris kedua, dan seterusnya. Ada beberapa kata yang typo, tapi kurasa itu disengaja untuk menyesuaikan hurufnya.

M-A-T-A-H-A-R-I. Cukup setengah bagian dari atas dan kanan. Tentunya ini cuma dugaan, tapi setelah mendengar cerita Amir aku jadi cukup yakin. Sejak awal tak ada harta yang dibagikan. Ayah mereka cuma ingin mereka berkumpul dan memandang matahari terbit dari Puncak sekali lagi, seperti yang selalu mereka lakukan dulu.

Teka-teki yang konyol. Mungkin aku harus memberitahu Amir nanti, tapi untuk sekarang biarlah mereka terus mencari. Siapa tahu mereka bisa menemukan harta yang lebih berharga.

***TAMAT***
regmekujo
bonek.kamar
adhali
adhali dan 7 lainnya memberi reputasi
8
3.8K
10
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Tampilkan semua post