Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
Iblis Suci


Blurb:

Mengisahkan tentang dua orang vlogger yang mendatangi sebuat sekte rahasia di tengah hutan terpencil. Semakin lama mereka di sana, mereka mulai merasakan keanehan, kegilaan dan hal-hal abnormal yang tidak manusiawi.

Akankah mereka bertahan di sana? emoticon-Takut (S)

emoticon-Takut


BAB 1

Quote:

To be continued


Diubah oleh harrywjyy 01-04-2024 09:42
regmekujo
sampeuk
itkgid
itkgid dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.7K
37
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Tampilkan semua post
harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
#19
BAB 10

Enam Pilar berhasil memakan sampai habis setumpuk kotoran itu. Sambil tetap duduk di lantai panggung itu, mereka mengelap mulut yang belepotan dengan tinja. Sapu tangan ia usapkan di sekitar bibirnya, terutama Iago yang kebetulan makan paling banyak dan paling berantakan dari yang lainnya. Bahkan bajunya sampai kotor akibat tinja itu.

Ray dan Rissa masih tetap diam membelakangi panggung, menolak melihat pemandangan itu. Tangan Ray terus merangkul pacarnya, sedangkan kamera terus merekam. Di sekeliling mereka, riuh sorakan para hadirin yang datang menggema menyambut Enam Pilar yang berhasil memakan semua kotoran manusia itu. Berkah Tuhan kini mereka dapatkan.

“Dengan ini.” Dazza melangkah ke depan sambil membawa tongkatnya. Ia lepas topengnya, wajah pria tua itu pun muncul ke hadapan para hadirin. Topeng itu ia lempar ke udara. “Ibadah tahunan resmi dibuka!” teriaknya yang seketika membuat suasana aula semakin tidak terkendali. Suara teriakan bahagia dan sorak sorai semua yang datang tak terbendung. Anak-anak melompat, orang-orang dewasa menari bahagia.

Sesaat setelah itu, pintu aula dibuka. Tampak Eve dan beberapa anak Dazza lainnya dari berbagai istri berdiri membentuk barisan. Para hadirin yang ada di dalam aula lalu berjalan meninggalkan lokasi. Mereka secara teratur melangkah keluar aula sambil terus mengumandangkan pujian-pujian kepada Tuhan yang mereka percayai.

Ray dan Rissa terpaksa harus menahan diri beberapa saat menunggu kerumunan orang yang banyaknya bukan main itu keluar semua. Setelah sepi baru mereka melangkah pergi. Dari dekat pintu aula, mata Eve terus memandangi kedua sejoli itu. Entah apa yang ada dipikirannya, wajahnya datar seperti biasa.

“Gila, ini udah selesai nih?” tanya Rissa yang kemudian menoleh ke panggung. “Ya ampun masih ada dong.” Rissa kembali memalingkan wajah saat melihat sisa-sisa kotoran Romero masih melekat di lantai panggung. Warna kuning dari benda lembek itu tampak kontras dengan lantai panggung yang abu-abu.

Ray memilih mengabaikan itu, ia mulai merapikan kamera sambil menunggu aula sepi. Kabel-kabel mikrofon dan beberapa peralatan pendukungnya ia lepas. Ia gulung dan masukkan ke dalam tasnya dengan rapi.

Ia lepas kameranya dari tripod. Memastikan video terekam dengan baik sebelum ia review di kemudian hari. Berselang sekitar lima belas menit, kerumunan orang itu mulai melonggar. Dari belakang Eve berjalan mendekati mereka. Dengan gaun hitam dan pita putih di dadanya.

“Setelah ini, kalian ke aula dua. Masih ada prosesi acara yang berlangsung di sana,” ucap Eve.

Rissa lalu menatap malas perempuan Eropa itu. “Sumpah, Eve. Mereka ngapain lagi di sana? Kalau aneh-aneh kita mending balik ke mansion deh. Gak mau lagi liat begituan,” keluh Rissa. Selesai bicara ia menoleh ke Ray. “Sayang? Kamu gak ada niat mau ke aula sebelah kan? Gak usah! Kita balik aja!” pinta Rissa.

“Iya, iya,” jawab singkat Ray.

“Tidak bisa!” kata Eve dengan tegas. “Tidak ada satu orang pun yang berdiam diri di mansion atau di mana pun saat prosesi ibadah berlangsung. Tak peduli kalian sakit atau apapun. Kalian harus hadir, kalian diperbolehkan tidak hadir hanya saat kalian meninggal. Begitulah aturan Tuhan, melanggarnya itu berarti dosa untuk kalian.” Dengan serius Eve menjelaskan.

“Hah? Tunggu-tunggu? Aku gak peduli itu sama ibadah kalian atau Tuhan pemakan tai itu! Eve, jangan kamu posisikan aku dan Ray sebagai bagian dari kalian. Kami gak percaya sama Tuhan kalian. Jadi tolong, berikan kami kebebasan buat memilih. Kami berhak buat menolak ibadah itu!” kata Rissa memohon. Sedangkan pacarnya hanya memantau agar tidak terjadi perdebatan yang lebih kacau.

Eve terdiam dan tidak menjawab. Suara langkah kaki terdengar dari arah belakang Ray dan Rissa. Suara itu berasal dari Dazza sang pembawa pesan Tuhan. Bersama beberapa pengawalnya ia berjalan melewati mereka. Namun, sebelum itu ia menyempatkan diri untuk berhenti dan menatap kedua sejoli itu. “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kurasa kalian cukup cerdas untuk mengerti maksud kalimat itu,” ujar Dazza yang kemudian melanjutkan perjalanannya.

“Ayo pergi sekarang juga,” ajak Eve sekali lagi.

Rissa menghela nafas. “Yaudah, kasih tau kami apa yang mereka lakukan di aula dua?” tanyanya.

“Lihat saja sendiri,” jawab Eve singkat.

“Tuh kan!” keluh Rissa. Ray lalu mencoba menenangkan pacarnya itu. Ia elus punggung pacarnya dengan lembut dan memberikan senyum.

“Sayang, gak apa-apa. Kita hadir aja, kita gak usah bikin konten di sana. Lagi juga belum tentu di sana mereka melakukan yang aneh-aneh, bisa aja mereka cuma berdoa aja. Kita mikir positif aja ya,” ucap Ray.

Ucapan itu membuat Rissa terpaksa menganggukkan kepalanya. Ray lalu memakai tasnya, bersama Eve mereka bertiga lalu berjalan meninggalkan aula satu yang sudah sepi itu. Eve memimpin mereka. Sesampainya di luar, mereka belok ke arah kiri di mana bangunan aula dua berdiri dengan ukuran dua kali lebih besar dari aula pertama. Saat itu hari sudah mulai gelap, langit sudah menunjukkan tanda-tanda datangnya malam.

Tampak beberapa pria bersenjata lengkap berdiri di depan pintu, memberikan penjagaan kepada aula yang sedang dilangsungkan ibadah itu. Salah satu penjaga membuka pintu untuk mereka. Sampailah mereka di dalam aula dua, akan tetapi masih ada sebuah tirai yang harus mereka lewati. Sehingga mereka belum tahu apa yang ada di dalam sini.

Eve berjalan ke balik tirai itu, diikuti dengan Ray dan Rissa. Mereka pun cukup takjub dengan suasana aula yang sangat mewah. Ruangan begitu lebar, terdapat lantai dua di bagian pinggir aula yang biasa digunakan para petinggi agama untuk melihat jalannya ibadah dari atas. Tampak pula Enam Pilar yang berdiri di lantai dua sambil memperhatikan yang ada di lantai satu.

Yang terjadi di lantai satu sangatlah aneh dan menjijikan, Ray dan Rissa sampai-sampai mengerutkan dahi. Di lantai satu aula yang luas itu ratusan hadirin yang datang telanjang bersama-sama, semuanya. Dan selain itu, mereka juga melakukan hubungan seksual satu sama lain. Tidak peduli mana istri dan mana suami mereka, semuanya berbaur begitu saja. Bahkan mereka tidak peduli mana laki-laki mana perempuan. Karena ada juga beberapa orang yang berhubungan badan antara laki-laki dengan laki-laki pula.

“Yeaahh!!” Teriakan laki-laki bercampur menjadi satu. Mereka begitu liar dan diluar kendali, akal sehat mereka serasa sudah tidak ada apalagi rasa malu. Desahan dan teriakan mereka menggema memenuhi langit-langit yang besar itu. Bahkan anak-anak dipaksa menonton kegiatan aneh tersebut.

Di bagian ujung aula, berdiri sebuah patung Tuhan yang mereka puja-puja. Ukurannya lebih besar dari yang ada di kuil. Di bawah patung itu, terdapat mimbar di mana Dazza tengah berdiri di sana. Tangannya mengadah ke langit, mulutnya terus membacakan doa-doa di tengah kerumunan orang yang berhubungan seks dengan gila itu.

“Ini bisa jadi pesta seks paling besar yang ada di negara ini,” kata Ray.

“Ini adalah ibadah kami,” sahut Eve.

Tanpa mereka sadari, Rissa yang sudah muak dengan kegilaan ini berjalan meninggalkan aula. Saat hendak keluar bangunan itu, seorang penjaga menghalangi jalannya. “Minggir!” bentak Rissa dengan nada marah.

“Tidak ada yang boleh keluar selama ibadah berlangsung,” jawab penjaga itu. Senapan serbu laras panjang yang ada di tangannya membuat Rissa takut, akan tetapi ia juga enggan kembali kesana. Tapi dengan terpaksa, ia kembali ke arah Ray dan juga Eve sambil memalingkan wajahnya. Matanya berkaca-kaca dan nafasnya mulai tak karuan.

“Kenapa, Sayang?” tanya Ray melihat pacarnya hampir menangis.

“Gak apa-apa,” jawab Rissa menahan air matanya.

“Kenapa kalian merasa tidak bergairah, saat karunia Tuhan datang tepat di hadapan mata kalian? Di mana rasa syukur kalian?” tanya Eve sambil tersenyum. Tak lama datang seorang wanita yang berpakaian persis seperti Eve. Tampaknya ia merupakan saudara Eve juga.

Ray dan Rissa tidak menjawab. Sementara Eve dan saudara perempuannya itu mulai berciuman di depan mereka, masing-masing dari mereka saling melepas pakaian satu sama lain. Sampai akhirnya mereka benar-benar telanjang tanpa pakaian sedikit pun. Kedua bibir wanita itu terus beradu dalam ciuman yang menggairahkan itu. Perlahan Eve dan saudarinya berjalan ke arah kerumunan orang dan bergabung dalam ibadah tersebut.

“Gila!” gumam Ray sambil melihat aneh Eve bersama semua orang yang ada di sana.

“Sayang, sekarang gimana?” tanya Rissa yang semakin gelisah.

“Sayang, dengerin aku ya.” Ray lalu memegang kedua pipi pacarnya itu. “Kamu harus kuat, beberapa menit aja. Kita harus keliling bangunan ini dan cari jalan keluar! Jadi kamu harus menahan diri, paham?” tanya Ray.

Sambil menghela nafas, Rissa mengangguk. “Paham.”

“Bagus,” ucap Ray sambil mengusap kepala pacarnya.

Rissa lalu memeluk erat lengan Ray, perlahan ia mengikuti Ray yang mulai berjalan ke tengah-tengah kerumunan orang yang sedang berhubungan badan. Mereka saling menguatkan satu sama lain, mengabaikan semua. Menganggap tidak ada apa-apa di sini, seolah mereka tidak melihat apa-apa. Tapi suara-suara dan apa yang nampak di mata mereka jelas tidak bisa mereka sembunyikan.

“Aaaaaa!!!” jerit Rissa ketakutan saat dua orang laki-laki dan perempuan yang sedang asik bersenggama tak sengaja menyenggolnya dari samping. Rissa semakin rapat ke badan pacarnya, air mata sudah tidak bisa ia tahan lagi.

“Tenang, Sayang,” ucap Ray yang juga sebenarnya belum memiliki tujuan ke mana mereka harus melangkah. Saat sudah berada di tengah-tengah pesta seks itu, tiba-tiba di hadapan mereka orang-orang menutup jalan. Akses mereka untuk terus maju pun  tertutup. Jalan yang tadinya ingin mereka lewati kini diisi oleh orang-orang sinting tersebut.

“Sial,” gumam Ray kebingungan. Ia melihat sekitar, berharap ada jalan lain yang bisa ia lalui. Sungguh disayangkan, mereka justru terjebak dalam kepungan orang-orang telanjang itu. Rissa semakin ketakutan, sedangkan Ray tak tahu harus berbuat apa. “Aaarrgh! baik!” teriak Ray mengumpat.

“Terus! Teruslah, lanjutkan ibadah ini wahai umatku!” teriak Dazza dari atas mimbar.

“Aaaaaa!!” Rissa kembali menjerit saat tiba-tiba ada sebuah tangan yang meraba tubuhnya dari belakang. Buru-buru ia menghindar dan menyembunyikan diri di balik badan pacarnya. Ray yang menydari itu dengan refleks melihat ke belakang. Tampak ,pria telanjang di sana melihat Rissa dengan tatapan mesum dan gila.

Ray marah dan langsung menendang wajah orang itu sampai jatuh tersungkur. “Jangan anggap pacarku bagian dari kalian, dasar orang-orang gila!” bentak Ray marah.

“Sayang!!!” teriak Rissa saat tiba-tiba tiga orang laki-laki menariknya dari belakang.

“Rissa!” Ray buru-buru memegang tangan pacarnya sekuat tenaga. Menahan Rissa agar tidak jatuh dan jadi santapan orang-orang sinting itu. Tapi tiga lawan satu terlalu sulit diimbangi, Ray terus berusaha menahan Rissa. Sampai-sampai ia melotot dan berkeringat.

Laki-laki itu lalu bertambah banyak, dari tiga orang kini jadi empat orang. Lalu lima orang, enam orang dan terus bertambah sampai akhirnya tangan Rissa lepas dari genggamannya. “Jangan!!!” teriak Ray kala melihat pacarnya jatuh ke tangan para pria itu.

Sedangkan Ray juga menjadi sasaran orang lainnya, beberapa wanita telanjang mendekat dan menggodanya. Tak hanya itu, laki-laki pun ikut menggoda Ray. Tapi 

dengan tenaganya Ray melepaskan diri.

“Anjing kalian semua!” bentak Ray yang lalu memukul semua orang itu. Tak peduli pria dan wanita, ia mengamuk sejadi-jadinya. Siapa pun yang ada dalam jangkauannya akan terkena pukulan tangannya yang keras dan menyakitkan. Satu per satu orang yang mendekatinya tumbang.

“Ayo, mana lagi?!” teriaknya.

“Di sini!” ujar salah satu orang dari arah kiri.

Ray lalu melihat ke kiri, matanya bertemu dengan sosok yang sudah pernah ia lihat sebelumnya. Sosok itu adalah pria berpakaian serba hitam, ketua dari Enam Pilar. Romero. Dengan gerakan cepat Romero mengarahkan sebuah kristal yang menyala berwarna ungu ke arah mata Ray.

Ray yang melihat itu seketika diam, seperti sedang terhipnotis. Ray terdiam, terpaku menatap kristal itu. Tubuhnya kaku tak bisa bergerak. “Tuhan datang kepada siapa pun. Tak peduli kepada mereka yang percaya atau pun tidak akan keagungannya,” ucap Romero.

Selama beberapa menit melihat kristal bercahaya itu, Ray akhirnya terhipnotis. Ia tersenyum seperti orang gila. Di sisi lain, Rissa yang juga sudah terkena pengaruh kristal hijau itu kini sudah telanjang tanpa busana. Dirinya dengan bebas dan liar menjadi sasaran para laki-laki yang ada di sana.

Dengan tatapan mata kosong ke depan, Ray lalu melepas semua pakaianya. Celana, baju bahkan tasnya ia sudah tidak peduli lagi. Dengan badan telanjang, ia berteriak, “aaaaaaa!!” Sebelum akhirnya melompat ke arah kerumunan wanita yang tadi sempat menggodanya.

Dan akhirnya, Ray dan Rissa malah menjadi bagian dari kegilaan itu. Tanpa sadar dan dalam pengaruh kristal itu, mereka melakukan hubungan seksual dengan orang-orang yang bahkan mereka tidak kenal satu sama lain. Terus menerus secara bergantian, setelah selesai dengan satu orang, Ray langsung pindah ke orang lain. Tak peduli laki-laki atau perempuan, semua jadi sasarannya. Ray dan Rissa sudah berbaur dengan semua orang yang ada di sana, akal sehat mereka telah hilang.

“Sungguh Tuhan begitu murah hati terhadap semua makhluk di semesta ini,” ujar Romero saat berada kembali di posisinya semula bersama kelima adiknya. Dari atas lantai dua, mereka berenam menyaksikan pemandangan tak wajar itu sebagai bentuk ibadah terhadap Tuhan. Sementara itu, mata mereka juga sesekali menatap kagum kepada sang ayah yang terus menerus membacakan doa serta pujian kepada Tuhan di tengah-tengah kegiatan itu. Tak ada yang normal dalam kelompok agama ini, semuanya berada di jalur yang amat menyimpang. Dan parahnya malam itu, Ray dan Rissa bergabung bersama mereka.

tariganna
tariganna memberi reputasi
1