Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
Dalam Dekapan Kabut
Izinkan saya kembali bercerita tentang sebuah kejadian di masa lalu

dalam dekapan kabut, aku terhangatkan oleh kalimat cintamu, kalimat sederhana penuh makna yang terucap diantara hamparan bunga bunga edelweis yang menjadi simbol keabadian... 

Chapter :

DDK - Chapter 1

DDK - Chapter 2

DDK - Chapter 3

DDK - Chapter 4

DDK - Chapter 5



Diubah oleh meta.morfosis 08-03-2024 09:56
riodgarp
jenggalasunyi
bukhorigan
bukhorigan dan 5 lainnya memberi reputasi
6
567
12
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Tampilkan semua post
meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
#5

Chapter 5

Perjumpaan Yang Tidak Terduga







“ kang apang, bangun kang, waktu sholat subuh sudah hampir habis nih ” aku terjaga dalam ekspresi wajah yang masih menunjukan rasa ketakutan, gerakan tanganku yang saat ini secara refleks menyapu wajahku ini dengan telapak tangan, kini telah membuat anto yang membangunkanku, memundurkan tubuhnya karena merasa terkejut dengan apa yang aku lakukan ini

“ ya tuhan, ternyata semalam itu aku memang enggak bermimpi ” gumamku di dalam hati dengan tatapan mata memandang ke arah telapak tanganku yang terkotori oleh tanah merah, dan kini begitu mendapati kenyataan itu, aku segera beranjak bangun untuk memeriksa sprei tempat tidurku, dalam pengelihatanku saat ini, terlihat banyaknya serpihan tanah merah yang berserakan  di sprei tempat tidurku 

“ to ” tegurku kepada anto yang saat ini masih berdiri terpaku dalam menatapku

“ kang, akang kenapa ? kenapa banyak tanah merah kang di wajah dan di kasur akang ? ” jawab anto balik bertanya, ekspresi wajahnya masih menunjukan rasa ketidaknyamanannya karena telah mendapati tingkah lakuku yang menurutnya mungkin terkesan aneh, dan kini begitu mendapati pertanyaan anto tersebut, aku meminta anto untuk mendekat

“ kamu enggak usah takut to, akang berjanji, nanti akang akan menceritakan semuanya kepada kamu, sekarang ini, akang hanya ingin kamu juga berjanji untuk merahasiakan semuanya ini ” anto terdiam, ekspresi keraguan untuk memenuhi permintaanku itu begitu terlihat jelas di wajahnya

“ tolong to, berjanjilah, akang enggak ingin— ”

“ iya kang, anto berjanji ”

Aku merasa lega karena saat ini anto telah mau memenuhi permintaanku, dan kini selepas dari permintaanku yang telah dipenuhi oleh anto, aku kembali mengajukan permintaan lainnya kepada anto yaitu berupa kebersediaan anto untuk melepaskan sprei yang telah terkotori oleh tanah merah dan menyimpannya di dalam lemariku

“ yakin kang, spreinya itu mau di simpan di lemari ? ”

“ yakin to, nanti akang sendiri yang akan mencucinya ”

“ loh memangnya nanti akang enggak kerja ? ”

“ rencananya hari ini akang enggak kerja dulu to, yaa sudah... sebaiknya sekarang kamu lepas sprei itu, akang mau sholat subuh dulu karena khawatir waktunya akan segera habis ”

Gugusan awan putih yang sesekali menghalangi cahaya mentari, tersaji diantara hari yang saat ini telah beranjak siang, rasa kekhawatiran di dalam menyikapi beberapa kejadian menyeramkan yang telah aku alami di beberapa hari belakangan ini, kini telah membuatku berpikir untuk mencari tahu penyebab mengapa aku mengalami kejadian kejadian menyeramkan itu, dan sepertinya ismed adalah orang yang tepat untuk membantuku di dalam mencari penyebab mengapa aku mengalami kejadian kejadian menyeramkan itu

“ loh... memangnya hari ini kamu enggak kerja pang ? ”

Kalimat pertanyaan yang terucap dari mulut ismed, terdengar diantara hempasan tubuhku pada kursi yang berada di teras rumah ismed, sehelai kain sarung yang saat ini masih dikenakan oleh ismed, menandakan hari ini ismed memang tidak mempunyai rencana untuk keluar rumah, dan kini begitu aku mendapati pertanyaannya itu, aku langsung memberikan jawaban yang menjadi alasan mengapa aku tidak masuk kerja hari ini, dan jawabannya itu adalah kejadian menyeramkan yang telah aku alami semalam

“ kamu beneran yakin pang, yang bersentuhan dengan wajah kamu itu adalah pocong ? ”

“ aku yakin banget med, walaupun saat itu aku enggak bisa melihat sosok pocong itu karena gelap, tapi dari suara yang aku dengar, aku yakin banget itu memang sosok pocong yang aku lihat sewaktu aku berada di ruangan kamar mandi museum ”

“ wahh... ini beneran parah pang, dengan alasan apa yaa, almarhum arif itu menghantui kamu, masa iya sih dengan alasan karena dia cemburu ” dalam keterdiamannya kini, ismed menyulutkan sebatang rokok, ekspresi wajahnya menunjukan bahwa dirinya saat ini tengah memikirkan sesuatu

“ tolong bantu aku med, aku benar benar ingin mengetahui alasan mengapa almarhum arif itu menghantuiku ”

Mendapati permintaanku itu, untuk beberapa saat ismed terdiam, hingga akhirnya selepas dari keterdiamannya itu, ismed memberikan saran agar aku menemui kawan lamanya yang menurutnya bisa memberikan jawaban dari pertanyaanku itu

“ bagaimana pang, apa kamu setuju mengikuti saranku itu ? ”

“ aku setuju med, kapan kita akan ke rumah kawan kamu itu ? ”

“ sekarang juga kita kesana pang, yaa sudah kalau begitu aku ambil tas dulu, biar nanti itu setelah urusan kamu selesai, kita bisa langsung ke kampus ” 

Berpacu dengan waktu yang saat ini mulai beranjak semakin siang, sepeda motor yang aku dan ismed kendarai kini mulai menapaki jalan di kota bogor yang menuju ke arah bogor barat, dari beberapa persimpangan jalan yang telah kami lalui, secara tiba tiba ismed kini menghentikan laju sepeda motornya di sebuah jalan yang banyak terdapat rumah makan, mendapati hal itu, aku pun kini segera menghampiri ismed dan beraharap adanya penjelasan dari ismed yang menjelaskan mengapa dirinya menghentikan laju sepeda motor 

“ ada apa med ? ”

“ coba kamu lihat orang itu pang ” ismed menunjuk jari tangannya ke arah seorang lelaki berusia paruh baya yang tengah berdiri di depan sebuah warung makan, dari tingkah laku yang diperlihatkan oleh lelaki itu, sepertinya lelaki itu tengah mencari sesuatu dan itu entah apa

“ memangnya kamu mengenal orang itu med ? ”

Diantara pertanyaanku yang belum dijawab oleh ismed, ismed kembali menjalankan sepeda motornya dan kembali menghentikannya di lokasi yang jaraknya tidak begitu jauh dari lokasi lelaki berusia paruh baya berdiri

“ gila kamu yaa med, ngapain juga sih kita mengintai orang itu ? ”

Mendapati saat ini ismed hanya terdiam di dalam menanggapi pertanyaanku itu, aku langsung melayangkan tatapan mataku ke arah lelaki berusia paruh baya yang saat init tengah melambaikan tangannya ke arah seorang wanita muda yang baru saja turun dari sebuah mobil yang diparkirkan tidak jauh dari lokasi lelaki berusia paruh baya itu berdiri, dan kini selepas dari lambaian tangannya itu, sosok wanita muda yang baru turun dari mobil itu berjalan menghampirinya

“ sekarang aku sudah yakin pang, lelaki itu memang bapaknya anin ”

“ hahh bapaknya anin ? ”

“ iya pang, bapaknya anin, wajah lelaki itu sangat mirip dengan wajah bapaknya anin yang aku lihat sewaktu kita berkunjung ke rumah anin ”

“ loh med, memangnya kamu itu pernah berjumpa dengan bapaknya anin ? ”  ismed menggelengkan kepalanya, dari mulutnya kini terucap jawaban yang menjelaskan bahwa dirinya bisa mengetahui wajah orang tua anindia melalui photo yang terpajang di rumah anindia

“ kalau memang begitu med, berarti wanita itu— ”

“ bukan pang, wanita itu bukan ibunya anin ”

Dalam rasa keterkejutanku karena mendapati perkataan ismed yang mengatakan bahwa sosok wanita muda yang saat ini tengah berbicara dengan bapaknya anindia bukanlah ibunya anindia, ismed memberikan isyarat kepadaku untuk menuju ke rumah makan, dan kini baru saja aku hendak memberikan jawaban untuk menanggapi ajakan ismed tersebut, ismed sudah terlebih dahulu menjalankan sepeda motornya menuju ke rumah makan, di sisi yang lain terlihat juga bapaknya anindia telah mengajak wanita muda itu memasuki rumah makan

Ingin rasanya saat ini aku memaki kecerobohan ismed yang ternyata lebih menuruti keinginannya untuk mengetahui apa yang saat ini dilakukan oleh bapaknya anindia daripada berpikir sehat untuk tidak ikut campur dengan urusan orang lain, dan kini diantara keberadan kami yang telah memasuki rumah makan, kami langsung menduduki kursi yang berada tidak jauh dari keberadaan bapaknya anindia yang saat ini tengah berbincang bincang dengan sosok wanita muda

Intinya lakukan saja pak, ini persyaratannya...

Entah saat ini mereka tengah membicarakan apa, hanya saja kini selepas dari sosok wanita muda menyerahkan bungkusan berwarna hitam kepada bapaknya anindia, sosok wanita muda itu langsung beranjak pergi meninggalkan rumah makan, dan tidak berselang lama kemudian, hal yang sama juga dilakukan oleh bapaknya anindia

“ mereka itu sebenarnya mau ngapain pang ?, kok aku merasa ada yang aneh yaa dengan pembicaraan mereka itu ”

“ entahlah med, tapi ada baiknya kita enggak usah mencari tahu ”

“ loh kok begitu pang, apakah kamu enggak merasa— ”

“ sudahlah med, aku sarankan kamu jangan terlalu jauh ingin mengetahui kehidupan orang tua anindia, karena nantinya itu aku yakin pasti akan berujung dengan sesuatu yang kurang baik ”

“ sesuatu yang kurang baik bagaimana pang ? ”

“ setiap anak pasti akan marah med ketika melihat orang tuanya diusik, begitu juga dengan anindia yang bakal marah ketika mengetahui orang tuanya diusik ”

Sulit rasanya bagi ismed untuk melanjutkan perbincangan ini di saat dirinya kini diliputi oleh rasa bersalah, mendapati hal itu, dikarenakan aku tidak ingin melihat ismed berlama lama dengan rasa bersalahnya itu, aku berjanji kepada ismed untuk tidak memberitahukan kepada siapapun perihal perbuatan yang telah dilakukannya itu, dan apa yang aku lakukan ini kini telah berbuah dengan kembalinya keceriaan ismed seperti sediakala

“ cepat habiskan kopinya med, aku yakin rumah kenalan kamu itu pasti masih jauh ”

Selepas dari regukan ismed yang menghabiskan air kopi di dalam gelas, kami kembali melanjutkan perjalanan, dan tepat pada pukul setengah dua siang, kami tiba di rumah kawan lama ismed yang yang lokasinya itu berada di salah kampung di bogor barat

“ bagaimana kang acu ?, apakah menurut kang acu permasalahan yang apang hadapi ini ada hubungannya dengan kematian almarhum arif ? ” tanya ismed selepas dari ceritaku yang kini telah berakhir, dalam posisinya yang saat ini tengah menatapku, kang acu memberikan jawaban bahwa dirinya saat ini merasa heran karena penerawangan yang telah dilakukannya seperti terbentur oleh dinding tebal yang sulit untuk ditembus

“ lahh... lantas bagaimana kang acu ? masa iya sih kami enggak bisa mendapatkan informasi apa apa ”

Untuk sejenak kang acu terdiam, kembali melayangkan tatapan matanya ke wajahku, dari ekspresi wajah yang diperlihatkan oleh kang acu saat ini, aku sangat merasa yakin saat ini kang acu tengah mencoba untuk kembali menerawangku

“ sudah berapa lama kamu mengenal almarhum arif itu pang ? ”

“ mengenalnya sih sudah lama kang, tapi aku enggak bersahabat dengan almarhum arif ” kang acu mengangguk anggukan kepalanya

“ pang, enggak selamanya penampakan mahluk gaib itu ditujukan untuk menakut nakuti, bisa jadi kehadiran mereka itu hanya untuk memberitahukan sesuatu ”

“ hahh memberitahukan sesuatu ” ujarku dan ismed hampir bersamaan

“ iya, memberitahukan sesuatu, memberitahukan sesuatu yang kamu enggak ketahui pang ”

“ ahh tapi mana mungkin kang, pocong itu memberitahukan sesuatu, karena dari  apa yang aku dengar saat itu, pocong itu hanya bersuara seperti orang yang sedang kesulitan untuk bernafas ”

“ itu kan menurut pendapat kamu pang ” kang acu menyulutkan sebatang rokok lalu menghembuskan asapnya ke udara

“ mahluk ghaib itu enggak bisa berbicara dengan kita seperti layaknya manusia biasa pang, ini dunia kita, bukan dunia mereka ”

“ ahh... jadi pusing aku mendengarnya kang ” dalam ekspresi wajahnya yang terlihat kesal, ismed memegangi kepalanya dengan telapak tangannya

“ sebenarnya ada satu cara yang bisa digunakan untuk mendengar apa yang dikatakan oleh almarhum arif, hanya saja aku ragu kalian bisa menjalankan persyaratannya itu ”

Aku dan ismed kini hanya bisa saling bertukar pandang di dalam menanggapi perkataan kang acu, dalam rasa bingung yang saat ini membuatku bertanya tanya tentang persyaratan apa yang harus aku penuhi agar aku bisa mengetahui alasan dari almarhum arif menghantuiku, dari mulut kang acu kembali terucap perkataan yang menjelaskan secara lebih terperinci lagi persyaratan apa yang harus aku jalankan agar aku bisa mendengarkan perkataan almarhum arif, dan kini begitu aku mendapati penjelasan kang acu tersebut, tanpa berpikir panjang lagi aku langsung menolak untuk melakukan persyaratan itu, karena menurutku persyaratannya itu terkesan tidak masul akal dan mempunyai resiko yang besar

“ jangan langsung memutuskannya seperti itu pang, lebih baik— ”

“ enggak kang acu, sekali lagi aku tegaskan, aku enggak mau untuk melakukan perbuatan itu ” ujarku merujuk pada persyaratan yang mengharuskan aku untuk mengelap mulut dari jenazah arif dengan menggunakan sebuah kain yang nantinya kain itu akan dipergunakan sebagai media untuk mendengarkan perkataan almarhum arif

“ semua keputusan ada di tangan kamu pang, aku enggak akan memaksa kamu untuk melakukannya ”

Dikarenakan saat ini aku merasa sudah tidak alasan lagi bagiku untuk berlama lama di rumah kang acu, aku mengajak ismed untuk berpamitan kepada kang acu dengan alasan kami harus ke kampus, hingga akhirnya selepas dari pembicaraan empat mata antara ismed dengan kang acu yang entah membicarakan apa, kami memutuskan meninggalkan rumah kang acu diantara hari yang saat ini mulai beranjak senja

“ ahh payah kamu pang, hanya karena persyaratan seperti itu saja, keinginan kamu untuk mengetahui alasan almarhum arif menghantui kamu itu luntur ” ujar ismed mengiringi langkah kakinya memasuki warung kopi yang menjadi langganan kami di kampus, rasa kekecewaannya karena aku telah menolak persyaratan yang disarankan oleh kang acu, kini telah terwakilkan oleh perkataannya itu

“ enteng banget perkataan kamu itu med, persyaratan seperti itu kok diremehkan ” ismed menggeleng gelengkan kepalanya, dari mulutnya kini terucap permintaan kepada bapak penjaga warung untuk membuatkan dua mangkok mie rebus dan juga dua gelas teh panas yang diperuntukan untuk menghilangkan rasa lapar yang saat ini mulai kami rasakan

“ bukannya aku meremehkannya pang, aku hanya kecewa saja karena kamu enggak berani mengambil resiko untuk menghilangkan permasalahan kamu itu, ingat pang... permasalahan kamu itu kemungkinan besar bisa mengganggu kamu seumur hidup ” aku terdiam, terlihat saat ini ismed mengeluarkan bungkusan rokok dari sakunya lalu meletakannya di meja

“ kamu tenang saja pang, aku sudah hafal banget kok dengan kelabilan keputusan kamu itu ”

“ hahh... kelabilan keputusan aku ? maksud kamu apa med ? ”



69banditos
littlesmith
littlesmith dan 69banditos memberi reputasi
2