Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
Iblis Suci


Blurb:

Mengisahkan tentang dua orang vlogger yang mendatangi sebuat sekte rahasia di tengah hutan terpencil. Semakin lama mereka di sana, mereka mulai merasakan keanehan, kegilaan dan hal-hal abnormal yang tidak manusiawi.

Akankah mereka bertahan di sana? emoticon-Takut (S)

emoticon-Takut


BAB 1

Quote:

To be continued


Diubah oleh harrywjyy 01-04-2024 09:42
regmekujo
sampeuk
itkgid
itkgid dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.7K
37
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Tampilkan semua post
harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
#23
BAB 14
Tangan Ray penuh darah, seluruh kulit badannya yang telanjang terus terkena cipratan darah Rissa yang terus mengalir dari pergelangan tangannya yang baru saja putus. Melihat pacarnya yang makin memburuk, Ray semakin panik. Ia mencari pertolongan ke dalam mansion. Tapi tidak ada siapa-siapa dalam mansion tersebut. Ia keluar kembali, kepalanya menoleh ke segala arah, berharap ada siapa pun yang bisa ia minta pertolongan.

Aula sepi, aula dua juga tidak ada orang. Taman apalagi. “Sayang, tahan sebentar,” ucap Ray dengan mata ebrkaca-kaca sambil melihat Rissa yang semakin pucat. Tatapan matanya kosong, entah ia masih bisa sadar mendengar perkataan Ray atau tidak.

Kaki Ray bergerak mendekat ke rumah Dazza, berharap ada seseorang di sana. Rumah Dazza pun sama gelapnya dengan bangunan lain. Tapi ia melihat ada sedikit cahaya dari salah satu ruangan di dalam. Harapan pun kini timbul, seseorang pasti ada di dalam sana. Pintu juga tidak dikunci, Ray bisa masuk dengan bebas.

Ia berjalan menuju ke sumber cahaya tersebut, kakinya menaiki tangga kayu yang tiap langkahnya menghasilkan suara berdecit. Tetesan darah di lantai seakan menjadi jejak perjalanannya. Dirinya sampai di lantai dua, berlari ke arah ruangan bercahaya itu. Pintunya tidak ditutup.

“Tolong! Tolong aku!” kata Ray saat berdiri tepat di depan ruangan itu.

Di dalam ruangan, tampak ada Enam Pilar tengah bersantai dengan makanan dan minuman mewahnya. Mereka tercengang melihat kedatangn Ray membawa Rissa dengan keadaan seperti itu. Darah terus jatuh dan mengalir dari pergelangan tangannya. Romero lalu berdiri dan menatap heran kedua sejoli itu.

“Apa yang terjadi?” tanya Romero.

“Ayahmu, ayahmu yang melakukan ini! Dia menyakiti Rissa ku, lihatlah dia. Dia kehabisan darah,” ucap Ray sambil meneteskan air mata.

“Ayah?” Romero semakin bingung.

“Kenapa Ayah melakukan ini?” tanya Monica yang ikut berdiri.

“Tidak peduli apa yang ayah lakukan! Arteri wanita itu putus, dia bisa mati!” Claudio langsung mengambil tindakan. Ia ambil potongan kain bekas, Ray lalu menurunkan Rissa dari gendongannya. Dengan sigap Claudio lalu mengikat kuat tangan Rissa agar pendarahannya bisa berhenti. “Aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak, tapi dari yang aku lihat di film-film mereka melakukan ini,” ucapnya.

“Sekarang gimana?” tanya Ray.

“Dokter kami pasti sedang dalam ibadah puncak, aku akan telepon dokter dari luar,” kata Claudio sambil mengambil ponselnya.

“Sambil menunggu dokter datang, lebih baik minum dulu,” kata Iago menawarkan Ray segelas wiski. Tapi Ray sama sekali tidak menggubrisnya.

Monica masih penasaran, ia lalu berlutut di depan Ray dan Rissa. “Oh, ini buruk sekali. Kenapa Ayah melakukan ini padanya?” tanya Monica penasaran.

“Rissa. Dia tidak sengaja makan pakai tangan, dia lupa. Tapi Ayah kalian, tanpa ampun melakukan ini padanya,” ucap Ray sambil menangis.

Mendengar itu, Claudio yang hendak menelepon dokter lalu mengurungkan niatnya. Wajah Monica pun langsung berubah, begitu juga dengan Enam Pilar lainnya. Suasana mendadak hening, mereka saling menatap satu sama lain. Nafas mereka memburu. Mata mereka tertuju pada tangan Rissa yang sudah putus itu.

“Pendosa,” gumam Monica.

“Darah itu ...,” bisik Nico pada Clara.

Sedangkan Ray belum menyadari kalau ada hal aneh yang sedang terjadi. Iago, Nico dan Clara yang sedang duduk lalu berdiri mengikuti ketiga saudaranya. Dengan cepat Monica langsung melepas kain yang tadi Claudia ikatkan pada tangan Rissa, alhasil darah kembali mengalir deras dari tangan Rissa. Lalu menggunakan mulutnya, Monica menghisap darah yang keluar dari arteri dan pembuluh darah Rissa. Ia meminumnya mentah-mentah.

“Ngapain kamu?! Hentikan!” bentak Ray yang langsung marah dan mendorong Monica menjauh darinya. Alhasil, Monica langsung terpental. Darah segar Rissa belepotan di sekitar mulutnya.

“Darah pendosa itu suci, berisi pengampunan dari Tuhan. Setara satu tahun ampunan, membebaskan kita dari dosa dan kesalahan yang kita perbuat dalam dua belas bulan terakhir. Minumlah darah pendosa walau hanya satu tetes,” ucap semua Enam Pilar secara bersamaan membacakan salah satu hukum dalam kitab mereka.

“Aku sudah meminumnya, Tuhan. Terima kasih atas ampunanmu,” kata Monica sambil menatap ke atas. Sisa-sisa darah masih belepotan di bibirnya.

“Monica sudah lancang mendahuluiku anak pertama, kini giliran aku.” Romero mendekat ke arah Rissa.

Ray perlahan mundur sambil terus melindungi pacarnya. Matanya menatap tajam Romero yang terus mendekat. “Terus, dekati aku dan akan aku habisi kamu, setan!” bentak Ray. Sampai akhirnya tubuh Ray terpojok pada sebuah dinding. Sedangkan Romero terus berjalan mendekat.

Saat sudah beberapa meter di depannya, Ray langsung menendang kaki pria itu sampai membuatnya membungkuk kesakitan. Melihat itu, ia tendang sekali lagi ke arah perutnya. Romero pun langsung tersungkut jatuh sambil memegangi perutnya. Melihat kesempatan itu, Ray lalu berdiri dan dengan sisa tenaganya ia berlari kabur membawa Rissa menjauh dari mereka.

“Kejar dia!” kata Claudio yang kemudian langsung berlari mengejar Ray bersama Clara dan Nico.

Sedangkan Iago mendekat ke Monica. Ia melihat sisa darah di bibir kakaknya itu. Dengan segera sebelum Romero menyadari itu, Iago mencium bibir Monica. Ia hisap sisa darah yang ada di bibir kakaknya. Dengan begitu, ia telah meminum darah pendosa. “Hah!” Iago melepaskan ciuman itu. “Aku telah mendapat pengampunan!” katanya dengan wajah puas.

“Kamu lebih pintar dari kakak-kakakmu, Adik,” puji Monica sambil melihat Iago dan Romero secara bergantian.

Di luar sana, Ray terus berlari dari kejaran Claudio. Tak hanya itu, kini Claudio semakin gila. Ia tak hanya mengincar Rissa. Akan tetapi, ia juga hendak membunuh Ray. Di tangannya ia memegang sebuah busur silang atau akrab dengan nama crossbow. Beberapa kali anak panah dari crossbow melesat dan hampir menancap di kepalanya. Tapi keterampilan Claudio yang sangat minim membuatnya kesulitan.

Ray berlari kembali ke arah kuil di luar dinding. Di tengah padang rumput itu, semua orang masih dalam pengaruh ibadah Dazza. Tidak ada yang menyadari Ray dan Rissa, kaki Ray lalu berlari ke arah samping yang menunju ke hutan. Claudio dan kedua saudaranya terus mengejar seperti sedang mengejar hewan buruan.

Ray melompat ke dalam semak-semak hutan, tanpa disangka ia malah terperosok ke jurang. Dirinya terguling-guling di semak-semak menuju ke dasar jurang yang tidak terlalu dalam itu. Duri-duri menyayat kulitnya, dan akar pohon yang tajam juga menggores tubuhnya. Dengan kuat Ray menahan itu semua, ia peluk erat tubuh Rissa. Melindunginya dari semua duri itu. Sampai akhirnya mereka sampai di dasar jurang.

Claudio sampai di dekat jurang itu, mereka melihat sekitar dan tidak menemukan keberadaan Ray. “Di mana sialan itu?” tanyanya.

“Dia masuk hutan!” jawab Clara.

“Kita kejar dia!” ujar Nico.

“Jangan! Setahuku, di sini sarang macan kumbang.” Clara bergidik ngeri sambil melihat sekitar hutan. “Lagipula banyak ular di sini,” tambahnya.

“Demi ampunan Tuhan, apapun akan kulakukan!” ucap Claudio yang bersiap melompat ke dalam semak-semak. Akan tetapi tangan Nico langsung memegangnya, mencegah Claudio yang hendak nekat.

“Jangan! Kita ajak kakak dulu, dia pasti punya cara untuk masuk ke dalam sini,” kata Nico menyarankan. Kemudian Clara mengangguk meyakinkan Claudio. Melihat itu, akhirnya mereka sepakat. Mereka bertiga berjalan kembali meninggalkan hutan.

Dengan tangan hampa mereka berjalan menuju rumah untuk menemui sang kakak dan meminta saran. Sedangkan di depan kuil, ibadah masih berlangsung. Ratusan orang telanjang itu bersujud ke arah Dazza sambil terus membaca doa-doa.
tariganna
tariganna memberi reputasi
1