Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
Iblis Suci


Blurb:

Mengisahkan tentang dua orang vlogger yang mendatangi sebuat sekte rahasia di tengah hutan terpencil. Semakin lama mereka di sana, mereka mulai merasakan keanehan, kegilaan dan hal-hal abnormal yang tidak manusiawi.

Akankah mereka bertahan di sana? emoticon-Takut (S)

emoticon-Takut


BAB 1

Quote:

To be continued


Diubah oleh harrywjyy 01-04-2024 09:42
regmekujo
sampeuk
itkgid
itkgid dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.7K
37
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Tampilkan semua post
harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
#24
BAB 15 (LAST)
Di dasar jurang yang dingin dan gelap itu, Ray duduk bersandar lemas sambil memeluk pacarnya Rissa. Keadaan Rissa semakin memburuk, kulitnya semakin pucat. Matanya sayu, tidak ada respon darinya setiap kali Ray memanggilnya.

Ray sendiri tengah merasakan sakitnya. Sekujur tubuhnya penuh luka, kakinya pun terkilir. Ia tak sanggup lagi berdiri apalagi berjalan menggendong Rissa. Ia belai rambut pirang itu, sambil terus melihat wajah pacarnya.

Daun-daun dan ranting pohon bergelantungan, tubuh Ray penuh dengan lilitan akar tipis. Serangga-serangga liar pun mulai menyerang kulitnya. Entah berapa duri tertancap di tubuhnya, ia sama sekali tidak memikirkannya.

“Sayang?” panggilnya pada Rissa. Tapi tetap tidak ada jawaban dari wanita tercintanya itu. Entah sudah berapa lama ia tak sadarkan diri. Matanya masih terbuka, tapi tidak menunjukkan tanda kehidupan. Hanya tatapan kosong ke depan.

Ray memeriksa nadinya di leher dan di tangan kirinya. Tidak ada. Tidak ada denyut nadi yang terasa seperti manusia pada umumnya. Belum menyerah, Ray mengecek detak jantung. Ia tempelkan tangan dan telinganya secara bersamaan ke dada Rissa, mencoba mencari detak jantung itu. Tidak ada. Alih-alih hal itu bisa menenangkannya, ia malah semakin frustasi.

“Kamu masih di sini?” tanya Ray ada Rissa. Tidak ada jawaban darinya. “Sayang, kamu masih di sini?” tanyanya sekali lagi sambil menggerak-gerakkan badan Rissa. Ia tepuk-tepuk pipi pacarnya itu, tetap Rissa tidak sadar. Bahkan ia tampar sekuat tenaga, tetap tidak ada tanda-tanda ia akan sadar.

Untuk terakhir kalinya, ia cek hidungnya. Berharap menemukan nafas di sana. Tidak ada. Ia benar-benar buntu kali ini. Tangan Ray dengan lembut mengusap wajah Rissa, setelah itu mata Rissa pun terpejam untuk selamanya. Sambil menggelengkan kepala, Ray mulai menangis. Air matanya menetes membasahi wajah sang pacar.

“Sayang,” lirihnya sambil menangis begitu pedih di tengah kegelapan hutan. “Kenapa jadi begini? Mengapa kamu pergi?” tangisnya terus menerus sambil memeluk erat Rissa.

Dari arah depan terdengar suara auman binatang. Di balik kegelapan, terlihat sepasang mata bercahaya menatap mereka. Pelan-pelan mendekat. Sampai akhirnya seekor macan kumbang dengan warna kulitnya yang hitam legam muncul dari balik semak-semak. Ray tidak mempedulikannya, mau diterkam atau dimakan pun ia tak peduli lagi. Kesedihan menutup rasa takutnya. Tapi sang macan seakan mengerti, ia tak mau menganggu pria malang itu. Sang macan hanya diam sambil memperhatikan.

“Baru kemarin kita bahas soal pernikahan, Sayang,” gumam Ray sambil mengelus lembut kepala Rissa. “Maaf. Harusnya dari dulu aku nikahin kamu. Aku malah kasih kamu ketidakpastian,” tambahnya dengan penuh sesal.

“Tapi biar begitu pun, kamu tetap bersamaku. Gak pernah kamu berpaling walau ada yang lebih serius. Harusnya aku peka sejak dulu.” Air mata Ray terus berlinang. “Sampai mati pun aku belum bisa menikahimu,” kata Ray.

Tangisnya semakin membesar, ia peluk erat tubuh kaku pacarnya itu. Tak ada yang bisa ia perbuat lagi, rasa sesal sekaligus kepedihan ini membuatnya semakin menggila dalam tangisnya. “Harusnya aku gak kesini!!” teriaknya histeris. Mulutnya terbuka lebar, matanya terpejam sambil terus menangis keras. Teriakan perihnya terdengar menggema mengisi seluruh hutan. Memecah keheningan malam.

Selama satu jam lebih Ray berada di sana. Memeluk sang pacar, dengan tubuh lemas dan lemah. Berhadapan dengan macan kumbang di depannya. Tanpa harapan, tanpa tujuan. Bahkan kalau harus mati pun ia rela. Hanya tinggal menunggu waktu sampai macan kumbang itu lapar dan menerkamnya.

Tapi bukannya menerkam Ray, macan itu malah berlari dan melompat kabur dari posisinya semula. Semua itu karena suara langkah kaki dari arah belakang. Suara ranting kayu terinjak terdengar, tampak satu dua sampai tiga orang sedang berjalan mengarah ke arahnya.

Perlahan semak-semak di depannya terbuka. Sebuah cahay lentera mulai muncul dari baliki lebatnya pepohonan hutan. Ray tidak peduli siapa yang datang, beruntung ada orang baik yang menolongnya. Tapi kalau bukan orang baik pun tidak apa-apa, ia tinggal minta dibunuh saja saat itu juga.

Mata Ray terus fokus menatap cahaya yang datang. Bayangan lima sampai sepuluh orang muncul mendekat. Seperti dugaannya, bukan orang baik yang datang. Bukan pula pertolongan. Wajah orang tua yang familiar muncul dari gelapnya malam. Ya, itu adalah wajah Dazza. Diikuti dengan Romero, Clara, Nico, Claudio dan juga Eve yang menjadi penanggung jawab mereka.

“Oh, anakku. Malang sekali nasibmu. Kenapa bisa begini?” tanya Dazza melihat keadaan Ray. Tapi Ray tidak menjawab sama sekali.

“Kamu tidak seharusnya begini, kamu telah menjalankan ibadah sesuai aturan. Kini ibadah telah selesai, sang Tuhan telah bangga dengan kita semua. Kini pergilah kalau kamu mau pergi. Pulanglah ke rumahmu, sebarkan tentang kebaikan Tuhan pada mereka yang tersesat di luar sana,” ucap Dazza sambil berlutut di depan Ray.

Claudio lalu mendekati Ray, dengan kasar ia mencoba merebut mayat Rissa dari tangannya. Saat itu juga Ray bereaksi, ia tendang Claudio dengan lemah. Ia ambil sebuah batu dan melemparnya tepat ke kepala pria itu. Kepala Claudio berdarah dan mundur perlahan. “Ayah, kurang ajar sekali dia!” kata Claudio.

“Kenapa? Kenapa kamu terus memegangi dia?” tanya Dazza sambil menunjuk mayat Rissa. “Ia sudah tidak bernyawa, dan kini darahnya menjadi hak bagi semua umat Tuhan yang menginginkan pengampunan. Kamu tidak boleh melarang orang lain memilikinya, wanita ini bukan lagi milikmu. Ia milik kita semua,” ujar Dazza.

“baik!!!” bentak Ray yang lantas membuat Dazza langsung mundur ketakutan.

“Ray!” balas Eve sambil berjalan mendekat. “Rissa telah melakukan dosa, dengan hukuman yang pantas pula ia telah mendapat pengampunan atas dosanya. Kini ia pergi dengan tenang, meninggalkan jasad suci dengan ampunan Tuhan di dalamnya. Biarkan kami memiliki dia, Ray. Kepada kamilah Tuhan memberi ampunan melalui darah dan daging Rissa,” tutur Eve menjelaskan.

“Oh, sungguh pemanduku yang selama ini sangat baik padaku,” kata Ray dengan pelan memuji Eve. Tanpa takut, Eve mendekat sambil tersenyum. Dazza dan yang lainnya merasa Eve yang sudah mengenal Ray bisa mengendalikan emosi pria itu.

“Bagus, Adik,” bisik Clara dari belakang.

Namun, kenyataannya tidak demikian. Ray segera menarik sebilah pisau yang tersimpan di sepatu Eve. Dengan cepat ia raih tubuh Eve, tangan Ray melingkar dengan kuat di leher Eve dari belakang. Tangan kanannya mengarakan ujung pisau yang tajam tepat ke arah jantung Eve. “Pergi dan tinggalkan aku bersama Rissa, atau akan aku bunuh dia!” ancam Ray.

Dazza dan yang lain pun ketakutan. “Jangan, dia tidak salah apa-apa, Nak,” kata Dazza kepada Ray yang hilang kendali. “Eve tidak salah apa-apa, mengapa kamu begitu kejam padanya?” tambahnya. Sedangkan Claudio dan yang lainnya berdoa demi keselamatan adik tirinya itu.

“Ayah, jika aku mati di sini namaku akan dikenang sebagai pejuang atas nama Tuhan. Ia akan menempatkanku di tempat terbaik di langit, setiap darahku yang tumpah akan menjadi berkah bagi semuanya. Menjadi bukti bagi seluruh alam akan kebesarannya. Bahwa seorang gadis berkorban demi keagungan Tuhannya. Biarkan saja, Ayah. Biarkan aku dibunuh, jangan Ayah mencampuri apa yang jadi keputusan Tuhan,” tutur Eve mengingatkan ayahnya.

Dengan berlinang air mata, Dazza menatap Eve. “Sungguh sombongnya Ayah, Nak. Seharusnya aku tahu bahwa keputusan Tuhan adalah mutlak. Kehidupan dan kematianmu adalah haknya. Kini apabila kamu mati, itu adalah atas izin Tuhan. Begitu pula jika kamu hidup. Tegarlah, Nak,” ucap Dazza pada anaknya.

Selama beberapa menit, Dazza dan yang lainnya menunggu apakah Ray akan membunuh Eve atau tidak. Ray masih mempertahankan posisinya yang hendak menghunuskan pisau itu. Sampai akhirnya ia lelah, frustasi dan kehilangan akal. Dengan cepat ia lepas dan dorong tubuh Eve ke depan. Melihat itu Dazza langsung menangkap anaknya.

“Terima kasih, terima kasih atas kasih sayangmu, Tuhan,” ucap Dazza sambil memeluk anaknya.

Ray juga melepas mayat Rissa, ia berdiri sambil memegang pisau itu. Dazza dan anak-anaknya mulai bergidik ngeri. Di bagian paling belakang, Nico sudah bersiap lari apabila Ray menyerang.

“Aku ingin pergi, apakah ada pesan untuk Tuhan?” tanya Ray sambil menatap mereka yang hanya terdiam. “Kurasa gak ada ya.” Ray lalu mulai mengangkat pisaunya. Kemudian ia mulai menggorok lehernya sendiri. Lehernya teriris pisau itu, darah segar pun mengalir keluar. Mata Ray melotot, mulutnya pun ikut mengeluarkan darah. Tenggorokan terputus, memotong jalur pernafasannya. Pembuluh darah besarnya juga terputus, mengeluarkan lebih banyak darah yang keluar dari jantung.

Ray pun terjatuh, sekarat dan hidupnya tersisa beberapa detik lagi. Badannya kejang-kejang. Dazza hanya bisa melihat pemandangan mengerikan itu, melihat Ray bunuh diri tepat di depannya.

Sampai akhirnya, Ray pun ikut menghembuskan nafas terakhirnya di hutan itu. Di hadapan para orang-orang sesat yang menghancurkan semua harapannya. Kini jiwanya telah tenang di alam lain. Claudio mendekat saat Ray sudah benar-benar tak bernyawa, yang jadi tujuannya adalah mayat Rissa yang tergeletak di samping Ray.

“Secukupnya saja! Hanya untuk kita,” kata Dazza.

Dengan sebilah parang tajam, Claudio memotong kaki Rissa hingga putus. Lalu membawa potongannya ke arah Dazza. “Saudaraku, kita berhasil mendapat daging dari sang pendosa,” ucap Claudio diiringi dengan sorakan bahagia saudaranya yang lain. Sedangkan sang ayah berdiri memandangi Ray yang bunuh diri. Eve mendekat dari belakang, mata indah wanita Eropa itu memandang mayat Rissa dan Ray bergantian.

“Bagaimana dengannya? Dia bunuh diri?” tanya Eve.

“Itu pilihannya, dan Tuhan mengizinkan. Dirinya kini telah meninggalkan segala hal duniawi dan bersatu dengan Tuhan di langit sana. Apabila Tuhan tidak menghendaki kematian ini, mau berapa kali pun ia menggorok leher tetap tidak akan mati,” jawab Dazza.

Setelah membaca doa untuk kematian Ray dan Rissa, mereka semua lalu berjalan meninggalkan dasar jurang itu. Kembali menelusuri lebatnya hutan da semak-semak mencari jalan memutar untuk kembali ke mansion dan rumah mereka. Melanjutkan apa yang mereka yakini sebagai sebuah agama.

Dua tubuh pucat tak bernyawa itu dibiarkan begitu saja di dalam dingin dan gelapnya hutan rimba. Terbaring dalam lembutnya tanah, dalam pelukan akar-akar pohon tipis. Hutan ini menjadi saksi cinta mereka berdua. Tentang dua manusia yang saling mengasihi dan berakhir dengan akhir tragis, terlepas dari semua itu cinta akan tetap mengikat mereka.

Channel R2 pun menghilang dari internet, tidak kabar dari pengelolanya. Tidak ada lagi video-video dan konten terbaru. Yang ada hanyalah dinginnya hutan dan kasarnya semak-semak berduri yang terasa perih di kulit.

TAMAT
ardian76
ardian76 memberi reputasi
1