Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
Iblis Suci


Blurb:

Mengisahkan tentang dua orang vlogger yang mendatangi sebuat sekte rahasia di tengah hutan terpencil. Semakin lama mereka di sana, mereka mulai merasakan keanehan, kegilaan dan hal-hal abnormal yang tidak manusiawi.

Akankah mereka bertahan di sana? emoticon-Takut (S)

emoticon-Takut


BAB 1

Quote:

To be continued


Diubah oleh harrywjyy 01-04-2024 09:42
regmekujo
sampeuk
itkgid
itkgid dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.7K
37
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Tampilkan semua post
harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
#21
BAB 12
Seorang wanita Eropa keluar dari arah mansion, sambil membersihkan bajunya yang kotor terkena debu lantai ia melangkah pelan. Tak lama kemudian ia berhenti saat tiga orang saudaranya Nico, Monica dan Clara menghadangnya dari depan.

“Eve, kenapa kamu bisa kecolongan?” tanya Monica.

“Maaf, kakak. Mereka mendorong aku sampai jatuh ke lantai,” jawab Eve.

Monica mendekat ke arah adik tirinya itu. “Apa kamu sakit?” tanyanya sambil memegang pipi Eve. “Kuharap kamu baik-baik saja.” Monica lalu mencium bibir Eve. Sambil memejamkan mata, mereka berciuman beberapa detik sampai akhirnya Monica melepas bibirnya. “Pergilah, jalani tugasmu,” perintahnya.

“Siap, Kakak.” Eve lalu berjalan pergi meninggalkan mansion.

Ratusan umat agama ini berjalan telanjang ke arah belakang mansion, kemudian lanjut berjalan ke luar dinding. Mengarah ke arah kuil mereka yang berada di tengah padang rumput. Empat buah menara berbentuk obor itu menyala dengan begitu terang, api berkobar di atas menara obor itu. Menjadi satu-satunya cahaya di saat seluruh mansion dan bangunan lain gelap gulita.

Di depan kuil, orang-orang telanjang itu berkumpul. Ray dan Rissa turut menjadi bagian. Dazza berdiri di depan kuil dengan pakaian yang sama seperti saat di aula. Topengnya itu kini kembali ia kenakan. Membuat siapa pun kesulitan memahami ekspresi apa yang ada di balik topeng itu.

Mereka semua berlutut di atas lembut dan dinginnya rumput malam hari, kedua sejoli itu terpaksa mengikuti semua prosesinya. Lalu, para anak buah Dazza memberikan makanan ke satu per satu orang yang ada di sana. Termasuk Ray dan Rissa yang berada di tengah kerumunan orang.

“Perhatian!” teriak Dazza dari arah depan. Tak lama, anak buahnya memberikan pengeras suara agar orang tua itu tak perlu lagi berteriak.

“Perhatian, di malam yang bahagia ini kita akan melangsungkan ibadah puncak yang menutup rangkaian ibadah tahunan kita. Tepat di bawah sinar rembulan, di hadapan megahnya alam kita akan tunjukkan kebesaran Tuhan. Akan kita tunjukkan betapa agungnya ia!” ucap Dazza dengan emosional.

“Kepadanya, malam ini kita akan mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan. Dengan cara serendah-rendahnya. Kita boleh memiliki derajat tinggi di antara manusia lainnya. Tapi apalah kita bila berhadapan dengan Tuhan, kita bukanlah apa-apa. Kita rendah,” lanjut Dazza.

“Para umatku semuanya, tunjukkan kerendahan kita di hadapan Tuhan!” Dazza lalu membunyikan lonceng sebanyak tiga kali. Suara lonceng yang nyaring terdengar hingga ke bagian belakang kerumunan orang itu. Lalu diikuti dengan suara drum dari arah kiri dan kanan.

Apa yang mereka sebut sebagai ibadah puncak pun dimulai. Makanan yang tergeletak di rumput itu mulai mereka makan, dalam keadaan telanjang tubuh mereka membungkuk. Dalam ibadah ini, semua yang datang dipersilahkan makan. Tapi syaratnya mereka tidak boleh menggunakan tangan, mereka harus membungkuk ke tanah dan makan langsung melalui mulut seperti binatang makan.

Para pengikut Dazza mulai makan dengan nikmat, sambil menirukan binatang. Mulut mereka kotor dan makanan mereka berantakan. Ray dan Rissa masih dalam posisi berlutut, dengan jijik mereka menatap pemandangan aneh itu. “Gak apa-apa, setelah ini kita pulang, Sayang,” ucap Ray menguatkan pacarnya itu. Rissa mengangguk, seperti orang-orang lainnya Rissa membungkuk dan makan seperti binatang. Begitu juga dengan Ray.

“Tuhan, dengan cara inilah kami menunjukkan segala kerendahan kami. Di hadapanmu kami sudah rendah, maka akan kami tinggikan namamu. Setinggi-tingginya!” kata Dazza yang terus memberikan pujian-pujian kepada Tuhan.

Para hadirin yang datang memakan makanannya masing-masing dengan lahap, sudah layaknya binatang kelaparan. Mulut mereka sesekali beradu langsung dengan tanah dan rumput. Mulut dan sekitar pipi mereka belepotan. Mengingat mereka semua memang belum diberi makan oleh Dazza sejak pembukaan di aula pertama. Bisa dibilang mereka berpuasa dan sekaranglah mereka baru makan lagi.

“Tambah lagi! Tambah lagi!” teriak semua orang yang ada di sana.

Tak lama Dazza dan anak buahnya mengambil beberapa ember berisi nasi yang sudah matang. Melihat itu, orang-orang yang ada di sana merangkak mendekat ke arah Dazza. Mereka semua saling dorong, saling injak dan berusaha sekuat mungkin agar mendapat makanan itu. Anak-anak bahkan ada yang pingsan terinjak-injak.

“Makan! Makan!” teriak mereka semua.

Tangan Dazza lalu meraup nasi yang ada di dalam ember, diikuti dengan beberapa anak buahnya yang masing-masing memegang ember nasi. Secara serentak Dazza langsung melempar nasi itu ke arah orang-orang yang berlutut di hadapannya. Layaknya anjing yang sedang diberi makan, namun mereka anggap ini sebagai bentuk kerendahan diri kepada Tuhan.

“Gak apa-apa, kita gak perlu ikut,” ucap Ray kepada pacarnya. Tangan Ray lalu mengelus punggung Rissa agar membuatnya tenang.

Rissa tak bicara apa-apa, ia memalingkan wajah dan berekspresi datar. Dengan tangannya yang satu lagi, Ray lalu mengelap sisa-sisa makanan yang ada di sekitar mulut Rissa. “Tak apa, Sayang. Kapan lagi kamu memamerkan tubuh indahmu ini? Kamu tambah cantik ketika telanjang,” ucap Ray dengan maksud menghiburnya.

Rissa lalu tersenyum sebentar, sebelum wajahnya berubah kembali datar. Bahkan matanya sama sekali tidak berpaling. Ray lalu kembali melihat ke arah depan, menatap kerumunan orang gila yang berebut makanan seperti anjing kelaparan.

“Sedang apa kalian?! Cepat ikut ke sana, itu bagian dari prosesi ibadah!” kata salah satu anak buah Dazza yang langsung mendorong mereka. Ray dan Rissa lalu terpaksa berjalan ke arah kerumunan itu untuk selanjutnya ikut berebur makanan dengan mereka. Tangan Ray tidak berhenti memegang tangan pacarnya.

“Merangkak! Kalian tidak lihat?!’ bentak anak buah Dazza itu lagi.

Mendengar itu, mereka berdua lalu membungkuk dan mulai berjalan merangkak seperti binatang. Kedua sejoli itu kini sampai di bagian paling belakang dari ratusan orang yang berebut makanan, lemparan nasi-nasi dari Dazza sampai ke arah mereka. Setiap nasi yang jatuh di dekat mereka, mulut mereka langsung menyantapnya.

Sampai suatu ketika, Rissa yang tengah memakan nasi yang dilempar oleh Dazza lupa dengan peraturan. Tanpa sengaja Rissa makan menggunakan tangan kanannya. Hal ini disadari oleh beberapa orang. Mereka yang menyadari itu langsung melotot dan menatap Rissa dengan tatapan aneh.

“Dia melanggar aturan! Dia melanggar aturan!” teriak semua orang yang melihat sambil melihat Rissa.

Menyadari itu, Ray langsung menepuk tangan pacarnya sehingga makanan itu terjatuh kembali ke tanah. “A-aku lupa, Sayang,” ucap Rissa yang gugup ketakutan.

“Dia makan dengan tangan!” teriak salah satu orang.

“Ya Tuhan, dia melanggar perintahmu!”

“Pendosa!”

Teriakan-teriakan itu terus terdengar dan ditujukan kepada Rissa. Mereka berdua lalu panik, entah apa yang terjadi selanjutnya. Hal ini pun terdengar ke telinga Dazza. Sambil menyembunyikan sesuatu di balik jubahnya, Dazza mulai berjalan.

Para hadirin pun membuka jalan untuk Dazza melangkah mendekat ke Ray dan Rissa. Dari kejauhan kedua sejoli bisa melihat Dazza berjalan mendekati mereka. Mereka berdua duduk dengan wajah gugup bukan main, jantung mereka berdebar cukup hebat, nafas mereka tak karuan.

“Bagaimana ini, Sayang? Aku takut,” ucap Rissa ketakutan sambil melihat Dazza mendekatinya dari kejauhan. “Aku gak sengaja,” tambahnya.

“Sssstt ... Gak apa-apa, aku tau kamu gak sengaja. Aku coba ngomong sama dia, dia pasti kasih toleransi. Kamu tenang aja, tenangin dirimu,” kata Ray berusaha membuat Rissa tetap tenang. Sementara dirinya sendiri pun sebenarnya takut melihat Dazza berjalan mendekat. Apalagi topeng itu menyembunyikan wajah dan ekspresinya.

Apa yang akan terjadi selanjutnya sangat tidak bisa untuk ditebak.
ardian76
tariganna
tariganna dan ardian76 memberi reputasi
2